Musikal 120
Fi memberanikan
dirinya untuk masuk sekolah. Ada perasaan takut menjalari tubuhnya ketika ia
melangkahkan kaki masuk ke kelas. Ia tahu akan ada beberapa temannya yang
mengetahui mengenai kejadian dua hari yang lalu. Ia takut kejadian itu akan
menyebar luas dan menjadi aib bagi dirinya.
Saat
ia menampakkan diri di muka kelas, keadaan masih sama seperti sebelumnya. Ada
beberapa orang yang menoleh padanya, tapi kemudian berlalu. Tak ada yang sedang
menatapnya curiga atau memandang jijik. Keadaan kelas tampak normal dan ia bisa
melenggang bebas menuju bangkunya.
Tak
lama berselang, Priyanka datang. Wajahnya terlihat senang saat mereka
bertatapan. Gadis itu menyapa Fi dengan riang.
“ Hai,
Fi. Senang melihatmu kembali masuk.”
Fi
hanya mengangguk seadanya lalu berpura-pura sibuk dengan buku pelajarannya.
“ Oh
ya, kemarin aku ke rumah kamu, tapi kata Mama kamu, kamu lagi istirahat. Jadi,
aku pulang aja kemarin.”
Fi
kembali mengangguk, “ Iya, ma—maaf.”
Ia
kembali menyibukkan dengan buku pelajaran. Fi sepertinya tidak mau diganggu,
tapi lain hal dengan Priyanka. Gadis itu tampak sedang butuh penjelasan.
“
Maaf sebelumnya, tapi aku sebenarnya melihat apa yang terjadi di kafe kemarin.”
Tangan
Fi yang sedang memegang pena mengapung di udara. Ia menatap Priyanka.
“
Siapa saja yang tahu soal ini?”
“
Ririn, karena saat kejadia dia ada di sana. Hmm, kupikir Alexi, Hiro Senpai, Jiro Senpai juga tahu.”
Bulu
kuduk Fi meremang, “ Apa mereka….”
“
Tidak. Tidak ada satu pun dari mereka yang membocorkan rahasia itu. Kamu tenang
saja, mereka bukan orang-orang bermulut ember.”
Fi
hanya tersenyum samar.
“
Ngomong-ngomong, hari ini kami berencana menjenguk Miss Tifa di rumah sakit, ikut ya?”
“
Eh, Miss Tifa mausk rumah sakit?
Kenapa?”
Priyanka
menggeleng, “ Entah, tapi kupikir dia akan segera sembuh. Dia orang yang kuat.”
Fi
terdiam beberapa saat, “Aku mungkin gak bisa ikut. Kamu tahu’kan bagaimana
bencinya Miss Tifa sama aku sekarang.
Belum lagi kalau aku bertemu Adrian di sana. Aku masih belum siap.”
“
Tapi apa nanti teman-teman yang lain tidak curiga kalau kamu tidak datang?”
Ekspresi
Fi berubah murung.
“
Tenang saja. Aku bakal di samping kamu terus kok.”
“
Makasih, Ka,” ujar Fi pelan.
Priyanka
tersenyum, “ Eh, tapi kita ke sananya pakai taksi aja ya. Motorku lagi di
bengkel soalnya.”
ooOoo
Suasana rumah sakit
menjadi ramai dengan kedatangan anggota Love
Musical. Meski begitu tidak Nampak kehadiran guru-guru mereka, termasuk
Dave dan juga Adrian. Fi yang tadinya was-was berubah lebih tenang. Namun, ia
tetap berada di belakang teman-temannya agar kehadirannya tidak kentara.
“
Gak nyangka aja ya kalau Miss Tifa
bisa masuk rumah sakit,” ujar Kemal. “Aku pikir Miss Tifa pernah disuntik serum kebal.”
“
Semacam Hulk gitu ya,” sahut Ben.
Seisi
ruangan tertawa.
“
Tapi semua orang pasti pernah opname kok,” ujar Ririn. “ Tapi untung aku cuma
sekali.”
“
Kamu sakit apa, Rin?” tanya Andani, tiba-tiba ia menepuk keningnya. “Oh ya,
yang jatuh waktu itu ya?”
Ririn
mengangguk, “Iya, aku sampai dapat tujuh jahitan,” Ririn menyibak rambut yang
menempel di atas keningnya. Terdapat bekas luka yang selama ini tak banyak
orang tahu, “Nih, bekasnya masih ada loh.”
“
Waah, bisa ceroboh juga kamu, Rin. Jatuh sampai dapat tujuh jahitan gitu,”
komentar Wenda.
“
Aku juga lupa kejadiannya gimana, tapi yang jelas jatuh dari tangga,” Ririn
tersenyum geli. “ Kepeleset mungkin.”
“
Ahh, andai aku ada di sana. Kamu pasti sudah jatuh tepat dipelukanku,” ujar
Kemal.
Seisi
ruangan kembali tertawa.
“
Hei, sudah waktunya kita pamit. Miss
Tifa pasti mau istirahat’kan,” seru Santi.
Tifa
tersenyum, “ Ah ya, terima kasih sudah mau berkunjung. Tetap semangat latihan
ya. Saya akan segera kembali dengan sehat.”
Mereka
pun berpamitan. Satu per satu dari mereka meninggalkan ruangan, tiba di saat
terakhir Tifa menangkap jelas sosok Fi. Tatapan ramahnya berubah menjadi
ekspresi tidak bersahabat.
“
Bisa kita bicara empat mata, Fi? Hanya kamu dan saya.”
Tak
hanya Fi, tapi beberapa anggota pun terlihat bingung. Priyanka langsung
memegang tangan erat. Namun, Fi dengan senyum tegarnya melepaskan genggaman
itu. Senyumannya mengisyaratkan bahwa ia akan baik-baik saja.
Ruangan
itu tinggal menyisakan Fi dan Tifa. Fi sudah menyiapkan diri dengan apa yang
akan dilakukan oleh wanita itu. Meski jantungnya bergemuruh, tapi satu hal yang
membuatnya tenang. Wanita itu terperangkap oleh peralatan rumah sakit.
Setidaknya ia tidak akan diterkam oleh keganasannya.
“
Mungkin kamu juga sudah merasa kalau sekarang saya sudah memandangmu dengan
cara yang berbeda. Kamu tahu, saya sangat, sangat, sangaaaat membencimu,
terutama ibumu.”
Satu
anak panah telah menancap di ulu hati Fi.
“
Saya bukan orang yang pendendam, tapi saya jauh dari kata penyabar. Masa lalu
antara Mas Ican, Kakak saya, dan Ibumu tak bisa saya lupakan begitu saja, tapi
balas dendam pada mereka berdua tidak akan membuat kakak saya hidup kembali.
Hal terpenting bagi saya sekarang adalah melindungi orang-orang yang saya
cintai dari orang-orang macam kalian.”
Tifa
menatap Fi tajam, “ Maka dari itu saya tidak akan basa-basi lagi. Segera jauhi
Adrian mulai dari sekarang! Kecuali di atas panggung, kamu saya larang untuk berhubungan
dengan Adrian baik kontak langsung atau tidak langsung. Sekali saya dengar
kalian masih berhubungan, maka jangan salahkan saya bila hidup kalian berubah
menjadi tidak baik-baik saja.”
Satu
tarikan. Seribu anak panah. Dan semuanya langsung menancap tepat di hati Fi.
Sakit. Sangat sakit, tapi Fi menolak untuk menangis, meski batas kantung
matanya sudah melebihi kapasitas. Nada bicara Tifa tidak meledak-ledak seperti
biasa. Namun, kelembutan suaranya mampu merobohkan Fi sampai tak bisa bangkit
lagi.
“
Mengerti?”
Fi
mengangguk paksa. Nada suaranya terdengar bergetar, “ Saya mengerti.”
“
Bagus! Sekarang keluar dari sini! Saya tidak mau melihat wajahmu sampai di
panggung nanti.”
Fi
melangkah berat. Ingin rasanya ia berlari kencang agar sesak di hatinya bisa
lepas terbawa angin. Sayang, jika ia melakukan itu maka ia akan sangat terlihat
lemah di mata Tifa. Ia ingin tetap terlihat tegar walau hanya pura-pura.
Ia
hampir menabrak July ketika membuka pintu bangsal. July sengaja keluar sejenak,
selama anggota Love Musical datang
berkunjung. Fi langsung melewati July tanpa permisi, sehingga membuat wanita
tua itu keheranan.
“
Oh, semua sudah pulang?” sapa July. “ Apa semua baik-baik saja?”
Masih
ada perasaan kesal di dada Tifa setelah pembicaraannya dengan Fi. Namun, ia tak
mau ibunya tahu.
“
Ya, semuanya baik-baik saja.”
ooOoo
“ Belum pulang?”
Priyanka
mengangkat kepalanya. Matanya bertemu dengan sosok Kemal tertinggal dari
rombongan.
“
Ah, belum. Aku nungguin Fi.”
“
Memang Fi kemana?”
Hampir
saja Priyanka kelepasan alasan kenapa ia menunggu gadis itu di sini. Namun,
jika ia mengatakan yang sebenarnya bisa-bisa Kemal akan curiga dan bertanya
lebih jauh lagi.
“
To—toilet, dia bilang sakit perut.”
Kemal
mengangguk paham, sepertinya alasan Priyanka cukup masuk akal bila dipercaya.
“ Oh
ya, motormu besok aku bawa. Gak ada yang rusak, cuma lecet dikit.”
Priyanka
menepuk keningnya. Ia hampir lupa dimana keberadaan motornya, “Ah, iya. Terima
kasih ya. Ngomong-ngomong berapa duit?”
“
Alaah, sama temen sendiri perhitungan. Santai aja kali.”
“
Eh, serius! Aku jadi gak enak tahu.”
Kemal
memberikan tinjuan kecil di bahu Priyanka, “ Yang punya bengkel itu temannya
Bang Rafi dan aku udah bilang’kan kalau motor kamu cuma lecet. Jadi, dari
dianya juga udah digratisin.”
“
Yaah… yaah… kalo gitu makasih deh. Makasih banyak. Buat Bang Rafi juga
makasih.”
Kemal
tersenyum manis, “ Oke, manis. See you
later.”
Laki-laki
itu melambaikan tangannya tanpa berbalik. Meski perlahan punggung itu
menghilang, tapi Priyanka tak henti mengawasi dengan senyuman lebar terukir di
wajahnya. Entah kenapa perbuatan yang dianggap Kemal adalah sepele, justru
menjadi sesuatu yang berarti baginya.
Namun,
lamunannya sedikit buyar tatkala ia
melihat sosok Fi berlari di hadapannya. Lari gadis itu sangat kencang seperti
orang yang sedang melarikan diri. Dan Priyanka bersumpah kalau ia melihat Fi
berlari dengan wajah penuh air mata.
Tak
perlu banyak pikir, Priyanka memacu langkahnya agar bisa mengejar Fi. Ia
berhasil menggapai lengan gadis itu dan menghentikan adegan kejar-kejaran. Saat
mereka bertatapan, raut putus asa menyelimuti wajah gadis itu.
“
Fi, kamu gak apa-apa?”
Gadis
itu tak menjawab. Hanya terdengar sesegukan dari bibirnya.
“
Fi, apa yang terjadi di dalam? Apa Miss
Tifa mengatakan sesuatu?”
Gadis
itu menggigit bibir bawahnya agar tak terlalu bergetar, “ Di—di—dia minta aku
su—supaya a—aku men—men—menjauhi Ad—adrian.”
Priyanka
menarik napas panjang. Ia segera membenamkan gadis itu dalam pelukannya.
Kasihan sekali gadis ini. Padahal bukan salahnya jika mereka ternyata
bersaudara.
“
Aku tahu ini berat, tapi bersabarlah,” Priyanka menepuk pundak gadis itu
kemudian menghapus air matanya. “ Kita pulang yuk.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar