Total Tayangan Halaman

Minggu, 28 Agustus 2016

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 70)




Musikal 70


Perlahan Andani membuka matanya. Seberkas cahaya menerpa kelopak matanya yang masih berat. Baru kali ini ia merasa amat mengantuk setelah bangun tidur. Bayangan pertama yang jatuh di retinanya adalah senyuman dari saudari kembarnya.
“ Pagi!”
Andani mau membalas salam itu, tapi begitu ia membuka mulutnya ia merasa tenggorokannya amat sakit. Sulit sekali mengeluarkan suara meskipun hanya mengucapkan satu huruf vokal.
“ Woow, nanti dulu. Kamu harus puasa bicara sampai beberapa hari. Pita suaramu jelas belum sembuh benar.”
Kata-kata Anjani membuatnya tersadar. Ia baru ingat kalau ia baru saja selesai operasi pita suara. Pantas ia mengantuk sekali. Mungkin karena efek obat bius yang masih tersisa.
“ Untungnya kamu bisa menggunakan ini. Gunakan ini kalau kamu mau mengatakan sesuatu,” Anjani menyerahkan ponsel pink milik Andani. “ Ngomong-ngomong, kamu kedatangan banyak tamu hari ini.”
Andani mengikuti arah mata Anjani yang menunjuk jendela. Ia bisa melihat Ririn serta Hasegawa bersaudara melambaikan tangan padanya. Meski masih lemah, Andani masih sempat membalas dengan senyuman.
“ Oh ya, An. Dokter bilang kamu harus kentut dulu supaya sisa obat bius kamu hilang. Jadi, aku mau keluar dulu ya, soalnya aku gak mau keracuna gas ammonia di sini.”
Andani memberengut saat Anjani tertawa. Namun, ia tak sepenuhnya marah. Ia pun membiarkan saudarinya itu keluar menemui teman-temannya.
Ia bersyukur karena kehadiran saudarinya itu benar-benar bukan mimpinya saja.
ooOoo
“ Jane!”
Wenda tak peduli kalau mereka sedang di rumah sakit. Ia berlari sekencang mungkin supaya ia cepat sampai dan melihat jelas gadis berambut shaggy itu. Ia ingin memastikan bahwa gadis itu benar-benar sahabatnya.
“ Jane, ini beneran kamu?”
Gadis itu tersenyum, “ Yes, I’m back!”
“ Iya, tapi―”
“ Tapi kenapa kamu di sini?” sahut Kemal yang baru muncul. “ Seharusnya kamu ada di studio untuk malam gala.”
“ Yaah, aku tahu ini aneh, tapi aku di sini untuk Andani,” gadis itu mengangkat bahu. “ Kupikir saudariku lebih penting daripada malam gala.”
“ Gak masuk akal!” seru Wenda. “ Kamu udah berusaha keras supaya bisa masuk 12 finalis tetap, tapi kenapa kamu harus pulang dengan cara yang seperti ini?”
“ Masuk akal kok, Wen,” ujar Ben kalem. “ Semua akan terjadi bila ada cinta.”
Kemal dan Alexi kompak menertawai jawaban Ben. Tumben-tumben sekali laki-laki itu bicara soal cinta.
“ Memang gak masuk akal dan terdengar konyol, tapi apa yang dibilang Ben itu memang benar. Aku terlalu mencintai saudariku.”
Wenda terhenyak. Kalau sudah begini ia tidak bisa membantah lagi. Ia berbalik kagum dengan keputusan Anjani yang sangat berani. Jika ia ada di posisi Anjani, mungkin ia tidak akan mengambil pemikiran seperti itu.
“ Ooh, aku terharu dengarnya. Sini aku peluk kamu.”
Kedua sahabat itu saling berpelukan. Namun, ketika Kemal dan Ben ikut bergabung, Wenda dengan cepat mengusir keduanya.
“ Gak usah peluk-peluk. Kalian cuma mau ngukur ukuran dada kami’kan?”
Mereka semua tertawa.
“ Oh ya, Jane. Gimana kabar Andani?” ujar Alexi saat tawa mereda.
“ Operasinya lancar dan sekarang dia sudah sadar,” jawab Anjani. “ Tapi maaf ya, kalian belum bisa menjenguknya. Kata dokter dia harus istirahat dulu. Kalau kalian mau lihat langsung, bisa lewat jendela itu kok.”
“ Syukurlah kalau begitu,” Alexi tersenyum. “ Hmm, mungkin aku mau melihatnya sebentar. Kalian mau ikut?”
ooOoo
“ Setelah ini apa rencana kamu, Jane?”
“ Kembali ke sekolah tentunya. Besok aku langsung akan mengurusnya.”
“ Keputusan yang sulit, ya?” ujar Kemal seraya meraih soda kaleng dari vending machine. “ Tapi kamu kembali di masa sulit.”
Anjani hanya melempar tatapan bingung pada Kemal yang sedang menikmati minumannya.
“ Andani operasi dan Wenda yang masih terpuruk gara-gara masalahnya kemarin. Untung kamu kembali sekarang karena mereka sangat membutuhkan dirimu.”
“ Wah, aku terdengar seperti pahlawan saja,” Anjani terkekeh pelan.
“ Tak perlu menjadi pahlawan untuk melakukan tindakan heroik, bukan?”
Kemal bersandar pada mesin minuman. Ia melemparkan senyuman menawannya seraya mengedipkan mata. Tentu saja tawa Anjani mengeras melihatnya.
“ Yap, lagi pula kami kesepian tanpamu, Jane,” Ben tiba-tiba muncul seraya mengalungkan tangannya di pundak Anjani. “ Kami bangga kamu bisa masuk tv, tapi kami lebih senang kalau kamu di sini.”
Anjani menepis tangan Ben, “ Jangan buat aku terharu. Perasaanku sudah cukup campur aduk hari ini.”
Ben dan Kemal tertawa.
“ Oh, di sini kalian!” seru Alexi. Di belakangnya mengekor Hiro, Jiro, Ririn, serta Wenda. “ Kami mau pamit dulu.”
“ Sudah mau pulang, ya? Wah, terima kasih ya sudah mau datang. Aku dan Andani sangat senang kalian di sini.”
Wenda memeluk Anjani, “ Nanti malam aku telepon. Kamu yang kuat ya, Jane.”
“ Salam buat Andani dan orang tuamu,” ujar Ririn.
Anjani mengangguk lalu menyalami teman-temannya. Mereka pun berpisah setelah berpamitan. Saat menuju halaman parkir Alexi mendekati Ririn.
“ Rin, kamu pulang dengan siapa?”
Tiba-tiba Jiro langsung menarik bahu Ririn, “ Tentu saja dengan kami.”
Kebingungan jelas terpancar di wajah Alexi. Ririn pun hanya membalasnya dengan senyuman maklum.
“ Yah, mereka yang membawaku ke sini. Kupikir mereka yang harus memulangkanku kembali.”
“ Jawaban yang diplomatis, Ojo-chan,” Hiro menyahut. “ Ikemashou!”
Ririn tak dapat mengelak saat ia ditarik oleh kembar Hasegawa ini. Kini tinggalah Alexi yang menatapnya dengan tatapan bengong.
“ Kenapa mereka hanya mengajak Ririn?” keluh Alexi. “ Padahal hari ini aku tidak bawa sepeda.”
Mau tak mau Alexi harus berjalan kaki dan mencari angkot. Baru saja sampai di gerbang rumah sakit, ia dikejutkan oleh suara klakson motor. Pengemudi motor itu membuka helm dan tersenyum padanya. Alexi balas tersenyum pada pengemudi motor yang ternyata adalah Wenda.
“ Sepedamu mana, Al?”
“ Di kostan. Aku lupa di mana aku menaruh kunci rantai sepedaku. Makanya hari ini aku jalan kaki.”
Wenda baru ingat kalau saat pergi tadi laki-laki ini minta dibonceng Ben. Ternyata laki-laki ini bisa berbuat konyol juga. Wenda tersenyum lalu melempar helm ekstra pada Alexi.
“ Kamu bisa bawa motor?”
Alexi mengangguk, “ Tapi arah rumah kita sepertinya berlawanan.”
“ Udah gak usah banyak mulut!” ujar Wenda seraya turun dari motornya. “ Yuk ah, nanti keburu gelap.”
Matic hijau itu melaju menembus jalan Jendral Sudirman. Haluan mereka terlebih dulu menuju kostan Alexi. Matahari mulai meredup dan angin terasa lebih sejuk. Hembusan angin yang menerpa mereka membuat Wenda dapat mencium aroma khas laki-laki yang membawa motornya ini. Aroma sisa body spray yang masih melekat di tubuh Alexi membuat jantung Wenda bergemuruh. Wenda sempat menebak-nebak jenis wewangian apa yang membuatnya betah berlama-lama dibonceng oleh laki-laki ini. Mungkin musk, citrus, atau mint? Entahlah, tapi yang jelas Wenda sangat menyukainya.
Sayang, kesenangan itu tak berlangsung lama. Ketika sudah mendekati kostan Alexi tiba-tiba motor itu berhenti. Alexi dan Wenda sama-sama kaget. Untungnya Alexi masih sempat menepikan motornya.
“ Kok berhenti mendadak, Al?”
“ Gak tahu nih, Wen. Kayaknya motor kamu mogok.”
Wenda buru-buru turun dari motornya. Ia sempat khawatir dengan keadaan motornya. Baru beberapa bulan yang lalu motornya masuk bengkel, masa sekarang harus ke bengkel lagi.
“ Duuh, ini motor kenapa lagi sih? Jangan bilang harus ke bengkel lagi!”
Alexi berusaha menenangkan Wenda. Ia berinisatif untuk memeriksa tangki bensin. Benar saja, ternyata Wenda harus mengisi bahan bakar motornya.
“ Ya ampun, aku lupa mau isi bensin,” Wenda menepuk keningnya. “ Duuh, pom bensin kayaknya masih jauh deh. Gimana yah?”
“ Gimana kalau kamu beli bensin eceran dulu, nanti kalau ketemu pom bensin baru isi lagi deh. Seingatku sih di depan ada yang jual bensin eceran.”
Wenda menyetujui rencana Alexi. Memang itu adalah satu-satu ide yang paling cemerlang, tapi dalam pelaksanaannya mereka harus mendorong motor itu sampai ke penjual bensin eceran. Pekerjaan yang melelahkan. Untung ia pulang dengan Alexi. Namun, begitu ia mau membantu Alexi mendorong, laki-laki itu justru melarangnya.
“ Aku bisa sendiri kok. Gimana kalau kamu duduk aja dan biarkan aku yang dorong.”
What? Udah gila ya? Dorong motornya aja udah berat, apalagi ditambah aku? Yaah, aku memang gak gendut sih, tapi tetap aja buat kamu tambah susah dorongnya.”
“ Udah gak apa-apa. Duduk gih! Nanti kamu capek loh.”
Wenda masih menolak, tapi sepertinya Alexi tak akan mendorong sampai Wenda benar-benar duduk di jok. Dengan berat hati Wenda pun menuruti permintaan laki-laki itu.
Orang-orang yang melihat kelakukan mereka mulai berbisik-bisik. Mereka pasti menuduh Wenda sebagai gadis yang super tega. Membiarkan pacarnya susah payah mendorong motor, sementara ia enak-enakkan duduk. Sebenarnya Wenda pun merasa tidak enak, tapi di sisi lain ia justru terkesima dengan perlakuan lembut Alexi. Baru kali ini ia diperlakukan bak seorang putri. Tak hanya sekali, tapi mungkin ini yang termanis.
Mereka pun akhirnya menemukan penjual bensin eceran. Untunglah jaraknya tidak jauh, sehingga tenaga Alexi tak terlalu terkuras habis. Selagi menunggu motornya diisi, tak sengaja Wenda kembali mencium aroma Alexi. Kali ini bercampur dengan sedikit keringat. Wajar saja kalau Alexi berkeringat setelah mendorong beban seberat itu. Namun, aroma ini justru lebih disukai Wenda. Ia begitu menikmati sampai-sampai ia tak sadar motornya sudah selesai diisi.
“ Hei, Wen. Kamu kenapa?”
Wenda terkesiap, “ Eh—eh, enggak kok. Udah selesai’kan?”
Alexi mengangguk. Setelah selesai membayar, mereka pun segera meluncur ke kostan Alexi. Dengan sedikit menambah kecepatan, mereka pun akhirnya sampai.
“ Huff, makasih ya atas tumpangannya, Wen.”
Wenda menggeleng, “ Nggak, aku yang makasih. Kamu sampai repot-repot dorong motor aku. Aku malah jadi gak enak sama kamu.”
“ Ah, biasa aja kok, tapi kalau kamu mau terima kasih sama aku boleh kok,” Alexi melemparkan senyum termanisnya. “ Terima kasih kembali.”
Wenda bisa merasakan jantungnya mau melompat keluar saat mendapatkan senyuman itu. Ia pun buru-buru pamit sebelum Alexi bisa mendengar detak jantungnya.
“ Oke deh, see you tomorrow!”
“ Hati-hati di jalan ya. Awas banyak begal loh.”
Wenda tersenyum geli. Ia menstater motornya kemudian tancap gas. Dari balik spionnya, ia bisa melihat Alexi melambaikan tangan padanya.
Andai saja jalanan tidak terlalu macet malam ini, mungkin Wenda akan senang hati memutar stang gasnya lebih kencang. Yah, ia ingin berbagi kebahagiaannya pada dunia. Malam ini adalah malam yang indah.


Auhtor's Note:
Very late up date, i'm really sorry T.T 
please comment and share

Tidak ada komentar:

Posting Komentar