Total Tayangan Halaman

Kamis, 28 April 2016

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 1)





Musikal 1

Tifa membuka matanya. Baru saja seorang pramugari membangunkannya dan mengatakan bahwa pesawat yang ia tumpangi telah sampai di tempat tujuan. Tifa mengucek-ngucek matanya, dan mengusahakan agar pupilnya dapat beradaptasi dengan cahaya di sekitarnya. Ia bangkit paling akhir setelah semua penumpang turun.

‘Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II’

Wanita ini merentangkan kedua tangannya. Seluruh saraf di kulitnya mulai merasakan hangatnya matahari Palembang. Aroma olahan ikan seolah-olah menerpa indara penciumannya, padahal saat ini ia sedang berada di parkiran taksi yang jauh dari tempat penjualan makanan, tapi hidung wanita ini sepertinya memiliki kemampuan penciuman yang setara dengan hiu kala mencium darah.

Taksi yang ia tumpangi mulai melintasi kota Palembang. Beberapa tahun ia tinggalkan kota ini ternyata sudah banyak perubahan. Mulai dari adanya fly over, underpass,  bahkan mall-mall yang mulai berdiri di sana-sini. Ia ingat Palembang tak pernah semacet ini saat terakhir ia tinggalkan.

“ Satu pertunjukkan lagi sebelum semua ini berakhir,” Tifa bergumam sambil mendesah panjang. “ Yah… sebelum semua ini berakhir.”

ooOoo

SMA Chandra Kirana

Bel pertanda waktu pulang berdering. Kebanyakan siswa kala itu mengucapkan syukur ketika bel itu dibunyikan. Mereka baru saja menyelesaikan ujian tengah semester, dan bel pulang pertanda bahwa ujian mereka telah selesai.

“ Huaaah, akhirnya selesai jugaaa,” keluh Andani sambil merenggangkan tubuhnya. “ Aku lelah sekali.”

Ririn hanya tersenyum melihat kelakuan temannya. Sementara itu tangannya sibuk merapikan alat tulis.

“ Kamu jadi ke rumah’kan?” tanya Andani.

Sure, aku udah bawa filmnya,” jawab Ririn sambil mengangguk.

Andani mengacungkan ibu jarinya, “ Good! Aku udah siapin puding spesial di rumah.”

“ Jadi, kamu semalaman cuma buat puding? Gak belajar?” tanya Ririn sambil tertawa. “ Kayaknya nilai kamu bakalan anjlok nih.”

“ Idiih, jangan dooong,” rajuk Andani. “ Aku belajar juga kali.”

Tawa canda mereka masih berlanjut. Mereka terlalu seru mengobrol hingga tak sadar kalau mereka hampir saja menabarak seorang gadis.

“ Ah, maaf,” ujar Andani.

Gadis itu tersenyum simpul, “ Iya, maaf juga.”

Andani dan Ririn masih terpaku di tempat, sementara gadis tadi sudah mendahului mereka. Tampaknya ia akan menuju ruangan klub balet.

“ Dia… cantik ya,” komentar Ririn.

Andani tersentak, “ Ah, siapa? Oh, gadis tadi. Yaa, wajar kalau kamu bilang begitu, dia’kan anak balet.”

“ Kamu tahu dia?”

Andani mengangguk, “ Namanya Priyanka, dia anak klub balet. Dia salah satu ballerina berbakat dari sekolah kita.”

Ririn hanya mengangkat bahu. Ia kurang tahu tentang anak-anak dari klub balet. Namun, sorot matanya masih tertinggal pada ruangan klub balet, hingga Andani menyadarkannya dan mengajaknya pulang.




:) Please comment and share  :)

2 komentar: