Musikal
175
July menunggu kedua
anak itu dengan gelisah. Sejauh ini tak ada tanda-tanda bahaya terdengar.
Cucunya masih tertidur lelap dan tidak menyadari apa yang terjadi. Hingga suara
jeritan kuat terdengar dari dalam.
July bergegas menuju arah suara tersebut. Ia berlari-lari menaiki tangga
dengan Adrian yang masih dalam gendongannya. Setelah jeritan itu terdengar
suara Dave sedang memanggil-manggil nama anaknya. Tak ada yang terluka. Namun,
ada yang telah tiada.
Tepat di hadapannya. Sang putri sulung yang dulu pernah menjadi
kebanggan keluarganya sudah terbujur kaku dengan seutas tali tambang melilit
lehernya. July merosot ke lantai. Kepalanya terasa pusing. Ia hampir ikut pingsan.
Namun, beban tubuh Adrian seolah membuatnya untuk terus terjaga.
“Tante, Tante gak apa-apa?” Dave langsung beralih ketika melihat July
yang hampir pingsan.
“Ya Tu—Tuhan, La—Laksmi….”
Dave dalam posisi yang serba salah. Tifa pingsan lalu ibunya syok berat.
Ia harus berpikir cepat. Pertama ia harus menaruh Adrian di tempat yang aman.
Untungnya bocah itu sama sekali tidak terganggu tidurnya. Dave meraih Adrian
yang masih dipeluk oleh July dan membawanya ke kamar sebelah. Begitu Dave
kembali, air mata July sudah membanjiri wajahnya. Dave berusaha membantu July
berdiri, tapi gravitasi wanita itu lebih kuat. Akhirnya ia membiarkan wanita
itu menangis dalam pelukannya.
“Kenapa… kenapa Laksmi….”
Dave tahu apa yang harus ia lakukan, tapi ia tak tahu apa yang harus ia
katakan agar wanita ini bisa tenang. Ia hanya bisa diam dan mengeratkan
pelukannya. Sampai July menarik sendiri tubuhnya.
“Te—telepon polisi,” July merogoh-rogoh tas kecilnya lalu memberikan
sebuah buku saku pada Dave. “Dan ini, telepon ayahnya Tifa. Biar Tifa dan
Adrian Tante yag urus.”
Kepala Dave mengangguk lalu ia meluncur cepat menuju pesawat telepon. Ia
menelepon polisi dengan lancar, tetapi ketika hendak menekan nomor ayahnya Tifa
jemari Dave berubah kaku. Bukan karena ia takut, tetapi karena ia tak tahu
harus menyampaikan berita ini pada pria itu.
‘Halo, Om. Ini aku
Dave. Cepat pulang, anakmu Laksmi tewas gantung diri.’
Yang benar saja, keluh dave. Di tengah kebimbangannya, ia pun teringat
dengan ibunya yang belum kembali ke Jakarta. Ia segera menelepon rumahnya dan
berharap ibunya punya saran yang baik.
“Halo?”
Dave bersyukur karena ibunya mengangkat setelah deringan pertama, “Halo,
Mom. Ini aku Dave. Aku sangat
membutuhkan bantuanmu saat ini?”
“Hei, ada apa? Kenapa
panik begitu.”
“I—itu…” Dave mengutuki dirinya yang tak bahkan tak bisa berkata-kata
pada ibunya sendiri mengenai kasus ini. “Laksmi, kakak Tifa, di rumahnya ada
musibah.”
“Perampokan? Oh, apa
kamu sekarang ada di rumahnya?”
“Bukan, itu… maksudku, Kak Laksmi tewas bunuh diri.”
“Oh, Tuhaaan….” Suara ibunya Dave
terdengar kacau.
“Mom, bisa bantu aku? Bisa
tolong teleponkan ayahnya? Aku takut dia tidak akan percaya dengan ucapanku.
Saat ini Tifa pingsan dan ibunya syok. Aku butuh bantuanmu.”
“Ya, ya, sebutkanlah
nomornya. Nanti aku akan menyusul ke sana.”
Dave menyebutkan sederet nomor yang ada di buku saku tersebut. Sebelum
ia menutup telepon ia mengucapkan terima kasih pada ibunya. Kemudian ia kembali
berlari ke lantai dua, untuk melihat kondisi Tifa dan ibunya serta TKP agar tak
disentuh oleh siapa pun.
Masalah ini akan semakin runyam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar