Musikal
173
Hari Selasa adalah hari
di mana semua anggota klub harus mengosongkan semua jadwal, kecuali untuk
kegiatan klub. Terutama untuk mereka yang sudah duduk di kelas tiga. Hanya di
hari ini mereka bisa mengosongkan waktu di sela-sela kesibukan mereka untuk mempersiapkan
ujian kelulusan. Bahkan latihan Sabtu malam pun terpaksa diganti dengan Minggu
pagi karena mereka juga harus menghemat tenaga untuk belajar.
Ketika mereka semua sedang latihan serius, tiba-tiba mereka kedatangan
tamu yang tak diduga. Mereka semua terkejut, terutama Tifa karena tamu kejutan
itu adalah sang kakak. Kedatangan Laksmi membawa suasana baru apalagi dengan
kehadiran Adrian yang membuat semua orang gemas. Tifa pun dengan bersemangat
memperkenalkan kakaknya pada semua anggota, bahwa sang kakak adalah aktris
terbaik yang pernah Love Musical miliki.
“Aku gak nyangka Kakak akan datang ke sini,” ujar Tifa ketika mereka
sedang beristirahat.
“Kakak gak ganggu latihan kalian’kan?”
Tifa menggeleng cepat, “Kami justru senang ada alumni hebat yang mau
datang berkunjung.”
“Ah, bisa aja kamu,” Laksmi tertawa. “Sebenarnya Kakak mau minta tolong
sama kamu. Kakak mau pergi lama dan Kakak mau titipin Adrian sama kamu. Bisa?”
“Tentu. Titipin aja dia sama aku.”
“Gak bakal ganggu kamu’kan?”
“Tenang aja. Adrian’kan anaknya nurut, apalagi sama Tantenya.”
“Makasih ya, Tif.”
Laksmi kembali tersenyum kemudian ia memeluk Tifa. Pelukan Laksmi yang
begitu erat membuat Tifa sedikit heran, tetapi ia tak terlalu menanggapi.
“Kamu yang paling kakak andalkan,” bisik Laksmi. “Love Musical dan Adrian sekarang adalah tanggung jawabmu. Kakak
yakin kamu pasti bisa. Kakak sayang kamu.”
“Kakak ngomong apa sih?” Tifa tertawa seraya melepaskan pelukannya.
“Tapi aku juga sayang Kakak kok. Oh ya, Kak, aku punya kabar gembira loh.”
Lipatan di kening Laksmi seolah bertanya pada sang adik.
“Ayah bilang, kalau Kakak datang saat pertunjukkan terakhirku, Kakak
dibolehkan untuk main ke rumah,” ujar Tifa riang lalu memain-mainkan lengan
kakaknya. “Makanya Kakak datang yah. Yah, yah, yah, datang yah.”
“Akan Kakak usahkan.”
Tifa bersorak senang.
Laksmi menatap Tifa cukup lama lalu melambaikan tangannya.
“Kakak pergi ya. Sampai jumpa.”
Tifa melambai dengan semangat. Semakin lama punggung sang kakak semakin
tak terlihat. Entah kenapa Tifa sama sekali tak beranjak dari tempatnya berdiri
meski Laksmi sudah pergi. Hingga Adrian menarik-narik tangannya.
“Kak, dipanggil sama teman-temannya tuh.”
Tifa menatap keponakannya. Ia tersenyum lalu mengajak Adrian masuk.
ooOoo
“Pak, putri Anda
meminta masuk.”
Suara sang sekretaris menggema lewat interkom. Pramudya Kusuma Nugraha
menekan tombol pada interkom tersebut agar terhubung dengan sang sekretaris.
“Putriku yang mana?”
“Latifa, Pak.”
“Suruh dia masuk.”
Pintu terbuka dan ternyata yang hadir bukan Tifa, tetapi putri sulungnya.
Senyum tipis Laksmi mengisyaratkan agar ayahnya tak usah merasa canggung ketika
ia berada di sana.
“Maaf, sudah mengganggu waktumu, Yah. Ada hal yang ingin kubicarakan.”
Sang ayah tak mungkin mengusir anaknya tiba-tiba. Ia juga tak mau semua
karyawan tahu mengenai permasalahan anaknya.
“Duduklah,” ujarnya. “Tidak membawa Adrian?”
“Dia sudah kutitipkan di tempat yang kupercaya.”
Pram mengangguk. Namun, anak sulungnya tak kunjung mengutarakan apa yang
akan dibicarakan. Ia sedang memiah-milah kata dengan resah.
“Ada masalah apa?”
“Ah, tidak sebenarnya aku….” Laksmi menarik napas dalam-dalam. “Aku… aku
hanya ingin minta maaf pada Ayah atas semua perbuatanku selama ini.”
Kening sang ayah berkerut.
“Aku tahu, aku telah mengecewakan Ayah dan Ibu dengan semua perbuatanku.
Tidak hanya mimpi kalian, tapi mimpiku juga telah kuhancurkan. Maaf, karena
telah gagal menjadi anak yang baik. Maaf karena aku tidak bisa menjadi
kebanggaan keluarga. Sekali lagi aku minta maaf….”
Entah apa yang Pram mimpikan semalam hingga tiba-tiba anak sulungnya
datang dan mengucapkan ribuan kata maaf. Amarah itu masih ada, tetapi jika
melihat seorang wanita meminta maaf dengan mata yang berkaca-kaca seperti ini,
hati pria mana yang tidak runtuh? Apalagi itu adalah anaknya sendiri.
“Kamu baik-baik saja, Laksmi? Apa ada masalah di rumah?”
Laksmi hanya menggeleng pelan.
Pram mendesah panjang, “Setelah bertahun-tahun Ayah juga masih tidak
percaya kalau kamu memutuskan untuk hidup berdua dengan laki-laki itu. Dari
dulu laki-laki itu memang sudah suka padamu, tapi bukannya kamu juga dari dulu
sudah menolaknya. Lantas kenapa kamu justru melakukan hal itu hingga berakhir seperti
ini?”
Laksmi hanya membisu.
“Kita semua tahu kalau ayahnya Ican itu punya banyak istri dan tidak
menutup kemungkinan Ican juga berlaku seperti itu. Karena itulah kamu
menolaknya mati-matian dulu,” Pram memijat pangkal hidungnya. “Ayah tidak tahu
apa yang mengubahmu, tapi ya sudahlah, ini jadi bagian dari hidupmu. Kamu harus
berjuang untuk menghadapinya.”
“Ayah juga tidak bisa lama-lama marah padamu, Laksmi.”
Ada secercah sinar kebahagiaan saat Laksmi mendengar kalimat terakhir
ayahnya. Ia tidak bisa lebih bersyukur lagi setelah tahu kalau sang ayah masih
sayang padanya.
“Aku tahu Ayah adalah Ayah terbaik yang pernah ada,” Laksmi tesenyum
lembut. “Terima kasih.”
“Datanglah saat adikmu pentas nanti. Dia selalu cemberut karena kamu
tidak pernah hadir. Kamu idola terbesarnya.”
Lagi-lagi Laksmi hanya tersenyum kemudian ia beranjak bangkit.
“Kalau begitu aku pulang dulu. Senang bertemu Ayah hari ini. Sampai
jumpa.”
Pram tak bisa mencegah kepergian anaknya. Ia hanya pulang, tapi entah
kenapa Pram melihat punggung anaknya begitu lelah. Seperti ada beban berat yang
dipanggul olehnya. Pram hanya bisa berdoa agar anak sulungnya itu baik-baik
saja.
ooOoo
Laksmi tiba di
rumahnya. Setelah semua yang ia rencanakan terlaksana ia ingin beristirahat di
kamar. Semua persiapan sudah selesai. Ia menarik napas dalam-dalam kemudian
menyetel kumpulan Beethoven kesukaannya.
Semua terasa damai. Hatinya tak akan goyah dengan keputusan yang sudah
ia ambil. Karena beban di hatinya akan hilang setelah semua ini berakhir.
Semua akan berakhir….
Semua akan hilang….
Selamat tinggal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar