Total Tayangan Halaman

Sabtu, 24 September 2016

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 81)




Musikal 81


 
Ketika Wenda sedang menikmati alunan piano Alexi-Nadia, di saat yang bersamaan Ririn sedang sibuk mencatat semua hasil wawancara siang ini. Ia menawarkan diri sebagai notulen Dela saat mewawancarai seorang DJ radio. Ia bahkan tak bergabung dengan teman-temannya yang asyik mengagumi si DJ ini. Mungkin karena sudah tak lama menyalurkan hobi menulisnya, kini ia tenggelam pada setiap goresan tinta yang ia buat.
“ Oke, sampai di sini dulu, Kak,” Dela mengakhiri sesi wawancaranya. “ Terakhir, aku bisa minta foto close up Kakak gak? Untuk headline di Koran nanti.”
“ Gak masalah,” ujar sang DJ.
Tanpa diminta, Ririn langsung mengambil alih sebagai juru foto. Setelah beberapa kali berpose, gadis itu memberikan anggukan sebagai tanda sesi foto telah selesai. Namun, ternyata tak sepenuhnya selesai. Teman-temannya yang lain sedang membujuk-bujuk Dela dan Mirna agar diperbolehkan berfoto bersama sang DJ.
“ Issh, dasar alay,” gerutu Dela pada anggotanya. Kemudian ia kembali tersenyum pada sang DJ. “ Kak, anggota kami pengen minta foto bareng. Boleh gak?”
DJ itu tertawa, “ Boleh, boleh kok. Ayo sini, siapa yang mau foto?”
Mereka pun berebutan untuk mendapatkan posisi paling dekat dengan sang DJ. Dela dan Mirna menggeleng-geleng malu. Sementara itu Ririn masih setia sebagai juru kamera dan sekarang kamera di tangannya bertambah. Mulai dari kamera milik klub, sampai kamera dari ponsel pribadi. Meskipun awalnya Dela dan Mirna sempat mengomeli anggotanya, tapi ujung-ujungnya mereka juga meminta foto.
“ Rin, kamu gak mau foto bareng?” ujar Mirna. “ Sayang loh, jarang-jarang kita bisa foto-foto sesuka hati.”
“ Kalau ditawarin mana mau, Mir,” Dela langsung menarik tangan Ririn supaya berdiri di sampingnya, lalu kembali tersenyum pada sang DJ. “ Satu kali lagi ya, Kak. Rin, ayo senyum!”
DJ tampan itu kembali berpose. Mirna pun langsung membidik kamera ponselnya. Mau tak mau, Ririn melebarkan senyumannya. Benar kata Dela, kapan lagi berfoto sesuka hati.
Hari sudah sore ketika sesi wawancara dan foto-foto selesai. Namun, acara mereka belum selesai. Mereka sepakat untuk nongkrong dulu di sebuah mall yang tak jauh dari studio radio. Menghabiskan waktu petang dengan makan-makan dan bertukar cerita.
Sore yang panjang. Setelah kenyang makan, mereka berputar-putar mengunjungi satu toko ke toko yang lain. Sial bagi Ririn, ketika semua teman-temannya dengan riang menikmati bubble tea, ia hanya bisa menelan ludah. Meskipun sekarang tak ada yang mengawasinya, entah kenapa kata-kata Tifa tentang aturan makanan selalu terngiang-ngiang di telinganya.
“ Kenapa, Rin? Uang kamu habis?” tanya Dela sambil menyesap matcha bubble-nya. Melihat Ririn hanya menggeleng pelan, ia pun langsung merogoh dompetnya. “ Eh, tolong beliin buat Ririn dong.”
“ Eh, gak usah, Kak Dela!” seru Ririn sebelum salah satu temannya memesan sebuah es krim. “ Aku bukannya gak ada uang, tapi memang lagi gak boleh.”
Dela menatap Ririn bingung, begitu pula dengan teman-temannya yang lain. Sampai Mirna memberikan penjelasan bantuan.
“ Oh ya, aku ingat. Kalau gak salah pemain teater itu ada aturan makannya kalau udah mau pentas. Mereka dilarang makan-makanan yang dingin, berminyak, dan terlalu pedas. Begitu’kan, Rin?”
“ Iyaaa, gitu deh,” Ririn menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “ Aku sih kepengen banget dari tadi, tapi yaaah… apalah dayaku, hahaha.”
“ Yah, bilang dong dari tadi,” sahut Dela. Ia sedikit menyingkirkan gelas matcha-nya dari hadapan Ririn. “ Kita jadi gak enak.”
