Total Tayangan Halaman

Minggu, 27 Agustus 2017

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 174)



Musikal 174

Entah kenapa hari itu July ingin sekali berkunjung ke rumah anak sulungnya. Ia berharap bisa bermain dengan cucunya sampai sore. Namun, ia tak menyangka ternyata ia bertemu dengan si bungsu yang baru pulang dan membawa serta Adrian.
“Lho, kenapa Adrian bisa sama kamu?”
“Lho, kok Ibu bisa di sini?”
“Ibu cuma mau mengunjungi kakakmu,” July mendesah kesal. “Terus sekarang jawab pertanyaan Ibu. Kenapa Adrian bisa kamu yang bawa?”
Tifa tertawa cengengesan, “Tadi Kakak datang ke sekolah terus nitipin Adrian soalnya dia mau pergi katanya.”
“Kok ke kamu sih?” July terlihat heran. “Kenapa gak sama Ibu aja?”
“Mana aku tahu?” sahut Tifa sambil membetulkan tubuh Adrian yang tertidur. “Eh, Dave, kalau kamu mau pulang silakan kok. Makasih ya, udah mengantar.”
“Beneran nih? Kamu gak mau aku bantuin gendong Adrian?”
“Gak apa-apa. Adrian gak berat kok,” meski Tifa menyahut demikian, tapi Dave tetap saja mengambilalih Adrian dari Tifa.
“Tif, mana kunci rumah Laksmi?”
“Kunci? Kakak gak ngasih tuh.”
Kening July kembali berlipat heran, “Gimana sih? Masa nitipin anak gak nitipin kunci? Memangnya dia sudah ada di rumah?”
Tifa mengangangkat bahu, “Kita cek dulu aja deh.”
Ketiga masuk ke perkarangan rumah Laksmi. July mengetuk pintu seraya memanggil-manggil nama anaknya. Namun, tak ada jawaban. Ketika Tifa iseng membuka gagang pintu, seketika mereka berubah tegang. Pintu itu ternyata tidak dikunci.
Dave langsung menyerahkan Adrian pada Tifa, “Kalian tunggu di sini. Biar aku yang cek ke dalam.”
“Aku ikut! Bahaya kalau cuma kamu sendiri,” sahut Tifa seraya mengalihkan Adrian pada ibunya. Dengan cepat sang ibu menahan lengannya.
“Hati-hati, Tif. Siapa tahu perampok bersenjata.”
Tifa mengangguk cepat lalu ia menyusul di belakang Adrian. Keduanya menyusuri kamar tamu terlebih dahulu. Kosong. Kemudian ke kamar mandi. Kosong juga. Ke ruang keluarga dan dapur. Kedua tempat itu pun sama-sama kosong. Mereka sedikit bernapas lega, tapi ketegangan kembali muncul saat mata mereka mengarah pada tangga.
“Di lantai dua ada ruang apa aja, Tif?”
“Kamar Kak Laksmi dan Kak Ican, kamar Adrian, terus kamar mandi, dan balkon.”
Dave mengangguk. Ia memberikan instruksi agar Tifa lebih waspada kemudian mereka berpencar. Tifa ke kamar kakaknya sementara Dave mengecek kamar Adrian. Dave kembali memberi kode agar mereka membuka pintu secara serentak.
Dave hanya mendapati kamar yang kosong. Ia mendesah lega.
“Di sini kosong, Tif!”
Tak ada sahutan. Seketika Dave diselimuti kegelisahan. Jangan-jangan perampok itu langsung menahan Tifa. Dave melebarkan langkah agar segera sampai ke kamar sebelah.
Tifa baik-baik saja. Ia tidak ditahan perampok dan tidak ada perampok di sana. Namun, gadis itu membeku seperti patung. Tubuhnya dibanjiri keringat dingin. Ia bahkan tak merespon ketika Dave memanggil-manggil namanya. Tatapannya terpaku ke atas.
Dave mengikuti arah mata Tifa. Ia baru sadar apa yang ada di hadapan mereka ternyata justru lebih mengerikan ketimbang ancaman perampok bersenjata. Meski yang mereka lihat tidak menyerang mereka, tetapi hal itu mampu memberikan syok pada siapa pun yang melihatnya.
Sesosok wanita bergaun indah berwarna biru. Namun, tubuh dan ekspresi wajahnya menghapus semua keindahan gaun itu. Tergantung kaku dan berayun-ayun di hadapan mereka. Tak ada lagi desah napas. Tak ada lagi denyut nadi.
Wanita itu adalah Laksmi yang tewas gantung diri.
Tifa menjerit sekuat tenaga hingga akhirnya ia pingsan.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar