Total Tayangan Halaman

Sabtu, 07 Januari 2017

LOVE MUSICAL Extraodinary (Musikal 118)




Musikal 118

Setelah memastikan ketiga temannya pulang, Dave bergegas kembali ke bangsal. Begitu ia hendak membuka pintu bangsal, tangannya membeku pada gagang pintu. Matanya tak sengaja menangkap sosok pemuda yang bersandar pada dinding bangsal. Mereka saling beradu pandang. Namun, pemuda itu langsung mengalihkan tatapannya. Wajahnya terlihat dingin dengan mata nelangsa yang mengarah ke seluruh penjuru.
“ Ad—Adrian….”
Pemuda itu mengusap wajahnya, “ Om… kenapa Tante….”
Dave mendesah panjang. Oh, tidak. Ia baru saja akan berdiskusi dengan Tifa tentang bagaimana cara memberitahu anak ini. Entah bagaimana anak ini langsung tahu segalanya.
“ Teriakan teman-teman kalian terdengar ke mana-mana. Menurutmu apa ada kemungkinan aku tidak mendengar?”
“ Lalu kemana kamu saat itu?”
“ Aku langsung berlari ke ruang dokter. Memastikan apakah berita itu benar atau cuma drama kalian saja. Dan ternyata….”
Adrian tak melanjutkan kalimatnya. Tubuhnya yang langsung merosot. Tangisnya pecah. Dave mengerti bagaimana perasaan pemuda itu. Ia berjongkok di samping pemuda itu dan memeluknya.
“ Aku tahu ini berat bagimu, tapi―”
“ Tapi aku harus bagaimana, Om?” isak Adrian. “ Ini bahkan belum 24 jam sejak aku kehilangan Fi!”
“ Oh, Tuhan….” Keluh Dave. Ia mengguncang pelan bahu Adrian. “ Kuatkan dirimu! Adrian, Om tahu ini sangat…sangat  berat untukmu, tapi ingat, Tantemu saat ini sangat butuh kamu. Om juga masih gak bisa menerima ini, tapi Om juga tidak bisa menyerah begitu saja.”
Adrian menekankan kepalanya pada dinding. Sakit kepala Dave sepertinya menjalar pada Adrian.
“ Untuk saat ini kita harus ingat siapa diri kita sekarang. Ingat Adrian, kita ini aktor.”
Kata-kata Dave tak ubahnya seperti sihir. Seketika Adrian bangkit. Wajahnya yang tampak terpuruk langsung menghilang, seolah tak pernah terjadi apa-apa.
“ Om benar. Aku mungkin tidak bisa melakukan apa-apa, tapi aku bisa berpura-pura tidak terjadi apa-apa.”
Dave tersenyum tipis. Ia membimbing Adrian untuk bertemu dengan Tifa. Hati keduanya tengah berkecamuk saat bertatapan dengan wanita itu, tapi tak seorang pun yang menunjukkan emosi yang sebenarnya.
“ Lama banget,” sapa Tifa sambil mengusap wajahnya.
“ Ah ya, tapi sekarang aku sudah kenyang,” Adrian menggaruk pelipisnya. “Mungkin aku harus pulang dulu dan mengajak Nenek ke sini. Kupikir dia harus tahu.”
Tifa tersenyum sinis, “ Ya, ajak saja.”
Adrian mengangguk lalu menatap Dave, “ Om, bisa tolong jaga Tante lagi? Aku akan segera kembali.”
“ Tidak masalah,” jawab Dave sambil tersenyum.
Pintu bangsal kembali terbuka. Kemudian muncullah seorang pria berambut kelabu dengan kumis tipis yang melingkari mulutnya. Ia menyapa Tifa dengan tatapan tajam. Namun, Tifa membalasnya dengan senyuman yang santai.
“ Tidak perlu. Kalian berdua bisa pulang dulu karena orang ini yang akan menggantikan kalian.”
Dave dan Adrian bertukar pandang, lalu bergantian menatap Tifa dan tamu baru mereka. Dalam benak Adrian bertanya-tanya siapa pria ini dan entah kejutan apa lagi yang akan disampaikan. Sementara Dave justru bersikap was-was. Mana tahu kalau pria—yang tampan untuk seusianya—adalah suami Tifa. Mana tahu kalau di luar sana Tifa benar-benar nikah siri.
“ Silakan perkenalkan dirimu pada keponakan dan temanku,” ujar Tifa setengah terkekeh.
“ Aku sudah tahu tentang mereka,” ujar pria itu seraya menggaruk pelipisnya. Ia menunjuk Adrian dan Dave bergantian. “ Kamu pasti Adrian, sang keponakan, dan kamu adalah Dave, sang masa lalu.”
Adrian benar-benar mau tertawa mendengar jawaban pria itu, sementara Tifa sudah melepaskan tawanya. Sang masa lalu? Tiga kata itu semakin menguatkan dugaan Dave kalau pria ini adalah suami siri Tifa.
That’s rude,” Tifa menghentikan tawanya. “ Baiklah, semuanya. Perkenalkan ini Dokter Edo. Dia yang merawatku selama di Amerika.”
Adrian mengangguk paham, sementara Dave menghela napas lega. Setidaknya laki-laki ini bukan saingannya.
“ Nah, sekarang kalian pulang dulu. Datang saja ketika sore atau malam. Aku mau istirahat dulu, lagi pula aku yakin akan ada pembicaraan panjang antara aku dan dokter tampanku ini.”
Tifa memamerkan cengiran super cerianya. Merasa keadaan cukup menyakinkan, akhirnya Adrian dan Dave pun meninggalkan Tifa dengan laki-laki itu. Tepat setelah pintu bangsal tertutup kembali senyum yang menghiasi wajah Tifa memudar. Ia membuang muka seraya mendesah panjang.
“ Entah siapa yang memberitahu, tapi kenapa Anda ke sini?”
Laki-laki itu berjalan mendekati tiang infus, “ Dengar, saat ini kamu masih tanggung jawab saya. Sampai ke pintu neraka pun kamu akan saya kejar.”
Tifa mengerucutkan bibirnya. Laki-laki itu masih dengan tatapan tajamnya menggenggam tiang infus.
“ Sudah saatnya, Tifa. Sudah saatnya berhenti. Menyerahlah sebelum kamu benar-benar berakhir.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar