Musikal 62
Tiga hari berlalu pascakejadian belum ada tanda-tanda
berita perseteruan antara Priyanka dan Wenda menyebar. Semua orang tahu kalau
Ben dan Kemal masuk rumah sakit karena dikeroyok, tetapi berita yang mereka
terima hanya berita bohong. Sampai hari ini juga Ben, Kemal, dan Wenda masih absen.
Mereka bertiga sepertinya kompak untuk tidak hadir di kelas maupun latihan.
Meski begitu
sepertinya penghakiman khusus tetap diterima oleh Priyanka. Bagi sebagian orang
yang tahu apa yang terjadi di kamar inap, kini menjauhinya. Mereka hanya
berhubungan dengan Priyanka bila diperlukan itu pun mereka masih menjaga jarak.
Mungkin mereka paranoid dengan kelakukan Priyanka di masa lalu.
Priyanka memang tak
mempermasalahkan hal itu, tapi yang membuatnya sedih adalah teman dekatnya, Fi,
juga memperlakukannya demikian. Priyanka masih ingat apa yang dikatakannya saat
mereka pulang dari rumah sakit.
“ Jadi, kamu orangnya memang seperti itu, Ka?”
“ Fi, tolong jangan sekarang.”
Seolah tak memedulikan perasaan Priyanka saat itu,
bibir Fi terus berseloroh.
“ Aku mengerti perasaan gadis bernama Wenda itu karena
aku juga pernah berada di posisinya,” Fi melipat tangannya seraya mendengus
kesal. “ Ketika kita percaya dengan seseorang maka orang itu akan menghancurkan
kita dari belakang. Itu yang aku pikirkan saat aku tahu kalau kamu bermain
dengan cara seperti itu untuk menghancurkan rivalmu sendiri. Aku tahu kamu
ingin meraih posisi puncak, tapi gak gitu caranya.”
Priyanka menatap Fi dengan kesal, “ Tidakkah kamu
peduli dengan perasaanku sekarang? Apa yang aku lakukan tadi semata-mata agar
aku tidak menanggung rasa bersalah ini terus-menerus. Tolong, saat ini aku
tidak butuh ceramah darimu.”
“ Oh ya, lalu aku kenapa aku harus peduli? Jika teman
lamamu saja bisa kamu hancurkan seperti itu apalagi aku yang hanya baru kenal denganmu.
Sudahlah, Priyanka, aku sudah hafal dengan dengan perilaku orang-orang
sepertimu!”
Fi membalikkan badannya kemudian pergi. Ia benar-benar
tak memedulikan perasaan Priyanka yang kala itu sudah hancur lebur.
Begitulah Fi dengan
sikap idealisnya yang membuat Priyanka semakin terpuruk. Saat ini ia ingin
ditemani oleh siapa pun. Sayang, teman terbaiknya sekarang justru menjauhi
dengan alasan sama seperti yang lainnya. Priyanka baru tahu kalau karma itu
benar-benar meruntuhkannya.
Saat bel istirahat,
ia memutuskan untuk ke ruang latihan pribadinya. Tempat dimana dia selalu
berlatih seorang diri. Namun, kali ini ia tak berniat latihan, ia hanya butuh
tempat yang benar-benar sepi untuk menenangkan pikirannya.
Begitu ia membuka
pintu, terdengar suara seorang perempuan sedang bermonolog. Priyanka tak pernah
memberitahu tempat ini, kecuali pada Fi, tapi setelah kejadian ini mana mungkin
Fi menyempatkan diri untuk mampir. Suara itu benar-benar nyata, jadi ia tak
mungkin bermimpi.
Setelah menelusuri ke
dalam, Priyanka menemukan sosok gadis berambut ikal sedang berbicara panjang
lebar dengan lembaran kertas di tangannya. Dari kalimat yang ia ucapkan,
Priyanka menduga gadis itu sedang menghapal dialog. Ingatannya melayang pada
kejadian tempo hari ketika gadis itu kena sembur Tifa gara-gara kesalahan gadis
itu di atas panggung. Mungkin gadis ini sedang memerbaiki kesalahan dengan
berlatih seorang diri.
“ Oh, hai, aku tidak
tahu kamu datang,” gadis itu tersentak dan lebih dulu menegur Priyanka.
“ Dari mana kamu tahu
tempat ini?”
Gadis itu mengangkat
bahu, “ Aku hanya iseng saja. Tidak ada tempat yang bagus untuk berlatih.
Tadinya aku mau ke gedung teater, tapi terlalu jauh, lagipula tempat itu kedap
suara. Aku takut nanti suara bel masuk tidak kedengaran.”
Priyanka hanya
mengangguk sekenanya. Ia ingin meminta gadis itu pergi saja, tetapi itu
mustahil. Tempat ini memang ‘bagai’ surga pribadinya, tetapi pada kenyataannya
ruangan itu tetap bukan miliknya.
“ Apa kamu mau
menggunakan ruangan ini?” Ririn tampaknya bisa membaca keberatan di wajah
Priyanka karena kehadirannya.
“ Tergantung. Apakah
kamu akan pergi kalau aku bilang iya,” jawab Priyanka.
Kening Ririn
berkerut, “ Maksudmu?”
“ Kamu akan
menjauhiku seperti yang lainnya? Sudah pasti kamu jijik setelah tahu apa yang
pernah aku lakukan, iya kan?”
Ririn memutar bola
matanya, “ Oh, tapi aku punya alasan sendiri. Kupikir ini sudah seperti tempat
pribadimu, soalnya kamu bertanya dari mana aku tahu tempat ini. Jadi, menurutku
kamu sudah menjadi penguasa tempat ini. Makanya aku akan mundur jika kamu
memang memerlukan tempat ini.”
Priyanka menarik
napas panjang, lalu tersenyum kecil, “ Aku tidak menyangka kamu akan sebaik
itu.”
Ririn kembali
mengangkat bahu, “ Aku gak ngerti lagi maksudmu, tapi kalau berhubungan dengan
masalah kemarin, aku sih mau ikut-ikutan. Maksudku, yaaa…aku memang tidak suka
dengan apa yang kamu lakukan dulu. Menurutku itu terlalu ekstrim, untuk Wenda
dan juga untuk dirimu sendiri, tapi bukan berarti aku harus membencimu juga.
Aku membayangkan kalau aku ada di posisimu, kurasa aku tidak akan bisa sekuat
dirimu untuk mengakui semua itu di hadapan semua orang.”
Priyanka menatap
Ririn cukup lama. Gadis ini memang tak pandai melafalkan dialog, tetapi
kata-katanya di balik panggung berhasil menyentuhnya. Tidak ada yang berhasil
mengusir kegundahannya sampai ia bertemu dengan gadis ini.
“ Cuma kamu yang
bilang kayak gitu padaku. Jujur aja, apa yang kamu bilang barusan adalah apa
yang aku pengen dengar dari orang-orang yang ada di sekitarku,” Priyanka
kembali menarik napas. “ Baru kali ini kamu bicara sepanjang itu. Ternyata kamu
cerewet juga ya”
Giliran Ririn yang
balas tersenyum, “ Kurasa karena kita tidak pernah sedekat itu untuk
membicarakan masalah pribadi.”
Priyanka membenarkan
kata-kata Ririn, lalu keduanya tertawa.
“ Tapi aku jujur loh
soal keberanianmu itu,” ujar Ririn. “ Mungkin kamu sekarang dibenci semua
orang, tapi setidaknya kamu sudah bebas dari mantan pacarmu itu. Awal yang
baik, bukan?”
“ Begitulah,”
Priyanka mendesah panjang. “ Kasusnya masih panjang. Entah bagaimana nasibku
setelah ini.”
Ririn menepuk bahu
Priyanka, “ Tenang saja. Kejujuran itu memang pahit, tapi akan sangat berguna
nantinya.”
Semoga…
“ Apa kita bisa
berteman lebih dekat lagi?” Priyanka bertanya di luar konteks pembicaraan
mereka.
“ Tentu. Kenapa
tidak?” Ririn kemudian mengeluarkan ponsel berserta headset yang tergulung di sana, kemudian memberikannya pada
Priyanka. “ Dengarkan saja track nomor dua. Maaf ya, aku harus ke toilet dulu.
Kembalikan di kelas saja”
Priyanka belum sempat
bertanya lebih jauh lagi. Namun, gadis itu sudah lebih dulu melesat cepat.
Mungkin ia benar-benar kebelet ke toilet. Priyaka menatap ponsel itu beberapa
saat, kemudian ia memutuskan untuk melakukan apa yang dikatakan oleh gadis itu.
Mendengarkan track lagu nomor dua.
Since you’ve been gone
I can free for the first time
I’m so moving on
Thank’s to you, now I can
I get what I want
Priyanka tersenyum.
Inilah lagu yang ia butuhkan dari kemarin.
Inspirated by Kelly Klarckson “Since You’ve Been Gone”
Please Comment and Share
Tidak ada komentar:
Posting Komentar