Total Tayangan Halaman

Jumat, 30 September 2016

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 83)




Musikal 83

“ Katanya mau Love Musical dulu? Kok tiba-tiba ngajak latihan sama aku sekarang?”
“ Hujan, Nad. Jadi dibatalkan.”
Nadia mengangguk. Kemudian ia pun mengajak Alexi untuk segera berlatih. Tidak seperti kemarin, latihan kali ini justru terasa berat bagi Nadia. Padahal tak ada Wenda yang mengawasi mereka, tapi kenapa Alexi merasa begitu tertekan. Nadia bahkan harus mengingatkan masalah tempo Alexi yang tak beraturan.
“ Berhenti! Aku gak bisa main kalau kamu kayak gini terus.”
Alexi mengusap wajahnya, lalu dengan satu tarikan ia turunkan jari-jarinya melewati rambut.
“ Maaf, Nad.”
“ Ada masalah di sekolah? Ahh, jangan-jangan kamu berantem sama pacarmu ya?”
Alexi menggeleng. Desahan napasnya terdengar berat.
“ Aku seperti sedang melakukan dosa besar dan sekarang aku sedang menerima penghakiman.”
“ Dosa besar?” alis Nadia terangkat. “ Memangnya kamu salah apa, Al?”
Alexi kembali menggeleng, “ Aku juga gak tahu, Nad. Entah kenapa di saat aku harus berada di sisi orang itu, orang itu justru menolakku. Rasanya aku frustasi banget, Nad.”
“ Pacarmu?”
Alexi lagi-lagi hanya menggeleng. Nadia menunggu Alexi kembali mengatakan sesuatu, tapi Alexi justru diam seribu bahasa.
“ Lalu apakah dia adalah gadis yang kamu cari itu?”
Nadia bisa merasakan kalau Alexi meliriknya sesaat. Giliran Nadia yang mendesah berat. Kalau sudah begini jangankan latihan, diajak bicara pun percuma saja. Nadia paham betul sifat si kacamata ini.
Akhirnya, Nadia menyalakan musik dari ponselnya. Sebuah iringan lembut yang ingin mengantarkan siapa pun pendengarnya untuk berdansa.
“ Kamu gak mau berdansa denganku?”
Mood Alexi benar-benar tidak bagus untuk diajak berdansa. Namun, yang terjadi justru sebuah kalimat mantra meluncur bebas dari bibir Alexi.
“ Kamu tahu’kan kalau aku tidak bisa menolakmu.”
Senyum Nadia mengembang. Kalimat itu sudah seperti mantra. Acapkali Nadia meminta sesuatu pada Alexi, laki-laki itu pasti akan merapalkannya.
Alexi memang jarang berdansa, tapi ia mampu membimbing Nadia dalam tariannya. Hanya saja kali ini ia tak bisa menatap langsung mata gadis itu.
“ Kamu cepat bertambah tinggi ya. Sekarang kita hampir sepantaran.”
“ Aku minta maaf soal kebohonganku. Sebenarnya aku menginap di hari Sabtu, bukan Jumat.”
“ Aku mengerti. Pasti karena pacarmu itu’kan?”
Alexi mengangguk kaku.
“ Baguslah kalau begitu. Malam ini kita berdansa saja. Latihannya bisa besok malam, gimana?”
Alexi kembali menatap Nadia sekilas.
“ Kamu tahu’kan kalau aku tidak bisa menolakmu.”
ooOoo
Ririn beruntung karena hujan deras yang kunjung reda sampai sore, latihan mereka untuk hari itu dibatalkan. Dengan begitu ia bisa cepat pulang. Menghabiskan waktu istirahat singkatnya dan mungkin dengan menumpahkan semua kekesalannya hari itu di kamar sendirian.
Benar saja, begitu pipinya menempel di bantal, ia tak bisa mengontrol air matanya. Semua emosinya tertumpah begitu saja. Belum pernah ia menangis sehebat ini.
‘ Jadi, ini yang dinamakan patah hati? Kalau memang sesakit ini lebih baik aku tidak usah jatuh cinta selamanya.’
Mungkin karena terlalu lelah dan banyak berpikir, ia tak sadar kalau sudah jatuh terlelap. Ingatan buruknya mengenai kejadian di sekolah membuatnya kembali memimpikan kejadian itu. Bahkan lebih buruk, di dalam mimpinya ia bertemu Adrian. Di samping laki-laki itu, Fi terlihat menggelayut manja. Dengan sinisnya Adrian mengatakan bahwa ia sekarang sudah berpacaran dengan Fi dan ia meminta pada Ririn agar menjauh selamanya.
Ririn terbangun. Ia menoleh ke sana kemari, seolah-olah mencari kebenaran atas apa yang ia lihat. Ia mendesah lega karena apa yang ia lihat tadi hanya mimpi. Ririn mengusap-usap wajahnya, lalu beranjak meninggalkan ranjang. Ia perhatikan perubahan wajahnya. Matanya sembab dan memerah. Ada pula sisa air mata yang mengering di sekitar pipi. Rambutnya juga awut-awutan.
Ririn mendesah panjang. Sekarang ia baru mengerti kenapa Zainuddin sampai sakit keras ketika ditinggal Hayati menikah. Juga kenapa Syamsuddin rela mati menjual harga dirinya pada Belanda setelah tahu kalau Siti Nurbaya menikah dengan Datuk Maringgih. Semua jawabannya hanya satu, yaitu patah hati.
Sekarang ialah yang berada di posisi orang-orang itu. Patah hati memang menyakitkan. Wajar saja kalau ada yang sampai bunuh diri seperti di berita-berita yang pernah ia anggap picisan.
Bisakah ia bangkit. Entahlah, ia sendiri tak yakin. Satu hal yang ia harus lakukan saat ini, yaitu mandi dan menenangkan pikirannya di dengan air dingin.
Ririn melewatkan sesi makan malamnya dan memilih kembali ke kamar. Nafsu makannya sudah hilang sejak tadi, yang ia butuhkan sekarang adalah ketenangan. Mungkin tidur adalah pilihan terbaik. Sebelum tidur ia meminta agar hari perasaannya lebih baik di hari esok.
Biarlah malam ini menjadi malam yang sangat dingin.

please comment and share

1 komentar:

  1. yup rin , bener itu..
    malah saat patah hati jantung kita itu berhenti berdetak untuk sesat
    *baper*
    sebenernya ririn gak salah sih
    yang salah di price semi-genit itu , kalo ririn tahu dia udah pacaran kan gak bakalan beraksi gitu.

    dan si alexi , hadeh...
    kamu tuh nya patuh nya sama nadia sampe gak bisa nolak apapun gitu
    pengen ier kunyah kacamata kamu wkwkkww

    BalasHapus