Musikal 83
“ Katanya mau Love
Musical dulu? Kok tiba-tiba ngajak latihan sama aku sekarang?”
“ Hujan, Nad. Jadi
dibatalkan.”
Nadia mengangguk.
Kemudian ia pun mengajak Alexi untuk segera berlatih. Tidak seperti kemarin,
latihan kali ini justru terasa berat bagi Nadia. Padahal tak ada Wenda yang
mengawasi mereka, tapi kenapa Alexi merasa begitu tertekan. Nadia bahkan harus
mengingatkan masalah tempo Alexi yang tak beraturan.
“ Berhenti! Aku gak
bisa main kalau kamu kayak gini terus.”
Alexi mengusap
wajahnya, lalu dengan satu tarikan ia turunkan jari-jarinya melewati rambut.
“ Maaf, Nad.”
“ Ada masalah di
sekolah? Ahh, jangan-jangan kamu berantem sama pacarmu ya?”
Alexi menggeleng.
Desahan napasnya terdengar berat.
“ Aku seperti sedang
melakukan dosa besar dan sekarang aku sedang menerima penghakiman.”
“ Dosa besar?” alis
Nadia terangkat. “ Memangnya kamu salah apa, Al?”
Alexi kembali
menggeleng, “ Aku juga gak tahu, Nad. Entah kenapa di saat aku harus berada di
sisi orang itu, orang itu justru menolakku. Rasanya aku frustasi banget, Nad.”
“ Pacarmu?”
Alexi lagi-lagi hanya
menggeleng. Nadia menunggu Alexi kembali mengatakan sesuatu, tapi Alexi justru
diam seribu bahasa.
“ Lalu apakah dia
adalah gadis yang kamu cari itu?”
Nadia bisa merasakan
kalau Alexi meliriknya sesaat. Giliran Nadia yang mendesah berat. Kalau sudah
begini jangankan latihan, diajak bicara pun percuma saja. Nadia paham betul
sifat si kacamata ini.
Akhirnya, Nadia
menyalakan musik dari ponselnya. Sebuah iringan lembut yang ingin mengantarkan
siapa pun pendengarnya untuk berdansa.
“ Kamu gak mau
berdansa denganku?”
Mood
Alexi benar-benar tidak bagus untuk diajak berdansa. Namun, yang terjadi justru
sebuah kalimat mantra meluncur bebas dari bibir Alexi.
“ Kamu tahu’kan kalau
aku tidak bisa menolakmu.”
Senyum Nadia
mengembang. Kalimat itu sudah seperti mantra. Acapkali Nadia meminta sesuatu
pada Alexi, laki-laki itu pasti akan merapalkannya.
Alexi memang jarang
berdansa, tapi ia mampu membimbing Nadia dalam tariannya. Hanya saja kali ini
ia tak bisa menatap langsung mata gadis itu.
“ Kamu cepat
bertambah tinggi ya. Sekarang kita hampir sepantaran.”
“ Aku minta maaf soal
kebohonganku. Sebenarnya aku menginap di hari Sabtu, bukan Jumat.”
“ Aku mengerti. Pasti
karena pacarmu itu’kan?”
Alexi mengangguk
kaku.
“ Baguslah kalau
begitu. Malam ini kita berdansa saja. Latihannya bisa besok malam, gimana?”
Alexi kembali menatap
Nadia sekilas.
“ Kamu tahu’kan kalau
aku tidak bisa menolakmu.”
ooOoo
Ririn beruntung karena hujan deras yang kunjung reda
sampai sore, latihan mereka untuk hari itu dibatalkan. Dengan begitu ia bisa
cepat pulang. Menghabiskan waktu istirahat singkatnya dan mungkin dengan
menumpahkan semua kekesalannya hari itu di kamar sendirian.
Benar saja, begitu
pipinya menempel di bantal, ia tak bisa mengontrol air matanya. Semua emosinya
tertumpah begitu saja. Belum pernah ia menangis sehebat ini.
‘ Jadi, ini yang dinamakan patah hati? Kalau memang
sesakit ini lebih baik aku tidak usah jatuh cinta selamanya.’
Mungkin karena
terlalu lelah dan banyak berpikir, ia tak sadar kalau sudah jatuh terlelap.
Ingatan buruknya mengenai kejadian di sekolah membuatnya kembali memimpikan
kejadian itu. Bahkan lebih buruk, di dalam mimpinya ia bertemu Adrian. Di
samping laki-laki itu, Fi terlihat menggelayut manja. Dengan sinisnya Adrian
mengatakan bahwa ia sekarang sudah berpacaran dengan Fi dan ia meminta pada
Ririn agar menjauh selamanya.
Ririn terbangun. Ia
menoleh ke sana kemari, seolah-olah mencari kebenaran atas apa yang ia lihat.
Ia mendesah lega karena apa yang ia lihat tadi hanya mimpi. Ririn mengusap-usap
wajahnya, lalu beranjak meninggalkan ranjang. Ia perhatikan perubahan wajahnya.
Matanya sembab dan memerah. Ada pula sisa air mata yang mengering di sekitar
pipi. Rambutnya juga awut-awutan.
Ririn mendesah
panjang. Sekarang ia baru mengerti kenapa Zainuddin sampai sakit keras ketika
ditinggal Hayati menikah. Juga kenapa Syamsuddin rela mati menjual harga
dirinya pada Belanda setelah tahu kalau Siti Nurbaya menikah dengan Datuk
Maringgih. Semua jawabannya hanya satu, yaitu patah hati.
Sekarang ialah yang
berada di posisi orang-orang itu. Patah hati memang menyakitkan. Wajar saja
kalau ada yang sampai bunuh diri seperti di berita-berita yang pernah ia anggap
picisan.
Bisakah ia bangkit.
Entahlah, ia sendiri tak yakin. Satu hal yang ia harus lakukan saat ini, yaitu
mandi dan menenangkan pikirannya di dengan air dingin.
Ririn melewatkan sesi
makan malamnya dan memilih kembali ke kamar. Nafsu makannya sudah hilang sejak
tadi, yang ia butuhkan sekarang adalah ketenangan. Mungkin tidur adalah pilihan
terbaik. Sebelum tidur ia meminta agar hari perasaannya lebih baik di hari
esok.
Biarlah malam ini
menjadi malam yang sangat dingin.
please comment and share
yup rin , bener itu..
BalasHapusmalah saat patah hati jantung kita itu berhenti berdetak untuk sesat
*baper*
sebenernya ririn gak salah sih
yang salah di price semi-genit itu , kalo ririn tahu dia udah pacaran kan gak bakalan beraksi gitu.
dan si alexi , hadeh...
kamu tuh nya patuh nya sama nadia sampe gak bisa nolak apapun gitu
pengen ier kunyah kacamata kamu wkwkkww