Total Tayangan Halaman

Jumat, 05 Agustus 2016

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 62)



Musikal 62

Tiga hari berlalu pascakejadian belum ada tanda-tanda berita perseteruan antara Priyanka dan Wenda menyebar. Semua orang tahu kalau Ben dan Kemal masuk rumah sakit karena dikeroyok, tetapi berita yang mereka terima hanya berita bohong. Sampai hari ini juga Ben, Kemal, dan Wenda masih absen. Mereka bertiga sepertinya kompak untuk tidak hadir di kelas maupun latihan.
Meski begitu sepertinya penghakiman khusus tetap diterima oleh Priyanka. Bagi sebagian orang yang tahu apa yang terjadi di kamar inap, kini menjauhinya. Mereka hanya berhubungan dengan Priyanka bila diperlukan itu pun mereka masih menjaga jarak. Mungkin mereka paranoid dengan kelakukan Priyanka di masa lalu.
Priyanka memang tak mempermasalahkan hal itu, tapi yang membuatnya sedih adalah teman dekatnya, Fi, juga memperlakukannya demikian. Priyanka masih ingat apa yang dikatakannya saat mereka pulang dari rumah sakit.
“ Jadi, kamu orangnya memang seperti itu, Ka?”
“ Fi, tolong jangan sekarang.”
Seolah tak memedulikan perasaan Priyanka saat itu, bibir Fi terus berseloroh.
“ Aku mengerti perasaan gadis bernama Wenda itu karena aku juga pernah berada di posisinya,” Fi melipat tangannya seraya mendengus kesal. “ Ketika kita percaya dengan seseorang maka orang itu akan menghancurkan kita dari belakang. Itu yang aku pikirkan saat aku tahu kalau kamu bermain dengan cara seperti itu untuk menghancurkan rivalmu sendiri. Aku tahu kamu ingin meraih posisi puncak, tapi gak gitu caranya.”
Priyanka menatap Fi dengan kesal, “ Tidakkah kamu peduli dengan perasaanku sekarang? Apa yang aku lakukan tadi semata-mata agar aku tidak menanggung rasa bersalah ini terus-menerus. Tolong, saat ini aku tidak butuh ceramah darimu.”
“ Oh ya, lalu aku kenapa aku harus peduli? Jika teman lamamu saja bisa kamu hancurkan seperti itu apalagi aku yang hanya baru kenal denganmu. Sudahlah, Priyanka, aku sudah hafal dengan dengan perilaku orang-orang sepertimu!”
Fi membalikkan badannya kemudian pergi. Ia benar-benar tak memedulikan perasaan Priyanka yang kala itu sudah hancur lebur.
Begitulah Fi dengan sikap idealisnya yang membuat Priyanka semakin terpuruk. Saat ini ia ingin ditemani oleh siapa pun. Sayang, teman terbaiknya sekarang justru menjauhi dengan alasan sama seperti yang lainnya. Priyanka baru tahu kalau karma itu benar-benar meruntuhkannya.
Saat bel istirahat, ia memutuskan untuk ke ruang latihan pribadinya. Tempat dimana dia selalu berlatih seorang diri. Namun, kali ini ia tak berniat latihan, ia hanya butuh tempat yang benar-benar sepi untuk menenangkan pikirannya.
Begitu ia membuka pintu, terdengar suara seorang perempuan sedang bermonolog. Priyanka tak pernah memberitahu tempat ini, kecuali pada Fi, tapi setelah kejadian ini mana mungkin Fi menyempatkan diri untuk mampir. Suara itu benar-benar nyata, jadi ia tak mungkin bermimpi.
Setelah menelusuri ke dalam, Priyanka menemukan sosok gadis berambut ikal sedang berbicara panjang lebar dengan lembaran kertas di tangannya. Dari kalimat yang ia ucapkan, Priyanka menduga gadis itu sedang menghapal dialog. Ingatannya melayang pada kejadian tempo hari ketika gadis itu kena sembur Tifa gara-gara kesalahan gadis itu di atas panggung. Mungkin gadis ini sedang memerbaiki kesalahan dengan berlatih seorang diri.
“ Oh, hai, aku tidak tahu kamu datang,” gadis itu tersentak dan lebih dulu menegur Priyanka.
“ Dari mana kamu tahu tempat ini?”
Gadis itu mengangkat bahu, “ Aku hanya iseng saja. Tidak ada tempat yang bagus untuk berlatih. Tadinya aku mau ke gedung teater, tapi terlalu jauh, lagipula tempat itu kedap suara. Aku takut nanti suara bel masuk tidak kedengaran.”
Priyanka hanya mengangguk sekenanya. Ia ingin meminta gadis itu pergi saja, tetapi itu mustahil. Tempat ini memang ‘bagai’ surga pribadinya, tetapi pada kenyataannya ruangan itu tetap bukan miliknya.
“ Apa kamu mau menggunakan ruangan ini?” Ririn tampaknya bisa membaca keberatan di wajah Priyanka karena kehadirannya.
“ Tergantung. Apakah kamu akan pergi kalau aku bilang iya,” jawab Priyanka.
Kening Ririn berkerut, “ Maksudmu?”
“ Kamu akan menjauhiku seperti yang lainnya? Sudah pasti kamu jijik setelah tahu apa yang pernah aku lakukan, iya kan?”
Ririn memutar bola matanya, “ Oh, tapi aku punya alasan sendiri. Kupikir ini sudah seperti tempat pribadimu, soalnya kamu bertanya dari mana aku tahu tempat ini. Jadi, menurutku kamu sudah menjadi penguasa tempat ini. Makanya aku akan mundur jika kamu memang memerlukan tempat ini.”
Priyanka menarik napas panjang, lalu tersenyum kecil, “ Aku tidak menyangka kamu akan sebaik itu.”
Ririn kembali mengangkat bahu, “ Aku gak ngerti lagi maksudmu, tapi kalau berhubungan dengan masalah kemarin, aku sih mau ikut-ikutan. Maksudku, yaaa…aku memang tidak suka dengan apa yang kamu lakukan dulu. Menurutku itu terlalu ekstrim, untuk Wenda dan juga untuk dirimu sendiri, tapi bukan berarti aku harus membencimu juga. Aku membayangkan kalau aku ada di posisimu, kurasa aku tidak akan bisa sekuat dirimu untuk mengakui semua itu di hadapan semua orang.”
Priyanka menatap Ririn cukup lama. Gadis ini memang tak pandai melafalkan dialog, tetapi kata-katanya di balik panggung berhasil menyentuhnya. Tidak ada yang berhasil mengusir kegundahannya sampai ia bertemu dengan gadis ini.
“ Cuma kamu yang bilang kayak gitu padaku. Jujur aja, apa yang kamu bilang barusan adalah apa yang aku pengen dengar dari orang-orang yang ada di sekitarku,” Priyanka kembali menarik napas. “ Baru kali ini kamu bicara sepanjang itu. Ternyata kamu cerewet juga ya”
Giliran Ririn yang balas tersenyum, “ Kurasa karena kita tidak pernah sedekat itu untuk membicarakan masalah pribadi.”
Priyanka membenarkan kata-kata Ririn, lalu keduanya tertawa.
“ Tapi aku jujur loh soal keberanianmu itu,” ujar Ririn. “ Mungkin kamu sekarang dibenci semua orang, tapi setidaknya kamu sudah bebas dari mantan pacarmu itu. Awal yang baik, bukan?”
“ Begitulah,” Priyanka mendesah panjang. “ Kasusnya masih panjang. Entah bagaimana nasibku setelah ini.”
Ririn menepuk bahu Priyanka, “ Tenang saja. Kejujuran itu memang pahit, tapi akan sangat berguna nantinya.”
Semoga…
“ Apa kita bisa berteman lebih dekat lagi?” Priyanka bertanya di luar konteks pembicaraan mereka.
“ Tentu. Kenapa tidak?” Ririn kemudian mengeluarkan ponsel berserta headset yang tergulung di sana, kemudian memberikannya pada Priyanka. “ Dengarkan saja track nomor dua. Maaf ya, aku harus ke toilet dulu. Kembalikan di kelas saja”
Priyanka belum sempat bertanya lebih jauh lagi. Namun, gadis itu sudah lebih dulu melesat cepat. Mungkin ia benar-benar kebelet ke toilet. Priyaka menatap ponsel itu beberapa saat, kemudian ia memutuskan untuk melakukan apa yang dikatakan oleh gadis itu. Mendengarkan track lagu nomor dua.
Since you’ve been gone
I can free for the first time
I’m so moving on
Thank’s to you, now I can
I get what I want
Priyanka tersenyum. Inilah lagu yang ia butuhkan dari kemarin.

Inspirated by Kelly Klarckson “Since You’ve Been Gone” 

Please Comment and Share

Tidak ada komentar:

Posting Komentar