Total Tayangan Halaman

Sabtu, 07 Januari 2017

LOVE MUSICAL Extraodinary (Musikal 119)




Musikal 119

Edo Saptiawan. Dokter spesialis hepatologi, usus dan pencernaan, serta penyakit dalam dengan segudang pengalaman. Menamatkan gelar Ph.D. di Amerika. Ratusan pasien dengan berbagai keluhan sudah ia tangani. Namun, di umurnya yang menjelang 55 tahun baru kali ini ia bertemu dengan seorang pasien yang super bebal.
Ia dan Tifa bertemu dua tahun yang lalu di sebuah rumah sakit di Amerika. Saat itu ia sendang mengerjakan disertasinya dan membantu menangani kasus dokter pembimbingnya. Di saat itulah ia menangani penyakit Tifa. Semua berjalan seperti biasa. Tifa menuruti semua perintah dokter dan menjalani semua perawatan. Namun, semuanya berjalan singkat. Setahun berikutnya Tifa mulai membandel. Ia jarang melakukan kontrol dan bahkan melakukan hal-hal yang dilarang untuknya, termasuk mengadakan pertunjukkan lagi.
Puluhan tahun ia menjadi dokter, tapi baru kali ini merasa dipermainkan oleh seorang pasien. Dokter Edo tidak akan membiarkan orang ini mempermainkannya lagi.
“ Sekarang waktunya gencatan senjata. Lakukan apa yang saya suruh atau pilih bunuh diri sekarang!”
Tifa terkekeh seraya mengangkat kedua tangannya, “ Baiklah, aku menyerah sekarang. Hanya sekarang. Karena aku masih banyak urusan di luar sana.”
Dokter Edo tersenyum sinis, “ Jadwal kemoterapi-mu sudah saya jadwalkan lusa. Pokoknya satu minggu ini kamu dilarang kabur dari rumah sakit!”
Tifa berdecak kesal, “ Iya, aku janji.”
ooOoo

Adrian memang masih bisa menguasai stirnya, tapi tidak dengan perasaannya. Perasaan sesak itu masih menyelimuti hatinya. Dua peristiwa yang membuatnya—hampir—kehilangan segalanya. Tidak hanya sampai di situ. Saat ini ia masih dipusingkan dengan bagaimana cara untuk memberitahukan neneknya. Apa yang akan terjadi pada wanita tua itu bila ia tahu kalau anak yang hanya tinggal satu-satunya ternyata mengidap penyakit berbahaya. Jangan-jangan neneknya akan terkena serangan jantung mendadak. Kalau sudah begitu entah bagaimana kelanjutan hidup Adrian. Bisa jadi ini akan membuatnya kehilangan untuk ketiga kali.
Mobil Tifa terpakir di depan halaman rumah neneknya. Adrian mendesah panjang. Ia tak mau itu terjadi.
Rumah tampak sepi saat Adrian masuk. Ia memanggil neneknya dan terdengar sahutan dari kamar. Begitu ia masuk ke kamar, pemandangan mengejutkan menyapanya. Tahu-tahu neneknya sedang memasukkan beberapa pakaian ke dalam tas besar. Adrian bingung dengan tingkah neneknya yang tampaknya berniat untuk bepergian.
“ Ne—nenek, Nenek, mau kemana?”
“ Rumah sakit. Tantemu sedang dirawat di sana’kan?”
Adrian terkesiap, “ Nenek tahu dari mana?”
“ Dokter Edo menelepon semalam. Sepertinya penyakit Tantemu kumat.”
Adrian terlihat nanar. Jawaban neneknya yang sangat pasti dan terdengar tenang membuat pikirannya menyusun daftar pertanyaan panjang.
“ Tu—tunggu sebentar! Nenek sudah tahu tentang Tante dan tentang Dokter Edo? Lho, kenapa bisa jadi seperti ini?”
July menarik napas. Ia menyentuh kedua bahu cucunya yang tampak tegang seraya tersenyum tenang.
“ Duduklah, ada cerita panjang yang harus kamu dengar.”
Meski menurut, tapi tatapan sangsi masih menghiasi wajah Adrian. July pun memulai ceritanya.
“ Sekitar satu setengah tahun yang lalu Nenek pergi ke Amerika, mengunjungi Tantemu. Nenek nekad ke sana karena Tantemu sudah beberapa bulan tidak memberi kabar. Jika Nenek memberitahu kedatangan Nenek, dia pasti akan bersandiwara lagi.
“ Tantemu kaget saat Nenek tiba-tiba mengetuk pintu apartemennya. Saat itu ia seperti hendak mau pergi ke suatu tempat. Nenek memaksa ikut dan Tantemu pun terpaksa mengajak Nenek. Meski Tantemu tidak bilang mau kemana, tapi akhirnya Nenek tahu tempat apa yang kami tuju.”
July kembali menarik napas, “ Kami sampai di rumah sakit dan bertemu dengan Dokter Edo. Di sanalah Nenek tahu segalanya apa yang Tantemu sembunyikan selama ini.”
Adrian akhirnya sadar kenapa akhir-akhir ini hubungan antara Nenek dan Tantenya semakin memburuk. Sifat Tantenya memang selalu bikin kesal, tapi ia baru merasa kenapa Neneknya sekarang justru mengabulkan permintaan Tifa yang tidak masuk akal, termasuk untuk tetap melajang.
“ Karena Nenek tahu bagaimana sifat Tantemu, makanya Nenek meminta Dokter Edo untuk mengawasi Tantemu. Ternyata dugaan Nenek benar, Tantemu kabur dari pengawasan Dokter Edo dan bersembunyi di sini. Makanya Nenek buru-buru menghubungi Dokter Edo untuk melakukan pengawasan lagi di sini, dan sekarang apa yang kami takutkan terjadi. Tantemu kembali terbaring di rumah sakit.”
Entah kenapa mendengar cerita Neneknya, ia merasa menjadi sosok yang paling tidak tahu apa-apa di sini. Perasaan kesal langsung menyelimuti hatinya.
“ Lalu kenapa Tante atau Nenek tidak pernah cerita padaku soal ini? Kenapa aku baru tahu sekarang setelah semua terjadi?”
“ Itu karena Tantemu besikeras untuk melaksanakan pertunjukkan ini. Dia tahu kalau kamu akan panik jika mengetahuinya. Nenek juga mungkin tidak akan tahu andai Nenek tidak pergi waktu itu.”
Adrian menarik napas pelan-pelan. Mencoba menenangkan syarafnya yang sudah tegang dari kemarin sore.
“ Ngomong-ngomong apa maksudmu ‘setelah semua terjadi’? Memangnya apa yang sudah terjadi?”
Adrian terkesiap. Sepertinya sang nenek tidak mengetahui perihal kejadian di kafe kemarin. Mungkin saat ini giliran dia yang tutup mulut. Ia tidak mau kalau kejadian kemarin justru menambah beban pikiran neneknya.
“ Tidak ada, Nek. Hanya kejadian ketika Tante pingsan dan itu mengejutkanku.”
July mengangguk, “ Baiklah, kalau begitu Nenek pergi dulu. Biar Nenek yang menjaga Tantemu malam ini.”
“ Eh, tapi Nek—“
“ Tidak. Kamu sudah terlalu lelah. Entah apa yang sebenarnya terjadi, tapi Nenek tahu kamu butuh istirahat. Nenek tidak mau kalau semua anggota keluarga ini berakhir di rumah sakit.”
Adrian mau membantah lagi, tapi aura neneknya lebih memaksa. Ia terpaksa mengiyakan meski enggan.
ooOoo

July membuka pintu bangsal. Baru kali ini ia melihat anak bungsunya terbaring patuh. Semua orang tahu bagaimana keseharian Tifa. Energik, bandel, dan cerewet. Entah bagaimana cara Dokter Edo bisa menaklukan cacing kepanasan satu ini.
“ Hai, Bu,” Tifa melambaikan tangannya. “ Mana Adrian?”
“ Dia Ibu suruh istirahat. Biar Ibu saja yang menunggumu malam ini.”
“ Ah, bagus. Kasihan dia, pasti lelah sekali. Sebenarnya aku sendirian juga tidak apa, tapi ya sudah kalau Ibu memaksa,” ujar Tifa. “ Ngomong-ngomong, jadwal kemoterapi-ku lusa.”
“ Syukur kalau kamu mau nurut. Ibu sudah kehabisan akal supaya kamu mau berobat lagi.”
“ Karena kali ini aku sudah tersudut. Lagi pula aku masih banyak kerjaan.”
July mendengus kesal, “ Bisakah kamu pikirkan diri sendiri dulu? Lupakan dulu segala urusanmu di luar!”
Bibir Tifa mengerucut. Ia tak menyahut lagi. Namun, lisannya berbisik sesuatu.
“ Maaf, Bu, tapi aku sudah berjanji.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar