Musikal 99
Latihan kali ini terasa sedikit berbeda. Tepat di
Sabtu sore, sebuah mobil mungil bewarna oranye terparkir manis di depan gedung
teater. Semua orang tahu siapa pemilik mobil Eropa itu. Perasaan mereka jadi
campur aduk. Senang si pemilik mobil ini kembali, tapi mereka juga tegang
karena mungkin giliran salah satu dari merekalah yang mendapat ocehannya.
Siapa lagi kalau
bukan Tifa.
Semua terlihat
seperti slow motion. Terlebih saat
Tifa membuka kacamata hitamnya. Hembusan angin yang lembut menerbangkan
beberapa helai rambutnya.
“ Lama tak jumpa.
Kalian merindukanku?”
Tifa tersenyum manis.
Namun, tak ada yang menanggapi senyuman itu sebagai senyum kerinduan. Mereka
justru cepat-cepat masuk dan mempersiapkan diri. Sang Anubis telah kembali dan
mereka tak mau sang dewa mengamuk.
Latihan pun dimulai.
Sembari menunggu para anggota pemanasan, Tifa membaca laporan perkembangan
latihan selama ia absen. Sudah ada kemajuan di sana-sini. Ia tak menyangka
ternyata kolaborasi Gloria-Riani-Dave ternyata bisa menggantikan posisinya.
“ Bagaimana dengan
kemajuan Ririn?” tanya Tifa.
Riani melirik Dave,
tapi laki-laki itu hanya mendesah berat seraya membuang pandangannya. Bola mata
Tifa bergantian menatap ketiga temannya. Ia menunggu salah satu dari temannya
yang buka suara.
“ Kami sudah
melatihnya,” akhirnya Gloria yang berani menjawab. “ Tapi beberapa hari yang
lalu dia sakit. Kupikir cukup parah karena ia sampai ketinggalan pelajaran
cukup banyak.”
“ Begitu,” Tifa
menarik napas panjang. Perhatiannya kemudian teralih pada buku kemajuan yang ia
pegang. Di sisi lain, ketiga temannya mendesah lega karena Tifa tak membahas
tentang si ikal itu lagi.
“ Di sini tertulis
kalian sudah menggarap sampai adegan perselingkuhan Antony. Bagaimana
hasilnya?”
“ Sudah baik. Hanya
perlu dipoles lagi saja,” kali ini Dave menjawab dengan mantap.
Tifa
mengangguk-angguk, “ Kalau begitu malam ini menggarap adegan pernikahan yang
batal dan perselingkuhan yang ketahuan.”
Dave tersentak.
Kata-kata Tifa barusan membuat napasnya tercekat. Itu artinya….
“ Itu artinya malam
ini adegan kita akan terfokus pada Ririn.”
Matilah Dave. Ia tak
mempersiapkan keponakannya untuk adegan itu malam ini. Keponakannya baru saja
sembuh, jadi ia tak terpikirkan kalau Tifa akan langsung menyerang Ririn.
Sepertinya ia lupa kalau Tifa adalah ibu tiri yang kejam bila akan menggarap
sebuah adegan.
Pemanasan berakhir,
Tifa pun segera mengumpulkan mereka dalam sebuah lingkaran. Ia pun
memberitahukan menu latihan menginap mereka. Para anggota langsung bersiap di
atas panggung begitu Tifa selesai memberikan pengarahan.
Dave mendekati
keponakannya yang tengah bersiap di atas panggung, “ Rin, kamu siap?”
“ Ini juga lagi
siap-siap, Om.”
“ Bukan gitu,” Dave
menggaruk tengkuk leher yang sudah dijalari perasaan cemas. “ Kamu tahu’kan
kalau malam ini adalah adegan di mana kamu yang mendominasi. Yaah, Om harap
kamu sudah siap.”
Ririn tersenyum
tipis, “ Aku akan berusaha meminimalisir kemarahan Miss Tifa.”
Dave masih terlihat
cemas. Namun, ia harus segera menyingkir setelah Tifa meneriakkan agar turun
dari panggung. Setelah panggung steril dari orang yang bukan pemain, Tifa pun
segera memulai penggarapan.
“ Ready? Action!”
Adegan dimulai dengan
alunan melodi pernikahan dari piano Alexi. Mereka memulai adegan dimana
pernikahan Anna Croux dan Antony batal karena sang mempelai prianya tidak
hadir.
“ Kenapa calon
suamiku belum datang juga, Meneer Van
Dekker?” tanya Ririn yang berada dalam pribadi Anna Croux.
Wajah Robert Van
Dekker alias Ben terlihat cemas. Ia memandangi Harris Suhorff yang diperankan
Kemal dengan wajah cemas. Wajah Harris pun tak kalah cemas. Ia memerintahkan
beberapa orang bawahannya untuk segera mencari sosok Antony. Tak lama
bawahannya pun kembali dengan tergesa-gesa.
“ Maaf, Meneer. Meneer Antony tidak ada di kamarnya.”
Wajah ketiga pemeran
utama ini terkejut.
“ Cepat cari dimana
dia!”
“ Baik, Meneer.”
Anna Croux terlihat
begitu marah, “ Sebaiknya Anda segera cari dimana anak Anda, Meneer Van Dekker. Anda tahu apa yang
akan terjadi jika kabar ini sampai di telinga ayah saya, bukan?”
“ Maafkan saya, Juffrouw Anna. Saya benar-benar minta
maaf.”
Dengan kesal Anna
melemparkan buket bunga yang ia pegang, “ Aku sudah tak ingin melanjutkan
pernikahan ini. Segera temukan Antony dan kita lihat apa hukuman yang pantas
untuknya.”
Adegan pernikahan
selesai. Selanjutnya, adalah adegan percintaan antara Antony dan Nayu yang
dilanjutkan dengan penangkapan keduanya. Seperti biasa, tanpa perlu latihan
banyak, chemistry antara Adrian dan
Fi sudah sangat mesra. Bagi Dave, adegan itu berlangsung cepat. Ia yakin kalau
kedua orang itu tak akan membuat amarah Tifa bangkit. Namun, adegan setelah ini
justru membuat jantungnya dag-dig-dug tak karuan.
Kali ini set panggung
terlihat dramastis. Fi terlihat sangat lemah dengan kedua tangan yang diikat.
Di kanan-kirinya dijaga oleh dua pengawal. Kemudian Ririn masuk. Saat ini ia
harus menjadi Anna Croux yang siap mengeksekusi Nayu dengan cibirannya.
Dave semakin tegang
kala keponakannya sudah memasuki panggung. Ia tak yakin kalau keponakannya bisa
bertingkah angkuh dengan penuh ironi. Namun, yang terjadi justru sebaliknya.
Tak ada lagi Ririn
yang rapuh. Tak ada lagi Ririn yang pendiam. Kini yang ada di atas panggung
adalah sosok Anna Croux seutuhnya. Bentuk wajahnya masih tetap seperti Ririn
yang dulu, tapi pesona keangkuhan Anna Croux begitu mengubahnya.
“ Jadi, perempuan ini
yang berhasil menggagalkan pernikahanku? Cis, kupikir dia akan lebih cantik.”
Dave tersentak. ‘ Itu Ririn?’
Ririn berjalan
mengitari Fi yang terlihat lemah dalam penjagaan pengawal. Saat ia berdiri di
sisi Fi, ditekankannya kipas yang ia pegang pada dagu Fi, sehingga wajah gadis
itu terangkat. Ririn melakukannya dengan lambat, tapi terlihat sangat kejam.
“ Dengar, gadis
kampung. Seharusnya kau sadar dengan posisimu.”
“ Ma—maafkan, hamba.
Hamba….”
“ God verdomd!” Ririn menarik kipasnya. Kali
ini terlihat kilatan amarah di matanya. Begitu panas, sehingga bisa saja membakar
Fi saat itu juga. Ririn kembali berjongkok dan menekankan kipas di dagu Fi.
“ Kau hanya rakyat
jelata. Bahkan wajahmu tak cantik. Bisa-bisanya kau bermain api dengan
orang-orang kami. Hari itu, hari itu harusnya aku menikah dengan Antony, tapi
gara-gara kau, gara-gara kau semua itu berantakan. Aku tak percaya bahwa
laki-laki terhormat seperti Antony takluk pada perempuan busuk macam kau!
Sekarang kau harus menanggung semua akibatnya!”
Ririn berbalik lalu
berjalan cepat.
“ Tapi kami saling
mencintai!”
Teriakan Nayu
berhasil menghentikan langkah Anna. Ririn membalikkan badannya, lalu menatap
sinis pada Fi.
“ Cinta kalian hanya
membawa pada kematian,” Anna mengalihkan tatapannya pada kedua penjaga. “ Bawa
Antony dan pertemukan mereka di tiang gantung esok hari!”
“ Baik, Juffrouw.”
Nayu terlihat panik.
Ia meronta-ronta untuk meminta pengampunan Anna.
“ Tidak, Juffrouw! Hamba mohon, jangan bunuh
kami. Hamba mohon….”
Harusnya Ririn
mengucapkan sebaris dialog sebelum ia meninggalkan panggung, lalu Fi kembali
meronta-ronta sampai waktu adegan habis. Namun, gadis itu tak melakukannya.
Dari bawah panggung Dave berpikir kalau Ririn melupakan baris terakhir pada
dialognya, tapi ia tak mengira apa yang dilakukan keponakannya. Ririn tak
membuka mulutnya, tapi tatapan gadis itu begitu menusuk. Seolah-olah semua
amarahnya tertumpang lewat sorotan tajam itu. Hanya lewat tatapannya saja dan
Fi-lah justru kehilangan daya saat mata itu berusaha menelannya. Fi hanya bisa
terpaku, sampai Ririn benar-benar menghilang dari atas panggung.
“ CUUUT!!!”
Dave baru bisa
menghela napas lega setelah Tifa berteriak. Selama adegan berlangsung mata Dave
berpindah-pindah dari Ririn lalu Tifa. Selama itu pula Dave mengamati tingkah
Tifa yang menatap serius ke atas panggung sembari menggigiti ujung kuku ibu
jarinya. Satu hal yang tidak berubah dari 13 tahun lalu adalah ketika Tifa
sedang tertarik dengan sesuatu maka wajahnya akan terlihat serius seraya menggigiti
kuku ibu jarinya.
‘ Lalu dia akan tersenyum.’
Benar saja. Seulas
senyum tipis tergurat di wajah wanita itu. Senyum tipis tapi penuh dengan aura
terpuaskan. Dalam hati Dave bersorak riang. Kali ini keponakannya bisa berhasil
merajai panggung. Jujur saja, ia juga sempat terhisap dalam sandiwara Ririn di
atas panggung. Ia tak menyangka kalau keponakannya bisa berubah 180 derajat
seperti tadi.
“ Kerja bagus!
Semuanya istirahat lima menit! Setelah itu kita akan menggarap adegan ending.”
Tanpa pengulangan.
Dave tak bisa lebih gembira daripada ini. Ia harus segera mencari keponakannya
untuk mengucapkan selamat.
ooOoo
Dave tak tahan untuk tak memeluk keponakannya di
belakang panggung. Semua perasaan tegang yang ia rasakan dari tadi tertumpahkan
dalam dekapan hangatnya.
“ Hebat kamu, Rin!” Dave mengacak-acak puncak kepala
Ririn. “ That’s my girl!”
“ Maksud Om, aktingku tadi?” tanya Ririn seraya
merapikan rambutnya yang acak-acakkan.
“ Astaga, ya iyalah, Rin. Kamu pikir kenapa Oom-mu ini
girang banget kayak gini,” Dave mendesah lega. “ Finally, kamu bisa juga sekece itu tadi.”
“ Masa sih?”
“ Aku setuju dengan Pak Dave, Rin,” sahut Kemal. “
Aktingmu barusan benar-benar keren.”
“ Andai aku gak kenal kamu dari dulu, mungkin aku
menyangka kalau sifat kamu memang nyebelin kayak Anna Croux,” ujar Anjani. “
Kamu benar-benar berbeda tadi.”
Ririn tersenyum sipu.
“ Yak, pokoknya kamu keren malam ini,” ujar Dave. “
Selamat, Rin.”
“ Terima kasih, tapi yaah… sebagus apa pun aku di mata
kalian, kalau kata ‘orang itu’ aku masih kurang tetap saja kurang.”
Meski ragu, tapi mereka mengangguk setuju. ‘Orang itu’
yang dimaksud Ririn adalah orang yang kata-katanya absolut di sana. Siapa lagi
kalau bukan….
“ Hei, kenapa kalian malah berkumpul di backstage? Cepat siap-siap lagi! Dan
kamu, Rin. Buatkan saya kopi!”
Tuh’kan, baru
juga dibicarakan.
Dave mendengus pendek, “ Seenggaknya kamu cuma disuruh
buatin kopi.”
ooOoo
Latihan mereka terus berlanjut. Tak ada yang menyangka
kalau latihan mereka malam itu berhasil menggarap sampai adegan terakhir.
Mereka bahkan bisa mengulang kembali semua adegan dari awal sampai akhir. Semua
berjalan lancar, hanya terjadi beberapa kesalahan kecil yang tidak berarti.
Semua orang merasa lega dengan latihan malam ini.
“ Malam ini berjalan dengan lancar. Saya tidak
menyangka kalau dua minggu kemarin kalian sudah berlatih keras, meski saya
tidak ada di sini.”
Tifa membuka pembicaraan saat mereka berkumpul dalam
sebuah lingkaran. Meski kata-kata pembuka terdengar menenangkan, tapi ketika
Tifa membuka buku evaluasi semua anggota mulai merasa tegang. Buku evaluasi itu
berisi semua catatan dari pertama kali mereka latihan sampai sekarang. Buku itu
sudah seperti kitab bagi Tifa dan tatkala ia mulai berkhotbah, maka semua
dosa-dosa para anggota selama latihan berlangsung akan terungkap.
Benar saja, meski hanya kesalahan kecil tapi Tifa
tetap mengungkapkan semua di depan umum. Tak ada yang luput dari mata elang
sang sutradara. Bisa saja malam ini kita bebas dari kesalahan, tapi belum tentu
pada latihan selanjutnya.
“ Tapi untuk malam ini yang mengejutkan adalah Ririn.”
Bisa terlihat kalau wajah Ririn seketika menegang. Tak
hanya gadis itu, tapi semua orang mulai bertanya-tanya. Kata ‘ mengejutkan’ itu
bisa bermakna negatif atau positif.
“ Sudah beberapa bulan tidak menunjukkan kemajuan,
tapi malam ini dia tampil berbeda. Selamat, kamu berhasil menjiwai Anna Croux!”
Ririn hampir tak percaya dengan apa yang ia dengar.
Kalau saja Anjani tak menyikut lengannya, mungkin ia akan tetap termangu.
Sebisa mungkin Ririn menyimpan senyuman lebarnya,
“ Oke, sekian dulu evaluasi malam ini. Harap semua
memperhatikan apa yang sudah dievaluasi,” Tifa meletakkan buku evaluasi di
pangkuannya. “ Sekarang ada pengumuman yang akan saya sampaikan.”
Tifa menghela napas, “ Hari Senin nanti kita semua
akan sibuk. Saya sudah mengatur waktu untuk pers
conference. Akan ada beberapa wartawan lokal dan nasional. Setelah itu akan
dilanjutkan dengan sesi pemotretan untuk kegiatan promosi nanti.”
Suara-suara dari lingkaran langsung saling bersahutan.
Pers conference dan pemotretan?
Mereka terdengar seperti artis-artis papan atas saja. Di tengah keriuhan,
tiba-tiba Ririn mengacungkan jarinya.
“ Ya, Ririn?”
“ Mmm, apa klub Koran sekolah ini boleh ikut sesi
wawancara, Miss?”
“ Klub Koran?” Tifa berusaha untuk menahan tawanya. Ia
lalu berdeham. “ Ya, boleh saja. Semakin banyak liputan akan semakin baik.”
Ririn tersenyum senang. Walau begitu ia tetap heran
dengan ekspresi Tifa yang terlihat geli saat ia menyebutkan klub Koran.
“ Karena pelaksanaan akan dimulai dari jam sembilan,
maka setelah upacara bendera kalian diliburkan dari kegiatan belajar di kelas.”
Suasana semakin gempita.
“ Baik, baik, tenang semuanya,” Tifa mencoba meredam sorakan
dari para anggota. “ Pokoknya saya minta kalian semua bersiap-siap, khususnya
para aktor karena kalianlah yang mungkin akan diserbu oleh wartawan. Dan juga
jangan lupa, besok pagi sebelum pulang
kita akan pembersihan dulu. Mengerti?”
“ MENGERTIII!!!”
“ Oke, kalau begitu. Silakan beristirahat. Latihan ini
saya sudahi dulu. Selamat malam.”
Seperti biasa, sebagian anggota ada yang langsung
beristirahat, tapi ada pula yang masih terjaga. Sementara Tifa dan instuktur
lainnya masih mendiskusikan sesuatu. Mungkin mengenai persiapan di hari Senin
nanti.
Biasanya Ririn langsung merebahkan diri dalam kantung
tidurnya, tapi kali ini ia memilih terjaga sejenak. Diam-diam ia menyelinap ke
halaman dari pintu keluar yang ada di backstage.
Tak ada maksud bersenyembunyi atau melarikan diri.
Ririn hanya perlu menghirup udara malam yang pekat polusi. Ia hanya ingin
meredakan gemuruh di dadanya. Sejak ia turun dari panggung, jantungnya berdetak
dua kali lebih cepat. Ia tak tahu pasti, tapi ia ingin menebak sedikit.
‘…. Selamat,
kamu berhasil menjiwai Anna Croux’
Senyum Ririn melebar.
“ Hmm, mungkin aku boleh bangga sedikit malam ini.”
“ Sombong juga boleh.”
Ririn tersentak. Saat ia menoleh, ia mendapati Tifa
sedang tersenyum padanya. Sambil menenteng gelas berisi kopi, ia berjalan
mendekati Ririn.
“ Boleh saya duduk di sini?”
Ririn mengangguk kaku. Ia pun ikut duduk di sebelah
Tifa. Tak ada yang membuka pembicaraan di antara mereka berdua. Yang terdengar
hanya suara Tifa yang menyeruput kopinya.
“ Jadi, bagaimana rasanya menjadi seorang aktris?”
Ririn melirik Tifa, lalu tersenyum kecil, “ Sangat
susah, tentu saja. Butuh beberapa bulan dan omelan setiap saat untuk bisa
berperan menjadi orang lain.”
“ Wah, pedas juga. Ingat, peranmu sebagai Anna Croux
hanya di atas panggung,” Tifa terkekeh.
“ Saya tidak sedang menjadi Anna Croux. Saya hanya
mengatakan yang sesungguhnya.”
Tifa hanya balas tersenyum. Lagi, hanya suara
seruputan kopi yang terdengar.
“ Hanya pujian kecil. Jangan melambung terlalu tinggi.
Kamu harus terus berlatih.”
Ririn mengangguk mantap, “ Saya mengerti, Miss.”
Tifa merenggangkan tubuhnya, “ Ahh, rasanya pulang
cepat-cepat ternyata terbayar.”
Ririn kembali melirik Tifa, “ Miss, boleh saya bertanya?”
“ Silakan.”
“ Kenapa Miss
memindahkan saya ke tim akting? Bukankah lebih baik saya dari awal ada di tim
musik? Saat audisi saya hanya bernyanyi bukan berakting. Bukannya melatih saya
hanya buang-buang waktu, Miss? Sudah
tahu saya buruk dalam berakting, kenapa tidak pilih orang lain saja yang memang
kemampuannya mumpuni?”
Rentetan pertanyaan gadis ikal ini berhasil menyita
perhatian Tifa. Ia menatap Ririn cukup lama, lalu tersenyum sendiri.
“ Ada sesuatu yang saya lihat darimu ketika audisi.
Dan saya pikir saya harus memasukkanmu ke tim akting.”
“ Boleh—“
“ Tidak!” potong Tifa sebelum Ririn menyelesaikan
kalimatnya. “ Kamu tidak boleh tahu sekarang.”
Bahu Ririn langsung melorot saat mendengar penolakan
itu.
“ Kalau gitu boleh saya ganti pertanyaan?”
Tifa hanya mengangguk sambil menyeruput kopinya.
“ Kenapa Miss
Tifa jauh-jauh dari Amerika cuma untuk membentuk kembali Love Musical? Kalau memang Miss
Tifa mau buat klub teater, Miss’kan
bisa buat skala yang lebih hebat dari ini.”
Tifa kembali menatap anak didiknya. Kali ini
tatapannya terlihat lebih sendu.
“ Saya hanya mau menyelesaikan apa yang saya
tinggalkan dulu. Lagi pula saya sudah terikat janji.”
Mata Tifa terlihat menerawang jauh. Ririn pun
mengurungkan niatnya untuk menanyakan lebih jauh soal itu.
“ Pertanyaan terakhir, Miss.”
Tifa menghela napas panjang. Kenapa si ikal ini
cerewet sekali?
“ Kenapa Miss
Tifa tadi kok geli banget pas saya bilang klub Koran?”
Seketika tawa Tifa meledak. Saking kuatnya tertawa,
sampai-sampai ia tersedak tetesan kopi.
“ Ah, maaf. Kali ini saya akan jawab,” Tifa berdeham.
“ Saya hanya teringat dengan ayahmu.”
Alis Ririn terangkat sebelah.
“ Yaah, maksud saya kamu benar-benar mirip dengannya.
Ayahnya wartawan dan anaknya pun akan seperti itu. Tapi sepertinya kamu lebih
berbakat di atas panggung.”
Bibir Ririn mengerucut. Sial, kenapa ayahnya harus
dibawa-bawa. Menyesal ia bertanya hal itu. Namun, kekesalannya seketika lenyap
saat terdengar suara rintihan Tifa.
“ Eh, eh, Miss
Tifa baik-baik saja?”
“ Gak apa-apa. Cuma…”
Tifa kembali merintih,
Ririn pun kembali panik.
“ Saya cari bantuan dulu, Miss!”
Tifa menahan lengan Ririn, lalu menggeleng, “ Ini cuma
kram biasa. Yaah, kamu tahulah bagaimana efek menstruasi di hari pertama
dipadukan dengan kopi.”
Ririn berpikir sejenak, lalu ia mengerti maksud sang
sutradara.
“ Ya ampun, Miss.
Kalau lagi menstruasi’kan dilarang minum kopi.”
“ Mau bagaimana lagi,” Tifa berusaha bangkit. Meski
menahan sakit, tapi ia masih bisa tersenyum. “ Ya udah, kita kembali ke dalam
saja. Kita juga harus beristirahat.”
“ Miss yakin
baik-baik saja?”
Ririn masih terlihat cemas, tapi Tifa justru sangat
santai.
“ Sangat baik.”
Author’s Note:
Meneer : Tuan (Belanda)
Juffrouw : Nona (Belanda)
God verdomd : Sialan
(Belanda)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar