Musikal 84
Ririn meniupkan udara ke punggung tangannya. Uap
karbon yang keluar terasa lebih hangat dari biasanya. Pagi ini ia terserang
sakit kepala yang amat sangat. Namun, ia tetap memaksakan diri untuk berangkat
ke sekolah.
‘ Aku tidak boleh jatuh gara-gara kejadian kemarin.
Akan aku buktikkan kalau aku masih bisa berdiri tegap.’
Kenyataan selalu
berbanding terbalik dengan ekspetasi. Saat ia berada di ambang pintu kelas, ia
hampir saja menabrak Alexi yang akan baru masuk kelas. Dengan sigap laki-laki
berkcamata itu menangkap tubuh Ririn yang hampir terjatuh. Menyadari siapa yang
tengah bersamanya, Ririn langsung menjauh seolah-olah Alexi adalah penyakit
yang menular.
“ Maaf… terima
kasih.”
Ririn beringsut
menuju tempat duduknya. Namun, tangan Alexi berhasil menahannya agar tetap
berada tak jauh dari daun pintu.
“ Kamu gak apa-apa?”
“ Aku baik-baik
saja.”
Alexi menggeleng, “
Maksudku kejadian kemarin. Kamu yakin sudah baik-baik saja?”
“ Tentu, lihat saja
sekarang bagaimana keadaanku,” Ririn tersenyum seraya melepaskan tangan Alexi.
“ Kita menghalangi orang masuk, Al.”
Alexi membiarkan
Ririn beranjak duduk di bangku. Ia masih memperhatikan gerakan gadis itu yang
langsung tiduran dengan bantalan tangan. Sayang, perhatiannya teralihkan ketika
Wenda menghampirinya.
“ Al, sore ini kamu
sibuk gak?”
Hampir saja Alexi
mengiyakan pertanyaan Wenda. Untung ia segera ingat akan janji rahasianya
bersama Nadia.
“ Maaf, Wen, tapi aku
ada urusan sedikit.”
Alis Wenda terkunci,
“ Bersama Nadia?”
“ Ahh, tidak. Ke
tempat lain,” Alexi berdeham untuk menyembunyikan rasa gugupnya. Untungnya
Wenda mengangguk percaya dan segera kembali ke tempat duduknya.
“ Rin, aku mau
balikin buku catatan kamu. Makasih ya.”
Perhatian Alexi
kembali tertuju pada si gadis ikal. Gadis itu mengangkat wajahnya, lalu
berbicara dengan senyuman seperti biasanya. Sudah lama ia tak melihat senyuman
itu ketika gadis ini berbicara padanya.
“ Rin, aku boleh
duduk di sebelahmu? Pagi ini pelajaran kimia. Aku agak kurang paham dengan
kimia, makanya aku pengen duduk sebelah kamu biar bisa nanya-nanya.”
Gadis itu
menganggukkan kepala. Dengan perasaan riang, Priyanka segera memindahkan
barang-barangnya di tempat duduk Andani. Alexi tak bisa lebih lama lagi
memerhatikan gadis itu karena guru kimia mereka datang menginterupsi.
Pelajaran kimia yang
menjemukan. Mereka terus-terusan berkutat pada ikatan atom yang tak
berkesudahan. Ririn merasa sakit di kepalanya bertambah. Ia kembali meniupkan
udara di punggung tangannya. Kali ini uap yang terasa lebih panas. Kemudian ia
sentuh keningnya. Rasa panas itu ternyata sudah menjalar sampai sana.
“ Siapa yang bisa
mengerjakan contoh soal ini?”
Seketika semua siswa
mengerutkan badannya. Ada yang pura-pura menulis, ada pula yang sedang
komat-kamit membaca doa agar mereka jadi yang tidak ditunjuk. Mata sang guru
pun tertuju pada Ririn yang terlihat tidak fokus. Gadis ikal itu sudah seperti
ikan kecil yang akan segera dimangsa hiu.
“ Marinda, kamu yang
maju!”
Setengah terkejut,
tapi Ririn tetap menunaikan tugasnya. Untung soal itu tidak terlalu sulit.
Seharusnya jawaban soal itu sudah di luar kepala. Sayang, sakit di kepalanya
membuat konsentrasinya melambat. Untuk menuliskan sebuah lambang atom saja ia
butuh waktu yang lebih lama dari yang seharusnya.
“ Kamu bisa, Rin?”
Rasanya suara itu tak
sampai di telinga Ririn. Bulir-bulir keringat jagung mulai menghiasi kening
Ririn. Tak hanya itu, ia merasa bajunya basah oleh keringat dingin. Ririn
merasa sedang ada yang menyemprotnya dengan air dingin seraya memalunya dengan
gada raksasa.
Spidol yang
dipegangnya terjatuh. Pandangannya mengabur. Selanjutnya ia merasa dihisap oleh
kekuatan gravitasi.
“ Ririn!”
Pekikan Priyanka
adalah hal terakhir yang ia dengar. Selanjutnya semua terasa hampa, yang
tersisa hanya kegelapan yang menutupi pandangannya.
ooOoo
Sayup-sayup terdengar suara kipas angin yang berputar.
Ririn perlahan membuka matanya. Keningnya kini terasa dingin. Tangannya
bergerak menyentuh benda dingin yang tertempel di sana.
‘ Plester kompres demam?’
“ Rin, kamu sudah
bangun?”
Retinanya menangkap
bayangan Priyanka yang mendekatinya. Gadis itu terlihat sangat lega, tapi masih
ada seraut kecemasan di wajahnya.
“ Aku….”
“ Kamu di UKS. Tadi
kamu pingsan, terus dibawa ke sini deh,” Priyanka menyentuh leher Ririn. “
Masih panas, tapi seenggaknya udah gak keringat dingin lagi.”
Akhirnya, Ririn ingat
kejadian yang membawanya kemari. Saat ia mengerjakan soal, tiba-tiba saja
kepalanya terasa pusing. Ia terjatuh dan setelah itu ia tak tahu lagi apa yang
terjadi. Mungkin itu yang dinamakan pingsan karena baru kali ini ia mengalami
kejadian itu.
“ Kata Bu Guru kamu
boleh pulang kalau sudah merasa sehat. Mau aku teleponin atau aku yang antar?”
Menunggu mamanya
menjemput mungkin akan memakan waktu yang lama. Gagasan kedua sepertinya akan
lebih membantu.
“ Apa aku gak
merepotkan kalau aku mintar antar kamu?”
“ Gak masalah kok,”
Priyanka tertawa kecil. “ Lagi pula sekarang pelajaran kimia, sekalian saja aku
membolos.”
Ririn hanya bisa
mendesah panjang.
“ Ya udah, aku ambil
barang-barang kamu, terus ke guru piket minta izin. Sudah itu baru aku antar
kamu. Tunggu sebentar ya.”
Ririn mengedipkan
matanya. Kepalanya masih terlalu pusing untuk digerakkan. Ia mengarahkan
pandangannya ke langit-langit UKS.
Rasanya ia terlalu
lemah karena sudah pingsan di kelas. Baru pagi tadi ia bilang baik-baik saja
dan lihatlah sekarang ia ada di mana. Dengan kesal ia menarik plester kompres
demam yang ada di keningnya. Meski masih lemas, tapi ia masih bisa melumat
benda itu dengan tangannya.
Priyanka kemudian
datang. Gadis itu dengan tenang membantu Ririn berdiri, lalu memapahnya. Ia
bahkan sempat mengeluarkan lelucon tentang berat badan Ririn yang telalu ringan
sehingga dengan mudah ia memapah gadis itu.
Sang mama menyambut
Ririn dengan perasaan cemas. Ia tak langsung dibawa ke dalam rumah, tapi
mamanya langsung membuat gagasan bahwa anaknya dibawa ke dokter saja supaya
mendapatkan penanganan yang tepat.
“ Maaf ya, Ka. Jadi
ngerepotin kamu.”
“ Santai aja, lagian
aku kembali pas jam istirahat nanti. Oh ya, aku balik ke sekolah dulu. Cepat
sembuh ya.”
Mata Ririn berkedip
lemah, “ Makasih ya, Ka.”
ooOoo
Saat Priyanka kembali, ternyata seseorang sudah
menunggunya di tempat parkir. Orang itu langsung mendekati Priyanka begitu ia
mematikan mesin motornya.
“ Ka, bagaimana
keadaannya?”
“ Oh hai, Al.”
Priyanka tak langsung
menjawab. Ia terlebih dulu memarkir motornya, lalu melepas helm. Namun, si
kacamata ini sangat tak sabar.
“ Hei, jawab aku!”
“ Astaga, sabar
kenapa sih?” Priyanka sedikit terkejut dengan sikap panik Alexi. “Dia sampai di
rumah dengan selamat. Sepertinya dia langsung dibawa mamanya ke dokter. Setelah
itu aku tidak tahu lagi.”
Alexi menghembuskan
napas panjang. Namun, tak ada tanda-tanda kelegaan dalam desahannya.
“ Sudah, gak usah
panik begitu. Keadaanya sudah sedikit membaik, apalagi setelah dibawa ke doker
nanti. Aku yakin dia akan bertambah sehat.”
Melihat Alexi yang
masih membisu, Priyanka pun berniat meninggalkan laki-laki itu. Namun,
langkahnya terhenti saat Alexi mengatakan sesuatu.
“ Priyanka, aku bisa
minta tolong?”
Ia membalikkan
badannya. Terlihat Alexi mendekatinya dan berbicara dengan tekanan rendah.
“ Bisa tolong jenguk
dia sepulang sekolah nanti atau sore nanti saja. Tolong tanyakan keadaannya.”
“ Hmm, boleh saja
sih,” Priyanka mengangkat bahunya. “ Tapi kenapa gak tanya sendiri saja.
Bukannya kalian berteman akrab.”
“ Untuk saat ini
sepertinya hubunganku dan dia sedikit bermasalah. Jadi, aku bisa minta tolong
padamu untuk menggantikan aku? Setelah itu kamu kasih tahu aku ya.”
Priyanka tergelitik
untuk bertanya masalah apa yang terjadi antara Alexi dan Ririn, tapi ia segera
menyadari kalau itu bukan ranahnya. Saat ini ia cukup menganggukkan kepalanya
saja.
“ Ahh, terima kasih
ya, Ka.”
Alexi tersenyum
senang. Merasa tak ada urusan lagi, ia pun segera beranjak pergi.
“ Hei, Alexi!”
Kali ini giliran
langkahnya yang terhenti. Saat ia membalikkan tubuhnya, terlihat gadis itu
sedang tersenyum geli.
“ Kupikir kita belum
bertukar nomor telepon.”
ooOoo
“ Maaf ya, aku jadi ganggu kamu. Padahal seharusnya
kamu istirahat sekarang.”
Ririn menggeleng.
Tubuhnya sudah sedikit bertenaga setelah dokter menyuntikkan vitamin.
Sebenarnya ia cukup terkejut dengan kedatangan Priyanka yang tiba-tiba. Meski
begitu ia senang kalau ada yang mau memperhatikannya.
“ Gimana tadi kata
dokter?”
“ Sebenarnya cuma flu
biasa, tapi ternyata aku juga kena anemia dan kurang nutrisi.”
Priyanka berdeham
agar tawanya tak meledak. Penyakit seperti apa itu? Terdengar seperti orang
yang tidak diperhatikan.
“ Tapi bukan itu
penyebab utamanya,” wajah Ririn kembali terlihat lesu. “ Dokter bilang aku
sedang di bawah tekanan.”
Rasa geli itu
seketika lenyap. Saat ini Priyanka dipenuhi rasa prihatin.
“ Love musical?”
“ Tapi bukan itu
pemicunya.”
Kalimat Ririn
terdengar menggantung di telinga Priyanka. Gadis itu hanya menatap Ririn dengan
penuh selidik. Mau tak mau Ririn pun membongkar rahasianya.
“ Kemarin aku melihat
Adrian datang ke sekolah. Aku penasaran kenapa dia datang secepat itu dan aku
pun mengikutinya diam-diam. Ternyata saat itu ia ketemuan dengan Fi. Lalu…”
Kata-kata Ririn
kembali menggantung. Di sisi lain, Priyanka tak sadar kalau napasnya tertahan.
Ia baru ingat kalau hubungan Adrian dan Fi masih dirahasiakan. Ia juga tahu
betapa tidak sukanya Fi terhadap gadis ini, apalagi kalau sudah menyangkut
masalah Adrian.
“ Yaah, aku baru tahu
kalau mereka ternyata pa… pacaran,” Ririn kesulitan mengeluarkan kata
terakhirnya.
‘ Jadi, kata-kata Fi tentang gadis ini benar. Ternyata
Ririn juga menyukai Adrian.’
“ Dan sepertinya Fi
tidak suka kalau Adrian terlalu dekat denganku. Jadinya dia menyuruh Adrian
mengatakan langsung perihal hubungan mereka padaku.”
“ Sudah dia katakan?”
Ririn kembali
menggeleng, “ Aku terlanjur patah hati. Aku berlari sekencang-kencangnya sampai
lupa arah. Tiba-tiba aku sudah kehujanan. Mungkin karena hujan itu aku jadi
kena flu.”
“ Lalu kamu ketemu
Alexi?”
Ririn tersentak, “
Eh, kamu melihatnya?”
“ Hanya menebak saja.
Soalnya kemarin dia juga gak ada di kelas saat kamu gak ada.”
Priyanka bernapas
lega saat melihat Ririn mengangguk percaya.
‘ Jadi, ini alasan si kacamata begitu cemas. Aku tidak
menyangka hubungan mereka bertambah rumit. Semoga Fi tidak terlalu menyakiti
gadis ini.’
Priyanka mengeluarkan
ponselnya. Ia harus mengirimkan pesan untuk seseorang.
please comment and share
Tidak ada komentar:
Posting Komentar