Musikal
165
Akhir-akhir ini Riani
selalu merasa resah tiap kali akan pergi tidur. Entah kenapa Tifa selalu hadir
di dalam mimpinya belakangan ini. Tifa tak hanya hadir begitu saja, tetapi juga
membawa serta semua masa lalu yang pernah mereka alami. Dari bagaimana mereka
bertemu dan cerita itu terus berlanjut bagai episode di setiap mimpinya.
“Ada apa?” tanya suaminya yang hendak bersiap tidur. Sepertinya sang
suami bisa membaca kegelisahan istrinya.
“Gak ada apa-apa,” Riani membaringkan tubuhnya dengan memunggungi
suaminya. “Cuma capek.”
“Kalau ada masalah cerita dong.”
“Aku cuma butuh tidur,” dan Riani pun memejamkan matanya erat-erat.
Entah ia akan tertidur atau tidak, yang jelas ia tak mau berdebat lagi dengan
suaminya.
Dan masa lalu kembali menghiasi mimpinya.
ooOoo
Hari pertama camp pelatihan klub drama. Seperti
tradisi yang sudah diturunkan tiap generasi, mereka selalu menyelenggarakan di
kota yang sama dan tempat yang sama pula. Menu latihan pun tidak ada yang
berubah.
“Mereka kayaknya kaget banget ya,” ujar Tifa dengan tawa cekikikan.
“Dan kayaknya kamu senang banget,” sahut Hana. “Kayaknya kamu lupa
penderitaan tahun kemarin.”
“Mana mungkin lupa. Aku tertawa justru karena aku ingat saat-saat
dikerjai oleh senior,” Tifa masih tertawa. “Duuh, untung udah senior. Jadi, gak
perlu bangun subuh kayak waktu itu.”
“Bangun paginya sih gak apa-apa,” sahut Gloria sambil menguap. Bersamaan
dengan itu rombongan anggota baru melintas di hadapannya. “Tapi lari-lari pagi
kayak gini sih ogah banget.”
Tifa mengangguk setuju. Mata Tifa kemudian bertemu dengan Riani yang
tergabung dalam rombongan anggota baru. Gadis itu tampak berkeringat akibat
berlari, tetapi ia tetap bersemangat menjalani semua latihan. Tifa tersenyum
seraya mengepalkan tangan untuk memberikan semangat. Riani mengangguk kecil dan
membalas senyumannya.
“Itu Riani?” tanya Hana yang langsung disahut dengan anggukan Tifa. “Aku
gak nyangka dia tahan di klub kita.”
Meski nada bicara Hana seperti menyindir, tapi Tifa tak menyalahkannya.
Ia juga tak yakin kalau gadis itu akan bertahan di klub drama. Awalnya Riani
hanya datang dan mengamati jalannya aktivitas klub. Satu minggu setelah itu, ia
menyatakan untuk menjadi anggota tetap. Tentu saja Tifa sangat senang, sebab
orang seperti Riani sangat dibutuhkan di klub drama dan pastinya akan membawa
dampak yang besar.
Sangat besar, bahkan
melampaui ekspetasi Tifa. Namun, Tifa tak tahu itu akan terjadi.
ooOoo
Dan terjadilah…
Ada sebuah insiden kecil mewarnai pelatihan kali ini. Di hari terakhir
mereka latihan, tepatnya menuju latihan siang, Riani tiba-tiba pingsan. Menurut
pengakuan beberapa teman mereka, hari itu Riani memang bangun terlambat
sehingga ia tak sempat sarapan, sedangkan makan siang baru dibagikan pukul
13.30. Peristiwa itu cukup membuat heboh, terutama di kalangan anggota baru.
Dave yang kebetulan berada di dekat Riani langsung menggendong gadis itu
kamar. Setelah itu barulah anggota lain yang mengurusnya. Tifa yang menunggu di
luar kamar terlihat cemas.
“Tenang, dia tidak apa-apa,” ujar Dave. “Mungkin cuma pingsan karena gak
makan.”
Tifa dan Gloria mendesah lega seraya mengusap dada.
“Mana ada yang selamat kalau gak sarapan selama pelatihan nerakan ini,”
cetus Hana. “Cari masalah aja tuh anak.”
“Kayaknya seseorang gak sarapan juga,” Dave terkekeh. Lirikan jahilnya
membuat Hana tambah merajuk.
“Halo, para senior baru,” sapa salah satu senior kelas tiga. “Daripada
kalian mengkhawatirkan satu orang saja, lebih baik kalian membantu panitia yang
lain menyiapkan acara api unggun. Dia sudah dirawat oleh tangan yang tepat.”
“Nah, itu baru saran yang tepat,” sahut Hana. “Ayo, kita pergi!”
Persiapan pesta api unggun ternyata tak memakan waktu yang lama.
Pekerjaan lebih banyak dibebankan pada anggota baru. Meski begitu semua senior
turut membantu sehingga tak ada seorang pun yang menetap di dalam vila.
Saat Riani membuka matanya ternyata matahari sudah mulai condong ke
barat. Namun, sinarnya masih cukup kuat hingga dapat memantulkan bayangan yang
berkilau. Retinanya perlahan-lahan menerima cahaya tersebut dan ketika bayangan
itu terasa nyata, ia tersentak kaget.
Sosok Dave tengah duduk di salah satu kursi. Matanya terlalu fokus pada
buku yang ia baca. Ia sama sekali tak mengindahkan hal lain, kecuali
membalikkan halaman buku.
“Da—Dave…”
Dave tersentak. Ia tersenyum seraya menutup buku. Ia tak beranjak jauh
dari tempatnya semula, hanya berdiri di dekat kursinya.
“Bagaimana keadaanmu?”
“Kupikir sudah lebih baik,” jawab Riani. “Maaf, jadi merepotkan kalian.
Ngomong-ngomong apa kamu yang menungguku dari tadi?”
“Tadi Kak Lulu yang ada di sini, tapi dia tadi sakit perut terus papasan
sama aku. Dia minta aku gantikan sebentar. Kebetulan aku gak ada kerjaan, aku
mau saja. Gak tahunya Kak Lulu gak balik-balik.”
Dave tertawa garing sementara Riani hanya menanggapinya sambil
tersenyum. Entah kenapa Dave begitu bersinar saat diterpa matahari sore.
Sifatnya yang selalu menggoda semua wanita seolah terlupakan kala itu. Dia
bagai ksatria yang selalu datang di saat ia butuhkan.
“Terus siapa yang membawaku ke sini waktu aku pingsan tadi?”
“Oh, itu juga aku.”
‘Benar’kan? ‘ gumam Riani dalam
hati. Dave memang pahlawannnya.
“Terima kasih, Dave.”
Baru saja Dave mau membalas, tiba-tiba saja Gloria dan Tifa menyeruak
masuk. Tanpa ba-bi-bu lagi, Gloria langsung mendaratkan jeweran di telinga
Dave.
“Bukannya bantuin orang, malah santai-santai di sini!” seru Gloria.
“Hmm, bagus ya!”
Dave berseru minta tolong. Namun, Tifa mengabaikannya dan lebih memilih
menengok Riani yang tampaknya syok melihat kedatangan mereka.
“Ri, kamu udah baikan?”
“Eh, i—iya,” Riani menatap Tifa dan Dave bergantian. “I—itu gak
apa-apa?” tanyanya seraya menunjuk Dave.
“Ah, gak apa-apa. Salahnya, kenapa kabur dari tugas.”
“Lho, tapi dia bilang dia cuma gantiin Kak Lulu.”
“Dia gak bakal ketemu Kak Lulu kalau gak meninggalkan posnya,” Hana
menyusul masuk. “Sudah, Glo. Nanti telinga anak putus malah jadi masalah.”
Gloria melepaskan jewerannya sambil mendengus kesal.
“Persiapan sudah selesai,” Hana melirik Riani. “Kalau kamu sudah merasa
sehat, kamu bisa ikut acara terakhir kok.”
Riani menatap Tifa penuh tanda tanya.
“Cuma acara api unggun. Ini’kan hari terakhir latihan, jadi ditutup
dengan senang-senang. Kamu tenang aja, gak ada latihan lagi setelah ini.”
Riani mengangguk sambil tersenyum.
“Tapi kami punya acara sendiri,” Dave menghampiri Tifa seraya
mengalungkan lengannya di pundak gadis itu.
“Gak usah macam-macam lagi, Dave,” tukas Hana.
“Kita cuma mau cari spot
terbaik untuk melihat api unggun.”
Tifa melepaskan lengan Dave dengan kasar, “Apaan sih! Kita kembali ke
depan aja yuk. Nanti dicari kakak-kakak senior.”
Dave kembali merangkul Tifa. Meski risih, tapi Tifa membiarkan Dave
merangkulnya sambil berjalan. Gloria, Hana, dan Riani menyusul mereka di
belakang.
“Dasar pasangan norak,” komentar Gloria.
“Pasangan?” tanya Riani hati-hati.
“Iya, pasangan,” tegas Gloria. “Kamu gak tahu kalau mereka pacaran?”
Riani menggeleng pelan. Namun, jauh di lubuk hatinya ia merasa ada luka
besar yang ditorehkan. Padahal ia memang tak punya hak untuk patah hati. Ia tak
pernah dekat dengan Dave. Tidak seperti Tifa yang memang selalu menempel atau
mungkin sedekat Gloria dan Hana. Di mata Dave ia hanya angin lalu. Hanya karena
ia sebangku dengan Hana dan Tifa yang selalu membawanya di dalam kelompok
mereka.
“Kamu gak apa-apa, Ri?” tegur Hana.
Riani tak sadar kalau ia melamun di tengah jalan. Semua mata tertuju
padanya, termasuk Dave dan Tifa.
“Kamu masih sakit?” tanya Tifa.
Buru-buru Riani memasang senyumnya, “Aku gak apa-apa. Yuk, kita ke
sana.”
ooOoo
Jujur saja alasan
terbesar Riani bergabung dalma klub drama karena Dave menawarkannya dengan
persuasif. Memang sulit melepaskan diri dari pesona Dave. Mata birunya,
senyumnya, dan kata-kata halusnya adalah paket komplit untuk menghipnotis
seseorang. Riani tak menyalahkannya karena sedari awal ia juga memang telah
jatuh hati pada sang pangeran.
Semua bermula ketika mereka duduk di kelas X. Pesona Dave yang kuat
telah menyebar di kalangan siswa. Saat itu Riani tak terlalu memedulikannya. Ia
pikir Dave hanya seorang pria playboy yang dianugrahi sedikit ketampanan.
Keadaan berubah ketika mereka disatukan dalam sebuah kelompok tugas.
Ketika itu Riani sering absen karena ia harus mengikuti latihan intensif untuk
perlombaan. Sewaktu tugas itu akan
dikumpulkan, ia kalang kabut karena tak ada yang memberitahunya. Namun,
tiba-tiba Dave mengabarkan kalau tugas yang harusnya dibebankan padanya
diambilalih oleh Dave. Pemuda itu hanya mendapatkan ucapan terima kasih dan
tidak meminta balasan.
Di saat itulah Riani mulai terpesona pada pemuda itu. Dave memang baik
pda semua orang tanpa memandang status atau wajah. Wajar jika semua orang
menyukainya. Diam-diam Riani menyimpan rasa suka padanya.
Dewi Fortuna semakin terasa dekat tatkala mereka dipertemukan lagi di
kelas XII. Ia tak tahu kalau Dave punya beberapa teman akrab perempuan. Namun,
kesemuanya sangat baik padanya. Meski begitu, entah kenapa Dave masih terasa
jauh darinya. Dave memang selalu menghampiri bangkunya, tetapi bukan untuknya,
Riani baru sadar kalau bangku siapa yang selalu ia hampiri di waktu
senggang. Ia juga baru sadar siapa yang selalu Dave ajak bicara. Selama ini ia
terlalu sibuk mengontrol detak jantungnya kala Dave ada di hadapannya sehingga
ia tak sadar kalau gadis yang duduk di depannyalah yang sudah berhasil menarik
perhatian sang pangeran. Gadis itu seolah mendapatkan semua yang dia inginkan.
Posisi bagus di klub, teman-teman yang baik, serta kekasih yang selalu ia
idamkan.
Harusnya gadis itu tak usah berkelakuan baik padanya. Dengan begitu, ia
jadi merasa bersalah karena telah memendam perasaan pada Dave. Sial, tanpa
gadis itu ia juga tak akan pernah sedekat ini dengan Dave. Kenapa ini menjadi
semua ironi untuknya.
ooOoo
“Kita kenapa ke sini
sih, Dave?”
Tifa merapatkan jaketnya. Udara terasa semakin dingin ketika mereka jauh
dari api unggun. Tiba-tiba saja Dave mengajaknya untuk pergi diam-diam. Ia tak
tahu diajak ke mana dan ketika ia tahu ternyata Dave mengajaknya ke balkon
vila.
“Kamu gak berterima kasih sama aku? Pemandangannya bagus banget kalau
dari sini.”
Dave benar. Suasana malam memang lebih indah jika dilihat dari
ketinggian. Belum lagi warna merah api unggun menambah keindahan malam itu.
“Aku suka kamu, Tif.”
Tifa terperangah. Mereka memang sudah lama pacaran, tapi tiap kali Dave
menyatakan perasaannya selalu saja membuat jantungnya berhenti berdetak.
“Ka—kamu udah pernah bilang begitu sebelumnya,” Tifa bergerak mengambil
jarak.
“Aku tahu,” Dave mulai mendekat. “Tapi aku cuma mau menegaskan.”
Tifa terpojok. Ia sudah sampai di batas akhir peyangga balkon. Satu-satu
jalan menghindari Dave adalah melompat dari sana. Tentu saja ia tak mungkin
melakukannya. Oleh karena itu, ia membiarkan jarak itu semakin tipis.
“Berjanjilah padaku kalau kamu gak akan meninggalkan aku.”
Dave mencengkram kedua bahu gadis itu. Tidak keras, tapi Tifa merasa ada
tekanan yang berbeda. Rasanya seperti Dave ingin mengikrarkan janji padanya.
“Kamu tenang aja, yang mau sama aku itu cuma kamu,” Tifa terkekeh.
“Tif, aku serius,” wajah Dave berubah masam.
Tifa melepaskan kedua tangan Dave. Sebagai gantinya ia menggenggam erat
kedua tangan itu.
“Aku juga suka kamu dan aku gak akan meninggalkanmu.”
Dave tersenyum penuh makna, “Boleh aku menciummu?”
Mata Tifa menyipit penuh selidik, “Apa kamu mengatakan itu cuma karena
mau cium aku?”
“No, no, no!” Dave menyahut
cepat. “A—aku, ah, maksudku aku memang mau mengatakan itu, tapi aku juga mau
menciummu dan itu dua hal yang berbeda.”
Tifa terkikik, “Eh, kita masih kecil. Mana boleh main cium-ciuman.”
“Iya, ngerti, ngerti,” Dave merajuk dengan bibir mengkerut. Kemudian ia
bersedekap di pagar balkon. “Kamu bikin mood
aku rusak sebelum acara kembang api deh.”
“Eh, memangnya ada kembang api?” tanya Tifa antusias.
“Ada lah. Kalau nggak, ngapain aku ngajak kamu ke sini,” Dave menatap
arlojinya. “Nah, sebentar lagi. Tiga…dua…satu!”
Tepat pada hitungan terakhir kembang api pertama meletus. Ledakkan di
udara menorehkan bunga api yang sangat indah. Tak ada yang bisa memalingkan
darinya.
“Waaah, indaaahnya!” seru Tifa.
Meski sebelumnya sempat merajuk, tapi keindahan kembang api ternyata
mampu melelehkan rasa kesal Dave. Ia ikut-ikutan antusias seperti Tifa.
“Kamu boleh cium aku, tapi jangan lebih dari ini ya.”
Dave tak mengira Tifa akan berubah secepat itu. ia bahkan mengira kalau
Tifa hanya salah bicara. Namun, ketika gadis itu menutup matanya, ia tahu kalau
gadis itu tak sedang bercanda. Jantung Dave berdetak cepat. Pelan-pelan ia
menempelkan bibirnya pada bibir gadis itu.
Sangat lembut dan sangat cepat. Dave menyelesaikan ciumannya hanya
beberapa detik. Ia terlalu gugup untuk berlama-lama bersentuhan dengan gadis
itu. Ia bisa melihat wajah gadis itu memerah seperti apel. Untuk beberapa saat
mereka hanya saling berpandangan. Kemudian mereka sama-sama tertawa.
Dave tak akan pernah melupakan ciuman pertamanya.
ooOoo
Di tengah keramaian
pesta api unggun, Riani sempat memergoki Dave diam-diam menarik Tifa dari
kerumunan. Sebenarnya ia tak ingin terlibat, tapi rasa ingin tahunya memaksa
kakinya untuk melangkah.
“Mau ke mana? Kembang apinya sebentar lagi,” cegah salah satu senior.
“Sayang kalau kamu sampai melewatkan letusan pertaman.”
Tak mungkin Riani menceritakan yang sebenarnya, tapi tak mungkin ia
melewatkan ke mana Dave mengajak gadis itu pergi. Ia harus segera membuat
alasan.
“To—toilet. Aku kebelet, Kak.”
“Ya udah buruan. Kamu sendiri lho yang rugi;”
Riani mempercepat langkahnya. Untunglah ia masih melihat arah Dave
pergi. Pelan-pelan ia mengintai keduanya. Ia membuat gerakan segesit mungkin
agar kedua orang itu tak tahu.
Kedua orang itu sedang berbicara di balkon. Mungkin Dave sedang merayu
gadis itu. Riani tak bisa memastikan. Ia hanya melihat gerakan keduanya, tapi
ia tak bisa mendengar apa yang mereka katakan. Sampai pada akhirnya ia melihat
dengan kedua matanya kalau Dave tengah mencium gadis itu.
Terdengar letusan kembang api yang memekakkan telinga. Semakin lama
letusan itu semakin menyakitkan untuk didengarkan. Semua bunga api itu seperti
sedang membakar semua perasaannya.
Riani tidak akan lupa patah hati pertamanya.
ye elah , udah ada suami dan anak ni orang belom move on juga =,=
BalasHapusCinta memang buta..
HapusHmm