Total Tayangan Halaman

Sabtu, 07 Januari 2017

LOVE MUSICAL Extraodinary (Musikal 117)




Musikal 117

Seberkas cahaya menembus pelupuk matanya yang tertutup. Begitu ia mencoba membuka mata yang terlihat hanya warna putih. Kemudian hidungnya menangkap aroma klorin yang kuat. Saraf-saraf reseptornya mulai berkerja. Ia mencoba mengangkat tangannya. Terasa berat, terutama tangan kirinya. Saat tangannya terangkat perlahan, ternyata tangan itu sudah dihiasi dengan berbagai macam selang.
Sekarang ia sadar dimana dia berada. Ia ada di rumah sakit.
Tifa mendesah panjang. Ia menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Kemudain matanya menangkap sosok Adrian dan Dave yang terkulai lemas di sebuah sofa. Tidur mereka sangat lelap seperti baru saja bergadang semalaman.
Memorinya dipaksa bekerja cepat untuk mengingat kejadian terakhir yang ia alami. Dimulai dari bangun pagi bersama Dave, pertemuan di kafe yang berujung pada semua kejadian naas ini. kepalanya berdenyut saat ia kegelapan adalah hal terakhir yang ia ingat.
Tifa baru sadar kalau ia pingsan semalaman.
Dan kedua orang ini pasti menjagainya semalam. Entah pukul berapa mereka baru bisa memejamkan mata. Namun, jika dilihat dari tidurnya mungkin baru beberapa jam yang lalu.
Pintu bangsalnya terbuka. Seorang petugas kebersihan membangunkan kedua laki-laki yang sedang pulas tertidur. Awalnya mereka tak terlalu menanggapi kehadiran petugas itu, tetapi ketika melihat mata Tifa terbuka, Dave segera menghampiri yang kemudian disusul Adrian.
“ Kamu sudah sadar? Oh, syukurlah,” terdengar nada kelegaan dari Dave. Tangannya mengusap lembut kening Tifa.
Adrian menekan tombol pemanggil perawat, kemudian tersenyum pada Tifa, “Aku sudah panggil perawat. Apa ada yang dibutuhkan Tante?”
“ Aku haus,” ujar Tifa serak.
Dave beringsut mengisi sebuah gelas lalu membantu Tifa menegakkan kepalanya. Adrian tak kuasa menahan senyumnya saat melihat adegan romantis itu.
“ Selamat atas pernikahanmu.”
Seketika Tifa menyemburkan air yang baru saja melewati tenggorokannya. Adrian terkekeh saat Tifa memandangnya dengan tatapan penuh tanya. Sementara Dave hanya bisa tersenyum geli sembari membersihkan sisa air yang menyembur di pipi Tifa.
“ Apa semalam kalian melakukan pernikahan siri? Astaga, apa yang sudah terjadi?”
“ Om Dave adalah suami Tante menurut dokumen rumah sakit,” jawab Adrian sambil duduk di sebelah Tifa. “ Aku yang menyuruhnya. Habisnya semalam tak ada pilihan selain menyamarkan status kalian.”
Tifa mendengus kesal, tapi detik selanjutnya tatapannya kembali sayu, “ Kamu baik-baik saja, Adrian?”
Ada keheningan panjang sebelum Adrian menjawab.
“ Aku tidak akan bilang iya, tapi yang lebih penting adalah kesehatan Tante dulu. Aku sudah kehilangan orang-orang yang kucintai dan aku juga tak mau kehilangan Tante.”
Giliran Tifa yang mendesah lega. Ia tersenyum lebar seraya mengulurkan tangannya, “ Kemarilah!”
Adrian pun menenggelamkan dirinya dalam pelukan Tifa. Terasa hangat. Ternyata benar, bukan mamanya atau Fi, melainkan wanita ini. Wanita inilah yang sepanjang waktu di sisinya. Selama wanita ini bernapas seharusnya Adrian tak perlu memikirkan apa pun.
“ Aku mencintaimu, Tante.”
“ Aku lebih mencintaimu,” balas Tifa.
Tangan Dave ikut merangkul keduanya, “ Aku juga mencintai kalian, tapi aku lebih mencintaimu, Tif.”
Sontak tangan Tifa menoyor kepala Dave. Laki-laki itu melepaskan pelukannya, begitu pula Adrian.
“ Jangan coba-coba! Dasar suami dokumen!”
Mereka pun tertawa. Tak berapa lama kemudian datanglah beberapa orang perawat beserta seorang dokter. Adrian dan Dave pun memberi ruang pada petugas rumah sakit untuk memeriksa keadaan Tifa. Selagi menunggu, Dave menyuruh Adrian untuk membersihkan diri. Mereka berdua memang terlihat sangat kusut.
Dokter itu mengatakan kalau keadaan Tifa masih belum dipastikan karena hasil lab baru akan datang pukul sepuluh. Tifa pun diberikan injeksi penahan mual dan ia disuruh segera sarapan.
“ Kalian juga sarapanlah,” uajr Tifa ketika dokter berserta perawat itu pergi. “Atau kalian juga berakhir seperti aku.”
“ Adrian duluan saja,” Dave mengambil sarapan Tifa dan duduk di sampingnya. “Karena aku harus mengurus istriku dulu.”
Adrian tertawa saat tantenya memberikan pukulan telak di lengan Dave.
“ Heeei, mana ada pasien pukulannya sekeras ini!” gerutu Dave seraya mengusap-usap lengannya yang memerah. “ Kamu sudah sehat kalau sudah bisa memukul seperti ini.”
“ Yang bilang aku sakit siapa?” balas Tifa. “ Itu hanya gumaman dokter supaya aku mau membayar lebih.”
Akhirnya mereka pun perang mulut. Adrian hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya menyaksikan mereka. Namun, ia senang kalau Tantenya sudah kembali pulih. Tanpa pamit lagi, Adrian pun melangkah keluar dan membiarkan keduanya berdamai dengan sendirinya.
“ Ah, ya sudahlah! Berhenti mengoceh dan telan saja bubur ini!” Dave menyudahi perang mulutnya dan menyodorkan sesendok bubur. Tifa tak melawan. Ia menelan bubur itu, tapi matanya berkeliaran kemana-mana.
“ Dimana Adrian?”
“ Mungkin dia pergi selagi kita adu mulut tadi,” Dave kembali menyendokkan bubur ke mulut Tifa.
“ Kalian sudah menghubungi Ibuku?”
“ Nanti saja. Aku dan Adrian berencana memberi tahu kalau hasil lab sudah keluar. Kami takut kalau Ibumu malah cemas dan keadaan jadi tambah buruk.”
“ Keputusan yang bagus,” ujar Tifa sambil mengunyah. “ Soal Kak Ican, Fi, dan Adrian juga tolong jangan kasih tahu dulu. Biar nanti aku yang mengurus.”
Dave mengangguk. Ia pun meneruskan menyuapi Tifa sampai pada sendokkan terakhir. Ajaib, meski penyakit Tifa berhubungan langsung pada organ pencernaan, tapi nafsu makannya bisa dibilang melebihi normal.
Ketika Tifa menyerahkan gelas kosong pada Dave, tiba-tiba saja gelas itu seolah terpaku di tangannya. Bukan kemauannya, tapi Dave sengaja menahan gelas itu di tangannya. Mata Tifa teralih pada gelas yang tertahan itu. Ia mengerti kalau Dave melakukan itu semata-mata hanya ingin menggenggam tangannya.
Sekali lagi, gerakan Dave bagaikan kilat. Tifa tak mampu mengelak ketika bibir Dave tinggal beberapa senti lagi dari bibirnya. Namun, kali ini bukan Tifa yang menghindar, melainkan Dave sendiri yang mengelakkan bibirnya. Laki-laki itu memilih mendaratkan ciumannya di pipi kiri Tifa. Tepat di dekat sudut bibirnya.
“ Jangan membuatku cemas lagi seperti semalam!” bisiknya. “ Aku tak bisa membayangkan kalau aku harus kehilangan kamu lagi.”
Wajah Dave sedikit menjauh, tapi tatapannya masih mengikuti kemana pupil Tifa bergerak. Wanita itu hanya bisa mendesah panjang dengan mata terpejam.
“ Maaf….”
Perlahan Tifa membuka matanya. Sepasang iris biru masih mengawasinya. Wajah laki-laki itu masih terlihat tegang. Namun, Tifa tersenyum seraya mengusap lembut pipi Dave dengan sisa tangan yang dipenuhi selang.
“ Aku tidak akan melakukannya lagi. Aku janji.”
Dave menarik napas panjang. Ia menyingkirkan perlahan tangan itu lalu mengambil gelas dari tangan Tifa yang satunya. Sejujurnya ia masih ingin disentuh oleh tangan itu, tapi jika itu dibiarkan maka ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Itu karena ia tahu kalau jenderal-jenderal iblis sedang menggerakan tentara jiwa kelaki-lakiannya dan ia tak mau kalau sampai hal ‘itu’ terjadi.
Terdengar bunyi pintu bangsal terbuka. Mereka pikir itu adalah Adrian atau perawat, tapi ternyata yang datang adalah ketiga sahabat lamanya. Siapa lagi kalau bukan Gloria, Hana, dan Riani.
“ Wah, wah, macan kumbang bisa tumbang, huh?” sapa Hana dengan sinis.
Mata Tifa masih terlihat sayu, tapi ia masih bisa merentangkan kedua tangannya, “Little hug would be nice.
Alih-alih memeluknya, Gloria justru menempelkan kopi kalengan yang sengaja ia bawa. Tifa menjerit kaget saat pipinya bersentuhan dengan dengan kaleng dingin itu.
“ Itu baru kejutan,” Gloria tertawa keras seraya menaruh kopi itu di meja. “ Jadi, bagaimana ceritanya kamu bisa terdampar di sini?”
“ Oh, sederhana saja,” Tifa meraih kopi kaleng dan membukanya. “ Aku sakit dan harus dirawat. Cuma sebentar, tidak akan lama.”
Dave dengan cepat menampar tangan Tifa seraya merebut kopi kaleng itu, “Hei, kamu mau dirawat lebih lama lagi?”
Tifa merengut.
“ Memangnya Tifa sakit apa, Dave?” tanya Riani.
“ Tukak lambung,” ujar Dave seraya mengembalikan kopi itu pada Gloria. “ Tapi baru diagnosis sementara. Hasil lab-nya belum keluar, mungkin sebentar lagi.”
“ Tukak lambung dan masih mau minum kopi?” sindir Hana. “ Hei, Glo. Seharusnya kamu bawain nih anak obat nyamuk, biar langsung mampus.”
Mereka tertawa bersama. Namun, tawa itu berhenti saat seorang perawat masuk ruangan.
“ Hasil lab-nya sudah keluar. Dokter mau bertemu dengan keluarga pasien,” perawat itu menatap Dave. “ Suaminya bisa ikut saya.”
“ Suami?” seru Gloria, Hana, dan Riani bersamaan.
Perawat itu terlihat bingung. Dave dan Tifa menahan tawa.
“ Kapan kamu nikah siri sama Dave?” Gloria terlihat tak percaya.
“ Ceritanya panjang, tapi yang jelas kami belum nikah siri,” Tifa tertawa seraya melambaikan tangan. “ Sudah, pergi sana. Dasar suami dokumen.”
Dave tersenyum geli, “ Hei, ada yang mau ikut?”
“ Ikut ah, aku jadi penasaran deh,” sahut Gloria. “ Han, Ri, mau ikut gak?”
Riani mengangguk, tapi Hana menolak.
“ Aku di sini saja. Mana tahu orang ini maling-maling minum kopi.”
Pintu pun ditutup. Hana menyeret kursi dan duduk di dekat ranjang Tifa.
“ Apa ada sesuatu yang telah telah terjadi di sini? Aku tahu, kamu bukan orang yang langsung tumbang gara-gara sebuah penyakit sepele.”
“ Kamu memang gak bisa ditipu ya,” Tifa tersenyum kecil. “ Memang ada yang sudah terjadi dan hanya gara-gara satu kejadian semuanya wuuush… blow up and crush everything.”
Kening Hana berkerut, “ Dan kamu belum mau cerita apa yang terjadi sebenarnya?”
Tifa tak menjawab. Pandangannya teralih pada jendela. Hana mendesah panjang. Diamnya Tifa memberi banyak makna. Entah itu akan berakhir baik atau buruk.
“ Akan ada badai yang datang. Badai yang sangat besar.”
“ Di luar matahari sangat cerah, Tif,” kening Hana kembali berkerut. “ Jangan meramal soal badai kalau cuaca cerah.”
“ Tidak, aku serius. Akan ada badai. Mungkin tak lama lagi.”
Hana kesal karena tak satu pun pertanyaannya yang dijawab Tifa dengan tepat. Percuma mendesaknya, Tifa lebih memilih menatap jendela yang disinari mentari yang sangat cerah. Tak berapa lama jawaban itu datang dengan sendirinya.
Pintu bangsal terbuka kasar. Terdengar derap langkah yang terburu-buru. Sosok Gloria lebih dulu muncul. Anehnya, baru kali ini wajah wanita itu terlihat merah padam seperti orang yang sedang menahan amarah.
Tanpa ba-bi-bu, Gloria menyiramkan kopi kaleng yang tadi ia bawa tepat ke wajah Tifa. Riani yang ada di belakangnya memekik. Hana ikut terkejut, tapi suaranya tertahan. Gloria maju dengan berang, tapi Dave segera menahannya. Di sisi lain, Tifa terlihat tenang. Ia hanya melempar tatapan dingin pada wanita yang sedang meneriakinya.
“ Brengsek kamu, Tif!!”
ooOoo
“ Sejak kapan kamu jadi suami Tifa?”
Rasanya Dave ingin mengibuli Gloria yang dari tadi keukeuh membutuhkan jawaban, tapi ia khawatir itu akan percaya dengan segala anekdotnya. Lagi pula mereka sekarang sudah sampai di ruangan dokter.
“ Akan kujelaskan nanti setelah mendengar penjelasan dari dokter.”
Dokter muda itu menyilakan ketiganya untuk duduk. Sambil membuka lembaran kertas yang diperkirakan adalah hasil lab Tifa, ia pun menjelaskan diagnosisnya.
“ Ada yang mau saya tanyakan sebelumnya, apakah pasien pernah menjalani pengobatan sebelum ini?”
Gloria dan Riani otomatis diam seribu bahasa. Sementara Dave terlihat kebingungan.
“ Ka—kami kurang tahu, Dok.”
Kening dokter itu berkerut, “ Lho, bukannya Anda ini adalah suaminya?”
Dave meringis, “ A—ada sebuah kesalahan di situ,” Dave berdeham saat tatapan tajam mengarah dari Gloria dan Riani. “ Bisa dilanjutkan, Dok? Sebenarnya Tifa sakit apa?”
“ Ah, yah,” dokter itu menutup lipatan kertas yang ia pegang. Ia menarik napas panjang dan tatapannya terlihat serius. “ Saya harap kalian bersiap mendengar kabar ini.”
Seketika ketiga orang ini menegang. Tampaknya sakit yang diderita Tifa amat serius.
“ Pasien menderita Adenocarcin0ma atau yang lebih dikenal dengan kanker lambung,” dokter itu mendesah panjang. “ Dan sudah mencapai stadium dua.”
Mendengar kabar tersebut, ketiganya bagai disambar petir di siang bolong. Riani merasa sesak di dadanya, sedangkan Dave kepalanya tiba-tiba seperti dihantam sebuah palu raksasa. Ini tidak seperti saat menonto film mellow-drama. Entah kenapa begitu menyadari Tifa mengidap penyakit yang mematikan, kepalanya berdenyut kuat.
“ Saya tahu kabar ini akan membuat keluarganya syok,” ujar dokter itu dengan nada berat. “ Karena riwayat penyakit pasien sudah diderita dalam jangka waktu yang cukup lama.”
Berbeda dari kedua temannya, Gloria justru merasakan gelegak amarahnya. Darahnya terasa mendidih. Tanpa sadar tangannya mencengkram kaleng kopi sampai isinya sedikit keluar.
“ Tapi pasien masih bisa―”
Ucapan dokter itu terpotong akibat Gloria yang langsung meninggalkan ruangan tanpa permisi. Dave dan Riani bertukar pandang. Mereka yakin sekali kalau Gloria saat ini sedang dikuasai amarah. Entah apa yang akan dilakukan wanita itu, yang jelas mereka harus segera mencegahnya.
“ Maaf, saya tahu ini tidak sopan, tapi kami permisi dulu. Ada urusan yang sangat mendadak.”
Dave segera menarik Riani setelah meminta izin pada dokter. Mereka harus segera menyusul Gloria. Wanita itu berlari sekuat tenaga menuju bangsal Tifa.
Ia membuka pintu bangsal dengan kasar. Begitu sampai, ia justru mendapatkan tatapan dingin dari Tifa. Amarahnya makin menjadi-jadi. Tanpa tendeng aling-aling, ia siramkan kopi itu ke wajah Tifa.
Sekujur tubuh Tifa basah. Namun, Tifa tak membalas dengan satu kata pun. Terdengar langkah kaki kedua temannya yang baru sampai. Bersamaan dengan itu pekikan Riani membuat suasana semakin histeris.
Tifa masih membisu, lengkap dengan tatapan dinginnya. Ingin rasanya Gloria menampar wanita itu sehingga tatapan menyebalkan itu menghilang. Namun, Dave keburu mencegah langkahnya. Ia meronta, tapi tenaga Dave lebih kuat darinya.
“ Brengsek kamu, Tif!!”
Ia hanya bisa memaki.
“ Kamu….” isaknya. “ Kamu masih bisa minum kopi saat dokter bilang kamu kena kanker stadium dua? Tif, kamu pikir ini bukan hal serius?”
Hana yang dari tadi bungkam akhirnya bicara, “ A—apa maksudmu?”
“ Ti—Tifa terkena kanker perut stadium dua,” suara Riani terdengar bergetar. Matanya yang berkaca-kaca menatap Tifa. “ Tif, kenapa kamu gak pernah kasih tahu kita?’
“ Oh, Tuhaaan,” Hana memegangi keningnya. Matanya berpindah-pindah antara Tifa dan Gloria. “ Jadi, ini maksud badaimu itu, Tif?”
Tifa mendesah berat, “ Ya, aku akan jujur. Aku memang sakit. Kutekankan sekali lagi, aku cuma sakit! Jadi, jangan perlakukan aku seolah-olah aku akan mati!”
“ Tif, kamu itu kena kanker!” seru Riani dengan nada terisak.
“ Aku tidak akan mati, Ri. Aku akan bertahan.”
Gloria menghempaskan kaleng itu dengan kasar, “ Terserah mau bilang apa! Aku sudah muak dengan semua tipu dayamu! Ri, kita pergi saja!”
Benar. Terlalu lama di sana emosinya pun akan ikut meledak. Tanpa pamit, Riani pun mengikuti Gloria pergi. Hana memberi kode pada Dave agar menyusul kedua temannya. Laki-laki itu tampak bingung dengan posisi dimana seharusnya ia berada. Pintu kembali ditutup, suasana pun kembali hening.
“ Huh, jadi bau kopi di mana-mana,” omel Tifa. “ Gloria suka berlebihan.”
“ Bersyukurlah kopi itu dingin, Tif. Kalau tidak diagnosis penyakitmu akan bertambah.”
Hana tetap terlihat tenang seperti sebelumnya. Ia bahkan sempat meminta pada perawat untuk membawakan baju ganti Tifa. Ia juga membantu Tifa membersihkan diri dari percikan air kopi yang menempel. Setelah keadaan sedikit nyaman, barulah Hana mengajaknya bicara.
“ Jadi, ini alasanmu kembali?”
“ Ya,” Tifa menatap Hana sebentar lalu matanya fokus pada ujung-ujung selimut. “Aku sudah sering mengalami tukak lambung dan ternyata itu berujung pada kanker yang kuderita sekarang. Aku mendapat diagnosis itu sejak dua tahun lalu. Saat itu aku sudah mulai untuk mengundurkan diri, tapi… aku teringat janjiku pada Kak Laksmi dan akhirnya aku memutuskan untuk pulang.”
“ Dan merepotkan semua orang di sini? Tif, kamu sendiri yang bilang kamu akan bertahan, tapi kenapa semua yang kamu lakukan seolah-olah kamu akan menuju pada kematian?”
“ Awalnya karena aku berpikir kalau penyakit ini akan mempercepat aku menuju pada kematian. Makanya aku buru-buru menepati janjiku sebelum aku benar-benar mati, tapi ternyata aku salah,” Tifa memejamkan matanya seraya menarik napas panjang. “Justru semakin aku larut dalam pementasan ini, aku semakin takut pada kematian. Aku belum mau kehilangan kalian dan semua kesenangan ini.”
Ada keheningan yang cukup lama menyeruak di antara mereka. Ketika Tifa membuka matanya, wajah usil itu kembali terpasang di sana.
“ Pokoknya kabar ini jangan sampai meluas ke mana-mana. Itu sudah lebih dari cukup. Oh ayolah, aku tidak akan mati secepat itu.”
Hana mendengus kesal, “ Aku lebih suka berpihak pada Gloria. Dia benar, aku juga sudah muak dengan tipu dayamu.”
Wanita itu bangkit dan hendak meninggalkan Tifa. Namun, kata-kata Tifa berhasil menghentikan langkahnya.
“ Kuharap kamu bisa kuandalkan satu kali lagi, Han.”
Hana berbalik. Namun, yang ia dapati adalah sosok Tifa yang sedang tertidur. Entah sengaja atau tidak, tapi Hana tidak merasa kesal. Ia justru seperti tengah diberikan mandat besar oleh sang panglima


Tidak ada komentar:

Posting Komentar