Musikal
10
Hari Audisi SMA Chandra
Kirana
Khusus
untuk hari audisi ini, SMA Chandra Kirana terlihat lebih ramai dari biasanya.
Selain para siswi dan guru, hadir pula beberapa wartawan dari berbagai sumber
media. Mereka meliput semua kegiatan yang menyangkut audisi pada hari itu.
Audisi
diawali dengan kata sambutan dari ketua yayasan, dan Tifa selaku sutradara dari
pertunjukkan Love Musical. Dalam kata
sambutannya, ia memperkenalkan Riani dan Gloria yang bertugas sebagai juri dan
nantinya akan menjadi mentor untuk pertunjukkan tersebut. Audisi pun dimulai
setelah Tifa menyelesaikan kalimatnya.
Sementara
itu para siswi mulai merasa resah dan tegang. Satu persatu nomor urutan mereka
dipanggil untuk menunjukkan bakat yang mereka miliki. Bakat yang dicari dalam
audisi ini adalah akting, bernyanyi, menari, dan bermain alat musik. Ketegangan
semakin terasa tatkala mereka menyadari bahwa ada orang-orang yang memiliki
kemampuan yang luar biasa pada bidang yang disebutkan tadi turut mengikuti
audisi tersebut. Mereka adalah Andani dengan bakat bernyanyinya, Priyanka
dengan tarian baletnya, serta Fi yang tenar dengan kemampuan aktingnya.
“
Entalah, tapi mengapa Fi, Andani, dan Priyanka harus ikut dalam audisi ini? Ini
akan membuat peluang kita semakin kecil.”
“
Benar. Audisi ini terasa merasa menyebalkan karena ada mereka.”
“
Seharusnya mereka tidak usah ikut.”
Fi
mengenal Priyanka, tapi ia tidak terlalu mengenal Andani meski satu kelas.
Walau begitu Fi merasa kalau kedua orang itu memang memiliki bakat yang hebat
sehingga orang-orang merasa ciut saat mereka turut hadir pada audisi tersebut.
Ia melirik Priyanka yang duduk di sebelahnya. Gadis ini terlihat cukup resah,
mungkin karena banyak orang yang membicarakan mereka.
“
Tidak usah didengarkan. Mereka hanya tidak percaya diri karena kemampuan kita.”
Priyanka
tersentak, kemudian ia tersenyum pada Fi, “ Aku tahu. Lagi pula aku tidak
menghiraukan mereka kok. Aku cuma tegang dengan penampilanku nanti. Kuharap
juri akan menyukainya.”
“
Percaya diri saja. Kalau kamu memang hebat, semua orang akan mengakuinya.”
Priyanka
kembali tersenyum. Ia menyukai gadis ini. Fi memang terkesan dingin dan ketus,
tapi sebenarnya ia orang yang sangat percaya dengan kemampuan dirinya sendiri.
Selain itu, ia juga menghormati dengan orang-orang yang memiliki bakat hebat.
Andani
yang duduknya tak jauh dari kedua gadis itu membenarkan kata-kata Fi.
Sebenarnya ia juga terganggu dengan ocehan orang-orang di sekitarnya. Namun,
setelah mendengar kata-kata Fi, ia kembali menjadi semangat. Sepertinya cara
pandang Andani terhadap Fi sedikit berubah.
Akhirnya
nama Andani dipanggil. Ia sempat merasakan tatapan sinis dari beberapa siswi
lain. Ia sempat beradu pandang dengan Fi dan Priyanka. Namun, kedua orang itu
tidak menunjukkan ekspresi apapun. Hanya sekilas sebelum Andani masuk ke
ruangan audisi.
“
Selamat siang,” sapa Andani pada Tifa dan yang lainnya.
“
Selamat siang, cantik. Baiklah sebutkan namamu dan bakat apa yang akan kamu
tunjukkan,” ujar Tifa
“
Saya Andani Bramastya. Saya akan bernyanyi siang hari ini.”
“
Lagu apa yang akan kamu bawakan?” tanya Tifa.
“
The Phantom of The Opera,” jawab
Andani mantap.
Tifa,
Riani, dan Gloria sama-sama terkejut. Lagu yang akan Andani bawakan bukan
sembarang lagu. Belum lagi lagu tersebut dikhususkan untuk berduet. Entah
bagaimana cara yang digunakan Andani untuk membawakan lagu tersebut.
“
Baiklah, kalau begitu silahkan,” ujar Tifa.
Musik
pengiring mulai dimainkan. Andani menggenggam mic nya dengan mantap dan mulai menyanyikan bait demi bait. Semua
lantunan syair yang ia nyanyikan dibalut dengan nada-nada yang rumit khas musik
opera. Semakin lama nada yang ia nyanyikan semakin tinggi. Hingga pada bait
terakhir yang merupakan klimaks dari lagu tersebut ia nyanyikan dengan suara
yang melengking.
Musik
berhenti. Namun, ekspresi ketiga juri ini masih terkesima dengan penampilan
Andani barusan. Tifa bahkan tak sadar telah menjatuhkan pena yang ia pegang.
Sepanjang Andani bernyanyi, ia benar-benar terpaku pada gadis ini. Sampai
beberapa detik kemudian kesadarannya kembali, dan ia ikut menyadarkan kedua
temannya.
“
Ehem, bagus sekali. Suaramu menakjubkan,” ujar Tifa.
Andani
tersenyum, “ Terima kasih.”
“
Baiklah, sekarang penampilan selanjutnya. Terima kasih sudah berpartisipasi.”
Andani
kembali tersenyum. Ia mengangguk sebelum meninggalkan ruang audisi. Sesaat setelah
Andani pergi, ketiga juri ini masih terpukau dengan penampilannya.
“
Aku tidak tahu kalau kamu menyimpan mutiara, Riani,” ujar Tifa.
Riani
tertawa kecil, “ Aku bahkan tidak tahu kalau ada murid seperti dia ada di
sini.”
“
Well, aku merasa ada di bawah level
gadis itu,” sahut Gloria. “ Dia benar-benar spektakuler.”
“
Sayang aku pensiun dini dari Broadway, kalau tidak sudah aku culik anak itu,”
ujar Tifa sambil tertawa. “ Baiklah, tolong panggilkan peserta selanjutnya.”
ooOoo
Andani
baru saja keluar dari ruang audisi. Tak sengaja ia kembali beradu mata dengan
Priyanka dan Fi. Priyanka tersenyum kagum padanya, sementara Fi justru
menatapnya dengan tatapan kau-boleh-juga. Andani membalasnya dengan senyum
penuh kemenangan. Tak hanya Priyanka atau Fi, tapi semua murid di sekolahnya
menatap dengan tatapan yang sama.
Meski
audisi tidak dilakukan di ruangan terbuka, tapi Tifa sengaja memasang beberapa
LCD yang dihubungkan dengan speaker
sekolah dan menyiarkan semua kegiatan di ruang audisi. Ia melakukannya karena
ia ingin semua orang tahu bakat-bakat terpendam yang ada di sekolah itu.
Sekaligus menjadi daya tarik murid-murid yang datang untuk audisi atau pun yang
tidak.
“
Kamu luar biasa! Aku gak nyangka kamu benar-benar se-perfect tadi.”
Ririn
merangkul Andani begitu mereka bertemu. Andani membalas pelukan itu. Ia merasa
sangat senang.
“
Terima kasih. Waah, aku pikir kamu gak lihat penampilan aku.”
“
Aku memang telat datang, tapi aku lihat penampilan kamu dari awal sampai
akhir,” Ririn mengacungkan ibu jarinya.
Andani
kembali tersenyum, “ Lantas kamu sendiri bagaimana? Are you ready?”
Ririn
menghela napas berat, “ Aku harus siap.”
ooOoo
Namun,
nama Ririn belum saatnya dipanggil. Setelah selisih beberapa orang setelah
Andani, ternyata nama Priyanka yang mendapat giliran. Gadis manis ini segera
masuk ke ruang audisi dan menemui tiga juri yang siap menanti penampilannya.
“
Selamat siang, nama saya Priyanka Sasmita.”
Tifa
mengangguk, “ Lalu bakat apa yang akan kamu tampilkan.”
“
Hari ini saya akan menari balet untuk kalian.”
“
Dia yang terbaik di bidangnya,” bisik Riani pada Tifa. Wanita itu pun bersiul
pelan.
“
Baiklah, silahkan.”
Musik
pengiring kembali dimainkan. Kali ini sebuah musik klasik yang tak asing di
telinga Tifa. Benar saja, kontestan di depannya ini sedang menarikan “Swan Lake”.
Priyanka
menghabiskan waktu tiga menitnya dengan baik. Ia berhasil menarikan tarian
fenomenal itu dengan baik. Jika saja Riani tidak membisikkan sesuatu sebelum
gadis ini tampil, mungkin Tifa akan bertepuk tangan lebih keras dari sekarang.
“
Indah sekali. Kami menyukainya. Baiklah, terima kasih sudah berpatisipasi.”
Priyanka
mengangguk dan segera meninggalkan ruang audisi tersebut. Sama seperti Andani,
Tifa masih memandangi sosok Priyanka meski gadis itu telah pergi.
“
Gadis berbakat seperti dia kenapa mau ikut audisi seperti ini?” gumam Tifa.
“
Bukannya kamu juga sama, Tif. Sudah sukses di luar negeri malah mau buat pentas
level rendah,” sahut Riani.
Ucapan
Riani sukses membuat Tifa tertawa terpingkal-pingkal. Ia lupa kalau ada kamera
yang menampilkan siara langsung ke seluruh antero sekolah. Ia sadar setelah
Gloria menegurnya. Tifa berdeham dan segera kembali tenang seperti sebelumnya.
“
Baiklah, kontestan selanjutnya.”
ooOoo
Priyanka
bernapas lega saat kembali dari ruang audisi. Ia sempat tegang ketika
menampilkan bakatnya di depan para juri. Untunglah Tifa tadi memuji
penampilannya, dan juri yang lain juga menyukainya, jadi ia tak sia-sia
menggunakan pakaian Swan Lake yang
terlihat ribet itu.
“
Selamat datang kembali,” ujar Fi.
Priyanka
tersenyum manis, lalu ia duduk di samping Fi, “ Bagaimana penampilanku tadi?”
“
Sempurna. Aku juga menyukainya.”
“
Terima kasih,” jawab Priyanka dengan nada riang. “ Ah, bukannya setelah ini
kamu yang tampil ya?”
Fi
mengangguk, “ Ya, kita hanya selisih dua kontestan saja.”
“
Baiklah, kalau begitu aku akan menunda untuk berganti baju. Aku ingin melihatmu
tampil di depan mereka.”
Fi
tersenyum penuh percaya diri, “ Kamu tenang saja. Mereka pasti akan
menyukainya.”
ooOoo
“
Kalau tidak salah dia ini artis’kan?” Gloria berbisik kepada dua temannya
ketika Fi masuk ke ruang audisi.
“
Jangan tanya aku. Aku bahkan baru beberapa minggu di sini,” seloroh Tifa.
Riani
mengangkat bahunya, “ Entahlah, tapi aku juga jarang nonton TV.”
Gloria
memasang tampang masam karena pertanyaannya tak menemukan jawaban. Akhirnya ia
lah yang menyambut kedatangan Fi.
“
Selamat siang. Baiklah, silahkan sebutkan nama dan bakatmu.”
“
Namaku Firdayanti. Aku akan menunjukkan kemampuanku di bidang akting.”
Tifa
kembali bersiul. Ia kemudian menyodorkan sebuah skrip kepada Fi.
“
Kalau begitu, perankan yang ada di dalam naskah ini. Terserah yang mana saja.
Kuberi waktu satu menit untuk menghapal.”
Fi
mengambil skrip itu. Tanpa pikir panjang ia segera mengambil dialog yang paling
panjang yang tertera di sana. Satu menit ia gunakan untuk menyerap semua
kata-kata yang harus ia perankan.
“
Sudah selesai?” tanya Tifa ketika Fi mengembalikan skrip tersebut. “ Oke, action!”
Dari
ekspresi Fi yang biasa saja, tiba-tiba wajahnya mulai memerah. Bibirnya
bergetar dan matanya berkaca-kaca. Perlahan air mata keluar dari pelupuk
matanya. Ia mulai terisak. Isakannya terdengar halus, hingga pada akhirnya ia
mulai meracau.
“
Apa begini caramu memperlakukanku? Kau ambil semua yang aku miliki. Harta,
rumah, orang tua, kekasihku, dan semua orang-orang terdekat yang aku kasihi.
Sungguh kau tak lebih dari binang jalang! Apa dosaku padamu? Kau ambil
semuanya, tapi sekarang kau buang ke kotak sampah. Apa maumu? Se―”
“
Cut!” teriakan Tifa mengakhiri semua
tangisan Fi. Gadis itu kembali tenang sambil menghapus air matanya. Tifa
memandangi skripnya lalu ia mendesis. “ Aiish, kau tampak sangat menderita
dengan naskah ini. Oke, oke, good job!
Terima kasih sudah berpatisipasi.”
Fi
tersenyum kecil. Ia pun segera beranjak keluar dari ruang audisi tersebut.
“
Melihat aktingnya tadi, sepertinya aku setuju kalau dia seorang aktris,” ujar
Tifa sambil memainkan sandaran kursinya.
“
Yang kutahu dia artis. Entalah apa dia berbakat jadi aktris,” jawab Gloria. “Peserta
selanjutnya!”
ooOoo
“
Kamu terlihat seperti korban permerkosaan.”
Fi
tertawa, “ Terima kasih atas pujianmu.” Lalu ia menatap sekelilingnya.
“Lihatlah, sekarang siapa yang terlihat menciut? Huh, mereka selalu memandang
rendah orang-orang berbakat.”
Priyanka
ikut-ikutan memandang sekelilingnya. Ia pun tersenyum, “ Kamu benar, mereka
hanya terlalu iri.”
Fi
pun tertawa sinis, lalu ia menatap Priyanka, “ Sepertinya baju itu ribet
sekali. Apa kamu mau kutemani menggantinya?”
“
Oh, kamu sungguh baik hati,” ujar Priyanka seraya beranjak dari tempat
duduknya. "Kamu benar lagi. Bulu-bulu ini membuat gatal.”
ooOoo
“
Tinggal berapa peserta lagi?” tanya Tifa sambil menguap lebar.
Riani
mengecek daftar peserta yang akan tampil. Ia pun tersenyum kecil, “ Tinggal
tiga peserta lagi, Tif.”
“
Oh, nice!” ujar Tifa sambil
menyeruput kopinya. Mereka sedikit bersantai saat coffee break sore. Waktu sudah menunjukkan pukul lima, wajar jika
mereka mulai merasa pegal.
“
Kita bisa memanggil peserta selanjutnya?” ujar Gloria.
“
Tentu, lebih cepat lebih baik”, sahut Tifa. “ Tapi tidak kusangka peserta dari
sekolah kita tidak terlalu banyak. Yaah, meski aku cukup terkejut dengan
bakat-bakat emas yang bermunculan.”
“
Mungkin akan banyak kejutan bila kita di sekolah Gloria. Bakat-bakat yang
muncul mungkin lebih keren dan tidak homogen seperti di sini,” celetuk Riani.
“
Ya, dan aku sudah tidak sabar,” Tifa mengatakan hal itu sambil merenggangkan
tubuhnya. Kemudian ia memberi kode pada salah satu staf agar segera memanggil
peserta selanjutnya.
ooOoo
Ririn
merasan gugup. Baru saja salah satu staf memanggil nomornya untuk maju. Entah
kenapa ia mendapatkan nomor paling buncit. Setelah dua orang yang tersisa
selain dirinya, kini ia pun mendapat giliran. Entah kenapa ia selalu merasa
nomor terakhir adalah nomor yang kurang beruntung, karena biasanya para juri
sudah kelelahan atau kuota sudah penuh. Jadi, penampilannya akan menjadi
sia-sia.
Setidaknya
Andani menemaninya sampai akhir.
Ririn
masuk ke ruang audisi. Dugaannya benar, juri-juri sudah lelah. Mereka tidak
sesemangat saat Ririn melihat mereka menilai Andani dan yang lainnya. Sebisa
mungkin ia tidak menunjukkan ekspresi kekecewaannya.
“
Okay, the lucky last. Jadi, bakat apa yang akan kamu tunjukkan?,” sapa Tifa begitu ia menatap wajah
Ririn.
“
Saya akan bernyanyi dengan gitar akustik ini,”
jawab Ririn dengan senyuman manis.
Tifa
mengangguk seadanya, “ Okay, please.”
Ririn
duduk di kursi yang sudah dipersiapkan oleh staf, kemudian membetulkan letak
mikrofon agar sejajar dengan bibirnya. Ia menatap wajah para juri satu persatu.
Dimulai dari petikan halus pada gitarnya, lalu bait demi bait ia nyanyikan lagu
yang sudah ia persiapkan jauh-jauh hari. Ia bawakan lagu itu dengan sepenuh
hati, hingga pada bagian reff yang
begitu menyentuh hati.
Bila
kita harus berpisah, aku akan tetap setia
Bila
ini memang ujungnya, kau’kan tetap ada di dalam jiwa
Tak
bisa kuteruskan, dunia kita berbeda
Bila ini memang ujungnya,
kau’kan tetap ada di dalam jiwa
Reff terakhir
selesai. Meski dengan lirik yang menyentuh, tapi lagu tersebut tidak memiliki
hal yang menantang seperti lagu yang Andani bawakan atau lagu-lagu dari peserta
yang lain. Namun, entah mengapa penampilannya cukup menyedot perhatian para
juri.
“
Hmm, manis,” komentar Tifa sambil mengetuk-ngetukkan pena di meja. “ Pacar kamu
baru saja meninggal ya?”
Ririn
tersentak kaget, “ Eh, maaf?”
“
Iya, lirik yang kamu buat itu dalam sekali. Terisnpirasi dari siapa kamu buat
lagu itu?”
Gloria
langung menyikut lengan temannya ini, “ Tif, itu lagu ada penyanyinya. Namanya
Isyana Sarasvati.”
Bibir
Tifa langsung membulat ketika Gloria memberi tahu tentang lagu tersebut. Riani
pun menertawainya.
“
Namanya juga orang baru balik ke Indonesia.”
Tifa
ikut tertawa, “ Habisnya ia membawakannya dengan penuh perasaan sih.
Ekspresinya itu loh mendalam banget. Makanya aku kira dia ngarang lagu itu
karena terinspirasi dari kisah nyata hidupnya.”
Ririn
hanya bisa nyengir kuda saat ketiga juri itu sama-sama tertawa.
“
But,
well, itu komentar positif kok,” ujar Tifa setelah
tawanya reda. “ Baiklah, terima kasih sudah menjadi penutup yang manis. Good luck, young lady. Dan nanti
silahkan tunggu pengumuman dari kami.”
Ririn
mengangguk sambil tersenyum, “ Terima kasih, permisi.”
ooOoo
“
Bukan komentar yang buruk’kan?”
Ririn
terkekeh saat Andani menyapanya ketika ia selesai audisi. Sejujurnya ia masih
deg-degan meski ia sudah selesai bernyanyi.
“
Yaah, aku rasa gitu, tapi masih deg-degan aja,” jawab Ririn sambil memasukkan
gitar ke dalam tas.
“
Kita rayakan? Kita makan es krim yuk,” ujar Andani.
fast post
-please comment and share-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar