Musikal
174
Entah kenapa hari itu
July ingin sekali berkunjung ke rumah anak sulungnya. Ia berharap bisa bermain
dengan cucunya sampai sore. Namun, ia tak menyangka ternyata ia bertemu dengan
si bungsu yang baru pulang dan membawa serta Adrian.
“Lho, kenapa Adrian bisa sama kamu?”
“Lho, kok Ibu bisa di sini?”
“Ibu cuma mau mengunjungi kakakmu,” July mendesah kesal. “Terus sekarang
jawab pertanyaan Ibu. Kenapa Adrian bisa kamu yang bawa?”
Tifa tertawa cengengesan, “Tadi Kakak datang ke sekolah terus nitipin
Adrian soalnya dia mau pergi katanya.”
“Kok ke kamu sih?” July terlihat heran. “Kenapa gak sama Ibu aja?”
“Mana aku tahu?” sahut Tifa sambil membetulkan tubuh Adrian yang
tertidur. “Eh, Dave, kalau kamu mau pulang silakan kok. Makasih ya, udah
mengantar.”
“Beneran nih? Kamu gak mau aku bantuin gendong Adrian?”
“Gak apa-apa. Adrian gak berat kok,” meski Tifa menyahut demikian, tapi
Dave tetap saja mengambilalih Adrian dari Tifa.
“Tif, mana kunci rumah Laksmi?”
“Kunci? Kakak gak ngasih tuh.”
Kening July kembali berlipat heran, “Gimana sih? Masa nitipin anak gak
nitipin kunci? Memangnya dia sudah ada di rumah?”
Tifa mengangangkat bahu, “Kita cek dulu aja deh.”
Ketiga masuk ke perkarangan rumah Laksmi. July mengetuk pintu seraya
memanggil-manggil nama anaknya. Namun, tak ada jawaban. Ketika Tifa iseng
membuka gagang pintu, seketika mereka berubah tegang. Pintu itu ternyata tidak
dikunci.
Dave langsung menyerahkan Adrian pada Tifa, “Kalian tunggu di sini. Biar
aku yang cek ke dalam.”
“Aku ikut! Bahaya kalau cuma kamu sendiri,” sahut Tifa seraya
mengalihkan Adrian pada ibunya. Dengan cepat sang ibu menahan lengannya.
“Hati-hati, Tif. Siapa tahu perampok bersenjata.”
Tifa mengangguk cepat lalu ia menyusul di belakang Adrian. Keduanya
menyusuri kamar tamu terlebih dahulu. Kosong. Kemudian ke kamar mandi. Kosong
juga. Ke ruang keluarga dan dapur. Kedua tempat itu pun sama-sama kosong.
Mereka sedikit bernapas lega, tapi ketegangan kembali muncul saat mata mereka mengarah
pada tangga.
“Di lantai dua ada ruang apa aja, Tif?”
“Kamar Kak Laksmi dan Kak Ican, kamar Adrian, terus kamar mandi, dan
balkon.”
Dave mengangguk. Ia memberikan instruksi agar Tifa lebih waspada
kemudian mereka berpencar. Tifa ke kamar kakaknya sementara Dave mengecek kamar
Adrian. Dave kembali memberi kode agar mereka membuka pintu secara serentak.
Dave hanya mendapati kamar yang kosong. Ia mendesah lega.
“Di sini kosong, Tif!”
Tak ada sahutan. Seketika Dave diselimuti kegelisahan. Jangan-jangan
perampok itu langsung menahan Tifa. Dave melebarkan langkah agar segera sampai
ke kamar sebelah.
Tifa baik-baik saja. Ia tidak ditahan perampok dan tidak ada perampok di
sana. Namun, gadis itu membeku seperti patung. Tubuhnya dibanjiri keringat
dingin. Ia bahkan tak merespon ketika Dave memanggil-manggil namanya.
Tatapannya terpaku ke atas.
Dave mengikuti arah mata Tifa. Ia baru sadar apa yang ada di hadapan
mereka ternyata justru lebih mengerikan ketimbang ancaman perampok bersenjata.
Meski yang mereka lihat tidak menyerang mereka, tetapi hal itu mampu memberikan
syok pada siapa pun yang melihatnya.
Sesosok wanita bergaun indah berwarna biru. Namun, tubuh dan ekspresi
wajahnya menghapus semua keindahan gaun itu. Tergantung kaku dan berayun-ayun
di hadapan mereka. Tak ada lagi desah napas. Tak ada lagi denyut nadi.
Wanita itu adalah Laksmi yang tewas gantung diri.
Tifa menjerit sekuat tenaga hingga akhirnya ia pingsan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar