Total Tayangan Halaman

Sabtu, 24 September 2016

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 80)




Musikal 80



Mata Anjani terus mengikuti langkah Wenda sampai bayangan gadis itu lenyap di balik pintu. Ben dan Kemal pun sampai heran kenapa Anjani memandangi teman mereka sampai seperti itu.
“ Kenapa, Jane? Kamu seolah-olah gak rela gitu Wenda pulang duluan,” ujar Ben.
“ Bukan gitu,” desah Anjani. “ Kalian gak lihat kalau Wenda pulangnya bareng Alexi.”
“ Mungkin mereka cuma gak sengaja bareng,” sahut Kemal.
Anjani menggeleng, “ Gak, mereka pasti pulang bareng.”
“ Terus kenapa kalau mereka pulang bareng,” tanya Ben yang sedang menjejalkan buku ke dalam tas.
Anjani menari lengan seragam Ben dan Kemal hingga tubuh keduanya saling berdekatan. Anjani memelankan suaranya dan kemudian berbisik.
“ Wenda bakalan kencan dengan Alexi.”
Keduanya sama-sama terperanjat. Mereka tak percaya dengan ucapan Anjani.
“ Aku serius! Wenda bilang sendiri sama aku.”
Kemal tertawa garing, “ Gini ya, Jane. Gimana caranya Wenda bisa kencan sama Alexi? Memangnya mereka udah jadian?”
“ Belum sih,” Anjani melipat tangannya di depan dada. “ Tapi… tapi mereka bakal jadian, eh, gimana sih ngomongnya?”
“ Kamu ngomong apa sih, Jane?” ujar Ben. “ Maksudnya bakal jadian itu Alexi bakalan nembak Wenda gitu? Sejak kapan mereka pdkt?”
Anjani menarik napas panjang. Lidahnya terasa berat untuk menceritakan kenyataan yang sebenarnya.
“ Hmm, aku gak tahu siapa yang minta duluan, tapi yang jelas Wenda dan Alexi itu akan terlibat dalam hubungan status palsu.”
“ Status palsu?” seru Ben dan Kemal hampir bersamaan. “ Maksudnya pura-pura pacaran gitu?” sambung Kemal.
Anjani mengangguk.
“ Tapi buat apa?”
Sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, Anjani pun menceritakan awal mula Wenda dan Alexi membuat sandiwara ini. Di akhir cerita, Ben dan Kemal memasang tampang tak percaya.
“ Sebenernya ini bukan masalah kalau Wenda gak ada rasa sama Alexi,” ujar Kemal. “ Tapi ini masalahnya… hmm….”
“ Aku juga bilang gitu ke Wenda. Aku cuma takut kalau Wenda yang patah hati. Bukannya kita tahu kalau Alexi itu―”
“ Pokoknya kita harus bilangin lagi ke Wenda kalau dia gak boleh ada rasa sama Alexi!” potong Ben.
Anjani mendesah pendek, “ Iya, tapi gimana?”
Bibir Ben terkunci, alisnya saling bertaut. Sepertinya ia sedang berpikir keras untuk menemukan jalan keluarnya.
“ Mungkin tidak akan ada,” ujar Kemal kemudian. “ Tapi yang jelas kita harus ada di samping Wenda jika suatu saat dia… yah, merasakan konsekuensinya.”
Anjani mengangguk. Ia lebih setuju dengan usulan Kemal. Meski begitu, otak Ben masih tak berhenti bekerja.
ooOoo
Nadia cukup terpana saat Alexi mengenalkan Wenda padanya. Ia memang sudah pernah melihat Wenda sebelumnya dan masih membekas ingatannya siapa pemberi senyum tersinis. Nadia bisa memaklumi kalau memang Alexi pacaran dengan gadis ini, hanya saja ia agak kaget karena Alexi akan membawanya secepat ini.
“ Maaf ya, Wen. Alexi-nya aku pinjam dulu. Kamu bisa tunggu di sana,” Nadia menunjukkan sebuah sofa di sudut ruangan.
Alexi memberikan isyarat pada Wenda berupa anggukan agar gadis itu menunggu di tempat yang sudah Nadia tunjukkan. Tak ada pilihan lain, Wenda pun segera menuju sofa tersebut. Namun, tatapannya begitu menusuk saat melihat Alexi dan Nadia duduk bersisian.
“ Jadi, apa yang akan kita mainkan?”
“ Aku cuma bawa dua partitur,” Nadia mengeluarkan dua partitur bersampul merah dan biru. “ Beethoven atau Mozart?”
“ Terlalu klasik, Nadia. Kita mau ke acara peresmian, bukan konser. Aku sarankan ini saja.”
Jemari Alexi dengan lincah menari-nari di atas tuts piano. Mata Nadia sedikit menyipit saat menyimak permainan laki-laki itu. Tak lama senyumnya mengembang.
“ Ah ya, pilihan yang tepat,” ujar Nadia sambil membetulkan posisi duduknya. “Aku primo, kamu secondo dengan pedal.”
Alexi menatap sinis Nadia, “ Kamu percaya pada tempoku?”
“ Aku tahu kamu gak bakal mengkhianatiku.”
Sudut bibir Alexi sedikit melengkung ke atas, “ Okeee.”
Pada detik berikutnya, kedua insan ini saling menghujamkan jari-jari mereka di atas tuts-tuts piano. Sesekali saling bertukar pandang seolah pembicaraan mereka tergambar lewat senyuman yang diiringi alunan musik.
Wenda ingin sekali tahu apa yang mereka bicarakan sebelumnya, tetapi dentingan piano langsung menghadang gelombang suara mereka. Mati-matian ia harus menekan perasaannya saat melihat chemistry antara kedua orang itu. Rasa cemburu itu hampir saja membakar semua akal sehat dan membuatnya lupa akan posisi yang sebenarnya.
Satu setengah jam dihabiskan Wenda dengan rasa jemu bercampur cemburu. Untungnya Alexi meminta Nadia untuk beristirahat sebentar. Ya, hanya sebentar. Wenda tak tahu berapa lama lagi mereka akan latihan setelah istirahat ini.
“ Maaf ya, Wen. Kamu pasti bosan,” ujar Alexi ketika menghampiri Wenda.
Secepat kilat Wenda mengubah ekspresi wajahnya. Senyuman semanis madu langsung merekah.
“ Gak apa kok. Lagian permainan kalian juga keren. Aku jadi terhibur.”
“ Makasih ya,” sahut Nadia yang langsung membuat 43% senyuman Wenda menghilang. “ Eh, kalian lapar gak? Aku traktir di kafetaria bawah yuk.”
Sebenarnya Wenda mau menolak, tapi perutnya tak mau kompromi dengan hati. Akhirnya, ia pun ikut menyeret langkah bersama Nadia dan Alexi. Sesampai di sana, Wenda menyesali keputusannya memesan mie pangsit dan Milo float karena Alexi dan Nadia hanya memesan kopi dan sepotong red velvet. Ia merasa menjadi orang yang paling rakus.
“ Sepertinya kamu sedang mengalami masalah di bagian crescendo, Al,” Nadia membuka pembicaraan.
“ Aku sudah lama tidak main duet,” jawab Alexi. “ Mungkin keputusanmu menaruhku sebagai accompaniment tidak tepat, Nad.”
“ Tapi tempomu baik-baik saja.”
Dan seterusnya, dan seterusnya. Wenda menjadi risih karena tak satu pun dari pembicaraan mereka yang dimengerti olehnya. Ia pun sengaja berdeham supaya kedua orang ini berhenti mengobrol.
“ Upss, maaf ya, Wen. Kamu jadi kayak obat nyamuk di sini,” Nadia terkekeh pelan.
Wenda memutar bola matanya dengan kesal. ‘ Syukur, kalau paham!’
Pesanan mereka pun datang. Nadia dengan anggun menyesap kopinya.
“ Jadi, bagaimana kabar pementasan kalian?”
“ Selalu ada kemajuan,” Alexi menyuap potongan kue ke mulutnya. “ Besok kami latihan lagi.”
Nadia mengangguk, “ Kalau begitu lusa kita latihan lagi. Mungkin sekalian gladi kotor.”
“ Wah, maaf, Nad. Kami ada sesi menginap. Kupikir kita habiskan saja malam ini.”
“ Begitu ya,” nada suara Nadia terdengar kecewa. Tangannya mendorong-dorong garpu di atas piring kue. Ia terlihat kehilangan nafsu makan. “ Aku sih mau saja, tapi bagaimana dengan Wenda. Apa dia mau nungguin kita?”
“ Gak masalah!” Wenda menelan mie-nya bulat-bulat. “ Aku—uhuk, uhuk, uhuk…”
Alexi dengan cepat mengangsurkan minumannya pada Wenda. Gadis itu pun buru-buru menerimanya. Nadia ikut-ikutan tegang, bahkan ia sampai lupa menarik napas.
“ Tarik napas dulu, Wen. Pelan-pelan aja,” Alexi memberi instruksi.
Wenda perlahan mulai bernapas normal. Alexi dan Nadia pun mendesah lega.
“ Iya, aku ngerti kok. Kamu boleh tunggu aku,” ujar Alexi, lalu menoleh pada Nadia. “ Nad, mungkin kita gak bisa terlalu malam, tapi aku bakal maksimalkan latihan kita nanti.”
Nadia tertawa kecil, “ Ya, apa boleh buat. Aku bisa apa sama Alexi yang udah punya pacar. Maaf ya, Wen. Aku jadi menyita waktu kalian.”
Meski awalnya Wenda sempat malu karena kejadian tersedak tadi, tapi ia tak pernah menyesalinya. Setidaknya Nadia tidak menahan Alexi terlalu lama dan yang lebih penting, ia bisa bersama Alexi untuk waktu yang lebih lama.
ooOoo
Wenda tak mengerti kenapa Alexi capek-capek mengantarnya dulu, padahal rumah mereka berlawanan arah. Wenda memang menyukainya, tapi ia tetap saja merasa tak enak.
“ Sudah jam sembilan,” Alexi beralasan. “ Masa sih aku biarkan kamu pulang sendirian malam-malam.”
Ingin rasanya Wenda tertawa. Ia sudah sering pulang larut, apalagi ketika ia masih kerja part time. Wenda berandai-andai kalau Alexi benar-benar menjadi kekasihnya, pasti ia akan dimanja setiap saat.
“ Terus kamu pulangnya gimana?”
“ Gampang. Tinggal panggil taksi aja,” Alexi menghela napas. “ Sudah malam, aku pulang dulu ya. Makasih buat hari ini ya. Selamat beristirahat.”
‘ Tidak, tidak, aku yang berterima kasih.’
“ Oke deh, sampai jumpa besok.”
Alexi bahkan masih menunggui Wenda sampai gadis itu benar-benar masuk. Laki-laki itu tak memberikan kesempatan Wenda untuk menari-nari bahagia di teras rumah. Begitu Wenda menutup pintu, Alexi merogoh ponselnya yang sedari tadi bergetar. Ia tahu siapa penelepon itu, maka dari itu ia menunggu Wenda menghilang dari hadapannya.
“ Maaf, aku tadi masih di jalan,” Alexi menyapa si penelepon dengan cara yang berbeda.
“ Kalau begitu aku yang minta maaf. Aku ingin cepat-cepat mengatakannya padamu.”
“ Kamu mau bilang apa, Nad?”
“ Aku tahu kamu besok ada latihan, tapi apa bisa kamu latihan lagi denganku setelahnya? Please, Al.”
“ Kamu tahu’kan kalau aku tak bisa menolakmu,” ujar Alexi seraya menjauh dari muka depan rumah Wenda. “ Tapi aku sekarang sudah punya pacar.”
“ Bisakah kamu merahasiakan pertemuan ini?”
Alexi terdiam cukup lama. Sekarang ia sudah berada di depan komplek perumahan Wenda. Entah kenapa ia menoleh ke belakang, seolah memastikan Wenda tak ada di sana. Padahal sedari tadi gadis itu sudah masuk rumah. Setelah itu ia menarik napas panjang.
“ Kamu tahu’kan kalau aku tidak bisa menolakmu.”
Terdengar suara tawa renyah dari ujung telepon. Namun, suara tawa itu terdengar seperti alunan sumbang yang merusak syaraf telinga. Alexi merasa ia telah membohongi dua orang gadis seharusnya ia hindari.

Author's Note:
Ada 4 fanart karya EKA MARINDA, tapi karena postingan author cuma 3 jadi yang satu laginya buat minggu depan.


2 komentar:

  1. aduh , dari di fanart sampe di cerita kelihatan banget si wenda bakalan dapet ending tragis wkwkwkw ,
    Al kamu kok gitu , hik..hik...hik....
    walau pura-pura kan gak boleh gitu dong
    nadia juga nih , lah ikan udah di lepas kok malah di toel2 lagi

    BalasHapus
    Balasan
    1. itu karena Al adalah cowok berkualitas tinggi, hahaha

      Hapus