Musikal 75
Wenda memainkan klakson saat ia melihat Alexi sedang
mengunci sepeda. Laki-laki itu tersenyum saat Wenda menaikkan kaca helm. Gadis
itu memarkir matic-nya di sebelah
sepeda Alexi.
“ Kunci sepedamu
sudah ketemu?” sapa Wenda setelah ia melepskan helmnya.
“ Aku menemukannya di
kantung celana seragam ketika aku menyucinya,” Alexi terkekeh mengingat
bagaimana cara ia menemukan kunci itu. “ Ngomong-ngomong kamu sudah mengisi
bensin?”
Giliran Wenda yang
tertawa, “ Bisa aja. Waktu itu aku memang sudah mau mengisinya, tapi karena
buru-buru ke rumah sakit jadinya aku lupa. Kalau sekarang sudah full tank kok. Kamu bisa cek kok.”
“ Aku percaya kok,”
Alexi mengangguk seraya memamerkan senyum manisnya.
Pagi ini terasa
begitu indah bagi Wenda. Ia bertegur sapa dengan Alexi dan sekarang mereka
berdampingan menuju kelas. Masih pagi dan Wenda bisa menghirup jelas aroma
tubuh Alexi yang pernah membuatnya melamunkan hal-hal bahagia. Kali ini ia
yakin kalau laki-laki itu menggunakan parfum beraroma mint.
“ Oh ya, Al―”
“ Ririn!”
Mata Wenda langsung
tertuju pada gadis ikal yang ada berjarak beberapa meter di depan mereka.
Seperti medan magnet, langkah Alexi segera menyusul gadis itu. Ia bahkan
mengabaikan Wenda yang tadi di sisinya. Dalam sekejap kaki Wenda seperti
terpaku di tempat. Ia seperti tak berniat untuk melanjutkan perjalanannya dan
hanya memandangi Alexi dan Ririn saling bertegur sapa.
Wenda memadang gadis
itu dengan wajah cemberut. Gadis itu memang tak pernah membuatnya kesal. Gadis
itu juga bukan gadis menyebalkan yang suka menebar pesona atau kegenitan dengan
semua lelaki. Namun, ketika gadis itu berada di sisi Alexi, entah kenapa ada
perasaan cemburu membara dalam hatinya.
Kenapa harus gadis
itu? Dia terlalu bersih untuk dicemburui. Sayang, fakta bahwa Alexi lebih dekat
dengan gadis itu membuatnya tak kuasa menahan rasa iri. Apakah tidak ada cara
untuk menyingkirkan gadis itu? Dengan cara yang halus tentunya.
“ Bisa tidak
menghalangi jalanku?”
Suara sinis itu
berhasil membuat Wenda menoleh. Seharusnya Wenda tak usah memastika siapa
pemilik suara itu. Nada yang begitu angkuh itu pasti milik Fi.
“ Kupikir jalan ini
cukup lebar untukmu mencari jalan lain.”
Fi menarik salah satu
sudut bibirnya, “ Ya, tapi aku tidak akan mencari jalan lain untuk seseorang
yang sedang berdiri tidak berguna sambil memandangi kemesraan orang lain.”
Alis Wenda saling
bertaut. Sebelum Wenda bertanya kembali, Fi sudah lebih dulu menyambar.
“ Aku hanya
menggunakan intuisiku saja. Gadis itu, bukan?”
Fi menggendikkan
dagunya pada Ririn yang sekarang tertawa bersama Alexi. Wenda mengikuti arah
dagu Fi kemudian menatap kembali gadis angkuh ini.
“ Kamu mencoba
memprovakasiku? Setahuku kamu memang gak suka dia.”
“ Aku memang gak suka
dia,” Fi mengehela rambut panjangnya. “ Dia hampir merebut semua yang aku
inginkan. Pemeran utama, Adrian, tapi ternyata aku memang lebih pantas
mendapatkan daripada dia.”
‘ Jadi, orang ini sudah jadian sama Adrian. Eh,
tunggu. Ririn sukanya sama Adrian?’
“ Lalu kamu mengajak
aku berkomplot untuk menghancurkan dia dari belakang?”
“ Wah, aku gak
serendah itu. Kalau aku menginginkan sesuatu, maka aku akan berjuang keras
untuk mendapatkannya, bukan dengan cara menusuk pesaingku. Dengan cara begitu
aku akan bangga menjadi pemenang” sudut bibir Fi kembali tertarik. “ Sedikit
saran untukmu, segera kejar laki-laki itu sebelum dia diambil orang lain.”
Fi berlalu tanpa
mengindahkan Wenda yang masih bergeming di tempatnya. Alexi dan Ririn sudah
menghilang dari hadapannya, yang ada hanya sosok Fi yang berjalan dengan
anggun. Gadis itu memang menyebalkan, tetapi apa yang dikatakan gadis itu
benar. Gadis itu juga sudah memraktekkannya. Mungkin ia harus mempertimbangkan
kata-kata itu.
ooOoo
Sebelum bel pulang berbunyi, mereka dihadiahi lusinan
soal matematika untuk dikerjaan di rumah. Wenda sempat curi-curi pandang pada
sosok gadis berambut ikal yang sedang merapikan alat tulisnya. Tepat saat bel
berbunyi, ia langsung menghampiri meja gadis itu.
“ Rin, kamu bisa
bantu aku?”
“ Ya?” tanyanya
dengan mata yang membulat.
Wenda menggaruk-garuk
kepala belakangnya, “ Yah, aku sepertinya kesulitan mengerjakan soal-soal ini.
Kita kerjain bereng yuk?”
“ Boleh aja sih,”
jawabnya tanpa ada rasa curiga sedikit pun. “ Kamu gak mau ajak teman-teman
kamu yang lain?”
Tatapan Wenda beralih
pada ketiga sahabatnya yang sedang mengobrol seru, “Mereka gak bisa diharapkan.
Ah, maksudku, kalau Anjani dia pasti langsung ke rumah sakit’kan. Kalau Ben dan
Kemal, mereka pasti akan menunda mengerjakan sampai PR-nya akan dikumpul.”
“ Ohh, begitu,” Ririn
mengangguk-anggukan kepalanya. “ Baiklah, mau di rumahku apa di rumahmu?”
“ Aku tahu tempat
makan mie ayam yang enak. Gimana kalau kita ke sana aja? Nanti aku traktir
deh.”
Ririn mengangguk
setuju. Mereka pun segera meninggalkan kelas. Sepintas Wenda dan Fi saling
bertukar pandang. Wenda yakin saat itu Fi tersenyum licik. Gadis itu seperti
menyetujui apa yang sedang dilakukan Wenda saat ini.
Hanya 25 menit
menggunakan motor Wenda, mereka berdua pun sampai. Selagi menunggu pesanan
mereka dibuat, Wenda pura-pura memperhatikan Ririn yang tengah menjelaskan cara
pengerjaan soal-soal tersebut. Saat pesanan mereka tiba, Wenda pun menggunakan
kesempatan itu untuk melancarkan aksinya.
“ Kita ngobrol
sesuatu di luar PR yuk. Kepalaku udah muter-muter lihat soal.”
“ Kamu mau ngobrol
apa?” tanya Ririn seraya menyuapkan gulungan mie dari garpu.
“ Hmm, apa ya?
Mungkin tentang cowok-cowok di Love
Musical. Ah, sepertinya itu tema obrolan yang baik.”
Ririn memasang
tampang meringis, “ Aku masih gak ngerti.”
“ Maksudku yaah,
cowok-cowok di Love Musical itu
lumayan ganteng-ganteng. Apa kamu gak naksir salah satu di antaranya? Kemal
mungkin? Dia’kan naksir berat sama kamu waktu itu.”
“ Yah, waktu itu,”
Ririn hampir tersedak saat menjawab. Ia jadi teringat saat ia menolak Kemal
beberapa bulan yang lalu. “ Tapi sekarang kayaknya dia udah ketemu cewek yang
lain.”
Wenda terkekeh, “
Kemal memang selalu punya cewek di setiap kesempatan.”
“ Mungkin itu yang
membuatku masih geli dengan dia saat ini,” Ririn ikut tertawa.
“ Kalau Adrian?”
Kali ini Ririn
benar-benar tersedak. Ia bahkan harus menghabiskan setengah dari teh manisnya.
Ia berdeham beberapa kali untuk meredakan sakit di tenggorokannya.
“ Su—suka, eh,
maksudku yaaah, siapa sih yang suka dia? Dia baik, tampan, dan dewasa. Kupikir
para gadis akan berpikiran yang sama denganku.”
“ Aku nggak,” Wenda
tersenyum sinis. “ Aku malah suka Alexi.”
Alis Ririn terangkat,
“ Alexi?”
“ Upss, tunggu! Kamu
gak suka Alexi juga’kan?”
“ Alexi?” tanyanya
lagi. “ Ah, tidak. Hmm, aku dan dia memang akrab, tapi kalau diumpamakan mungkin
seperti keakrabanmu dengan Kemal atau Ben.”
Gotcha!
Wenda bersorak dalam hati.
“ Masa sih? Kupikir
di antara kalian ada sesuatu. Soalnya Alexi perhatian banget sama kamu.”
Ririn menggeleng
seraya menyeruput teh manisnya.
“ Kalau gitu kamu
bisa bantu aku dong?”
“ Bantu apa lagi?”
Wenda mendekatkan
wajahnya, “ Bantuin aku supaya lebih dekat dengan Alexi.”
Ririn tersentak, “
Kamu serius soal Alexi?”
“ Tentu. Yah,
walaupun Alexi itu terlihat culun dan aneh, tapi kalau dibiarkan terus
lama-lama ada cewek lain yang menyambarnya. Lagi pula kamu’kan teman dekatnya
Alexi, kupikir kamu bisa mak comblangin aku dengan dia.”
“ Tapi aku gak
berbakat jadi mak comblang.”
“ Gak perlu jadi mak
comblang yang gimana-gimana kok. Kamu cukup kasih tahu aku hal-hal yang
berhubungan dengan Alexi. Dengan begitu aku bisa menjadi cewek yang dia
inginkan.”
Ririn menyandarkan
punggungnya ke sandaran kursi. Ia melipat tangannya di depan dengan sambil
membayangkan sesuatu.
“ Sebenarnya aku juga
gak tahu apa-apa. Alexi itu cukup misterius untuk masalah pribadinya. Bahkan
wajahnya tanpa masker dan kacamata tebal itu aku gak pernah lihat.”
‘ Wah, ternyata aku lebih beruntung darimu,
Rin’
“ Ohh, gitu ya.
Gimana kalau Alexi bilang sesuatu yang bersifat pribadi sama kamu, kamu kasih
tahu aku?”
Ririn mengangguk
ragu, “ Oke-oke aja, tapi aku gak janji dalam waktu dekat ini ya.”
“ Gak masalah,” Wenda
tersenyum puas. Kelinci kecil itu sudah masuk dalam perangkapnya. “ Aku akan
selalu menunggu.”
please comment and share
yup saingan paling berat itu saingan yang terlalu "bersih"
BalasHapuskonflik nya dapet , jiah si "fi" kompor yak wkwkw
tapi gak nyangka dia main "bersih" dan ngeluarin kata-kata itu
"gak mau main kotor"
kalo di buat buku best seller nih wkwkww
Fi itu "clean bandit" gitu loh, hehehe
Hapus