Total Tayangan Halaman

Jumat, 12 Agustus 2016

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 65)




Musikal 65

Suasana latihan malam pun masih dipenuhi topik seputar penampilan Anjani di malam gala. Semua orang memujinya. Andai saja Anjani ada di sana mungkin ia akan tahu begitu banyak orang yang mengakui eksistensi dirinya.
Namun, nama Anjani langsung lenyap begitu mereka ditenggelamkan dalam latihan super berat ala Tifa. Malam kedua latihan malam ternyata lebih berat daripada malam pertama dan entah kenapa malam ini yang ketiban sial adalah tim musik. Biasanya tim ini tidak pernah terdengar ada masalah, tapi kali ini mereka harus bekerja ekstra karena salah satu anggotanya terus-terusan melakukan kesalahan. Penyebabnya pun dari orang yang tak pernah dikira, orang itu adalah Andani.
“ Oke, stop!” Gloria mengangkat tangannya. “ Andani, ulang dari chorus!”
Andani berdeham, ia pun menuruti perintah sang guru. Namun, Gloria kembali mengangkat tangannya.
“ Stop! Ulangi!”
Andani kembali mengulang.
“ Ulangi!”
Kejadian ini terulang hampir sepuluh kali. Entah kenapa tiap kali Andani bernyanyi, suara terdengar sumbang. Malam ini kualitas vokal Andani benar-benar dipertanyakan. Kemana hilangnya suara emas yang selama ini ia banggakan?
Bahkan Alexi yang biasanya tak pernah menunjukkan emosinya pun melemparkan tatapan sebal pada gadis ini. Tak hanya dia, tapi semua anggota tim musik juga dibuat kerepotan dengan sumbangnya suara gadis itu. Bagaimana tidak, semua orang juga harus mengulang tiap kali ia melakukan kesalahan.
Gloria menghela napas panjang. ‘Ini tak akan berhasil,’ keluhnya dalam hati. Sebenarnya ia juga kasihan melihat Andani yang sekarang menjadi pusat penumpahan kekesalan dari teman-temannya. Gloria menggaruk-garuk kepalanya seraya memikirkan solusi dari masalah ini.
“ Baiklah, tim musik istirahat lima menit,” ujar Gloria. “ Dan kamu Andani, cari air hangat di belakang dan minumlah. Kurangi bicaramu untuk malam ini. Suaramu benar-benar payah malam ini.”
Andani mengangguk pelan. Baru kali ini ia merasa suaranya jadi pembuat masalah. Ia pun menuju belakang panggung untuk mencari air hangat dan di sana ia bertemu Ririn yang sedang membuatkan kopi untuk Tifa.
“ An, ada apa?”
“ Emm, aku disuruh minum air hangat. Masih ada’kan?”
Ririn hanya menggendikkan dagunya ke arah termos bewarna pink, lalu ia bertanya, “ Ada masalah?”
“ Aku pikir suaraku agak bermasalah malam ini,” Andani menghela napas. “ Rin, apa menurutmu ini efek dari es teh yang aku minum tempo hari ya?”
Kening Ririn berkerut, “ Wah, bisa jadi tuh. Kamu sih bandel, pasti sekarang suara kamu serak-serak gitu’kan?”
Wajah Andani terlihat kesal, “ Duuh, gimana dong? Enak Bu Gloria marahnya gak seberapa, kalau Miss Tifa? Wah, bisa ditelan hidup-hidup aku.”
“ Ada baiknya kamu langsung ke dokter besok. Bisa bahaya kalau dibiarkan. Oh ya, aku punya permen pelega tenggorokan, kamu mau?”
Andani mengangguk, lalu ia menerima sebuah permen rasa mint dari sahabatnya. Sambil mengulum permen itu Andani membuat janji dalam hatinya bahwa ia tidak akan mengonsumsi es dari jenis apa pun.
ooOoo
Saat Andani terbangun di Senin pagi, ia merasa hal yang tak nyaman di tenggorokannya. Ia berdeham beberapa kali untuk meredakan rasa tak nyaman itu, tapi percuma, tenggorokannya masih terasa aneh. Ia pun teringat pesan Ririn untuk segera ke dokter.
Orang tuanya pun setuju saat Andani meminta ke dokter. Setelah itu, Andani bergegas ke rumah Ririn untuk mengantarkan surat izin. Ia beruntung karena gadis itu baru saja selesai mengingkat tali sepatu di teras rumah. Ririn merasa heran dengan kedatangan Andani yang tidak mengenakan seragam sekolah.
“ Hei, An. Loh, kamu gak mau pergi sekolah?”
“ Aku mau pergi ke dokter dulu, Rin. Kayaknya suaraku tambah kacau,” Andani memberikan selembar surat pada Ririn. “ Aku mau titip surat izin sama kamu.”
Ririn cukup terkejut saat menerima surat itu, “ Ya ampun, semoga gak kenapa-kenapa ya. Cepat sembuh, An.”
Thank’s ya, Rin. Kalau gitu aku balik dulu.”
Setelah berpisah dengan Andani, Ririn pun meneruskan perjalananya ke sekolah. Saat ia sedang menunggu angkot, tibat-tiba sebuah Alphard putih berhenti di depannya. Saat jendela mobil itu terbuka, sosok wajah oriental menyapanya.
“ Ohh, Jiro Senpai, Hiro Senpai!”
“ Nah, ini yang aku suka dari si ikal ini. Cuma dia yang panggil kita dengan sebutan Senpai,” ujar Jiro.
“ Ririn chan, perginya bareng kita aja yuk,” ajak Hiro.
“ Waah, arigatou, Senpai!”
“ Kamu bisa bahasa Jepang?” tanya Hiro ketika mobil mereka kembali melaju.
“ Aah, gak juga sih. Aku cuma tahu kata-kata dasar. Efek dari nonton anime.”
Duo Hasegawa ini serempak tertawa, bahkan supir mereka pun ikut-ikutan tersenyum.
“ Oh ya, biasanya kamu pergi bareng si Andani. Kok tumben gak barengan?”
“ Ahh, dia lagi pergi ke rumah sakit. Dari kemarin ia merasa ada gangguan dengan suaranya.”
Hiro dan Jiro saling bertukar pandang. Ya, mereka tahu masalah apa yang terjadi waktu itu.
“ Semoga temanmu itu baik-baik saja. Untuk penyanyi seperti dia, suara adalah modal utamanya.”
Ririn menangkap ekspresi sedih ketika Hiro mengatakan hal itu. Sorot matanya terlihat menerawang jauh. Laki-laki itu seperti tengah memikirkan sesuatu.
“ Ya, aku juga berharap demikian.”
Kegiatan Ririn di sekolah berjalan seperti biasa. Saat bel istirahat ia menyempatkan diri mengirim pesan pada Andani untuk menanyakan kabar. Namun, sampai malam menjelang pesan itu tak pernah terbalas. Ririn bahkan sampai mengecek sinyal dan pulsanya. Semuanya baik-baik saja, tapi kenapa Andani tak membalas. Andani bukanlah orang yang biasa mengabaikan pesan orang lain.
Ririn kembali mengecek ponselnya sebelum tidur. Pesan itu tak kunjung di balas. Ia pun beramsumsi bahwa sahabatnya itu mungkin sedang lelah atau sedang tidak pulsa. Meski begitu Ririn berharap tidak ada hal buruk yang menimpa gadis itu.
ooOoo
Hari Senin ini adalah hari Senin terpanjang yang pernah Andani rasakan. Begitu ia sampai di rumah sakit, ia langsung dihadapkan pada serangkaian tes. Tes yang paling menyakitkan adalah tes menggunakan videostroboskopi, yaitu memasukkan selang teleskop kaku dari mulut. Di ujung selang itu terdapat kamera kecil yang digunakan untuk melihat kondisi kotak suara.
Wajah sang dokter terlihat muram saat ia berhadapan dengan Andani dan ibunya. Mata dokter itu bergantian menatap kertas hasil pemeriksaan dan Andani.
“ Sebenarnya ini bukan kabar yang menyenangkan, tapi bagaimana pun juga harus saya sampaikan,” dokter itu menghela napas. “ Anak Anda mengalami nodes atau pembengkakan pita suara.”
Andani hampir saja histeris mendengar kabar tersebut. Bagaimana mungkin ia bisa terkena penyakit berbahaya seperti itu di saat yang sangat urgen. Ia melirik ibunya, ternyata ibunya justru lebih panik dari dirinya sendiri.
“ Penyebabnya beragam, tapi kalau dilihat dari kondisinya mungkin anak Ibu terlalu banyak menggunakan suaranya sehingga pita suaranya membengkak.”
“ Lalu apa yang harus kami lakukan, Dok?” tanya ibunya.
“ Anak ibu harus mengistirahatkan suaranya. Tidak harus bedrest, yang penting meminimalisir penggunaan suara, setidaknya dua sampai tiga minggu. Saran saya, ada baiknya anak ibu segera melakukan pembedahan pada pita suara. Bisa dengan bedah mikro atau laser. Pembedahan ini agar dapat memperbaiki suara anak ibu.”
Bedah? Operasi? Andani terhenyak di kursinya. Jika saja saat ini ia tak tergabung di Love Musical mungkin ia tak akan sepanik ini. Sekarang ia harus bagaimana?
Dokter dan ibunya mulai mendiskusikan mengenai operasinya. Namun, tak satu kata pun yang masuk di telinga Andani. Kepalanya benar-benar kosong. Ia bahkan mengabaikan pesan dari Ririn yang menanyakan kabarnya.
Saat dokter itu mengatakan ada masalah dengan pita suaranya, Andani langsung merasakan masa depannya hancur. Ia tahu operasi bisa menyembuhkannya, tapi bagaimana dengan Love Musical? Bagaimana ia bertanggung jawab pada semua teman-temannya? Apakah mungkin Love Musical bisa terus berjalan jika hampir semua musik didominasi oleh suaranya? Makin lama makin banyak pertanyaan yang muncul di kepalanya dan semua pertanyaan itu kini menjepitnya ke dalam sebuah kotak sempit.
Sesampaianya di rumah, ibunya masih sibuk mendiskusikan operasinya dengan sang ayah. Andani mulai merasa dadanya sesak. Ia sudah muak dengan kata ‘operasi’. Ia ingin tidur dan melupakan semuanya. Ia berharap kalau sekarang ia hanya bermimpi buruk dan besok pagi semua yang terjadi hari ini tidak pernah terjadi.
Sayang, semua itu benar-benar mimpi.
ooOoo
Anjani baru saja selesai latihan vokal. Ia merasa tenggorokannya sangat kering. Ia mengambil sebuah air mineral botol dan meminumnya seraya memainkan ponsel. Ia mengecek sosial medianya, ternyata follower-nya kini makin banyak. Mereka semua memuji penampilannya tempo hari, bahkan ada yang mengirimkan video rekaman padanya. Anjani merasa senang sekaligus terharu atas pencapaian pertamanya. Ia berharap hal ini akan terus membuatnya membumbung tinggi.
“ Anjani, kalau sudah kumpul ke sini ya!” teriak salah satu pelatihnya.
“ Oke, Pak!”
Anjani meletakkan botol airnya di sembarang tempat. Mungkin karena terburu-buru botol itu tidak ditaruh sempurna dan akhirnya jatuh. Sialnya, botol itu tak hanya jatuh tapi menggelinding menuruni tangga. Mau tak mau Anjani harus mengejar botol itu dahulu. Botol itu sudah sampai di lantai dasar dan ketika Anjani mau meraihnya ia ketiban sial lagi. Entah kenapa kakinya tiba-tiba tidak menapaki anak tangga terakhir hingga ia tejerembab di lantai.
“ Hei, kamu gak apa-apa?”
Untungnya orang-orang yang berada di sana segera menolongnya. Anjani masih beruntung karena hanya mengalami lecet di lutut bukan terkilir. Namun, sesaat sebelum ia berdiri tegak ia melihat sesosok gadis berambut panjang melintas di hadapannya dengan cepat. Sangat cepat sampai Anjani tak sempat melihat wajahnya, tapi entah kenapa sosok bayangan tadi mengingatkannya pada seseorang yang sudah tidak asing lagi.
Andani…
Anjani menggeleng cepat. Mana mungkin saudarinya itu tiba-tiba ada di sana. Ia yakin saat ini kembarannya itu sedang sibuk latihan di gedung teater. Lalu siapa orang itu tadi? Kenapa keberadaannya yang sangat cepat itu justru mengingatkannya pada gadis itu? Lagi pula banyak wanita berambut panjang, tapi kenapa hanya Andani yang terlintas di kepalanya? Apa terjadi sesuatu dengan gadis itu?
“ Kamu yakin baik-baik saja?”
“ Ah, i—iya. Makasih banyak,” ujar Anjani seraya berlalu.
Hingga esok harinya bayangan Andani tak bisa lepas dari pikirannya.

Author's Note:
Vocal nodul itu semacam pembengkakan pita suara. Harus dioperasi, kalau gak bisa bikin bahaya. Di Indonesia, khususnya Palembang sepertinya memang belum ada teknologi untuk operasi itu, tapi Author sengaja buat ada biar pas sama ceritanya. Author berharap semoga di Indonesia, khususnya Palembang, sudah ada alat untuk operasi pita suara. 
Btw, Author bukan ahli kesehatan. Author cuma search di internet. Kalau mau lebih tahu soal penyakitnya Andani, silakan tanya sama Om Google, hehehehe 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar