Total Tayangan Halaman

Minggu, 13 Agustus 2017

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 170)




Musikal 170

Adrian merapikan lengan kemejanya. Sekali lagi menatap cermin untuk memastika kalau penampilannya tidak cacat. Meski diperhatikan dengan seksama sekali pun semua orang tidak akan menemukan kekurangan pada penampilannya. Namun, hanya dia yang tahu bagaimana bagian dalam dirinya. Isi hatinya yang justru belum siap.
Gerakan jam terlihat dari bayangan cermin. Semakin lama ia mengulur waktu untuk menyiapkan hatinya, maka semakin lama pula masalah ini berlanjut. Ia sudah berjanji untuk segera menyelesaikan kesalahpahaman di antara para anggota. Namun, semua seakan berjalan lambat dan berusaha menahannya di kamar.
“Tidak, aku tidak boleh takut,” gumam Adrian pada dirinya. Jemarinya menggenggam pinggiran meja. Begitu kuat hingga kuku-kukunya memutih.
Seketika bayangan Tifa yang sedang terbaring di rumah sakit menghantui pikirannya. Saat ini pasti nenek dan Dave masih menunggui tantenya dengan perasaan khawatir. Ingatan-ingatan itu menguatkan batinnya bahwa ia juga harus berbuat sesuatu.
Adrian mendesah panjang lalu menarik tangannya dari pinggiran meja.
‘Istirahatlah, maka giliranku akan tiba.’
ooOoo
“Mereka akan mengadakan pertemuan.”
Hana meletakkan kacamatanya seraya menatap Gloria yang baru saja masuk. Wanita itu mengabarkan kedatangan Adrian seolah-olah akan ada serangan teroris.
“Lalu?”
“Lalu?” Gloria mengulangi pertanyaan Hana dengan dahi mengerenyit. “ Hana, mereka akan membahas kelanjutan dari pementasan ini. Itu artinya akan ada sebagian siswa yang mengundurkan diri.”
“Kenapa kamu yakin seperti itu?”
“Karena Adrian pasti akan mengatakan bagaimana kondisi Tifa yang sebenarnya. Dan ada kemungkinan juga dia akan mengatakan skandalnya yang waktu itu. Kalau sudah begitu, kamu pikir akan ada berapa siswa yang mau bertahan? Mereka pasti akan kecewa karena sudah merasa dibohongi selama ini. Aku yakin pementasan ini tidak akan ada kelanjutannya lagi.”
“Kamu sudah bicara yang tidak-tidak, Glo,” Hana memijat-mijat pangkal hidungnya. “Masalah kita sudah banyak, kamu jangan menambahkan spekulasi yang membuat kepalaku tambah pusing.”
“Hana, aku serius!”
“Aku juga,” Hana menyandarkan punggungnya di kursi. “Dengar, sekarang dinginkan kepalamu dan masalah ini akan kita selesaikan nanti.”
Gloria menggeleng kesal. Ia meninggalkan ruangan tanpa pamit. Hana hanya bisa menghela napas seraya menegakkan punggungnya.
“Haaah, lagi-lagi aku yang kena imbasnya. Makanya dari awal aku tidak mau ikut. Dasar tukang merepotkan.”
ooOoo
Jemari Adrian membatu saat menyentuh gagang pintu. Baru kali ini gagang pintu itu sedingin es. Jantungnya berdebar dua kali lebih cepat dari biasanya. Ia berusaha menenangkan diri, tapi sebuah tepukan di bahunya membuat jantung serasa berhenti.
“Melamun?”
Adrian mendapati Ben tersenyum ramah padanya.
“Kamu kayaknya kaget melihat aku di sini padahal seharusnya aku yang kaget.”
Ben mengatakan sesuatu yang membuatnya bingung.
“Hari ini kami berencana untuk berdiskusi mengenai kelanjutan pementasan ini,” Ben menggaruk bagian belakang kepalanya. “Ahh, mungkin lebih tepatnya ini akan menjadi debat panjang, tapi yah kami tidak akan mengira kamu akan di sini.”
“Wah, ternyata kalian lebih cepat daripada aku,” ujar Adrian malu-malu. “Tapi menurutmu apa usaha kita akan berhasil?”
“Hmm, tidak,” Ben terkekeh. “Jika hanya kita berdua.”
“Maksudmu?”
“Kami juga ikut.”
Ben menyingkirkan bahunya agar Adrian bisa melihat jelas siapa yang menyahut pertanyaannya. Dimulai dari Alexi, Ririn, lalu beberapa teman dekatnya berdatangan hingga sosok Fi yang tak disangka-sangka juga ikut. Jumlah mereka memang tidak sampai separuh anggota, tetapi tetap saja membuat Adrian ingin terharu.
“Mungkin suara kami tidak bisa membantu banyak, tapi kami tetap ingin pementasan ini dilanjutkan,” ujar Ben.
“Ke—kenapa?” tanya Adrian.
“Mungkin karena kami terlanjur jatuh cinta dengan pementasan ini,” sahut Ririn. “Dan rasanya sulit jika harus berpisah dengan cara yang tiba-tiba.”
“Pementasan ini juga mengubah beberapa kehidupan kita semua. Sudah terlanjur terjadi makanya kita harus tuntaskan sampai selesai.”
Saat Fi ikut bicara, seketika Adrian hanya bisa menundukkan kepalanya. Ia tak menyangka kalau gadis itu masih berpihak padanya meski hal yang telah mereka lalui terasa begitu pahit.
Kemal merangkul bahu Adrian sehingga pemuda itu terbangun dari lamunannya.
“Hei, teman. Kami semua ada di pihakmu, jadi buang wajah murung itu. Apa pun yang terjadi, pementasan ini harus terus berjalan!”
Adrian tersenyum kecil seraya menatap teman-temannya satu per satu.
“Terima kasih. Dukungan kalian benar-benar berarti untukku,” senyuman Adrian melebar. “Setidaknya begitu tanteku bangun, kita semua tidak akan kena semburnya.”
Mereka semua tertawa.
“Ya, baiklah. Pertemuan akan dimulai sebentar lagi,” ujar Ben. “Ayo kita bersiap!”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar