Total Tayangan Halaman

Jumat, 09 September 2016

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 75)




Musikal 75


Wenda memainkan klakson saat ia melihat Alexi sedang mengunci sepeda. Laki-laki itu tersenyum saat Wenda menaikkan kaca helm. Gadis itu memarkir matic-nya di sebelah sepeda Alexi.
“ Kunci sepedamu sudah ketemu?” sapa Wenda setelah ia melepskan helmnya.
“ Aku menemukannya di kantung celana seragam ketika aku menyucinya,” Alexi terkekeh mengingat bagaimana cara ia menemukan kunci itu. “ Ngomong-ngomong kamu sudah mengisi bensin?”
Giliran Wenda yang tertawa, “ Bisa aja. Waktu itu aku memang sudah mau mengisinya, tapi karena buru-buru ke rumah sakit jadinya aku lupa. Kalau sekarang sudah full tank kok. Kamu bisa cek kok.”
“ Aku percaya kok,” Alexi mengangguk seraya memamerkan senyum manisnya.
Pagi ini terasa begitu indah bagi Wenda. Ia bertegur sapa dengan Alexi dan sekarang mereka berdampingan menuju kelas. Masih pagi dan Wenda bisa menghirup jelas aroma tubuh Alexi yang pernah membuatnya melamunkan hal-hal bahagia. Kali ini ia yakin kalau laki-laki itu menggunakan parfum beraroma mint.
“ Oh ya, Al―”
“ Ririn!”
Mata Wenda langsung tertuju pada gadis ikal yang ada berjarak beberapa meter di depan mereka. Seperti medan magnet, langkah Alexi segera menyusul gadis itu. Ia bahkan mengabaikan Wenda yang tadi di sisinya. Dalam sekejap kaki Wenda seperti terpaku di tempat. Ia seperti tak berniat untuk melanjutkan perjalanannya dan hanya memandangi Alexi dan Ririn saling bertegur sapa.
Wenda memadang gadis itu dengan wajah cemberut. Gadis itu memang tak pernah membuatnya kesal. Gadis itu juga bukan gadis menyebalkan yang suka menebar pesona atau kegenitan dengan semua lelaki. Namun, ketika gadis itu berada di sisi Alexi, entah kenapa ada perasaan cemburu membara dalam hatinya.
Kenapa harus gadis itu? Dia terlalu bersih untuk dicemburui. Sayang, fakta bahwa Alexi lebih dekat dengan gadis itu membuatnya tak kuasa menahan rasa iri. Apakah tidak ada cara untuk menyingkirkan gadis itu? Dengan cara yang halus tentunya.
“ Bisa tidak menghalangi jalanku?”
Suara sinis itu berhasil membuat Wenda menoleh. Seharusnya Wenda tak usah memastika siapa pemilik suara itu. Nada yang begitu angkuh itu pasti milik Fi.
“ Kupikir jalan ini cukup lebar untukmu mencari jalan lain.”
Fi menarik salah satu sudut bibirnya, “ Ya, tapi aku tidak akan mencari jalan lain untuk seseorang yang sedang berdiri tidak berguna sambil memandangi kemesraan orang lain.”
Alis Wenda saling bertaut. Sebelum Wenda bertanya kembali, Fi sudah lebih dulu menyambar.
“ Aku hanya menggunakan intuisiku saja. Gadis itu, bukan?”
Fi menggendikkan dagunya pada Ririn yang sekarang tertawa bersama Alexi. Wenda mengikuti arah dagu Fi kemudian menatap kembali gadis angkuh ini.
“ Kamu mencoba memprovakasiku? Setahuku kamu memang gak suka dia.”
“ Aku memang gak suka dia,” Fi mengehela rambut panjangnya. “ Dia hampir merebut semua yang aku inginkan. Pemeran utama, Adrian, tapi ternyata aku memang lebih pantas mendapatkan daripada dia.”
‘ Jadi, orang ini sudah jadian sama Adrian. Eh, tunggu. Ririn sukanya sama Adrian?’
“ Lalu kamu mengajak aku berkomplot untuk menghancurkan dia dari belakang?”
“ Wah, aku gak serendah itu. Kalau aku menginginkan sesuatu, maka aku akan berjuang keras untuk mendapatkannya, bukan dengan cara menusuk pesaingku. Dengan cara begitu aku akan bangga menjadi pemenang” sudut bibir Fi kembali tertarik. “ Sedikit saran untukmu, segera kejar laki-laki itu sebelum dia diambil orang lain.”
Fi berlalu tanpa mengindahkan Wenda yang masih bergeming di tempatnya. Alexi dan Ririn sudah menghilang dari hadapannya, yang ada hanya sosok Fi yang berjalan dengan anggun. Gadis itu memang menyebalkan, tetapi apa yang dikatakan gadis itu benar. Gadis itu juga sudah memraktekkannya. Mungkin ia harus mempertimbangkan kata-kata itu.
ooOoo
Sebelum bel pulang berbunyi, mereka dihadiahi lusinan soal matematika untuk dikerjaan di rumah. Wenda sempat curi-curi pandang pada sosok gadis berambut ikal yang sedang merapikan alat tulisnya. Tepat saat bel berbunyi, ia langsung menghampiri meja gadis itu.
“ Rin, kamu bisa bantu aku?”
“ Ya?” tanyanya dengan mata yang membulat.
Wenda menggaruk-garuk kepala belakangnya, “ Yah, aku sepertinya kesulitan mengerjakan soal-soal ini. Kita kerjain bereng yuk?”
“ Boleh aja sih,” jawabnya tanpa ada rasa curiga sedikit pun. “ Kamu gak mau ajak teman-teman kamu yang lain?”
Tatapan Wenda beralih pada ketiga sahabatnya yang sedang mengobrol seru, “Mereka gak bisa diharapkan. Ah, maksudku, kalau Anjani dia pasti langsung ke rumah sakit’kan. Kalau Ben dan Kemal, mereka pasti akan menunda mengerjakan sampai PR-nya akan dikumpul.”
“ Ohh, begitu,” Ririn mengangguk-anggukan kepalanya. “ Baiklah, mau di rumahku apa di rumahmu?”
“ Aku tahu tempat makan mie ayam yang enak. Gimana kalau kita ke sana aja? Nanti aku traktir deh.”
Ririn mengangguk setuju. Mereka pun segera meninggalkan kelas. Sepintas Wenda dan Fi saling bertukar pandang. Wenda yakin saat itu Fi tersenyum licik. Gadis itu seperti menyetujui apa yang sedang dilakukan Wenda saat ini.
Hanya 25 menit menggunakan motor Wenda, mereka berdua pun sampai. Selagi menunggu pesanan mereka dibuat, Wenda pura-pura memperhatikan Ririn yang tengah menjelaskan cara pengerjaan soal-soal tersebut. Saat pesanan mereka tiba, Wenda pun menggunakan kesempatan itu untuk melancarkan aksinya.
“ Kita ngobrol sesuatu di luar PR yuk. Kepalaku udah muter-muter lihat soal.”
“ Kamu mau ngobrol apa?” tanya Ririn seraya menyuapkan gulungan mie dari garpu.
“ Hmm, apa ya? Mungkin tentang cowok-cowok di Love Musical. Ah, sepertinya itu tema obrolan yang baik.”
Ririn memasang tampang meringis, “ Aku masih gak ngerti.”
“ Maksudku yaah, cowok-cowok di Love Musical itu lumayan ganteng-ganteng. Apa kamu gak naksir salah satu di antaranya? Kemal mungkin? Dia’kan naksir berat sama kamu waktu itu.”
“ Yah, waktu itu,” Ririn hampir tersedak saat menjawab. Ia jadi teringat saat ia menolak Kemal beberapa bulan yang lalu. “ Tapi sekarang kayaknya dia udah ketemu cewek yang lain.”
Wenda terkekeh, “ Kemal memang selalu punya cewek di setiap kesempatan.”
“ Mungkin itu yang membuatku masih geli dengan dia saat ini,” Ririn ikut tertawa.
“ Kalau Adrian?”
Kali ini Ririn benar-benar tersedak. Ia bahkan harus menghabiskan setengah dari teh manisnya. Ia berdeham beberapa kali untuk meredakan sakit di tenggorokannya.
“ Su—suka, eh, maksudku yaaah, siapa sih yang suka dia? Dia baik, tampan, dan dewasa. Kupikir para gadis akan berpikiran yang sama denganku.”
“ Aku nggak,” Wenda tersenyum sinis. “ Aku malah suka Alexi.”
Alis Ririn terangkat, “ Alexi?”
“ Upss, tunggu! Kamu gak suka Alexi juga’kan?”
“ Alexi?” tanyanya lagi. “ Ah, tidak. Hmm, aku dan dia memang akrab, tapi kalau diumpamakan mungkin seperti keakrabanmu dengan Kemal atau Ben.”
Gotcha! Wenda bersorak dalam hati.
“ Masa sih? Kupikir di antara kalian ada sesuatu. Soalnya Alexi perhatian banget sama kamu.”
Ririn menggeleng seraya menyeruput teh manisnya.
“ Kalau gitu kamu bisa bantu aku dong?”
“ Bantu apa lagi?”
Wenda mendekatkan wajahnya, “ Bantuin aku supaya lebih dekat dengan Alexi.”
Ririn tersentak, “ Kamu serius soal Alexi?”
“ Tentu. Yah, walaupun Alexi itu terlihat culun dan aneh, tapi kalau dibiarkan terus lama-lama ada cewek lain yang menyambarnya. Lagi pula kamu’kan teman dekatnya Alexi, kupikir kamu bisa mak comblangin aku dengan dia.”
“ Tapi aku gak berbakat jadi mak comblang.”
“ Gak perlu jadi mak comblang yang gimana-gimana kok. Kamu cukup kasih tahu aku hal-hal yang berhubungan dengan Alexi. Dengan begitu aku bisa menjadi cewek yang dia inginkan.”
Ririn menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Ia melipat tangannya di depan dengan sambil membayangkan sesuatu.
“ Sebenarnya aku juga gak tahu apa-apa. Alexi itu cukup misterius untuk masalah pribadinya. Bahkan wajahnya tanpa masker dan kacamata tebal itu aku gak pernah lihat.”
Wah, ternyata aku lebih beruntung darimu, Rin
“ Ohh, gitu ya. Gimana kalau Alexi bilang sesuatu yang bersifat pribadi sama kamu, kamu kasih tahu aku?”
Ririn mengangguk ragu, “ Oke-oke aja, tapi aku gak janji dalam waktu dekat ini ya.”
“ Gak masalah,” Wenda tersenyum puas. Kelinci kecil itu sudah masuk dalam perangkapnya. “ Aku akan selalu menunggu.”

please comment and share

2 komentar:

  1. yup saingan paling berat itu saingan yang terlalu "bersih"

    konflik nya dapet , jiah si "fi" kompor yak wkwkw
    tapi gak nyangka dia main "bersih" dan ngeluarin kata-kata itu
    "gak mau main kotor"

    kalo di buat buku best seller nih wkwkww

    BalasHapus