Musikal
171
“Mas Ican mana, Kak?
Kok jarang lihat ya.”
Pertanyaan Tifa membuat gerakan tangan Laksmi yang sedang mengangkat
jemuran terhenti. Ia menarik napas panjang lalu cepat-cepat kembali pada
pekerjaan semula.
“Biasalah, bisnis.”
“Tapi kok jarang banget pulang
ya,” cerocos Tifa sambil membantu pekerjaan kakaknya. “Ayahnya Dave aja sering
pulang. Masa Mas Ican kadang sebulan gak pulang.”
“Bisnis orang’kan beda-beda, Tif. Lagi pula orang sesukses ayahnya Dave
punya akses perjalanan di mana-mana. Beda dengan Mas Ican yang masih
mengandalkan modal sendiri.”
Tifa mengangguk dan Laksmi merasa lega karena sang adik tak
bertanya-tanya lagi mengenai suaminya.
“Si ibu tuh nanya-nanya terus. Aku jadi bingung mau jawab apa,” ujar
Tifa lagi. “Aku sih sudah bilang yang kayak Kakak bilang tadi, tapi tetap saja
ibu gak mau percaya.”
Laksmi tak menyahut.
“Oh ya, Kak. Nanti Kakak nonton’kan pementasanku yang terakhir?
Pementasan yang lalu Kakak gak nonton. Ih, jahat deh. Padahal aku gak pernah
lewat kalau Kakak pentas.”
Laksmi tak bisa tak tertawa saat Tifa menggembungkan pipinya tanda
merajuk. Yah, tak terasa dua tahun berlalu. Tifa, adik kecilnya, kini sudah
naik ke kelas tiga. Itu artinya sebentar lagi sang adik akan lulus dan
melanjutkan sekolah di universitas. Dari cerita-cerita sang adik, sepertinya
gadis itu akan melanjutkan ke fakultas kesenian di luar kota. Mungkin Bandung
atau Jakarta.
Laksmi hampir tak percaya waktu berlalu dengan cepat. Rasanya baru
kemarin sang adik mengatakan ingin berada di panggung yang megah seperti
dirinya. Sekarang hanya tinggal melewati anak tangga maka gadis kecil itu akan
melampauinya. Tifa memang anak yang berbakat dan tentunya lebih beruntung
darinya.
Laksmi kembali menghela napas.
“Kok malah ngeluh gitu sih, Kak?”
“Ah, gak apa-apa. Cuma panas kok.”
“Tapi Kakak bakalan datang’kan?”
Laksmi menatap wajah sang adik. Ada harapan dan keseriusan tergambar di
sana.
“Ya, Kakak akan datang.”
Ekspresi Tifa berubah ceria.
“Yuk, buruan, makin panas nih.”
ooOoo
Tak ada angin tak ada
hujan, tiba-tiba saja Ican pulang. Adrian menyambutnya dengan gembira, tapi
tidak dengan Laksmi. Wanita itu justru
bingung dengan kepulangan suaminya.
“Saya kira Mas pulangnya minggu depan.”
“Urusannya lebih cepat,” jawab Ican pendek.
Laksmi tak berniat untuk melanjutkan percakapan. Ia meninggalkan
suaminya yang sedang bermain dengan Adrian. Merasa tak diperhatikan, Ican pun
menyusul istrinya ke dalam.
“Ada apa? Kenapa kamu seolah-olah tidak suka suami sendiri pulang?”
“Tidak ada.”
“Jangan bohong, Laksmi!”
Laksmi mendesah tenang, “Memangnya siapa yang berbohong di sini?”
Bibir Ican terkatup. Ekspresi tenang dari Laksmi justru seperti sedang menghunus
pedang padanya. Laksmi sudah tahu rahasia terbesar yang ia sembunyikan selama
ini. Akan lebih baik jika Laksmi mengamuk dan menyalahkannya. Namun, sikap diam
sang istri semakin membuatnya takut.
“Saya tidak akan menyalahkan, Mas, tapi jangan salahkan saya jika saya
berbuat sesuatu yang luar biasa.”
“Kamu mengancamku, Laksmi?”
Laksmi tersenyum lembut, “Apa saya terlihat seperti sedang memaksa?
Tidak. Saya sedang memberikan pilihan pada Mas. Semua akhir akan tergantung
pada keputusan Mas. Tapi akan saya tekankan satu hal, saya tidak akan menyakiti
siapa pun.”
“A—apa yang akan kamu lakukan, Laksmi?”
Lagi-lagi senyuman lembut itu terasa mengerikan, “Tidak ada yang tahu,
tapi tidak akan ada yang terluka di sini.”
Laksmi meninggalkan suaminya. Bibirnya gemetar menahan tangis. Matanya
sudah memerah, tapi ketika melihat sosok bocah kecil yang tengah mengantuk di
tengah kumpulan mainannya, Laksmi memaksa dirinya untuk menunda air matanya
jatuh.
Bocah itu tersenyum ketika Laksmi menggendongnya. Tak lama ia tertidur. Laksmi
berpapasan dengan suaminya. Tanpa mengucapkan sepatah kata, Laksmi melaluinya
dan masuk ke kamar Adrian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar