Total Tayangan Halaman

Minggu, 13 Agustus 2017

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 173)




Musikal 173

Hari Selasa adalah hari di mana semua anggota klub harus mengosongkan semua jadwal, kecuali untuk kegiatan klub. Terutama untuk mereka yang sudah duduk di kelas tiga. Hanya di hari ini mereka bisa mengosongkan waktu di sela-sela kesibukan mereka untuk mempersiapkan ujian kelulusan. Bahkan latihan Sabtu malam pun terpaksa diganti dengan Minggu pagi karena mereka juga harus menghemat tenaga untuk belajar.
Ketika mereka semua sedang latihan serius, tiba-tiba mereka kedatangan tamu yang tak diduga. Mereka semua terkejut, terutama Tifa karena tamu kejutan itu adalah sang kakak. Kedatangan Laksmi membawa suasana baru apalagi dengan kehadiran Adrian yang membuat semua orang gemas. Tifa pun dengan bersemangat memperkenalkan kakaknya pada semua anggota, bahwa sang kakak adalah aktris terbaik yang pernah Love Musical miliki.
“Aku gak nyangka Kakak akan datang ke sini,” ujar Tifa ketika mereka sedang beristirahat.
“Kakak gak ganggu latihan kalian’kan?”
Tifa menggeleng cepat, “Kami justru senang ada alumni hebat yang mau datang berkunjung.”
“Ah, bisa aja kamu,” Laksmi tertawa. “Sebenarnya Kakak mau minta tolong sama kamu. Kakak mau pergi lama dan Kakak mau titipin Adrian sama kamu. Bisa?”
“Tentu. Titipin aja dia sama aku.”
“Gak bakal ganggu kamu’kan?”
“Tenang aja. Adrian’kan anaknya nurut, apalagi sama Tantenya.”
 “Makasih ya, Tif.”
Laksmi kembali tersenyum kemudian ia memeluk Tifa. Pelukan Laksmi yang begitu erat membuat Tifa sedikit heran, tetapi ia tak terlalu menanggapi.
“Kamu yang paling kakak andalkan,” bisik Laksmi. “Love Musical dan Adrian sekarang adalah tanggung jawabmu. Kakak yakin kamu pasti bisa. Kakak sayang kamu.”
“Kakak ngomong apa sih?” Tifa tertawa seraya melepaskan pelukannya. “Tapi aku juga sayang Kakak kok. Oh ya, Kak, aku punya kabar gembira loh.”
Lipatan di kening Laksmi seolah bertanya pada sang adik.
“Ayah bilang, kalau Kakak datang saat pertunjukkan terakhirku, Kakak dibolehkan untuk main ke rumah,” ujar Tifa riang lalu memain-mainkan lengan kakaknya. “Makanya Kakak datang yah. Yah, yah, yah, datang yah.”
“Akan Kakak usahkan.”
Tifa bersorak senang.
Laksmi menatap Tifa cukup lama lalu melambaikan tangannya.
“Kakak pergi ya. Sampai jumpa.”
Tifa melambai dengan semangat. Semakin lama punggung sang kakak semakin tak terlihat. Entah kenapa Tifa sama sekali tak beranjak dari tempatnya berdiri meski Laksmi sudah pergi. Hingga Adrian menarik-narik tangannya.
“Kak, dipanggil sama teman-temannya tuh.”
Tifa menatap keponakannya. Ia tersenyum lalu mengajak Adrian masuk.
ooOoo
“Pak, putri Anda meminta masuk.”
Suara sang sekretaris menggema lewat interkom. Pramudya Kusuma Nugraha menekan tombol pada interkom tersebut agar terhubung dengan sang sekretaris.
“Putriku yang mana?”
“Latifa, Pak.”
“Suruh dia masuk.”
Pintu terbuka dan ternyata yang hadir bukan Tifa, tetapi putri sulungnya. Senyum tipis Laksmi mengisyaratkan agar ayahnya tak usah merasa canggung ketika ia berada di sana.
“Maaf, sudah mengganggu waktumu, Yah. Ada hal yang ingin kubicarakan.”
Sang ayah tak mungkin mengusir anaknya tiba-tiba. Ia juga tak mau semua karyawan tahu mengenai permasalahan anaknya.
“Duduklah,” ujarnya. “Tidak membawa Adrian?”
“Dia sudah kutitipkan di tempat yang kupercaya.”
Pram mengangguk. Namun, anak sulungnya tak kunjung mengutarakan apa yang akan dibicarakan. Ia sedang memiah-milah kata dengan resah.
“Ada masalah apa?”
“Ah, tidak sebenarnya aku….” Laksmi menarik napas dalam-dalam. “Aku… aku hanya ingin minta maaf pada Ayah atas semua perbuatanku selama ini.”
Kening sang ayah berkerut.
“Aku tahu, aku telah mengecewakan Ayah dan Ibu dengan semua perbuatanku. Tidak hanya mimpi kalian, tapi mimpiku juga telah kuhancurkan. Maaf, karena telah gagal menjadi anak yang baik. Maaf karena aku tidak bisa menjadi kebanggaan keluarga. Sekali lagi aku minta maaf….”
Entah apa yang Pram mimpikan semalam hingga tiba-tiba anak sulungnya datang dan mengucapkan ribuan kata maaf. Amarah itu masih ada, tetapi jika melihat seorang wanita meminta maaf dengan mata yang berkaca-kaca seperti ini, hati pria mana yang tidak runtuh? Apalagi itu adalah anaknya sendiri.
“Kamu baik-baik saja, Laksmi? Apa ada masalah di rumah?”
Laksmi hanya menggeleng pelan.
Pram mendesah panjang, “Setelah bertahun-tahun Ayah juga masih tidak percaya kalau kamu memutuskan untuk hidup berdua dengan laki-laki itu. Dari dulu laki-laki itu memang sudah suka padamu, tapi bukannya kamu juga dari dulu sudah menolaknya. Lantas kenapa kamu justru melakukan hal itu hingga berakhir seperti ini?”
Laksmi hanya membisu.
“Kita semua tahu kalau ayahnya Ican itu punya banyak istri dan tidak menutup kemungkinan Ican juga berlaku seperti itu. Karena itulah kamu menolaknya mati-matian dulu,” Pram memijat pangkal hidungnya. “Ayah tidak tahu apa yang mengubahmu, tapi ya sudahlah, ini jadi bagian dari hidupmu. Kamu harus berjuang untuk menghadapinya.”
“Ayah juga tidak bisa lama-lama marah padamu, Laksmi.”
Ada secercah sinar kebahagiaan saat Laksmi mendengar kalimat terakhir ayahnya. Ia tidak bisa lebih bersyukur lagi setelah tahu kalau sang ayah masih sayang padanya.
“Aku tahu Ayah adalah Ayah terbaik yang pernah ada,” Laksmi tesenyum lembut. “Terima kasih.”
“Datanglah saat adikmu pentas nanti. Dia selalu cemberut karena kamu tidak pernah hadir. Kamu idola terbesarnya.”
Lagi-lagi Laksmi hanya tersenyum kemudian ia beranjak bangkit.
“Kalau begitu aku pulang dulu. Senang bertemu Ayah hari ini. Sampai jumpa.”
Pram tak bisa mencegah kepergian anaknya. Ia hanya pulang, tapi entah kenapa Pram melihat punggung anaknya begitu lelah. Seperti ada beban berat yang dipanggul olehnya. Pram hanya bisa berdoa agar anak sulungnya itu baik-baik saja.
ooOoo
Laksmi tiba di rumahnya. Setelah semua yang ia rencanakan terlaksana ia ingin beristirahat di kamar. Semua persiapan sudah selesai. Ia menarik napas dalam-dalam kemudian menyetel kumpulan Beethoven kesukaannya.
Semua terasa damai. Hatinya tak akan goyah dengan keputusan yang sudah ia ambil. Karena beban di hatinya akan hilang setelah semua ini berakhir.
Semua akan berakhir….
Semua akan hilang….
Selamat tinggal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar