Total Tayangan Halaman

Jumat, 16 September 2016

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 78)



Musikal 78

Suasana gedung teater lebih ramai dari biasanya. Meski ramai, sebagian dari mereka justru tidak latihan, terutama tim akting. Hari ini mereka kedatangan Tri Kurniati beserta beberapa asisten dan kostum untuk semua anggota LM. Tri sengaja meluangkan waktunya untuk melakukan fitting baju kepada anggota LM, terutama tim akting.
“ Terima kasih ya, Tri, udah mau repot-repot nganterin barang sampai kemari,” ujar Riani saat menyambut kedatangan Tri.
Segurat senyum tipis terukir di wajah Tri. Wanita itu melepaskan kacamata seraya mengibaskan rambutnya.
“ Lalu mana wanita yang membuatku sampai repot-repot datang kemari?”
“ Dia tidak ada di sini. Mungkin minggu depan baru kembali,” sahut Gloria sambil terkekeh. “ Sayang sekali ya, Tri. Niatmu untuk membunuhnya gagal kali ini.”
“ Ya, sayang sekali,” tandas Tri. Tiba-tiba senyumnya kembali merekah saat melihat sosok Dave muncul. “ Yo, Dave. Aku pikir kamu cuma membual waktu itu.”
Dave hanya membalas dengan tertawa. Riani dan Gloria sedikit bingung melihat mereka.
“ Waktu itu? Kalian pernah bertemu sebelumnya?” tanya Riani.
“ Urusan bisnis,” Tri menyelipkan kacamata di kerah bajunya. “ Aku pinjam modelnya dan dia pakai karyaku.”
Riani dan Gloria mengangguk paham.
“ Apa kita sedang reuni sekarang?”
Keempat alumni LM ini sontak menoleh mencari sumber suara. Mereka semua terkejut saat melihat kedatangan Hana.
“ Hana!” Tri berseru seraya memeluk wanita berambut panjang itu. “ Aku tidak melihatmu waktu festival.”
Hana membalas pelukan Tri, “ Aku ada urusan. Wah, kamu tambah sukses saja ya.”
“ Bisnis baju membuatku bahagia,” ujar Tri seraya tertawa lepas.
“ Yaah, seharusnya kita benar-benar reuni nih,” Dave melipat tangannya. Raut wajahnya tampak sedikit kecewa. “ Sayang, orang yang mengumpulkan kita malah sedang tidak ada di sini.”
“ Dia tidak ada di sini lagi?” suara Hana terdengar geram. “ Anak itu maunya apa?”
“ Tifa dan segala kejutannya,” Gloria mengangkat bahu. “ Kuharap dia tidak mati terkejut.”
“ Tidak, dia akan mati di tanganku,” sahut Tri dan Hana serempak.
ooOoo
Ririn mematut dirinya di cermin. Gaun ala Eropa yang dikenakannya tampak sedikit kebesaran. Seorang asisten Tri yang membantu Ririn terlihat keheranan.
“ Kok jadi lebih tiga senti gini ya? Padahal kemarin sudah diukur,” sang asisten memajukan bibirnya. “ Apa kamu kurusan?”
“ Bisa jadi. Si Tifa itu’kan gila,” sahut Tri yang tiba-tiba muncul. Ia tersenyum sinis saat ia menyentuh gaun Ririn. “ Kamu pasti dikasih latihan super gila oleh dia, iya’kan?”
Ririn mengangkat bahunya takut-takut. Tri pun jadi terkekeh.
“ Ya sudah, Johan. Buat jahitan tangan yang sementara saja. Jangan dibuat permanen. Sayang gaunnya. Lumayan bisa dipakai untuk pementasan yang akan datang.”
“ Oke, Bos,” sahut sang asisten seraya memasangkan beberapa peniti di bagian belakang gaun Ririn.
“ Mas, boleh gak saya selfie dulu pakai gaunnya?” ujar Ririn. Ia sempat berpikir untuk memamerkan gaunnya pada Andani. Pasti gadis itu akan iri setengah mati kalau melihat fotonya.
“ Jangan lama, ya.”
Ririn mengangguk. Ia pun segera keluar dari kamar ganti sementara (seharusnya jadi kamar penyimpanan, tapi berhubung ramai ruangan ini jadi kamar ganti sementara). Berhubung ruangan itu ada di seberang panggung, begitu Ririn keluar ia pun langsung jadi sorotan semua orang.
“ Ririiin, cantik bangeeet…”
Para gadis itu langsung mengerumuni Ririn. Ada yang memuji, merasa iri, atau sekadar memegang-memegang gaun Ririn, bahkan ada yang meminta selfie dengannya. Seketika Ririn menjadi artis sesaat.
Perhatian tim musik pun ikut tersita. Sayangnya, mereka hanya bisa memerhatikan dari jauh karena mereka tidak mendapatkan kostum khusus. Gloria pun masih mengharuskan mereka latihan.
“ Ririn-chan kawai nee,” ujar Jiro.
Sou desu nee,” sahut Hiro.
Meski Alexi tak ikut berkomentar, tapi mata dan pikirannya fokus pada sosok Ririn yang terlihat anggun dengan gaun itu. Ia bahkan tak sadar kalau jemarinya menekan sembarang tuts.
“ Alexi, lambatkan tempomu!”
Namun, Alexi tak menggubrisnya. Tiba-tiba saja pandangan mereka bertemu. Alexi bisa menatap jelas, kalau Ririn sedang tersenyum tipis padanya.
PLETAAAK…
“ Perhatikan tempomu, bukan baju gadis itu!”
Kesadaran Alexi kembali saat sebuah partitur dihentakkan Gloria di kepalanya. Sontak semua teman-temannya tertawa. Dari kejauhan Alexi sempat melihat kalau Ririn juga menertawainya. Ia pun bersungut-sungut memainkan kembali pianonya.
Saat semua orang terkagum-kagum dengan penampilan Ririn, Wenda menjadi satu-satunya yang menjadi pengecualian. Bola matanya terasa membara saat ia menangkap Alexi terpesona oleh gadis itu. Gejolak emosinya bergumul di dada. Untung ia masih dalam kesadaran untuk tidak mengoyak gaun canti tersebut.
‘ Sabar, Wen. Tinggal beberapa hari lagi. Alexi juga akan menatapmu sama seperti itu.’
ooOoo
Akhirnya latihan hari ini selesai juga. Setelah mendapatkan beberapa pengarahan dari Dave, mereka pun membubarkan diri. Tepat sebelum Wenda menstarter motor, Alexi mencegatnya.
“ Wen, besok kamu ada acara?”
Wenda terkesiap. Antara terpesona dan terkejut, “ Eh, i—iya. Ada apa, Al?”
“ Besok aku ada latihan bareng Nadia. Aku pengen kamu nemenin aku. Supaya Nadia benar-benar percaya kalau gak sedang bersandiwara.”
Apa ini sebuah tawaran kencan?
Tak menunggu dua kali, Wenda langsung mengiyakan permintaan Alexi.
“ Oke, jam berapa besok?”
“ Pulang sekolah kita langsung on the way  ke sana,” Alexi tersenyum. “ Oh ya, Wen. Besok kita pakai motormu saja ya. Soalnya tempat latihannya jauh. Nanti bensinya aku ganti kok.”
Wenda hanya mengangguk dengan seulas senyum tipis di wajahnya.
‘ Gak diganti juga gak apa-apa. Aku gak menuntut apa-apa darimu. Wherever you will go, I will go.’

Auhtor's Note:
Beberapa minggu ini Author postingnya pendek-pendek yah? Ahaha... Maafin Author yah, emang Author sengaja biar greget :D 
please comment and share

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar