Musikal
176
Tifa akhirnya siuman.
Ia mendapati Dave sedang menunggu di sampingnya. Wajah pemuda itu tampak
khawatir, tapi ia sedikit senang saat mengetahui Tifa sudah sadar.
“Tif, kamu—“
“Kak Laksmi!” Tifa berseru dengan kedua tangan yang mencengkram bahu
Dave. Matanya terlihat panik. “Kak Laksmi, Dave! Di—dia….”
Tifa memang tak melanjutkan kata-katanya. Namun, Dave juga tak berniat
menyambung kalimat rumpang itu. Ia hanya menundukkan kepalanya, tapi hal itulah
yang membuat Tifa kembali histeris.
“Gak mungkin, gak mungkin, GAK MUNGKIiiiN…”
“Tifa!” Dave mengguncang bahu gadis itu pelan agar sadar. “A—aku tahu
ini berat, tapi kumohon tenanglah.”
Tifa terisak. Matanya mulai berkaca-kaca, “Kamu pikir aku bisa tenang?
Dave, yang aku lihat itu Kak Laksmi. Kak Laksmi gantung diri!”
Dave berniat mengatakan sesuatu, tapi mengurungkannya. Ia sadar kalau
kata-katanya hanya akan menambah luka pada gadis ini. Di saat itulah pintu
kamar tersebut terbuka lalu muncul sosok ayah Tifa. Melihat ayahnya Tifa masuk,
Dave beringsut mundur. Dalam hatinya ia berterima kasih pada ibunya yang mau
dimintai tolong.
Sang ayah langsung memeluk anak gadisnya erat-erat. Tangis Tifa pun
pecah. Dave pun lagi-lagi hanya bisa menundukkan kepala.
“Kakakmu pasti berpikir kalau Ayah adalah orang yang paling jahat
sedunia. Dia pergi juga karena kesalahan Ayah.”
“Kenapa Kak Laksmi harus pergi, Yah?” suara Tifa terdengar sesegukan.
Di tengah suasana yang mengharu-biru, tiba-tiba saja bocah laki-laki yang sedari tadi tertidur di
sebelah Tifa terbangun. Ia merasakan suasana yang aneh. Tante dan kakeknya
saling berpelukan dan menangis. Dave adalah orang pertama menyadari Adrian
bangun.
“Ad—Adrian…”
Tifa dan ayahnya tersentak. Rasanya tangis Tifa ingin meledak lebih kuat
dari ini. Ia tak tahu harus bagaimana mengatakan kejadian yang sebenarnya pada
bocah ini. ia terlalu kecil mengetahui bahwa ibunya pergi dengan cara yang
mengenaskan.
Tifa hany bisa memeluk bocah yang kebingungan itu.
ooOoo
Adrian berada dalam
pelukan neneknya selama proses identifikasi TKP dilakukan. Banyak tetangga yang
datang juga polisi yang hilir mudik. Bocah lugu itu hanya bisa menatap heran
pada orang-orang yang lalu-lalang di rumahnya. Banyak orang-orang yang menangis,
bahkan tantenya tak luput mengucurkan air mata.
Tiba-tiba beberapa orang melintas di hadapannya dengan membawa tandu. Di
atas tandu itu tubuh ibunya terbaring kaku. Ekspresi sang ibu terlihat sangat
aneh bahkan mengerikan. Lidahnya terjulur dan matanya terbelalak. Ciri khas
orang yang tewas karena gantung diri.
Saking mengerikannya Adrian bahkan sampai memalingkan muka dan memeluk
neneknya erat-erat. Ia tak yakin itu adalah ibunya karena ibunya tak punya
wajah semengerikan itu. Namun, gaun yang dipakai wanita itu adalah pakaian
ibunya pakai saat terakhir ia lihat. Apakah itu hantu? Ataukah hantu itu
mencuri baju ibunya? Atau mungkin hantu itu telah mengubah wajah ibunya?
Tandu itu dibawa masuk ke sebuah mobil putih. Pada bagian belakang mobil
itu terdapat tulisan “AMBULANS” dengan tinta hijau. Kemudian mobil itu
membunyikan sesuatu yang memekakkan telinga yang ia tahu nantinya kalau bunyi
itu adalah bunyi sirine.
Ibunya menghilang seiring berlalunya bunyi-bunyian itu. Adrian merasa
itulah kali terakhir ia melihat ibunya. Sepertinya bunyi-bunyian itu adalah
hantu yang mengubah wajah ibunya hingga terlihat mengerikan dan bunyi-bunyian
itulah yang membawa ibunya pergi. Adrian merasa takut. Ia takut kalau suatu
saat bunyi-bunyian itu akan mengubah dirinya jadi seperti ibunya.
Adrian menutup telinganya rapat-rapat dan bersumpah tak mau mendengar
bunyi itu selamanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar