Total Tayangan Halaman

Jumat, 12 Agustus 2016

LOVE MUSICAL Extraodinary (Musikal 66)




Musikal 66


“ Jadi apa yang mau kamu sampaikan?”
Andani tak mengeluarkan sepatah kata pun. Ia hanya menyerahkan selembar surat yang berisi hasil pemeriksaannya kemarin. Ia sengaja meminta bertemu dengan Tifa, Glorian, dan Riani sebelum latihan dimulai supaya ia tidak terlalu tegang saat memberitahu kondisinya saat ini.
Tifa membuka surat itu, seketika ia berseru, “ Oh, Tuhaaan!” Tifa melemparkan kertas itu pada Gloria dan segera memeluk Andani. Tangis Andani langsung pecah begitu Tifa merangkulnya.
Riani merasa heran melihat reaksi Gloria yang sama paniknya dengan Tifa. Ia juga tidak mengerti kenapa Andani langsung menangis begitu Tifa memeluknya.
“ Pita suara Andani mengalami pembengkakan,” ujar Gloria yang pada Riani. “Sepertinya ia harus segera dioperasi.”
Riani terhenyak mendengar penjelasan Gloria. Ia mengerti kondisi Andani, tapi seketika itu juga ia langsung memikirkan bagaimana kelangsungan pertunjukkan ini. Tanpa Andani, Love Musical akan berjalan pincang.
“ Sudah, sudah, tidak apa,” Tifa menepuk-nepuk pundak Andani. “ Saat ini kamu fokus saja dengan pengobatanmu.”
“ Benar, Andani. Masalah Love Musical biar kami yang urus,” ujar Riani.
Andani melepaskan pelukannya. Ia mengangguk seraya menghapus air mata.
“ Tidak usah takut! Kamu bukan orang pertama yang melakukan operasi ini,” sahut Gloria. “ Adele, Meghan Trainor, Sam Smith, bahkan Syahrini pun pernah melakukannya. Lihat, sekarang mereka sudah bisa bernyanyi seperti sedia kala.”
Andani mengangguk pelan. Namun, ia sudah bisa sedikit tersenyum.
“ Tapi bagimana pun juga kita harus memberitahu semua anggota,” Tifa menatap Andani. “ Kami akan membantumu. Kamu siap, An?”
Kali ini Andani mengangguk mantap.
ooOoo
Hari ini Andani masih juga absen. Ririn pun mulai merasa cemas. Mungkinkah Andani mengalami penyakit yang kronis hingga ia tidak bisa datang hari itu. Kecemasan Ririn pupus saat melihat Andani hadir di latihan rutin mereka, tapi kenapa wajah gadis itu terlihat sedih.
Semua anggota sudah bersiap untuk melakukan pemanasan, tapi Tifa justru menyuruh mereka duduk membentuk lingkaran. Mereka langsung menurut, meskipun dalam hati mereka bertanya-tanya.
“ Baiklah, semua. Ada berita yang harus saya sampaikan. Mungkin ini bukan berita yang baik, ah, ini memang berita buruk untuk kita semua.”
‘Berita buruk?’ Mata Ririn langsung mengarah pada Andani yang masih tertunduk. Apakah berita ini ada sangkut-pautnya dengan sahabatnya?
“ Kita harus kehilangan satu anggota lagi. Salah satu teman kita dari tim musik harus rehat dari latihan karena ia harus menjalani pengobatan.”
Tak hanya Ririn, tapi semua mata angota kini tertuju pada Andani. Pertanyaan-pertanyaan mengenaik gadis itu semakin menumpuk dalam benak mereka.
  Apa maksud Miss orang itu adalah Andani?” tanya Ririn hati-hati. Mata berpindah-pindah dari Andani menuju Tifa. “ Andani sakit apa, Miss?”
Tifa menarik napas panjang, “ Vocal nodule atau biasa disebut pembengkakan pita suara. Mungkin sekarang Andani masih bisa bernyanyi, tapi kalau dibiarkan itu akan merusak suaranya. Oleh karena itu, dokter mengharuskannya operasi dari sekarang.”
Ririn spontan menutup mulutnya. Hampir saja ia histeris, tapi jika ia melakukannya maka keadaan akan semakin memburuk. Ia bisa melihat Andani berusaha keras agar air matanya tak keluar.
“ Maka dari itu, hari ini adalah hari terakhir Andani ada di sini karena ia harus segera beristirahat supaya penyakitnya tidak bertambah parah,” Tifa melirik Andani, “Andani, ada yang mau kamu sampaikan?”
Andani masih menunduk, ia lalu menarik napas panjang dan menebarkan senyum pada teman-temannya.
“ Terlalu banyak hal yang kita jalani. Walau sebentar, tapi semua itu berkesan di hatiku. Aku mengucapkan terima kasih untuk semua ilmu yang diberikan oleh para pelatih di sini dan terima kasih untuk kenangan indah dari kalian semua. Aku juga mau minta maaf karena aku harus pergi tiba-tiba dan akan menyebabkan masalah besar di sini. Tapi aku selalu berdoa supaya pertunjukkan ini sukses, meski aku tidak bisa bersama kalian di sini.”
Andani terlihat tenang. Senyum di wajahnya menggambarkan betapa tegarnya ia. Ririn baru mengerti kenapa Andani menangis waktu ia kalah di audisi pemeran utama. Itu karena ketika kita melihat kesedihan orang lain justru kitalah yang merasa lebih sedih. Sekarang meski Andani terlihat baik-baik saja, tapi Ririn justru ingin menangis sekeras mungkin.
Tifa mempersilahkan Andani berdiri, kemudian ia berkata, “ Saya rasa hari ini kita tidak bisa latihan. Saya yakin kalian ingin mengucapkan salam perpisahan pada Andani. Silakan pada kalian yang ingin mengucapkan salam perpisahan pada Andani.”
Ririn adalah orang pertama yang berlari memeluk Andani. Ia sudah tidak bisa menahan air matanya. Melihat Ririn menangis, anggota yang lain pun rata-rata tak bisa membendung tangis mereka, terutama anggota tim musik. Meski tak ikut menangis, Alexi ikut memeluk Andani. Bagaimana pun Andani dan Alexi adalah partner tim musik yang paling bisa diandalkan.
“ Ini bahkan belum berakhir, tapi kita sudah berada di bagian yang menyedihkan, “ bisik Riani pada Tifa dan Gloria.
“ Benar, sudah dua kali kita berakhir dengan tangisan seperti ini,” sahut Gloria.
Tifa tak menjawab. Ia hanya menatap kosong pada anggotanya yang sedang mengerumuni Andani. Namun, hatinya menyanggah semua pernyataan Riani maupun Gloria.
‘ Tidak, ini bahkan belum mencapai adegan klimaksnya. Aku rasa ini baru angin kencang saja. Kita baru saja akan menjemput badai yang sebenarnya’
ooOoo
Andani baru saja selesai memasang sepatu dan bersiap pulang. Bersamaan dengan itu ponselnya berdering. Ia pun merogoh ponsel yang ada di saku roknya. Ia hampir tak percaya dengan nama penelepon yang tertera di layar.
‘ Anjani…’
“ Ha—halo, Jane?”
“ Oh, halo, An. Maaf meneleponmu tiba-tiba. Apa kamu sedang latihan?”
“ Ahh, iya, eh, tidak. Sebenarnya Miss Tifa mengurungkan latihan hari ini.”
“ Wah, tumben. Ada apa?”
“ Hmm, yaaa… karena ada salah satu anggota yang mau keluar.”
Eh, siapa?”
Sejenak Andani ragu. Haruskah ia memberitahu saudarinya itu. Akhirnya ia pun memutuskan menjawabnya.
 “ A—aku…”
Kamu? Kenapa kamu mau berhenti?”
Entah kenapa hatinya kembali bergemuruh. Padahal saat di dalam semua teman-temannya mengucapkan salam perpisahan dengan nada sedih bahkan sampai menangis, tapi saat itu ia masih bisa tersenyum. Namun, saat ia harus menjawab pertanyaan pendek dari Anjani, ia tak bisa membendung air matanya. Butuh waktu supaya ia bisa tenang kembali.
An? An? An? Ka—kamu baik-baik aja?”
“ Nggak, Jane,” suara Andani terdengar sesegukan. “ Aku mengalami vocal nodule dan aku harus operasi minggu depan.”

please comment and share

Tidak ada komentar:

Posting Komentar