Total Tayangan Halaman

Sabtu, 21 Januari 2017

LOVE MUSICAL Extraodiinary (Musikal 123)




Musikal 123

“ Kita dalam masalah besar!”
Hana mendesah panjang. Ia dan kedua temannya sedang berkumpul di ruang kepala sekolah guna membahas masalah yang baru saja menerpa mereka. Hana benar-benar tak menduga kalau akan ada bencana besar seperti ini. Belum hilang rasa terkejut mereka karena Tifa terkena kanker, sekarang kabar mengejutkan membuat jantung mereka serasa berhenti berdetak.
Gloria mondar-mandir gelisah, sementara Riani meski tak bersuara, tapi raut wajahnya terlihat tidak tenang.
“ Apa Tifa tahu soal ini?” ujar Riani.
“ Pasti tahu,” sahut Gloria sambil menggigit ujung ibu jarinya. “Hei, apa menurut kalian ini ada hubungannya dengan penyakit Tifa? Maksudku Tifa jadi anfal gara-gara kejadian itu?”
“Bisa jadi, tapi bukan itu masalahnya sekarang,” ujar Hana seraya menarik napas panjang. “Dengar, aku tidak yakin pementasan ini masih bisa berjalan. Setelah skandal ini tersebar, masyarakat akan memandang negatif terhadap pementasan kita, sekolah kita, belum lagi nama baik orang-orang yang terlibat dalam pementasan ini. Tapi yang paling menderita di sini pasti orang-orang yang terkait dalam skandal itu. Coba kalian pikir apa yang akan terjadi pada Fi, Adrian, juga Tifa setelah skandal ini tersebar?”
 “ Aku tidak yakin mereka akan bertahan,” ucap Gloria.
“Benar. Kalau kita, tidak akan jadi masalah bila pementasan ini batal, tapi bagi mereka skandal ini benar-benar merusak nama baik mereka. Mereka publik figur. Sangat sulit untuk mendapatkan kembali imej baik di mata masyarakat. Terutama Tifa. Pementasan ini adalah harga mati untuknya.”
Gloria tak menyahut lagi. Dalam benaknya, ia memosisikan dirinya sebagai Tifa dan ternyata itu sangat sulit.
“Untuk itulah aku memanggil kalian berdua kemari. Mungkin saja kita bisa menemukan jalan keluar untuk masalah ini,” Hana memecahkan kebisuan. “Kita tahu sendiri’kan saat ini kondisi Tifa membuatnya tidak bisa diandalkan. Seandainya dia tidak mengalami kondisi buruk juga, mungkin kita tidak terlalu risau saat skandal ini tersebar.
“ Aku mengerti bila kalian masih kesal atas sikap Tifa kemarin, tapi kuharap kalian bisa menyingkirkan perasaan itu dulu. Ini bukan masalah pribadi, tapi menyangkut kepentingan banyak orang. Jika ide kalian berhasil, akan ada banyak hal bisa kita selamatkan. Setelah masalah ini selesai, aku serahkan Tifa pada kalian. Asal kalian tahu saja, aku juga ingin menggantung Tifa dengan tanganku sendiri.”
Tak ada jawaban. Keheningan menyelimuti mereka cukup lama.
“Aku tidak bisa mengambil langkah besar, tapi mungkin kita harus meliburkan latihan untuk sementara waktu. Dengan begitu anggota yang lain tidak akan punya kesempatan untuk membicarakan masalah ini. Selain itu, mereka juga tidak akan mem-bully Fi atau Adrian ketika latihan,” ujar Riani. “Aku tidak punya ide yang bisa menyelamatkan semua orang atau sesuatu yang bisa menyelesaikan masalah ini, tapi aku harap ini bisa memperkecil masalah yang ada.”
Hana mengangguk setuju, “Itu juga bagus, Ri. Sebelum pulang, aku minta kalian mengabarkan pada mereka. Tidak hanya latihan harian, tapi juga latihan menginap. Kita liburkan selama dua minggu, atau paling tidak sampai Tifa selesai kemo.”
Gloria terkesiap, “Eh, Tifa mau kemo?”
“ Ya, tadi saat aku mau membicarakan masalah ini pada Dave, dia bilang kalau Tifa dijadwalkan kemo hari ini,” Hana mendesah panjang kembali. “Perempuan itu benar-benar dalam masalah sekarang.”
Akhirnya Gloria menempelkan pantatnya di kursi. Ekspresinya yang gelisah berubah menjadi seperti orang pesakitan.
“Masalah ini terlalu banyak untuknya. Sepertinya aku terlalu egois saat menyiramnya dengan kopi kemarin.”
“Tidak, Glo. Sekali-sekali dia memang harus diberi pelajaran,” Hana menyunggingkan senyuman sinis. Ia lalu melirik arlojinya. “Pukul satu nanti aku akan ada rapat dengan para petinggi yayasan. Kupikir mereka akan membahas masalah ini. Jadi, bila ada hal yang merugikan untuk pementasan ini, aku akan sekuat tenaga untuk membela perempuan itu.”
“Maksudmu, para dewan akan membatalkan pertunjukkan ini?” tanya Riani.
“Bisa jadi, tapi aku akan berusaha untuk mempetahankannya. Karena aku tahu kalau perempuan itu sangat menginginkan pementasan ini.”
“Sebenarnya bukan hanya dia,” ujar Gloria pelan. “Tapi aku juga merasa senang bisa kembali ke dunia ini lagi. Berat rasanya bila pementasan ini batal setelah apa yang kita alami selama ini. Aku tidak mau Love Musical bubar lagi seperti dulu.”
“Ya, aku juga sama,” sahut Riani.
Hana hanya mengangguk pelan. Matanya beralih pada pemandangan di luar jendela. Cuaca terlihat mendung. Sama mendungnya dengan suasana di dalam ruangan ini.
‘Aku juga ingin bertahan….’
ooOoo

Ben mengumumkan bahwa mereka tidak akan latihan sampai pemberitahuan lebih lanjut. Seisi kelas langsung riuh redam. Mereka mempertanyakan alasan liburan mendadak itu. Namun, Ben hanya menjawab tidak tahu karenan memang ia tidak diberi tahu apa yang terjadi.
Bel pulang memadamkan keriuhan itu. Masing-masing dari mereka memilih segera pulang dan menikmati liburan, meski sebagian yang lain masih mendesak penjelasan dari Ben. Di tengah keributan itu, Kemal mencoba menyelinap ke bangku Priyanka. Untung dia bergerak cepat karena Priyanka sudah menyandang tasnya untuk pulang.
“ Ah, hei! Tunggu sebentar!” Kemal mencenggat Priyanka yang baru saja beranjak. “Tadi mau kuberikan pas istirahat, tapi aku cariin kamu hilang.”
Kemal meletakkan kunci motor di meja Priyanka. Gadis itu terlihat kaget, tapi senyumnya mengembang lebar.
“Oh, cepat juga. Terima kasih ya,” Priyanka meraih kunci motornya. “Kalau gitu aku duluan.”
“ Eh, tunggu sebentar,” Kemal kembali menahan gadis itu. “Ada yang ingin aku tanyakan padamu. Errr, ini soal… temanmu.”
Priyanka berdeham, “Ah, maaf. Aku tidak mau membahas masalah itu.”
“Begini, aku tidak mau bergosip. Aku hanya ingin tahu kebenaran. Yah, kalau bisa aku mau meluruskan jika ada orang-orang yang berkomentar ini tentangnya. Jadi, kupikir kamu tahu sesuatu tentang dia.”
Priyanka menunduk lalu menggelengkan kepalanya. Kemudian kembali menatap Kemal.
“Maaf, tapi aku… aku benar-benar tak bisa menjelaskan. Emm, aku duluan. Terima kasih motornya.”
Priyanka pun berlalu. Menyisakan Kemal yang penuh tanda tanya. Di sisi lain, Ririn juga sedang bergegas pulang karena ia tak sedang tak ingin pulang bareng Andani. Sahabatnya yang satu itu sedang asyik membicarakan aib temannya sendiri dan Ririn risih akan hal itu.
“Mau pulang bareng?”
Ririn menoleh ke belakang. Ia baru saja melewati bangku Alexi dan si pemilik bangku ternyata baru saja mencangklong tasnya. Pemuda itu tersenyum dan Ririn membalasnya dengan anggukan.
“Hari ini terlalu bising ya. Untung kita cepat pulang.”
Ririn mengangguk. Keduanya berjalan berdampingan di koridor. Gadis itu memberanikan diri melirik pemuda di sampingnya.
“Kamu kemana waktu istirahat tadi?”
“Oh, aku berkumpul dengan Jiro Senpai dan Hiro Senpai. Kami baru saja membuat perkumpulan ‘orang-orang yang tahu masalah ini’,” Alexi tersenyum usil. “Kamu juga boleh ikut kok.”
“Tapi aku gak suka bergosip, meski aku tahu kebenarannya.”
Alexi tertawa kecil. Mereka berdua pun sampai di parkiran. Alexi melepas kunci sepedanya, kemudian memberi kode pada Ririn untuk duduk di sadel belakang.
“Ngomong-ngomong, kamu tahu kabar terkini soal Fi?” tanya Alexi setelah sepedanya meluncur.
“Tadi pagi aku bertemu dengannya. Ternyata dia belum tahu kalau skandalnya sudah tersebar. Untung Om-ku cepat datang dan segera membawa Fi pergi. Om-ku bilang, itu adalah misi penyelamatan Fi dari Miss Tifa,” jawab Ririn. Kemudian nada suaranya terdengar ragu. “Ada Adrian juga di dalam mobil itu.”
Alexi membisu sejenak.
“Kamu mencemaskannya? Adrian maksudku.”
“Kita semua mencemaskan mereka, bukan?”
“Ada lebih banyak orang yang lebih suka berbicara hal-hal buruk ketimbang mencemaskan mereka. Ada juga yang hanya sekadar ingin tahu. Tapi yaah, tetap ada yang mencemaskan mereka. Aku hanya ingin memastikan kamu ada di posisi mana.”
Ririn mendengus kesal. Kenapa Alexi seolah-olah menuduhnya? Bukan, bukan menuduhnya akan jadi penggosip, tapi menuduh seperti ia sedang berselingkuh dengan Adrian. Hei, tunggu dulu! Ia tidak akan pernah jadi selingkuhan Adrian dan juga, Alexi bukan pacarnya. Jadi, kenapa laki-laki ini harus diberikan penegasan?
“Bisa kita akhiri saja pembicaraan ini? Aku benar-benar tidak ingin membicarakannya lagi?”
Alexi pun menutup mulutnya. Hingga Ririn sampai di depan rumahnya tak satu patah kata pun keluar dari bibir mereka berdua. Tampaknya tak hanya dunia luar yang panas, tetapi di sini juga ikut-ikutan perang dingin.
“Ayahmu ada di rumah?” kalimat pertama itu meluncur setelah Ririn turun dari sadelnya.
“Eh, tidak,” Ririn tak menyangka kalau Alexi akan menanyakan mengenai ayahnya. “Dia sedang tugas di Pagaralam. Ada apa?”
“Yah, kupikir kalau ada aku harus memberikan salam padanya,” Alexi tersenyum sambil memutar sepedanya. “Baiklah, kalau begitu sampai nanti.”
Ririn menatap punggung Alexi sampai bayangannya menghilang. Semenjak hari itu, sikap Alexi selalu berubah-ubah. Terkadang ia menunjukkan sikap manisnya, tapi kalau sudah membicarakan tentang Adrian, ia langsung berubah menjadi sangat protektif. Mencecar dengan berbagai pertanyaan yang menyudutkan atau akan membisu seolah tidak mengacuhkan orang yang ada di sekitarnya.
Ririn tak mau terbawa perasaan. Namun, jika boleh, Ririn akan mengatakan kalau Alexi seperti sedang cemburu padanya. Pemuda itu cemburu karena perhatian Ririn lebih fokus pada Adrian sekarang. Kalau memang iya, lantas kenapa? Alexi tak patut cemburut. Faktanya, dari dulu Ririn memang menyukai Adrian dan Alexi juga bukan pacarnya. Ingin rasanya Ririn mengatakan hal itu sekeras mungkin pada Alexi.
Sekali lagi, Ririn tak mau terbawa perasaan. Akhirnya ia memilih untuk beristirahat di rumah dan menyimpan perasaan kesalnya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar