Total Tayangan Halaman

Jumat, 09 September 2016

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 76)




Musikal 76

Dave menghela napas berat. Tangan-tangannya menyisir rambut ke belakang. Rasa lelah merayapi seluruh tubuhnya. Ia teringat kata-kata sang sutradara sebelum kepergiannya. Apa yang dipesankan Tifa tempo hari memang benar.
Akting keponakannya memang benar-benar payah.
Latihan hari ini tidak banyak membuahkan hasil. Dave memfokuskan latihan pada Ririn. Entah kenapa sulit sekali mengarahkan Ririn untuk mendapatkan hasil yang sempurna. Bukan berarti keponakannya itu bebal dan tidak berusaha, tetapi gadis itu kesulitan mendalami perannya.
Hari sudah mulai gelap. Sesi latihan pun diakhiri. Setelah berkumpul untuk evaluasi, mereka semua pulang ke rumah masing-masing. Sejak pamannya menjadi instruktur, Ririn tidak kesulitan untuk pulang meski latihan sedikit larut. Sang paman dengan senang hati menyediakan kursi penumpang di mobilnya.
“ Om kewalahan denganmu, Rin,” ujar Dave seraya mengganti persneling. “ Kamu gak bisa akting atau gimana sih?”
Ririn membanting pelan kepalanya ke sandaran jok. Ia menarik napas panjang dengan mata terpejam.
“ Tifa bisa mengamuk kalau menghadapi aktingmu itu, Rin.”
“ Yeaah, she did.
“ Kamu pasti langsung syok waktu itu,” Dave terkekeh. “ Mumpung sekarang Om yang pegang kendali, katakan apa yang membuatmu kesulitan berada di atas panggung?”
“ Aku juga gak ngerti, Om,” Ririn melempar pandangannya keluar jendela. “ Aku sudah berlatih mati-matian supaya tampil maksimal, tapi tetap saja aku selalu jauh dari kata bagus.”
Dave mengetuk-ngetukkan jari manisnya pada stir, “ Menurut Om, kamu ekspresimu terlalu datar untuk seorang wanita yang tunangannya direbut oleh orang lain. Apa lagi orang itu memiliki derajat yang lebih rendah darimu. Kamu mengerti maksud Om?”
“ Seseorang juga pernah mengatakan hal itu padaku, Om.”
“ Siapa?” Dave melirik keponakannya yang sedang memangku kepalanya dengan tangan kiri.
“ Bu Riani.”
Kepala Dave terangguk-angguk saat mendengar nama itu. Untunglah seseorang sudah mengingatkan gadis itu lebih dulu. Sayangnya, keponakannya itu tampak belum mengerti apa yang dimaksudkan.
“ Kamu pernah mencemburui seseorang, Rin? Lawan jenis maksud Om.”
Cemburu? Entahlah, Ririn tak pernah mencemburui sesuatu. Ia tak pernah cemburu pada adiknya, temannya, atau siapa pun. Mungkin ia pernah iri pada seseorang, tetapi tak pernah sampai disimpan dalam hati. Ia bukan tipikal orang yang berambisi meraih sesuatu.
“ Itulah masalahmu, Rin,” sahut Dave ketika melihat respon Ririn yang hanya diam. “ Mungkin kamu gak pernah punya pengalaman cemburu pada lawan jenis. Kamu terlalu lugu, polos. Om tahu, kalau kamu belum pernah jatuh cinta yang sebenarnya.”
Ririn melirik Oom-nya dengan kesal, “ Kayak Om dulu pernah aja.”
“ Woaah, seumur kamu Om udah pacaran kali,” Dave terkekeh. “ Om malah heran sama kamu. Seumur gini, di zaman yang seperti ini, kamu malah terlambat jatuh cinta. Terdengar seperti hal yang mustahil. Hidup kamu terlalu lurus, Rin.”
Bilang aja aku cupu,’ keluh Ririn dalam hati. Yah, memang benar, sampai saat ini ia belum pernah merasakan apa itu pacaran, bahkan Andani yang selalu bersamanya sudah pernah merasakan pengalaman itu. Kata-kata sang paman baru saja menyadarkannya. Kenapa 15 tahun hidupnya ia tak pernah memikirkan hal-hal yang demikian. Mungkin di saat semua orang sibuk flirting dengan lawan jenis, ia malah sibuk dengan eskul klub Koran. Di saat semua orang sibuk berbalas pesan dengan pasangannya, ia justru sibuk dengan tumpukan novel sastra klasik.
Oom-nya benar, hidupnya terlalu lurus, terlalu polos.
“ Om rasa kamu harus merasakan jatuh cinta, Rin. Dengan begitu kamu akan tahu rasanya cemburu, berdebar-debar, dan juga kehilangan.”
Bicara memang gampang, tapi praktiknya bagaimana? Ririn mengeluh dalam hati. Memangnya semudah itu jatuh cinta? Dan dengan siapa ia harus jatuh cinta? Mana mungkin ia jatuh cinta pada tukang sol sepatu yang sering lewat di depan rumahnya, bukan?
ooOoo
Rasanya baru kemarin Ririn latihan dan sekarang ia harus latihan kembali. Meski dikelang satu hari, tapi satu hari itu benar-benar tidak terasa. Ririn masih malas kalau harus mendapat teguran lagi dari Dave, Tifa, atau siapa pun yang tidak merasa puas dengan aktingnya. Bel pulang berbunyi, Ririn menyeret langkahnya dengan berat.
“ Kamu terlihat seperti orang yang dehidrasi berkepanjangan.”
Ririn mendongak dan mendapati Alexi sedang membingkai wajahnya dengan telunjuk dan ibu jari kedua tangannya. Saat ini Ririn benar-benar tak berminat untuk menyapa balik laki-laki ini. Apalagi saat melihat Wenda yang mengamati mereka dari jauh. Ia jadi teringat dengan percakapan dengan gadis itu di warung mie ayam.
‘ Aku malah suka Alexi.’
‘ Bantuin aku supaya lebih dekat dengan Alexi.’
Suara itu seperti berdengung-dengung di kepalanya. Alasan kedua ini terlalu kuat untuk memaksa Ririn mengabaikan si kacamata.
“ Heei, kamu kok anggurin aku sih?” Alexi mencoba menyamai langkah Ririn yang mendahuluinya. “ Ah, apa karena aku belum menepati janjiku padamu?”
Kata-kata terakhir Alexi berhasil menyita perhatiannya, “ Janji apa?”
“ Lagu yang penuh semangat,” Alexi memainkan jari-jarinya seolah berada di atas tuts piano. “ Kamu mau request lagu apa? Klasik, pop, rock, jazz, atau―”
“ Terserah kamu aja deh,” Ririn melengos melewati Alexi.
Alexi melongok. Baru kali ini ia diacuhkan oleh gadis itu. Mungkin ketimbang lagu yang penuh semangat, gadis itu lebih membutuhkan suplemen makanan.
Di sisi lain, Wenda memerhatikan tingkah laku Ririn dan Alexi dengan hati yang terbakar. Ia berusaha menahan perasaannya karena ia sudah mengatakan perasaannya pada gadis itu kemarin. Ia yakin Ririn akan membantunya karena Ririn bukanlah tipikal orang yang bisa menolak permintaan orang lain.
“ Wah, ada cewek cantik! Siapa ya?”
Pikiran Wenda terpecah saat mendengar suara Kemal. Ia, Anjani, dan Ben mengikuti arah mata Kemal yang menunjuk seorang gadis. Kemal tak berdusta, gadis itu memang cantik. Gadis itu mengenakan kemeja transparan sehingga memamerkan tank top hitamnya. Ia padankan pula dengan rok merah yang hanya menutupi  pahanya, tak lupa high heels dengan warna yang senada roknya. Gadis itu bersandar pada sebuah pohon sambil memainkan ponselnya.
“ Seksi banget! Aku coba kenalan, ah.”
Gadis itu mengangkat wajahnya, lalu tersenyum lebar. Tangannya melambai cepat. Dengan PD-nya, Kemal membalas lambaian gadis itu.
“ Alexi!”
Seketika tangan Kemal kaku saat gadis itu menyebut nama orang lain. Ketiga temannya langsung menahan tawa melihat Kemal yang tiba-tiba mematung. Namun, tawa mereka benar-benar tertelan saat gadis itu berlari dan memeluk Alexi.
Wenda kaget, Ririn yang berjalan duluan ikut menoleh, dan semua orang pun tak menyangka gadis itu langsung menyerbu Alexi. Laki-laki itu pun bahkan terlihat terkejut saat tangan gadis itu memeluk pundaknya.
“ Na—Nadia?”
Kejutan tak hanya sampai disitu. Tanpa ragu gadis itu mendaratkan kecupan kecil di pipi Alexi.
I miss you, Darling!”
Seketika jantung Wenda seolah berhenti berdegup.
ooOoo
Alexi mendorong tubuh gadis yang bernama Nadia itu. Wajahnya terlihat merah padam saat lipstik bewarna pink itu melekat di pipinya. Ia menggerutu seraya menghapus noda bibir itu.
“ Kamu jangan buat aku malu, Nadia.”
“ Oh, maaf, maaf. Aku lupa ini Palembang.”
“ Aku yakin kita akan saling bertukar banyak cerita, tapi maaf aku harus latihan dulu.”
“ Oh, latihan teater itu ya? Latifa Kusuma Ningsih’kan? Wah, aku mau dong ketemu dia.”
“ Dia sedang gak ada di sini. Kalau mau ketemu dia kamu harus nunggu dua minggu lagi.”
Nadia tersenyum kecil, “ Kamu jangan jutek-jutek gitu dong. Kita udah lama gak ketemu, jangan buat kedatanganku jadi sebuah kekecewaan.”
Alexi mendesah berat, “ Habisnya kamu datang dengan cara yang menganggetkan semua orang dan sekarang semua orang jadi merhatiin kita.”
Spontan Nadia menutup bibir dengan telapak tangannya. Matanya mengikuti kemana arah Alexi memendarkan pandangannya. Ia terlihat benar-benar menyesal dengan kelakukannya tadi.
Oh my God, I’m so sorry.
“ Wah, wah, wah, Alexi. Aku gak nyangka kamu punya simpanan wanita cantik.”
Kemal dan teman-temannya menghampiri Alexi. Laki-laki itu menggerutu dalam hati. Kehadiran Nadia membuat mereka jadi pusat perhatian. Bahkan Ririn yang tadi mengacuhkannya kini menatap Alexi dengan sejuta pertanyaan di wajahnya. Alexi menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Ia benar-benar salah tingkah sekarang.
“ Ah, kenalkan ini masih saudaraku, Nadia. Nah, Nad, ini teman-temanku.”
“ Aku Kemal,” laki-laki keturunan Arab ini lebih dulu menyodorkan tangannya. “Aku bisa jadi teman, saudara, atau apa pun yang kamu mau.”
Nadia tertawa kecil dan tetap menyalami Kemal. Ia juga tetap tersenyum, meski mendapat tatapan jutek dari Wenda. Di sisi lain, Ririn yang berjalan lebih dulu terpaksa kembali mundur dan bergabung dengan teman-temannya untuk berkenalan dengan si cantik Nadia.
“ Jangan berkumpul di sini! Kita harus segera latihan.”
Mereka seolah tersadar setelah mendengar suara sinis khas Fi. Kemudian mereka pun bersungut-sungut meninggalkan Nadia dan Alexi.
“ Kayaknya aku harus membiarkanmu berlatih deh. Kita ketemuan aja di Restoran XXX ya. Jam tujuh. Jangan telat!”
Nadia melambaikan tangannya seraya berlari kecil menuju pintu gerbang. Alexi hanya mendesah berat melihat bayangan Nadia yang semakin menjauh.
ooOoo
“ Jadiii, gadis manis bernama Nadia itu siapa, Al?”
Alexi sudah tahu kalau Kemal pasti akan langsung memepetnya dengan pertanyaan-pertanyaan seputar Nadia. Dalam hatinya ia mengutuk mati-matian rok mini Nadia yang membuat semua lelaki mabuk kepayang.
“ Kan sudah kubilang dia itu masih saudaraku. Masa kamu begitu aja udah lupa.”
“ Yaah, bukannya begitu. Kalau dia gadis incaran kamu, aku sih bakalan mundur. Eh, tapi kalau iya dia gadis incaran kamu, berarti selera kamu boleh juga, Al.”
‘ Sialan,’ Alexi mengomel dalam hati. Memangnya selera dia seburuk itu.
“ Minta nomor handphone-nya dong. Pasti punya’kan? Katanya saudara.”
Ingin rasanya Alexi melempar piano yang ada di hadapannya. Sayang, kalau ia melakukan itu, ia pasti akan dicekik oleh Tifa kalau dia pulang. Soalnya piano itu baru saja diangkut dari SMA Panji Semirang.
“ Heeei, Kemal. Ngapain main di sini! Cepat latihan sana!”
Teguran Gloria membuat Alexi benar-benar bersyukur. Akhirnya si playboy cap teri itu pergi juga. Namun, lepas dari Kemal, kening Alexi terasa panas. Radiasi panas ini biasanya terjadi apabila ia sedang diperhatikan oleh orang lain. Ia mengangkat wajahnya, lalu mengalihkan pandangannya pada Ririn. Bukan, gadis itu sedang sibuk memperhatikan pengarahan dari Dave. Gadis itu bahkan tak sempat memperhatikan kanan-kirinya. Alexi bingung. Ia pun masih terus mencari-cari siapa yang menatapnya begitu intens. Ketika matanya mengarah pada tim tari, baru ia sadar kalau sedari tadi Wenda menatapnya tanpa henti. Namun, saat mata mereka saling bertemu, gadis itu buru-buru mengalihkan pandangannya. Alexi sendiri tersadar saat sebuah partitur musik diketukkan tepat di puncak kepalanya.
“ Kita mau latihan, Alexi! Mata kamu jangan kelayaban!”
Semua anggota tim musik serempak tertawa. Alexi memang tak merasa sakit, tapi malunya luar biasa.

please comment and share

2 komentar:

  1. wow wow wow~ cerita nya berkembang tapi alurnya keren..
    gak terduga , gak termehek-mehek
    natural banget berasa baca kisah perjalanan hidup tokoh sejarah

    di tunggu selanjut nya hahahahah , :D jangan telat lagi author semok wkwkw

    BalasHapus
    Balasan
    1. gadis dari masa lalu pun hadir, tungguin next musical yaaah

      Hapus