Musikal 118
Setelah memastikan ketiga
temannya pulang, Dave bergegas kembali ke bangsal. Begitu ia hendak membuka
pintu bangsal, tangannya membeku pada gagang pintu. Matanya tak sengaja
menangkap sosok pemuda yang bersandar pada dinding bangsal. Mereka saling beradu
pandang. Namun, pemuda itu langsung mengalihkan tatapannya. Wajahnya terlihat
dingin dengan mata nelangsa yang mengarah ke seluruh penjuru.
“
Ad—Adrian….”
Pemuda
itu mengusap wajahnya, “ Om… kenapa Tante….”
Dave
mendesah panjang. Oh, tidak. Ia baru saja akan berdiskusi dengan Tifa tentang
bagaimana cara memberitahu anak ini. Entah bagaimana anak ini langsung tahu
segalanya.
“
Teriakan teman-teman kalian terdengar ke mana-mana. Menurutmu apa ada
kemungkinan aku tidak mendengar?”
“
Lalu kemana kamu saat itu?”
“
Aku langsung berlari ke ruang dokter. Memastikan apakah berita itu benar atau
cuma drama kalian saja. Dan ternyata….”
Adrian
tak melanjutkan kalimatnya. Tubuhnya yang langsung merosot. Tangisnya pecah.
Dave mengerti bagaimana perasaan pemuda itu. Ia berjongkok di samping pemuda
itu dan memeluknya.
“
Aku tahu ini berat bagimu, tapi―”
“
Tapi aku harus bagaimana, Om?” isak Adrian. “ Ini bahkan belum 24 jam sejak aku
kehilangan Fi!”
“
Oh, Tuhan….” Keluh Dave. Ia mengguncang pelan bahu Adrian. “ Kuatkan dirimu! Adrian,
Om tahu ini sangat…sangat berat untukmu,
tapi ingat, Tantemu saat ini sangat butuh kamu. Om juga masih gak bisa menerima
ini, tapi Om juga tidak bisa menyerah begitu saja.”
Adrian
menekankan kepalanya pada dinding. Sakit kepala Dave sepertinya menjalar pada
Adrian.
“
Untuk saat ini kita harus ingat siapa diri kita sekarang. Ingat Adrian, kita
ini aktor.”
Kata-kata
Dave tak ubahnya seperti sihir. Seketika Adrian bangkit. Wajahnya yang tampak
terpuruk langsung menghilang, seolah tak pernah terjadi apa-apa.
“ Om
benar. Aku mungkin tidak bisa melakukan apa-apa, tapi aku bisa berpura-pura
tidak terjadi apa-apa.”
Dave
tersenyum tipis. Ia membimbing Adrian untuk bertemu dengan Tifa. Hati keduanya
tengah berkecamuk saat bertatapan dengan wanita itu, tapi tak seorang pun yang
menunjukkan emosi yang sebenarnya.
“
Lama banget,” sapa Tifa sambil mengusap wajahnya.
“ Ah
ya, tapi sekarang aku sudah kenyang,” Adrian menggaruk pelipisnya. “Mungkin aku
harus pulang dulu dan mengajak Nenek ke sini. Kupikir dia harus tahu.”
Tifa
tersenyum sinis, “ Ya, ajak saja.”
Adrian
mengangguk lalu menatap Dave, “ Om, bisa tolong jaga Tante lagi? Aku akan
segera kembali.”
“
Tidak masalah,” jawab Dave sambil tersenyum.
Pintu
bangsal kembali terbuka. Kemudian muncullah seorang pria berambut kelabu dengan
kumis tipis yang melingkari mulutnya. Ia menyapa Tifa dengan tatapan tajam.
Namun, Tifa membalasnya dengan senyuman yang santai.
“
Tidak perlu. Kalian berdua bisa pulang dulu karena orang ini yang akan
menggantikan kalian.”
Dave
dan Adrian bertukar pandang, lalu bergantian menatap Tifa dan tamu baru mereka.
Dalam benak Adrian bertanya-tanya siapa pria ini dan entah kejutan apa lagi
yang akan disampaikan. Sementara Dave justru bersikap was-was. Mana tahu kalau
pria—yang tampan untuk seusianya—adalah suami Tifa. Mana tahu kalau di luar
sana Tifa benar-benar nikah siri.
“ Silakan
perkenalkan dirimu pada keponakan dan temanku,” ujar Tifa setengah terkekeh.
“ Aku
sudah tahu tentang mereka,” ujar pria itu seraya menggaruk pelipisnya. Ia
menunjuk Adrian dan Dave bergantian. “ Kamu pasti Adrian, sang keponakan, dan
kamu adalah Dave, sang masa lalu.”
Adrian
benar-benar mau tertawa mendengar jawaban pria itu, sementara Tifa sudah
melepaskan tawanya. Sang masa lalu?
Tiga kata itu semakin menguatkan dugaan Dave kalau pria ini adalah suami siri
Tifa.
“ That’s rude,” Tifa menghentikan tawanya.
“ Baiklah, semuanya. Perkenalkan ini Dokter Edo. Dia yang merawatku selama di Amerika.”
Adrian
mengangguk paham, sementara Dave menghela napas lega. Setidaknya laki-laki ini
bukan saingannya.
“
Nah, sekarang kalian pulang dulu. Datang saja ketika sore atau malam. Aku mau
istirahat dulu, lagi pula aku yakin akan ada pembicaraan panjang antara aku dan
dokter tampanku ini.”
Tifa
memamerkan cengiran super cerianya. Merasa keadaan cukup menyakinkan, akhirnya
Adrian dan Dave pun meninggalkan Tifa dengan laki-laki itu. Tepat setelah pintu
bangsal tertutup kembali senyum yang menghiasi wajah Tifa memudar. Ia membuang
muka seraya mendesah panjang.
“
Entah siapa yang memberitahu, tapi kenapa Anda ke sini?”
Laki-laki
itu berjalan mendekati tiang infus, “ Dengar, saat ini kamu masih tanggung
jawab saya. Sampai ke pintu neraka pun kamu akan saya kejar.”
Tifa
mengerucutkan bibirnya. Laki-laki itu masih dengan tatapan tajamnya menggenggam
tiang infus.
“
Sudah saatnya, Tifa. Sudah saatnya berhenti. Menyerahlah sebelum kamu
benar-benar berakhir.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar