Musikal 80
Mata Anjani terus mengikuti langkah Wenda sampai
bayangan gadis itu lenyap di balik pintu. Ben dan Kemal pun sampai heran kenapa
Anjani memandangi teman mereka sampai seperti itu.
“ Kenapa, Jane? Kamu
seolah-olah gak rela gitu Wenda pulang duluan,” ujar Ben.
“ Bukan gitu,” desah
Anjani. “ Kalian gak lihat kalau Wenda pulangnya bareng Alexi.”
“ Mungkin mereka cuma
gak sengaja bareng,” sahut Kemal.
Anjani menggeleng, “
Gak, mereka pasti pulang bareng.”
“ Terus kenapa kalau
mereka pulang bareng,” tanya Ben yang sedang menjejalkan buku ke dalam tas.
Anjani menari lengan
seragam Ben dan Kemal hingga tubuh keduanya saling berdekatan. Anjani
memelankan suaranya dan kemudian berbisik.
“ Wenda bakalan
kencan dengan Alexi.”
Keduanya sama-sama
terperanjat. Mereka tak percaya dengan ucapan Anjani.
“ Aku serius! Wenda
bilang sendiri sama aku.”
Kemal tertawa garing,
“ Gini ya, Jane. Gimana caranya Wenda bisa kencan sama Alexi? Memangnya mereka
udah jadian?”
“ Belum sih,” Anjani
melipat tangannya di depan dada. “ Tapi… tapi mereka bakal jadian, eh, gimana
sih ngomongnya?”
“ Kamu ngomong apa
sih, Jane?” ujar Ben. “ Maksudnya bakal jadian itu Alexi bakalan nembak Wenda
gitu? Sejak kapan mereka pdkt?”
Anjani menarik napas
panjang. Lidahnya terasa berat untuk menceritakan kenyataan yang sebenarnya.
“ Hmm, aku gak tahu
siapa yang minta duluan, tapi yang jelas Wenda dan Alexi itu akan terlibat
dalam hubungan status palsu.”
“ Status palsu?” seru
Ben dan Kemal hampir bersamaan. “ Maksudnya pura-pura pacaran gitu?” sambung
Kemal.
Anjani mengangguk.
“ Tapi buat apa?”
Sambil
menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, Anjani pun menceritakan awal mula
Wenda dan Alexi membuat sandiwara ini. Di akhir cerita, Ben dan Kemal memasang
tampang tak percaya.
“ Sebenernya ini
bukan masalah kalau Wenda gak ada rasa sama Alexi,” ujar Kemal. “ Tapi ini
masalahnya… hmm….”
“ Aku juga bilang
gitu ke Wenda. Aku cuma takut kalau Wenda yang patah hati. Bukannya kita tahu
kalau Alexi itu―”
“ Pokoknya kita harus
bilangin lagi ke Wenda kalau dia gak boleh ada rasa sama Alexi!” potong Ben.
Anjani mendesah
pendek, “ Iya, tapi gimana?”
Bibir Ben terkunci,
alisnya saling bertaut. Sepertinya ia sedang berpikir keras untuk menemukan
jalan keluarnya.
“ Mungkin tidak akan
ada,” ujar Kemal kemudian. “ Tapi yang jelas kita harus ada di samping Wenda
jika suatu saat dia… yah, merasakan konsekuensinya.”
Anjani mengangguk. Ia
lebih setuju dengan usulan Kemal. Meski begitu, otak Ben masih tak berhenti
bekerja.
ooOoo
Nadia cukup terpana saat Alexi mengenalkan Wenda
padanya. Ia memang sudah pernah melihat Wenda sebelumnya dan masih membekas
ingatannya siapa pemberi senyum tersinis. Nadia bisa memaklumi kalau memang
Alexi pacaran dengan gadis ini, hanya saja ia agak kaget karena Alexi akan
membawanya secepat ini.
“ Maaf ya, Wen.
Alexi-nya aku pinjam dulu. Kamu bisa tunggu di sana,” Nadia menunjukkan sebuah
sofa di sudut ruangan.
Alexi memberikan
isyarat pada Wenda berupa anggukan agar gadis itu menunggu di tempat yang sudah
Nadia tunjukkan. Tak ada pilihan lain, Wenda pun segera menuju sofa tersebut.
Namun, tatapannya begitu menusuk saat melihat Alexi dan Nadia duduk bersisian.
“ Jadi, apa yang akan
kita mainkan?”
“ Aku cuma bawa dua
partitur,” Nadia mengeluarkan dua partitur bersampul merah dan biru. “
Beethoven atau Mozart?”
“ Terlalu klasik,
Nadia. Kita mau ke acara peresmian, bukan konser. Aku sarankan ini saja.”
Jemari Alexi dengan
lincah menari-nari di atas tuts piano. Mata Nadia sedikit menyipit saat
menyimak permainan laki-laki itu. Tak lama senyumnya mengembang.
“ Ah ya, pilihan yang
tepat,” ujar Nadia sambil membetulkan posisi duduknya. “Aku primo, kamu secondo dengan pedal.”
Alexi menatap sinis
Nadia, “ Kamu percaya pada tempoku?”
“ Aku tahu kamu gak
bakal mengkhianatiku.”
Sudut bibir Alexi
sedikit melengkung ke atas, “ Okeee.”
Pada detik
berikutnya, kedua insan ini saling menghujamkan jari-jari mereka di atas
tuts-tuts piano. Sesekali saling bertukar pandang seolah pembicaraan mereka
tergambar lewat senyuman yang diiringi alunan musik.
Wenda ingin sekali
tahu apa yang mereka bicarakan sebelumnya, tetapi dentingan piano langsung
menghadang gelombang suara mereka. Mati-matian ia harus menekan perasaannya
saat melihat chemistry antara kedua
orang itu. Rasa cemburu itu hampir saja membakar semua akal sehat dan
membuatnya lupa akan posisi yang sebenarnya.
Satu setengah jam
dihabiskan Wenda dengan rasa jemu bercampur cemburu. Untungnya Alexi meminta
Nadia untuk beristirahat sebentar. Ya, hanya sebentar. Wenda tak tahu berapa
lama lagi mereka akan latihan setelah istirahat ini.
“ Maaf ya, Wen. Kamu
pasti bosan,” ujar Alexi ketika menghampiri Wenda.
Secepat kilat Wenda
mengubah ekspresi wajahnya. Senyuman semanis madu langsung merekah.
“ Gak apa kok. Lagian
permainan kalian juga keren. Aku jadi terhibur.”
“ Makasih ya,” sahut
Nadia yang langsung membuat 43% senyuman Wenda menghilang. “ Eh, kalian lapar
gak? Aku traktir di kafetaria bawah yuk.”
Sebenarnya Wenda mau
menolak, tapi perutnya tak mau kompromi dengan hati. Akhirnya, ia pun ikut
menyeret langkah bersama Nadia dan Alexi. Sesampai di sana, Wenda menyesali
keputusannya memesan mie pangsit dan Milo
float karena Alexi dan Nadia hanya memesan kopi dan sepotong red velvet. Ia merasa menjadi orang yang
paling rakus.
“ Sepertinya kamu
sedang mengalami masalah di bagian crescendo,
Al,” Nadia membuka pembicaraan.
“ Aku sudah lama
tidak main duet,” jawab Alexi. “ Mungkin keputusanmu menaruhku sebagai accompaniment tidak tepat, Nad.”
“ Tapi tempomu
baik-baik saja.”
Dan seterusnya, dan
seterusnya. Wenda menjadi risih karena tak satu pun dari pembicaraan mereka
yang dimengerti olehnya. Ia pun sengaja berdeham supaya kedua orang ini
berhenti mengobrol.
“ Upss, maaf ya, Wen.
Kamu jadi kayak obat nyamuk di sini,” Nadia terkekeh pelan.
Wenda memutar bola
matanya dengan kesal. ‘ Syukur, kalau
paham!’
Pesanan mereka pun
datang. Nadia dengan anggun menyesap kopinya.
“ Jadi, bagaimana
kabar pementasan kalian?”
“ Selalu ada
kemajuan,” Alexi menyuap potongan kue ke mulutnya. “ Besok kami latihan lagi.”
Nadia mengangguk, “
Kalau begitu lusa kita latihan lagi. Mungkin sekalian gladi kotor.”
“ Wah, maaf, Nad.
Kami ada sesi menginap. Kupikir kita habiskan saja malam ini.”
“ Begitu ya,” nada
suara Nadia terdengar kecewa. Tangannya mendorong-dorong garpu di atas piring
kue. Ia terlihat kehilangan nafsu makan. “ Aku sih mau saja, tapi bagaimana
dengan Wenda. Apa dia mau nungguin kita?”
“ Gak masalah!” Wenda
menelan mie-nya bulat-bulat. “ Aku—uhuk, uhuk, uhuk…”
Alexi dengan cepat
mengangsurkan minumannya pada Wenda. Gadis itu pun buru-buru menerimanya. Nadia
ikut-ikutan tegang, bahkan ia sampai lupa menarik napas.
“ Tarik napas dulu,
Wen. Pelan-pelan aja,” Alexi memberi instruksi.
Wenda perlahan mulai
bernapas normal. Alexi dan Nadia pun mendesah lega.
“ Iya, aku ngerti
kok. Kamu boleh tunggu aku,” ujar Alexi, lalu menoleh pada Nadia. “ Nad,
mungkin kita gak bisa terlalu malam, tapi aku bakal maksimalkan latihan kita nanti.”
Nadia tertawa kecil,
“ Ya, apa boleh buat. Aku bisa apa sama Alexi yang udah punya pacar. Maaf ya,
Wen. Aku jadi menyita waktu kalian.”
Meski awalnya Wenda
sempat malu karena kejadian tersedak tadi, tapi ia tak pernah menyesalinya.
Setidaknya Nadia tidak menahan Alexi terlalu lama dan yang lebih penting, ia
bisa bersama Alexi untuk waktu yang lebih lama.
ooOoo
Wenda tak mengerti kenapa Alexi capek-capek mengantarnya
dulu, padahal rumah mereka berlawanan arah. Wenda memang menyukainya, tapi ia
tetap saja merasa tak enak.
“ Sudah jam
sembilan,” Alexi beralasan. “ Masa sih aku biarkan kamu pulang sendirian
malam-malam.”
Ingin rasanya Wenda
tertawa. Ia sudah sering pulang larut, apalagi ketika ia masih kerja part time. Wenda berandai-andai kalau
Alexi benar-benar menjadi kekasihnya, pasti ia akan dimanja setiap saat.
“ Terus kamu
pulangnya gimana?”
“ Gampang. Tinggal
panggil taksi aja,” Alexi menghela napas. “ Sudah malam, aku pulang dulu ya.
Makasih buat hari ini ya. Selamat beristirahat.”
‘ Tidak, tidak, aku yang berterima kasih.’
“ Oke deh, sampai
jumpa besok.”
Alexi bahkan masih
menunggui Wenda sampai gadis itu benar-benar masuk. Laki-laki itu tak
memberikan kesempatan Wenda untuk menari-nari bahagia di teras rumah. Begitu
Wenda menutup pintu, Alexi merogoh ponselnya yang sedari tadi bergetar. Ia tahu
siapa penelepon itu, maka dari itu ia menunggu Wenda menghilang dari
hadapannya.
“ Maaf, aku tadi
masih di jalan,” Alexi menyapa si penelepon dengan cara yang berbeda.
“ Kalau begitu aku yang minta maaf. Aku ingin
cepat-cepat mengatakannya padamu.”
“ Kamu mau bilang
apa, Nad?”
“ Aku tahu kamu besok ada latihan, tapi apa bisa kamu
latihan lagi denganku setelahnya? Please, Al.”
“ Kamu tahu’kan kalau
aku tak bisa menolakmu,” ujar Alexi seraya menjauh dari muka depan rumah Wenda.
“ Tapi aku sekarang sudah punya pacar.”
“ Bisakah kamu merahasiakan pertemuan ini?”
Alexi terdiam cukup
lama. Sekarang ia sudah berada di depan komplek perumahan Wenda. Entah kenapa
ia menoleh ke belakang, seolah memastikan Wenda tak ada di sana. Padahal sedari
tadi gadis itu sudah masuk rumah. Setelah itu ia menarik napas panjang.
“ Kamu tahu’kan kalau
aku tidak bisa menolakmu.”
Terdengar suara tawa
renyah dari ujung telepon. Namun, suara tawa itu terdengar seperti alunan
sumbang yang merusak syaraf telinga. Alexi merasa ia telah membohongi dua orang
gadis seharusnya ia hindari.
Author's Note:
Ada 4 fanart karya EKA MARINDA, tapi karena postingan author cuma 3 jadi yang satu laginya buat minggu depan.

aduh , dari di fanart sampe di cerita kelihatan banget si wenda bakalan dapet ending tragis wkwkwkw ,
BalasHapusAl kamu kok gitu , hik..hik...hik....
walau pura-pura kan gak boleh gitu dong
nadia juga nih , lah ikan udah di lepas kok malah di toel2 lagi
itu karena Al adalah cowok berkualitas tinggi, hahaha
Hapus