Musikal 117
Seberkas cahaya
menembus pelupuk matanya yang tertutup. Begitu ia mencoba membuka mata yang
terlihat hanya warna putih. Kemudian hidungnya menangkap aroma klorin yang
kuat. Saraf-saraf reseptornya mulai berkerja. Ia mencoba mengangkat tangannya.
Terasa berat, terutama tangan kirinya. Saat tangannya terangkat perlahan,
ternyata tangan itu sudah dihiasi dengan berbagai macam selang.
Sekarang
ia sadar dimana dia berada. Ia ada di rumah sakit.
Tifa
mendesah panjang. Ia menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Kemudain
matanya menangkap sosok Adrian dan Dave yang terkulai lemas di sebuah sofa.
Tidur mereka sangat lelap seperti baru saja bergadang semalaman.
Memorinya
dipaksa bekerja cepat untuk mengingat kejadian terakhir yang ia alami. Dimulai
dari bangun pagi bersama Dave, pertemuan di kafe yang berujung pada semua
kejadian naas ini. kepalanya berdenyut saat ia kegelapan adalah hal terakhir
yang ia ingat.
Tifa
baru sadar kalau ia pingsan semalaman.
Dan
kedua orang ini pasti menjagainya semalam. Entah pukul berapa mereka baru bisa
memejamkan mata. Namun, jika dilihat dari tidurnya mungkin baru beberapa jam
yang lalu.
Pintu
bangsalnya terbuka. Seorang petugas kebersihan membangunkan kedua laki-laki
yang sedang pulas tertidur. Awalnya mereka tak terlalu menanggapi kehadiran
petugas itu, tetapi ketika melihat mata Tifa terbuka, Dave segera menghampiri
yang kemudian disusul Adrian.
“
Kamu sudah sadar? Oh, syukurlah,” terdengar nada kelegaan dari Dave. Tangannya
mengusap lembut kening Tifa.
Adrian
menekan tombol pemanggil perawat, kemudian tersenyum pada Tifa, “Aku sudah
panggil perawat. Apa ada yang dibutuhkan Tante?”
“
Aku haus,” ujar Tifa serak.
Dave
beringsut mengisi sebuah gelas lalu membantu Tifa menegakkan kepalanya. Adrian
tak kuasa menahan senyumnya saat melihat adegan romantis itu.
“
Selamat atas pernikahanmu.”
Seketika
Tifa menyemburkan air yang baru saja melewati tenggorokannya. Adrian terkekeh
saat Tifa memandangnya dengan tatapan penuh tanya. Sementara Dave hanya bisa
tersenyum geli sembari membersihkan sisa air yang menyembur di pipi Tifa.
“
Apa semalam kalian melakukan pernikahan siri? Astaga, apa yang sudah terjadi?”
“ Om
Dave adalah suami Tante menurut dokumen rumah sakit,” jawab Adrian sambil duduk
di sebelah Tifa. “ Aku yang menyuruhnya. Habisnya semalam tak ada pilihan
selain menyamarkan status kalian.”
Tifa
mendengus kesal, tapi detik selanjutnya tatapannya kembali sayu, “ Kamu
baik-baik saja, Adrian?”
Ada
keheningan panjang sebelum Adrian menjawab.
“
Aku tidak akan bilang iya, tapi yang lebih penting adalah kesehatan Tante dulu.
Aku sudah kehilangan orang-orang yang kucintai dan aku juga tak mau kehilangan
Tante.”
Giliran
Tifa yang mendesah lega. Ia tersenyum lebar seraya mengulurkan tangannya, “
Kemarilah!”
Adrian
pun menenggelamkan dirinya dalam pelukan Tifa. Terasa hangat. Ternyata benar,
bukan mamanya atau Fi, melainkan wanita ini. Wanita inilah yang sepanjang waktu
di sisinya. Selama wanita ini bernapas seharusnya Adrian tak perlu memikirkan
apa pun.
“
Aku mencintaimu, Tante.”
“
Aku lebih mencintaimu,” balas Tifa.
Tangan
Dave ikut merangkul keduanya, “ Aku juga mencintai kalian, tapi aku lebih
mencintaimu, Tif.”
Sontak
tangan Tifa menoyor kepala Dave. Laki-laki itu melepaskan pelukannya, begitu
pula Adrian.
“ Jangan coba-coba!
Dasar suami dokumen!”
Mereka
pun tertawa. Tak berapa lama kemudian datanglah beberapa orang perawat beserta
seorang dokter. Adrian dan Dave pun memberi ruang pada petugas rumah sakit
untuk memeriksa keadaan Tifa. Selagi menunggu, Dave menyuruh Adrian untuk
membersihkan diri. Mereka berdua memang terlihat sangat kusut.
Dokter
itu mengatakan kalau keadaan Tifa masih belum dipastikan karena hasil lab baru
akan datang pukul sepuluh. Tifa pun diberikan injeksi penahan mual dan ia
disuruh segera sarapan.
“
Kalian juga sarapanlah,” uajr Tifa ketika dokter berserta perawat itu pergi.
“Atau kalian juga berakhir seperti aku.”
“
Adrian duluan saja,” Dave mengambil sarapan Tifa dan duduk di sampingnya.
“Karena aku harus mengurus istriku dulu.”
Adrian
tertawa saat tantenya memberikan pukulan telak di lengan Dave.
“
Heeei, mana ada pasien pukulannya sekeras ini!” gerutu Dave seraya
mengusap-usap lengannya yang memerah. “ Kamu sudah sehat kalau sudah bisa
memukul seperti ini.”
“
Yang bilang aku sakit siapa?” balas Tifa. “ Itu hanya gumaman dokter supaya aku
mau membayar lebih.”
Akhirnya
mereka pun perang mulut. Adrian hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya
menyaksikan mereka. Namun, ia senang kalau Tantenya sudah kembali pulih. Tanpa
pamit lagi, Adrian pun melangkah keluar dan membiarkan keduanya berdamai dengan
sendirinya.
“
Ah, ya sudahlah! Berhenti mengoceh dan telan saja bubur ini!” Dave menyudahi
perang mulutnya dan menyodorkan sesendok bubur. Tifa tak melawan. Ia menelan
bubur itu, tapi matanya berkeliaran kemana-mana.
“
Dimana Adrian?”
“
Mungkin dia pergi selagi kita adu mulut tadi,” Dave kembali menyendokkan bubur
ke mulut Tifa.
“
Kalian sudah menghubungi Ibuku?”
“
Nanti saja. Aku dan Adrian berencana memberi tahu kalau hasil lab sudah keluar.
Kami takut kalau Ibumu malah cemas dan keadaan jadi tambah buruk.”
“
Keputusan yang bagus,” ujar Tifa sambil mengunyah. “ Soal Kak Ican, Fi, dan
Adrian juga tolong jangan kasih tahu dulu. Biar nanti aku yang mengurus.”
Dave
mengangguk. Ia pun meneruskan menyuapi Tifa sampai pada sendokkan terakhir.
Ajaib, meski penyakit Tifa berhubungan langsung pada organ pencernaan, tapi
nafsu makannya bisa dibilang melebihi normal.
Ketika
Tifa menyerahkan gelas kosong pada Dave, tiba-tiba saja gelas itu seolah
terpaku di tangannya. Bukan kemauannya, tapi Dave sengaja menahan gelas itu di
tangannya. Mata Tifa teralih pada gelas yang tertahan itu. Ia mengerti kalau
Dave melakukan itu semata-mata hanya ingin menggenggam tangannya.
Sekali
lagi, gerakan Dave bagaikan kilat. Tifa tak mampu mengelak ketika bibir Dave
tinggal beberapa senti lagi dari bibirnya. Namun, kali ini bukan Tifa yang
menghindar, melainkan Dave sendiri yang mengelakkan bibirnya. Laki-laki itu
memilih mendaratkan ciumannya di pipi kiri Tifa. Tepat di dekat sudut bibirnya.
“
Jangan membuatku cemas lagi seperti semalam!” bisiknya. “ Aku tak bisa
membayangkan kalau aku harus kehilangan kamu lagi.”
Wajah
Dave sedikit menjauh, tapi tatapannya masih mengikuti kemana pupil Tifa
bergerak. Wanita itu hanya bisa mendesah panjang dengan mata terpejam.
“
Maaf….”
Perlahan
Tifa membuka matanya. Sepasang iris biru masih mengawasinya. Wajah laki-laki
itu masih terlihat tegang. Namun, Tifa tersenyum seraya mengusap lembut pipi
Dave dengan sisa tangan yang dipenuhi selang.
“
Aku tidak akan melakukannya lagi. Aku janji.”
Dave
menarik napas panjang. Ia menyingkirkan perlahan tangan itu lalu mengambil
gelas dari tangan Tifa yang satunya. Sejujurnya ia masih ingin disentuh oleh
tangan itu, tapi jika itu dibiarkan maka ia tidak tahu apa yang akan terjadi
selanjutnya. Itu karena ia tahu kalau jenderal-jenderal iblis sedang
menggerakan tentara jiwa kelaki-lakiannya dan ia tak mau kalau sampai hal ‘itu’
terjadi.
Terdengar
bunyi pintu bangsal terbuka. Mereka pikir itu adalah Adrian atau perawat, tapi
ternyata yang datang adalah ketiga sahabat lamanya. Siapa lagi kalau bukan
Gloria, Hana, dan Riani.
“
Wah, wah, macan kumbang bisa tumbang, huh?” sapa Hana dengan sinis.
Mata
Tifa masih terlihat sayu, tapi ia masih bisa merentangkan kedua tangannya, “Little hug would be nice.”
Alih-alih
memeluknya, Gloria justru menempelkan kopi kalengan yang sengaja ia bawa. Tifa
menjerit kaget saat pipinya bersentuhan dengan dengan kaleng dingin itu.
“
Itu baru kejutan,” Gloria tertawa keras seraya menaruh kopi itu di meja. “
Jadi, bagaimana ceritanya kamu bisa terdampar di sini?”
“
Oh, sederhana saja,” Tifa meraih kopi kaleng dan membukanya. “ Aku sakit dan
harus dirawat. Cuma sebentar, tidak akan lama.”
Dave
dengan cepat menampar tangan Tifa seraya merebut kopi kaleng itu, “Hei, kamu
mau dirawat lebih lama lagi?”
Tifa
merengut.
“
Memangnya Tifa sakit apa, Dave?” tanya Riani.
“
Tukak lambung,” ujar Dave seraya mengembalikan kopi itu pada Gloria. “ Tapi
baru diagnosis sementara. Hasil lab-nya belum keluar, mungkin sebentar lagi.”
“
Tukak lambung dan masih mau minum kopi?” sindir Hana. “ Hei, Glo. Seharusnya
kamu bawain nih anak obat nyamuk, biar langsung mampus.”
Mereka
tertawa bersama. Namun, tawa itu berhenti saat seorang perawat masuk ruangan.
“
Hasil lab-nya sudah keluar. Dokter mau bertemu dengan keluarga pasien,” perawat
itu menatap Dave. “ Suaminya bisa ikut saya.”
“
Suami?” seru Gloria, Hana, dan Riani bersamaan.
Perawat
itu terlihat bingung. Dave dan Tifa menahan tawa.
“
Kapan kamu nikah siri sama Dave?” Gloria terlihat tak percaya.
“
Ceritanya panjang, tapi yang jelas kami belum nikah siri,” Tifa tertawa seraya
melambaikan tangan. “ Sudah, pergi sana. Dasar suami dokumen.”
Dave
tersenyum geli, “ Hei, ada yang mau ikut?”
“
Ikut ah, aku jadi penasaran deh,” sahut Gloria. “ Han, Ri, mau ikut gak?”
Riani
mengangguk, tapi Hana menolak.
“
Aku di sini saja. Mana tahu orang ini maling-maling minum kopi.”
Pintu
pun ditutup. Hana menyeret kursi dan duduk di dekat ranjang Tifa.
“
Apa ada sesuatu yang telah telah terjadi di sini? Aku tahu, kamu bukan orang
yang langsung tumbang gara-gara sebuah penyakit sepele.”
“
Kamu memang gak bisa ditipu ya,” Tifa tersenyum kecil. “ Memang ada yang sudah
terjadi dan hanya gara-gara satu kejadian semuanya wuuush… blow up and crush everything.”
Kening
Hana berkerut, “ Dan kamu belum mau cerita apa yang terjadi sebenarnya?”
Tifa
tak menjawab. Pandangannya teralih pada jendela. Hana mendesah panjang. Diamnya
Tifa memberi banyak makna. Entah itu akan berakhir baik atau buruk.
“
Akan ada badai yang datang. Badai yang sangat besar.”
“ Di
luar matahari sangat cerah, Tif,” kening Hana kembali berkerut. “ Jangan
meramal soal badai kalau cuaca cerah.”
“
Tidak, aku serius. Akan ada badai. Mungkin tak lama lagi.”
Hana
kesal karena tak satu pun pertanyaannya yang dijawab Tifa dengan tepat. Percuma
mendesaknya, Tifa lebih memilih menatap jendela yang disinari mentari yang
sangat cerah. Tak berapa lama jawaban itu datang dengan sendirinya.
Pintu
bangsal terbuka kasar. Terdengar derap langkah yang terburu-buru. Sosok Gloria
lebih dulu muncul. Anehnya, baru kali ini wajah wanita itu terlihat merah padam
seperti orang yang sedang menahan amarah.
Tanpa
ba-bi-bu, Gloria menyiramkan kopi kaleng yang tadi ia bawa tepat ke wajah Tifa.
Riani yang ada di belakangnya memekik. Hana ikut terkejut, tapi suaranya
tertahan. Gloria maju dengan berang, tapi Dave segera menahannya. Di sisi lain,
Tifa terlihat tenang. Ia hanya melempar tatapan dingin pada wanita yang sedang
meneriakinya.
“
Brengsek kamu, Tif!!”
ooOoo
“ Sejak kapan kamu
jadi suami Tifa?”
Rasanya
Dave ingin mengibuli Gloria yang dari tadi keukeuh
membutuhkan jawaban, tapi ia khawatir itu akan percaya dengan segala
anekdotnya. Lagi pula mereka sekarang sudah sampai di ruangan dokter.
“
Akan kujelaskan nanti setelah mendengar penjelasan dari dokter.”
Dokter
muda itu menyilakan ketiganya untuk duduk. Sambil membuka lembaran kertas yang
diperkirakan adalah hasil lab Tifa, ia pun menjelaskan diagnosisnya.
“
Ada yang mau saya tanyakan sebelumnya, apakah pasien pernah menjalani
pengobatan sebelum ini?”
Gloria
dan Riani otomatis diam seribu bahasa. Sementara Dave terlihat kebingungan.
“
Ka—kami kurang tahu, Dok.”
Kening
dokter itu berkerut, “ Lho, bukannya Anda ini adalah suaminya?”
Dave
meringis, “ A—ada sebuah kesalahan di situ,” Dave berdeham saat tatapan tajam
mengarah dari Gloria dan Riani. “ Bisa dilanjutkan, Dok? Sebenarnya Tifa sakit
apa?”
“
Ah, yah,” dokter itu menutup lipatan kertas yang ia pegang. Ia menarik napas
panjang dan tatapannya terlihat serius. “ Saya harap kalian bersiap mendengar
kabar ini.”
Seketika
ketiga orang ini menegang. Tampaknya sakit yang diderita Tifa amat serius.
“
Pasien menderita Adenocarcin0ma atau
yang lebih dikenal dengan kanker lambung,” dokter itu mendesah panjang. “ Dan
sudah mencapai stadium dua.”
Mendengar
kabar tersebut, ketiganya bagai disambar petir di siang bolong. Riani merasa sesak
di dadanya, sedangkan Dave kepalanya tiba-tiba seperti dihantam sebuah palu
raksasa. Ini tidak seperti saat menonto film mellow-drama. Entah kenapa begitu menyadari Tifa mengidap penyakit
yang mematikan, kepalanya berdenyut kuat.
“ Saya
tahu kabar ini akan membuat keluarganya syok,” ujar dokter itu dengan nada
berat. “ Karena riwayat penyakit pasien sudah diderita dalam jangka waktu yang
cukup lama.”
Berbeda
dari kedua temannya, Gloria justru merasakan gelegak amarahnya. Darahnya terasa
mendidih. Tanpa sadar tangannya mencengkram kaleng kopi sampai isinya sedikit
keluar.
“
Tapi pasien masih bisa―”
Ucapan
dokter itu terpotong akibat Gloria yang langsung meninggalkan ruangan tanpa
permisi. Dave dan Riani bertukar pandang. Mereka yakin sekali kalau Gloria saat
ini sedang dikuasai amarah. Entah apa yang akan dilakukan wanita itu, yang
jelas mereka harus segera mencegahnya.
“
Maaf, saya tahu ini tidak sopan, tapi kami permisi dulu. Ada urusan yang sangat
mendadak.”
Dave
segera menarik Riani setelah meminta izin pada dokter. Mereka harus segera
menyusul Gloria. Wanita itu berlari sekuat tenaga menuju bangsal Tifa.
Ia
membuka pintu bangsal dengan kasar. Begitu sampai, ia justru mendapatkan
tatapan dingin dari Tifa. Amarahnya makin menjadi-jadi. Tanpa tendeng
aling-aling, ia siramkan kopi itu ke wajah Tifa.
Sekujur
tubuh Tifa basah. Namun, Tifa tak membalas dengan satu kata pun. Terdengar
langkah kaki kedua temannya yang baru sampai. Bersamaan dengan itu pekikan
Riani membuat suasana semakin histeris.
Tifa
masih membisu, lengkap dengan tatapan dinginnya. Ingin rasanya Gloria menampar
wanita itu sehingga tatapan menyebalkan itu menghilang. Namun, Dave keburu
mencegah langkahnya. Ia meronta, tapi tenaga Dave lebih kuat darinya.
“
Brengsek kamu, Tif!!”
Ia
hanya bisa memaki.
“
Kamu….” isaknya. “ Kamu masih bisa minum kopi saat dokter bilang kamu kena
kanker stadium dua? Tif, kamu pikir ini bukan hal serius?”
Hana
yang dari tadi bungkam akhirnya bicara, “ A—apa maksudmu?”
“
Ti—Tifa terkena kanker perut stadium dua,” suara Riani terdengar bergetar.
Matanya yang berkaca-kaca menatap Tifa. “ Tif, kenapa kamu gak pernah kasih
tahu kita?’
“
Oh, Tuhaaan,” Hana memegangi keningnya. Matanya berpindah-pindah antara Tifa
dan Gloria. “ Jadi, ini maksud badaimu itu, Tif?”
Tifa
mendesah berat, “ Ya, aku akan jujur. Aku memang sakit. Kutekankan sekali lagi,
aku cuma sakit! Jadi, jangan perlakukan aku seolah-olah aku akan mati!”
“
Tif, kamu itu kena kanker!” seru Riani dengan nada terisak.
“
Aku tidak akan mati, Ri. Aku akan bertahan.”
Gloria
menghempaskan kaleng itu dengan kasar, “ Terserah mau bilang apa! Aku sudah
muak dengan semua tipu dayamu! Ri, kita pergi saja!”
Benar.
Terlalu lama di sana emosinya pun akan ikut meledak. Tanpa pamit, Riani pun
mengikuti Gloria pergi. Hana memberi kode pada Dave agar menyusul kedua
temannya. Laki-laki itu tampak bingung dengan posisi dimana seharusnya ia
berada. Pintu kembali ditutup, suasana pun kembali hening.
“
Huh, jadi bau kopi di mana-mana,” omel Tifa. “ Gloria suka berlebihan.”
“
Bersyukurlah kopi itu dingin, Tif. Kalau tidak diagnosis penyakitmu akan
bertambah.”
Hana
tetap terlihat tenang seperti sebelumnya. Ia bahkan sempat meminta pada perawat
untuk membawakan baju ganti Tifa. Ia juga membantu Tifa membersihkan diri dari
percikan air kopi yang menempel. Setelah keadaan sedikit nyaman, barulah Hana
mengajaknya bicara.
“
Jadi, ini alasanmu kembali?”
“
Ya,” Tifa menatap Hana sebentar lalu matanya fokus pada ujung-ujung selimut.
“Aku sudah sering mengalami tukak lambung dan ternyata itu berujung pada kanker
yang kuderita sekarang. Aku mendapat diagnosis itu sejak dua tahun lalu. Saat
itu aku sudah mulai untuk mengundurkan diri, tapi… aku teringat janjiku pada
Kak Laksmi dan akhirnya aku memutuskan untuk pulang.”
“
Dan merepotkan semua orang di sini? Tif, kamu sendiri yang bilang kamu akan
bertahan, tapi kenapa semua yang kamu lakukan seolah-olah kamu akan menuju pada
kematian?”
“
Awalnya karena aku berpikir kalau penyakit ini akan mempercepat aku menuju pada
kematian. Makanya aku buru-buru menepati janjiku sebelum aku benar-benar mati,
tapi ternyata aku salah,” Tifa memejamkan matanya seraya menarik napas panjang.
“Justru semakin aku larut dalam pementasan ini, aku semakin takut pada
kematian. Aku belum mau kehilangan kalian dan semua kesenangan ini.”
Ada
keheningan yang cukup lama menyeruak di antara mereka. Ketika Tifa membuka
matanya, wajah usil itu kembali terpasang di sana.
“
Pokoknya kabar ini jangan sampai meluas ke mana-mana. Itu sudah lebih dari
cukup. Oh ayolah, aku tidak akan mati secepat itu.”
Hana
mendengus kesal, “ Aku lebih suka berpihak pada Gloria. Dia benar, aku juga
sudah muak dengan tipu dayamu.”
Wanita
itu bangkit dan hendak meninggalkan Tifa. Namun, kata-kata Tifa berhasil
menghentikan langkahnya.
“
Kuharap kamu bisa kuandalkan satu kali lagi, Han.”
Hana
berbalik. Namun, yang ia dapati adalah sosok Tifa yang sedang tertidur. Entah
sengaja atau tidak, tapi Hana tidak merasa kesal. Ia justru seperti tengah
diberikan mandat besar oleh sang panglima
Tidak ada komentar:
Posting Komentar