“ Ah, gak apa kok. Santai aja,” Ririn tersenyum. Tiba-tiba matanya menangkap sosok yang tak asing lagi. Mata mereka bertemu dan orang itu langsung melempar senyum padanya. Ririn tak bisa menghindar lagi saat orang itu menghampirinya.
“ Sedang menikmati waktu tanpa latihan?”
Ririn mengangguk kaku. Tubuhnya merasa berat saat tatapan teman-temannya mengarah padanya.
“ Teman-temanmu?”
Ririn kembali mengangguk. Tatapan teman-temannya semakin tajam. Namun, Ririn tak menyalahkan mereka. Salahkan pemuda berambut pirang yang tiba-tiba datang menghampirinya. Berbincang dengan nada akrab, seolah-olah sudah bersahabat sejak lama. Wajahnya yang tampan dan auranya bak pangeran, menambah sangat cocok dengan warna rambutnya yang mencolok.
“ Adrian Kusuma Nugraha?”
Suara Mirna membuat teman-temannya yang lain histeris. Adrian pun langsung disebut layaknya artis ibukota yang sedang naik daun. Beberapa orang dibuat menoleh oleh kehebohan mereka. Namun, menyadari bahwa Adrian bukanlah artis sinetron yang suka wara-wiri di infotaiment, orang-orang yang melihat mereka kembali berlalu.
“ Waah, akhirnya kami bisa ketemu Adrian Kusuma Nugraha langsung,” ujar Mirna. “ Sebenarnya kami sudah lama mau mewawancarai Kakak, tapi sepertinya latihan kalian padat sekali.”
“ Kalau begitu datang kapan saja,” jawab Adrian penuh wibawa. “ Kami pasti menerima dengan tangan terbuka.”
Adrian memamerkan senyuman sejuta dolar. Ririn bisa merasakan efek dari senyuman itu membuat teman-temannya mabuk kepayang. Untunglah Ririn sudah terbiasa dengan senyuman itu. Walau dalam hatinya terkadang masih mengharap andaikan senyuman itu hanya miliknya.
“ Ngomong-ngomong acara kalian sudah selesai? Kalau sudah, aku minta izin menculik gadis ini.”
Ririn bahkan tak sempat terkejut. Tahu-tahu Adrian sudah menariknya tepat di sisi laki-laki itu.
“ Yaah, kalau mau nyulik jangan Ririn aja dong,” ujar Dela sambil tertawa. “ Kita-kita juga rela kok diculik sama pangeran.”
Adrian balas tertawa, “ Maaf ya, tapi kudaku gak cukup untuk menampung kalian semua. Jadi, apa aku diperbolehkan?”
Mirna mengangkat tangannya, “ Ampun, Pangeran. Silakan, bawa putri yang tersesat ini.”
“ Kak Mirna, apaan sih?” Ririn mengerutkan bibirnya. Wajahnya merah padam saat tawa teman-temannya pecah.
“ Kalau begitu terima kasih, nona yang baik hati,” Adrian kembali tersenyum. “Kebaikanmu akan kubalas suatu saat nanti.”
Ririn memutar bola matanya. Ia merasa jengah dengan drama picisan berbau kuda, putri, pangeran, dan adegan culik-menculik. Belum sempat ia protes, Adrian langsung menariknya menjauh. Ia hanya bisa meliha teman-temannya melambaikan tangan dengan tawa usil.
ooOoo
“ Aku bisa pulang sendiri.”
“ Ini sudah malam. Lagian siapa yang akan mengantarmu pulang?”
“ Kak Mirna dijemput sama Mamanya. Jalan ke rumah kami searah. Dia bisa nurunin aku di depan gerbang komplek.”
 “ Ayolah, lebih baik mana? Di depan gerbang komplek apa gerbang rumah?”
Adrian melirik Ririn. Gadis itu memang sedang merajuk, tapi ia tetap patuh mengenakan sabuk pengaman selama Adrian menghidupkan mesin mobil. Perlahan mobil itu pun meninggalkan lapangan parkir.
“ Padahal aku baru saja mau bersenang-senang.”
Ekor mata Adrian kembali menangkap ekspresi Ririn yang sedang kesal. Bibirnya kembali menunggingkan senyum, tapi ia tak menjawab sepatah kata pun.
“ Kita mau kemana?” Ririn terkesiap saat Adrian membelokkan mobilnya berlawanan arah dari jalan yang seharusnya.
“ Kan aku mau culik kamu. Masa kita mau pulang ke rumah?” Adrian terkekeh, tapi ia buru-buru menjawab kembali saat gadis itu melotot padanya. “ Eh, jangan marah gitu dong. Kamu bilang’kan mau bersenang-senang. Naah, kita refreshing dulu aja.”
Ririn melipat tangannya di depan dada. Bibirnya manyun ke depan. Perasaannya kini semakin kacau.
“ Aku tahu kamu lagi tertekan. Aku bisa lihat wajahmu yang selalu stres kalau sudah di atas panggung. Kebetulan ketemu kamu sekarang, aku pengen ngajak kamu jalan-jalan.”
Adrian hanya membelokkan sedikit mobilnya dari simpang lampu merah Angkatan 45. Mereka sampai di angkringan yang berderet di sepanjang jalan Demang Lebar Daun. Ririn tak mengerti kenapa Adrian mengajaknya ke tempat yang ramai seperti ini. Kalau memang ingin menenangkan pikiran seharusnya laki-laki itu mengajaknya ke tempat yang tenang, bukan daerah yang padat dengan penjual gorengan dan cemilan malam.
Laki-laki itu sudah menghilang sejak sepuluh menit yang lalu dan ia menyuruh Ririn menunggu di luar mobil. Dasar aneh, gerutu Ririn dalam hati. Sambil menunggu Adrian, Ririn sibuk memainkan game di ponselnya. Tiba-tiba secangkir minuman hangat hadir di hadapannya. Saat Ririn mengangkat wajah, matanya bertemu dengan sosok Adrian yang tersenyum padanya.
“ Tadi kayaknya kamu ngiler banget lihat bubble tea punya teman-teman kamu.”
“ Ini apa?” tanya Ririn sambil menyimpan ponsel di saku kemejanya.
“ Teh susu hangat. Gak pake es.”
Ririn tertawa seraya menerima gelas plastik itu, “ Kalo hangat mana ada yang pake es. Dasar aneh.”
“Akhirnya ketawa juga,” ujar Adrian sambil ikut bersandar di sebelah Ririn.
Gerakan Adrian barusan terlihat slow motion di mata Ririn. Saat Adrian menunjukkan sisi hangatnya disitulah laki-laki itu terlihat sangat keren. Ririn bahkan harus memalingkan wajahnya agar rona merah di wajahnya tak terbaca oleh Adrian.
“ Jadi aktris itu memang gak gampang. Apalagi kalau orang itu memang dari awal orang itu bukan yang berasal dari kalangan dunia panggung,” Adrian menyesap teh susunya. “ Ayah dan Oom-mu memang pernah terjun di dunia pementasan, tapi mereka tak pernah memperkenalkanmu pada seluk-beluknya. Wajar saja kalau semua ini masih terasa asing bagimu.
“ Tapi meski kamu sudah paham, kamu juga harus tetap bekerja keras. Tekanan seperti ini hanya awalnya saja karena nantinya akan banyak rintangan yang lebih berat yang kamu harus hadapi. Suatu hari nanti kamu akan berkata kalau hal ini hanyalah masalah kecil yang gak perlu jadi beban pikiran.”
Ririn mendesah panjang, “ Sudah sering aku dengar nasihat seperti ini. Aku sudah bosan, yang aku butuhkan sekarang adalah solusinya bagaimana aku menyelesaikan tekanan ini? Ahh, atau mungkin aku ini memang tidak berbakat.”
Adrian tersenyum kecil, “ Tanteku memiliki intuisi yang kuat untuk orang-orang ia yakini akan menyukseskan pertunjukkannya. Dia gak mungkin memilihmu dan meletakkanmu di tim akting kalau dia yakin kamu gak ada bakat. Kamu hanya belum yakin dengan bakatmu. Kamu juga belum tahu bagaimana memaksimalkan bakatmu itu.
“ Lagipula meski Einstein bilang kesuksesan berasal dari 99% usaha, tapi bakat tetap harus ada walau hanya 1% bukan. Jadi, jangan pernah bilang kamu itu gak punya bakat.”
Ririn menarik napas panjang. Uap teh susu yang tercampur polusi udara Palembang meresap masuk ke dalam paru-parunya. Aroma itu sama dengan kata-kata yang terlontar dari bibir Adrian. Menyesakkan, tetapi hangat dan manis.
“ Menurutmu usahaku belum cukup keras?”
“ Kalau itu aku gak tahu, tapi kalau menurutku kamu belum menaruh hatimu sepenuhnya pada panggung ini. Aku rasa kamu masih terjebak dalam duniamu yang sebelumnya. Jiwa kamu masih mau melarikan diri; kembali dalam comfortzone. Seperti tadi.”
Ya, Ririn tahu. Sejujurnya ia masih tak terima dirinya diterima di bagian tim akting. Andai saja Tifa tidak memindahkannya atau sekalian saja ia tidak usah diterima, mungkin hidupnya tidak akan jungkir balik seperti ini. Bagaimana mungkin ia bisa mencintai panggung sepenuh hati kalau ia saja belum bisa mengusir rasa terkejut dari pikirannya?
Ririn memberanikan diri memandang Adrian. Laki-laki itu terlihat sedang menikmati minumannya. Mungkin Alexi selalu muncul saat ia butuh bantuan, tapi laki-laki ini akan datang saat pikirannya mulai teralih dari panggung dan segala hal yang berbau pementasan. Lelaki ini selalu memberinya harapan. Harapan untuk tak berputus asa serta harapan untuk bisa bersamanya.
Belum lagi dengan segala kesempurnaan yang ada pada dirinya. Ririn benar-benar tak bisa mengalihkan padangannya. Rasa sukanya terhadap laki-laki ini sudah mendobrak zona kakak-adik yang sudah mereka buat.
‘ Apa aku katakan saja ya?’
“ Sudah merasa lebih baik?”
Pertanyaan Adrian membuat Ririn terkesiap, “ I—iya, a—aku akan berusaha lagi. Terima kasih.”
“ Sama-sama,” untuk kesekian kalinya Adrian memamerkan senyumnya.
Ririn ragu-ragu menatap Adrian lagi. Ternyata laki-laki itu juga sedang memperhatikannya. Mereka berpandang-pandangan beberapa saat, sampai ponsel Adrian memberitahukan bahwa ada pesan masuk.
[ Aku gak suka kalau kamu menatap cewek lain!]
[ From: Fi]
Adrian kaget bukan kepalang. Matanya langsung mencari-cari dimana sosok Fi berada. Sudah berapa lama gadis itu memperhatikannya? Ia benar-benar tak mau gadis itu salah paham.
“ Ada apa?” Ririn merasa aneh melihat Adrian yang tiba-tiba seperti baru saja tersengat lebah.
“ Gak apa-apa. Sudah malam kita pulang saja,” Adrian buru-buru masuk ke dalam mobilnya.
Meski Ririn masih bingung kenapa Adrian terburu-buru seperti itu. Namun, ia tetap tak mengeluarkan satu pertanyaan pun. Mobil mereka sudah meninggalkan angkringan, tapi pikiran Adrian masih terpaku pada pesan singkat itu.
ooOoo
“ Mama senang kamu mau nemenin Mama, sayang. Bener kamu gak latihan hari ini?”
“ Iya, Ma. Latihanku besok kok,” ujar Fi sambil memasukkan belanjaan mamanya ke dalam bagasi taksi. “ Lagian masa melewatkan acara belanja sama Mama. ‘Kan lumayan bisa ditraktir.”
“ Bisa aja kamu,” ujar sang Mama sambil tertawa.
Taksi mereka melewati seputaran jalan Demang Lebar Daun. Ia terkena macet di depan salah satu rumah sakit swasta. Fi memilih memandangi jalanan malam sembari menunggu macet berakhir. Untungnya Fi tidak mengalami kemacetan total. Taksinya masih bisa melaju meski hanya dengan jarak pendek-pendek.
Taksi mereka kembali berhenti. Di saat itulah Fi menangkap jelas sosok Adrian bersama seorang gadis yang tak asing di matanya. Ririn. Satu-satunya gadis yang menjadi saingannya di atas maupun di balik panggung. Fi memergoki mereka sedang saling bertukar pandang. Fi tak bisa membedakan itu tatapan jenis apa, tapi yang jelas ia tak suka kalau kedua orang itu terlalu dekat.
Fi baru saja mau keluar, tapi taksinya sudah melaju lebih dulu. Ia menahan amarah dalam hati. Kalau saja ia tak pergi bersama mamanya, mungkin ia sudah mendamprat gadis itu habis-habisan. Ia meraih ponselnya dan dengan tangan gemetar mengirimkan pesan singkat berisi peringatan untuk Adrian.
Ia tak sabar menunggu hari esok.

Author's Note:
Naaaah loooh.... perangnya pecah minggu depan. Badainya terulang lagi...yihaaaa.... pas banget sama fanart-nya. Thank's berat buat EKA MARINDA *pelukcium*
Minggu depan edisi galau

please comment and share 

2 komentar:

  1. hohohoho prince yang merindukan dedek , dan dedek merindukan kaka-nda.
    hayo loh hayo hayo...
    *kipas*kipas*panas*panas

    BalasHapus