Total Tayangan Halaman

Minggu, 13 Agustus 2017

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 171)




Musikal 171

“Mas Ican mana, Kak? Kok jarang lihat ya.”
Pertanyaan Tifa membuat gerakan tangan Laksmi yang sedang mengangkat jemuran terhenti. Ia menarik napas panjang lalu cepat-cepat kembali pada pekerjaan semula.
“Biasalah, bisnis.”
“Tapi kok jarang  banget pulang ya,” cerocos Tifa sambil membantu pekerjaan kakaknya. “Ayahnya Dave aja sering pulang. Masa Mas Ican kadang sebulan gak pulang.”
“Bisnis orang’kan beda-beda, Tif. Lagi pula orang sesukses ayahnya Dave punya akses perjalanan di mana-mana. Beda dengan Mas Ican yang masih mengandalkan modal sendiri.”
Tifa mengangguk dan Laksmi merasa lega karena sang adik tak bertanya-tanya lagi mengenai suaminya.
“Si ibu tuh nanya-nanya terus. Aku jadi bingung mau jawab apa,” ujar Tifa lagi. “Aku sih sudah bilang yang kayak Kakak bilang tadi, tapi tetap saja ibu gak mau percaya.”
Laksmi tak menyahut.
“Oh ya, Kak. Nanti Kakak nonton’kan pementasanku yang terakhir? Pementasan yang lalu Kakak gak nonton. Ih, jahat deh. Padahal aku gak pernah lewat kalau Kakak pentas.”
Laksmi tak bisa tak tertawa saat Tifa menggembungkan pipinya tanda merajuk. Yah, tak terasa dua tahun berlalu. Tifa, adik kecilnya, kini sudah naik ke kelas tiga. Itu artinya sebentar lagi sang adik akan lulus dan melanjutkan sekolah di universitas. Dari cerita-cerita sang adik, sepertinya gadis itu akan melanjutkan ke fakultas kesenian di luar kota. Mungkin Bandung atau Jakarta.
Laksmi hampir tak percaya waktu berlalu dengan cepat. Rasanya baru kemarin sang adik mengatakan ingin berada di panggung yang megah seperti dirinya. Sekarang hanya tinggal melewati anak tangga maka gadis kecil itu akan melampauinya. Tifa memang anak yang berbakat dan tentunya lebih beruntung darinya.
Laksmi kembali menghela napas.
“Kok malah ngeluh gitu sih, Kak?”
“Ah, gak apa-apa. Cuma panas kok.”
“Tapi Kakak bakalan datang’kan?”
Laksmi menatap wajah sang adik. Ada harapan dan keseriusan tergambar di sana.
“Ya, Kakak akan datang.”
Ekspresi Tifa berubah ceria.
“Yuk, buruan, makin panas nih.”
ooOoo
Tak ada angin tak ada hujan, tiba-tiba saja Ican pulang. Adrian menyambutnya dengan gembira, tapi tidak dengan Laksmi. Wanita itu  justru bingung dengan kepulangan suaminya.
“Saya kira Mas pulangnya minggu depan.”
“Urusannya lebih cepat,” jawab Ican pendek.
Laksmi tak berniat untuk melanjutkan percakapan. Ia meninggalkan suaminya yang sedang bermain dengan Adrian. Merasa tak diperhatikan, Ican pun menyusul istrinya ke dalam.
“Ada apa? Kenapa kamu seolah-olah tidak suka suami sendiri pulang?”
“Tidak ada.”
“Jangan bohong, Laksmi!”
Laksmi mendesah tenang, “Memangnya siapa yang berbohong di sini?”
Bibir Ican terkatup. Ekspresi tenang dari Laksmi justru seperti sedang menghunus pedang padanya. Laksmi sudah tahu rahasia terbesar yang ia sembunyikan selama ini. Akan lebih baik jika Laksmi mengamuk dan menyalahkannya. Namun, sikap diam sang istri semakin membuatnya takut.
“Saya tidak akan menyalahkan, Mas, tapi jangan salahkan saya jika saya berbuat sesuatu yang luar biasa.”
“Kamu mengancamku, Laksmi?”
Laksmi tersenyum lembut, “Apa saya terlihat seperti sedang memaksa? Tidak. Saya sedang memberikan pilihan pada Mas. Semua akhir akan tergantung pada keputusan Mas. Tapi akan saya tekankan satu hal, saya tidak akan menyakiti siapa pun.”
“A—apa yang akan kamu lakukan, Laksmi?”
Lagi-lagi senyuman lembut itu terasa mengerikan, “Tidak ada yang tahu, tapi tidak akan ada yang terluka di sini.”
Laksmi meninggalkan suaminya. Bibirnya gemetar menahan tangis. Matanya sudah memerah, tapi ketika melihat sosok bocah kecil yang tengah mengantuk di tengah kumpulan mainannya, Laksmi memaksa dirinya untuk menunda air matanya jatuh.
Bocah itu tersenyum ketika Laksmi menggendongnya. Tak lama ia tertidur. Laksmi berpapasan dengan suaminya. Tanpa mengucapkan sepatah kata, Laksmi melaluinya dan masuk ke kamar Adrian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar