Total Tayangan Halaman

Jumat, 02 September 2016

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 73)



Musikal 73

Suasana Sabtu sore ini terasa sangat menegangkan bagi Anjani. Wajar saja bila ia merasa tegang karena ia akan audisi sendirian sementara jurinya berjumlah lebih dari sepuluh orang.
“ Tif, mau dimulai jam berapa? Nanti keburu sore. Anak-anak’kan mau menginap,” keluh Riani yang daritadi terus melirik arlojinya.
“ Sabaaar, kita masih menunggu juri spesial,” sahut Tifa.
Jantung Anjani berdegup lebih kencang saat Tifa menyebutkan juri spesial. Anjani merasa Tifa sedikit keterlaluan. Masa juri sudah sebanyak ini, tapi masih mau menambah pula. Ini sih bukan sedikit, tapi sangat keterlaluan.
Tak lama mobil milik Tifa tiba. Adrian keluar dari mobil itu. Ia lebih dulu membuka bagasi, mengambil sesuatu yang terlihat berat, kemudian baru membukakan pintu penumpang. Ia masuk seraya mendorong kursi roda.
Tunggu! Kursi roda? Mata Anjani terbelalak saat melihat sosok Andani duduk anggun di kursi itu. Anjani segera menghampiri saudarinya. Sepertinya Andani sudah menyiapkan jawaban dari pertanyaan yang akan ditanyakan saudarinya. Ia pun mengeluarkan sebuah kertas HVS dan menunjukkannya pada Anjani.
‘ Aku juga bagian tim musik. Aku jurimu hari ini’
Andani mengganti kertasnya.
‘ Persiapkan dirimu dan jangan permalukan aku!’
Anjani baru saja akan membuka mulut. Namun, Andani lebih dulu memberi kode pada Adrian supaya mendorong kursi rodanya. Ia seolah tak mau diinterograsi oleh saudarinya sendiri.
“ Selamat datang,” sapa Tifa saat Adrian memarkirkan kursi roda Andani dekat tempat duduk Tifa. Sang sutradara pun langsung memberikan pengumuman singkat pada semua anggota LM. “ Nah, gadis ini akan menjadi juri istimewa kita pada hari ini. Berhubung audisi ini adalah mencari pengganti dirinya, maka dia harus menjadi jurinya sendiri. Satu suara Andani bernilai setengah dari semua suara yang ada di sini. Sudah paham sekarang?”
Meski terdengar janggal, tapi tak ada satu pun yang protes. Ini bukan kali pertama Tifa memberikan syarat atau aturan yang aneh-aneh.
“ Untuk menghemat waktu, kita mulai sekarang audisnya!” Tifa menatap Anjani yang masih terpaku di depan pintu masuk. “ Anjani, apa kamu siap?”
Lamunan Anjani terpecah. Ia mengangguk cepat dan memberi kode pada Hiro yang masih berkumpul dengan anak-anak dari tim musik. Mereka kembali terkejut saat Hiro menjadi pendamping Anjani audisi. Terlebih Hiro tak menggunakan violin kesayangannya, tapi menggunakan piano yang baru saja tiba hari itu.
Wenda, Kemal, dan Ben memandang cemas pada Anjani yang sedang bersiap di atas panggung. Suara Andani dihargai setengah dari seluruh voting yang ada. Itu artinya hasil audisi ini sangat bergantung pada keputusan Andani. Jika Anjani dari dulu bersikap baik pada saudarinya ada kemungkinan Andani memberikan nilai bagus padanya. Sayang, Anjani baru berubah akhir-akhir ini. Ketiga sahabat ini hanya berharap kalau Andani tak menggunakan rasa dendam untuk memberikan penilaian pada saudarinya.
Anjani memberi kode pada Hiro yang bersiap di balik piano. Hiro pun menekan lembut tuts yang ada di hadapannya.
Ave Maria gratia piena
Seketika semua orang yang ada di ruangan itu menahan napas. Anjani memang memiliki suara yang indah, tapi ia tak pernah bernyayi seperti saat ini. Kecuali Andani, ia tahu kalau lagu ‘Ave Maria’ adalah lagu mereka saat kanak-kanak. Ia melemparkan senyuman sinis. Andai ia harus puasa bicara akibat operasi sialan itu, ia bisa saja menampilkan soprano yang sesungguhnya. Namun, bukan itu arti dari senyuman Andani. Ia tersenyum karena akhirnya bisa membuat saudarinya membuktikan pada semua orang bahwa suara kontralto bisa membawakan lagu opera.
Ibarat stand up comedy, bagian akhir selalu ditutup dengan punchline yang membuat semua penonton tertawa terbahak-bahak. Begitu pula penampilan Anjani. Gadis itu memberikan punchline berupa lengkingan tinggi yang membuat bulu kuduk bergidik.
“ I—itu suara Anjani?” bisik Ben seraya memegangi tengkuknya.
“ Entahlah,” sahut Wenda dengan bahu bergetar. “ Tapi dia berhasil membuatku merinding.”
Kemal tak menyahut, tapi ia sama merindingnya dengan kedua sahabatnya. Meski mereka mendeklarasikan bahwa mereka adalah orang-orang kepercayaan Anjani, tapi mereka tetap tidak percaya kalau suara yang mereka dengar adalah suara Anjani.
“ Ehem, baiklah, untuk semua juri mari kita lakukan voting!” suara Tifa memecah semua orang yang tertegun saat itu. “ Silakan angkat tangan bagi yang setuju Anjani bergabung dengan kita!”
Tampaknya ‘Ave Maria’  yang dibawakan Anjani memberikan keberuntungan padanya. Semua anggota tim musik mengangkat tangannya, termasuk Riani dan Gloria. Namun, masih ada dua orang yang belum mengangkat tangannya. Mereka adalah Tifa dan Andani.
“ Suaraku menyusul setelah Andani,” Tifa tersenyum pada Andani. “ Jadi, apa keputusanmu, Nak?”
Andani memasang ekspresi yang sulit ditebak. Kemudian dia menuliskan sesuatu pada papan magnenya, lalu menunjukkan pada Tifa.
LULUS
Tifa tersenyum lebar, “ Baiklah, kalau begitu. Anjani dinyatakan lulus audisi vokalis utama tim musik Love Musical!”
Anjani masih terbengong di tempat sampai Hiro menyadarkannya dan memberi selamat. Ia benar-benar sadar ketika melihat papan magnet Andani ditunjukkan padanya. Tak ada euphoria penuh semangat, hanya seulas senyuman lega terpancar di wajahnya.
“ Waah, gila! Suaramu buat aku merinding, Jane!” seru Wenda seraya menghambur ke pelukan Anjani.
“ Selamat, Jane! Kita senang kamu bisa kembali,” sahut Kemal. Ia dan Ben ikut merangkul Anjani.
Anjani melepas pelukan teman-temannya saat Tifa menghampirinya. Ia tersenyum kaku saat Tifa menyalaminya.
Welcome back, Anjani. Senang kamu bisa kembali bersama kami.”
“ Iya, Miss. Terima kasih.”
Tifa mengangkat bahu, “ Yah, seperti yang kamu lihat. Membawa Andani ke sini adalah perbuatan yang illegal. Jadi, sebisa mungkin aku harus mengembalikannya ke rumah sakit tanpa ketahuan.”
Anjani melirik Andani yang sedang bercengkrama dengan Ririn.
“ Satu hal lagi, malam ini kamu langsung latihan malam. Jadi, kamu boleh ikut mengantar Andani, setelah itu bawalah barang-barang untuk menginap!”
Anjani tersentak, “ Eh, Miss? Tapi saya belum siap!”
“ Tak ada yang boleh bilang tak siap!” kening Tifa berkerut. “ Cepat, pergilah!”
Mau tak mau Anjani beringsut mengikuti Adrian yang sudah mendorong kursi roda Andani ke mobil Tifa. Ia membantu saudarinya untuk masuk ke dalam mobil tanpa berkomentar apa-apa.
“ Kenapa? Tanteku memaksamu untuk melakukan perbuatan yang di luar ekspetasimu, ya?”
Anjani mengangguk seraya mendesah berat. Adrian terkekeh melihat ekspresi Anjani yang terlihat lesu.
“ Sabar ya. Begitulah kalau kita berhadapan dengan orang sinting, yang waras harus ngalah.”
Anjani tak menyahut. Ia terkejut saat sebuah papan magnet menyentuh bahunya. Ia menoleh ke belakang dan mendapati Andani tersenyum padanya.
Ini latihan malam pertamamu, bukan? Asal kamu tahu latihan malam lebih berat loh. Bersiaplah!
Anjani tersenyum sinis, lalu mengembalikan papan itu pada Andani. Gadis itu masih membisu seribu kata sampai Adrian mengantarkan mereka kembali ke rumah sakit.
“ Boleh aku saja yang mendorongnya?” akhirnya Anjani membuka suaranya setelah sekian lama.
Adrian mengangguk dan memberikan posisinya pada gadis itu. Ia tetap mengiringi kedua gadis itu sampai ke bangsal.
“ Apa kamu memilihku karena aku saudarimu?”
Andani mendongak, lalu mencoretkan sesuatu pada papan magnetnya.
Tidak! Aku memilihmu karena memang ‘Ave Maria’ yang kamu bawakan memang sempurna.
Setelah menunjukkannya pada Anjani, Andani segera menghapus dan menulis kembali.
Eula Beal’ kan? Aku sudah tahu saat pertama kali kamu bernyanyi tadi.
Anjani kembali tertawa sinis, “ Wah, ketahuan ya aku copas siapa.”
Percakapan mereka terputus saat mereka sampai di kamar inap Andani. Anjani beserta Adrian membantu Andani kembali ke tempat tidurnya.
“ Aku tidak akan mengecewakanmu. Aku akan rajin berlatih lagi, supaya orang-orang tidak menganggap aku diterima karena aku adalah saudarimu.”
Andani tersenyum, lalu kembali menuliskan sesuatu.
Aku percaya. Itulah yang membuatku memilihmu. Semangat, Kak!
Anjani tersenyum manis, tapi senyumnya langsung memudar saat membaca kalimat terakhir  yang dituliskan Andani.
“ Kakak? Bukannya kamu lahir tiga menit lebih awal daripada aku? Seharusnya kamu yang jadi kakak.”
Andani meraih ponselnya. Sepertinya ia menuliskan sesuatu yang cukup panjang sehingga tak cukup bila dituliskan pada papan magnetnya.
Menurut pendapat sebagian orang, anak kembar yang lahirnya belakangan akan menjadi kakaknya. Itu karena dia lebih bersabar dan mendahulukan saudaranya untuk melihat dunia. Seorang kakak memang harus mengalah kepada adiknya, bukan?
Anjani terkekeh seraya mengacak-acak puncak kepala saudarinya.
“ Ada-ada aja kamu. Ya sudah, istirahatlah! Aku pergi dulu.”
“ Persaudaraan yang manis,” komentar Adrian saat mereka sudah keluar dari bangsal. “ Aku jadi kepingin punya adik-adik seperti kalian.”
Anjani tersenyum sinis, “ Wah, maaf deh. Aku baru saja menikmati peranku sebagai kakak.”

please comment and share

2 komentar:

  1. weh gila si tifa pasien main culik aja wkwkw
    lebih gila dr kejadian tak terduga di drama korea wkwkw

    BalasHapus
    Balasan
    1. kali ini kiblatnya dorama Jepang, hehehe
      maka unexpetable

      Hapus