Total Tayangan Halaman

Minggu, 27 Agustus 2017

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 177)



Musikal 177

Murni bunuh diri. Tak bekas kekerasan lain di tubuhnya. Keluarga ini pun hanya bisa pasrah kalau putri tertua mereka harus meninggal dengan cara yang demikian. Berita sudah tersebar luas. Orang-orang semakin banyak berdatangan. Namun, hanya segelintir orang yang bertahan hingga di pemakaman.
Tifa masih memeluk gundukan tanah merah dengan tangisan yang tiada berhenti. Dave dan beberapa sahabatnya berusaha membujuknya pulang, tapi gadis itu masih berduka di atas pusara kakaknya.
“Tif, ayo pulang.”
Suara berat sang ayah menggugah hatinya. Dengan dibantu teman-temannya, ia bangkit dan meninggalkan makam kakaknya. Ia masih menoleh ke belakang sesekali. Berat rasanya meninggalkan kakaknya sendirian di sana.
Duka masih menyelimuti keluarga ini meski hari-hari telah berlalu. Walaupun kedua orang Tifa sudah bersikap seperti biasa, tetapi tidak dengan anak bungsunya. Tifa memilih mengurung diri di kamar dan absen sekolah selama hampir seminggu. Sepertinya dari semua orang yang kehilangan Laksmi, dialah yang paling terguncang.
Tifa tidak makan dan hanya minum sedikit air. Ia hanya keluar dari kamar jika sang ayah sudah meneriakinya dari luar. Kalau pun ia makan, itu hanya di depan orang tuanya saja dan tidak sampai satu sendok. Ia lebih banyak melamun di meja makan sambil mengaduk-aduk piringnya kemudian kembali ke kamar.
Dave yang merasa cemas karena absenya Tifa akhirnya memutuskan untuk datang ke rumah gadis itu. Sang ayah sedang pergi bekerja dan hanya ada ibunya yang sedang mengasuh Adrian. Air mukanya tampak muram saat menyapa Dave.
“Bujuklah dia, Dave. Ibu jadi khawatir.”
Dave mengangguk dan segera menuju kamar Tifa. kamar gadis itu tidak terkunci karena sang ayah sudah menyita ketika gadis itu sedang keluar. Dave mendapati gadis itu sedang telungkup di atas ranjang. Padahal seminggu yang lalu gadis itu masih terlihat segar, tapi sekarang ia terlihat sangat layu bahkan mulai mengurus. Dave duduk di tepi ranjang seraya membelai rambut gadis itu.
Tifa merespon hanya dengan lirikan. Ia tidak mengusir Dave, tapi tidak juga mengindakhkan kedatangan pemuda itu.
“Kamu sudah makan, Tif?”
“Aku gak mau makan,” bisiknya.
Dave cukup terkejut karena Tifa mau menjawab. Namun, jawaban negatif tak membuatnya menjadi tenang. Ia tak berani membujuk lebih jauh.
Tiba-tiba Adrian menyerobot masuk. Ia berguling di samping Tifa seraya menarik-narik ujung baju tantenya.
“Tanteee, aku lapaaar. Buatin nasi goreng.”
Buru-buru Dave menjauhkan Adrian dari Tifa. Bisa gawat kalau sampai tantrum Tifa keluar.
“Tantenya istirahat dulu. Nasi gorengnya dibuatin sama nenek aja ya.”
“Nenek lagi ke rumah sebelah,” gerutu Adrian. Ia kembali menarik-narik ujung baju Tifa. “Tanteee, buatin dong.”
‘….Adrian sekarang adalah tanggung jawabmu….’
Kata-kata kakaknya membuat Tifa mengumpulkan segenap tenaganya untuk bangkit. Ia boleh saja menyiksa diri, tapi tidak dengan anak ini. Sebelum kakaknya pergi, ia sudah menitipkan bocah ini padanya. Ia tidak boleh menyia-nyiakan tanggung jawab itu.
Dave berhasil menangkap tubuh Tifa yang limbung. Sepertinya Tifa mulai terkena anemia karena tidak makan selama berhari-hari. Akibatnya ketika ia bangun tiba-tiba, keseimbangan tubuhnya tidak mantap.
“Mau ke mana kamu, Tif?”
“Ke dapur. Buatin nasi goreng.”
Dave mendesah berat, “Oke, kita ke dapur, tapi biar aku saja yang masak.”
“Memangnya Om bisa masak?” ujar Adrian.
“Bisa dong,” Dave terkekeh seraya meletakkan lengan Tifa di pundaknya. “Adrian, kamu duluan saja ke dapur. Om bantu Tantemu dulu. Dia lagi gak enak badan.”
Untungnya Adrian tak protes. Ia langsung melesat ke dapur dan duduk manis di meja makan. Tak lama kemudian Dave sampai dan mendudukkan Tifa di sebelah Adrian. Tifa sangat kuyu bahkan ia tak bisa menolak gagasan Dave.
Dave dengan cekatan mengolah bahan mentah menjadi sepiring nasi goreng yang lezat. Melihat Dave yang berusaha untuk menenangkan Adrian, muncul rasa bersalah pada diri Tifa. Ia merasa malu karena dengan tubuhnya yang lemah ia jadi tidak bisa mengurus Adrian dengan baik. Ia pun memantapkan tekad untuk membuat dirinya lebih baik agar ia bisa menjaga Adrian seperti pesan kakaknya.
“Dave, aku mau makan.”
Kalimat itu adalah kalimat paling menyenangkan yang pernah Dave dengar. Apa pun akan ia lakukan agar kalimat itu bisa keluar dari bibir gadis itu.
“Tapi aku mau minum kopi juga.”
Sebenarnya permintaan kedua Tifa cukup berbahaya. Ia takut akan efek sampingnya nanti. Namun, menolak permintaan kedua sama saja membatalkan permintaan pertama. Oleh karena itu, Dave hanya bisa mengiyakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar