Musikal 95
Hari Kamis. Hari latihan di pertengahan minggu. Semua
anggota LM sudah mempersiapkan diri ketika bel pulang berdering.
“ Kamu ikut latihan,
Rin?” sapa Priyaka.
Ririn mengangguk, “
Tapi mungkin gak total. Soalnya suaraku masih parau.”
“ Ohh, gitu. Ya udah,
kita barengan ke sana yuk.”
Keduanya berbarengan
menuju gedung teater. Suasana masih terlihat sepi. Tampaknya para pelatih
mereka belum ada yang datang. Meski begitu sosok Adrian sudah terlihat stand by di sana.
Napas Ririn tertahan
saat matanya saling bertatapan dengan Adrian. Ia sudah tahu kalau hari ini akan
segera terjadi, tapi entah kenapa ia masih belum siap. Adrian berjalan
mendekatinya. Semakin dekat langkah laki-laki itu, debaran jantungnya semakin
kuat. Baru kali ini ia memalingkan wajahnya ketika mereka saling berhadapan.
“ Apa kabar? Sudah
sembuh?”
Ririn mengangguk
kaku.
“ Masih ada waktu
sebelum latihan. Aku mau bicara empat mata sama kamu, boleh?”
Ririn kembali
mengangguk. Ia tersenyum pada Priyanka yang terlihat khawatir padanya. Kemudian
ia mengikuti kemana Adrian mengajaknya. Untungnya Adrian mengajaknya ke
belakang gedung teater, dengan begitu ia bisa menghindari teman-temannya yang
baru datang. Ia juga tak mau kekalahannya terlihat lebih dulu oleh Fi.
Suasana di belakang
gedung terasa sangat sunyi. Terakhir kali Ririn ke tempat ini adalah ketika
Hasegawa bersaudara itu mengajaknya pergi diam-diam menjenguk Andani. Tempat
yang sangat sepi seperti ini memang cocok untuk dijadikan tempat kabur. Namun,
suasana sepi itu justru terasa membunuhnya. Lebih-lebih setibanya di sana
Adrian belum mengeluarkan sepatah kata pun. Dadanya seakan mau meledak karena
tak sanggup menahan debaran jantungnya yang semakin menguat.
“ Sebelumnya aku mau
minta maaf karena kata-kataku nanti pasti akan menyakitimu.”
Pembukaan yang
dilontarkan Adrian dengan hati-hati malah terdengar seperti pedang yang baru
dicabut dari sarungnya. Kemudian pedang itu akan segera menikam ulu hati Ririn.
Ya, kalimat selanjutnya pasti akan membuat Ririn patah hati.
“ Aku mau kasih tahu
kamu kalau… kalau… kalau aku dan Fi sebenarnya sudah berpacaran.”
Pedang itu sudah
menancap di perutnya.
“ Dan meski aku tidak
setuju, tapi sepertinya Fi tidak terlalu menyukai kedekatan kita. Makanya
kupikir kita tidak usah sedekat ini lagi.”
Kemudian pedang itu
semakin ditekan ke dalam.
“ Lupakan saja
hubungan kakak-adik di antara kita. Anggap saja kita adalah dua aktor yang
hanya berhubungan di atas panggung.”
Lalu digeser paksa
sampai terlepas.
“ Maafkan aku. Jujur
aku benar-benar benci mengatakan ini, tapi aku juga tidak mau kehilangan Fi.
Dia terlalu berharga untukku.”
Selesai sudah.
Sekarang pedang itu berhasil mengoyak-ngoyakkan seluruh tubuhnya. Isi perutnya
tercerai berai. Perih, perih sekali. Terlalu perih sampai-sampai Ririn lupa
caranya mengaduh atau menangis.
“ Kamu baik-baik
saja?”
Ririn hanya
mengangguk pelan.
Adrian mendesah
panjang, “ Bicaralah. Kumohon bicaralah apa saja. Kamu boleh marah atau
menangis, tapi jangan hukum aku dengan kebisuanmu ini.”
Ririn memberanikan
dirinya untuk membalas tatapan Adrian. Wajah laki-laki itu terlihat sangat
cemas. Jujur saja kalau melihat wajah Adrian yang seperti itu Ririn jadi ingin
menangis.
“ Aku takut… aku
takut kalau apa yang akan aku katakan nanti akan balas menyakitimu.”
“ Tidak masalah. Aku
sudah menyiapkan diriku.”
Ririn menghela napas
berat, “ Aku juga tidak suka kalau keakraban kita berubah menjadi hubungan
antara dua orang yang tak saling kenal. Fi memang berlebihan, tapi kecemasannya
mungkin memang benar.
“ Aku memang suka
kamu.”
Sepertinya Adrian
tidak menyiapkan diri untuk kalimat terakhir Ririn. Ia tampak terkejut dengan
pengakuan gadis itu. Sebaliknya, gadis itu justru tersenyum tegar.
“ Tapi kamu dan Fi
tenang saja. Aku cuma menyampaikan apa yang aku rasakan. Sesak rasanya kalau
aku harus memendamnya terus. Sudah lama aku ingin mengatakannya, tapi
sepertinya tidak ada waktu yang tepat. Kupikir sebelum kita benar-benar menjadi
dua orang yang saling tidak kenal, aku harus mengatakan ini.”
Wajah Adrian berubah
kaku.
“ Sudah kubilang kamu
tidak usah khawatir,” ujar Ririn dengan datar. “ Dan katakan juga pada Fi, aku
hanya mengatakannya saja. Aku tidak akan berniat untuk merebutmu atau apalah
itu. Hanya itu.”
Angin siang itu
berhembus cukup kencang. Daun-daun kering yang berserakan menari bebas di
udara. Begitu pula dengan apa yang Ririn rasakan. Perasaan perih tadi berubah
menjadi kehampaan. Tiupan angin itu berhasil membuat semua perasaannya yang
hampir bersemi menjadi gugur. Gugur sebelum berkembang.
“ Kita harus kembali.
Latihan sudah mau dimulai.”
Itulah kata-kata
terakhir Ririn yangia katakan di bawah panggung. Ia sebenarnya masih ingin
menghabiskan waktu untuk menatap wajah sang pangeran. Namun, ia segera sadar.
Ia bukan seorang putri impian sang pangeran. Ia bahkan seorang putri. Ia hanya
hanya orang biasa yang berharap diundang masuk ke dalam istana. Sayang, sebelum
pestan dansa dimulai ia sudah dilarang datan.
Ironi.
ooOoo
Latihan kali ini benar-benar menjemukan. Selain karena
karena peristiwa sebelumnya, Ririn juga masih belum diperbolehkan latihan. Ia
hanya bisa duduk di kuris penonton, melihat teman-temannya beraksi di atas
sana. Bukan tanpa alasan, tapi Dave belum memperbolehkannya latihan karena
suaranya Ririn masih sangat parau. Kalau dipaksakan bisa-bisa itu akan melukai
tenggorokannya.
Ririn pulang dengan
perasaan yang begitu melelahkan. Lebih lelah daripada saat ia pertama kali
latihan Love Musical. Selesai makan
malam ia memilih untuk melepas lelah dengan menikmati segelas cokelat hangat di
atas balkon.
“ Patah hati, Bu?”
Ririn melempar
lirikan sebal pada Dave yang datang menghampirinya. Oom-nya itu seperti tidak
senang kalau sehari saja tidak menggoda orang. Pantas saja Tifa sering sebal
dengan laki-laki ini.
“ Cieee, beneran
patah hati nih?”
“ Aku lagi gak mau
diganggu, Om.”
“ Jiaah, gaya anak
jaman sekarang,” Dave terkekeh. “ Sama siapa sih? Kasih tahu Om, dong.”
Bibir Ririn
mengerucut, “ Gak mau!”
Dave memperhatikan
air muka keponakannya. Kemudian seringai jahil muncul di wajahnya.
“ Let me guess. Sama si Adrian itu yah?”
Ririn terkesiap.
Kepalanya berputar cepat menatap Dave. Namun, tawa Dave justru meledak.
“ Whoops, Om cuma
nebak aja. Habisnya tadi Om lihat kamu dari suatu tempat sama tuh cowok dan
setelah itu Om perhatikan wajah kamu kayak murung gitu. Om pikir kamu patah
hati sama dia.”
Mulut Ririn masih
membisu.
“ Udah deh, ngaku aja
kenapa. Toh, kamu bukan orang pertama
yang patah hati sama keturunan Kusuma Ningsih itu.”
Ririn kembali melirik
Oom-nya.
“ Papamu dan Om juga
korbannya. Kayaknya keluarga kita emang gak bakal cocok sama keluarga itu.”
Alis Ririn terangkat
sebelah, “ Om juga? Sama siapa?”
“ Siapa lagi kalau
bukan dengan sutradaramu itu.”
Ririn terperanjat, “
Eh, Om mantannya Miss Tifa? Kapan?
Kok Om gak pernah cerita?”
Seringai usil itu
kembali menghiasi wajah Dave, “ Wah, wah, wah, lihat siapa yang want to know?”
“ Ihh, ya udah kalau
gak mau kasih tahu,” Ririn kembali merajuk.
Dave tertawa, “ Yaah,
kami pacaran waktu SMA. Ketika sama-sama jadi anggota Love Musical. Sama seperti waktu papamu pacaran dengan mamanya
Adrian.”
“ Terus kalian putus
dengan cara yang sama pula?”
“ Nggak. Kalau papamu
putus karena LDR. Mereka pisah karena mamanya Adrian keluar kota dan karena
waktu itu alat komunikasi gak secanggih sekarang, akhirnya mereka memutuskan
pisah.”
Tawa Dave lenyap,
lalu terdengar tarikan napas yang berat.
“ Tapi kalau Om pisah
karena ada kejadian yang kurang mengenakkan waktu. Dan itu berhubungan dengan
Adrian dan juga mamanya.”
Ririn menatap oom-nya
dengan penuh tanda tanya.
“ Kamu tahu kalau
mamanya Adrian sudah meninggal?”
Ririn mengangguk, “
Tapi aku gak tahu meninggalnya kenapa.”
“ Nah, itulah
masalahnya,” Dave menarik napas panjang. “ Dengar, Rin. Om akan cerita, tapi
kamu rahasiakan ini. Cerita ini tidak hanya menjadi masa kelam keluarga mereka,
tapi juga semua rekan-rekan Love Musical
angkatan Om.”
Napas Ririn setengah
tertahan. Entah kenapa jawaban Dave membuat bulu kuduknya merinding.
“ Semua orang tahu
kalau Kak Laksmi, mamanya Adrian adalah aktris tercantik dengan kemampuan
akting yang hebat sepanjang sejarah Love
Musical. Dan Tifa, meski dia tak berbakat akting, tapi ternyata
kemampuannya menyutradarai patut diacungi jempol. Mereka berdua bercita-cita
menjadi bagian dari pementasan di Broadway. Sayang, karir Kak Laksmi terhenti
lantaran dia menikah dan langsung punya anak. Meski begitu, itu tak menyurutkan
semangat Tifa untuk mengejar mimpinya.
“ Tapi yang membuat
semua keadaan menjadi buruk adalah kematian Kak Laksmi. Bukan hanya sekadar
meninggal, tapi dia meninggal dengan cara yang tak wajar.”
“ Ma—maksud, Om?”
Dave memejamkan
matanya sejenak. Ada sekelebat kenangan buruk melintas di benaknya.
“ Dia ditemukan tewas
gantung diri di kamarnya.”
Ririn kaget bukan
kepalang. Hampir saja ia berteriak takut.
“ Hasil penyelidikan
menyatakan bahwa itu adalah bunuh diri murni. Tidak ada bukti kekerasan lain.
Kak Laksmi memang meninggal karena kehabisan napas akibat jeratan tali.
“ Masalah terus
bergulir. Setelah kematian Kak Laksmi, ayahnya Tifa juga menyusul. Keluarga
mereka benar-benar berkabung dan sejak saat itu Tifa mulai menunjukkan
perubahannya. Tifa yang dulunya ceria berubah jadi pemurung. Ia menjadi
tertutup dan mulai menunjukkan ketidaktertarikan pada Love Musical atau dunia panggung. Tifa juga memutuskan hubungan
kami tanpa alasan yang jelas dan setelah itu, dia berserta Adrian dan Ibunya
pindah. Tak ada yang tahu ia pindah kemana, tiba-tiba setelah beberapa tahun
berlalu terdengar kabar kalau dia sudah ada di Broadway dengan pementasan yang
megah.”
Hening tiba-tiba
mengelilingi keduanya. Ada perasaan takut, kaget, bercampur sedih saat ia
mendengar cerita Dave. Ternyata di balik wajah tampan Adrian serta kesuksesan
Tifa ada cerita menyedihkan melatarbelakanginya.
“ Ngomong-ngomong
sudah sejauh mana hubungan kalian?” Dave sengaja membelokkan pembicaraan.
Kenangan masa lalunya membuat trauma tersendiri dan Dave ingin melupakan itu.
“ Ti—tidak seperti
yang Om pikirkan,” Ririn kaget karena tiba-tiba oom-nya menanyakan hal yang
aneh. “ Aku bahkan belum sempat menyatakan perasaan dan dia sudah menolakku.”
Dave tertawa sinis, “
Baguslah, setidaknya kamu belum merasakan pahitnya berpacaran.”
“ Idih, apa enaknya?
Masa udah ditolak duluan. Om sih
enak, masih sempat nyicip masa-masa indah sama Miss Tifa.”
“ Dengar, Rin. Om
katakan kamu benar-benar beruntung. Kamu tidak terkena kutukan itu.”
Ririn mengusap
tengkuknya, “ Om ini bicara apa sih? Tadi cerita orang bunuh diri, sekarang
malah ngomong kutukan. Bikin horor tahu!”
“ Jadi, gak ada yang
cerita soal kutukan Love Musical?”
“ Kutukan? Memangnya Love Musical itu dikutuk gimana?”
“ Bukan kutukan juga
sih, tapi memang terjadi turun-menurun,” Dave terkekeh. “Yaah, ada kabar yang
beredar kalau sesama anggota Love Musical
itu dilarang berpacaran dengan aktor atau aktris utama. Entah kenapa kalau
ada anggota yang berpacaran dengan pemeran utama pasti kisah cintanya bakal
berakhir menyedihkan.”
“ Masa sih? Cuma
rumor kali, Om.”
Dave menatap Ririn
dengan tatapan serius, “ Kak Laksmi dan Om adalah pemeran utama. Menurutmu itu
cuma rumor?”
Jari-jari Ririn
terasa membeku. Ia lupa kalau jemarinya sedang memeluk cangkir yang berisi
minuman beruap panas. Cerita Dave benar-benar membuat suasana menjadi
benar-benar menakutkan.
ooOoo
Awalnya Adrian menyesal telah menuruti kemauan Fi. Ia
tak mau menyakiti si gadis ikal itu. Namun, ia justru menjadi kacau setelah
Ririn mengatakan perasaannya. Harusnya ia lega karena telah menyingkirkan gadis
itu sebelum perasaan gadis itu semakin berkembang, tapi yang terjadi justru
sebaliknya.
Apakah ini artinya ia
juga memiliki perasaan pada gadis itu?
Pikiran itu berkelebat di kepalanya. Untung
saja Adrian masih bisa berkonsentrasi penuh pada mobil yang ia kendarai. Namun,
pikirannya tersita ketika sampai di rumahnya. Ada sebuah mobil yang tak ia
kenal terparkir di depan halaman rumahnya. Adrian tak melihat jelas wajah orang
itu, tapi ia bisa menebak kalau orang yang sedang duduk di terasnya itu adalah
laki-laki. Ia sedang berbicara dengan neneknya.
Adrian merasa cukup
aneh dengan tamu itu. Entah kenapa neneknya tak menyuruh tamu itu masuk.
Padahal biasanya nenek begitu ramah dengan tamu. Begitu Adrian menapakkan
kakiknya di teras rumah, barulah ia tahu alasan neneknya tak mempersilahkan
tamu itu masuk.
Tamu itu adalah
ayahnya.
Tak ada senyuman
apalagi pelukan hangat. Wajah Adrian langsung berubah dingin. Ia menyambut
kedatangan ayahnya dengan sikap mengusir.
“ Masuk sebentar,
Adrian. Ada yang mau Nenek bicarakan.”
Adrian langsung masuk
tanpa memedulikan ayahnya yang berusaha menyapa. Ia mengikuti neneknya masuk ke
dapur.
“ Ada apa, Nek?
Kenapa tiba-tiba Papa ada di sini?”
“ Dia hanya mau
bertemu denganmu. Mungkin berbicara sedikit. Sudah lama kalian tidak bertemu,
bukan?”
Adrian mendengus
kesal, “ Bukannya Nenek sudah tahu kalau aku gak mau ketemu Papa. Kenapa Nenek
mau aku ketemu Papa sekarang? Nek, kalau sampai Tante tahu, dia bisa marah
besar.”
“ Ini rumah Nenek,
bukan rumah Tantemu. Nenek punya kebijakan sendiri pada siapa saja yang datang
ke rumah ini.”
July bisa merasakan
getaran amarah dari cucunya. Ia sudah memprediksi bagaimana reaksi Adrian bila bertemu
dengan ayahnya.
“ Nenek juga masih
sulit melupakan perbuatan Papamu, tapi Nenek ini sudah tua. Nenek tidak seperti
Tantemu yang masih penuh gejolak emosi. Nenek tidak bisa melupakan bagaimana
kepergian Mamamu, tapi Nenek mencoba untuk memaafkan Papamu. Bermusuhan
dengannya sepanjang hidup Nenek, tidak akan membuat Mamamu hidup kembali.”
Adrian memalingkan
wajahnya. July pun mendesah panjang.
“ Sekarang terserah
kamu saja. Temui dia atau tutup pintunya jika kamu menolak. Nenek tidak akan
melarangmu,” July pun beranjak pergi, tapi langkahnya terhenti, lalu ia
berbalik. “ Satu hal lagi. Belajarlah untuk memaafkan. Jangan terlalu
terprovokasi oleh Tantemu.”
July pun menuju
kamarnya. Sekarang tinggal Adrian sendiri di dapur. Di dalam kegamangannya, ia
memikirkan nasihat singkat neneknya. Namun, nasihat itu langsung terbakar
dengan kata-kata Tifa yang pernah lontarkan. Akal sehatnya saling berlawanan.
Ia tak tahu pilihan mana yang membawanya pada kebenaran.
‘ Papamu itu pembunuh, Adrian…’
‘….. Belajarlah untuk memaafkan. Jangan terlalu
terprovokasi oleh Tantemu.’
Adrian tak tahu
kekuatan apa yang menggerakan kakinya hingga ia melangkah untuk menemui
papanya. Laki-laki itu tersenyum lebar saat Adrian berbesar hati menemuinya.
“ Apa kabar, Nak?
Bagaimana kegiatanmu sekarang?”
“ Kita sudah lama
tidak saling bertemu. Tolong jangan bersikap akrab seperti itu.”
Kata-kata Adrian
seperti memberikan pukulan telak di wajah papanya. Ekspresi laki-laki itu
langsung berubah maklum. Sepertinya karang besar di hati Adrian belum bisa ia
runtuhkan.
“ Sebenanrya Papa
ingin mengajakmu makan siang bersama. Seperti yang kamu bilang, kita sudah lama
tidak saling bertemu dan Papa ingin mengobrol panjang denganmu.”
Adrian berdeham, “
Mungkin akan kupertimbangkan nanti.”
Laki-laki itu menarik
napas panjang, “ Begini Adrian, Papa tahu ini sangat berlebihan, tapi Papa
ingin kamu bertemu dengan keluarga Papa yang baru. Bagaimana pun juga kamu juga
bagian dari kami.”
“ Apa menurut Papa
aku akan menerima permintaan sinting itu?” tanya Adrian sinis.
“ Adrian, bukan
begitu. Papa dan keluarga Papa hanya ingin meminta maaf padamu. Kami semua menyesal
dengan apa yang terjadi 13 tahun lalu.”
Rahang Adrian
mengeras. Andai Tifa ada di sini mungkin keadaan menjadi lebih mudah. Dengan
senang hati tantenya itu langsung mengusir pria ini.
“ Akan kupikirkan
nanti. Sekarang sudah malam, aku mau istirahat.”
“ Ah ya, baiklah.
Maaf mengganggu waktumu Adrian, tapi Papa harap kamu mempertimbangkan
permintaan Papa tadi. Kalau begitu Papa pamit. Salam buat Nenekmu.”
Adrian merasa dirinya
terlalu lelah berpikir hari ini. Banyak hal yang membuat hatinya lelah. Mulai
dari permasalahannya dengan Ririn, disusul Papanya pula. Rasanya ia ingin
langsung membenamkan dirinya di kasur. Tanpa repot-repot mengantar, Adrian langsung
menutup pintu bahkan sebelum papanya beranjak dari kursi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar