Musikal 65
Suasana latihan malam pun masih dipenuhi topik seputar
penampilan Anjani di malam gala. Semua orang memujinya. Andai saja Anjani ada
di sana mungkin ia akan tahu begitu banyak orang yang mengakui eksistensi
dirinya.
Namun, nama Anjani
langsung lenyap begitu mereka ditenggelamkan dalam latihan super berat ala
Tifa. Malam kedua latihan malam ternyata lebih berat daripada malam pertama dan
entah kenapa malam ini yang ketiban sial adalah tim musik. Biasanya tim ini
tidak pernah terdengar ada masalah, tapi kali ini mereka harus bekerja ekstra
karena salah satu anggotanya terus-terusan melakukan kesalahan. Penyebabnya pun
dari orang yang tak pernah dikira, orang itu adalah Andani.
“ Oke, stop!” Gloria mengangkat tangannya. “ Andani,
ulang dari chorus!”
Andani berdeham, ia
pun menuruti perintah sang guru. Namun, Gloria kembali mengangkat tangannya.
“ Stop! Ulangi!”
Andani kembali
mengulang.
“ Ulangi!”
Kejadian ini terulang
hampir sepuluh kali. Entah kenapa tiap kali Andani bernyanyi, suara terdengar
sumbang. Malam ini kualitas vokal Andani benar-benar dipertanyakan. Kemana
hilangnya suara emas yang selama ini ia banggakan?
Bahkan Alexi yang
biasanya tak pernah menunjukkan emosinya pun melemparkan tatapan sebal pada
gadis ini. Tak hanya dia, tapi semua anggota tim musik juga dibuat kerepotan
dengan sumbangnya suara gadis itu. Bagaimana tidak, semua orang juga harus
mengulang tiap kali ia melakukan kesalahan.
Gloria menghela napas
panjang. ‘Ini tak akan berhasil,’
keluhnya dalam hati. Sebenarnya ia juga kasihan melihat Andani yang sekarang
menjadi pusat penumpahan kekesalan dari teman-temannya. Gloria menggaruk-garuk
kepalanya seraya memikirkan solusi dari masalah ini.
“ Baiklah, tim musik
istirahat lima menit,” ujar Gloria. “ Dan kamu Andani, cari air hangat di
belakang dan minumlah. Kurangi bicaramu untuk malam ini. Suaramu benar-benar
payah malam ini.”
Andani mengangguk
pelan. Baru kali ini ia merasa suaranya jadi pembuat masalah. Ia pun menuju
belakang panggung untuk mencari air hangat dan di sana ia bertemu Ririn yang
sedang membuatkan kopi untuk Tifa.
“ An, ada apa?”
“ Emm, aku disuruh
minum air hangat. Masih ada’kan?”
Ririn hanya
menggendikkan dagunya ke arah termos bewarna pink, lalu ia bertanya, “ Ada
masalah?”
“ Aku pikir suaraku
agak bermasalah malam ini,” Andani menghela napas. “ Rin, apa menurutmu ini
efek dari es teh yang aku minum tempo hari ya?”
Kening Ririn
berkerut, “ Wah, bisa jadi tuh. Kamu sih bandel, pasti sekarang suara kamu
serak-serak gitu’kan?”
Wajah Andani terlihat
kesal, “ Duuh, gimana dong? Enak Bu Gloria marahnya gak seberapa, kalau Miss Tifa? Wah, bisa ditelan hidup-hidup
aku.”
“ Ada baiknya kamu
langsung ke dokter besok. Bisa bahaya kalau dibiarkan. Oh ya, aku punya permen
pelega tenggorokan, kamu mau?”
Andani mengangguk,
lalu ia menerima sebuah permen rasa mint dari sahabatnya. Sambil mengulum
permen itu Andani membuat janji dalam hatinya bahwa ia tidak akan mengonsumsi
es dari jenis apa pun.
ooOoo
Saat Andani terbangun di Senin pagi, ia merasa hal
yang tak nyaman di tenggorokannya. Ia berdeham beberapa kali untuk meredakan
rasa tak nyaman itu, tapi percuma, tenggorokannya masih terasa aneh. Ia pun
teringat pesan Ririn untuk segera ke dokter.
Orang tuanya pun
setuju saat Andani meminta ke dokter. Setelah itu, Andani bergegas ke rumah
Ririn untuk mengantarkan surat izin. Ia beruntung karena gadis itu baru saja
selesai mengingkat tali sepatu di teras rumah. Ririn merasa heran dengan
kedatangan Andani yang tidak mengenakan seragam sekolah.
“ Hei, An. Loh, kamu
gak mau pergi sekolah?”
“ Aku mau pergi ke
dokter dulu, Rin. Kayaknya suaraku tambah kacau,” Andani memberikan selembar
surat pada Ririn. “ Aku mau titip surat izin sama kamu.”
Ririn cukup terkejut
saat menerima surat itu, “ Ya ampun, semoga gak kenapa-kenapa ya. Cepat sembuh,
An.”
“ Thank’s ya, Rin. Kalau gitu aku balik
dulu.”
Setelah berpisah
dengan Andani, Ririn pun meneruskan perjalananya ke sekolah. Saat ia sedang
menunggu angkot, tibat-tiba sebuah Alphard
putih berhenti di depannya. Saat jendela mobil itu terbuka, sosok wajah
oriental menyapanya.
“ Ohh, Jiro Senpai, Hiro Senpai!”
“ Nah, ini yang aku
suka dari si ikal ini. Cuma dia yang panggil kita dengan sebutan Senpai,” ujar Jiro.
“ Ririn chan, perginya bareng kita aja yuk,”
ajak Hiro.
“ Waah, arigatou, Senpai!”
“ Kamu bisa bahasa
Jepang?” tanya Hiro ketika mobil mereka kembali melaju.
“ Aah, gak juga sih.
Aku cuma tahu kata-kata dasar. Efek dari nonton anime.”
Duo Hasegawa ini
serempak tertawa, bahkan supir mereka pun ikut-ikutan tersenyum.
“ Oh ya, biasanya
kamu pergi bareng si Andani. Kok tumben gak barengan?”
“ Ahh, dia lagi pergi
ke rumah sakit. Dari kemarin ia merasa ada gangguan dengan suaranya.”
Hiro dan Jiro saling
bertukar pandang. Ya, mereka tahu masalah apa yang terjadi waktu itu.
“ Semoga temanmu itu
baik-baik saja. Untuk penyanyi seperti dia, suara adalah modal utamanya.”
Ririn menangkap
ekspresi sedih ketika Hiro mengatakan hal itu. Sorot matanya terlihat
menerawang jauh. Laki-laki itu seperti tengah memikirkan sesuatu.
“ Ya, aku juga
berharap demikian.”
Kegiatan Ririn di
sekolah berjalan seperti biasa. Saat bel istirahat ia menyempatkan diri
mengirim pesan pada Andani untuk menanyakan kabar. Namun, sampai malam
menjelang pesan itu tak pernah terbalas. Ririn bahkan sampai mengecek sinyal
dan pulsanya. Semuanya baik-baik saja, tapi kenapa Andani tak membalas. Andani
bukanlah orang yang biasa mengabaikan pesan orang lain.
Ririn kembali
mengecek ponselnya sebelum tidur. Pesan itu tak kunjung di balas. Ia pun
beramsumsi bahwa sahabatnya itu mungkin sedang lelah atau sedang tidak pulsa.
Meski begitu Ririn berharap tidak ada hal buruk yang menimpa gadis itu.
ooOoo
Hari Senin ini adalah hari Senin terpanjang yang
pernah Andani rasakan. Begitu ia sampai di rumah sakit, ia langsung dihadapkan
pada serangkaian tes. Tes yang paling menyakitkan adalah tes menggunakan
videostroboskopi, yaitu memasukkan selang teleskop kaku dari mulut. Di ujung
selang itu terdapat kamera kecil yang digunakan untuk melihat kondisi kotak
suara.
Wajah sang dokter
terlihat muram saat ia berhadapan dengan Andani dan ibunya. Mata dokter itu
bergantian menatap kertas hasil pemeriksaan dan Andani.
“ Sebenarnya ini
bukan kabar yang menyenangkan, tapi bagaimana pun juga harus saya sampaikan,”
dokter itu menghela napas. “ Anak Anda mengalami nodes atau pembengkakan pita suara.”
Andani hampir saja
histeris mendengar kabar tersebut. Bagaimana mungkin ia bisa terkena penyakit
berbahaya seperti itu di saat yang sangat urgen. Ia melirik ibunya, ternyata
ibunya justru lebih panik dari dirinya sendiri.
“ Penyebabnya
beragam, tapi kalau dilihat dari kondisinya mungkin anak Ibu terlalu banyak
menggunakan suaranya sehingga pita suaranya membengkak.”
“ Lalu apa yang harus
kami lakukan, Dok?” tanya ibunya.
“ Anak ibu harus
mengistirahatkan suaranya. Tidak harus bedrest,
yang penting meminimalisir penggunaan suara, setidaknya dua sampai tiga
minggu. Saran saya, ada baiknya anak ibu segera melakukan pembedahan pada pita
suara. Bisa dengan bedah mikro atau laser. Pembedahan ini agar dapat
memperbaiki suara anak ibu.”
Bedah? Operasi?
Andani terhenyak di kursinya. Jika saja saat ini ia tak tergabung di Love Musical mungkin ia tak akan sepanik
ini. Sekarang ia harus bagaimana?
Dokter dan ibunya
mulai mendiskusikan mengenai operasinya. Namun, tak satu kata pun yang masuk di
telinga Andani. Kepalanya benar-benar kosong. Ia bahkan mengabaikan pesan dari
Ririn yang menanyakan kabarnya.
Saat dokter itu
mengatakan ada masalah dengan pita suaranya, Andani langsung merasakan masa
depannya hancur. Ia tahu operasi bisa menyembuhkannya, tapi bagaimana dengan Love Musical? Bagaimana ia bertanggung
jawab pada semua teman-temannya? Apakah mungkin Love Musical bisa terus berjalan jika hampir semua musik didominasi
oleh suaranya? Makin lama makin banyak pertanyaan yang muncul di kepalanya dan
semua pertanyaan itu kini menjepitnya ke dalam sebuah kotak sempit.
Sesampaianya di
rumah, ibunya masih sibuk mendiskusikan operasinya dengan sang ayah. Andani mulai
merasa dadanya sesak. Ia sudah muak dengan kata ‘operasi’. Ia ingin tidur dan
melupakan semuanya. Ia berharap kalau sekarang ia hanya bermimpi buruk dan
besok pagi semua yang terjadi hari ini tidak pernah terjadi.
Sayang, semua itu
benar-benar mimpi.
ooOoo
Anjani baru saja selesai latihan vokal. Ia merasa
tenggorokannya sangat kering. Ia mengambil sebuah air mineral botol dan
meminumnya seraya memainkan ponsel. Ia mengecek sosial medianya, ternyata follower-nya kini makin banyak. Mereka
semua memuji penampilannya tempo hari, bahkan ada yang mengirimkan video
rekaman padanya. Anjani merasa senang sekaligus terharu atas pencapaian
pertamanya. Ia berharap hal ini akan terus membuatnya membumbung tinggi.
“ Anjani, kalau sudah
kumpul ke sini ya!” teriak salah satu pelatihnya.
“ Oke, Pak!”
Anjani meletakkan
botol airnya di sembarang tempat. Mungkin karena terburu-buru botol itu tidak
ditaruh sempurna dan akhirnya jatuh. Sialnya, botol itu tak hanya jatuh tapi
menggelinding menuruni tangga. Mau tak mau Anjani harus mengejar botol itu
dahulu. Botol itu sudah sampai di lantai dasar dan ketika Anjani mau meraihnya
ia ketiban sial lagi. Entah kenapa kakinya tiba-tiba tidak menapaki anak tangga
terakhir hingga ia tejerembab di lantai.
“ Hei, kamu gak
apa-apa?”
Untungnya orang-orang
yang berada di sana segera menolongnya. Anjani masih beruntung karena hanya
mengalami lecet di lutut bukan terkilir. Namun, sesaat sebelum ia berdiri tegak
ia melihat sesosok gadis berambut panjang melintas di hadapannya dengan cepat. Sangat
cepat sampai Anjani tak sempat melihat wajahnya, tapi entah kenapa sosok bayangan
tadi mengingatkannya pada seseorang yang sudah tidak asing lagi.
Andani…
Anjani menggeleng
cepat. Mana mungkin saudarinya itu tiba-tiba ada di sana. Ia yakin saat ini
kembarannya itu sedang sibuk latihan di gedung teater. Lalu siapa orang itu
tadi? Kenapa keberadaannya yang sangat cepat itu justru mengingatkannya pada
gadis itu? Lagi pula banyak wanita berambut panjang, tapi kenapa hanya Andani
yang terlintas di kepalanya? Apa terjadi sesuatu dengan gadis itu?
“ Kamu yakin
baik-baik saja?”
“ Ah, i—iya. Makasih
banyak,” ujar Anjani seraya berlalu.
Hingga esok harinya
bayangan Andani tak bisa lepas dari pikirannya.
Author's Note:
Vocal nodul itu semacam pembengkakan pita suara. Harus dioperasi, kalau gak bisa bikin bahaya. Di Indonesia, khususnya Palembang sepertinya memang belum ada teknologi untuk operasi itu, tapi Author sengaja buat ada biar pas sama ceritanya. Author berharap semoga di Indonesia, khususnya Palembang, sudah ada alat untuk operasi pita suara.
Btw, Author bukan ahli kesehatan. Author cuma search di internet. Kalau mau lebih tahu soal penyakitnya Andani, silakan tanya sama Om Google, hehehehe
Tidak ada komentar:
Posting Komentar