Musikal 78
Suasana gedung teater lebih ramai dari biasanya. Meski
ramai, sebagian dari mereka justru tidak latihan, terutama tim akting. Hari ini
mereka kedatangan Tri Kurniati beserta beberapa asisten dan kostum untuk semua
anggota LM. Tri sengaja meluangkan waktunya untuk melakukan fitting baju kepada anggota LM, terutama
tim akting.
“ Terima kasih ya,
Tri, udah mau repot-repot nganterin barang sampai kemari,” ujar Riani saat
menyambut kedatangan Tri.
Segurat senyum tipis
terukir di wajah Tri. Wanita itu melepaskan kacamata seraya mengibaskan
rambutnya.
“ Lalu mana wanita
yang membuatku sampai repot-repot datang kemari?”
“ Dia tidak ada di
sini. Mungkin minggu depan baru kembali,” sahut Gloria sambil terkekeh. “
Sayang sekali ya, Tri. Niatmu untuk membunuhnya gagal kali ini.”
“ Ya, sayang sekali,”
tandas Tri. Tiba-tiba senyumnya kembali merekah saat melihat sosok Dave muncul.
“ Yo, Dave. Aku pikir kamu cuma membual waktu itu.”
Dave hanya membalas
dengan tertawa. Riani dan Gloria sedikit bingung melihat mereka.
“ Waktu itu? Kalian
pernah bertemu sebelumnya?” tanya Riani.
“ Urusan bisnis,” Tri
menyelipkan kacamata di kerah bajunya. “ Aku pinjam modelnya dan dia pakai
karyaku.”
Riani dan Gloria
mengangguk paham.
“ Apa kita sedang
reuni sekarang?”
Keempat alumni LM ini
sontak menoleh mencari sumber suara. Mereka semua terkejut saat melihat
kedatangan Hana.
“ Hana!” Tri berseru
seraya memeluk wanita berambut panjang itu. “ Aku tidak melihatmu waktu
festival.”
Hana membalas pelukan
Tri, “ Aku ada urusan. Wah, kamu tambah sukses saja ya.”
“ Bisnis baju
membuatku bahagia,” ujar Tri seraya tertawa lepas.
“ Yaah, seharusnya
kita benar-benar reuni nih,” Dave melipat tangannya. Raut wajahnya tampak
sedikit kecewa. “ Sayang, orang yang mengumpulkan kita malah sedang tidak ada
di sini.”
“ Dia tidak ada di
sini lagi?” suara Hana terdengar geram. “ Anak itu maunya apa?”
“ Tifa dan segala
kejutannya,” Gloria mengangkat bahu. “ Kuharap dia tidak mati terkejut.”
“ Tidak, dia akan
mati di tanganku,” sahut Tri dan Hana serempak.
ooOoo
Ririn mematut dirinya di cermin. Gaun ala Eropa yang
dikenakannya tampak sedikit kebesaran. Seorang asisten Tri yang membantu Ririn
terlihat keheranan.
“ Kok jadi lebih tiga
senti gini ya? Padahal kemarin sudah diukur,” sang asisten memajukan bibirnya.
“ Apa kamu kurusan?”
“ Bisa jadi. Si Tifa
itu’kan gila,” sahut Tri yang tiba-tiba muncul. Ia tersenyum sinis saat ia
menyentuh gaun Ririn. “ Kamu pasti dikasih latihan super gila oleh dia,
iya’kan?”
Ririn mengangkat
bahunya takut-takut. Tri pun jadi terkekeh.
“ Ya sudah, Johan.
Buat jahitan tangan yang sementara saja. Jangan dibuat permanen. Sayang
gaunnya. Lumayan bisa dipakai untuk pementasan yang akan datang.”
“ Oke, Bos,” sahut
sang asisten seraya memasangkan beberapa peniti di bagian belakang gaun Ririn.
“ Mas, boleh gak saya
selfie dulu pakai gaunnya?” ujar
Ririn. Ia sempat berpikir untuk memamerkan gaunnya pada Andani. Pasti gadis itu
akan iri setengah mati kalau melihat fotonya.
“ Jangan lama, ya.”
Ririn mengangguk. Ia
pun segera keluar dari kamar ganti sementara (seharusnya jadi kamar
penyimpanan, tapi berhubung ramai ruangan ini jadi kamar ganti sementara).
Berhubung ruangan itu ada di seberang panggung, begitu Ririn keluar ia pun
langsung jadi sorotan semua orang.
“ Ririiin, cantik
bangeeet…”
Para gadis itu
langsung mengerumuni Ririn. Ada yang memuji, merasa iri, atau sekadar
memegang-memegang gaun Ririn, bahkan ada yang meminta selfie dengannya. Seketika Ririn menjadi artis sesaat.
Perhatian tim musik
pun ikut tersita. Sayangnya, mereka hanya bisa memerhatikan dari jauh karena mereka
tidak mendapatkan kostum khusus. Gloria pun masih mengharuskan mereka latihan.
“ Ririn-chan kawai nee,” ujar Jiro.
“ Sou desu nee,” sahut Hiro.
Meski Alexi tak ikut
berkomentar, tapi mata dan pikirannya fokus pada sosok Ririn yang terlihat
anggun dengan gaun itu. Ia bahkan tak sadar kalau jemarinya menekan sembarang
tuts.
“ Alexi, lambatkan
tempomu!”
Namun, Alexi tak
menggubrisnya. Tiba-tiba saja pandangan mereka bertemu. Alexi bisa menatap
jelas, kalau Ririn sedang tersenyum tipis padanya.
PLETAAAK…
“ Perhatikan tempomu,
bukan baju gadis itu!”
Kesadaran Alexi
kembali saat sebuah partitur dihentakkan Gloria di kepalanya. Sontak semua
teman-temannya tertawa. Dari kejauhan Alexi sempat melihat kalau Ririn juga
menertawainya. Ia pun bersungut-sungut memainkan kembali pianonya.
Saat semua orang
terkagum-kagum dengan penampilan Ririn, Wenda menjadi satu-satunya yang menjadi
pengecualian. Bola matanya terasa membara saat ia menangkap Alexi terpesona
oleh gadis itu. Gejolak emosinya bergumul di dada. Untung ia masih dalam
kesadaran untuk tidak mengoyak gaun canti tersebut.
‘ Sabar, Wen. Tinggal beberapa hari lagi. Alexi juga
akan menatapmu sama seperti itu.’
ooOoo
Akhirnya latihan hari ini selesai juga. Setelah
mendapatkan beberapa pengarahan dari Dave, mereka pun membubarkan diri. Tepat
sebelum Wenda menstarter motor, Alexi mencegatnya.
“ Wen, besok kamu ada
acara?”
Wenda terkesiap.
Antara terpesona dan terkejut, “ Eh, i—iya. Ada apa, Al?”
“ Besok aku ada
latihan bareng Nadia. Aku pengen kamu nemenin aku. Supaya Nadia benar-benar
percaya kalau gak sedang bersandiwara.”
‘ Apa ini sebuah tawaran kencan?’
Tak menunggu dua
kali, Wenda langsung mengiyakan permintaan Alexi.
“ Oke, jam berapa
besok?”
“ Pulang sekolah kita
langsung on the way ke sana,” Alexi tersenyum. “ Oh ya, Wen. Besok
kita pakai motormu saja ya. Soalnya tempat latihannya jauh. Nanti bensinya aku
ganti kok.”
Wenda hanya
mengangguk dengan seulas senyum tipis di wajahnya.
‘ Gak diganti juga gak apa-apa. Aku gak menuntut
apa-apa darimu. Wherever you will go,
I will go.’
Auhtor's Note:
Beberapa minggu ini Author postingnya pendek-pendek yah? Ahaha... Maafin Author yah, emang Author sengaja biar greget :D
please comment and share
Tidak ada komentar:
Posting Komentar