Total Tayangan Halaman

Minggu, 13 Agustus 2017

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 172)




Musikal 172

“Jadi, kapan pementasanmu itu, Tif?”
Sang ayah membentangkan Koran. Keluarganya ini sedang menikmati sarapan pagi di hari minggu. Tak seperti hari minggu biasanya, kali ini Tifa bangun lebih awal. Ia sengaja karena latihan teater mereka yang biasanya dilaksanakan pada Sabtu malam berubah menjadi Minggu pagi. Semua anggota klub sepakat mengingat ujian akhir semakin dekat.
“Akhir April atau awal Mei, Yah. Pastinya setelah ujian akhir dulu.”
“Hmm, pokoknya kamu jangan terlalu fokus dengan pementasan. Ingat, ujianmu menentukan universitas mana yang kamu pilih.”
Tifa mengangguk, “Ngerti, Yah.” Ia melirik ayahnya takut-takut, “Ayah dan Ibu bakal datang’kan?”
“Sejak kapan kami melewatkan pementasanmu, Tif?” tanya Ibunya yang baru saja kembali dari dapur.
Cengiran di pipi Tifa melebar, tapi beberapa saat kemudian wajahnya kembali serius, “Gak apa-apa’kan kalau Kak Laksmi juga datang?”
“Memangnya dia pernah datang?”
Tifa menggigit bibirnya. Matanya melirik sang ibu dengan sedih. Namun, sang ibu hanya bisa mendesah pelan.
“Dia janji kali ini bakalan datang kok.”
“Oh,” sahut ayahnya sambil melebarkan korannya. “Kalau dia sampai datang, dia boleh main ke sini.”
Tifa terperanjat. Ia bahkan sampai menarik Koran ayahnya, “Serius, Yah?”
“Tapi di harus datang,” sang ayah merebut kembali korannya.
Tifa melirik ibunya senang. Wajahnya ibunya pun berubah secerah senyum Tifa.
“Dia pasti datang. Dia sudah janji.”
ooOoo
“Semangat banget. Padahal udah siang nih.”
“Habisnya aku senaaaang banget,” Tifa meremas kuat lengan Dave. “Kamu tahu, Ayahku bakalan menginzinkan Kak Laksmi main ke rumah kalau dia nonton pementasan ini.”
“Wah, pantas,” Dave melepaskan cengkraman tangan Tifa sambil meringis. “Tapi gak pake nerkam juga kali.”
Tifa terkekeh.
“Tapi dia pasti datang’kan?”
“Datang dong. Dia sudah janji sama aku.”
“Syukurlah,” Dave mengusap lembut kepala Tifa. Gadis itu hanya bisa tersenyum.
Namun, tak semua orang senang pada hari itu. Dari kejauhan ada seseorang yang menatap pasangan itu dengan tatapan iri. Semakin mesra kedua orang itu bercengkrama, semakin terbakar pula hatinya.
Riani masih ingat bagaimana pementasan terakhir mereka yang berakhir dengan sangat sukses. Begitu tirai ditutup, Dave tak malu-malu memeluk Tifa bahkan mendaratkan ciuman di kening gadis itu. Kejadiannya begitu cepat karena itu mungkin tak semua orang menyaksikannya, tapi Riani bisa melihat jelas apa yang dilakukan keduanya. Tak ayal ingatan itu terus-terusan menghantuinya. Hatinya terasa sakit bila mengingat hal itu.
Dan sekali lagi di siang ini. Apa pun yang dilakukan Dave pada Tifa semuanya membuat Riani tak suka. Ia tak suka Dave berbicara pada Tifa, tertawa bersama Tifa, atau menyentuh Tifa. Namun, jika ia mengungkapkan perasaannya sekarang, mungkin ia akan dicap sebagai gadis yang menyebalkan. Ia akan jadi bahan perundungan selama siswa waktu di sekolahnya. Dave dan Tifa sudah dinobatkan sebagai pasangan abadi di sekolah dan ia hanya partikel kecil dari lingkaran hubungan keduannya. Tak akan bisa memisahkan, bahkan menyentuhnya pun tidak.
Riani hanya bisa memalingkan muka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar