Musikal
172
“Jadi, kapan
pementasanmu itu, Tif?”
Sang ayah membentangkan Koran. Keluarganya ini sedang menikmati sarapan
pagi di hari minggu. Tak seperti hari minggu biasanya, kali ini Tifa bangun
lebih awal. Ia sengaja karena latihan teater mereka yang biasanya dilaksanakan
pada Sabtu malam berubah menjadi Minggu pagi. Semua anggota klub sepakat
mengingat ujian akhir semakin dekat.
“Akhir April atau awal Mei, Yah. Pastinya setelah ujian akhir dulu.”
“Hmm, pokoknya kamu jangan terlalu fokus dengan pementasan. Ingat,
ujianmu menentukan universitas mana yang kamu pilih.”
Tifa mengangguk, “Ngerti, Yah.” Ia melirik ayahnya takut-takut, “Ayah
dan Ibu bakal datang’kan?”
“Sejak kapan kami melewatkan pementasanmu, Tif?” tanya Ibunya yang baru
saja kembali dari dapur.
Cengiran di pipi Tifa melebar, tapi beberapa saat kemudian wajahnya
kembali serius, “Gak apa-apa’kan kalau Kak Laksmi juga datang?”
“Memangnya dia pernah datang?”
Tifa menggigit bibirnya. Matanya melirik sang ibu dengan sedih. Namun,
sang ibu hanya bisa mendesah pelan.
“Dia janji kali ini bakalan datang kok.”
“Oh,” sahut ayahnya sambil melebarkan korannya. “Kalau dia sampai
datang, dia boleh main ke sini.”
Tifa terperanjat. Ia bahkan sampai menarik Koran ayahnya, “Serius, Yah?”
“Tapi di harus datang,” sang ayah merebut kembali korannya.
Tifa melirik ibunya senang. Wajahnya ibunya pun berubah secerah senyum
Tifa.
“Dia pasti datang. Dia sudah janji.”
ooOoo
“Semangat banget.
Padahal udah siang nih.”
“Habisnya aku senaaaang banget,” Tifa meremas kuat lengan Dave. “Kamu
tahu, Ayahku bakalan menginzinkan Kak Laksmi main ke rumah kalau dia nonton
pementasan ini.”
“Wah, pantas,” Dave melepaskan cengkraman tangan Tifa sambil meringis.
“Tapi gak pake nerkam juga kali.”
Tifa terkekeh.
“Tapi dia pasti datang’kan?”
“Datang dong. Dia sudah janji sama aku.”
“Syukurlah,” Dave mengusap lembut kepala Tifa. Gadis itu hanya bisa
tersenyum.
Namun, tak semua orang senang pada hari itu. Dari kejauhan ada seseorang
yang menatap pasangan itu dengan tatapan iri. Semakin mesra kedua orang itu
bercengkrama, semakin terbakar pula hatinya.
Riani masih ingat bagaimana pementasan terakhir mereka yang berakhir
dengan sangat sukses. Begitu tirai ditutup, Dave tak malu-malu memeluk Tifa
bahkan mendaratkan ciuman di kening gadis itu. Kejadiannya begitu cepat karena
itu mungkin tak semua orang menyaksikannya, tapi Riani bisa melihat jelas apa
yang dilakukan keduanya. Tak ayal ingatan itu terus-terusan menghantuinya.
Hatinya terasa sakit bila mengingat hal itu.
Dan sekali lagi di siang ini. Apa pun yang dilakukan Dave pada Tifa
semuanya membuat Riani tak suka. Ia tak suka Dave berbicara pada Tifa, tertawa
bersama Tifa, atau menyentuh Tifa. Namun, jika ia mengungkapkan perasaannya
sekarang, mungkin ia akan dicap sebagai gadis yang menyebalkan. Ia akan jadi
bahan perundungan selama siswa waktu di sekolahnya. Dave dan Tifa sudah
dinobatkan sebagai pasangan abadi di sekolah dan ia hanya partikel kecil dari
lingkaran hubungan keduannya. Tak akan bisa memisahkan, bahkan menyentuhnya pun
tidak.
Riani hanya bisa memalingkan muka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar