Musikal 76
Dave menghela napas berat. Tangan-tangannya menyisir
rambut ke belakang. Rasa lelah merayapi seluruh tubuhnya. Ia teringat kata-kata
sang sutradara sebelum kepergiannya. Apa yang dipesankan Tifa tempo hari memang
benar.
Akting keponakannya
memang benar-benar payah.
Latihan hari ini
tidak banyak membuahkan hasil. Dave memfokuskan latihan pada Ririn. Entah
kenapa sulit sekali mengarahkan Ririn untuk mendapatkan hasil yang sempurna.
Bukan berarti keponakannya itu bebal dan tidak berusaha, tetapi gadis itu
kesulitan mendalami perannya.
Hari sudah mulai
gelap. Sesi latihan pun diakhiri. Setelah berkumpul untuk evaluasi, mereka
semua pulang ke rumah masing-masing. Sejak pamannya menjadi instruktur, Ririn
tidak kesulitan untuk pulang meski latihan sedikit larut. Sang paman dengan
senang hati menyediakan kursi penumpang di mobilnya.
“ Om kewalahan
denganmu, Rin,” ujar Dave seraya mengganti persneling. “ Kamu gak bisa akting
atau gimana sih?”
Ririn membanting
pelan kepalanya ke sandaran jok. Ia menarik napas panjang dengan mata terpejam.
“ Tifa bisa mengamuk
kalau menghadapi aktingmu itu, Rin.”
“ Yeaah, she did.”
“ Kamu pasti langsung
syok waktu itu,” Dave terkekeh. “ Mumpung sekarang Om yang pegang kendali,
katakan apa yang membuatmu kesulitan berada di atas panggung?”
“ Aku juga gak
ngerti, Om,” Ririn melempar pandangannya keluar jendela. “ Aku sudah berlatih
mati-matian supaya tampil maksimal, tapi tetap saja aku selalu jauh dari kata
bagus.”
Dave
mengetuk-ngetukkan jari manisnya pada stir, “ Menurut Om, kamu ekspresimu
terlalu datar untuk seorang wanita yang tunangannya direbut oleh orang lain.
Apa lagi orang itu memiliki derajat yang lebih rendah darimu. Kamu mengerti
maksud Om?”
“ Seseorang juga
pernah mengatakan hal itu padaku, Om.”
“ Siapa?” Dave melirik
keponakannya yang sedang memangku kepalanya dengan tangan kiri.
“ Bu Riani.”
Kepala Dave
terangguk-angguk saat mendengar nama itu. Untunglah seseorang sudah
mengingatkan gadis itu lebih dulu. Sayangnya, keponakannya itu tampak belum
mengerti apa yang dimaksudkan.
“ Kamu pernah
mencemburui seseorang, Rin? Lawan jenis maksud Om.”
Cemburu? Entahlah,
Ririn tak pernah mencemburui sesuatu. Ia tak pernah cemburu pada adiknya,
temannya, atau siapa pun. Mungkin ia pernah iri pada seseorang, tetapi tak
pernah sampai disimpan dalam hati. Ia bukan tipikal orang yang berambisi meraih
sesuatu.
“ Itulah masalahmu,
Rin,” sahut Dave ketika melihat respon Ririn yang hanya diam. “ Mungkin kamu
gak pernah punya pengalaman cemburu pada lawan jenis. Kamu terlalu lugu, polos.
Om tahu, kalau kamu belum pernah jatuh cinta yang sebenarnya.”
Ririn melirik Oom-nya
dengan kesal, “ Kayak Om dulu pernah aja.”
“ Woaah, seumur kamu
Om udah pacaran kali,” Dave terkekeh. “ Om malah heran sama kamu. Seumur gini,
di zaman yang seperti ini, kamu malah terlambat jatuh cinta. Terdengar seperti
hal yang mustahil. Hidup kamu terlalu lurus, Rin.”
‘ Bilang aja aku cupu,’ keluh Ririn dalam hati. Yah, memang benar,
sampai saat ini ia belum pernah merasakan apa itu pacaran, bahkan Andani yang
selalu bersamanya sudah pernah merasakan pengalaman itu. Kata-kata sang paman
baru saja menyadarkannya. Kenapa 15 tahun hidupnya ia tak pernah memikirkan
hal-hal yang demikian. Mungkin di saat semua orang sibuk flirting dengan lawan jenis, ia malah sibuk dengan eskul klub
Koran. Di saat semua orang sibuk berbalas pesan dengan pasangannya, ia justru
sibuk dengan tumpukan novel sastra klasik.
Oom-nya benar,
hidupnya terlalu lurus, terlalu polos.
“ Om rasa kamu harus
merasakan jatuh cinta, Rin. Dengan begitu kamu akan tahu rasanya cemburu,
berdebar-debar, dan juga kehilangan.”
Bicara memang
gampang, tapi praktiknya bagaimana? Ririn mengeluh dalam hati. Memangnya
semudah itu jatuh cinta? Dan dengan siapa ia harus jatuh cinta? Mana mungkin ia
jatuh cinta pada tukang sol sepatu yang sering lewat di depan rumahnya, bukan?
ooOoo
Rasanya baru kemarin Ririn latihan dan sekarang ia
harus latihan kembali. Meski dikelang satu hari, tapi satu hari itu benar-benar
tidak terasa. Ririn masih malas kalau harus mendapat teguran lagi dari Dave,
Tifa, atau siapa pun yang tidak merasa puas dengan aktingnya. Bel pulang
berbunyi, Ririn menyeret langkahnya dengan berat.
“ Kamu terlihat
seperti orang yang dehidrasi berkepanjangan.”
Ririn mendongak dan
mendapati Alexi sedang membingkai wajahnya dengan telunjuk dan ibu jari kedua
tangannya. Saat ini Ririn benar-benar tak berminat untuk menyapa balik
laki-laki ini. Apalagi saat melihat Wenda yang mengamati mereka dari jauh. Ia
jadi teringat dengan percakapan dengan gadis itu di warung mie ayam.
‘ Aku malah suka Alexi.’
‘ Bantuin aku supaya lebih dekat dengan Alexi.’
Suara itu seperti
berdengung-dengung di kepalanya. Alasan kedua ini terlalu kuat untuk memaksa
Ririn mengabaikan si kacamata.
“ Heei, kamu kok
anggurin aku sih?” Alexi mencoba menyamai langkah Ririn yang mendahuluinya. “
Ah, apa karena aku belum menepati janjiku padamu?”
Kata-kata terakhir
Alexi berhasil menyita perhatiannya, “ Janji apa?”
“ Lagu yang penuh
semangat,” Alexi memainkan jari-jarinya seolah berada di atas tuts piano. “
Kamu mau request lagu apa? Klasik,
pop, rock, jazz, atau―”
“ Terserah kamu aja
deh,” Ririn melengos melewati Alexi.
Alexi melongok. Baru
kali ini ia diacuhkan oleh gadis itu. Mungkin ketimbang lagu yang penuh
semangat, gadis itu lebih membutuhkan suplemen makanan.
Di sisi lain, Wenda
memerhatikan tingkah laku Ririn dan Alexi dengan hati yang terbakar. Ia
berusaha menahan perasaannya karena ia sudah mengatakan perasaannya pada gadis
itu kemarin. Ia yakin Ririn akan membantunya karena Ririn bukanlah tipikal
orang yang bisa menolak permintaan orang lain.
“ Wah, ada cewek
cantik! Siapa ya?”
Pikiran Wenda
terpecah saat mendengar suara Kemal. Ia, Anjani, dan Ben mengikuti arah mata
Kemal yang menunjuk seorang gadis. Kemal tak berdusta, gadis itu memang cantik.
Gadis itu mengenakan kemeja transparan sehingga memamerkan tank top hitamnya. Ia padankan pula dengan rok merah yang hanya
menutupi
pahanya, tak lupa high heels dengan warna yang senada roknya. Gadis itu bersandar
pada sebuah pohon sambil memainkan ponselnya.
“ Seksi banget!
Aku coba kenalan, ah.”
Gadis itu
mengangkat wajahnya, lalu tersenyum lebar. Tangannya melambai cepat. Dengan
PD-nya, Kemal membalas lambaian gadis itu.
“ Alexi!”
Seketika tangan
Kemal kaku saat gadis itu menyebut nama orang lain. Ketiga temannya langsung
menahan tawa melihat Kemal yang tiba-tiba mematung. Namun, tawa mereka
benar-benar tertelan saat gadis itu berlari dan memeluk Alexi.
Wenda kaget,
Ririn yang berjalan duluan ikut menoleh, dan semua orang pun tak menyangka
gadis itu langsung menyerbu Alexi. Laki-laki itu pun bahkan terlihat terkejut
saat tangan gadis itu memeluk pundaknya.
“ Na—Nadia?”
Kejutan tak hanya
sampai disitu. Tanpa ragu gadis itu mendaratkan kecupan kecil di pipi Alexi.
“ I miss you, Darling!”
Seketika jantung
Wenda seolah berhenti berdegup.
ooOoo
Alexi mendorong tubuh gadis yang bernama Nadia itu.
Wajahnya terlihat merah padam saat lipstik bewarna pink itu melekat di pipinya. Ia menggerutu seraya menghapus noda
bibir itu.
“ Kamu jangan
buat aku malu, Nadia.”
“ Oh, maaf, maaf.
Aku lupa ini Palembang.”
“ Aku yakin kita
akan saling bertukar banyak cerita, tapi maaf aku harus latihan dulu.”
“ Oh, latihan
teater itu ya? Latifa Kusuma Ningsih’kan? Wah, aku mau dong ketemu dia.”
“ Dia sedang gak
ada di sini. Kalau mau ketemu dia kamu harus nunggu dua minggu lagi.”
Nadia tersenyum
kecil, “ Kamu jangan jutek-jutek gitu dong. Kita udah lama gak ketemu, jangan
buat kedatanganku jadi sebuah kekecewaan.”
Alexi mendesah
berat, “ Habisnya kamu datang dengan cara yang menganggetkan semua orang dan
sekarang semua orang jadi merhatiin kita.”
Spontan Nadia menutup
bibir dengan telapak tangannya. Matanya mengikuti kemana arah Alexi memendarkan
pandangannya. Ia terlihat benar-benar menyesal dengan kelakukannya tadi.
“ Oh my God, I’m so sorry.”
“ Wah, wah, wah,
Alexi. Aku gak nyangka kamu punya simpanan wanita cantik.”
Kemal dan
teman-temannya menghampiri Alexi. Laki-laki itu menggerutu dalam hati.
Kehadiran Nadia membuat mereka jadi pusat perhatian. Bahkan Ririn yang tadi
mengacuhkannya kini menatap Alexi dengan sejuta pertanyaan di wajahnya. Alexi
menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Ia benar-benar salah tingkah
sekarang.
“ Ah, kenalkan
ini masih saudaraku, Nadia. Nah, Nad, ini teman-temanku.”
“ Aku Kemal,”
laki-laki keturunan Arab ini lebih dulu menyodorkan tangannya. “Aku bisa jadi
teman, saudara, atau apa pun yang kamu mau.”
Nadia tertawa kecil
dan tetap menyalami Kemal. Ia juga tetap tersenyum, meski mendapat tatapan
jutek dari Wenda. Di sisi lain, Ririn yang berjalan lebih dulu terpaksa kembali
mundur dan bergabung dengan teman-temannya untuk berkenalan dengan si cantik
Nadia.
“ Jangan berkumpul di
sini! Kita harus segera latihan.”
Mereka seolah
tersadar setelah mendengar suara sinis khas Fi. Kemudian mereka pun
bersungut-sungut meninggalkan Nadia dan Alexi.
“ Kayaknya aku harus
membiarkanmu berlatih deh. Kita ketemuan aja di Restoran XXX ya. Jam tujuh.
Jangan telat!”
Nadia melambaikan
tangannya seraya berlari kecil menuju pintu gerbang. Alexi hanya mendesah berat
melihat bayangan Nadia yang semakin menjauh.
ooOoo
“ Jadiii, gadis manis bernama Nadia itu siapa, Al?”
Alexi sudah tahu
kalau Kemal pasti akan langsung memepetnya dengan pertanyaan-pertanyaan seputar
Nadia. Dalam hatinya ia mengutuk mati-matian rok mini Nadia yang membuat semua
lelaki mabuk kepayang.
“ Kan sudah kubilang
dia itu masih saudaraku. Masa kamu begitu aja udah lupa.”
“ Yaah, bukannya
begitu. Kalau dia gadis incaran kamu, aku sih bakalan mundur. Eh, tapi kalau
iya dia gadis incaran kamu, berarti selera kamu boleh juga, Al.”
‘ Sialan,’
Alexi mengomel dalam hati. Memangnya selera dia seburuk itu.
“ Minta nomor handphone-nya dong. Pasti punya’kan?
Katanya saudara.”
Ingin rasanya Alexi
melempar piano yang ada di hadapannya. Sayang, kalau ia melakukan itu, ia pasti
akan dicekik oleh Tifa kalau dia pulang. Soalnya piano itu baru saja diangkut
dari SMA Panji Semirang.
“ Heeei, Kemal.
Ngapain main di sini! Cepat latihan sana!”
Teguran Gloria
membuat Alexi benar-benar bersyukur. Akhirnya si playboy cap teri itu pergi juga. Namun, lepas dari Kemal, kening
Alexi terasa panas. Radiasi panas ini biasanya terjadi apabila ia sedang
diperhatikan oleh orang lain. Ia mengangkat wajahnya, lalu mengalihkan
pandangannya pada Ririn. Bukan, gadis itu sedang sibuk memperhatikan pengarahan
dari Dave. Gadis itu bahkan tak sempat memperhatikan kanan-kirinya. Alexi
bingung. Ia pun masih terus mencari-cari siapa yang menatapnya begitu intens.
Ketika matanya mengarah pada tim tari, baru ia sadar kalau sedari tadi Wenda
menatapnya tanpa henti. Namun, saat mata mereka saling bertemu, gadis itu
buru-buru mengalihkan pandangannya. Alexi sendiri tersadar saat sebuah partitur
musik diketukkan tepat di puncak kepalanya.
“ Kita mau latihan,
Alexi! Mata kamu jangan kelayaban!”
Semua anggota tim
musik serempak tertawa. Alexi memang tak merasa sakit, tapi malunya luar biasa.
please comment and share
wow wow wow~ cerita nya berkembang tapi alurnya keren..
BalasHapusgak terduga , gak termehek-mehek
natural banget berasa baca kisah perjalanan hidup tokoh sejarah
di tunggu selanjut nya hahahahah , :D jangan telat lagi author semok wkwkw
gadis dari masa lalu pun hadir, tungguin next musical yaaah
Hapus