Total Tayangan Halaman

Jumat, 05 Agustus 2016

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 63)



Musikal 63


“ Jadi, bagaimana hubungan kalian sekarang?”
“ Entahlah, Jane, tapi aku sudah muak dengannya. Lupakan saja dia, aku mau membahasmu saja. Bagaimana jalannya kontesmu?”
Anjani terdiam beberapa saat, kemudian bersorak heboh, “ Aku berhasil masuk 12 finalis tetap. Yihaaa….”
Wenda ikut-ikuttan bersorak, “ Naaah, ini baru kabar baik! Selamat, teman!”
Kamu, Ben, Kemal, dan yang lainnya harus kirim sms banyak-banyak buat aku ya. Biar gak tereleminasi.”
“ Siaaap, Boss! Good luck!”
Keduanya tertawa.
Oke deh, udah malam nih. Aku harus tidur cepat. Latihannya bakalan lebih berat daripada di Love Musical. Salam buat Ben, Kemal, dan yang lainnya.”
Wenda mengiyakan kemudian mereka memutuskan video call setelah mengucapkan selamat tidur. Beban di hati Wenda sedikit terangkat setelah bertukar cerita dengan sahabatnya.
Sahabat? Ya, Wenda bahkan sempat mempertanyakan kata itu. Ia sempat meragukan persahabatannya dengan Anjani, Ben, serta Kemal. Peristiwa kemarin benar-benar mengguncang perasaannya. Namun, untunglah kedua teman lelakinya ini sanggup menyakinkan dirinya untuk tetap mempercayai persahabatan mereka.
Tifa adalah orang terakhir yang meninggalkan kamar inap itu. Sepeninggal Tifa, ketiga orang itu hanya bisa termenung dalam kesunyian. Wenda tak lagi histeris, tetapi ia seperti orang kehilangan akal. Tatapannya kosong dan ia tak menanggapi apa pun yang dikatakan Ben atau pun Kemal.
“ Sudahlah, Wen. Tidak usah kamu pikirkan lagi soal itu. Toh, kamu masih punya kami,” ujar Kemal.
Wenda menggeleng pelan, “ Bukan itu masalahnya, hanya saja aku terlalu syok kalau tahu Priyanka yang melakukannya. Kalian tahu, tanpa harus ia melakukan kecurangan kemarin, aku yakin dia masih bisa memenangkan audisi waktu itu. Aku―”
“ Itulah maksud Kemal, Wen. Bisakah kamu tidak usah mengingat hal itu lagi dan fokus saja dengan apa yang kamu lakukan sekarang?” sahut Ben. “ Kami bukan dia dan kami tidak akan melakukan itu padamu. Kamu bisa percaya kami.”
“ Benar, meski aku suka mempermainkan wanita, tapi aku bisa dipercaya,” Kemal tersenyum lebar.
Wenda termenung sesaat. Matanya bergantian menatap kedua temannya bergantian.
“ Apa benar aku bisa percaya kalian?”
“ Tentu. Apa lagi kalau kamu mau peluk aku,” ujar Kemal sambil tertawa cengengesan.
Namun, ia tak menduga kalau Wenda benar-benar melakukannya. Gadis itu memeluknya dengan perasaan yang tulus. Ben tak mau ketinggalan. Ia bahkan rela mengangkat infusnya supaya bisa bergabung dengan kedua temannya. Suasana terasa penuh haru, sampai Kemal mengatakan sesuatu.
“ Baru kali ini aku dipeluk sama cewek ukuran cup A.”
Ben terkikik. Kemudian tawa kedua laki-laki itu meledak. Tak karuan Wenda merasakan emosinya meloncat naik ke ubun-ubun. Dengan kesal ia cubit pipi Kemal yang masih bengkak. Ia tak peduli meski laki-laki itu berteriak kesakitan. Ben buru-buru kembali ke ranjangnya. Ia tak mau ikut-ikutan jadi korban pula.
Tapi mungkin ucapan mereka adalah janji yang paling bisa ia percaya.
Wenda menarik napas panjang. Benar, sudah saatnya ia melupakan apa yang sudah terjadi dan membuka mata untuk hal yang akan ia lakukan ke depan. Ia tak perlu merasa trauma untuk menjalin persahabatan kembali karena ia yakin teman-temannya yang sekarang tidak akan melukainya lagi.
Namun, bagaimana dengan memaafkan? Entahlah, Wenda belum mau memikirkan hal itu.

Please comment and share

Tidak ada komentar:

Posting Komentar