Musikal 71
Ririn kaget saat Priyanka memencetkan klakson. Ia
menoleh dan mendapati Priyanka membuka kaca helm. Gadis itu memberikan isyarat
supaya Ririn mau menunggunya. Ririn tersenyum dan dengan sabar menunggu
Priyanka memarkir motor.
“ Pagi!” sapa Ririn
ketika Priyanka menghampiri.
“ Hai, pagi juga,”
balas Priyanka seraya mencangklong ransel. “ Eh, kemarin operasinya Andani’kan?
Gimana keadaannya?”
“ Operasinya lancar
dan sekarang dia sudah lebih baik. Hanya saja dia harus puasa bicara dulu.”
“ Syukurlah, aku
senang mendengarnya. Hmm, sebenarnya kemarin aku mau ikut menjenguk, tapi
yaaah… kamu tahu sendiri’kan.”
Ririn tersenyum
kecil, “ Aku mengerti. Ngomong-ngomong, kamu mau jenguk dia hari ini? Kebetulan
hari ini latihan kita diganti besok.”
“ Apa boleh? Aku mau
aja, tapi Andani bakal ngusir aku gak?”
“ Ya ampun, gak
apalah,” Ririn terkekeh. “ Aku mengerti posisimu saat ini, tapi kamu’kan gak
pernah punya masalah sama Andani.”
Priyanka mengangguk
pelan, “ Iya juga sih. Oh ya, nanti kita mau bawain apa? Andani lebih suka buah
atau roti?”
“ Hmm, aku sih
rencananya mau beliin Andani block note
yang bisa dikalungin. Dia’kan lagi puasa bicara, jadi block note-nya bisa dipakai buat bicara sama orang lain.”
“ Wah, ide bagus! Eh,
gimana kalau papan magnet aja? Mungkin lebih lucu.”
“ Boleh juga tuh,”
Ririn mengangguk semangat. “ Ya udah, nanti pulang sekolah kita mampir dulu ke
toko buku.”
ooOoo
Bel pergantian jam baru saja berbunyi. Beberapa anak
yang merasa penat, mulai mencuri-curi waktu untuk mampir ke kantin atau toilet.
Tak jauh berbeda dengan yang dirasakan oleh salah satu dari kembar Hasegawa,
Jiro.
Pelajaran fisika baru
saja usai dan langsung marathon dengan matematika membuat kepalanya terasa
berasap. Ia sudah dibatas kemampuannya. Segera keluar atau kepalanya
benar-benar akan meledak.
“ Mau kemana?” tegur
Hiro saat melihat Jiro beranjak dari kursi.
“ Cuma keluar
sebentar. Pusing di kelas terus.”
“ Jangan lama-lama
loh. Sebentar lagi gurunya datang. Janji?”
Jiro mengangguk
sambil tersenyum, “ Janji!”
Hiro pun membiarkan
kembarannya pergi. Sayang, ia tak tahu kalau jiro menyilangkan jari saat bersumpah
di hadapannya.
Kini Jiro pun bebas
mau pergi kemana. Biar saja tasnya tinggal di kelas, nanti juga Hiro akan
mengurusnya. Jiro berjalan sembunyi-sembunyi agar tidak ketahuan guru kalau dia
membolos. Usahanya berhasil dan ia pun sampai di jalan rahasia yang pernah
mereka gunakan tempo hari. Dengan lincah Jiro pun berhasil memanjat tangga yang
menghubungkannya dengan dunia luar sekolah.
Jiro sedikit menyesal
saat ia sadar kalau ia tak punya rencana mau pergi kemana. Ia pun baru
memikirkan arah tujuannya sambil melangkahkan kakinya menuju halte bis.
Tiba-tiba Jiro
menjentikkan jarinya, “ Aha, ke tempat itu saja!”
ooOoo
Lagi-lagi Andani berduaan saja dengan ponselnya. Kedua
orang tuanya sedang keluar sebentar. Kondisi Andani yang tidak mengkhawatirkan membuat
orang tuanya tidak terlalu cemas untuk meninggalkan Andani sendirian.
Pintu kamarnya
terbuka. Andani cuek saja dan tetap fokus pada ponselnya. Perhatiannya tersita
saat ia mendengar sebuah kursi ditarik ke dekat ranjangnya. Matanya terbelalak
ketika melihat siapa yang duduk di kursi itu.
“ Yo, apa kabar?”
Andani hampir saja
lupa kalau ia sedang tidak diperbolehkan bicara, apa lagi berteriak. Kedatangan
Jiro yang tiba-tiba membuat Andani ingin memekik. Buru-buru ia mengetikkan
sesuatu di ponselnya.
Sedang apa di sini?
Jiro tersenyum saat
membaca tulisan Andani, “ Aku hanya bosan belajar dan aku tidak punya tempat
tujuan lain. Jadi, aku ke sini saja.”
Kamu bolos ya?
“ Sudah jadi
kebiasaanku. Cuma demi Hiro aku agak mengeremnya. Hmm, kupikir nanti dia akan
mengomel-ngomel.”
Andani tak lagi
mengetik pesan. Ia hanya mendengus kesal.
“ Jadi, bagaimana
hubunganmu dengan saudarimu itu?”
Andani mengendikkan
bahunya seraya tersenyum tipis.
“ Waah, sepertinya
mulai membaik ya,” Jiro kembali tersenyum. “ Saudarimu hebat! Dia rela mundur
dari kontes itu demi dirimu. Padahal untuk masuk deretan finalis tetap bukanlah
hal yang mudah.”
Begitulah, aku pun terharu
melihat perjuangannya. Aku senang dia ada di sini. Tak ada hadiah terindah
selain kehadirannya.
Jiro menangkap wajah
Andani yang berseri-seri saat mengetikkan pesan itu. Andani bahkan sampai heran
kenapa Jiro menatapnya dengan cara yang demikian.
Kamu kenapa?
Jiro menggeleng
pelan, “ Tidak apa-apa. Hanya saja sesaat aku teringat wajah Hiro saat melihat
ekspresimu tadi.”
Andani tak bertanya,
tapi memberinya tatapan heran. Jiro merasa canggung saat tatapan Andani seolah
menginterograsinya. Sambil membenarkan cara duduknya, ia pun akhirnya buka
suara.
“ Sebenarnya bukan
cerita yang menyenangkan. Aku juga ragu untuk menceritakan hal ini padamu. Lagi
pula ini hanya cerita masa lalu antara aku dan Hiro”
Ceritakan saja.
Jiro menarik napas
panjang. Ia seperti tengah menyiapkan dirinya untuk menceritakan masa lalu.
“ Tak banyak orang
tahu kalau sebenarnya aku dan Hiro dulu punya hubungan yang kurang baik.
Memakan waktu yang cukup lama untuk saling memaafkan. Bahkan butuh kejadian
yang luar biasa supaya kami bisa akrab seperti sekarang.”
Tapi kalian terlihat sangat
akrab.
“ Benar, tapi dulu
tidak. Semua itu gara-gara hobiku yang dilarang oleh orang tua kami. Ayah kami
seorang komposer dan ibu kami seorang pianis. Tentu saja mereka menginginkan
anak-anaknya menjadi seorang pemusik juga. Sayang, aku justru lebih suka sepak
bola ketimbang bermain cello. Orang tua kami sangat menentang hobiku, tapi aku
juga melawan lebih sengit. Oleh sebab itu, mereka sangat tidak menyukaiku.
Meski begitu mereka tetap berusaha untuk mendorongku terjun ke dunia musik
dengan cara membanding-bandingkanku dengan Hiro. Sayang, cara mereka justru
membuatku membenci saudaraku sendiri.
“ Aku tahu Hiro sudah
berusaha baik padaku, tapi entah kenapa semakin baik Hiro padaku maka semakin
besar pula kebencianku padanya. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk tinggal
bersama pamanku yang ada di Kobe. Aku ingin lepas dari orang tuaku dan hidup
mandiri. Selain itu, aku tidak ingin membenci Hiro lebih dalam lagi.
“ Hidup di tempat
pamanku ternyata jauh lebih sulit. Aku harus membantu paman supaya aku bisa
makan. Terkadang aku harus merelakan waktu sekolah dan liburku hanya untuk
membantu paman. Kehidupanku memang keras, tapi aku menemukan kebebasanku di
sana. Di siang hari aku bisa bermain sepak bola sepuasnya dan malamnya aku
tidak perlu mendengar ocehan orang tuaku, yang terpenting adalah aku menjadi
diriku sendiri tanpa perlu dibandingkan dengan siapa pun, termasuk Hiro.
“ Ternyata pamanku
mempunyai darah musik juga. Dia mengajariku bermain gitar dan memperkenalkan
aku pada dunia perkusi. Meski aku sudah menjauhi dunia musik, tapi tetap saja
aku tak bisa lepas dari dunia itu. Lama kelamaan aku justru melupakan sepak
bola dan bergabung pada pemain perkusi jalanan. Ternyata aku memang ditakdirkan
untuk menjadi pemusik, meski beraliran kontemporer bukan klasik seperti orang
tuaku dan Hiro.
“ Kukatakan
sebelumnya bahwa aku memang menemukan kebebasanku, tapi tak bisa kupungkiri
kalau aku juga sering merasa kesepian. Aku butuh teman bercerita dan berbagi.
Semua itu tak bisa kulakukan pada pamanku atau teman-temanku yang lain. Entah
kenapa semakin lama aku justru lebih sering memikirkan Hiro. Sampai suatu hari
Hiro meneleponku. Dia bilang akan datang mengunjungiku. Saat ia mengatakan hal
itu tiba-tiba saja hatiku terasa sedikit senang.
“ Tapi kedatangannya
tak kunjung tiba. Kupikir dia membatalkannya secara sepihak. Hingga ayah
menelepon dan mengatakan bahwa Hiro mengalami kecelakaan. Tanpa pikir panjang
aku segera menuju rumah sakit tempat Hiro dirawat. Ketika aku sampai di sana
ternyata Hiro sudah terbaring koma.
“ Berhari-hari kami
menungguinya di rumah sakit, tapi Hiro tak juga membuka matanya. Tiap kali aku
melihat wajah Hiro yang tertidur, dalam sekejap aku merasa hampa. Aku seperti
merasa kehilangan separuh dari hidupku. Mungkin memang aku mendapatkan apa yang
aku mau, tapi ternyata aku hilangan apa yang aku butuhkan.
“ Aku sangat
membutuhkan Hiro.”
Jiro kembali menghela
napas panjang. Suaranya terdengar bergetar saat mengucapkan kalimat
terakhirnya. Di sisi lain, Andani pun seperti terhisap dalam cerita Jiro.
Matanya mulai berkaca-kaca.
“ Di saat itulah aku
memanjatkan doa. Aku tak meminta banyak, yang kuinginkan hanyalah satu kali
kesempatan agar Hiro bisa bersama kami semua. Aku tak peduli jika harus kembali
pada orang tuaku dan meninggalkan semua kesenangan yang aku miliki saat itu.
Aku meminta dengan sangat, sampai-sampai aku menangis.
“ Ternyata Tuhan
memang menyanyangi umatnya. Dengan belas kasihnya ia beri kesempatan Hiro untuk
kembali membuka matanya. Tidak ada kebahagiaan yang abadi selain bisa melihat
Hiro lepas dari komanya. Aku benar-benar bersyukur. Sangat-sangat bersyukur.
“ Dan aku menepati
janjiku. Aku kembali ke rumah orang tua kami dan kembali ke dunia musik klasik.
Semuanya semata-mata agar aku tidak berpisah lagi dari Hiro. Cukup sekali saja
aku hampir kehilangan dia. Di lain kesempatan, mungkin Tuhan tak akan sebaik
ini padaku.”
Jiro mengakhiri
ceritanya. Di saat yang bersamaan tangis Andani pecah. Laki-laki itu pun jadi
kalang kabut.
“ Hei, hei, hei,
ceritanya’kan berakhir bahagia. Kenapa kamu malah menangis?”
Terlalu mengharukan! T_T Aku jadi
teringat dengan Anjani.
Jiro tersenyum tipis,
“ Kamu benar. Aku pun teringat padanya karena aku pernah berada di posisi
saudarimu itu. Aku tahu betul bagaimana rasanya menunggu saudaranya di ruang
operasi. Makanya aku terharu melihat pengorbanannya yang begitu besar.”
Apa aku terlalu jahat karena
telah membunuh mimpinya?
“ Tidak, kamu gak
jahat kok. Orang-orang seperti kami ini memang harus mengorbankan sesuatu agar
bisa menyadari kebaikan hari dari orang
lain. Seperti kamu dan Hiro.”
Andani masih terlihat
sesegukan, tapi seulas senyum tipis mulai menghiasi wajahnya. Jiro terkekeh
melihat ekspresi yang paradoks pada wajah gadis ini. Ia mengeluarkan
saputangannya, lalu menghapus air mata serta ingus gadis ini.
“ Kamu jelek banget
kalau nangis,” Jiro kembali tertawa. Tak pelak ia mendapatkan pukulan kecil
dari Andani.
Pintu bangsal dibuka
dengan kasar. Terdengar suara ribut dari orang yang baru masuk. Kemudian
terdengar nada menyindir dari tamu tersebut.
“ Wah, wah, lihat
ini! Sekarang siapa yang kita dapati membolos, huh?”
ooOoo
Adrian membanting pintu mobil Tifa dengan kasar. Sejak
dari tempat parkir ia tak berhenti mengoceh pada tantenya. Namun, Tifa dengan
santainya menutup telinga seraya bersenandung aneh.
“ Aku harap gak ada
lagi yang masuk rumah sakit! Bisa-bisa aku duluan yang masuk rumah sakit
gara-gara Tante!”
Tifa masih menutup
telinganya. Amarah Adrian sudah sampai ke ubun-ubun. Ia menarik paksa tangan
tantenya.
“ Woiii, Tante,
denger gak?”
“ Ihh, punya
keponakan satu aja bawelnya minta ampun! Sama banget kayak neneknya!” sergah
Tifa.
“ Tante itu yang
minta ampun!” tuding Adrian. “ Nyetir udah kayak orang kesurupan. Kalau tadi sampai
kenapa-kenapa, gimana coba?”
“ Aarrgh, kamu kayak
anak gadis aja sih! Masa gak pernah naik mobil ngebut!”
“ Dasar, Tante
sinting!”
“ Kamu tuh yang
berisik!”
Adrian bukan orang
yang suka mengeluarkan kata-kata kasar, tapi tantenya ini selalu saja bisa
memancing amarahnya. Mereka berdua berniat menjenguk Andani di rumah sakit.
Supaya praktis, Adrian pergi bersama Tifa. Sayang, ia lupa kalau Tifa adalah
penyetir yang sangat-sangat buruk. Selama perjalanan jantungnya terus berdegup
kencang. Makanya begitu sampai ia luapkan segala emosinya yang tertahan selama
perjalanan.
Perdebatan sengit
antara tante dan keponakan ini terus berlanjut. Tifa masih merecoki Adrian
seraya membuka pintu bangsal. Ia dorong pintu itu dengan kasar. Namun,
percekcokkan mereka terhenti saat melihat sosok Jiro sedang menghapus air mata
Andani.
“ Wah, wah, lihat
ini! Sekarang siapa yang kita dapati membolos, huh?”
Jiro dan Andani
terlihat terkejut dengan kedatangan tamu mereka. Tifa maju dengan berang dan
langsung menjewer Jiro tanpa ampun.
“ Hei, bocah tengik!
Dengar ya, keberadaanmu di sini banyak menghabiskan uangku! Kalau kamu
bolos-bolosan seperti ini, aku bisa
bangkrut sia-sia, tahu!”
Jiro mengaduh
kesakitan. Berkali-kali ia minta ampun, tapi Tifa tak peduli. Andani panik. Ia
ingin menghentikan aksi Tifa, tapi ia tak dilarang berteriak. Untungnya Adrian
segera bertindak cepat untuk melerai kebrutalan tantenya.
“ Tante, stop, stop!
Dia mana mungkin bisa mendengarmu kalau kamu menjewernya seperti itu!”
“ Aku tidak peduli!
Bocah ini memang susah sekali dinasihati. Aku sudah tahu dia ini sering bolos.
Makanya aku beri dia pelajaran!”
Erangan Jiro semakin
kuat. Namun, Tifa tak peduli. Ia malah menceramahi Jiro dengan
kerugian-kerugian yang akan ia alami kalau Jiro terus-terusan membolos.
“ Ada ribut-ribut apa
ini?”
Tifa benar-benar
menghentikan keburutalannya saat melihat Anjani datang. Ia mengedarkan tatapan
heran pada semua orang yang ada di sana. Tatapannya lebih intens saat menatap
Anjani. Seolah-olah Anjani itu adalah sosok mahluk asing yang tiba-tiba muncul.
“ Astaga, kepalaku
pusing. Aku butuh kopi dingin,” Tifa menunjuk Anjani dan Adrian bergantian. “
Kamu ikut saya dan kamu beri sesuatu yang dingin untuk si begundal yang di
sana!”
Tifa menyeret Anjani
untuk meninggalkan kamar. Sementara ketiga orang itu masih terbengong-bengong
dengan perintah Tifa. Sampai akhirnya erangan Jiro menyadarkan mereka.
“ Kamu baik-baik
saja?” tanya Adrian.
Jiro mendengus kesal,
“ Kamu harusnya rasakan apa yang aku rasakan sekarang! Baru kamu tahu apakah
aku baik-baik saja atau tidak.”
Adrian menahan tawa
ketika mendengar jawaban Jiro, “ Ahh, baik, baik, akan kucarikan sesuatu yang
dingin untuk telingamu.”
ooOoo
“ Jadi, katakan kenapa kamu bisa di sini?”
Tifa memungut kopi
kaleng yang baru saja keluar dari vending
machine. Anjani menunda jawabannya sampai Tifa menyesap kopi. Gadis itu
menunggu Tifa dengan sabar. Gadis itu menarik napas panjang sebelum mulai
bercerita.
“ Alasan yang sangat
sentimental, Miss. Saya kembali
karena mendengar kabar Andani akan operasi. Pikiran saya langsung tidak fokus.
Setiap saat saya selalu memikirkan Andani, Andani, dan hanya Andani. Saya pikir
percuma ada di sana kalau pikiran saya di sini. Makanya, saya ambil resiko itu
hanya untuk pulang.”
Tifa melirik Anjani
dengan tatapan sinis, “ Memangnya apa yang kamu pikirkan tentang Andani?”
Anjani termenung
lama. Sampai saat ini ia memang belum pernah mengungkapkan alasan yang konkret
mengenai alasannya pulang. ‘Hanya memikirkan Andani’ itu masih kata umum yang
bisa saja menjadi alasan yang ia buat-buat.
‘ Memangnya apa yang kamu pikirkan tentang Andani?’
“ Hal pertama yang
saya pikirkan tentang Andani adalah saya membayangkan Andani ada di ruang
operasi. Sendirian. Sedangkan saat itu saya sedang dikelilingi oleh banyak
orang. Hari-hari saya dipenuhi tawa, sedangkan Andani mempersiapkan mentalnya untuk
menghadapi tajamnya pisau operasi. Saya sedang mendapatkan apa yang saya
inginkan, tapi di saat yang bersamaan Andani akan kehilangan hal yang paling
berharga, yaitu suara emasnya. Andani tanpa suara emasnya bukanlah Andani. Dia
hanya seorang gadis biasa dengan masa depan yang kosong.”
Anjani menghapus titik air yang muncul di
sudut matanya. Ia kembali menarik napas panjang.
“ Saya rasa saya akan
menjadi orang yang paling jahat jika saya meneruskan kontes itu. Saya gak mau
jadi orang jahat karena saya sadar siapa saya. Saya adalah satu-satunya saudara
Andani.”
Tifa menatap Anjani sambil tersenyum. Tanpa
sadar Anjani sudah berada di pelukan sang sutradara. Ia merasa pundaknya
ditepuk pelan. Ini kali keduanya ia dipeluk hangat oleh seseorang yang biasanya
terlihat seperti singa betina jika sudah ada di panggung. Anjani sangat
menyukai momen seperti ini. Bahkan ibunya belum bisa menggantikan pelukan
hangat seperti ini.
“ Kamu bukan orang
pertama yang melakukan hal gila seperti ini,” ujar Tifa. “ Tapi kamu berbeda.
Selamat, kamu sudah jadi dewasa sekarang!”
Anjani ingin tahu
siapa orang pertama yang Tifa maksud. Namun, ia urungkan karena Tifa sudah
lebih dulu mengajaknya kembali. Entah siapa yang dimaksudkan Tifa, tapi Anjani
senang karena keputusannya adalah hal yang paling tepat yang pernah ia lakukan.
ooOoo
Suasana sore itu terasa lebih menyenangkan ketika
Ririn datang menyambanginya. Meski ia terkejut karena Ririn datang bersama
Priyanka, tapi itu tak mengganggu sorenya yang menyenangkan. Ia dan Ririn sudah
berjanji tidak ikut campur dalam masalah Wenda-Priyanka, jadi mereka tetap
menikmati kebersamaaan itu.
“ Papan ini usulnya
Priyanka, tapi muka G-Dragon yang ada di belakangnya itu usulku,” Ririn
terkekeh saat menunjuk wajah rapper
Korea itu.
Andani balas
tersenyum. Ia menunjuk-nunjuk papan magnet itu, seolah-olah meminta izin untuk
membuka bungkusannya.
“ Iya, silakan,”
jawab Priyanka yang langsung mengerti maksud Andani.
Kata pertama yang
ditulis Andani pada papan itu adalah “terima kasih”, lalu ia pamerkan pada
Priyanka dan Ririn.
“ Sama-sama,” jawab
keduanya serentak, disusul tawa renyah dari mereka.
“ Ah ya, tapi aku
kaget loh lihat Jiro-Senpai dan Kak
Adrian ada di sini,” ujar Ririn kemudian.
“ Kalau aku datangnya
sama Tante, tapi tadi dia lagi bicara sama kembarannya cewek ini,” jawab
Adrian. “ Tapi aku gak tahu kenapa tuan samurai ini ada di sini.”
Jiro terkekeh
mendengar dirinya disebut tuan samurai. Di sisi lain Priyanka terlihat bingung
dengan jawaban Adrian. Ia pun berbisik pada Ririn.
“ Memangnya Anjani
ada di sini? Bukanya dia―”
“ Iya, dia memang
pulang,” potong Ririn. “ Ceritanya panjang, tapi alasannya cuma satu, yaitu
Andani.”
Priyanka mengangguk
paham. Ceritanya mungkin akan sangat panjang, tapi kalau sudah menyangkut
Andani, Priyanka tahu rasanya.
Tak lama Anjani dan
Tifa kembali. Gadis itu langsung bertukar sapa dengan kedua temannya yang baru
saja datang. Jiro buru-buru menyorongkan kursi yang duduki kepada Tifa. Ia tak
mau telinganya dijewer untuk yang kedua kalinya. Baru saja Tifa menempelkan
pantatnya di kursi, tiba-tiba Andani memberikan papan magnetnya pada Tifa.
Kening Tifa berkerut saat membaca tulisan yang tertulis di sana.
Tifa menatap Andani
untuk meyakinkan apa yang gadis itu tulis. Andani mengangguk sambil tersenyum.
Tifa menarik napas panjang seraya menatap kembali papan tersebut.
Tifa berdeham, “ Anjani, apa kamu berminat menjadi vokalis utama tim
musik Love Musikal? Kebetulan kami sangat membutuhkan vokalis baru.”
Tak hanya Anjani, tapi semua orang kaget mendengar kata-kata yang
meluncur dari bibir Tifa.
“ Ta—tapi saya tidak, eh, ehem, maksud saya, saya kembali ke sini tidak
bertujuan untuk menjadi vokalis utama.”
“ Jangan terlalu percaya diri dulu. Saya tidak akan langsung menerimamu.
Kamu tetap akan kami audisi lagi.”
“ Tapi saya tidak mengajukan diri untuk ikut audisi Love Musical lagi, Miss.”
“ Sayangnya saya menerima rekomendasi ini. Pokoknya saya tunggu hari
Sabtu sore sebelum latihan malam!” Tifa menyerahkan papan tersebut pada Anjani
seraya berlalu. “ Keponakan, ayo kita pulang!”
Adrian tak langsung mengikuti tantenya pulang, tapi ia memilih untuk
ikut nimbrung membaca papan Andani. Mereka semua terkejut saat melihat tulisan
Andani pada papan itu.
Saya merekomendasikan Anjani
Bramastya untuk menggantikan posisi saya sebagai vokalis utama tim musik Love
Musical.
-Andani Bramastya-
Auhtor's Note:
Papan tulis magnet sih rata-rata kecil. Tulisan yang kita buat pun terkadang jadi acak-kadut. Tapi di sini aku buat seolah-olah papan magnetnya rada gede dan masih bisa ditenteng ke mana-mana. Hanya untuk keperluan cerita....
please comment and share
Tidak ada komentar:
Posting Komentar