Musikal
123
“ Kita dalam masalah
besar!”
Hana
mendesah panjang. Ia dan kedua temannya sedang berkumpul di ruang kepala
sekolah guna membahas masalah yang baru saja menerpa mereka. Hana benar-benar
tak menduga kalau akan ada bencana besar seperti ini. Belum hilang rasa
terkejut mereka karena Tifa terkena kanker, sekarang kabar mengejutkan membuat
jantung mereka serasa berhenti berdetak.
Gloria
mondar-mandir gelisah, sementara Riani meski tak bersuara, tapi raut wajahnya
terlihat tidak tenang.
“
Apa Tifa tahu soal ini?” ujar Riani.
“
Pasti tahu,” sahut Gloria sambil menggigit ujung ibu jarinya. “Hei, apa menurut
kalian ini ada hubungannya dengan penyakit Tifa? Maksudku Tifa jadi anfal
gara-gara kejadian itu?”
“Bisa
jadi, tapi bukan itu masalahnya sekarang,” ujar Hana seraya menarik napas
panjang. “Dengar, aku tidak yakin pementasan ini masih bisa berjalan. Setelah
skandal ini tersebar, masyarakat akan memandang negatif terhadap pementasan
kita, sekolah kita, belum lagi nama baik orang-orang yang terlibat dalam
pementasan ini. Tapi yang paling menderita di sini pasti orang-orang yang
terkait dalam skandal itu. Coba kalian pikir apa yang akan terjadi pada Fi,
Adrian, juga Tifa setelah skandal ini tersebar?”
“ Aku tidak yakin mereka akan bertahan,” ucap
Gloria.
“Benar.
Kalau kita, tidak akan jadi masalah bila pementasan ini batal, tapi bagi mereka
skandal ini benar-benar merusak nama baik mereka. Mereka publik figur. Sangat
sulit untuk mendapatkan kembali imej baik di mata masyarakat. Terutama Tifa.
Pementasan ini adalah harga mati untuknya.”
Gloria
tak menyahut lagi. Dalam benaknya, ia memosisikan dirinya sebagai Tifa dan
ternyata itu sangat sulit.
“Untuk
itulah aku memanggil kalian berdua kemari. Mungkin saja kita bisa menemukan
jalan keluar untuk masalah ini,” Hana memecahkan kebisuan. “Kita tahu
sendiri’kan saat ini kondisi Tifa membuatnya tidak bisa diandalkan. Seandainya
dia tidak mengalami kondisi buruk juga, mungkin kita tidak terlalu risau saat
skandal ini tersebar.
“
Aku mengerti bila kalian masih kesal atas sikap Tifa kemarin, tapi kuharap
kalian bisa menyingkirkan perasaan itu dulu. Ini bukan masalah pribadi, tapi
menyangkut kepentingan banyak orang. Jika ide kalian berhasil, akan ada banyak
hal bisa kita selamatkan. Setelah masalah ini selesai, aku serahkan Tifa pada
kalian. Asal kalian tahu saja, aku juga ingin menggantung Tifa dengan tanganku
sendiri.”
Tak
ada jawaban. Keheningan menyelimuti mereka cukup lama.
“Aku
tidak bisa mengambil langkah besar, tapi mungkin kita harus meliburkan latihan
untuk sementara waktu. Dengan begitu anggota yang lain tidak akan punya
kesempatan untuk membicarakan masalah ini. Selain itu, mereka juga tidak akan
mem-bully Fi atau Adrian ketika
latihan,” ujar Riani. “Aku tidak punya ide yang bisa menyelamatkan semua orang
atau sesuatu yang bisa menyelesaikan masalah ini, tapi aku harap ini bisa
memperkecil masalah yang ada.”
Hana
mengangguk setuju, “Itu juga bagus, Ri. Sebelum pulang, aku minta kalian
mengabarkan pada mereka. Tidak hanya latihan harian, tapi juga latihan
menginap. Kita liburkan selama dua minggu, atau paling tidak sampai Tifa
selesai kemo.”
Gloria
terkesiap, “Eh, Tifa mau kemo?”
“
Ya, tadi saat aku mau membicarakan masalah ini pada Dave, dia bilang kalau Tifa
dijadwalkan kemo hari ini,” Hana mendesah panjang kembali. “Perempuan itu
benar-benar dalam masalah sekarang.”
Akhirnya
Gloria menempelkan pantatnya di kursi. Ekspresinya yang gelisah berubah menjadi
seperti orang pesakitan.
“Masalah
ini terlalu banyak untuknya. Sepertinya aku terlalu egois saat menyiramnya
dengan kopi kemarin.”
“Tidak,
Glo. Sekali-sekali dia memang harus diberi pelajaran,” Hana menyunggingkan
senyuman sinis. Ia lalu melirik arlojinya. “Pukul satu nanti aku akan ada rapat
dengan para petinggi yayasan. Kupikir mereka akan membahas masalah ini. Jadi,
bila ada hal yang merugikan untuk pementasan ini, aku akan sekuat tenaga untuk
membela perempuan itu.”
“Maksudmu,
para dewan akan membatalkan pertunjukkan ini?” tanya Riani.
“Bisa
jadi, tapi aku akan berusaha untuk mempetahankannya. Karena aku tahu kalau
perempuan itu sangat menginginkan pementasan ini.”
“Sebenarnya
bukan hanya dia,” ujar Gloria pelan. “Tapi aku juga merasa senang bisa kembali
ke dunia ini lagi. Berat rasanya bila pementasan ini batal setelah apa yang
kita alami selama ini. Aku tidak mau Love
Musical bubar lagi seperti dulu.”
“Ya,
aku juga sama,” sahut Riani.
Hana
hanya mengangguk pelan. Matanya beralih pada pemandangan di luar jendela. Cuaca
terlihat mendung. Sama mendungnya dengan suasana di dalam ruangan ini.
‘Aku juga ingin bertahan….’
ooOoo
Ben mengumumkan bahwa
mereka tidak akan latihan sampai pemberitahuan lebih lanjut. Seisi kelas
langsung riuh redam. Mereka mempertanyakan alasan liburan mendadak itu. Namun,
Ben hanya menjawab tidak tahu karenan memang ia tidak diberi tahu apa yang
terjadi.
Bel
pulang memadamkan keriuhan itu. Masing-masing dari mereka memilih segera pulang
dan menikmati liburan, meski sebagian yang lain masih mendesak penjelasan dari
Ben. Di tengah keributan itu, Kemal mencoba menyelinap ke bangku Priyanka.
Untung dia bergerak cepat karena Priyanka sudah menyandang tasnya untuk pulang.
“
Ah, hei! Tunggu sebentar!” Kemal mencenggat Priyanka yang baru saja beranjak.
“Tadi mau kuberikan pas istirahat, tapi aku cariin kamu hilang.”
Kemal
meletakkan kunci motor di meja Priyanka. Gadis itu terlihat kaget, tapi
senyumnya mengembang lebar.
“Oh,
cepat juga. Terima kasih ya,” Priyanka meraih kunci motornya. “Kalau gitu aku
duluan.”
“
Eh, tunggu sebentar,” Kemal kembali menahan gadis itu. “Ada yang ingin aku
tanyakan padamu. Errr, ini soal… temanmu.”
Priyanka
berdeham, “Ah, maaf. Aku tidak mau membahas masalah itu.”
“Begini,
aku tidak mau bergosip. Aku hanya ingin tahu kebenaran. Yah, kalau bisa aku mau
meluruskan jika ada orang-orang yang berkomentar ini tentangnya. Jadi, kupikir
kamu tahu sesuatu tentang dia.”
Priyanka
menunduk lalu menggelengkan kepalanya. Kemudian kembali menatap Kemal.
“Maaf,
tapi aku… aku benar-benar tak bisa menjelaskan. Emm, aku duluan. Terima kasih
motornya.”
Priyanka
pun berlalu. Menyisakan Kemal yang penuh tanda tanya. Di sisi lain, Ririn juga
sedang bergegas pulang karena ia tak sedang tak ingin pulang bareng Andani. Sahabatnya
yang satu itu sedang asyik membicarakan aib temannya sendiri dan Ririn risih
akan hal itu.
“Mau
pulang bareng?”
Ririn
menoleh ke belakang. Ia baru saja melewati bangku Alexi dan si pemilik bangku
ternyata baru saja mencangklong tasnya. Pemuda itu tersenyum dan Ririn
membalasnya dengan anggukan.
“Hari
ini terlalu bising ya. Untung kita cepat pulang.”
Ririn
mengangguk. Keduanya berjalan berdampingan di koridor. Gadis itu memberanikan
diri melirik pemuda di sampingnya.
“Kamu
kemana waktu istirahat tadi?”
“Oh,
aku berkumpul dengan Jiro Senpai dan
Hiro Senpai. Kami baru saja membuat perkumpulan
‘orang-orang yang tahu masalah ini’,” Alexi tersenyum usil. “Kamu juga boleh
ikut kok.”
“Tapi
aku gak suka bergosip, meski aku tahu kebenarannya.”
Alexi
tertawa kecil. Mereka berdua pun sampai di parkiran. Alexi melepas kunci
sepedanya, kemudian memberi kode pada Ririn untuk duduk di sadel belakang.
“Ngomong-ngomong,
kamu tahu kabar terkini soal Fi?” tanya Alexi setelah sepedanya meluncur.
“Tadi
pagi aku bertemu dengannya. Ternyata dia belum tahu kalau skandalnya sudah
tersebar. Untung Om-ku cepat datang dan segera membawa Fi pergi. Om-ku bilang,
itu adalah misi penyelamatan Fi dari Miss
Tifa,” jawab Ririn. Kemudian nada suaranya terdengar ragu. “Ada Adrian juga di
dalam mobil itu.”
Alexi
membisu sejenak.
“Kamu
mencemaskannya? Adrian maksudku.”
“Kita
semua mencemaskan mereka, bukan?”
“Ada
lebih banyak orang yang lebih suka berbicara hal-hal buruk ketimbang
mencemaskan mereka. Ada juga yang hanya sekadar ingin tahu. Tapi yaah, tetap
ada yang mencemaskan mereka. Aku hanya ingin memastikan kamu ada di posisi
mana.”
Ririn
mendengus kesal. Kenapa Alexi seolah-olah menuduhnya? Bukan, bukan menuduhnya
akan jadi penggosip, tapi menuduh seperti ia sedang berselingkuh dengan Adrian.
Hei, tunggu dulu! Ia tidak akan pernah jadi selingkuhan Adrian dan juga, Alexi
bukan pacarnya. Jadi, kenapa laki-laki ini harus diberikan penegasan?
“Bisa
kita akhiri saja pembicaraan ini? Aku benar-benar tidak ingin membicarakannya
lagi?”
Alexi
pun menutup mulutnya. Hingga Ririn sampai di depan rumahnya tak satu patah kata
pun keluar dari bibir mereka berdua. Tampaknya tak hanya dunia luar yang panas,
tetapi di sini juga ikut-ikutan perang dingin.
“Ayahmu
ada di rumah?” kalimat pertama itu meluncur setelah Ririn turun dari sadelnya.
“Eh,
tidak,” Ririn tak menyangka kalau Alexi akan menanyakan mengenai ayahnya. “Dia
sedang tugas di Pagaralam. Ada apa?”
“Yah,
kupikir kalau ada aku harus memberikan salam padanya,” Alexi tersenyum sambil
memutar sepedanya. “Baiklah, kalau begitu sampai nanti.”
Ririn
menatap punggung Alexi sampai bayangannya menghilang. Semenjak hari itu, sikap
Alexi selalu berubah-ubah. Terkadang ia menunjukkan sikap manisnya, tapi kalau
sudah membicarakan tentang Adrian, ia langsung berubah menjadi sangat
protektif. Mencecar dengan berbagai pertanyaan yang menyudutkan atau akan
membisu seolah tidak mengacuhkan orang yang ada di sekitarnya.
Ririn
tak mau terbawa perasaan. Namun, jika boleh, Ririn akan mengatakan kalau Alexi
seperti sedang cemburu padanya. Pemuda itu cemburu karena perhatian Ririn lebih
fokus pada Adrian sekarang. Kalau memang iya, lantas kenapa? Alexi tak patut
cemburut. Faktanya, dari dulu Ririn memang menyukai Adrian dan Alexi juga bukan
pacarnya. Ingin rasanya Ririn mengatakan hal itu sekeras mungkin pada Alexi.
Sekali
lagi, Ririn tak mau terbawa perasaan. Akhirnya ia memilih untuk beristirahat di
rumah dan menyimpan perasaan kesalnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar