Total Tayangan Halaman

Jumat, 07 Oktober 2016

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 84)




Musikal 84

Ririn meniupkan udara ke punggung tangannya. Uap karbon yang keluar terasa lebih hangat dari biasanya. Pagi ini ia terserang sakit kepala yang amat sangat. Namun, ia tetap memaksakan diri untuk berangkat ke sekolah.
‘ Aku tidak boleh jatuh gara-gara kejadian kemarin. Akan aku buktikkan kalau aku masih bisa berdiri tegap.’
Kenyataan selalu berbanding terbalik dengan ekspetasi. Saat ia berada di ambang pintu kelas, ia hampir saja menabrak Alexi yang akan baru masuk kelas. Dengan sigap laki-laki berkcamata itu menangkap tubuh Ririn yang hampir terjatuh. Menyadari siapa yang tengah bersamanya, Ririn langsung menjauh seolah-olah Alexi adalah penyakit yang menular.
“ Maaf… terima kasih.”
Ririn beringsut menuju tempat duduknya. Namun, tangan Alexi berhasil menahannya agar tetap berada tak jauh dari daun pintu.
“ Kamu gak apa-apa?”
“ Aku baik-baik saja.”
Alexi menggeleng, “ Maksudku kejadian kemarin. Kamu yakin sudah baik-baik saja?”
“ Tentu, lihat saja sekarang bagaimana keadaanku,” Ririn tersenyum seraya melepaskan tangan Alexi. “ Kita menghalangi orang masuk, Al.”
Alexi membiarkan Ririn beranjak duduk di bangku. Ia masih memperhatikan gerakan gadis itu yang langsung tiduran dengan bantalan tangan. Sayang, perhatiannya teralihkan ketika Wenda menghampirinya.
“ Al, sore ini kamu sibuk gak?”
Hampir saja Alexi mengiyakan pertanyaan Wenda. Untung ia segera ingat akan janji rahasianya bersama Nadia.
“ Maaf, Wen, tapi aku ada urusan sedikit.”
Alis Wenda terkunci, “ Bersama Nadia?”
“ Ahh, tidak. Ke tempat lain,” Alexi berdeham untuk menyembunyikan rasa gugupnya. Untungnya Wenda mengangguk percaya dan segera kembali ke tempat duduknya.
“ Rin, aku mau balikin buku catatan kamu. Makasih ya.”
Perhatian Alexi kembali tertuju pada si gadis ikal. Gadis itu mengangkat wajahnya, lalu berbicara dengan senyuman seperti biasanya. Sudah lama ia tak melihat senyuman itu ketika gadis ini berbicara padanya.
“ Rin, aku boleh duduk di sebelahmu? Pagi ini pelajaran kimia. Aku agak kurang paham dengan kimia, makanya aku pengen duduk sebelah kamu biar bisa nanya-nanya.”
Gadis itu menganggukkan kepala. Dengan perasaan riang, Priyanka segera memindahkan barang-barangnya di tempat duduk Andani. Alexi tak bisa lebih lama lagi memerhatikan gadis itu karena guru kimia mereka datang menginterupsi.
Pelajaran kimia yang menjemukan. Mereka terus-terusan berkutat pada ikatan atom yang tak berkesudahan. Ririn merasa sakit di kepalanya bertambah. Ia kembali meniupkan udara di punggung tangannya. Kali ini uap yang terasa lebih panas. Kemudian ia sentuh keningnya. Rasa panas itu ternyata sudah menjalar sampai sana.
“ Siapa yang bisa mengerjakan contoh soal ini?”
Seketika semua siswa mengerutkan badannya. Ada yang pura-pura menulis, ada pula yang sedang komat-kamit membaca doa agar mereka jadi yang tidak ditunjuk. Mata sang guru pun tertuju pada Ririn yang terlihat tidak fokus. Gadis ikal itu sudah seperti ikan kecil yang akan segera dimangsa hiu.
“ Marinda, kamu yang maju!”
Setengah terkejut, tapi Ririn tetap menunaikan tugasnya. Untung soal itu tidak terlalu sulit. Seharusnya jawaban soal itu sudah di luar kepala. Sayang, sakit di kepalanya membuat konsentrasinya melambat. Untuk menuliskan sebuah lambang atom saja ia butuh waktu yang lebih lama dari yang seharusnya.
“ Kamu bisa, Rin?”
Rasanya suara itu tak sampai di telinga Ririn. Bulir-bulir keringat jagung mulai menghiasi kening Ririn. Tak hanya itu, ia merasa bajunya basah oleh keringat dingin. Ririn merasa sedang ada yang menyemprotnya dengan air dingin seraya memalunya dengan gada raksasa.
Spidol yang dipegangnya terjatuh. Pandangannya mengabur. Selanjutnya ia merasa dihisap oleh kekuatan gravitasi.
“ Ririn!”
Pekikan Priyanka adalah hal terakhir yang ia dengar. Selanjutnya semua terasa hampa, yang tersisa hanya kegelapan yang menutupi pandangannya.

ooOoo
Sayup-sayup terdengar suara kipas angin yang berputar. Ririn perlahan membuka matanya. Keningnya kini terasa dingin. Tangannya bergerak menyentuh benda dingin yang tertempel di sana.
‘ Plester kompres demam?’
“ Rin, kamu sudah bangun?”
Retinanya menangkap bayangan Priyanka yang mendekatinya. Gadis itu terlihat sangat lega, tapi masih ada seraut kecemasan di wajahnya.
“ Aku….”
“ Kamu di UKS. Tadi kamu pingsan, terus dibawa ke sini deh,” Priyanka menyentuh leher Ririn. “ Masih panas, tapi seenggaknya udah gak keringat dingin lagi.”
Akhirnya, Ririn ingat kejadian yang membawanya kemari. Saat ia mengerjakan soal, tiba-tiba saja kepalanya terasa pusing. Ia terjatuh dan setelah itu ia tak tahu lagi apa yang terjadi. Mungkin itu yang dinamakan pingsan karena baru kali ini ia mengalami kejadian itu.
“ Kata Bu Guru kamu boleh pulang kalau sudah merasa sehat. Mau aku teleponin atau aku yang antar?”
Menunggu mamanya menjemput mungkin akan memakan waktu yang lama. Gagasan kedua sepertinya akan lebih membantu.
“ Apa aku gak merepotkan kalau aku mintar antar kamu?”
“ Gak masalah kok,” Priyanka tertawa kecil. “ Lagi pula sekarang pelajaran kimia, sekalian saja aku membolos.”
Ririn hanya bisa mendesah panjang.
“ Ya udah, aku ambil barang-barang kamu, terus ke guru piket minta izin. Sudah itu baru aku antar kamu. Tunggu sebentar ya.”
Ririn mengedipkan matanya. Kepalanya masih terlalu pusing untuk digerakkan. Ia mengarahkan pandangannya ke langit-langit UKS.
Rasanya ia terlalu lemah karena sudah pingsan di kelas. Baru pagi tadi ia bilang baik-baik saja dan lihatlah sekarang ia ada di mana. Dengan kesal ia menarik plester kompres demam yang ada di keningnya. Meski masih lemas, tapi ia masih bisa melumat benda itu dengan tangannya.
Priyanka kemudian datang. Gadis itu dengan tenang membantu Ririn berdiri, lalu memapahnya. Ia bahkan sempat mengeluarkan lelucon tentang berat badan Ririn yang telalu ringan sehingga dengan mudah ia memapah gadis itu.
Sang mama menyambut Ririn dengan perasaan cemas. Ia tak langsung dibawa ke dalam rumah, tapi mamanya langsung membuat gagasan bahwa anaknya dibawa ke dokter saja supaya mendapatkan penanganan yang tepat.
“ Maaf ya, Ka. Jadi ngerepotin kamu.”
“ Santai aja, lagian aku kembali pas jam istirahat nanti. Oh ya, aku balik ke sekolah dulu. Cepat sembuh ya.”
Mata Ririn berkedip lemah, “ Makasih ya, Ka.”
ooOoo
Saat Priyanka kembali, ternyata seseorang sudah menunggunya di tempat parkir. Orang itu langsung mendekati Priyanka begitu ia mematikan mesin motornya.
“ Ka, bagaimana keadaannya?”
“ Oh hai, Al.”
Priyanka tak langsung menjawab. Ia terlebih dulu memarkir motornya, lalu melepas helm. Namun, si kacamata ini sangat tak sabar.
“ Hei, jawab aku!”
“ Astaga, sabar kenapa sih?” Priyanka sedikit terkejut dengan sikap panik Alexi. “Dia sampai di rumah dengan selamat. Sepertinya dia langsung dibawa mamanya ke dokter. Setelah itu aku tidak tahu lagi.”
Alexi menghembuskan napas panjang. Namun, tak ada tanda-tanda kelegaan dalam desahannya.
“ Sudah, gak usah panik begitu. Keadaanya sudah sedikit membaik, apalagi setelah dibawa ke doker nanti. Aku yakin dia akan bertambah sehat.”
Melihat Alexi yang masih membisu, Priyanka pun berniat meninggalkan laki-laki itu. Namun, langkahnya terhenti saat Alexi mengatakan sesuatu.
“ Priyanka, aku bisa minta tolong?”
Ia membalikkan badannya. Terlihat Alexi mendekatinya dan berbicara dengan tekanan rendah.
“ Bisa tolong jenguk dia sepulang sekolah nanti atau sore nanti saja. Tolong tanyakan keadaannya.”
“ Hmm, boleh saja sih,” Priyanka mengangkat bahunya. “ Tapi kenapa gak tanya sendiri saja. Bukannya kalian berteman akrab.”
“ Untuk saat ini sepertinya hubunganku dan dia sedikit bermasalah. Jadi, aku bisa minta tolong padamu untuk menggantikan aku? Setelah itu kamu kasih tahu aku ya.”
Priyanka tergelitik untuk bertanya masalah apa yang terjadi antara Alexi dan Ririn, tapi ia segera menyadari kalau itu bukan ranahnya. Saat ini ia cukup menganggukkan kepalanya saja.
“ Ahh, terima kasih ya, Ka.”
Alexi tersenyum senang. Merasa tak ada urusan lagi, ia pun segera beranjak pergi.
“ Hei, Alexi!”
Kali ini giliran langkahnya yang terhenti. Saat ia membalikkan tubuhnya, terlihat gadis itu sedang tersenyum geli.
“ Kupikir kita belum bertukar nomor telepon.”
ooOoo
“ Maaf ya, aku jadi ganggu kamu. Padahal seharusnya kamu istirahat sekarang.”
Ririn menggeleng. Tubuhnya sudah sedikit bertenaga setelah dokter menyuntikkan vitamin. Sebenarnya ia cukup terkejut dengan kedatangan Priyanka yang tiba-tiba. Meski begitu ia senang kalau ada yang mau memperhatikannya.
“ Gimana tadi kata dokter?”
“ Sebenarnya cuma flu biasa, tapi ternyata aku juga kena anemia dan kurang nutrisi.”
Priyanka berdeham agar tawanya tak meledak. Penyakit seperti apa itu? Terdengar seperti orang yang tidak diperhatikan.
“ Tapi bukan itu penyebab utamanya,” wajah Ririn kembali terlihat lesu. “ Dokter bilang aku sedang di bawah tekanan.”
Rasa geli itu seketika lenyap. Saat ini Priyanka dipenuhi rasa prihatin.
Love musical?”
“ Tapi bukan itu pemicunya.”
Kalimat Ririn terdengar menggantung di telinga Priyanka. Gadis itu hanya menatap Ririn dengan penuh selidik. Mau tak mau Ririn pun membongkar rahasianya.
“ Kemarin aku melihat Adrian datang ke sekolah. Aku penasaran kenapa dia datang secepat itu dan aku pun mengikutinya diam-diam. Ternyata saat itu ia ketemuan dengan Fi. Lalu…”
Kata-kata Ririn kembali menggantung. Di sisi lain, Priyanka tak sadar kalau napasnya tertahan. Ia baru ingat kalau hubungan Adrian dan Fi masih dirahasiakan. Ia juga tahu betapa tidak sukanya Fi terhadap gadis ini, apalagi kalau sudah menyangkut masalah Adrian.
“ Yaah, aku baru tahu kalau mereka ternyata pa… pacaran,” Ririn kesulitan mengeluarkan kata terakhirnya.
‘ Jadi, kata-kata Fi tentang gadis ini benar. Ternyata Ririn juga menyukai Adrian.’
“ Dan sepertinya Fi tidak suka kalau Adrian terlalu dekat denganku. Jadinya dia menyuruh Adrian mengatakan langsung perihal hubungan mereka padaku.”
“ Sudah dia katakan?”
Ririn kembali menggeleng, “ Aku terlanjur patah hati. Aku berlari sekencang-kencangnya sampai lupa arah. Tiba-tiba aku sudah kehujanan. Mungkin karena hujan itu aku jadi kena flu.”
“ Lalu kamu ketemu Alexi?”
Ririn tersentak, “ Eh, kamu melihatnya?”
“ Hanya menebak saja. Soalnya kemarin dia juga gak ada di kelas saat kamu gak ada.”
Priyanka bernapas lega saat melihat Ririn mengangguk percaya.
‘ Jadi, ini alasan si kacamata begitu cemas. Aku tidak menyangka hubungan mereka bertambah rumit. Semoga Fi tidak terlalu menyakiti gadis ini.’
Priyanka mengeluarkan ponselnya. Ia harus mengirimkan pesan untuk seseorang.
  
please comment and share

Tidak ada komentar:

Posting Komentar