Total Tayangan Halaman

Sabtu, 19 November 2016

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 99)



Musikal 99

Latihan kali ini terasa sedikit berbeda. Tepat di Sabtu sore, sebuah mobil mungil bewarna oranye terparkir manis di depan gedung teater. Semua orang tahu siapa pemilik mobil Eropa itu. Perasaan mereka jadi campur aduk. Senang si pemilik mobil ini kembali, tapi mereka juga tegang karena mungkin giliran salah satu dari merekalah yang mendapat ocehannya.
Siapa lagi kalau bukan Tifa.
Semua terlihat seperti slow motion. Terlebih saat Tifa membuka kacamata hitamnya. Hembusan angin yang lembut menerbangkan beberapa helai rambutnya.
“ Lama tak jumpa. Kalian merindukanku?”
Tifa tersenyum manis. Namun, tak ada yang menanggapi senyuman itu sebagai senyum kerinduan. Mereka justru cepat-cepat masuk dan mempersiapkan diri. Sang Anubis telah kembali dan mereka tak mau sang dewa mengamuk.
Latihan pun dimulai. Sembari menunggu para anggota pemanasan, Tifa membaca laporan perkembangan latihan selama ia absen. Sudah ada kemajuan di sana-sini. Ia tak menyangka ternyata kolaborasi Gloria-Riani-Dave ternyata bisa menggantikan posisinya.
“ Bagaimana dengan kemajuan Ririn?” tanya Tifa.
Riani melirik Dave, tapi laki-laki itu hanya mendesah berat seraya membuang pandangannya. Bola mata Tifa bergantian menatap ketiga temannya. Ia menunggu salah satu dari temannya yang buka suara.
“ Kami sudah melatihnya,” akhirnya Gloria yang berani menjawab. “ Tapi beberapa hari yang lalu dia sakit. Kupikir cukup parah karena ia sampai ketinggalan pelajaran cukup banyak.”
“ Begitu,” Tifa menarik napas panjang. Perhatiannya kemudian teralih pada buku kemajuan yang ia pegang. Di sisi lain, ketiga temannya mendesah lega karena Tifa tak membahas tentang si ikal itu lagi.
“ Di sini tertulis kalian sudah menggarap sampai adegan perselingkuhan Antony. Bagaimana hasilnya?”
“ Sudah baik. Hanya perlu dipoles lagi saja,” kali ini Dave menjawab dengan mantap.
Tifa mengangguk-angguk, “ Kalau begitu malam ini menggarap adegan pernikahan yang batal dan perselingkuhan yang ketahuan.”
Dave tersentak. Kata-kata Tifa barusan membuat napasnya tercekat. Itu artinya….
“ Itu artinya malam ini adegan kita akan terfokus pada Ririn.”
Matilah Dave. Ia tak mempersiapkan keponakannya untuk adegan itu malam ini. Keponakannya baru saja sembuh, jadi ia tak terpikirkan kalau Tifa akan langsung menyerang Ririn. Sepertinya ia lupa kalau Tifa adalah ibu tiri yang kejam bila akan menggarap sebuah adegan.
Pemanasan berakhir, Tifa pun segera mengumpulkan mereka dalam sebuah lingkaran. Ia pun memberitahukan menu latihan menginap mereka. Para anggota langsung bersiap di atas panggung begitu Tifa selesai memberikan pengarahan.
Dave mendekati keponakannya yang tengah bersiap di atas panggung, “ Rin, kamu siap?”
“ Ini juga lagi siap-siap, Om.”
“ Bukan gitu,” Dave menggaruk tengkuk leher yang sudah dijalari perasaan cemas. “ Kamu tahu’kan kalau malam ini adalah adegan di mana kamu yang mendominasi. Yaah, Om harap kamu sudah siap.”
Ririn tersenyum tipis, “ Aku akan berusaha meminimalisir kemarahan Miss Tifa.”
Dave masih terlihat cemas. Namun, ia harus segera menyingkir setelah Tifa meneriakkan agar turun dari panggung. Setelah panggung steril dari orang yang bukan pemain, Tifa pun segera memulai penggarapan.
Ready? Action!”
Adegan dimulai dengan alunan melodi pernikahan dari piano Alexi. Mereka memulai adegan dimana pernikahan Anna Croux dan Antony batal karena sang mempelai prianya tidak hadir.
“ Kenapa calon suamiku belum datang juga, Meneer Van Dekker?” tanya Ririn yang berada dalam pribadi Anna Croux.
Wajah Robert Van Dekker alias Ben terlihat cemas. Ia memandangi Harris Suhorff yang diperankan Kemal dengan wajah cemas. Wajah Harris pun tak kalah cemas. Ia memerintahkan beberapa orang bawahannya untuk segera mencari sosok Antony. Tak lama bawahannya pun kembali dengan tergesa-gesa.
“ Maaf, Meneer. Meneer Antony tidak ada di kamarnya.”
Wajah ketiga pemeran utama ini terkejut.
“ Cepat cari dimana dia!”
“ Baik, Meneer.”
Anna Croux terlihat begitu marah, “ Sebaiknya Anda segera cari dimana anak Anda, Meneer Van Dekker. Anda tahu apa yang akan terjadi jika kabar ini sampai di telinga ayah saya, bukan?”
“ Maafkan saya, Juffrouw Anna. Saya benar-benar minta maaf.”
Dengan kesal Anna melemparkan buket bunga yang ia pegang, “ Aku sudah tak ingin melanjutkan pernikahan ini. Segera temukan Antony dan kita lihat apa hukuman yang pantas untuknya.”
Adegan pernikahan selesai. Selanjutnya, adalah adegan percintaan antara Antony dan Nayu yang dilanjutkan dengan penangkapan keduanya. Seperti biasa, tanpa perlu latihan banyak, chemistry antara Adrian dan Fi sudah sangat mesra. Bagi Dave, adegan itu berlangsung cepat. Ia yakin kalau kedua orang itu tak akan membuat amarah Tifa bangkit. Namun, adegan setelah ini justru membuat jantungnya dag-dig-dug tak karuan.
Kali ini set panggung terlihat dramastis. Fi terlihat sangat lemah dengan kedua tangan yang diikat. Di kanan-kirinya dijaga oleh dua pengawal. Kemudian Ririn masuk. Saat ini ia harus menjadi Anna Croux yang siap mengeksekusi Nayu dengan cibirannya.
Dave semakin tegang kala keponakannya sudah memasuki panggung. Ia tak yakin kalau keponakannya bisa bertingkah angkuh dengan penuh ironi. Namun, yang terjadi justru sebaliknya.
Tak ada lagi Ririn yang rapuh. Tak ada lagi Ririn yang pendiam. Kini yang ada di atas panggung adalah sosok Anna Croux seutuhnya. Bentuk wajahnya masih tetap seperti Ririn yang dulu, tapi pesona keangkuhan Anna Croux begitu mengubahnya.
“ Jadi, perempuan ini yang berhasil menggagalkan pernikahanku? Cis, kupikir dia akan lebih cantik.”
Dave tersentak. ‘ Itu Ririn?’
Ririn berjalan mengitari Fi yang terlihat lemah dalam penjagaan pengawal. Saat ia berdiri di sisi Fi, ditekankannya kipas yang ia pegang pada dagu Fi, sehingga wajah gadis itu terangkat. Ririn melakukannya dengan lambat, tapi terlihat sangat kejam.
“ Dengar, gadis kampung. Seharusnya kau sadar dengan posisimu.”
“ Ma—maafkan, hamba. Hamba….”
God verdomd!” Ririn menarik kipasnya. Kali ini terlihat kilatan amarah di matanya. Begitu panas, sehingga bisa saja membakar Fi saat itu juga. Ririn kembali berjongkok dan menekankan kipas di dagu Fi.
“ Kau hanya rakyat jelata. Bahkan wajahmu tak cantik. Bisa-bisanya kau bermain api dengan orang-orang kami. Hari itu, hari itu harusnya aku menikah dengan Antony, tapi gara-gara kau, gara-gara kau semua itu berantakan. Aku tak percaya bahwa laki-laki terhormat seperti Antony takluk pada perempuan busuk macam kau! Sekarang kau harus menanggung semua akibatnya!”
Ririn berbalik lalu berjalan cepat.
“ Tapi kami saling mencintai!”
Teriakan Nayu berhasil menghentikan langkah Anna. Ririn membalikkan badannya, lalu menatap sinis pada Fi.
“ Cinta kalian hanya membawa pada kematian,” Anna mengalihkan tatapannya pada kedua penjaga. “ Bawa Antony dan pertemukan mereka di tiang gantung esok hari!”
“ Baik, Juffrouw.”
Nayu terlihat panik. Ia meronta-ronta untuk meminta pengampunan Anna.
“ Tidak, Juffrouw! Hamba mohon, jangan bunuh kami. Hamba mohon….”
Harusnya Ririn mengucapkan sebaris dialog sebelum ia meninggalkan panggung, lalu Fi kembali meronta-ronta sampai waktu adegan habis. Namun, gadis itu tak melakukannya. Dari bawah panggung Dave berpikir kalau Ririn melupakan baris terakhir pada dialognya, tapi ia tak mengira apa yang dilakukan keponakannya. Ririn tak membuka mulutnya, tapi tatapan gadis itu begitu menusuk. Seolah-olah semua amarahnya tertumpang lewat sorotan tajam itu. Hanya lewat tatapannya saja dan Fi-lah justru kehilangan daya saat mata itu berusaha menelannya. Fi hanya bisa terpaku, sampai Ririn benar-benar menghilang dari atas panggung.
CUUUT!!!”
Dave baru bisa menghela napas lega setelah Tifa berteriak. Selama adegan berlangsung mata Dave berpindah-pindah dari Ririn lalu Tifa. Selama itu pula Dave mengamati tingkah Tifa yang menatap serius ke atas panggung sembari menggigiti ujung kuku ibu jarinya. Satu hal yang tidak berubah dari 13 tahun lalu adalah ketika Tifa sedang tertarik dengan sesuatu maka wajahnya akan terlihat serius seraya menggigiti kuku ibu jarinya.
‘ Lalu dia akan tersenyum.’
Benar saja. Seulas senyum tipis tergurat di wajah wanita itu. Senyum tipis tapi penuh dengan aura terpuaskan. Dalam hati Dave bersorak riang. Kali ini keponakannya bisa berhasil merajai panggung. Jujur saja, ia juga sempat terhisap dalam sandiwara Ririn di atas panggung. Ia tak menyangka kalau keponakannya bisa berubah 180 derajat seperti tadi.
“ Kerja bagus! Semuanya istirahat lima menit! Setelah itu kita akan menggarap adegan ending.”
Tanpa pengulangan. Dave tak bisa lebih gembira daripada ini. Ia harus segera mencari keponakannya untuk mengucapkan selamat.
ooOoo
Dave tak tahan untuk tak memeluk keponakannya di belakang panggung. Semua perasaan tegang yang ia rasakan dari tadi tertumpahkan dalam dekapan hangatnya.
“ Hebat kamu, Rin!” Dave mengacak-acak puncak kepala Ririn. “ That’s my girl!”
“ Maksud Om, aktingku tadi?” tanya Ririn seraya merapikan rambutnya yang acak-acakkan.
“ Astaga, ya iyalah, Rin. Kamu pikir kenapa Oom-mu ini girang banget kayak gini,” Dave mendesah lega. “ Finally, kamu bisa juga sekece itu tadi.”
“ Masa sih?”
“ Aku setuju dengan Pak Dave, Rin,” sahut Kemal. “ Aktingmu barusan benar-benar keren.”
“ Andai aku gak kenal kamu dari dulu, mungkin aku menyangka kalau sifat kamu memang nyebelin kayak Anna Croux,” ujar Anjani. “ Kamu benar-benar berbeda tadi.”
Ririn tersenyum sipu.
“ Yak, pokoknya kamu keren malam ini,” ujar Dave. “ Selamat, Rin.”
“ Terima kasih, tapi yaah… sebagus apa pun aku di mata kalian, kalau kata ‘orang itu’ aku masih kurang tetap saja kurang.”
Meski ragu, tapi mereka mengangguk setuju. ‘Orang itu’ yang dimaksud Ririn adalah orang yang kata-katanya absolut di sana. Siapa lagi kalau bukan….
“ Hei, kenapa kalian malah berkumpul di backstage? Cepat siap-siap lagi! Dan kamu, Rin. Buatkan saya kopi!”
Tuh’kan, baru juga dibicarakan.
Dave mendengus pendek, “ Seenggaknya kamu cuma disuruh buatin kopi.”
ooOoo
Latihan mereka terus berlanjut. Tak ada yang menyangka kalau latihan mereka malam itu berhasil menggarap sampai adegan terakhir. Mereka bahkan bisa mengulang kembali semua adegan dari awal sampai akhir. Semua berjalan lancar, hanya terjadi beberapa kesalahan kecil yang tidak berarti. Semua orang merasa lega dengan latihan malam ini.
“ Malam ini berjalan dengan lancar. Saya tidak menyangka kalau dua minggu kemarin kalian sudah berlatih keras, meski saya tidak ada di sini.”
Tifa membuka pembicaraan saat mereka berkumpul dalam sebuah lingkaran. Meski kata-kata pembuka terdengar menenangkan, tapi ketika Tifa membuka buku evaluasi semua anggota mulai merasa tegang. Buku evaluasi itu berisi semua catatan dari pertama kali mereka latihan sampai sekarang. Buku itu sudah seperti kitab bagi Tifa dan tatkala ia mulai berkhotbah, maka semua dosa-dosa para anggota selama latihan berlangsung akan terungkap.
Benar saja, meski hanya kesalahan kecil tapi Tifa tetap mengungkapkan semua di depan umum. Tak ada yang luput dari mata elang sang sutradara. Bisa saja malam ini kita bebas dari kesalahan, tapi belum tentu pada latihan selanjutnya.
“ Tapi untuk malam ini yang mengejutkan adalah Ririn.”
Bisa terlihat kalau wajah Ririn seketika menegang. Tak hanya gadis itu, tapi semua orang mulai bertanya-tanya. Kata ‘ mengejutkan’ itu bisa bermakna negatif atau positif.
“ Sudah beberapa bulan tidak menunjukkan kemajuan, tapi malam ini dia tampil berbeda. Selamat, kamu berhasil menjiwai Anna Croux!”
Ririn hampir tak percaya dengan apa yang ia dengar. Kalau saja Anjani tak menyikut lengannya, mungkin ia akan tetap termangu. Sebisa mungkin Ririn menyimpan senyuman lebarnya,
“ Oke, sekian dulu evaluasi malam ini. Harap semua memperhatikan apa yang sudah dievaluasi,” Tifa meletakkan buku evaluasi di pangkuannya. “ Sekarang ada pengumuman yang akan saya sampaikan.”
Tifa menghela napas, “ Hari Senin nanti kita semua akan sibuk. Saya sudah mengatur waktu untuk pers conference. Akan ada beberapa wartawan lokal dan nasional. Setelah itu akan dilanjutkan dengan sesi pemotretan untuk kegiatan promosi nanti.”
Suara-suara dari lingkaran langsung saling bersahutan. Pers conference dan pemotretan? Mereka terdengar seperti artis-artis papan atas saja. Di tengah keriuhan, tiba-tiba Ririn mengacungkan jarinya.
“ Ya, Ririn?”
“ Mmm, apa klub Koran sekolah ini boleh ikut sesi wawancara, Miss?”
“ Klub Koran?” Tifa berusaha untuk menahan tawanya. Ia lalu berdeham. “ Ya, boleh saja. Semakin banyak liputan akan semakin baik.”
Ririn tersenyum senang. Walau begitu ia tetap heran dengan ekspresi Tifa yang terlihat geli saat ia menyebutkan klub Koran.
“ Karena pelaksanaan akan dimulai dari jam sembilan, maka setelah upacara bendera kalian diliburkan dari kegiatan belajar di kelas.”
Suasana semakin gempita.
“ Baik, baik, tenang semuanya,” Tifa mencoba meredam sorakan dari para anggota. “ Pokoknya saya minta kalian semua bersiap-siap, khususnya para aktor karena kalianlah yang mungkin akan diserbu oleh wartawan. Dan juga jangan lupa,  besok pagi sebelum pulang kita akan pembersihan dulu. Mengerti?”
“ MENGERTIII!!!”
“ Oke, kalau begitu. Silakan beristirahat. Latihan ini saya sudahi dulu. Selamat malam.”
Seperti biasa, sebagian anggota ada yang langsung beristirahat, tapi ada pula yang masih terjaga. Sementara Tifa dan instuktur lainnya masih mendiskusikan sesuatu. Mungkin mengenai persiapan di hari Senin nanti.
Biasanya Ririn langsung merebahkan diri dalam kantung tidurnya, tapi kali ini ia memilih terjaga sejenak. Diam-diam ia menyelinap ke halaman dari pintu keluar yang ada di backstage.
Tak ada maksud bersenyembunyi atau melarikan diri. Ririn hanya perlu menghirup udara malam yang pekat polusi. Ia hanya ingin meredakan gemuruh di dadanya. Sejak ia turun dari panggung, jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Ia tak tahu pasti, tapi ia ingin menebak sedikit.
‘…. Selamat, kamu berhasil menjiwai Anna Croux’
Senyum Ririn melebar.
“ Hmm, mungkin aku boleh bangga sedikit malam ini.”
“ Sombong juga boleh.”
Ririn tersentak. Saat ia menoleh, ia mendapati Tifa sedang tersenyum padanya. Sambil menenteng gelas berisi kopi, ia berjalan mendekati Ririn.
“ Boleh saya duduk di sini?”
Ririn mengangguk kaku. Ia pun ikut duduk di sebelah Tifa. Tak ada yang membuka pembicaraan di antara mereka berdua. Yang terdengar hanya suara Tifa yang menyeruput kopinya.
“ Jadi, bagaimana rasanya menjadi seorang aktris?”
Ririn melirik Tifa, lalu tersenyum kecil, “ Sangat susah, tentu saja. Butuh beberapa bulan dan omelan setiap saat untuk bisa berperan menjadi orang lain.”
“ Wah, pedas juga. Ingat, peranmu sebagai Anna Croux hanya di atas panggung,” Tifa terkekeh.
“ Saya tidak sedang menjadi Anna Croux. Saya hanya mengatakan yang sesungguhnya.”
Tifa hanya balas tersenyum. Lagi, hanya suara seruputan kopi yang terdengar.
“ Hanya pujian kecil. Jangan melambung terlalu tinggi. Kamu harus terus berlatih.”
Ririn mengangguk mantap, “ Saya mengerti, Miss.
Tifa merenggangkan tubuhnya, “ Ahh, rasanya pulang cepat-cepat ternyata terbayar.”
Ririn kembali melirik Tifa, “ Miss, boleh saya bertanya?”
“ Silakan.”
“ Kenapa Miss memindahkan saya ke tim akting? Bukankah lebih baik saya dari awal ada di tim musik? Saat audisi saya hanya bernyanyi bukan berakting. Bukannya melatih saya hanya buang-buang waktu, Miss? Sudah tahu saya buruk dalam berakting, kenapa tidak pilih orang lain saja yang memang kemampuannya mumpuni?”
Rentetan pertanyaan gadis ikal ini berhasil menyita perhatian Tifa. Ia menatap Ririn cukup lama, lalu tersenyum sendiri.
“ Ada sesuatu yang saya lihat darimu ketika audisi. Dan saya pikir saya harus memasukkanmu ke tim akting.”
“ Boleh—“
“ Tidak!” potong Tifa sebelum Ririn menyelesaikan kalimatnya. “ Kamu tidak boleh tahu sekarang.”
Bahu Ririn langsung melorot saat mendengar penolakan itu.
“ Kalau gitu boleh saya ganti pertanyaan?”
Tifa hanya mengangguk sambil menyeruput kopinya.
“ Kenapa Miss Tifa jauh-jauh dari Amerika cuma untuk membentuk kembali Love Musical? Kalau memang Miss Tifa mau buat klub teater, Miss’kan bisa buat skala yang lebih hebat dari ini.”
Tifa kembali menatap anak didiknya. Kali ini tatapannya terlihat lebih sendu.
“ Saya hanya mau menyelesaikan apa yang saya tinggalkan dulu. Lagi pula saya sudah terikat janji.”
Mata Tifa terlihat menerawang jauh. Ririn pun mengurungkan niatnya untuk menanyakan lebih jauh soal itu.
“ Pertanyaan terakhir, Miss.
Tifa menghela napas panjang. Kenapa si ikal ini cerewet sekali?
“ Kenapa Miss Tifa tadi kok geli banget pas saya bilang klub Koran?”
Seketika tawa Tifa meledak. Saking kuatnya tertawa, sampai-sampai ia tersedak tetesan kopi.
“ Ah, maaf. Kali ini saya akan jawab,” Tifa berdeham. “ Saya hanya teringat dengan ayahmu.”
Alis Ririn terangkat sebelah.
“ Yaah, maksud saya kamu benar-benar mirip dengannya. Ayahnya wartawan dan anaknya pun akan seperti itu. Tapi sepertinya kamu lebih berbakat di atas panggung.”
Bibir Ririn mengerucut. Sial, kenapa ayahnya harus dibawa-bawa. Menyesal ia bertanya hal itu. Namun, kekesalannya seketika lenyap saat terdengar suara rintihan Tifa.
“ Eh, eh, Miss Tifa baik-baik saja?”
“ Gak apa-apa. Cuma…”
Tifa kembali merintih,  Ririn pun kembali panik.
“ Saya cari bantuan dulu, Miss!”
Tifa menahan lengan Ririn, lalu menggeleng, “ Ini cuma kram biasa. Yaah, kamu tahulah bagaimana efek menstruasi di hari pertama dipadukan dengan kopi.”
Ririn berpikir sejenak, lalu ia mengerti maksud sang sutradara.
“ Ya ampun, Miss. Kalau lagi menstruasi’kan dilarang minum kopi.”
“ Mau bagaimana lagi,” Tifa berusaha bangkit. Meski menahan sakit, tapi ia masih bisa tersenyum. “ Ya udah, kita kembali ke dalam saja. Kita juga harus beristirahat.”
Miss yakin baik-baik saja?”
Ririn masih terlihat cemas, tapi Tifa justru sangat santai.
“ Sangat baik.”

Author’s Note:
Meneer            : Tuan (Belanda)
Juffrouw          : Nona (Belanda)
God verdomd : Sialan (Belanda)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar