Total Tayangan Halaman

Jumat, 04 November 2016

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 95)




Musikal 95

Hari Kamis. Hari latihan di pertengahan minggu. Semua anggota LM sudah mempersiapkan diri ketika bel pulang berdering.
“ Kamu ikut latihan, Rin?” sapa Priyaka.
Ririn mengangguk, “ Tapi mungkin gak total. Soalnya suaraku masih parau.”
“ Ohh, gitu. Ya udah, kita barengan ke sana yuk.”
Keduanya berbarengan menuju gedung teater. Suasana masih terlihat sepi. Tampaknya para pelatih mereka belum ada yang datang. Meski begitu sosok Adrian sudah terlihat stand by di sana.
Napas Ririn tertahan saat matanya saling bertatapan dengan Adrian. Ia sudah tahu kalau hari ini akan segera terjadi, tapi entah kenapa ia masih belum siap. Adrian berjalan mendekatinya. Semakin dekat langkah laki-laki itu, debaran jantungnya semakin kuat. Baru kali ini ia memalingkan wajahnya ketika mereka saling berhadapan.
“ Apa kabar? Sudah sembuh?”
Ririn mengangguk kaku.
“ Masih ada waktu sebelum latihan. Aku mau bicara empat mata sama kamu, boleh?”
Ririn kembali mengangguk. Ia tersenyum pada Priyanka yang terlihat khawatir padanya. Kemudian ia mengikuti kemana Adrian mengajaknya. Untungnya Adrian mengajaknya ke belakang gedung teater, dengan begitu ia bisa menghindari teman-temannya yang baru datang. Ia juga tak mau kekalahannya terlihat lebih dulu oleh Fi.
Suasana di belakang gedung terasa sangat sunyi. Terakhir kali Ririn ke tempat ini adalah ketika Hasegawa bersaudara itu mengajaknya pergi diam-diam menjenguk Andani. Tempat yang sangat sepi seperti ini memang cocok untuk dijadikan tempat kabur. Namun, suasana sepi itu justru terasa membunuhnya. Lebih-lebih setibanya di sana Adrian belum mengeluarkan sepatah kata pun. Dadanya seakan mau meledak karena tak sanggup menahan debaran jantungnya yang semakin menguat.
“ Sebelumnya aku mau minta maaf karena kata-kataku nanti pasti akan menyakitimu.”
Pembukaan yang dilontarkan Adrian dengan hati-hati malah terdengar seperti pedang yang baru dicabut dari sarungnya. Kemudian pedang itu akan segera menikam ulu hati Ririn. Ya, kalimat selanjutnya pasti akan membuat Ririn patah hati.
“ Aku mau kasih tahu kamu kalau… kalau… kalau aku dan Fi sebenarnya sudah berpacaran.”
Pedang itu sudah menancap di perutnya.
“ Dan meski aku tidak setuju, tapi sepertinya Fi tidak terlalu menyukai kedekatan kita. Makanya kupikir kita tidak usah sedekat ini lagi.”
Kemudian pedang itu semakin ditekan ke dalam.
“ Lupakan saja hubungan kakak-adik di antara kita. Anggap saja kita adalah dua aktor yang hanya berhubungan di atas panggung.”
Lalu digeser paksa sampai terlepas.
“ Maafkan aku. Jujur aku benar-benar benci mengatakan ini, tapi aku juga tidak mau kehilangan Fi. Dia terlalu berharga untukku.”
Selesai sudah. Sekarang pedang itu berhasil mengoyak-ngoyakkan seluruh tubuhnya. Isi perutnya tercerai berai. Perih, perih sekali. Terlalu perih sampai-sampai Ririn lupa caranya mengaduh atau menangis.
“ Kamu baik-baik saja?”
Ririn hanya mengangguk pelan.
Adrian mendesah panjang, “ Bicaralah. Kumohon bicaralah apa saja. Kamu boleh marah atau menangis, tapi jangan hukum aku dengan kebisuanmu ini.”
Ririn memberanikan dirinya untuk membalas tatapan Adrian. Wajah laki-laki itu terlihat sangat cemas. Jujur saja kalau melihat wajah Adrian yang seperti itu Ririn jadi ingin menangis.
“ Aku takut… aku takut kalau apa yang akan aku katakan nanti akan balas menyakitimu.”
“ Tidak masalah. Aku sudah menyiapkan diriku.”
Ririn menghela napas berat, “ Aku juga tidak suka kalau keakraban kita berubah menjadi hubungan antara dua orang yang tak saling kenal. Fi memang berlebihan, tapi kecemasannya mungkin memang benar.
“ Aku memang suka kamu.”
Sepertinya Adrian tidak menyiapkan diri untuk kalimat terakhir Ririn. Ia tampak terkejut dengan pengakuan gadis itu. Sebaliknya, gadis itu justru tersenyum tegar.
“ Tapi kamu dan Fi tenang saja. Aku cuma menyampaikan apa yang aku rasakan. Sesak rasanya kalau aku harus memendamnya terus. Sudah lama aku ingin mengatakannya, tapi sepertinya tidak ada waktu yang tepat. Kupikir sebelum kita benar-benar menjadi dua orang yang saling tidak kenal, aku harus mengatakan ini.”
Wajah Adrian berubah kaku.
“ Sudah kubilang kamu tidak usah khawatir,” ujar Ririn dengan datar. “ Dan katakan juga pada Fi, aku hanya mengatakannya saja. Aku tidak akan berniat untuk merebutmu atau apalah itu. Hanya itu.”
Angin siang itu berhembus cukup kencang. Daun-daun kering yang berserakan menari bebas di udara. Begitu pula dengan apa yang Ririn rasakan. Perasaan perih tadi berubah menjadi kehampaan. Tiupan angin itu berhasil membuat semua perasaannya yang hampir bersemi menjadi gugur. Gugur sebelum berkembang.
“ Kita harus kembali. Latihan sudah mau dimulai.”
Itulah kata-kata terakhir Ririn yangia katakan di bawah panggung. Ia sebenarnya masih ingin menghabiskan waktu untuk menatap wajah sang pangeran. Namun, ia segera sadar. Ia bukan seorang putri impian sang pangeran. Ia bahkan seorang putri. Ia hanya hanya orang biasa yang berharap diundang masuk ke dalam istana. Sayang, sebelum pestan dansa dimulai ia sudah dilarang datan.
Ironi.
ooOoo
Latihan kali ini benar-benar menjemukan. Selain karena karena peristiwa sebelumnya, Ririn juga masih belum diperbolehkan latihan. Ia hanya bisa duduk di kuris penonton, melihat teman-temannya beraksi di atas sana. Bukan tanpa alasan, tapi Dave belum memperbolehkannya latihan karena suaranya Ririn masih sangat parau. Kalau dipaksakan bisa-bisa itu akan melukai tenggorokannya.
Ririn pulang dengan perasaan yang begitu melelahkan. Lebih lelah daripada saat ia pertama kali latihan Love Musical. Selesai makan malam ia memilih untuk melepas lelah dengan menikmati segelas cokelat hangat di atas balkon.
“ Patah hati, Bu?”
Ririn melempar lirikan sebal pada Dave yang datang menghampirinya. Oom-nya itu seperti tidak senang kalau sehari saja tidak menggoda orang. Pantas saja Tifa sering sebal dengan laki-laki ini.
“ Cieee, beneran patah hati nih?”
“ Aku lagi gak mau diganggu, Om.”
“ Jiaah, gaya anak jaman sekarang,” Dave terkekeh. “ Sama siapa sih? Kasih tahu Om, dong.”
Bibir Ririn mengerucut, “ Gak mau!”
Dave memperhatikan air muka keponakannya. Kemudian seringai jahil muncul di wajahnya.
Let me guess. Sama si Adrian itu yah?”
Ririn terkesiap. Kepalanya berputar cepat menatap Dave. Namun, tawa Dave justru meledak.
“ Whoops, Om cuma nebak aja. Habisnya tadi Om lihat kamu dari suatu tempat sama tuh cowok dan setelah itu Om perhatikan wajah kamu kayak murung gitu. Om pikir kamu patah hati sama dia.”
Mulut Ririn masih membisu.
“ Udah deh, ngaku aja kenapa. Toh, kamu bukan orang pertama yang patah hati sama keturunan Kusuma Ningsih itu.”
Ririn kembali melirik Oom-nya.
“ Papamu dan Om juga korbannya. Kayaknya keluarga kita emang gak bakal cocok sama keluarga itu.”
Alis Ririn terangkat sebelah, “ Om juga? Sama siapa?”
“ Siapa lagi kalau bukan dengan sutradaramu itu.”
Ririn terperanjat, “ Eh, Om mantannya Miss Tifa? Kapan? Kok Om gak pernah cerita?”
Seringai usil itu kembali menghiasi wajah Dave, “ Wah, wah, wah, lihat siapa yang want to know?”
“ Ihh, ya udah kalau gak mau kasih tahu,” Ririn kembali merajuk.
Dave tertawa, “ Yaah, kami pacaran waktu SMA. Ketika sama-sama jadi anggota Love Musical. Sama seperti waktu papamu pacaran dengan mamanya Adrian.”
“ Terus kalian putus dengan cara yang sama pula?”
“ Nggak. Kalau papamu putus karena LDR. Mereka pisah karena mamanya Adrian keluar kota dan karena waktu itu alat komunikasi gak secanggih sekarang, akhirnya mereka memutuskan pisah.”
Tawa Dave lenyap, lalu terdengar tarikan napas yang berat.
“ Tapi kalau Om pisah karena ada kejadian yang kurang mengenakkan waktu. Dan itu berhubungan dengan Adrian dan juga mamanya.”
Ririn menatap oom-nya dengan penuh tanda tanya.
“ Kamu tahu kalau mamanya Adrian sudah meninggal?”
Ririn mengangguk, “ Tapi aku gak tahu meninggalnya kenapa.”
“ Nah, itulah masalahnya,” Dave menarik napas panjang. “ Dengar, Rin. Om akan cerita, tapi kamu rahasiakan ini. Cerita ini tidak hanya menjadi masa kelam keluarga mereka, tapi juga semua rekan-rekan Love Musical angkatan Om.”
Napas Ririn setengah tertahan. Entah kenapa jawaban Dave membuat bulu kuduknya merinding.
“ Semua orang tahu kalau Kak Laksmi, mamanya Adrian adalah aktris tercantik dengan kemampuan akting yang hebat sepanjang sejarah Love Musical. Dan Tifa, meski dia tak berbakat akting, tapi ternyata kemampuannya menyutradarai patut diacungi jempol. Mereka berdua bercita-cita menjadi bagian dari pementasan di Broadway. Sayang, karir Kak Laksmi terhenti lantaran dia menikah dan langsung punya anak. Meski begitu, itu tak menyurutkan semangat Tifa untuk mengejar mimpinya.
“ Tapi yang membuat semua keadaan menjadi buruk adalah kematian Kak Laksmi. Bukan hanya sekadar meninggal, tapi dia meninggal dengan cara yang tak wajar.”
“ Ma—maksud, Om?”
Dave memejamkan matanya sejenak. Ada sekelebat kenangan buruk melintas di benaknya.
“ Dia ditemukan tewas gantung diri di kamarnya.”
Ririn kaget bukan kepalang. Hampir saja ia berteriak takut.
“ Hasil penyelidikan menyatakan bahwa itu adalah bunuh diri murni. Tidak ada bukti kekerasan lain. Kak Laksmi memang meninggal karena kehabisan napas akibat jeratan tali.
“ Masalah terus bergulir. Setelah kematian Kak Laksmi, ayahnya Tifa juga menyusul. Keluarga mereka benar-benar berkabung dan sejak saat itu Tifa mulai menunjukkan perubahannya. Tifa yang dulunya ceria berubah jadi pemurung. Ia menjadi tertutup dan mulai menunjukkan ketidaktertarikan pada Love Musical atau dunia panggung. Tifa juga memutuskan hubungan kami tanpa alasan yang jelas dan setelah itu, dia berserta Adrian dan Ibunya pindah. Tak ada yang tahu ia pindah kemana, tiba-tiba setelah beberapa tahun berlalu terdengar kabar kalau dia sudah ada di Broadway dengan pementasan yang megah.”
Hening tiba-tiba mengelilingi keduanya. Ada perasaan takut, kaget, bercampur sedih saat ia mendengar cerita Dave. Ternyata di balik wajah tampan Adrian serta kesuksesan Tifa ada cerita menyedihkan melatarbelakanginya.
“ Ngomong-ngomong sudah sejauh mana hubungan kalian?” Dave sengaja membelokkan pembicaraan. Kenangan masa lalunya membuat trauma tersendiri dan Dave ingin melupakan itu.
“ Ti—tidak seperti yang Om pikirkan,” Ririn kaget karena tiba-tiba oom-nya menanyakan hal yang aneh. “ Aku bahkan belum sempat menyatakan perasaan dan dia sudah menolakku.”
Dave tertawa sinis, “ Baguslah, setidaknya kamu belum merasakan pahitnya berpacaran.”
“ Idih, apa enaknya? Masa udah ditolak duluan. Om sih enak, masih sempat nyicip masa-masa indah sama Miss Tifa.”
“ Dengar, Rin. Om katakan kamu benar-benar beruntung. Kamu tidak terkena kutukan itu.”
Ririn mengusap tengkuknya, “ Om ini bicara apa sih? Tadi cerita orang bunuh diri, sekarang malah ngomong kutukan. Bikin horor tahu!”
“ Jadi, gak ada yang cerita soal kutukan Love Musical?”
“ Kutukan? Memangnya Love Musical itu dikutuk gimana?”
“ Bukan kutukan juga sih, tapi memang terjadi turun-menurun,” Dave terkekeh. “Yaah, ada kabar yang beredar kalau sesama anggota Love Musical itu dilarang berpacaran dengan aktor atau aktris utama. Entah kenapa kalau ada anggota yang berpacaran dengan pemeran utama pasti kisah cintanya bakal berakhir menyedihkan.”
“ Masa sih? Cuma rumor kali, Om.”
Dave menatap Ririn dengan tatapan serius, “ Kak Laksmi dan Om adalah pemeran utama. Menurutmu itu cuma rumor?”
Jari-jari Ririn terasa membeku. Ia lupa kalau jemarinya sedang memeluk cangkir yang berisi minuman beruap panas. Cerita Dave benar-benar membuat suasana menjadi benar-benar menakutkan.
ooOoo
Awalnya Adrian menyesal telah menuruti kemauan Fi. Ia tak mau menyakiti si gadis ikal itu. Namun, ia justru menjadi kacau setelah Ririn mengatakan perasaannya. Harusnya ia lega karena telah menyingkirkan gadis itu sebelum perasaan gadis itu semakin berkembang, tapi yang terjadi justru sebaliknya.
Apakah ini artinya ia juga memiliki perasaan pada gadis itu?
 Pikiran itu berkelebat di kepalanya. Untung saja Adrian masih bisa berkonsentrasi penuh pada mobil yang ia kendarai. Namun, pikirannya tersita ketika sampai di rumahnya. Ada sebuah mobil yang tak ia kenal terparkir di depan halaman rumahnya. Adrian tak melihat jelas wajah orang itu, tapi ia bisa menebak kalau orang yang sedang duduk di terasnya itu adalah laki-laki. Ia sedang berbicara dengan neneknya.
Adrian merasa cukup aneh dengan tamu itu. Entah kenapa neneknya tak menyuruh tamu itu masuk. Padahal biasanya nenek begitu ramah dengan tamu. Begitu Adrian menapakkan kakiknya di teras rumah, barulah ia tahu alasan neneknya tak mempersilahkan tamu itu masuk.
Tamu itu adalah ayahnya.
Tak ada senyuman apalagi pelukan hangat. Wajah Adrian langsung berubah dingin. Ia menyambut kedatangan ayahnya dengan sikap mengusir.
“ Masuk sebentar, Adrian. Ada yang mau Nenek bicarakan.”
Adrian langsung masuk tanpa memedulikan ayahnya yang berusaha menyapa. Ia mengikuti neneknya masuk ke dapur.
“ Ada apa, Nek? Kenapa tiba-tiba Papa ada di sini?”
“ Dia hanya mau bertemu denganmu. Mungkin berbicara sedikit. Sudah lama kalian tidak bertemu, bukan?”
Adrian mendengus kesal, “ Bukannya Nenek sudah tahu kalau aku gak mau ketemu Papa. Kenapa Nenek mau aku ketemu Papa sekarang? Nek, kalau sampai Tante tahu, dia bisa marah besar.”
“ Ini rumah Nenek, bukan rumah Tantemu. Nenek punya kebijakan sendiri pada siapa saja yang datang ke rumah ini.”
July bisa merasakan getaran amarah dari cucunya. Ia sudah memprediksi bagaimana reaksi Adrian bila bertemu dengan ayahnya.
“ Nenek juga masih sulit melupakan perbuatan Papamu, tapi Nenek ini sudah tua. Nenek tidak seperti Tantemu yang masih penuh gejolak emosi. Nenek tidak bisa melupakan bagaimana kepergian Mamamu, tapi Nenek mencoba untuk memaafkan Papamu. Bermusuhan dengannya sepanjang hidup Nenek, tidak akan membuat Mamamu hidup kembali.”
Adrian memalingkan wajahnya. July pun mendesah panjang.
“ Sekarang terserah kamu saja. Temui dia atau tutup pintunya jika kamu menolak. Nenek tidak akan melarangmu,” July pun beranjak pergi, tapi langkahnya terhenti, lalu ia berbalik. “ Satu hal lagi. Belajarlah untuk memaafkan. Jangan terlalu terprovokasi oleh Tantemu.”
July pun menuju kamarnya. Sekarang tinggal Adrian sendiri di dapur. Di dalam kegamangannya, ia memikirkan nasihat singkat neneknya. Namun, nasihat itu langsung terbakar dengan kata-kata Tifa yang pernah lontarkan. Akal sehatnya saling berlawanan. Ia tak tahu pilihan mana yang membawanya pada kebenaran.
‘ Papamu itu pembunuh, Adrian…’
‘….. Belajarlah untuk memaafkan. Jangan terlalu terprovokasi oleh Tantemu.’
Adrian tak tahu kekuatan apa yang menggerakan kakinya hingga ia melangkah untuk menemui papanya. Laki-laki itu tersenyum lebar saat Adrian berbesar hati menemuinya.
“ Apa kabar, Nak? Bagaimana kegiatanmu sekarang?”
“ Kita sudah lama tidak saling bertemu. Tolong jangan bersikap akrab seperti itu.”
Kata-kata Adrian seperti memberikan pukulan telak di wajah papanya. Ekspresi laki-laki itu langsung berubah maklum. Sepertinya karang besar di hati Adrian belum bisa ia runtuhkan.
“ Sebenanrya Papa ingin mengajakmu makan siang bersama. Seperti yang kamu bilang, kita sudah lama tidak saling bertemu dan Papa ingin mengobrol panjang denganmu.”
Adrian berdeham, “ Mungkin akan kupertimbangkan nanti.”
Laki-laki itu menarik napas panjang, “ Begini Adrian, Papa tahu ini sangat berlebihan, tapi Papa ingin kamu bertemu dengan keluarga Papa yang baru. Bagaimana pun juga kamu juga bagian dari kami.”
“ Apa menurut Papa aku akan menerima permintaan sinting itu?” tanya Adrian sinis.
“ Adrian, bukan begitu. Papa dan keluarga Papa hanya ingin meminta maaf padamu. Kami semua menyesal dengan apa yang terjadi 13 tahun lalu.”
Rahang Adrian mengeras. Andai Tifa ada di sini mungkin keadaan menjadi lebih mudah. Dengan senang hati tantenya itu langsung mengusir pria ini.
“ Akan kupikirkan nanti. Sekarang sudah malam, aku mau istirahat.”
“ Ah ya, baiklah. Maaf mengganggu waktumu Adrian, tapi Papa harap kamu mempertimbangkan permintaan Papa tadi. Kalau begitu Papa pamit. Salam buat Nenekmu.”
Adrian merasa dirinya terlalu lelah berpikir hari ini. Banyak hal yang membuat hatinya lelah. Mulai dari permasalahannya dengan Ririn, disusul Papanya pula. Rasanya ia ingin langsung membenamkan dirinya di kasur. Tanpa repot-repot mengantar, Adrian langsung menutup pintu bahkan sebelum papanya beranjak dari kursi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar