Total Tayangan Halaman

Sabtu, 14 Januari 2017

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 122)




Musikal 122

Ririn tak sengaja berpapasan dengan Fi saat ia baru akan masuk pintu gerbang sekolah. Mata mereka bertemu ketika Fi baru saja turun dari mobil. Hanya saja ia merasa risih dengan cara Ririn menatapnya pagi itu.
“ Apa?” tanyanya ketus.
Ririn masih termangu. Namun, saat sadar Fi melewatinya, ia buru-buru mencegah kepergian gadis itu.
“ Ada apa sih?”
Kebiasaan Ririn menggaruk ujung hidungnya kembali kumat, “ Ahh, Fi. Apa sebaiknya kamu gak usah masuk sekolah dulu?”
Fi menatapnya heran, “ Memangnya apa alasan kamu melarang aku masuk sekolah?”
Mendengar jawaban Fi, giliran Ririn yang menatapnya heran.
“ Lho, kamu memangnya gak baca berita? Nonton gosip pagi mungkin?”
“ Semalam Hp-ku kumatikan dan baru sadar kalau memang habis baterei. Nih, baru saja di-charge di mobil,” Fi menunjukkan layar ponselnya yang sedang dalam proses booting. “ Aku gak langganan Koran dan aku juga gak suka nonton gosip di TV. Jadi, apa ada hubungannya antara semua itu dengan larangan aku gak boleh masuk sekolah?”
Ririn menarik napas panjang. Terlihat rasa takut dan ragu dari tatapan matanya.
“ Dengar, Fi. Keributan di kafe waktu itu, ternyata direkam seseorang dan semalam orang iseng itu sudah menyebarkannya. Semua orang heboh karena skandal video itu.”
Tubuh Fi mengejang, matanya terbelalak. Seketika ia mengguncang-guncang bahu Ririn.
“ Siapa? Siapa orang yang merekamnya?”
“ A—aku gak tahu, Fi,” Ririn menjawab dengan gugup. “ Tapi aku berani sumpah kalau bukan aku yang melakukannya. Aku juga berani jamin kalau Priyanka, Alexi, Hiro dan Jiro senpai juga tidak terlibat.”
Tangannya Fi mencengkram bahu Ririn lebih kuat. Di saat yang sama, ponselnya baru saja aktif dengan sempurna. Di saat itu pula puluhan pesan masuk. Disusul dengan deringan telepon yang tak putus-putus.
Tak perlu dilihat, Fi sudah tahu siapa yang akan kerepotan bila ada skandal yang menyangkut dirinya tersebar luas. Kalau bukan pihak manajemennya, pasti orang-orang dari media. Mereka adalah orang-orang yang sensitive walau hanya masalah kecil, apalagi skandal besar seperti ini.
“ Fi… teleponmu….”
Ponsel yang ada di tangannya tak ayal berubah bagaikan bongkahan es yang mampu membuatnya menggigil. Ia melirik layar ponselnya dengan takut. Setelah memastikan nama yang tertera berasal dari pihak manajemen, barulah ia memberanikan diri mengangkat deringan itu.
Seperti yang ia duga, setelah sapaan halo, sederet pertanyaan langsung dilayangkan kepadanya. Tentu saja mengenai skandal video itu. Bagaimana yang sebenarnya terjadi, siapa yang merekam, dan masih banyak lagi.
Fi merasa pusing. Dunia telah berputar lebih cepat dari biasa. Tubuhnya limbung dan jika tak ada Ririn di sana, mungkin ia sudah terkapar pingsan.
“ Fi, kamu baik-baik saja?”
Ririn tak bisa menebak ekspresi gadis itu. Perasaan marah, bingung, dan sedih semuanya tergambar di sana. Fi tak menjawab pertanyaannya. Hanya terdengar desah napasnya yang pendek-pendek.
Di tengah kebingungannya, tiba-tiba sebuah mobil berhenti di dekat mereka. Si pemilik mobil itu turun dan menghampiri keduanya. Ririn cukup kaget saat mengetahui kalau si pemilik mobil adalah pamannya sendiri.
“ Om, sedang apa di sini?”
“ Om di sini untuk membawa Fi,” Dave kemudian menatap Fi. “ Fi, keadaannmu dalam gawat. Kamu ikut saya dan tidak usah sekolah hari ini. Akan ada banyak pers di luar sana dan akan menyusahkan semua orang kalau kamu masih di sini.”
Fi masih bergeming, sedangkan Ririn terlihat bingung.
“ Ini perintah langsung dari Tifa,” ujar Dave.
Mendengar nama itu amarah Fi langsung meledak, “ Kenapa? Kenapa aku harus menurutinya? Kenapa semua orang harus menuruti kehendaknya? Hanya karena dia seorang sutradara, bukan berarti aku harus selalu tunduk padanya.”
“ Masuklah, Fi. Kita tidak punya banyak waktu.”
Kaca mobil Dave tiba-tiba turun lalu tampaklah seorang pemuda dari dalam mobil. Baik Fi maupun Ririn, mereka sama-sama terkejut saat melihat sosok Adrian dari balik kaca mobil.
Ririn berdeham, “ Kupikir kamu harus ikut, Fi. Mungkin Miss Tifa sudah punya rencana untuk meredakan situasi ini.”
Perasaan Fi semakin kacau balau saat matanya bertemu pandang dengan Adrian. Kenapa semua masalah menumpuk jadi satu dalam tempo yang sangat singkat. Mau tak mau akhirnya ia digiring Dave masuk ke mobil. Saat ini ia memang sama sekali tak punya pilihan untuk menghindar.
“ Rin, kamu sekolah saja baik-baik. Jangan bicarakan apa pun mengenai kasus ini! Demi nama baik kita semua.”
Ririn mengangguk pelan. Kemudian mobil itu pun perlahan meninggalkannya. Hanya kepulan asap sisa pembakaran yang masih di sana. Gadis itu melangkahkan kakinya menuju gerbang sekolah. Hatinya berdebar-debar membayangkan bagaimana reaksi teman-temannya pagi ini.
ooOoo
Benar saja, semua pembicaraan pagi ini heboh oleh skandal video itu. Saat Ririn melangkahkan ke kelas, pembicaraan pun masih sama, bahkan lebih heboh. Ia tak berniat menyapa siapa pun karena ia pasti akan terlibat pembicaraan itu. Bahkan ia hanya bertukar pandang dengan Priyanka, meski gadis itu juga tak berniat membicarakannya.
“ Sudah nonton video Fi dengan Adrian?”
“ Ya, ampuuun. Aku tidak menyangka kalau mereka ternyata bersaudara.”
“ Ihh, padahal kemarin sombong sekali saat mereka mengumumkan tentang hubungan mereka.”
“ Hahaha, rasakan! Dasar sombong!”
Suasana terasa bising dan panas. Caci maki terdengar di sana-sini. Tawa penuh cibiran tak kalah membahana membahana. Ririn hanya berharap sesi belajar hari ini dimulai lebih cepat dan berakhir lebih lama, supaya orang-orang itu bisa mengalihkan pembicaraan mereka.
Bel istirahat berbunyi. Pembicaraan menyebalkan itu kembali terulang. Semua orang membicarakannya, termasuk Andani. Gadis itu terlihat sangat bersemangat saat membicarakan perihal skandal video itu. Ririn jadi malas untuk mengajak Andani ke kantin. Ia melirik bangku Alexi, tapi si pemilik bangku sudah lebih dulu meninggalkan kelas lalu disusul Priyanka. Sepertinya kedua orang itu tidak mau terlibat dalam pembicaraan menyebalkan ini karena sedikit saja informasi itu bocor maka gosip langsung merebak bak virus.
Akhirnya Ririn mengikuti langkah kedua orang itu. Namun, ia bingung mau ke mana ia pergi. Ia memutuskan untuk perpustakaan. Baru saja beberapa langkah meninggalkan kelasnya, ia langsung disambut oleh teman-teman dari kelas terdahulunya.
“ Hei, Rin. Lama gak ketemu. Mau ke mana?”
“ Ke perpustakaan. Kalian mau ke kantin?”
“ Iya. Eh, Rin. Kita-kita mau pada tahu dong soal skandal video itu.”
Ririn mendesah berat. Lagi-lagi itu.
“ Iya nih, Rin. Itu video beneran gak sih? Terus Fi dan Pangeran Adrian itu beneran kakak-adik?”
Dan masih banyak lagi. Ririn terlalu panik sampai-sampai ia lupa menggaruk ujung hidungnya. Pertanyaan itu terlalu mendesaknya sehingga sulit baginya untuk tetap tutup mulut.
“ Ya ampun, Rin. Di sini kamu! Ditungguin dari tadi!”
“Kak Dela….”
Seniornya yang manis ini tanpa babibu langsung menarik Ririn dari kerumunan. Kehadiran Dela seperti penganggu yang merusak acara interograsi. Namun, bagi Ririn, Dela justru menjadi malaikat penyelamat.
“Maaf ya, gadis-gadis. Nih anak sudah aku tungguin dari tadi. Kalau kalian mau bicara sama dia, nanti ya setela pembicaraan kami selesai.”
Terdengar nada-nada kecewa ketika Dela membawa Ririn pergi. Ririn sama sekali tidak menoleh ke belakang. Ia takut kalau teman-temannya berniat mencegahnya pergi. Ia juga tidak bertanya ke mana Dela akan membawanya pergi. Namun, hatinya menjadi tenang saat mereka sampai di depan pintu dengan plang bertuliskan ‘KLUB KORAN’.
“Gak ada tempat yang aman, hm?” ujar Dela seraya mendorong pintu tersebut.
Tak ada yang berubah dari tempat itu. Suasana tetap tenang. Hanya terdengar suara ketikan keyboard, printer yang berderit, suara kertas yang dibolak-balik, dan sedikit tertutupi dengan alunan musik pop lembut. Aroma tinta yang baru menempel di kertas bercampur dengan bau khas buku-buku lama menambah kesan menenangkan dalam ruangan itu. Tidak ada keramaian, tidak ada skandal video, dan tidak ada ocehan-ocehan yang penuh dengan nada saling tuduh.
Ririn selalu merindukan tempat ini.
“ Hai, Rin!” sapa Mirna yang pertama kali menyadari kehadiran mereka. Matanya mengerling jahil pada Dela. “Kamu kayak kepanasan gitu, Del. Di luar panas ya?”
“Gak tahu ah!” dumal Dela seraya menyambar sebuah komik dan membuka halamannya dengan kasar. “Yang jelas bikin budeg.”
Mirna tertawa, “Eh, duduk, Rin. Tuh ada marshmellow bawaan Sulis. Dimakan gih.”
Ririn mengambil tempat di sebelah Dela. Kemudian gadis bernama Sulis itu mendekati Ririn dengan satu eksemplar Koran yang baru terbit.
“Nih, Rin. Koran kita udah jadi. Bahasannya tentang pementasan kamu. Coba deh kamu baca.”
Ririn membaca sekilas headline pada lembaran Koran itu. Hatinya senang karena tak satu pun berita yang memuat gosip tak jelas.
“ Rencananya besok baru mau kita sebarin,” sahut Mirna. “Semoga berita-berita positif di sini bisa meredam gosip yang lagi beredar sekarang.”
Ririn mendesah berat, “Kalian juga tahu?”
“Tentu saja, tapi kami bukan seperti mereka yang di luar sana. Ini klub Koran bukan geng rumpi. Kita membahas fakta bukan gosip.”
Jempol Ririn teracung untuk Mirna. Senang rasanya menemukan oasis di tengah-tengah Sahara yang tandus.
“Oh iya, Rin. Aku mau tanya soal mitos Love Musical,” ujar Sulis.
“Mitos yang mana ya?” tanya Ririn.
“ Itu loh, mitos yang bilang kalau sedang jadi pemeran utama Love Musical, dia gak boleh pacaran dengan sesama anggota. Kalau dilanggar nanti kisah cintanya bakalan berakhir tragis.”
Napas Ririn tercekat di tenggorokan. Oom-nya pernah mengatakan hal itu dan ia sempat tidak memercayainya. Sayangnya, mitos itu seolah terbukti pada hari ini.
“Maksud kamu, itu ada hubungannya dengan kejadian hari ini, Lis?” sahut Mirna. “Eh, kita’kan sudah janji kalau gak bakal bahas-bahas masalah itu? Apalagi di depan Ririn.”
“ Aku bukan mau bahas masalah itu, Kak,” bela Sulis. “ Aku cuma mau nanya soal mitos itu aja. Soalnya bukan kali ini aja kejadian. Bahkan katanya―”
PUK! Kemudian terdengar suara Sulis mengaduh. Ternyata Dela dengan sengaja memotong kata-kata Sulis dengan memukul kepala gadis itu dengan punggung komik.
“ Sulis… dengar gak kata Mirna tadi? Kita ini cuma bicara fakta dan bukan gosip. Dan mitos termasuk gosip, paham?”
Sulis merengut lalu mengomel pada Dela. Pembicaraan seputar mitos pun berhenti, tapi semua fakta yang berkaitan dengan mitos itu masih berputar di kepala Ririn. Entah kenapa korelasi antara semua kejadian yang ada dengan mitos tersebut membuat bulu kuduknya merinding. Tiba-tiba saja ada paranoid yang menghantui Ririn ketika ia membayangkan apa yang akan terjadi nanti.

1 komentar:

  1. padahal tadi baca lewat ponsel..
    tp gemes kalo gak buat komentar , langsung nyalain lapt
    rekomendasi bnget , gak sia-sia nunggu update tiap minggu
    cerita nya hidup gak pernah bosen....

    BalasHapus