Musikal
170
Adrian merapikan lengan
kemejanya. Sekali lagi menatap cermin untuk memastika kalau penampilannya tidak
cacat. Meski diperhatikan dengan seksama sekali pun semua orang tidak akan
menemukan kekurangan pada penampilannya. Namun, hanya dia yang tahu bagaimana
bagian dalam dirinya. Isi hatinya yang justru belum siap.
Gerakan jam terlihat dari bayangan cermin. Semakin lama ia mengulur
waktu untuk menyiapkan hatinya, maka semakin lama pula masalah ini berlanjut.
Ia sudah berjanji untuk segera menyelesaikan kesalahpahaman di antara para
anggota. Namun, semua seakan berjalan lambat dan berusaha menahannya di kamar.
“Tidak, aku tidak boleh takut,” gumam Adrian pada dirinya. Jemarinya
menggenggam pinggiran meja. Begitu kuat hingga kuku-kukunya memutih.
Seketika bayangan Tifa yang sedang terbaring di rumah sakit menghantui
pikirannya. Saat ini pasti nenek dan Dave masih menunggui tantenya dengan
perasaan khawatir. Ingatan-ingatan itu menguatkan batinnya bahwa ia juga harus
berbuat sesuatu.
Adrian mendesah panjang lalu menarik tangannya dari pinggiran meja.
‘Istirahatlah, maka
giliranku akan tiba.’
ooOoo
“Mereka akan mengadakan
pertemuan.”
Hana meletakkan kacamatanya seraya menatap Gloria yang baru saja masuk.
Wanita itu mengabarkan kedatangan Adrian seolah-olah akan ada serangan teroris.
“Lalu?”
“Lalu?” Gloria mengulangi pertanyaan Hana dengan dahi mengerenyit. “
Hana, mereka akan membahas kelanjutan dari pementasan ini. Itu artinya akan ada
sebagian siswa yang mengundurkan diri.”
“Kenapa kamu yakin seperti itu?”
“Karena Adrian pasti akan mengatakan bagaimana kondisi Tifa yang
sebenarnya. Dan ada kemungkinan juga dia akan mengatakan skandalnya yang waktu
itu. Kalau sudah begitu, kamu pikir akan ada berapa siswa yang mau bertahan?
Mereka pasti akan kecewa karena sudah merasa dibohongi selama ini. Aku yakin
pementasan ini tidak akan ada kelanjutannya lagi.”
“Kamu sudah bicara yang tidak-tidak, Glo,” Hana memijat-mijat pangkal
hidungnya. “Masalah kita sudah banyak, kamu jangan menambahkan spekulasi yang
membuat kepalaku tambah pusing.”
“Hana, aku serius!”
“Aku juga,” Hana menyandarkan punggungnya di kursi. “Dengar, sekarang
dinginkan kepalamu dan masalah ini akan kita selesaikan nanti.”
Gloria menggeleng kesal. Ia meninggalkan ruangan tanpa pamit. Hana hanya
bisa menghela napas seraya menegakkan punggungnya.
“Haaah, lagi-lagi aku yang kena imbasnya. Makanya dari awal aku tidak
mau ikut. Dasar tukang merepotkan.”
ooOoo
Jemari Adrian membatu
saat menyentuh gagang pintu. Baru kali ini gagang pintu itu sedingin es.
Jantungnya berdebar dua kali lebih cepat dari biasanya. Ia berusaha menenangkan
diri, tapi sebuah tepukan di bahunya membuat jantung serasa berhenti.
“Melamun?”
Adrian mendapati Ben tersenyum ramah padanya.
“Kamu kayaknya kaget melihat aku di sini padahal seharusnya aku yang
kaget.”
Ben mengatakan sesuatu yang membuatnya bingung.
“Hari ini kami berencana untuk berdiskusi mengenai kelanjutan pementasan
ini,” Ben menggaruk bagian belakang kepalanya. “Ahh, mungkin lebih tepatnya ini
akan menjadi debat panjang, tapi yah kami tidak akan mengira kamu akan di
sini.”
“Wah, ternyata kalian lebih cepat daripada aku,” ujar Adrian malu-malu.
“Tapi menurutmu apa usaha kita akan berhasil?”
“Hmm, tidak,” Ben terkekeh. “Jika hanya kita berdua.”
“Maksudmu?”
“Kami juga ikut.”
Ben menyingkirkan bahunya agar Adrian bisa melihat jelas siapa yang
menyahut pertanyaannya. Dimulai dari Alexi, Ririn, lalu beberapa teman dekatnya
berdatangan hingga sosok Fi yang tak disangka-sangka juga ikut. Jumlah mereka
memang tidak sampai separuh anggota, tetapi tetap saja membuat Adrian ingin
terharu.
“Mungkin suara kami tidak bisa membantu banyak, tapi kami tetap ingin
pementasan ini dilanjutkan,” ujar Ben.
“Ke—kenapa?” tanya Adrian.
“Mungkin karena kami terlanjur jatuh cinta dengan pementasan ini,” sahut
Ririn. “Dan rasanya sulit jika harus berpisah dengan cara yang tiba-tiba.”
“Pementasan ini juga mengubah beberapa kehidupan kita semua. Sudah
terlanjur terjadi makanya kita harus tuntaskan sampai selesai.”
Saat Fi ikut bicara, seketika Adrian hanya bisa menundukkan kepalanya.
Ia tak menyangka kalau gadis itu masih berpihak padanya meski hal yang telah
mereka lalui terasa begitu pahit.
Kemal merangkul bahu Adrian sehingga pemuda itu terbangun dari
lamunannya.
“Hei, teman. Kami semua ada di pihakmu, jadi buang wajah murung itu. Apa
pun yang terjadi, pementasan ini harus terus berjalan!”
Adrian tersenyum kecil seraya menatap teman-temannya satu per satu.
“Terima kasih. Dukungan kalian benar-benar berarti untukku,” senyuman
Adrian melebar. “Setidaknya begitu tanteku bangun, kita semua tidak akan kena
semburnya.”
Mereka semua tertawa.
“Ya, baiklah. Pertemuan akan dimulai sebentar lagi,” ujar Ben. “Ayo kita
bersiap!”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar