Total Tayangan Halaman

Sabtu, 14 Januari 2017

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 120)




Musikal 120

Fi memberanikan dirinya untuk masuk sekolah. Ada perasaan takut menjalari tubuhnya ketika ia melangkahkan kaki masuk ke kelas. Ia tahu akan ada beberapa temannya yang mengetahui mengenai kejadian dua hari yang lalu. Ia takut kejadian itu akan menyebar luas dan menjadi aib bagi dirinya.
Saat ia menampakkan diri di muka kelas, keadaan masih sama seperti sebelumnya. Ada beberapa orang yang menoleh padanya, tapi kemudian berlalu. Tak ada yang sedang menatapnya curiga atau memandang jijik. Keadaan kelas tampak normal dan ia bisa melenggang bebas menuju bangkunya.
Tak lama berselang, Priyanka datang. Wajahnya terlihat senang saat mereka bertatapan. Gadis itu menyapa Fi dengan riang.
“ Hai, Fi. Senang melihatmu kembali masuk.”
Fi hanya mengangguk seadanya lalu berpura-pura sibuk dengan buku pelajarannya.
“ Oh ya, kemarin aku ke rumah kamu, tapi kata Mama kamu, kamu lagi istirahat. Jadi, aku pulang aja kemarin.”
Fi kembali mengangguk, “ Iya, ma—maaf.”
Ia kembali menyibukkan dengan buku pelajaran. Fi sepertinya tidak mau diganggu, tapi lain hal dengan Priyanka. Gadis itu tampak sedang butuh penjelasan.
“ Maaf sebelumnya, tapi aku sebenarnya melihat apa yang terjadi di kafe kemarin.”
Tangan Fi yang sedang memegang pena mengapung di udara. Ia menatap Priyanka.
“ Siapa saja yang tahu soal ini?”
“ Ririn, karena saat kejadia dia ada di sana. Hmm, kupikir Alexi, Hiro Senpai, Jiro Senpai juga tahu.”
Bulu kuduk Fi meremang, “ Apa mereka….”
“ Tidak. Tidak ada satu pun dari mereka yang membocorkan rahasia itu. Kamu tenang saja, mereka bukan orang-orang bermulut ember.”
Fi hanya tersenyum samar.
“ Ngomong-ngomong, hari ini kami berencana menjenguk Miss Tifa di rumah sakit, ikut ya?”
“ Eh, Miss Tifa mausk rumah sakit? Kenapa?”
Priyanka menggeleng, “ Entah, tapi kupikir dia akan segera sembuh. Dia orang yang kuat.”
Fi terdiam beberapa saat, “Aku mungkin gak bisa ikut. Kamu tahu’kan bagaimana bencinya Miss Tifa sama aku sekarang. Belum lagi kalau aku bertemu Adrian di sana. Aku masih belum siap.”
“ Tapi apa nanti teman-teman yang lain tidak curiga kalau kamu tidak datang?”
Ekspresi Fi berubah murung.
“ Tenang saja. Aku bakal di samping kamu terus kok.”
“ Makasih, Ka,” ujar Fi pelan.
Priyanka tersenyum, “ Eh, tapi kita ke sananya pakai taksi aja ya. Motorku lagi di bengkel soalnya.”
ooOoo
Suasana rumah sakit menjadi ramai dengan kedatangan anggota Love Musical. Meski begitu tidak Nampak kehadiran guru-guru mereka, termasuk Dave dan juga Adrian. Fi yang tadinya was-was berubah lebih tenang. Namun, ia tetap berada di belakang teman-temannya agar kehadirannya tidak kentara.
“ Gak nyangka aja ya kalau Miss Tifa bisa masuk rumah sakit,” ujar Kemal. “Aku pikir Miss Tifa pernah disuntik serum kebal.”
“ Semacam Hulk gitu ya,” sahut Ben.
Seisi ruangan tertawa.
“ Tapi semua orang pasti pernah opname kok,” ujar Ririn. “ Tapi untung aku cuma sekali.”
“ Kamu sakit apa, Rin?” tanya Andani, tiba-tiba ia menepuk keningnya. “Oh ya, yang jatuh waktu itu ya?”
Ririn mengangguk, “Iya, aku sampai dapat tujuh jahitan,” Ririn menyibak rambut yang menempel di atas keningnya. Terdapat bekas luka yang selama ini tak banyak orang tahu, “Nih, bekasnya masih ada loh.”
“ Waah, bisa ceroboh juga kamu, Rin. Jatuh sampai dapat tujuh jahitan gitu,” komentar Wenda.
“ Aku juga lupa kejadiannya gimana, tapi yang jelas jatuh dari tangga,” Ririn tersenyum geli. “ Kepeleset mungkin.”
“ Ahh, andai aku ada di sana. Kamu pasti sudah jatuh tepat dipelukanku,” ujar Kemal.
Seisi ruangan kembali tertawa.
“ Hei, sudah waktunya kita pamit. Miss Tifa pasti mau istirahat’kan,” seru Santi.
Tifa tersenyum, “ Ah ya, terima kasih sudah mau berkunjung. Tetap semangat latihan ya. Saya akan segera kembali dengan sehat.”
Mereka pun berpamitan. Satu per satu dari mereka meninggalkan ruangan, tiba di saat terakhir Tifa menangkap jelas sosok Fi. Tatapan ramahnya berubah menjadi ekspresi tidak bersahabat.
“ Bisa kita bicara empat mata, Fi? Hanya kamu dan saya.”
Tak hanya Fi, tapi beberapa anggota pun terlihat bingung. Priyanka langsung memegang tangan erat. Namun, Fi dengan senyum tegarnya melepaskan genggaman itu. Senyumannya mengisyaratkan bahwa ia akan baik-baik saja.
Ruangan itu tinggal menyisakan Fi dan Tifa. Fi sudah menyiapkan diri dengan apa yang akan dilakukan oleh wanita itu. Meski jantungnya bergemuruh, tapi satu hal yang membuatnya tenang. Wanita itu terperangkap oleh peralatan rumah sakit. Setidaknya ia tidak akan diterkam oleh keganasannya.
“ Mungkin kamu juga sudah merasa kalau sekarang saya sudah memandangmu dengan cara yang berbeda. Kamu tahu, saya sangat, sangat, sangaaaat membencimu, terutama ibumu.”
Satu anak panah telah menancap di ulu hati Fi.
“ Saya bukan orang yang pendendam, tapi saya jauh dari kata penyabar. Masa lalu antara Mas Ican, Kakak saya, dan Ibumu tak bisa saya lupakan begitu saja, tapi balas dendam pada mereka berdua tidak akan membuat kakak saya hidup kembali. Hal terpenting bagi saya sekarang adalah melindungi orang-orang yang saya cintai dari orang-orang macam kalian.”
Tifa menatap Fi tajam, “ Maka dari itu saya tidak akan basa-basi lagi. Segera jauhi Adrian mulai dari sekarang! Kecuali di atas panggung, kamu saya larang untuk berhubungan dengan Adrian baik kontak langsung atau tidak langsung. Sekali saya dengar kalian masih berhubungan, maka jangan salahkan saya bila hidup kalian berubah menjadi tidak baik-baik saja.”
Satu tarikan. Seribu anak panah. Dan semuanya langsung menancap tepat di hati Fi. Sakit. Sangat sakit, tapi Fi menolak untuk menangis, meski batas kantung matanya sudah melebihi kapasitas. Nada bicara Tifa tidak meledak-ledak seperti biasa. Namun, kelembutan suaranya mampu merobohkan Fi sampai tak bisa bangkit lagi.
“ Mengerti?”
Fi mengangguk paksa. Nada suaranya terdengar bergetar, “ Saya mengerti.”
“ Bagus! Sekarang keluar dari sini! Saya tidak mau melihat wajahmu sampai di panggung nanti.”
Fi melangkah berat. Ingin rasanya ia berlari kencang agar sesak di hatinya bisa lepas terbawa angin. Sayang, jika ia melakukan itu maka ia akan sangat terlihat lemah di mata Tifa. Ia ingin tetap terlihat tegar walau hanya pura-pura.
Ia hampir menabrak July ketika membuka pintu bangsal. July sengaja keluar sejenak, selama anggota Love Musical datang berkunjung. Fi langsung melewati July tanpa permisi, sehingga membuat wanita tua itu keheranan.
“ Oh, semua sudah pulang?” sapa July. “ Apa semua baik-baik saja?”
Masih ada perasaan kesal di dada Tifa setelah pembicaraannya dengan Fi. Namun, ia tak mau ibunya tahu.
“ Ya, semuanya baik-baik saja.”
ooOoo
“ Belum pulang?”
Priyanka mengangkat kepalanya. Matanya bertemu dengan sosok Kemal tertinggal dari rombongan.
“ Ah, belum. Aku nungguin Fi.”
“ Memang Fi kemana?”
Hampir saja Priyanka kelepasan alasan kenapa ia menunggu gadis itu di sini. Namun, jika ia mengatakan yang sebenarnya bisa-bisa Kemal akan curiga dan bertanya lebih jauh lagi.
“ To—toilet, dia bilang sakit perut.”
Kemal mengangguk paham, sepertinya alasan Priyanka cukup masuk akal bila dipercaya.
“ Oh ya, motormu besok aku bawa. Gak ada yang rusak, cuma lecet dikit.”
Priyanka menepuk keningnya. Ia hampir lupa dimana keberadaan motornya, “Ah, iya. Terima kasih ya. Ngomong-ngomong berapa duit?”
“ Alaah, sama temen sendiri perhitungan. Santai aja kali.”
“ Eh, serius! Aku jadi gak enak tahu.”
Kemal memberikan tinjuan kecil di bahu Priyanka, “ Yang punya bengkel itu temannya Bang Rafi dan aku udah bilang’kan kalau motor kamu cuma lecet. Jadi, dari dianya juga udah digratisin.”
“ Yaah… yaah… kalo gitu makasih deh. Makasih banyak. Buat Bang Rafi juga makasih.”
Kemal tersenyum manis, “ Oke, manis. See you later.”
Laki-laki itu melambaikan tangannya tanpa berbalik. Meski perlahan punggung itu menghilang, tapi Priyanka tak henti mengawasi dengan senyuman lebar terukir di wajahnya. Entah kenapa perbuatan yang dianggap Kemal adalah sepele, justru menjadi sesuatu yang berarti baginya.
Namun,  lamunannya sedikit buyar tatkala ia melihat sosok Fi berlari di hadapannya. Lari gadis itu sangat kencang seperti orang yang sedang melarikan diri. Dan Priyanka bersumpah kalau ia melihat Fi berlari dengan wajah penuh air mata.
Tak perlu banyak pikir, Priyanka memacu langkahnya agar bisa mengejar Fi. Ia berhasil menggapai lengan gadis itu dan menghentikan adegan kejar-kejaran. Saat mereka bertatapan, raut putus asa menyelimuti wajah gadis itu.
“ Fi, kamu gak apa-apa?”
Gadis itu tak menjawab. Hanya terdengar sesegukan dari bibirnya.
“ Fi, apa yang terjadi di dalam? Apa Miss Tifa mengatakan sesuatu?”
Gadis itu menggigit bibir bawahnya agar tak terlalu bergetar, “ Di—di—dia minta aku su—supaya a—aku men—men—menjauhi Ad—adrian.”
Priyanka menarik napas panjang. Ia segera membenamkan gadis itu dalam pelukannya. Kasihan sekali gadis ini. Padahal bukan salahnya jika mereka ternyata bersaudara.
“ Aku tahu ini berat, tapi bersabarlah,” Priyanka menepuk pundak gadis itu kemudian menghapus air matanya. “ Kita pulang yuk.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar