Total Tayangan Halaman

Jumat, 30 September 2016

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 82)



Musikal 82
 
(Wenda, Nadia, Alexi, Ririn, Adrian, Fi)

Hari masih pagi. Embun bahkan masih menempel di ujung dedaunan. Mentari belum terlihat, tetapi suasana di kelas terasa panas. Perseteruan yang samar antara Fi-Ririn-Wenda memengaruhi aura di sekitar mereka.
“ Panas amat yak,” ujar Ben seraya mengipas-ngipaskan kerah bajunya. “ Padahal di luar matahari gak terang-terang amat.”
“ Mungkin mau hujan,” sahut Anjani.
Kepala Ben mengangguk-angguk. Tiba-tiba ia teringat akan sesuatu.
“ Astagaaa, aku belum buat PR matematika!”
“ Aku juga belum,” sahut Kemal. “ Santai aja kali. Pelajarannya’kan setelah istirahat.”
“ Iya sih, tapi pas istirahat aku disuruh Ibu Gloria buat ambil kopian surat izin karantina. Duuh… kalau mesti ke kantor guru dulu pasti gak bakalan sempat.”
Ben baru saja melirik Anjani, tapi gadis itu dengan cepat mengangkat tangannya.
“ Jangan minta aku! Aku juga belum selesai dua nomor terakhir.”
“ Aku sudah,” ujar Wenda santai. “ Tapi aku kasih pilihan. Suruh aku ambil kopian itu atau kalian boleh salin jawaban PR-ku. Hanya boleh minta satu.”
“ Tegaaa deeeeh,” desah Ben. “ Cuma ambil kopian doang kok, Wen. Gak bakal bikin kamu mati kok.”
Namun, Wenda tetap menggeleng angkuh, “ No!”
Ben mengerutkan bibirnya. Matanya mencari ke sana ke sini agar bisa menemukan relawan yang mau menggantikan tugasnya. Lalu terlihat sosok manis yang tak banyak mulut sedang tenggelam dalam bukunya. Ben menjentikkan jemarinya. Ia yakin kalau gadis itu sudah menyelesaikan PR dan mau membantunya. Ben pun segera menghampiri Ririn.
“ Hei, Rin. Sibuk gak?” Ben memulai basa-basinya. “ Ngomong-ngomong kamu udah buat PR matematika belum?”
Ririn mengalihkan matanya dari lembaran buku, “ Kalau PR aku sudah sih. Memang kenapa?”
“ Aku boleh gak minta tolong? Tolong ambilkan kopian surat izin karantina di kantor guru dong. Soalnya aku belum buat PR dan aku mau ngejar waktu untuk buat PR.”
“ Harus sekarang?” tanya Ririn dengan alis terangkat.
“ Oh, nggak,” Ben melambaikan tangannya. “ Pas istirahat aja, bisa kan?”
Ririn mengangguk sambil tersenyum. Ben pun mengepalkan tinjunya ke udara.
Thank’s banget, Rin. Aku gak tahu lagi kalau gak ada kamu.”
Ririn terkekeh, “ Biasa aja kali.”
Saat bel istirahat berbunyi, Ben segera memberi kode pada Ririn. Gadis itu masih dengan tawa kecilnya langsung mengiyakan. Sementara Ben masih berkutat pada PR matematika yang kunjung ia selesaikan.
Ririn bertemu dengan Santi, salah satu seniornya di LM. Dia adalah ketua kelompok untuk anggota LM kelas 11.  Tampaknya seniornya itu baru saja bertemu dengan Gloria di kantor.
“ Mau ambil surat izin, Rin?” sapa Santi. “ Bukannya ini tugasnya Ben?”
Ririn mengangkat bahu, “ Dia lagi buat PR.”
“ Cih, dasar malas,” Santi terkekeh sinis. “ Oh ya, suratnya kurang. Jadi, Bu Gloria nyuruh aku fotokopi sendiri di ruang tata usaha. Kamu temenin aku ya.”
Ririn mengangguk. Mereka berdua pun akhirnya menuju ruang tata usaha yang agak di tidak jauh dari tempat parkir. Ketika mereka melintasi lapangan parkir, mereka tak sengaja melihat sebuah mobil yang baru saja terparkir. Si pemilik mobil turun dengan ponsel yang masih menempel di telinga. Ririn dan Santi menatap heran pada si pemilik mobil yang sudah sangat tak asing di mata mereka.
“ Itu Adrian’kan? Ngapain dia ke sini sekarang? Latihan’kan nanti sore.”
Pertanyaan yang sama suka menggerayangi kepala Ririn. Namun, dari ekspresi laki-laki itu terlihat sangat bingung dan cemas. Ririn menebak-nebak apa yang membuat Adrian terlihat aneh seperti itu.
Ririn langsung kembali setelah kopian itu sudah ia dapatkan. Ben berterima kasih saat Ririn membawa setumpuk kertas yang akan ia bagikan. Namun, gadis itu seperti tak mengindahkan kata-kata Ben. Matanya hanya tertuju pada kursi Fi yang kosong. Gadis itu langsung kembali berlari ke luar.
“ Eh, Rin. suratnya―”
Namun, teriakan Ben tak digubrisnya. Sebelum Ririn sampai di kelas ia sempat melihat sosok Adrian lagi. Kali ini ia melihat Adrian sedang bersama sedang seorang gadis. Kalau dari di belakang, Ririn menduga perempuan itu adalah Fi. Sayang, ia tak bisa segera memastikannya karena ada setumpuk surat di tangannya. Saat ia sampai di kelas, batinnya benar-benar yakin kalau perempuan tadi adalah Fi. Terbukti dengan bangku yang ditempati Fi kosong dan ketika itu bel masuk sudah berdering. Jadi, tidak mungkin kalau Fi masih keliaran, kecuali kalau Fi memang benar-benar bersama Adrian.
Dugaan Ririn tidak meleset. Kali ini Ririn mendapati Adrian dan Fi sedang membicarakan sesuatu di dekat toilet pria. Toilet pria letaknya agak di belakang. kalau melihat dari pemilihan tempat, sepertinya pembicaraan kedua orang itu begitu serius dan rahasia.
“ Kalau begitu kamu sendiri yang bilang ke dia!” Fi berbicara dengan nada yang kasar.
“ Tapi, Fi, aku pikir itu bukan keputusan yang tepat. Lagi pula untuk apa kita katakan pada dia?”
“ Aku berpikir ini adalah keputusan yang sangat tepat. Cepat atau lambat dia akan tahu hubungan kita.”
Deg. Jantung Ririn berdegup kencang. Otak Ririn berpikir keras menafsirkan kata “hubungan” yang baru saja dikatakan oleh Fi.
Di sisi lain Adrian justru membisu seribu bahasa. Kata-kata Fi sepertinya begitu mendominasi pikiran laki-laki itu. Kemudian terdengar helaan napas yang panjang dari Adrian.
“ Baiklah, jika ini akan membuatmu merasa lebih baik. Akan aku katakan padanya kalau kita memang pacaran.”
Jantung Ririn tertohok tombak patah hati yang begitu mendalam. Terlalu dalam, sampai ia merasa sesak di dadanya. Napasnya tercekat, lambungnya mulas, dan kepalanya berputar-putar. Meski begitu ia harus segera beranjak dari tempat itu. Sedikit saja lebih lama di sana, bisa-bisa ia pingsan.
Ia berlari sekencang-kencangnya. Ia tak menentukan kemana arah tujuan yang jelas ia ingin menghilangkan sakit yang menggerogoti hatinya. Pandangannya mengabur akibat air mata yang jatuh tanpa ia minta. Saat kakinya benar-benar tak mau lagi berkompromi untuk membawanya menjauh, ia baru sadar kalau langkah-langkah berat itu membawanya tepat di muka gedung teater.
Ririn tak mengerti kenapa ia harus merasa sepedih ini. Tak ada yang menyakitinya. Namun, kenyataan justru mengoyakkan semua harapan yang pernah ia mimpikan. Belum, bahkan ia belum pernah benar-benar memimpikannya.
Terdengar langit menabuhkan genderang guruh. Rinai hujan mulai turun seiring gemuruh yang bertalu-talu. Hujan yang seharusnya menjadi keberkahan justru dibenci Ririn saat ini.
Tuhan seperti sedang menyiramkan air garam pada lukanya.
ooOoo
Fi melihat ponselnya berdering ratusan kali sejak terakhir kali ia mengirim sms pada Adrian. Peneleponnya pun tak usah ditebak siapa. Bosan merasa seperti sedang diuntit, akhirnya Fi mengangkat telepon itu.
Fi, astagaaa! Apa kamu mau membuatku gila? Semalaman aku telepon kamu, tapi kenapa baru sekarang kamu angkat?”
“ Oh, bukannya kamu yang buat aku gila? Sudahlah, aku sedang malas membicarakan alasanku.”
Oke, oke, aku tahu kalau itu salahku. Sekarang aku minta kamu berhenti bersikap seperti ini. Aku benar-benar minta maaf padamu.
“ Lakukan permintaanku lalu aku bisa memaafkanmu.”
Adrian terdengar mendesah panjang, “ Baiklah, aku turuti asal kamu mau maafin aku.”
“ Kalau gitu datang ke sekolah saat jam istirahat. Di sana baru aku akan kasih tahu apa mauku.”
Oke, aku akan ke sana.
Fi tersenyum puas. Ia melangkah ringan saat menuju ke sekolah. Hatinya tak pernah seriang ini sebelumnya. Mungkin karena ia membayangkan bagaimana ekspresi Ririn saat Adrian mengatakan yang sebenarnya.
Ya, ia berencana untuk memaksa Adrian agar mengatakan hubungan mereka pada gadis itu. Dengan begitu Fi yakin kalau Ririn tidak akan mengharapkan Adrian lagi. Ia tahu kalau kelemahan gadis itu adalah saat diberi tekanan.
Adrian kembali meneleponnya ketika bel istirahat baru saja berdering. Senyum sinis Fi kembali mengembang.
Aku sudah sampai, Fi. Kamu mau ketemuan dimana? Aku masih di tempat parkir
“ Temui aku di belakang toilet pria. Kalau kamu dari tempat parkir, lurus saja ke kanan sampai habis koridor.”
Setelah menutup telepon, Fi bergegas menuju tempat janjian mereka. Di belakang toilet mungkin bukan tempat yang baik, tapi tempat yang bagus untuk membicarakan sesuatu yang serius dan rahasia.
“ Wah, cepat juga kamu sampainya,” sapa Fi ketika ia sudah bertemu dengan Adrian.
Adrian menghela napas panjang, “ Aku datang untuk menebus kesalahanku. Aku harap setelah aku melakukannya kamu berhenti mencurigaiku seperti ini.”
“ Aku harap juga begitu,” Fi tersenyum sinis. “ Kamu tenang saja, aku gak bakal minta yang aneh-aneh.”
“ Memangnya apa yang mau kamu minta?”
“ Sederhana saja, aku cuma minta kamu ngomong langsung sama Ririn kalau kita itu sudah pacaran. Dengan begitu dia gak bakal dekat-dekat dengan kamu lagi dan juga tatapan matanya itu yang terlalu terang saat melihatmu.”
Adrian terkesiap, “ Tapi’kan aku gak selingkuh, Fi. Buat apa aku harus melakukan hal itu?”
“ Kenapa, kamu gak bisa atau gak mau?” nada bicara Fi terdengar emosi. “ Kalau begitu kamu sendiri yang bilang ke dia!”
“ Tapi, Fi, aku pikir itu bukan keputusan yang tepat. Lagi pula untuk apa kita katakan pada dia?”
“ Aku berpikir ini adalah keputusan yang sangat tepat. Cepat atau lambat dia akan tahu hubungan kita.”
Adrian terhenyak. Ya, kata-kata Fi memang tidak salah, mereka memang pacaran dan kenapa tidak mau membuktikannya. Entah kenapa ada rasa yang memberatkan Adrian untuk mengakuinya sendiri di depan Ririn. Seolah-olah ia akan melakukan pengakuan dosa. Namun, jika ia bisa kehilangan gadis ini bila tak mau melakukannya.
Pilihan yang sulit. Adrian pun mendesah panjang.
 “ Baiklah, jika ini akan membuatmu merasa lebih baik. Akan aku katakan padanya kalau kita memang pacaran.”
Fi menatap mata Adrian dalam-dalam. Ada keseriusan terpancar pada sinar matanya. Emosinya pun melunak. Perlahan ia meraih tangan Adrian yang tergantung bebas dari gravitasi.
“ Maaf, tapi aku… aku hanya tidak bisa menahan rasa cemburuku. Dalam pikiranku hanya terpikirkan cara ini. Aku hanya tidak ingin kamu memandang dia dengan cara yang sama ketika kamu memandangku.”
Adrian mengangguk pelan. Ia membalas genggaman tangan gadis itu. Perlahan senyumnya mengembang.
“ Gak apa. Maaf aku yang sudah terlalu ceroboh melakukannya. Jujur, aku tidak punya perasaan apa pun sama dia. Aku cuma menganggap dia seperti adikku sendiri. Mungkin kamu keliru mengartikan semua itu.”
Sebenanrya Fi masih tidak terima Adrian menganggap Ririn istimewa, meski hanya sebatas kakak-adik. Namun, ia tak mau merusak momen ini dengan amarahnya. Toh, nantinya juga Adrian yang akan mengatakan sendiri pada gadis itu. Untuk sekarang ia bisa tenang menjalani hubungan mereka.
Angin berderu kencang. Langin mulai bergemuruh. Pertanda hujan itu pun membuat Fi dan Adrian harus memisahkan diri. Lagi pula waktu istirahat sudah berlalu sepuluh menit yang lalu. Dengan langkah yang ringan Fi pun kembali ke kelas.
ooOoo
Ririn merasa bahunya diputar paksa. Ia pikir orang yang menarik bahunya itu adalah Adrian. Mungkin saja Adrian dan Fi melihatnya yang tidak sengaja menguping. Lantas Adrian menyusulnya dan akan mengatakan apa yang diminta oleh Fi. Jika benar itu Adrian, maka Ririn sudah siap-siap mengambil seribu langkah.
Ternyata orang itu adalah Alexi.
Ririn terpana dengan kehadiran laki-laki itu. Dengan seragam yang basah serta kacamata yang dipenuhi titik-titik hujan, laki-laki itu sanggup menemukannya di sini. Padahal Ririn sendiri baru sadar ia berada di depan gedung teater beberapa saat yang lalu.
Dari ekspresi Alexi yang tampak cemas, harusnya Ririn tahu siapa orang yang paling mengkhawatirkannya. Ia juga harusnya tahu siapa orang yang selalu ada di saat ia butuhkan. Bukan Adrian yang ia harapkan, tapi hanya sosok Alexi yang selalu tersenyum padanya.
“ Kamu gak apa-apa? Kenapa kamu hujan-hujanan di sini?”
“ Ka—kamu…” tenggorokan Ririn terasa serat. Sulit baginya untuk meneruskan kaliamatnya.
“ Mungkin kamu gak lihat aku, tapi aku tadi kita berpapasan waktu kamu lari-lari keluar kelas. Gak tahu kenapa, tapi aku langsung ikutin kamu sampai di sini,” terang Alexi yang sepertinya sudah tahu apa yang akan dikatakan Ririn.
“ Ja—jadi, kamu sudah tahu?”
Alexi terdiam beberapa saat, lalu mengangguk pelan. Di saat itulah air mata Ririn kembali meleleh. Rasa sesak itu kembali bersarang di dadanya.
Hujan turun semakin deras. Namun, Alexi tahu di mana perbedaan antara tetesan hujan dan air mata gadis itu. Ia mencoba menghapus lelehan cairan asin yang mengalir dari sudut mata gadis itu.
Meski air hujan membasahi sekujur tubuh laki-laki itu, tapi tangannya terasa hangat saat menyentuh pipi Ririn. Ia bisa merasakan sentuhan jemari yang kurus dan panjang. Sungguh khas jari-jari seorang pianis. Bukan sentuhan biasa, ada sebuah sensasi yang menggetarkan hatinya sehingga rasa sesak itu perlahan mengabur.
Alexi ingin menyentuh pucuk kepala gadis itu. Ia merasa sebuah sentuhan lembut lagi akan membuat gadis itu merasa lebih baik.
Namun, sayang ketika beberapa senti lagi tangan Alexi menyentuh kepalanya, mata Ririn bertemu dengan sosok Wenda yang ada di belakang laki-laki. Jarak Wenda cukup jauh dan mungkin Alexi sendiri tak menyadari, tapi Ririn sangat yakin ada sinar cemburu memancar dari tatapan gadis itu. Ririn pun buru-buru menarik dirinya. Ia tahu Alexi akan kaget dengan reaksinya.
“ Aku sudah baikan. Kamu kembalilah, nanti masuk angin. Aku juga akan kembali ke kelas.”
Tangan Alexi masih menggantung di udara. Ia tak bisa mencegah Ririn meninggalkannya. Ia tak tahu kenapa gadis itu langsung pergi begitu saja. Apakah ia sudah melakukan sesuatu yang melanggar batas? Hatinya terus-terusan bertanya.
ooOoo
Ben menggerutu gara-gara Ririn mengabaikannya. Tak hanya Ben, tapi Wenda juga bertanya-tanya kenapa Ririn terlihat begitu melesat keluar begitu cepat. Penasaran dengan apa yang akan Ririn buru, Wenda pun ikut-ikutan melangkah keluar.
Di saat itulah ia melihat Alexi yang berpapasan dengan Ririn. Kedua orang itu tak saling sapa, tapi tanpa pikir panjang Alexi langsung menyusul gadis itu. Napas Wenda tercekat, ia pun tak ragu-ragu lagi melangkahkan kakinya. Sengaja atau tidak, tapi mereka bertiga terlibat adegan kejar-kejaran.
Langkah Wenda terhenti saat ia berhenti di depan toilet pria. Ia ragu apakah ia harus mengikuti Alexi ke sana. Ia berpikir mungkin saja Alexi hanya mau ke toilet, bukan mengejar Ririn. Namun, ia melihat Ririn berbalik dan disusul Alexi. Wenda dengan cepat bersembunyi, tapi langkahnya sigap mengikuti kemana pun kedua orang itu pergi.
Ia merasa heran kenapa Ririn mengarahkan langkahnya menuju gedung teater. Hujan mulai turun, hal itu sempat membuatnya tertinggal cukup jauh dari kedua orang itu. Ketika ia sampai, ternyata ia datang di saat yang tidak tepat.
Adegan yang ia saksikan adalah ketika Alexi menyeka air mata gadis itu. Lebatnya hujan tak membuat emosinya mereda. Ia bahkan sempat membuat kutukan agar kedua orang itu tersambar petir.
Tiba-tiba matanya bertemu dengan mata Ririn. Gadis itu terkesiap. Seolah merasakan kemarahan Wenda yang membara, gadis itu langsung menghindari sentuhan Alexi berikutnya. Tanpa banyak bicara, gadis itu langsung meninggalkan Alexi.
Wenda menyembunyikan dirinya dari Alexi, tapi ia justru berpapasan dengan Ririn. Jutaan emosi tengah mengusai si gadis ikal itu. Namun, Wenda hanya menatapnya dengan tatapan datar.
“ Aku tahu kamu tidak suka, tapi tolong jangan ajak aku berdebat. Aku lelah sekali.”
Wenda dilewatinya begitu saja dan ia tidak suka.
“ Kamu tidak akan ingkar janji’kan?”
Langkah Ririn terhenti. Gadis itu menoleh sedikit.
“ Asal kamu tahu, aku lelah dianggap penganggu hubungan orang. Jadi, kamu tenang saja. Aku akan menepati janjiku.”
Ririn mempercepat langkahnya. Hujan pun semakin deras. Wenda juga tak mau berlama-lama di tempat itu. Ia tak mau dirinya masuk angin dan yang lebih ia hindari adalah pertemuannya dengan Alexi saat itu.
Gemuruh semakin berkuasa atas langit. Benang merah antara Fi, Adrian, Ririn, Alexi, serta Wenda semakin terasa panas. Masing-masing ingin memutuskan benang merah yang melilit kisah mereka. Namun, semakin ditarik maka mereka semakin terlilit. Jalinan benang merah itu tak berhenti sampai di sini.

Auhtor's Note:
Merasa makin baper?? :D

please comment and share 

1 komentar:

  1. makin kesini , makin kasihan sama wenda.
    sabar ya wen , tapi gimanapun juga main belakang gitu gak baik loh.

    terus si adrian apaan lagi???
    jadi berat gitu ngakuin dia ada hubungan sama pacarnya sendiri

    nah tanda-tanda itu mah..
    dasar prince-semi-ganjen

    kalau udah gini ier gak kaget kalau dia dipisahin dari fi
    entah di tengah cerita entah di akhir cerita,
    gak apa-apa deh author ,
    udah deh lepas fi ke pasar bebas wkwkwkw
    *apa coba*

    BalasHapus