Total Tayangan Halaman

Jumat, 02 September 2016

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 74)




Musikal 74

Suasana Love Musical mulai kembali normal. Anjani melakukan tugasnya dengan baik. Latihan pun berjalan dengan lancar. Kesalahan di sana-sini tidak menjadi permasalahan yang besar.
Tifa terlambat datang pada latihan sore hari ini. Ia baru datang setelah latihan berjalan setengah jam. Ia memang sudah mengatakan pada semua orang bahwa ia akan terlambat datang. Begitu ia datang, suasana terasa aneh. Dari kejauhan ia mendengar musik hip-hop berdentum-dentum. Tampaknya suara itu berasal dari gedung teater. Ia merasa heran, siapa yang menyetel lagu sekencang ini.
Pemandangan yang tak biasa ia dapatkan begitu ia masuk ke dalam gedung. Semua anggota LM sedang menari mengikuti alunan musik. Riani dan Gloria pun mengikuti gerakan tarian itu dengan lincah. Namun, yang membuat pemandangan itu kian tak biasa adalah bertambahnya satu instruktur di sana. Seorang pria tampan bermata biru. Gerakan pria itu bahkan lebih lincah ketimbang yang lainnya.
“ Oh, hai, Tif!” Gloria adalah orang pertama yang menyadari keberadaan Tifa. Ia pun segera menghampiri sahabatnya. “ Pemanasan dengan menari. Kita dulu sering melakukannya, bukan? Cuma lagunya saja yang kami ganti, gerakannya masih sama. Dave yang memimpin kami semua.”
Tifa mengangguk, “ Sudah lama?”
“ Ah, sebentar lagi selesai kok atau mau kumatikan musiknya sekarang.”
“ Tidak usah. Mereka sedang menikmati waktunya mereka. Sesekali melakukan refreshing bukan masalah.”
Gloria tersenyum, “ Senang kamu bisa mengerti, Tif.”
Mereka baru berhenti ketika musik benar-benar selesai. Dave tersenyum saat melihat Tifa sedang memperhatikan mereka. Ketika para anggota hendak duduk membuat lingkaran seperti biasa, tiba-tiba Tifa menghentikan mereka semua.
“ Semuanya tetap di tempat saja. Saya ada pengumuman kecil,” Tifa melirik Dave dan Adrian yang berdiri bersebelahan. “ Sampai dua minggu ke depan saya tidak bisa melatih kalian. Saya harus ke Jakarta untuk beberapa pekerjaan dan ini berhubungan dengan kelangsungan pementasan kita. Khusus untuk tim akting kalian akan dipandu oleh Adrian dan Pak Dave.”
Semua orang kaget mendengarnya. Adrian kini jadi sorotan. Namun, ia sendiri tidak tahu apa alasan tantenya untuk absen.
“ Kapan kamu pergi, Tif?” tanya Riani.
“ Sebenarnya pesawatku akan berangkat dua jam dari sekarang,” Tifa tersenyum seraya menunjukkan arlojinya. “ Nah, aku titip mereka pada kalian. Aku pergi dulu. Sampai ketemu dua minggu lagi.”
Sudah menjadi kebiasaan Tifa untuk datang dan pergi sesuka hati. Mereka hanya menebak-nebak apakah Tifa akan pulang membawa anggota baru seperti yang ia lakukan kemarin. Beberapa anggota perempuan berharap kalau-kalau saja Tifa membawa anggota laki-laki lagi. Kalau boleh lebih tampan dari Hiro dan Jiro.
Namun, tidak bagi Dave. Ia mengejar Tifa yang sudah mencapai mobilnya. Wanita itu kaget saat ada yang menutup pintu mobil yang baru saja ia buka.
“ Hei, Tif. Apa kamu pergi karena aku ada di sini?”
Tifa mendesah panjang, “ Tidak ada hubungannya antara kepergianku dengan kehadiranmu di sini. Aku bahkan tidak tahu kalau kamu akan datang hari ini.”
“ Kamu tidak suka aku ada di sini?”
“ Sudah kubilang, Dave. Aku tidak pernah keberatan kamu ada di sini. Aku justru bersyukur kamu datang di saat aku akan pergi. Adrian tidak akan mengalami kesulitan yang panjang dengan kamu ada di sini. Aku harap kamu melatih tim akting dengan serius. Ah ya, khususnya keponakanmu itu. Aktingnya masih payah sekali.”
“ Tapi, Tif―”
“ Sudah ya, nanti aku ketinggalan pesawat. Sampai jumpa!”
Tifa langsung menekan pedal gas saat ia berhasil duduk di kursi kemudi. Tak memedulikan Dave yang mencoba menahan kepergiannya. Tifa melaju cepat, meninggalkan kepulan asap yang membumbung di udara.
“ Nanti dia juga akan kembali,” ujar Adrian yang menyusul keluar. “ Kami sudah terbiasa dengan sikap spontanitasnya. Bagaimana kalau kita latihan saja?”
Dave masih kesal karena ia tak mendapatkan penjelasan yang ia inginkan. Meski begitu saat ini ia tak punya pilihan lain.
ooOoo
Jakarta, 07.30 A.M.
Tifa menatap kosong pemandangan di balik jendela. Seorang pria berambut kelabu dengan kumis tipis yang melingkari mulutnya terus-terusan mengoceh. Namun, Tifa tak merespon satu kata pun. Badannya tetap berbalik memunggungi laki-laki itu.
“ Kamu harus berhenti, Latifa! Sekarang atau kamu akan menyesal!”
Masih dengan posisi yang sama Tifa menjawab, “ Saya tidak punya waktu lagi. Saya harus menyelesaikannya sekarang atau saya yang akan menyesal.”
“ Tapi yang kamu lakukan saat ini justru hanya membuang-buang waktu, Latifa. Tolonglah, pikirkan lagi tentang proyek yang sedang kamu lakukan ini. Semua yang kukatakan ini demi dirimu.”
Akhirnya, Tifa membalikkan badannya. Ia menatap pria itu seraya mendesah panjang.
“ Saya harus menyelesaikan apa yang sudah saya tinggalkan dulu. Jauh-jauh saya kembali dari Amerika hanya untuk pementasan ini. Saya mohon, izinkan saya. Saya sudah bersumpah pada janji saya.”
“ Kamu egois,” tukasnya dengan nada tajam.
Tifa memalingkan wajahnya. Tatapannya beralih pada kalender yang tersusun rapi di atas meja.
“ Dua minggu,” Tifa kembali menatap laki-laki itu. “ Dua minggu ini akan saya gunakan untuk dua bulan ke depan. Bisa’kan?”
Giliran laki-laki itu yang membalikkan badannya. Ia bersiap meninggalkan Tifa sendirian.
“ Terserah apa maumu. Saya sudah peringatkan.”
Laki-laki itu berlalu. Sekali lagi Tifa mendesah panjang. Ia kembali berbalik menghadap jendela. Tifa menempelkan keningnya di kaca jendela seraya berbisik.
“ Apakah aku bisa? Apakah aku bisa menepati janjiku padamu?” suara Tifa terdengar putus asa. “ Kak, aku takut.”

please comment and share

2 komentar:

  1. iya dong tifa kalau pulang jangan lupa oleh-oleh pria tampan nya wkwkwkw


    yey mulai menyentuh konflik tifa, dar awal udah penasaran... akhirnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. gara-gara musikal ini, ada orang yang bisa nebak 80 persen cerita Auhtor, siaaal....
      tapi endingnya gak kayak perkiraan dia, hehehe

      Hapus