Musikal 67
Sejak kejadian botol air yang menggelinding, pikiran
Anjani selalu saja tertuju pada Andani. Hingga keesokkan harinya wajah Andani
masih memenuhi kepalanya. Akhirnya ia pun memutuskan untuk menelepon
saudarinya. Sembari menunggu nada sambung, Anjani melirik arlojinya, lalu ia
tersenyum.
‘ Sekarang waktunya latihan’kan? Apa aku mengganggu?’
Di tengah lamunannya,
ia dikejutkan oleh suara Andani yang menyambut teleponnya.
“ Ha—halo, Jane?”
“ Oh, halo, An.
Maaf meneleponmu tiba-tiba. Apa kamu sedang latihan?”
“ Ahh, iya, eh, tidak. Sebenarnya Miss Tifa mengurungkan latihan hari ini.”
“ Wah, tumben. Ada
apa?”
“ Hmm, yaaa… karena ada salah satu anggota
yang mau keluar.”
“ Eh, siapa?”
Anjani cukup kaget
mendengar jawaban saudarinya. Bisa-bisanya di saat seperti ini ada anggota yang
mau keluar lagi. Apa sutradaranya itu akan merestuinya?
“ A—aku…”
“ Kamu? Kenapa kamu
mau berhenti?”
Kali ini Anjani tak
percaya dengan apa yang ia dengar. Seribu pertanyaan segera menyerbu
pikirannya. Namun, jauh di ujung telepon terdengar isakan Andani. Anjani hampir
tak percaya dengan apa yang ia dengar. Ada apa dengan saudarinya itu
sampai-sampai ia terisak seperti itu?
“ An? An? An? Ka—kamu
baik-baik aja?”
“ Nggak, Jane. Aku mengalami vocal nodule
dan aku harus operasi minggu depan.”
Mendengar hal itu
Anjani bagai tersambar petir. Vocal
nodule? Operasi? Astaga, bagaimana mungkin Andani bisa mengalami hal itu?
Anjani masih ingin bertanya
banyak hal, tapi isakan saudarinya itu bertambah kencang.
“ An…”
Terdengar suara
Andani sedang menarik napas panjang. Gadis itu berusaha tenang, meski suaranya
masih sesegukan.
“ Maaf, Jane. Tiba-tiba saja aku histeris
seperti tadi. Padahal dari tadi aku masih baik-baik saja.”
“ Apa karena aku yang
tiba-tiba meneleponmu?”
“ Iya, eh, tidak, eh, maksudku entahlah. Saat aku
mendengar suaramu aku… aku ingin saja mengeluarkan semua yang aku rasakan,” Andani kembali menghela napas. “Sudahlah, Jane. Tak usah terlalu pikirkan aku. Bu Gloria bilang aku
akan baik-baik saja dan aku percaya itu.”
‘ Dia memendam semuanya sendirian’, Anjani mengeluh dalam hati. Hatinya seketika merasa
bersalah karena di saat seperti ini ia tidak bisa menemani saudarinya.
“ Boleh aku mengatakan sesuatu yang menurutmu
itu mustahil, Jane?”
“ Apa?” Anjani
menyahut pendek.
“ Aku ingin kamu menemaniku di sini.”
ooOoo
‘ Aku ingin kamu
menemaniku di sini.’
“ Anjani, tolong
konsentrasi!”
Suara sang pelatih
membuyarkan lamunan Anjani. Ia segera kembali membaca aransemen lagu yang harus
ia nyanyikan di malam gala kedua. Sayang, pikirannya lagi-lagi tidak fokus. Ia
masih saja memikirkan pembicaraan terakhirnya bersama Andani.
Setelah mengatakan
itu Andani justru tertawa dan mengklarifikasinya bahwa hal itu hanyalah
candaannya saja. Kemudian Andani lebih dulu mengakhiri pembicaraan mereka.
Andani memang bilang hanya bercanda, tapi hal itu justru menjadi beban pikiran
Anjani.
Baru kali ini Anjani
merasa bahwa kehadirannya lebih dibutuhkan Andani ketimbang operasi itu. Baru
kali ini pula Anjani ingin segera bertemu dengan saudarinya itu. Namun, dalam
kondisi seperti ini apakah mungkin mereka bisa bertemu? Ia sudah terikat kontrak
dengan pihak kontes menyanyi dan ia harus menyelesaikan kontrak itu sampai
batasnya.
Ia bisa saja minta
berhenti, tapi apakah egonya bisa ia redam? Hei, ini adalah momen yang ia
tunggu-tunggu sejak lama. Momen di mana semua orang mengakuinya sebagai Anjani,
hanya Anjani, bukan Anjani saudarinya Andani, si penyanyi bersuara emas.
Haruskah ia membuang impiannya itu?
Semuanya terasa
paradoks di kepala Anjani. Ia harus memilih salah satu dan salah satu itu harus
sesuatu yang tepat.
ooOoo
Tifa tak henti mengetuk-ngetukkan keningnya di atas
meja. Percuma bila Gloria atau Riani melarangnya. Kedua orang ini tahu
bagaimana pusingnya kepala si sutradara. Sampai Hana masuk ke ruangan. Dengan
tenang ia duduk di seberang meja.
“ Aku tahu kamu
kepala batu, Tif. Sayang, itu cuma kiasan. Pecahan kepalamu bisa mengotori
mejaku, tahu?”
“ Huaaa, aku baru
kali ini kepalaku tidak bisa berpikir jernih,” Tifa pun akhirnya membaringkan
kepalanya di atas meja. “ Kita harus segera mendapatkan pengganti Andani.”
Riani mendesah panjang,
“ Apa kita harus audisi lagi?”
“ Terlalu lama, Ri,”
sahut Gloria. “ Sulit menemukan suara yang menedekati suara gadis itu.”
“ Biasanya kamu punya
banyak koneksi, Tif,” ujar Hana.
“ Ada siiih, tapi
pasti mereka menuntut bayaran yang mahal. Memangnya kita punya dana sebanyak
itu?” keluh Tifa. Kali ini ia menelungkupkan wajahnya, “ Lagi pula belum tentu
cocok dengan anggota tim musik lainnya. Kalau kita pakai profesional biasanya
banyak maunya.”
Hana melipat tangan
di depan dadanya, “ Kalau begitu kalian harus diskusikan juga hal ini dengan
anggota tim musik. Bagaimana pun juga eksekusinya ada pada tim musik, bukan
kalian.”
“ Aku tahu, aku pun
sudah berencana seperti itu, tapi aku tangguhkan sampai Andani selesai operasi.
Kalau sekarang, aku takut informasi bocor dan sampai ke telinga gadis itu.
Kasihan, nanti dia malah tambah sedih,” ujar Tifa. “ Yaah, pita suara adalah
hal vital yang gadis itu miliki. Saat ini hatinya pasti hancur.”
“ Waah, tumben kamu
punya hati, Tif,” sindir Hana.
Tifa mengangkat wajahnya.
Ada seraut senyuman sinis di wajahnya, “ Pokoknya saat ini kita masih belum
bisa menemukan siapa pengganti Andani.”
“ Aku pikir ada, tapi
sayang dia tidak di sini,” ujar Gloria.
“ Maksudmu dia?”
sahut Riani. “ Bukannya susah ya memanggilnya kemari?”
“ Aku tidak tahu
siapa yang kalian maksud,” ujar Hana, “ Tapi kalau memang ada, sesusah apa pun
jalan yang ditempuh kalau Tifa yang melakukannya pasti bisa, iya’kan?”
“ Heeei, kalian pikir
aku Tuhan?” Tifa protes dengan nada tinggi. “ Dengar, kalau orang yang kalian
maksud ini adalah orang yang sama dalam pikiranku berarti aku juga tidak bisa
membawa sekarang. Sehebat apa pun koneksiku tidak akan bisa membawa keajaiban,
tahu!”
Gloria, Hana, dan
Riani kembali terhenyak di kursi masing-masing. Sepertinya kali ini mereka
benar-benar menemukan jalan buntu.
“ Kali ini kita butuh
keajaiban dari Tuhan,” tutup Hana.
Author's Note:
Udah pada nonton Winter in Tokyo belum? Author udah... gyabooo... Dion Wiyoko kereeen banget yah. Author jadi baper. Author malah ngebayangin kalau Adrian itu adalah Dion, hadeeeh....
Memang rada beda sih antara novel dan filmnya, tapi Author tetap suka. Gregetnya dapet bangeeet...
Sukses buat penulis favoritku Ilana Tan *Love*Love*Love*
please comment and share
duh author , dimana hari-hari bahagia mereka.
BalasHapuswkwkwkw
ier yang baca jadi kebawa suasana gitu...
kalau kata tifa ini belom "badai" nya , lalu yang gini aja udah sanggup membuat suasana hati ier terombang-ambing ..
gimana pas ada "badai" nya???
bisa-bisa pas lagi melayani cust online shop yang rempong , langsung ier semprot wkwkwkw
pokok nya update banyakin dong author...
doain auhtornya on the mood terus yaah
BalasHapushehehe