Musikal 70
Perlahan Andani membuka matanya. Seberkas cahaya
menerpa kelopak matanya yang masih berat. Baru kali ini ia merasa amat
mengantuk setelah bangun tidur. Bayangan pertama yang jatuh di retinanya adalah
senyuman dari saudari kembarnya.
“ Pagi!”
Andani mau membalas
salam itu, tapi begitu ia membuka mulutnya ia merasa tenggorokannya amat sakit.
Sulit sekali mengeluarkan suara meskipun hanya mengucapkan satu huruf vokal.
“ Woow, nanti dulu.
Kamu harus puasa bicara sampai beberapa hari. Pita suaramu jelas belum sembuh
benar.”
Kata-kata Anjani
membuatnya tersadar. Ia baru ingat kalau ia baru saja selesai operasi pita
suara. Pantas ia mengantuk sekali. Mungkin karena efek obat bius yang masih
tersisa.
“ Untungnya kamu bisa
menggunakan ini. Gunakan ini kalau kamu mau mengatakan sesuatu,” Anjani
menyerahkan ponsel pink milik Andani.
“ Ngomong-ngomong, kamu kedatangan banyak tamu hari ini.”
Andani mengikuti arah
mata Anjani yang menunjuk jendela. Ia bisa melihat Ririn serta Hasegawa
bersaudara melambaikan tangan padanya. Meski masih lemah, Andani masih sempat
membalas dengan senyuman.
“ Oh ya, An. Dokter
bilang kamu harus kentut dulu supaya sisa obat bius kamu hilang. Jadi, aku mau
keluar dulu ya, soalnya aku gak mau keracuna gas ammonia di sini.”
Andani memberengut
saat Anjani tertawa. Namun, ia tak sepenuhnya marah. Ia pun membiarkan
saudarinya itu keluar menemui teman-temannya.
Ia bersyukur karena
kehadiran saudarinya itu benar-benar bukan mimpinya saja.
ooOoo
“ Jane!”
Wenda tak peduli
kalau mereka sedang di rumah sakit. Ia berlari sekencang mungkin supaya ia
cepat sampai dan melihat jelas gadis berambut shaggy itu. Ia ingin memastikan bahwa gadis itu benar-benar
sahabatnya.
“ Jane, ini beneran
kamu?”
Gadis itu tersenyum,
“ Yes, I’m back!”
“ Iya, tapi―”
“ Tapi kenapa kamu di
sini?” sahut Kemal yang baru muncul. “ Seharusnya kamu ada di studio untuk
malam gala.”
“ Yaah, aku tahu ini
aneh, tapi aku di sini untuk Andani,” gadis itu mengangkat bahu. “ Kupikir
saudariku lebih penting daripada malam gala.”
“ Gak masuk akal!”
seru Wenda. “ Kamu udah berusaha keras supaya bisa masuk 12 finalis tetap, tapi
kenapa kamu harus pulang dengan cara yang seperti ini?”
“ Masuk akal kok,
Wen,” ujar Ben kalem. “ Semua akan terjadi bila ada cinta.”
Kemal dan Alexi
kompak menertawai jawaban Ben. Tumben-tumben sekali laki-laki itu bicara soal
cinta.
“ Memang gak masuk
akal dan terdengar konyol, tapi apa yang dibilang Ben itu memang benar. Aku
terlalu mencintai saudariku.”
Wenda terhenyak.
Kalau sudah begini ia tidak bisa membantah lagi. Ia berbalik kagum dengan
keputusan Anjani yang sangat berani. Jika ia ada di posisi Anjani, mungkin ia
tidak akan mengambil pemikiran seperti itu.
“ Ooh, aku terharu
dengarnya. Sini aku peluk kamu.”
Kedua sahabat itu
saling berpelukan. Namun, ketika Kemal dan Ben ikut bergabung, Wenda dengan
cepat mengusir keduanya.
“ Gak usah
peluk-peluk. Kalian cuma mau ngukur ukuran dada kami’kan?”
Mereka semua tertawa.
“ Oh ya, Jane. Gimana
kabar Andani?” ujar Alexi saat tawa mereda.
“ Operasinya lancar
dan sekarang dia sudah sadar,” jawab Anjani. “ Tapi maaf ya, kalian belum bisa
menjenguknya. Kata dokter dia harus istirahat dulu. Kalau kalian mau lihat
langsung, bisa lewat jendela itu kok.”
“ Syukurlah kalau
begitu,” Alexi tersenyum. “ Hmm, mungkin aku mau melihatnya sebentar. Kalian
mau ikut?”
ooOoo
“ Setelah ini apa rencana kamu, Jane?”
“ Kembali ke sekolah
tentunya. Besok aku langsung akan mengurusnya.”
“ Keputusan yang
sulit, ya?” ujar Kemal seraya meraih soda kaleng dari vending machine. “ Tapi kamu kembali di masa sulit.”
Anjani hanya melempar
tatapan bingung pada Kemal yang sedang menikmati minumannya.
“ Andani operasi dan
Wenda yang masih terpuruk gara-gara masalahnya kemarin. Untung kamu kembali
sekarang karena mereka sangat membutuhkan dirimu.”
“ Wah, aku terdengar
seperti pahlawan saja,” Anjani terkekeh pelan.
“ Tak perlu menjadi
pahlawan untuk melakukan tindakan heroik, bukan?”
Kemal bersandar pada
mesin minuman. Ia melemparkan senyuman menawannya seraya mengedipkan mata.
Tentu saja tawa Anjani mengeras melihatnya.
“ Yap, lagi pula kami
kesepian tanpamu, Jane,” Ben tiba-tiba muncul seraya mengalungkan tangannya di
pundak Anjani. “ Kami bangga kamu bisa masuk tv, tapi kami lebih senang kalau
kamu di sini.”
Anjani menepis tangan
Ben, “ Jangan buat aku terharu. Perasaanku sudah cukup campur aduk hari ini.”
Ben dan Kemal
tertawa.
“ Oh, di sini
kalian!” seru Alexi. Di belakangnya mengekor Hiro, Jiro, Ririn, serta Wenda. “
Kami mau pamit dulu.”
“ Sudah mau pulang,
ya? Wah, terima kasih ya sudah mau datang. Aku dan Andani sangat senang kalian
di sini.”
Wenda memeluk Anjani,
“ Nanti malam aku telepon. Kamu yang kuat ya, Jane.”
“ Salam buat Andani
dan orang tuamu,” ujar Ririn.
Anjani mengangguk
lalu menyalami teman-temannya. Mereka pun berpisah setelah berpamitan. Saat
menuju halaman parkir Alexi mendekati Ririn.
“ Rin, kamu pulang
dengan siapa?”
Tiba-tiba Jiro
langsung menarik bahu Ririn, “ Tentu saja dengan kami.”
Kebingungan jelas
terpancar di wajah Alexi. Ririn pun hanya membalasnya dengan senyuman maklum.
“ Yah, mereka yang
membawaku ke sini. Kupikir mereka yang harus memulangkanku kembali.”
“ Jawaban yang
diplomatis, Ojo-chan,” Hiro menyahut.
“ Ikemashou!”
Ririn tak dapat
mengelak saat ia ditarik oleh kembar Hasegawa ini. Kini tinggalah Alexi yang
menatapnya dengan tatapan bengong.
“ Kenapa mereka hanya
mengajak Ririn?” keluh Alexi. “ Padahal hari ini aku tidak bawa sepeda.”
Mau tak mau Alexi
harus berjalan kaki dan mencari angkot. Baru saja sampai di gerbang rumah
sakit, ia dikejutkan oleh suara klakson motor. Pengemudi motor itu membuka helm
dan tersenyum padanya. Alexi balas tersenyum pada pengemudi motor yang ternyata
adalah Wenda.
“ Sepedamu mana, Al?”
“ Di kostan. Aku lupa
di mana aku menaruh kunci rantai sepedaku. Makanya hari ini aku jalan kaki.”
Wenda baru ingat kalau
saat pergi tadi laki-laki ini minta dibonceng Ben. Ternyata laki-laki ini bisa
berbuat konyol juga. Wenda tersenyum lalu melempar helm ekstra pada Alexi.
“ Kamu bisa bawa
motor?”
Alexi mengangguk, “
Tapi arah rumah kita sepertinya berlawanan.”
“ Udah gak usah
banyak mulut!” ujar Wenda seraya turun dari motornya. “ Yuk ah, nanti keburu
gelap.”
Matic hijau
itu melaju menembus jalan Jendral Sudirman. Haluan mereka terlebih dulu menuju
kostan Alexi. Matahari mulai meredup dan angin terasa lebih sejuk. Hembusan
angin yang menerpa mereka membuat Wenda dapat mencium aroma khas laki-laki yang
membawa motornya ini. Aroma sisa body
spray yang masih melekat di tubuh Alexi membuat jantung Wenda bergemuruh.
Wenda sempat menebak-nebak jenis wewangian apa yang membuatnya betah
berlama-lama dibonceng oleh laki-laki ini. Mungkin musk, citrus, atau mint?
Entahlah, tapi yang jelas Wenda sangat menyukainya.
Sayang, kesenangan
itu tak berlangsung lama. Ketika sudah mendekati kostan Alexi tiba-tiba motor
itu berhenti. Alexi dan Wenda sama-sama kaget. Untungnya Alexi masih sempat
menepikan motornya.
“ Kok berhenti
mendadak, Al?”
“ Gak tahu nih, Wen.
Kayaknya motor kamu mogok.”
Wenda buru-buru turun
dari motornya. Ia sempat khawatir dengan keadaan motornya. Baru beberapa bulan
yang lalu motornya masuk bengkel, masa sekarang harus ke bengkel lagi.
“ Duuh, ini motor
kenapa lagi sih? Jangan bilang harus ke bengkel lagi!”
Alexi berusaha
menenangkan Wenda. Ia berinisatif untuk memeriksa tangki bensin. Benar saja,
ternyata Wenda harus mengisi bahan bakar motornya.
“ Ya ampun, aku lupa
mau isi bensin,” Wenda menepuk keningnya. “ Duuh, pom bensin kayaknya masih
jauh deh. Gimana yah?”
“ Gimana kalau kamu
beli bensin eceran dulu, nanti kalau ketemu pom bensin baru isi lagi deh.
Seingatku sih di depan ada yang jual bensin eceran.”
Wenda menyetujui
rencana Alexi. Memang itu adalah satu-satu ide yang paling cemerlang, tapi
dalam pelaksanaannya mereka harus mendorong motor itu sampai ke penjual bensin
eceran. Pekerjaan yang melelahkan. Untung ia pulang dengan Alexi. Namun, begitu
ia mau membantu Alexi mendorong, laki-laki itu justru melarangnya.
“ Aku bisa sendiri
kok. Gimana kalau kamu duduk aja dan biarkan aku yang dorong.”
“ What? Udah gila ya? Dorong motornya aja
udah berat, apalagi ditambah aku? Yaah, aku memang gak gendut sih, tapi tetap
aja buat kamu tambah susah dorongnya.”
“ Udah gak apa-apa.
Duduk gih! Nanti kamu capek loh.”
Wenda masih menolak,
tapi sepertinya Alexi tak akan mendorong sampai Wenda benar-benar duduk di jok.
Dengan berat hati Wenda pun menuruti permintaan laki-laki itu.
Orang-orang yang
melihat kelakukan mereka mulai berbisik-bisik. Mereka pasti menuduh Wenda
sebagai gadis yang super tega. Membiarkan pacarnya susah payah mendorong motor,
sementara ia enak-enakkan duduk. Sebenarnya Wenda pun merasa tidak enak, tapi
di sisi lain ia justru terkesima dengan perlakuan lembut Alexi. Baru kali ini
ia diperlakukan bak seorang putri. Tak hanya sekali, tapi mungkin ini yang
termanis.
Mereka pun akhirnya
menemukan penjual bensin eceran. Untunglah jaraknya tidak jauh, sehingga tenaga
Alexi tak terlalu terkuras habis. Selagi menunggu motornya diisi, tak sengaja
Wenda kembali mencium aroma Alexi. Kali ini bercampur dengan sedikit keringat.
Wajar saja kalau Alexi berkeringat setelah mendorong beban seberat itu. Namun,
aroma ini justru lebih disukai Wenda. Ia begitu menikmati sampai-sampai ia tak
sadar motornya sudah selesai diisi.
“ Hei, Wen. Kamu
kenapa?”
Wenda terkesiap, “
Eh—eh, enggak kok. Udah selesai’kan?”
Alexi mengangguk.
Setelah selesai membayar, mereka pun segera meluncur ke kostan Alexi. Dengan
sedikit menambah kecepatan, mereka pun akhirnya sampai.
“ Huff, makasih ya
atas tumpangannya, Wen.”
Wenda menggeleng, “
Nggak, aku yang makasih. Kamu sampai repot-repot dorong motor aku. Aku malah
jadi gak enak sama kamu.”
“ Ah, biasa aja kok,
tapi kalau kamu mau terima kasih sama aku boleh kok,” Alexi melemparkan senyum
termanisnya. “ Terima kasih kembali.”
Wenda bisa merasakan
jantungnya mau melompat keluar saat mendapatkan senyuman itu. Ia pun buru-buru
pamit sebelum Alexi bisa mendengar detak jantungnya.
“ Oke deh, see you tomorrow!”
“ Hati-hati di jalan
ya. Awas banyak begal loh.”
Wenda tersenyum geli.
Ia menstater motornya kemudian tancap gas. Dari balik spionnya, ia bisa melihat
Alexi melambaikan tangan padanya.
Andai saja jalanan
tidak terlalu macet malam ini, mungkin Wenda akan senang hati memutar stang
gasnya lebih kencang. Yah, ia ingin berbagi kebahagiaannya pada dunia. Malam
ini adalah malam yang indah.
Auhtor's Note:
Very late up date, i'm really sorry T.T
please comment and share
Tidak ada komentar:
Posting Komentar