Musikal 119
Edo Saptiawan. Dokter
spesialis hepatologi, usus dan pencernaan, serta penyakit dalam dengan segudang
pengalaman. Menamatkan gelar Ph.D. di Amerika. Ratusan pasien dengan berbagai
keluhan sudah ia tangani. Namun, di umurnya yang menjelang 55 tahun baru kali ini
ia bertemu dengan seorang pasien yang super bebal.
Ia
dan Tifa bertemu dua tahun yang lalu di sebuah rumah sakit di Amerika. Saat itu
ia sendang mengerjakan disertasinya dan membantu menangani kasus dokter
pembimbingnya. Di saat itulah ia menangani penyakit Tifa. Semua berjalan
seperti biasa. Tifa menuruti semua perintah dokter dan menjalani semua
perawatan. Namun, semuanya berjalan singkat. Setahun berikutnya Tifa mulai
membandel. Ia jarang melakukan kontrol dan bahkan melakukan hal-hal yang
dilarang untuknya, termasuk mengadakan pertunjukkan lagi.
Puluhan
tahun ia menjadi dokter, tapi baru kali ini merasa dipermainkan oleh seorang
pasien. Dokter Edo tidak akan membiarkan orang ini mempermainkannya lagi.
“
Sekarang waktunya gencatan senjata. Lakukan apa yang saya suruh atau pilih
bunuh diri sekarang!”
Tifa
terkekeh seraya mengangkat kedua tangannya, “ Baiklah, aku menyerah sekarang.
Hanya sekarang. Karena aku masih banyak urusan di luar sana.”
Dokter
Edo tersenyum sinis, “ Jadwal kemoterapi-mu sudah saya jadwalkan lusa. Pokoknya
satu minggu ini kamu dilarang kabur dari rumah sakit!”
Tifa
berdecak kesal, “ Iya, aku janji.”
ooOoo
Adrian memang masih
bisa menguasai stirnya, tapi tidak dengan perasaannya. Perasaan sesak itu masih
menyelimuti hatinya. Dua peristiwa yang membuatnya—hampir—kehilangan segalanya.
Tidak hanya sampai di situ. Saat ini ia masih dipusingkan dengan bagaimana cara
untuk memberitahukan neneknya. Apa yang akan terjadi pada wanita tua itu bila
ia tahu kalau anak yang hanya tinggal satu-satunya ternyata mengidap penyakit
berbahaya. Jangan-jangan neneknya akan terkena serangan jantung mendadak. Kalau
sudah begitu entah bagaimana kelanjutan hidup Adrian. Bisa jadi ini akan
membuatnya kehilangan untuk ketiga kali.
Mobil
Tifa terpakir di depan halaman rumah neneknya. Adrian mendesah panjang. Ia tak
mau itu terjadi.
Rumah
tampak sepi saat Adrian masuk. Ia memanggil neneknya dan terdengar sahutan dari
kamar. Begitu ia masuk ke kamar, pemandangan mengejutkan menyapanya. Tahu-tahu
neneknya sedang memasukkan beberapa pakaian ke dalam tas besar. Adrian bingung
dengan tingkah neneknya yang tampaknya berniat untuk bepergian.
“
Ne—nenek, Nenek, mau kemana?”
“
Rumah sakit. Tantemu sedang dirawat di sana’kan?”
Adrian
terkesiap, “ Nenek tahu dari mana?”
“
Dokter Edo menelepon semalam. Sepertinya penyakit Tantemu kumat.”
Adrian
terlihat nanar. Jawaban neneknya yang sangat pasti dan terdengar tenang membuat
pikirannya menyusun daftar pertanyaan panjang.
“
Tu—tunggu sebentar! Nenek sudah tahu tentang Tante dan tentang Dokter Edo? Lho,
kenapa bisa jadi seperti ini?”
July
menarik napas. Ia menyentuh kedua bahu cucunya yang tampak tegang seraya
tersenyum tenang.
“
Duduklah, ada cerita panjang yang harus kamu dengar.”
Meski
menurut, tapi tatapan sangsi masih menghiasi wajah Adrian. July pun memulai
ceritanya.
“
Sekitar satu setengah tahun yang lalu Nenek pergi ke Amerika, mengunjungi
Tantemu. Nenek nekad ke sana karena Tantemu sudah beberapa bulan tidak memberi
kabar. Jika Nenek memberitahu kedatangan Nenek, dia pasti akan bersandiwara
lagi.
“
Tantemu kaget saat Nenek tiba-tiba mengetuk pintu apartemennya. Saat itu ia
seperti hendak mau pergi ke suatu tempat. Nenek memaksa ikut dan Tantemu pun
terpaksa mengajak Nenek. Meski Tantemu tidak bilang mau kemana, tapi akhirnya
Nenek tahu tempat apa yang kami tuju.”
July
kembali menarik napas, “ Kami sampai di rumah sakit dan bertemu dengan Dokter
Edo. Di sanalah Nenek tahu segalanya apa yang Tantemu sembunyikan selama ini.”
Adrian
akhirnya sadar kenapa akhir-akhir ini hubungan antara Nenek dan Tantenya
semakin memburuk. Sifat Tantenya memang selalu bikin kesal, tapi ia baru merasa
kenapa Neneknya sekarang justru mengabulkan permintaan Tifa yang tidak masuk
akal, termasuk untuk tetap melajang.
“
Karena Nenek tahu bagaimana sifat Tantemu, makanya Nenek meminta Dokter Edo
untuk mengawasi Tantemu. Ternyata dugaan Nenek benar, Tantemu kabur dari
pengawasan Dokter Edo dan bersembunyi di sini. Makanya Nenek buru-buru
menghubungi Dokter Edo untuk melakukan pengawasan lagi di sini, dan sekarang
apa yang kami takutkan terjadi. Tantemu kembali terbaring di rumah sakit.”
Entah
kenapa mendengar cerita Neneknya, ia merasa menjadi sosok yang paling tidak
tahu apa-apa di sini. Perasaan kesal langsung menyelimuti hatinya.
“
Lalu kenapa Tante atau Nenek tidak pernah cerita padaku soal ini? Kenapa aku
baru tahu sekarang setelah semua terjadi?”
“
Itu karena Tantemu besikeras untuk melaksanakan pertunjukkan ini. Dia tahu
kalau kamu akan panik jika mengetahuinya. Nenek juga mungkin tidak akan tahu
andai Nenek tidak pergi waktu itu.”
Adrian
menarik napas pelan-pelan. Mencoba menenangkan syarafnya yang sudah tegang dari
kemarin sore.
“
Ngomong-ngomong apa maksudmu ‘setelah semua terjadi’? Memangnya apa yang sudah
terjadi?”
Adrian
terkesiap. Sepertinya sang nenek tidak mengetahui perihal kejadian di kafe
kemarin. Mungkin saat ini giliran dia yang tutup mulut. Ia tidak mau kalau
kejadian kemarin justru menambah beban pikiran neneknya.
“
Tidak ada, Nek. Hanya kejadian ketika Tante pingsan dan itu mengejutkanku.”
July
mengangguk, “ Baiklah, kalau begitu Nenek pergi dulu. Biar Nenek yang menjaga
Tantemu malam ini.”
“
Eh, tapi Nek—“
“
Tidak. Kamu sudah terlalu lelah. Entah apa yang sebenarnya terjadi, tapi Nenek
tahu kamu butuh istirahat. Nenek tidak mau kalau semua anggota keluarga ini
berakhir di rumah sakit.”
Adrian
mau membantah lagi, tapi aura neneknya lebih memaksa. Ia terpaksa mengiyakan
meski enggan.
ooOoo
July membuka pintu
bangsal. Baru kali ini ia melihat anak bungsunya terbaring patuh. Semua orang
tahu bagaimana keseharian Tifa. Energik, bandel, dan cerewet. Entah bagaimana
cara Dokter Edo bisa menaklukan cacing kepanasan satu ini.
“
Hai, Bu,” Tifa melambaikan tangannya. “ Mana Adrian?”
“
Dia Ibu suruh istirahat. Biar Ibu saja yang menunggumu malam ini.”
“
Ah, bagus. Kasihan dia, pasti lelah sekali. Sebenarnya aku sendirian juga tidak
apa, tapi ya sudah kalau Ibu memaksa,” ujar Tifa. “ Ngomong-ngomong, jadwal
kemoterapi-ku lusa.”
“
Syukur kalau kamu mau nurut. Ibu sudah kehabisan akal supaya kamu mau berobat
lagi.”
“
Karena kali ini aku sudah tersudut. Lagi pula aku masih banyak kerjaan.”
July
mendengus kesal, “ Bisakah kamu pikirkan diri sendiri dulu? Lupakan dulu segala
urusanmu di luar!”
Bibir
Tifa mengerucut. Ia tak menyahut lagi. Namun, lisannya berbisik sesuatu.
“
Maaf, Bu, tapi aku sudah berjanji.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar