Musikal 64
Suasana kelas kembali ramai dengan kehadiran Ben,
Kemal, dan Wenda yang sudah bangun dari absennya. Meski terlihat normal, tapi
status Wenda dan Priyanka masih dikatakan perang dingin. Jangankan saling
bicara, bila mata mereka saling bertemu cepat-cepat Wenda mengalihkan
pandangannya. Wenda benar-benar memperlakukan gadis itu seperti penyakit
menular. Dendam di hatinya masih terus membara.
Namun, masalah yang
terjadi di antara dua gadis itu segera tertutupi dengan kabar dari Anjani yang
sudah masuk 12 finalis tetap di ajang pencarian bakat menyanyi. Dimana-mana
orang membicarakan namanya, bahkan tak sabar lagi untuk melihat penampilan
Anjani di malam gala. Semua orang penasaran kejutan apa yang akan ia berikan
nanti.
Saat semua nama
Anjani disebut, perhatian orang-orang juga tertuju pada kembarannya, Andani.
Namun, ketika ia ditanya-tanya perihal saudarinya, Andani hanya memjawab
sekenanya. Ia bahkan seolah menghindari pertanyaan mengenai Anjani. Tentu saja
itu menarik perhatian Ririn yang selalu bersamanya.
“ Aku perhatikan kamu
kayak gak suka gitu kalau ditanya-tanya soal Anjani.”
Kedua sahabat ini
sedang menghabiskan waktu istirahat di kantin. Bukannya menjawab, Andani justru
melamun saat Ririn bertanya padanya. Ririn pun sampai melayangkan tangannya di
hadapan gadis itu.
“ Hei, jangan buat
aku seolah bicara dengan tembok dong.”
“ Itu karena aku
tidak tahu harus menjawab apa,” Andani menopang dagu dengan malas. Tangannya
reflesk mengaduk-aduk es teh yang sebenarnya tak perlu diaduk.
“ Memangnya ada apa
lagi antara kamu dengan Anjani? Bukannya kamu pernah cerita kalau kamu dengan dia
sudah baikkan?”
“ Aku tidak tahu
dimana batas antara baikan dan marahan, Rin,” Andani terbatuk sebentar, lalu
kembali bertopang dagu. “ Yang jelas aku sedih karena Anjani lebih dulu memberi
kabar tentang dirinya dengan orang lain ketimbang aku yang saudarinya sendiri.”
Ririn tersentak, “
Eh, dia masih begitu?”
Andani mengangguk
lemas, “ Aku pikir setelah kami baikan di bandara kemarin hubungan kami
benar-benar membaik, tapi ternyata tidak. Rin, apa menurutmu Anjani itu
benar-benar menganggap aku itu gak ada ya?”
Ya Tuhan….
Ririn hanya bisa
mendesah berat. Kenapa Andani langsung berpikir pada hal-hal yang menyedihkan?
Namun, ia juga tidak berani mengatakan sesuatu yang bersifat menghibur karena
ia juga tak tahu apa isi hati Anjani.
Merasa tak ada
tanggapan dari sahabatnya, Andani pun memutuskan untuk menghabiskan es tehnya
yang masih separuh. Tiba-tiba saja Ririn menyergap tangannya, hingga membuat
Andani tersedak.
“ Astaga, Rin, uhuk,
uhuk. Kenapa sih?”
“ Kamu itu yang
astaga. Kok minum es sih? ‘kan Miss
Tifa sudah larang kita buat minum es. Ya ampuun, udah habis pula.”
Andani menepuk
keningnya, “ Oh iya, kok aku bisa lupa ya? Aduuuh, Rin, jangan bilang-bilang Miss Tifa ya.”
Ririn memberengut, “
Mau bilang juga percuma. Barang buktinya sudah ada di perut kamu. Ya udah,
jangan diulangi lagi.”
“ Hehehe, maaf deh.
Aku beneran lupa,” Andani tertawa cengengesan seraya berdeham beberapa kali. “
Yuk ah, cabut. Kelamaan di sini buat aku mau pesan gelas kedua.”
ooOoo
Hari demi hari dilalui Anjani dengan latihan yang
tiada henti. Tanpa terasa malam gala pertama tinggal hitungan jam. Jantungnya
berdebar-debar menantikan gilirannya untuk beraksi di atas panggung. Sejuta
dukungan sudah ia terima dari para sahabat sejak ia mengumumkan bahwa ia akan
tampil malam ini.
Namun, ada sesuatu
yang mengganjal di hatinya. Anjani mencoba mengingat apa yang belum ia lakukan
selama seminggu ini. Ia menata ulang memorinya, tapi masih saja ia tak bisa
mengingat. Lamunannya terbuyar saat salah seorang kru memanggilnya.
“ Anjani, waktumu 30
detik lagi.”
‘ Lupakan, Anjani! Saat ini kamu harus fokus pada tiga
menit terbaikmu nanti!’
Dalam sekejap fokus
Anjani langsung tertuju hanya pada dirinya. Ia sudah bersiap dia atas panggung.
Lampu sorot yang tadinya padam kini terarah padanya. Musik mulai mengalun.
Anjani bergerak sesuai irama dan mengharmonisasikannya dengan para dancer.
I was a liar, I gave into the fire
I know I should’ve fought it
At least I’m being honest
Feel like a failure
‘cause I know that I failed you
I should’ve done you better
‘cause you don’t want a liar
And I know, and
I know, and I know
She gives you everything but, boy,
I couldn’t give it to you
And I know, and
I know, and I know
That you got everything
But I got nothing here without you
Penonton bersorak
saat Anjani menunjukkan goyangan pinggulnya yang cukup seksi. Lagu itu memang
menceritakan seorang perempuan yang ingin kekasihnya kembali. Tak peduli meski
lelaki itu sudah punya kekasih lagi, yang terpenting kekasihnya itu bisa
terbangun di pelukannya.
Lagu itu memang berlirik sedih, tapi tidak dengan
komposisi lagunya. Terdengar cukup nge-beat
dan cocok dengan tarian Anjani saat ini.
So one last time
I need to be the one who takes you home
One more time
I promise after that, I’ll let you go
Baby, I don’t care if got her in your heart
All really care
is you wake up in my arms
One last time
I need to be
the one who one takes you home
(“One
Last Time” by Ariana Grande)
Dan Anjani berhasil
menggebrak malam gala perdananya.
ooOoo
“ Janeee, tadi
itu keren bangeeet!”
Suara Wenda begitu
memekakkan telinga Anjani, bahkan ia harus menjauhkan headset dari telinganya. Wenda tak sendiri, bersama Ben dan Kemal,
mereka menghubungi Anjani lewat video
call selepas Anjani turun dari panggung. Anjani baru saja mengatakan halo,
tapi ketiga sahabatnya langsung mencerocosnya dengan ribuan kata.
“ Waah, aku gak pernah berpikir kalau kamu
bisa dance juga, Jane,” sahut
Ben.
“ Iya dong. Percuma
aja aku punya tiga kawan pintar menari, tapi aku sendiri gak bisa menari.”
“ Kamu belajar dengan baik, Jane,” ujar
Wenda.
“ Andai kamu bukan Anjani yang aku kenal,
pasti aku udah klepek-klepek lihat goyangan seksi kamu tadi,” ujar Kemal. “ Sayang, ternyata kamu Anjani.”
Kalau saja Anjani
sedang berkumpul dengan mereka, ia pasti sudah menghadiahi Kemal sebuah pukulan
di kepala laki-laki itu. Namun, untuk kali ini cukup Wenda saja yang
mewakilinya. Anjani hanya bisa terkekeh melihat tingkah laku ketiga sahabatnya.
“ Oke deh, Jane. Good luck ya. Kita udah sms kamu sampai pulsa kita
habis. Pokoknya kamu jangan pulaaang!” Wenda terkekeh. “ By the way, kita sekarang lagi nobar di rumah Kemal loh. Kamu semangat yaa!”
Anjani tersenyum, “
Siiip deh! Eh, kalian pulangnya hati-hati ya. Aku tutup duluan ya. Salam buat
yang lain.”
“ Bye, Janeee!”
Anjani merasa lebih
bersemangat setelah menyapa ketiga sahabatnya. Ben, Kemal, dan Wenda adalah
tiga komposisi esensial yang selalu membuat hidupnya lebih bewarna. Mereka
bertiga selalu ada kala ia senang dan sedih. Ia sedikit menyesal karena tak
bisa bersama ketika ketiganya sedang menghadapi masalah kemarin. Namun, saat
melihat mereka baik-baik saja, Anjani sangat bersyukur.
Gadis itu menegapkan
badannya. Ia harus bekerja lebih keras lagi. Ia tak mau pulang sekarang karena
ia telah berjanji untuk tidak mengecewakan siapa pun yang telah mendukungnya.
Ben, Kemal, dan Wenda
adalah tiga komposisi esensial yang selalu membuat hidupnya lebih bewarna. Ya,
hanya mereka. Sayang, Anjani melupakan satu nama yang seharusnya tak bisa lepas
darinya.
Author's Note:
Sebenernya udah lama mau ganti cover, tapi kemarin-kemarin lagi krisis sinyal. Jadinya, cuma bisa sekadar posting. But now, udah diganti, hehehe...
Oh ya, di musikal yang sebelumnya ada adegan dimana Alexi, Hiro, dan Jiro cover lagu John Legend yang "All of Me". Kalau yang mau dengar gimana perpaduan antara keyboard, violin, dan cello di lagu itu bisa nonton di https://www.youtube.com/watch?v=X5F9zGfV4BA Author terinspirasi dari nonton video itu. ^^
Btw, beberapa hari yang lalu Hey Say Jump barusan rilis album yang bertajuk "DEAR" dengan lagu andalannya "Masquerade". Udah pada denger belom??? Kalau Author sih sekarang tiap pagi. Hahaha... Tapi lagu kesukaan Author yaitu duetnya Yamada Ryosuke dan Arioka Daiki yang judulnya "My Girl". Gilaaak... suaranya seksi banget :*
Eh, Author malah curhat! Ya udah deh, see you next week...
please comment and share

Tidak ada komentar:
Posting Komentar