Musikal 66
“ Jadi apa yang mau kamu sampaikan?”
Andani tak
mengeluarkan sepatah kata pun. Ia hanya menyerahkan selembar surat yang berisi
hasil pemeriksaannya kemarin. Ia sengaja meminta bertemu dengan Tifa, Glorian,
dan Riani sebelum latihan dimulai supaya ia tidak terlalu tegang saat
memberitahu kondisinya saat ini.
Tifa membuka surat
itu, seketika ia berseru, “ Oh, Tuhaaan!” Tifa melemparkan kertas itu pada
Gloria dan segera memeluk Andani. Tangis Andani langsung pecah begitu Tifa
merangkulnya.
Riani merasa heran
melihat reaksi Gloria yang sama paniknya dengan Tifa. Ia juga tidak mengerti
kenapa Andani langsung menangis begitu Tifa memeluknya.
“ Pita suara Andani
mengalami pembengkakan,” ujar Gloria yang pada Riani. “Sepertinya ia harus
segera dioperasi.”
Riani terhenyak
mendengar penjelasan Gloria. Ia mengerti kondisi Andani, tapi seketika itu juga
ia langsung memikirkan bagaimana kelangsungan pertunjukkan ini. Tanpa Andani, Love Musical akan berjalan pincang.
“ Sudah, sudah, tidak
apa,” Tifa menepuk-nepuk pundak Andani. “ Saat ini kamu fokus saja dengan
pengobatanmu.”
“ Benar, Andani.
Masalah Love Musical biar kami yang
urus,” ujar Riani.
Andani melepaskan
pelukannya. Ia mengangguk seraya menghapus air mata.
“ Tidak usah takut!
Kamu bukan orang pertama yang melakukan operasi ini,” sahut Gloria. “ Adele,
Meghan Trainor, Sam Smith, bahkan Syahrini pun pernah melakukannya. Lihat,
sekarang mereka sudah bisa bernyanyi seperti sedia kala.”
Andani mengangguk
pelan. Namun, ia sudah bisa sedikit tersenyum.
“ Tapi bagimana pun
juga kita harus memberitahu semua anggota,” Tifa menatap Andani. “ Kami akan
membantumu. Kamu siap, An?”
Kali ini Andani
mengangguk mantap.
ooOoo
Hari ini Andani masih juga absen. Ririn pun mulai
merasa cemas. Mungkinkah Andani mengalami penyakit yang kronis hingga ia tidak
bisa datang hari itu. Kecemasan Ririn pupus saat melihat Andani hadir di
latihan rutin mereka, tapi kenapa wajah gadis itu terlihat sedih.
Semua anggota sudah
bersiap untuk melakukan pemanasan, tapi Tifa justru menyuruh mereka duduk
membentuk lingkaran. Mereka langsung menurut, meskipun dalam hati mereka
bertanya-tanya.
“ Baiklah, semua. Ada
berita yang harus saya sampaikan. Mungkin ini bukan berita yang baik, ah, ini
memang berita buruk untuk kita semua.”
‘Berita buruk?’
Mata Ririn langsung mengarah pada Andani yang masih tertunduk. Apakah berita
ini ada sangkut-pautnya dengan sahabatnya?
“ Kita harus kehilangan
satu anggota lagi. Salah satu teman kita dari tim musik harus rehat dari
latihan karena ia harus menjalani pengobatan.”
Tak hanya Ririn, tapi
semua mata angota kini tertuju pada Andani. Pertanyaan-pertanyaan mengenaik
gadis itu semakin menumpuk dalam benak mereka.
“ Apa maksud Miss orang itu adalah Andani?” tanya Ririn hati-hati. Mata
berpindah-pindah dari Andani menuju Tifa. “ Andani sakit apa, Miss?”
Tifa menarik napas
panjang, “ Vocal nodule atau biasa
disebut pembengkakan pita suara. Mungkin sekarang Andani masih bisa bernyanyi,
tapi kalau dibiarkan itu akan merusak suaranya. Oleh karena itu, dokter
mengharuskannya operasi dari sekarang.”
Ririn spontan menutup
mulutnya. Hampir saja ia histeris, tapi jika ia melakukannya maka keadaan akan
semakin memburuk. Ia bisa melihat Andani berusaha keras agar air matanya tak
keluar.
“ Maka dari itu, hari
ini adalah hari terakhir Andani ada di sini karena ia harus segera beristirahat
supaya penyakitnya tidak bertambah parah,” Tifa melirik Andani, “Andani, ada
yang mau kamu sampaikan?”
Andani masih
menunduk, ia lalu menarik napas panjang dan menebarkan senyum pada
teman-temannya.
“ Terlalu banyak hal
yang kita jalani. Walau sebentar, tapi semua itu berkesan di hatiku. Aku
mengucapkan terima kasih untuk semua ilmu yang diberikan oleh para pelatih di
sini dan terima kasih untuk kenangan indah dari kalian semua. Aku juga mau
minta maaf karena aku harus pergi tiba-tiba dan akan menyebabkan masalah besar
di sini. Tapi aku selalu berdoa supaya pertunjukkan ini sukses, meski aku tidak
bisa bersama kalian di sini.”
Andani terlihat
tenang. Senyum di wajahnya menggambarkan betapa tegarnya ia. Ririn baru
mengerti kenapa Andani menangis waktu ia kalah di audisi pemeran utama. Itu
karena ketika kita melihat kesedihan orang lain justru kitalah yang merasa
lebih sedih. Sekarang meski Andani terlihat baik-baik saja, tapi Ririn justru
ingin menangis sekeras mungkin.
Tifa mempersilahkan
Andani berdiri, kemudian ia berkata, “ Saya rasa hari ini kita tidak bisa
latihan. Saya yakin kalian ingin mengucapkan salam perpisahan pada Andani. Silakan
pada kalian yang ingin mengucapkan salam perpisahan pada Andani.”
Ririn adalah orang
pertama yang berlari memeluk Andani. Ia sudah tidak bisa menahan air matanya.
Melihat Ririn menangis, anggota yang lain pun rata-rata tak bisa membendung
tangis mereka, terutama anggota tim musik. Meski tak ikut menangis, Alexi ikut
memeluk Andani. Bagaimana pun Andani dan Alexi adalah partner tim musik yang
paling bisa diandalkan.
“ Ini bahkan belum
berakhir, tapi kita sudah berada di bagian yang menyedihkan, “ bisik Riani pada
Tifa dan Gloria.
“ Benar, sudah dua
kali kita berakhir dengan tangisan seperti ini,” sahut Gloria.
Tifa tak menjawab. Ia
hanya menatap kosong pada anggotanya yang sedang mengerumuni Andani. Namun,
hatinya menyanggah semua pernyataan Riani maupun Gloria.
‘ Tidak, ini bahkan belum mencapai adegan klimaksnya.
Aku rasa ini baru angin kencang saja. Kita baru saja akan menjemput badai yang
sebenarnya’
ooOoo
Andani baru saja selesai memasang sepatu dan bersiap
pulang. Bersamaan dengan itu ponselnya berdering. Ia pun merogoh ponsel yang
ada di saku roknya. Ia hampir tak percaya dengan nama penelepon yang tertera di
layar.
‘ Anjani…’
“ Ha—halo, Jane?”
“ Oh, halo, An. Maaf meneleponmu tiba-tiba. Apa kamu
sedang latihan?”
“ Ahh, iya, eh,
tidak. Sebenarnya Miss Tifa
mengurungkan latihan hari ini.”
“ Wah, tumben. Ada apa?”
“ Hmm, yaaa… karena
ada salah satu anggota yang mau keluar.”
“ Eh, siapa?”
Sejenak Andani ragu.
Haruskah ia memberitahu saudarinya itu. Akhirnya ia pun memutuskan menjawabnya.
“ A—aku…”
“ Kamu? Kenapa kamu mau berhenti?”
Entah kenapa hatinya
kembali bergemuruh. Padahal saat di dalam semua teman-temannya mengucapkan
salam perpisahan dengan nada sedih bahkan sampai menangis, tapi saat itu ia
masih bisa tersenyum. Namun, saat ia harus menjawab pertanyaan pendek dari
Anjani, ia tak bisa membendung air matanya. Butuh waktu supaya ia bisa tenang
kembali.
“ An? An? An? Ka—kamu baik-baik aja?”
“ Nggak, Jane,” suara
Andani terdengar sesegukan. “ Aku mengalami vocal
nodule dan aku harus operasi minggu depan.”
please comment and share
Tidak ada komentar:
Posting Komentar