Musikal 63
“
Jadi, bagaimana hubungan kalian sekarang?”
“ Entahlah, Jane,
tapi aku sudah muak dengannya. Lupakan saja dia, aku mau membahasmu saja.
Bagaimana jalannya kontesmu?”
Anjani terdiam
beberapa saat, kemudian bersorak heboh, “
Aku berhasil masuk 12 finalis tetap. Yihaaa….”
Wenda ikut-ikuttan
bersorak, “ Naaah, ini baru kabar baik! Selamat, teman!”
“ Kamu, Ben, Kemal, dan yang lainnya harus
kirim sms banyak-banyak buat aku ya. Biar gak tereleminasi.”
“ Siaaap, Boss! Good luck!”
Keduanya tertawa.
“ Oke deh, udah malam nih. Aku harus tidur
cepat. Latihannya bakalan lebih berat daripada di Love Musical. Salam buat Ben,
Kemal, dan yang lainnya.”
Wenda mengiyakan
kemudian mereka memutuskan video call
setelah mengucapkan selamat tidur. Beban di hati Wenda sedikit terangkat
setelah bertukar cerita dengan sahabatnya.
Sahabat? Ya, Wenda
bahkan sempat mempertanyakan kata itu. Ia sempat meragukan persahabatannya
dengan Anjani, Ben, serta Kemal. Peristiwa kemarin benar-benar mengguncang
perasaannya. Namun, untunglah kedua teman lelakinya ini sanggup menyakinkan
dirinya untuk tetap mempercayai persahabatan mereka.
Tifa adalah orang terakhir yang meninggalkan kamar
inap itu. Sepeninggal Tifa, ketiga orang itu hanya bisa termenung dalam
kesunyian. Wenda tak lagi histeris, tetapi ia seperti orang kehilangan akal.
Tatapannya kosong dan ia tak menanggapi apa pun yang dikatakan Ben atau pun
Kemal.
“ Sudahlah, Wen. Tidak usah kamu pikirkan lagi soal
itu. Toh, kamu masih punya kami,” ujar Kemal.
Wenda menggeleng pelan, “ Bukan itu masalahnya, hanya
saja aku terlalu syok kalau tahu Priyanka yang melakukannya. Kalian tahu, tanpa
harus ia melakukan kecurangan kemarin, aku yakin dia masih bisa memenangkan
audisi waktu itu. Aku―”
“ Itulah maksud Kemal, Wen. Bisakah kamu tidak usah
mengingat hal itu lagi dan fokus saja dengan apa yang kamu lakukan sekarang?”
sahut Ben. “ Kami bukan dia dan kami tidak akan melakukan itu padamu. Kamu bisa
percaya kami.”
“ Benar, meski aku suka mempermainkan wanita, tapi aku
bisa dipercaya,” Kemal tersenyum lebar.
Wenda termenung sesaat. Matanya bergantian menatap
kedua temannya bergantian.
“ Apa benar aku bisa percaya kalian?”
“ Tentu. Apa lagi kalau kamu mau peluk aku,” ujar
Kemal sambil tertawa cengengesan.
Namun, ia tak menduga kalau Wenda benar-benar
melakukannya. Gadis itu memeluknya dengan perasaan yang tulus. Ben tak mau
ketinggalan. Ia bahkan rela mengangkat infusnya supaya bisa bergabung dengan
kedua temannya. Suasana terasa penuh haru, sampai Kemal mengatakan sesuatu.
“ Baru kali ini aku dipeluk sama cewek ukuran cup A.”
Ben terkikik. Kemudian tawa kedua laki-laki itu
meledak. Tak karuan Wenda merasakan emosinya meloncat naik ke ubun-ubun. Dengan
kesal ia cubit pipi Kemal yang masih bengkak. Ia tak peduli meski laki-laki itu
berteriak kesakitan. Ben buru-buru kembali ke ranjangnya. Ia tak mau
ikut-ikutan jadi korban pula.
Tapi mungkin ucapan mereka adalah janji yang paling
bisa ia percaya.
Wenda menarik napas
panjang. Benar, sudah saatnya ia melupakan apa yang sudah terjadi dan membuka
mata untuk hal yang akan ia lakukan ke depan. Ia tak perlu merasa trauma untuk
menjalin persahabatan kembali karena ia yakin teman-temannya yang sekarang
tidak akan melukainya lagi.
Namun, bagaimana
dengan memaafkan? Entahlah, Wenda belum mau memikirkan hal itu.
Please comment and share

Tidak ada komentar:
Posting Komentar