Musikal 81
Ketika Wenda sedang menikmati alunan piano
Alexi-Nadia, di saat yang bersamaan Ririn sedang sibuk mencatat semua hasil
wawancara siang ini. Ia menawarkan diri sebagai notulen Dela saat mewawancarai
seorang DJ radio. Ia bahkan tak bergabung dengan teman-temannya yang asyik
mengagumi si DJ ini. Mungkin karena sudah tak lama menyalurkan hobi menulisnya,
kini ia tenggelam pada setiap goresan tinta yang ia buat.
“ Oke, sampai di sini
dulu, Kak,” Dela mengakhiri sesi wawancaranya. “ Terakhir, aku bisa minta foto close up Kakak gak? Untuk headline di Koran nanti.”
“ Gak masalah,” ujar
sang DJ.
Tanpa diminta, Ririn
langsung mengambil alih sebagai juru foto. Setelah beberapa kali berpose, gadis
itu memberikan anggukan sebagai tanda sesi foto telah selesai. Namun, ternyata
tak sepenuhnya selesai. Teman-temannya yang lain sedang membujuk-bujuk Dela dan
Mirna agar diperbolehkan berfoto bersama sang DJ.
“ Issh, dasar alay,”
gerutu Dela pada anggotanya. Kemudian ia kembali tersenyum pada sang DJ. “ Kak,
anggota kami pengen minta foto bareng. Boleh gak?”
DJ itu tertawa, “
Boleh, boleh kok. Ayo sini, siapa yang mau foto?”
Mereka pun berebutan
untuk mendapatkan posisi paling dekat dengan sang DJ. Dela dan Mirna
menggeleng-geleng malu. Sementara itu Ririn masih setia sebagai juru kamera dan
sekarang kamera di tangannya bertambah. Mulai dari kamera milik klub, sampai
kamera dari ponsel pribadi. Meskipun awalnya Dela dan Mirna sempat mengomeli
anggotanya, tapi ujung-ujungnya mereka juga meminta foto.
“ Rin, kamu gak mau
foto bareng?” ujar Mirna. “ Sayang loh, jarang-jarang kita bisa foto-foto
sesuka hati.”
“ Kalau ditawarin
mana mau, Mir,” Dela langsung menarik tangan Ririn supaya berdiri di sampingnya,
lalu kembali tersenyum pada sang DJ. “ Satu kali lagi ya, Kak. Rin, ayo
senyum!”
DJ tampan itu kembali
berpose. Mirna pun langsung membidik kamera ponselnya. Mau tak mau, Ririn
melebarkan senyumannya. Benar kata Dela, kapan lagi berfoto sesuka hati.
Hari sudah sore
ketika sesi wawancara dan foto-foto selesai. Namun, acara mereka belum selesai.
Mereka sepakat untuk nongkrong dulu di sebuah mall yang tak jauh dari studio
radio. Menghabiskan waktu petang dengan makan-makan dan bertukar cerita.
Sore yang panjang.
Setelah kenyang makan, mereka berputar-putar mengunjungi satu toko ke toko yang
lain. Sial bagi Ririn, ketika semua teman-temannya dengan riang menikmati bubble tea, ia hanya bisa menelan ludah.
Meskipun sekarang tak ada yang mengawasinya, entah kenapa kata-kata Tifa
tentang aturan makanan selalu terngiang-ngiang di telinganya.
“ Kenapa, Rin? Uang
kamu habis?” tanya Dela sambil menyesap matcha
bubble-nya. Melihat Ririn hanya menggeleng pelan, ia pun langsung merogoh
dompetnya. “ Eh, tolong beliin buat Ririn dong.”
“ Eh, gak usah, Kak
Dela!” seru Ririn sebelum salah satu temannya memesan sebuah es krim. “ Aku
bukannya gak ada uang, tapi memang lagi gak boleh.”
Dela menatap Ririn
bingung, begitu pula dengan teman-temannya yang lain. Sampai Mirna memberikan
penjelasan bantuan.
“ Oh ya, aku ingat.
Kalau gak salah pemain teater itu ada aturan makannya kalau udah mau pentas.
Mereka dilarang makan-makanan yang dingin, berminyak, dan terlalu pedas.
Begitu’kan, Rin?”
“ Iyaaa, gitu deh,”
Ririn menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “ Aku sih kepengen banget
dari tadi, tapi yaaah… apalah dayaku, hahaha.”
“ Yah, bilang dong
dari tadi,” sahut Dela. Ia sedikit menyingkirkan gelas matcha-nya dari hadapan Ririn. “ Kita jadi gak enak.”
“ Ah, gak apa kok.
Santai aja,” Ririn tersenyum. Tiba-tiba matanya menangkap sosok yang tak asing
lagi. Mata mereka bertemu dan orang itu langsung melempar senyum padanya. Ririn
tak bisa menghindar lagi saat orang itu menghampirinya.
“ Sedang menikmati
waktu tanpa latihan?”
Ririn mengangguk
kaku. Tubuhnya merasa berat saat tatapan teman-temannya mengarah padanya.
“ Teman-temanmu?”
Ririn kembali
mengangguk. Tatapan teman-temannya semakin tajam. Namun, Ririn tak menyalahkan
mereka. Salahkan pemuda berambut pirang yang tiba-tiba datang menghampirinya.
Berbincang dengan nada akrab, seolah-olah sudah bersahabat sejak lama. Wajahnya
yang tampan dan auranya bak pangeran, menambah sangat cocok dengan warna
rambutnya yang mencolok.
“ Adrian Kusuma
Nugraha?”
Suara Mirna membuat
teman-temannya yang lain histeris. Adrian pun langsung disebut layaknya artis
ibukota yang sedang naik daun. Beberapa orang dibuat menoleh oleh kehebohan
mereka. Namun, menyadari bahwa Adrian bukanlah artis sinetron yang suka
wara-wiri di infotaiment, orang-orang yang melihat mereka kembali berlalu.
“ Waah, akhirnya kami
bisa ketemu Adrian Kusuma Nugraha langsung,” ujar Mirna. “ Sebenarnya kami
sudah lama mau mewawancarai Kakak, tapi sepertinya latihan kalian padat
sekali.”
“ Kalau begitu datang
kapan saja,” jawab Adrian penuh wibawa. “ Kami pasti menerima dengan tangan
terbuka.”
Adrian memamerkan
senyuman sejuta dolar. Ririn bisa merasakan efek dari senyuman itu membuat
teman-temannya mabuk kepayang. Untunglah Ririn sudah terbiasa dengan senyuman
itu. Walau dalam hatinya terkadang masih mengharap andaikan senyuman itu hanya
miliknya.
“ Ngomong-ngomong
acara kalian sudah selesai? Kalau sudah, aku minta izin menculik gadis ini.”
Ririn bahkan tak
sempat terkejut. Tahu-tahu Adrian sudah menariknya tepat di sisi laki-laki itu.
“ Yaah, kalau mau
nyulik jangan Ririn aja dong,” ujar Dela sambil tertawa. “ Kita-kita juga rela
kok diculik sama pangeran.”
Adrian balas tertawa,
“ Maaf ya, tapi kudaku gak cukup untuk menampung kalian semua. Jadi, apa aku
diperbolehkan?”
Mirna mengangkat
tangannya, “ Ampun, Pangeran. Silakan, bawa putri yang tersesat ini.”
“ Kak Mirna, apaan
sih?” Ririn mengerutkan bibirnya. Wajahnya merah padam saat tawa teman-temannya
pecah.
“ Kalau begitu terima
kasih, nona yang baik hati,” Adrian kembali tersenyum. “Kebaikanmu akan kubalas
suatu saat nanti.”
Ririn memutar bola
matanya. Ia merasa jengah dengan drama picisan berbau kuda, putri, pangeran,
dan adegan culik-menculik. Belum sempat ia protes, Adrian langsung menariknya
menjauh. Ia hanya bisa meliha teman-temannya melambaikan tangan dengan tawa
usil.
ooOoo
“ Aku bisa pulang sendiri.”
“ Ini sudah malam.
Lagian siapa yang akan mengantarmu pulang?”
“ Kak Mirna dijemput
sama Mamanya. Jalan ke rumah kami searah. Dia bisa nurunin aku di depan gerbang
komplek.”
“ Ayolah, lebih baik mana? Di depan gerbang
komplek apa gerbang rumah?”
Adrian melirik Ririn.
Gadis itu memang sedang merajuk, tapi ia tetap patuh mengenakan sabuk pengaman
selama Adrian menghidupkan mesin mobil. Perlahan mobil itu pun meninggalkan lapangan
parkir.
“ Padahal aku baru
saja mau bersenang-senang.”
Ekor mata Adrian
kembali menangkap ekspresi Ririn yang sedang kesal. Bibirnya kembali
menunggingkan senyum, tapi ia tak menjawab sepatah kata pun.
“ Kita mau kemana?”
Ririn terkesiap saat Adrian membelokkan mobilnya berlawanan arah dari jalan
yang seharusnya.
“ Kan aku mau culik
kamu. Masa kita mau pulang ke rumah?” Adrian terkekeh, tapi ia buru-buru
menjawab kembali saat gadis itu melotot padanya. “ Eh, jangan marah gitu dong.
Kamu bilang’kan mau bersenang-senang. Naah, kita refreshing dulu aja.”
Ririn melipat
tangannya di depan dada. Bibirnya manyun ke depan. Perasaannya kini semakin
kacau.
“ Aku tahu kamu lagi
tertekan. Aku bisa lihat wajahmu yang selalu stres kalau sudah di atas
panggung. Kebetulan ketemu kamu sekarang, aku pengen ngajak kamu jalan-jalan.”
Adrian hanya
membelokkan sedikit mobilnya dari simpang lampu merah Angkatan 45. Mereka
sampai di angkringan yang berderet di sepanjang jalan Demang Lebar Daun. Ririn
tak mengerti kenapa Adrian mengajaknya ke tempat yang ramai seperti ini. Kalau
memang ingin menenangkan pikiran seharusnya laki-laki itu mengajaknya ke tempat
yang tenang, bukan daerah yang padat dengan penjual gorengan dan cemilan malam.
Laki-laki itu sudah
menghilang sejak sepuluh menit yang lalu dan ia menyuruh Ririn menunggu di luar
mobil. Dasar aneh, gerutu Ririn dalam hati. Sambil menunggu Adrian, Ririn sibuk
memainkan game di ponselnya.
Tiba-tiba secangkir minuman hangat hadir di hadapannya. Saat Ririn mengangkat
wajah, matanya bertemu dengan sosok Adrian yang tersenyum padanya.
“ Tadi kayaknya kamu
ngiler banget lihat bubble tea punya
teman-teman kamu.”
“ Ini apa?” tanya
Ririn sambil menyimpan ponsel di saku kemejanya.
“ Teh susu hangat.
Gak pake es.”
Ririn tertawa seraya
menerima gelas plastik itu, “ Kalo hangat mana ada yang pake es. Dasar aneh.”
“Akhirnya ketawa
juga,” ujar Adrian sambil ikut bersandar di sebelah Ririn.
Gerakan Adrian
barusan terlihat slow motion di mata
Ririn. Saat Adrian menunjukkan sisi hangatnya disitulah laki-laki itu terlihat
sangat keren. Ririn bahkan harus memalingkan wajahnya agar rona merah di
wajahnya tak terbaca oleh Adrian.
“ Jadi aktris itu
memang gak gampang. Apalagi kalau orang itu memang dari awal orang itu bukan
yang berasal dari kalangan dunia panggung,” Adrian menyesap teh susunya. “ Ayah
dan Oom-mu memang pernah terjun di dunia pementasan, tapi mereka tak pernah
memperkenalkanmu pada seluk-beluknya. Wajar saja kalau semua ini masih terasa
asing bagimu.
“ Tapi meski kamu
sudah paham, kamu juga harus tetap bekerja keras. Tekanan seperti ini hanya
awalnya saja karena nantinya akan banyak rintangan yang lebih berat yang kamu
harus hadapi. Suatu hari nanti kamu akan berkata kalau hal ini hanyalah masalah
kecil yang gak perlu jadi beban pikiran.”
Ririn mendesah
panjang, “ Sudah sering aku dengar nasihat seperti ini. Aku sudah bosan, yang
aku butuhkan sekarang adalah solusinya bagaimana aku menyelesaikan tekanan ini?
Ahh, atau mungkin aku ini memang tidak berbakat.”
Adrian tersenyum
kecil, “ Tanteku memiliki intuisi yang kuat untuk orang-orang ia yakini akan
menyukseskan pertunjukkannya. Dia gak mungkin memilihmu dan meletakkanmu di tim
akting kalau dia yakin kamu gak ada bakat. Kamu hanya belum yakin dengan
bakatmu. Kamu juga belum tahu bagaimana memaksimalkan bakatmu itu.
“ Lagipula meski
Einstein bilang kesuksesan berasal dari 99% usaha, tapi bakat tetap harus ada
walau hanya 1% bukan. Jadi, jangan pernah bilang kamu itu gak punya bakat.”
Ririn menarik napas
panjang. Uap teh susu yang tercampur polusi udara Palembang meresap masuk ke
dalam paru-parunya. Aroma itu sama dengan kata-kata yang terlontar dari bibir
Adrian. Menyesakkan, tetapi hangat dan manis.
“ Menurutmu usahaku
belum cukup keras?”
“ Kalau itu aku gak
tahu, tapi kalau menurutku kamu belum menaruh hatimu sepenuhnya pada panggung
ini. Aku rasa kamu masih terjebak dalam duniamu yang sebelumnya. Jiwa kamu
masih mau melarikan diri; kembali dalam comfortzone.
Seperti tadi.”
Ya, Ririn tahu.
Sejujurnya ia masih tak terima dirinya diterima di bagian tim akting. Andai
saja Tifa tidak memindahkannya atau sekalian saja ia tidak usah diterima,
mungkin hidupnya tidak akan jungkir balik seperti ini. Bagaimana mungkin ia
bisa mencintai panggung sepenuh hati kalau ia saja belum bisa mengusir rasa
terkejut dari pikirannya?
Ririn memberanikan
diri memandang Adrian. Laki-laki itu terlihat sedang menikmati minumannya.
Mungkin Alexi selalu muncul saat ia butuh bantuan, tapi laki-laki ini akan
datang saat pikirannya mulai teralih dari panggung dan segala hal yang berbau
pementasan. Lelaki ini selalu memberinya harapan. Harapan untuk tak berputus
asa serta harapan untuk bisa bersamanya.
Belum lagi dengan
segala kesempurnaan yang ada pada dirinya. Ririn benar-benar tak bisa
mengalihkan padangannya. Rasa sukanya terhadap laki-laki ini sudah mendobrak
zona kakak-adik yang sudah mereka buat.
‘ Apa aku katakan saja ya?’
“ Sudah merasa lebih
baik?”
Pertanyaan Adrian
membuat Ririn terkesiap, “ I—iya, a—aku akan berusaha lagi. Terima kasih.”
“ Sama-sama,” untuk
kesekian kalinya Adrian memamerkan senyumnya.
Ririn ragu-ragu
menatap Adrian lagi. Ternyata laki-laki itu juga sedang memperhatikannya.
Mereka berpandang-pandangan beberapa saat, sampai ponsel Adrian memberitahukan
bahwa ada pesan masuk.
[ Aku gak suka kalau
kamu menatap cewek lain!]
[ From: Fi]
Adrian kaget bukan
kepalang. Matanya langsung mencari-cari dimana sosok Fi berada. Sudah berapa
lama gadis itu memperhatikannya? Ia benar-benar tak mau gadis itu salah paham.
“ Ada apa?” Ririn
merasa aneh melihat Adrian yang tiba-tiba seperti baru saja tersengat lebah.
“ Gak apa-apa. Sudah
malam kita pulang saja,” Adrian buru-buru masuk ke dalam mobilnya.
Meski Ririn masih
bingung kenapa Adrian terburu-buru seperti itu. Namun, ia tetap tak
mengeluarkan satu pertanyaan pun. Mobil mereka sudah meninggalkan angkringan,
tapi pikiran Adrian masih terpaku pada pesan singkat itu.
ooOoo
“ Mama senang kamu mau nemenin Mama, sayang. Bener
kamu gak latihan hari ini?”
“ Iya, Ma. Latihanku
besok kok,” ujar Fi sambil memasukkan belanjaan mamanya ke dalam bagasi taksi.
“ Lagian masa melewatkan acara belanja sama Mama. ‘Kan lumayan bisa ditraktir.”
“ Bisa aja kamu,”
ujar sang Mama sambil tertawa.
Taksi mereka melewati
seputaran jalan Demang Lebar Daun. Ia terkena macet di depan salah satu rumah
sakit swasta. Fi memilih memandangi jalanan malam sembari menunggu macet
berakhir. Untungnya Fi tidak mengalami kemacetan total. Taksinya masih bisa
melaju meski hanya dengan jarak pendek-pendek.
Taksi mereka kembali
berhenti. Di saat itulah Fi menangkap jelas sosok Adrian bersama seorang gadis
yang tak asing di matanya. Ririn. Satu-satunya gadis yang menjadi saingannya di
atas maupun di balik panggung. Fi memergoki mereka sedang saling bertukar
pandang. Fi tak bisa membedakan itu tatapan jenis apa, tapi yang jelas ia tak
suka kalau kedua orang itu terlalu dekat.
Fi baru saja mau
keluar, tapi taksinya sudah melaju lebih dulu. Ia menahan amarah dalam hati.
Kalau saja ia tak pergi bersama mamanya, mungkin ia sudah mendamprat gadis itu
habis-habisan. Ia meraih ponselnya dan dengan tangan gemetar mengirimkan pesan
singkat berisi peringatan untuk Adrian.
Ia tak sabar menunggu
hari esok.
Author's Note:
Naaaah loooh.... perangnya pecah minggu depan. Badainya terulang lagi...yihaaaa.... pas banget sama fanart-nya. Thank's berat buat EKA MARINDA *pelukcium*
Minggu depan edisi galau
please comment and share

hohohoho prince yang merindukan dedek , dan dedek merindukan kaka-nda.
BalasHapushayo loh hayo hayo...
*kipas*kipas*panas*panas
musikal 82 lebih tragis, hiiii
Hapus