Musikal 73
Suasana Sabtu sore ini terasa sangat menegangkan bagi
Anjani. Wajar saja bila ia merasa tegang karena ia akan audisi sendirian
sementara jurinya berjumlah lebih dari sepuluh orang.
“ Tif, mau dimulai
jam berapa? Nanti keburu sore. Anak-anak’kan mau menginap,” keluh Riani yang
daritadi terus melirik arlojinya.
“ Sabaaar, kita masih
menunggu juri spesial,” sahut Tifa.
Jantung Anjani
berdegup lebih kencang saat Tifa menyebutkan juri spesial. Anjani merasa Tifa
sedikit keterlaluan. Masa juri sudah sebanyak ini, tapi masih mau menambah
pula. Ini sih bukan sedikit, tapi sangat keterlaluan.
Tak lama mobil milik
Tifa tiba. Adrian keluar dari mobil itu. Ia lebih dulu membuka bagasi,
mengambil sesuatu yang terlihat berat, kemudian baru membukakan pintu
penumpang. Ia masuk seraya mendorong kursi roda.
Tunggu! Kursi roda?
Mata Anjani terbelalak saat melihat sosok Andani duduk anggun di kursi itu.
Anjani segera menghampiri saudarinya. Sepertinya Andani sudah menyiapkan
jawaban dari pertanyaan yang akan ditanyakan saudarinya. Ia pun mengeluarkan
sebuah kertas HVS dan menunjukkannya pada Anjani.
‘ Aku juga bagian tim musik. Aku
jurimu hari ini’
Andani mengganti kertasnya.
‘ Persiapkan dirimu dan jangan
permalukan aku!’
Anjani baru saja akan membuka mulut. Namun, Andani lebih dulu memberi
kode pada Adrian supaya mendorong kursi rodanya. Ia seolah tak mau
diinterograsi oleh saudarinya sendiri.
“ Selamat datang,” sapa Tifa saat Adrian memarkirkan kursi roda Andani
dekat tempat duduk Tifa. Sang sutradara pun langsung memberikan pengumuman
singkat pada semua anggota LM. “ Nah, gadis ini akan menjadi juri istimewa kita
pada hari ini. Berhubung audisi ini adalah mencari pengganti dirinya, maka dia
harus menjadi jurinya sendiri. Satu suara Andani bernilai setengah dari semua
suara yang ada di sini. Sudah paham sekarang?”
Meski terdengar janggal, tapi tak ada satu pun yang protes. Ini bukan
kali pertama Tifa memberikan syarat atau aturan yang aneh-aneh.
“ Untuk menghemat waktu, kita mulai sekarang audisnya!” Tifa menatap Anjani
yang masih terpaku di depan pintu masuk. “ Anjani, apa kamu siap?”
Lamunan Anjani terpecah. Ia mengangguk cepat dan memberi kode pada Hiro
yang masih berkumpul dengan anak-anak dari tim musik. Mereka kembali terkejut
saat Hiro menjadi pendamping Anjani audisi. Terlebih Hiro tak menggunakan
violin kesayangannya, tapi menggunakan piano yang baru saja tiba hari itu.
Wenda, Kemal, dan Ben memandang cemas pada Anjani yang sedang bersiap di
atas panggung. Suara Andani dihargai setengah dari seluruh voting yang ada. Itu
artinya hasil audisi ini sangat bergantung pada keputusan Andani. Jika Anjani
dari dulu bersikap baik pada saudarinya ada kemungkinan Andani memberikan nilai
bagus padanya. Sayang, Anjani baru berubah akhir-akhir ini. Ketiga sahabat ini
hanya berharap kalau Andani tak menggunakan rasa dendam untuk memberikan
penilaian pada saudarinya.
Anjani memberi kode pada Hiro yang bersiap di balik piano. Hiro pun
menekan lembut tuts yang ada di hadapannya.
Ave Maria gratia piena
Seketika semua orang yang ada di ruangan itu menahan napas. Anjani
memang memiliki suara yang indah, tapi ia tak pernah bernyayi seperti saat ini.
Kecuali Andani, ia tahu kalau lagu ‘Ave Maria’ adalah lagu mereka saat
kanak-kanak. Ia melemparkan senyuman sinis. Andai ia harus puasa bicara akibat
operasi sialan itu, ia bisa saja menampilkan soprano yang sesungguhnya. Namun,
bukan itu arti dari senyuman Andani. Ia tersenyum karena akhirnya bisa membuat
saudarinya membuktikan pada semua orang bahwa suara kontralto bisa membawakan
lagu opera.
Ibarat stand up comedy, bagian
akhir selalu ditutup dengan punchline
yang membuat semua penonton tertawa terbahak-bahak. Begitu pula penampilan
Anjani. Gadis itu memberikan punchline
berupa lengkingan tinggi yang membuat bulu kuduk bergidik.
“ I—itu suara Anjani?” bisik Ben seraya memegangi tengkuknya.
“ Entahlah,” sahut Wenda dengan bahu bergetar. “ Tapi dia berhasil
membuatku merinding.”
Kemal tak menyahut, tapi ia sama merindingnya dengan kedua sahabatnya.
Meski mereka mendeklarasikan bahwa mereka adalah orang-orang kepercayaan
Anjani, tapi mereka tetap tidak percaya kalau suara yang mereka dengar adalah
suara Anjani.
“ Ehem, baiklah, untuk semua juri mari kita lakukan voting!” suara Tifa memecah semua orang yang tertegun saat itu. “
Silakan angkat tangan bagi yang setuju Anjani bergabung dengan kita!”
Tampaknya ‘Ave Maria’ yang
dibawakan Anjani memberikan keberuntungan padanya. Semua anggota tim musik
mengangkat tangannya, termasuk Riani dan Gloria. Namun, masih ada dua orang
yang belum mengangkat tangannya. Mereka adalah Tifa dan Andani.
“ Suaraku menyusul setelah Andani,” Tifa tersenyum pada Andani. “ Jadi,
apa keputusanmu, Nak?”
Andani memasang ekspresi yang sulit ditebak. Kemudian dia menuliskan
sesuatu pada papan magnenya, lalu menunjukkan pada Tifa.
LULUS
Tifa tersenyum lebar, “ Baiklah, kalau begitu. Anjani dinyatakan lulus
audisi vokalis utama tim musik Love
Musical!”
Anjani masih terbengong di tempat sampai Hiro menyadarkannya dan memberi
selamat. Ia benar-benar sadar ketika melihat papan magnet Andani ditunjukkan
padanya. Tak ada euphoria penuh semangat, hanya seulas senyuman lega terpancar
di wajahnya.
“ Waah, gila! Suaramu buat aku merinding, Jane!” seru Wenda seraya
menghambur ke pelukan Anjani.
“ Selamat, Jane! Kita senang kamu bisa kembali,” sahut Kemal. Ia dan Ben
ikut merangkul Anjani.
Anjani melepas pelukan teman-temannya saat Tifa menghampirinya. Ia
tersenyum kaku saat Tifa menyalaminya.
“ Welcome back, Anjani. Senang
kamu bisa kembali bersama kami.”
“ Iya, Miss. Terima kasih.”
Tifa mengangkat bahu, “ Yah, seperti yang kamu lihat. Membawa Andani ke
sini adalah perbuatan yang illegal. Jadi, sebisa mungkin aku harus
mengembalikannya ke rumah sakit tanpa ketahuan.”
Anjani melirik Andani yang sedang bercengkrama dengan Ririn.
“ Satu hal lagi, malam ini kamu langsung latihan malam. Jadi, kamu boleh
ikut mengantar Andani, setelah itu bawalah barang-barang untuk menginap!”
Anjani tersentak, “ Eh, Miss?
Tapi saya belum siap!”
“ Tak ada yang boleh bilang tak siap!” kening Tifa berkerut. “ Cepat,
pergilah!”
Mau tak mau Anjani beringsut mengikuti Adrian yang sudah mendorong kursi
roda Andani ke mobil Tifa. Ia membantu saudarinya untuk masuk ke dalam mobil
tanpa berkomentar apa-apa.
“ Kenapa? Tanteku memaksamu untuk melakukan perbuatan yang di luar
ekspetasimu, ya?”
Anjani mengangguk seraya mendesah berat. Adrian terkekeh melihat
ekspresi Anjani yang terlihat lesu.
“ Sabar ya. Begitulah kalau kita berhadapan dengan orang sinting, yang
waras harus ngalah.”
Anjani tak menyahut. Ia terkejut saat sebuah papan magnet menyentuh
bahunya. Ia menoleh ke belakang dan mendapati Andani tersenyum padanya.
Ini latihan malam pertamamu,
bukan? Asal kamu tahu latihan malam lebih berat loh. Bersiaplah!
Anjani tersenyum sinis, lalu mengembalikan papan itu pada Andani. Gadis
itu masih membisu seribu kata sampai Adrian mengantarkan mereka kembali ke
rumah sakit.
“ Boleh aku saja yang mendorongnya?” akhirnya Anjani membuka suaranya
setelah sekian lama.
Adrian mengangguk dan memberikan posisinya pada gadis itu. Ia tetap
mengiringi kedua gadis itu sampai ke bangsal.
“ Apa kamu memilihku karena aku saudarimu?”
Andani mendongak, lalu mencoretkan sesuatu pada papan magnetnya.
Tidak! Aku memilihmu karena
memang ‘Ave Maria’ yang kamu bawakan memang sempurna.
Setelah menunjukkannya pada Anjani, Andani segera menghapus dan menulis
kembali.
Eula Beal’ kan? Aku sudah tahu
saat pertama kali kamu bernyanyi tadi.
Anjani kembali tertawa sinis, “ Wah, ketahuan ya aku copas siapa.”
Percakapan mereka terputus saat mereka sampai di kamar inap Andani.
Anjani beserta Adrian membantu Andani kembali ke tempat tidurnya.
“ Aku tidak akan mengecewakanmu. Aku akan rajin berlatih lagi, supaya
orang-orang tidak menganggap aku diterima karena aku adalah saudarimu.”
Andani tersenyum, lalu kembali menuliskan sesuatu.
Aku percaya. Itulah yang
membuatku memilihmu. Semangat, Kak!
Anjani tersenyum manis, tapi senyumnya langsung memudar saat membaca
kalimat terakhir yang dituliskan Andani.
“ Kakak? Bukannya kamu lahir tiga menit lebih awal daripada aku?
Seharusnya kamu yang jadi kakak.”
Andani meraih ponselnya. Sepertinya ia menuliskan sesuatu yang cukup
panjang sehingga tak cukup bila dituliskan pada papan magnetnya.
Menurut pendapat sebagian orang,
anak kembar yang lahirnya belakangan akan menjadi kakaknya. Itu karena dia
lebih bersabar dan mendahulukan saudaranya untuk melihat dunia. Seorang kakak
memang harus mengalah kepada adiknya, bukan?
Anjani terkekeh seraya mengacak-acak puncak kepala saudarinya.
“ Ada-ada aja kamu. Ya sudah, istirahatlah! Aku pergi dulu.”
“ Persaudaraan yang manis,” komentar Adrian saat mereka sudah keluar
dari bangsal. “ Aku jadi kepingin punya adik-adik seperti kalian.”
Anjani tersenyum sinis, “ Wah, maaf deh. Aku baru saja menikmati peranku
sebagai kakak.”
please comment and share
weh gila si tifa pasien main culik aja wkwkw
BalasHapuslebih gila dr kejadian tak terduga di drama korea wkwkw
kali ini kiblatnya dorama Jepang, hehehe
Hapusmaka unexpetable