Musikal 121
Fi melewatkan saja
ibunya yang sudah menunggu dari tadi. Ia terlalu lelah untuk memulai percakapan
dengan ibunya setelah ia menangis saat di rumah sakit. Lagi pula saat ini tiap
kali ia memandang wajah ibunya, ia selalu teringat dengan insiden singkat yang
terlah memporak-porandakan hidupnya.
“
Fi, sayang, kita harus bicara.”
“
Aku capek, Ma.”
Fi
berniat langsung masuk ke kamar, tapi ibunya lebih cepat menangkap lengannya.
Ia pun meronta minta dilepaskan.
“
Kita harus bicara, Fi! Ini semua tentang Adrian dan keluarga kita.”
“
Gak ada yang perlu dibicarain lagi!” Fi terus meronta-ronta. “ Apa yang sudah
Mama dan Papa lakukan dulu sekarang berbalik kepadaku. Sekarang kalian puas?”
“
Itu karena Mama tidak tahu!”
Fi
tertegun. Perlahan ibunya melepaskan genggamannya dan ia pun berhenti meronta.
“
Mama tidak pernah tahu kalau Papamu waktu itu sudah punya keluarga. Dia bilang,
dia sudah bercerai. Sampai ketika ibunya Adrian meninggal, baru Mama tahu kalau
Papamu ternyata masih menjadi suami orang lain. Dan saat itulah semua
terbongkar, baik untuk Mama atau pun keluarga Adrian.”
Fi
menatap mata ibunya yang berkaca-kaca.
“
Fi… kamu pikir Mama akan setega itu merusak rumah tangga orang lain?”
Ibunya
mengatakan hal itu dengan bibir bergetar. Ia tahu kalau Mamanya tidak akan
berbohong dengan ekspresi itu. Fi pun akhirnya tersadar sebuah hal. Ia mulai
berpikir kalau yang menderita adalah ibunya sendiri. Kejadian itu terjadi belasan tahun lalu.
Mungkin saat itu ibunya berusaha mengasingkan diri agar anaknya tak mendengar
caci-maki ibunya yang dituduh sebagai perebut suami orang. Ia juga tak tahu
bagaimana rasanya mendapat tekanan dari keluarga Tifa atau orang-orang di
sekitarnya. Hati Fi pun luluh memikirkan hal-hal itu. Perlahan ia merangkul
tubuh ibunya dalam dekapan hangat.
“
Maaf, Ma. Aku… aku sudah melupakan Mama. Aku benar-benar….”
“
Tidak apa-apa. Bukan salahmu. Hanya saja kita berada dalam nasib yang tidak
menguntungkan.”
Kedua
ibu dan anak ini pun saling menguatkan.
ooOoo
Wenda menyorongkan
tumpukkan bukunya ke sudut meja. Ia baru saja menyelesaikan deretan PR-nya dan
sekarang ia benar-benar muak melihat semua tulisan itu. Waktunya berselancar di
dunia maya.
Sedang
asyik-asyiknya bercengkrama di media sosial, ia mendapati seseorang baru saja
memposting sebuah link video. Jika tidak berhubungan dengan dunia fangirl-nya biasanya Wenda tak akan memedulikannya,
tapi kali ini ia tak bisa tak menghiraukan link itu, setelah membaca headline video yang bertuliskan:
‘SKANDAL TERBARU
ARTIS SENSASIONAL : FI’
Wenda
meng-klik link tersebut. Namun, bukan memuaskan rasa penasarannya ia justru
terkejut setengah mati. Bagaimana tidak, dalam video itu digambarkan Fi sedang
berseteru dengan beberapa orang. Lebih mencengangkannya lagi, Wenda mengenal
tiga dari lima orang yang bersama Fi. Orang-orang itu adalah, Adrian, Dave, dan
Tifa. Dari semua itu, ternyata dialog-dialog yang diucapkan oleh mereka lebih
membuat jantung Wenda hampir berhenti.
‘ Dulu Papa punya istri bernama Laksmi dan Tifa adalah
adiknya Laksmi. Dan Adrian adalah anak Papa dengan perempuan bernama Laksmi.
Dengan kata lain―’
‘ Dengan kata lain dia kakakku!’
Wenda
masih tercengang dengan apa yang baru saja ia saksikan. Rasa tak percaya masih
memengaruhinya untuk menekan tombol replay.
Namun, sebelum ia melakukan hal itu, ponselnya lebih dulu berdenting ribuan
kali. Sederet nama teman-temannya entah itu dari Love Musical atau di luar itu, mereka semua berlomba mendapatkan
konfirmasi darinya.
Ia
saja masih belum bisa mengusir rasa terkejutnya, lantas bagaimana ia bisa
menjawab pertanyaan yang akan ia terima.
ooOoo
Tak jauh berbeda
dengan keadaan Wenda, Ririn pun mengalami hal yang sama. Sejak ia menerima link
yang dikirimkan Andani, ponselnya tak berhenti berdenting. Malam itu semua orang
mempertanyakan tentang keabsahan video
tersebut serta siapa orang sinting yang sudah merekam dan menyebarluaskannya.
Tidak
seperti Wenda yang sibuk membalas semua pesan serta telepon yang masuk, Ririn
justru buru-buru keluar dari kamarnya dan langsung menuju pintu ruang tamu.
Entah kenapa begitu ia menyaksikan video tersebut, pikirannya langsung tertuju
pada Adrian. Buru-buru ia melangkahkan kakinya untuk segera menghampiri pemuda
itu di rumahnya. Namun, ketika akan menarik pintu, tangannya seketika membeku.
Tampaknya hal yang disebut dengan ‘kewarasan’ mulai menguasai pikirannya.
Ya,
benar. Ririn mulai memikirkan apa yang akan ia lakukan. Ke rumah Adrian? Ya,
jika dia ada di rumah. Bagaimana kalau dia di rumah sakit, menunggui Tifa? Oke,
katakanlah dia ada di rumah. Lantas apa yang harus ia lakukan? Mengetuk pintu
rumahnya lalu menunjukkan video itu?
Ririn
menghela napas berat. Ia baru berpikir kalau apa yang akan ia lakukan adalah
perbuatan bodoh. Memberitahunya di saat seperti ini akan membuat pemuda itu
semakin hancur. Lagi pula mungkin Adrian juga sudah tahu, mengingat bagaimana
cepatnya arus komunikasi saat ini. Ia akan menjadi patung bodoh yang
menyaksikan kehancuran pemuda itu.
Ririn
kembali ke kamarnya. Jantungnya berdegup keras. Ia gelisah menunggu hari esok
karena semua tidak akan berjalan menyenangkan lagi seperti hari ini. Ia hanya
berharap kalau ia bisa dibutuhkan untuk Adrian kala pemuda itu rapuh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar