Total Tayangan Halaman

Jumat, 25 November 2016

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 102)




Musikal 102

Sesi latihan hari ini telah usai. Setelah mengevaluasi masing-masing anggota, Tifa pun membubarkan lingkaran. Kemudian ia menyapa Adrian seraya melemparkan kunci mobilnya. Seperti sudah paham dengan maksud tantenya, Adrian segera menuju mobil oranye tersebut.
Hari ini pasangan tante-keponakan itu sengaja pergi dengan satu mobil. Tifa masih terlalu lelah untuk menyetir sendiri. Oleh karena itu, ia menyuruh Adrian menunggu di parkiran apartemennya, lalu menjadi supir pribadinya hari itu.
“ Apa ada yang terjadi selama aku pergi?”
“ Banyak,” sahut Adrian ketika mereka sedang dalam perjalanan. “ Tapi kalau kuceritakan Tante bisa ketiduran.”
Tifa menguap lebar, “ Yang penting saja.”
“ Juga banyak,” Adrian menyahut usil.
Mendengar jawaban iseng itu, Tifa menjadi sewot, “ Baiklah, lalu apa dari semua kejadian penting itu ada hubungannya dengan jawabanmu di konferensi pers kemarin?”
Adrian melirik Tifa, “ Maksud Tante, tentang hubunganku dan Fi? Menurut Tante itu kejadian penting?”
“ Tante gak bakal ikut campur urusanmu, tapi Tante berhak tahu,” ujar Tifa seraya menurunkan sandaran kursinya. “ Biasanya kamu cerita-cerita.”
Adrian menghela napas panjang, “ Ya, kami memang pacaran, dan kejadiannya sudah lama. Aku nembak dia setelah audisi pemeran pertama.”
“ Wah, udah lama juga. Kenapa gak cerita-cerita?”
“ Tante gak nanya-nanya.”
Tifa mendengus pelan. Jawaban iseng keponakannya membuat tekanan darahnya naik.
“ Memangnya apa sih yang kamu suka dari dia? Masih bocah ingusan juga.”
Kali ini Adrian melempar tatapan sebal pada tantenya. Buru-buru Tifa mengangkat tangannya seraya menyeringai usil.
“ Tante berhak tahu toh. Tante cuma gak kepingin kamu menyesal nantinya. Kalian’kan baru saling kenal.”
“ Mungkin banyak orang yang gak suka dia. Entah karena popularitasnya, bakatnya, atau wajahnya. Tapi di mataku Fi adalah gadis yang baik. Lagi pula kami bukan baru kenal, tapi baru bertemu lagi.”
“ Hoo, ketemu dimana?”
“ Jakarta. Waktu aku ikut sanggar teater, dan dia sudah jadi anggota lama di sana. Kami berteman cukup akrab, sampai akhirnya dia jadi artis dan aku sibuk pentas ke luar negeri.”
Tifa mengangguk-anggukan kepalanya. Kemudian ia tak berkomentar lagi. Matanya sudah hampir terlelap.
“ Tante gak suka dia?”
Pertanyaan Adrian berhasil membuat Tifa terjaga, “ Hmm, masalah suka atau tidak, Tante yakin itu tidak akan memengaruhimu. ‘kan sudah Tante bilang, Tante cuma mau tahu, tidak berniat mencampuri urusan kalian. Tapi yah, kamu harus tahu suatu rahasia tentang Love Musical.”
Adrian melirik Tifa sekilas, “ Apa?”
“ Dari dulu sampai sekarang, semua anggota Love Musical tahu tentang kutukan cinta klub teater kita. Kutukan itu akan menimpa siapa saja yang berpacaran dengan pemeran utama Love Musical.”
“ Hah, maksud Tante kalau jadi pemeran utama gak boleh pacaran gitu?”
“ Bukanya gak boleh, tapi gak boleh pacaran dengan anggota Love Musical lainnya. Jadi, kalau seseorang sedang ditunjuk sebagai pemeran utama, maka dia gak boleh pacaran dengan sesama anggota. Dan kalau melanggar, maka kisah cintanya akan berakhir dengan kesedihan.”
Tifa menatap Adrian, “ Dan jangan lupa, kalau kamu dan Fi sama-sama pemeran utama.”
Tawa Adrian seketika pecah, “ Apa-apaan tuh? Astaga, Tante. Bertahun-tahun tinggal di Amerika masih aja percaya sama yang namanya kutukan. Paling-paling itu cuma rumor buatan anak SMA terus dipercaya luas.”
“ Tante juga awalnya gak percaya. Sampai Mamamu dan Tante sendiri yang mengalaminya.”
Tawa Adrian langsung lenyap. Ia kembali melirik Tantenya.
“ Mungkin itu hanya paranoid yang tercipta akibat sugesti. Aku tetap gak percaya. Lagi pula yang menjalani hubungan saat ini adalah aku dan Fi, bukan Tante atau pun Mama, apalagi kutukan aneh itu.”
Sanggahan Adrian membuat kepala Tifa berdenyut. Dalam tiga hari ini ia hanya mendapatkan jatah tidur selama dua jam. Kemudian ia harus mengurusi seabrek urusan Love Musical yang panjang, dan sekarang entah kenapa keponakannya yang penurut itu tiba-tiba jadi bandel. Kepala Tifa seakan mau pecah.
Namun, ia juga ingin menyangkal apa yang ia katakan tadi. Soal kutukan itu. Ia juga tak mau hal itu terulang lagi. Terutama pada keponakan tersayangnya.
ooOoo
Hari-hari yang menyerap semua tenaganya. Baru saja mendarat di Palembang, Tifa langsung memacu langkahnya ke gedung teater. Sudah dipastikan, mana ada latihan yang hanya duduk-duduk saja. Paling tidak ia harus turun-naik panggung.
Perhatiannya masih tersita dengan kegiatan konferensi pers di keesokkan harinya. Mengatur sana-sini, belum lagi ia harus benar-benar menjaga ucapannya supaya para wartawan itu tidak ambigu dalam menulis berita. Ia harus melakukannya karena salah-salah bicara ia bisa menghancurkan nama besar orang-orang yang terlibat di dalamnya. Beberapa nama sudah sangat akrab di telinga orang awam, kalau sampai ia salah bicara, bisa-bisa pertunjukkan itu batal selamanya.
Setelah konferensi pers, kegiatan mereka dilanjutkan dengan sesi photoshoot. Walau hanya beberapa gambar yang akan digunakan, tapi persiapannya memerlukan banyak waktu dan tenaga. Sampai sesi pemotretan selesai Tifa belum mendapatkan jatah tidurnya sedetik pun.
Tifa baru bisa meluruskan pinggangnya ketika sang fotografer sudah menyerahkan master foto-foto itu ke bagian percetakan poster. Untuk urusan yang satu ini Tifa masih memiliki waktu beberapa hari sampai poster-poster itu selesai. Dan Tifa menggunakan dua jam sebelum latihan untuk menenangkan syaraf-syarafnya. Ia bahkan tidak tidur di rumah, melainkan di gedung teater. Kemudian ia kembali terjaga saat Riani membangunkannya. Ia pun harus segera kembali bersemangat melatih para anggotanya.
Dan di sinilah ia sekarang. Ia bersyukur Adrian mau mengantarkannya. Ia biarkan saja Adrian membawa mobilnya ke rumah ibunya. Malam ini ia mau hibernasi.
Tubuhnya sudah terbalut hot pants yang tenggelam oleh kaus untuk laki-laki ukuran jumbo. Ia berencana untuk makan yang manis-manis sebelum tidur. Baru saja mengeluarkan puding dari kulkas, tiba-tiba bel pintunya berbunyi. Dengan malas Tifa menyeret langkahnya untuk menekan interkom. Namun, kening Tifa mengkerut saat layar interkom itu menampilkan tamu yang datang.
Pizza delivery!”
Tifa melengos, “ Saya gak pesan pizza.” ‘ Lagi pula aku sukanya martabak’.
“ Dengan martabak cokelat-keju.”
Si pengantar pizza itu mengangkat wajahnya. Terlihat jelas dari layar interkom bagaimana birunya iris mata laki-laki itu. Tifa mendesah berat. Mau tak mau ia membukakan pintunya. Ia menyambut si pengantar pizza  dengan senyuman sinis.
“ Kamu sudah dipecat jadi presdir? Sejak kapan kamu banting setir jadi pengantar pizza, Dave?”
“ Hanya untukmu,” Dave tersenyum seraya memamerkan sebuah kotak pembungkus DVD. “ Dengan esktra Johnny Deep dan kentang goreng?”
“ Yah, kupikir aku terpaksa harus membiarkanmu masuk.”
 Senyum Dave mengembang. Dengan santainya, ia menaruh kotak pizza dan martabak itu di tangan Tifa. Ia melenggang masuk sambil membuka topi pengantar pizza.
“ Hei, sejak kapan tuan rumah jadi pembantu, heh?”
Dave terkekeh. Ia tak peduli. Ia malah langsung melompat ke atas sofa yang ada di dekat mini bar. Matanya terlihat menjelajah isi apartemen Tifa.
Flat-mu bagus. Aku kira bakalan berakhir dengan satu sofa dan meja.”
“ Memang begitu awalnya,” sahut Tifa sambil menyusun makanan di atas meja mini bar. “ Tapi ada seorang pria yang selalu mengomeliku tentang isi apartemen ini. Makanya waktu aku ke Jakarta kemarin, aku mengutus seorang arsitek yang masih kenalanku untuk merubah tempat ini. Aku tidak suka yang ribet-ribet, tapi yang penting orang itu berhenti mengomeliku.”
“ Pria?” kepala Dave langsung berputar pada Tifa. “ Pria mana yang sanggup mengubah pendirianmu?”
“ Siapa lagi kalau bukan keponakanku tersayang,” Tifa tertawa seraya menjilati jemarinya yang terkena lelehan keju martabak. “ Kamu pikir ada berapa pria yang ada di dalam kehidupanku?”
Dave berjalan mendekati mini bar, lalu membantu Tifa menyusun makanan, “Mana kutahu. Belasan tahun kita gak ketemu, siapa tahu ada pria yang… yaah, kamu ngerti maksud aku’kan?”
Tifa menatap Dave. Mata keduanya bertemu, lalu Tifa tersenyum.
“ Nggak,” Tifa langsung ngoyor menuju mesin espresso. “ Kamu bawa ini ke meja. Biar aku yang ambil minum. Kamu mau kopi, Dave?”
“ Sudah terlalu larut untuk minum kopi, Tif. Air biasa saja.”
Setelah semua siap, Dave pun menyetel film yang ia bawa. Fokus Tifa pun terbagi dua. Ketampanan Johnny Deep dan martabak yang ia pegang. Ia sampai tidak sadar kalau dari tadi ada sepasang mata yang memerhatikannya dengan intens. Hingga ia kepalanya terasa panas, barulah ia menoleh.
“ Apa? Kenapa kamu lihatin aku kayak gitu?”
Dave tersenyum sinis, “ Coba lihat dirimu! Apa menurutmu tidak terlalu seksi menyambut pria dengan pakaian seperti itu?”
“ Hoo, jadi pikiran kotormu bangkit hanya karena melihat wanita mengenakan kaus laki-laki?”
“ Kalau bukan aku bagaimana? Bisa saja ada tukang pizza asli yang tiba-tiba menyerangmu karena melihat pakaianmu yang seperti ini.”
“ Kalau begitu si tukang pizza itu salah sasaran,” Tifa terkekeh sambil menyuapkan kentang goreng. “ Siapa suruh nyerang macan.”
Dave kembali terkikik, tapi ia tersenyum menggoda, “ Tapi kamu lebih cantik kayak gini.”
Tifa hanya melirik Dave sesaat. Kemudian ia kembali fokus pada filmnya.
“ Boleh aku tanya satu hal, Tif?”
Tifa kembali meliriknya.
“ Kenapa kamu belum mengubah keputusanmu untuk tidak menikah?”
Tifa tak langsung menjawab. Ya, Dave adalah orang kedua yang tahu alasannya melajang selain ibunya. Harusnya Dave tak usah bertanya lagi karena ia pernah menjawab pertanyaan itu.
“ Aku trauma dengan apa yang terjadi dengan Kak Laksmi. Tidakkah kamu bosan menanyakan hal itu terus?”
“ Ya, aku tahu. Aku tahu apa yang terjadi dengan Kak Laksmi, tapi tidakkah kamu juga berpikir apa yang dialami Kak Laksmi tidak akan terjadi pada setiap orang?”
“ Kak Laksmi dikhianati lalu bunuh diri! Dan selama perjalanan hidupku, aku sudah bertemu banyak pria. Mereka semua sama saja!”
Tifa mengginggit kentang gorengnya dengan brutal. Entah kenapa ia selalu sewot kalau sudah disinggung soal kakaknya.
“ Lalu apa Ayahmu juga begitu?”
“ Ayahku pengecualian.”
“ Lalu Adrian?”
“ Akan aku buat dia tidak seperti itu.”
“ Dan aku?”
Refleks, aktivitas Tifa mengunyah kentang terhenti. Ia tak bisa menjawab cepat seperti tadi. Ada banyak poin yang harus dia pikirkan sebelum melontarkan jawaban.
Dave menyeringai, “ Kamu tidak bisa jawab’kan?”
“ Itu karena aku tidak mengenalmu yang sekarang.”
“ Tidak ada yang namanya Dave yang dulu atau Dave yang sekarang. Aku tetaplah David Mitchell Blackwell, bocah kecil yang kamu kenal 20 tahun lalu, pemuda yang pernah menjadi kekasihmu, dan pria tampan yang ada di sebelahmu sekarang.”
Tifa menoleh. Ia sempat tersentak kaget. Sejak kapan wajah Dave sedekat ini. Sulit bagi Tifa untuk mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Wajah Dave mendominasi jarak pandangnya. Kalau sudah begini, Tifa terpaksa mengamati wajah laki-laki ini dengan seksama.
Memang benar, tak ada yang berubah. Sinar mata bocah laki-laki yang berkenalan dengannya dulu masih ada. Senyuman hangat yang selalu mengatakan cinta padanya juga masih terhampar di sana. Rahangnya yang keras, serta guratan-guratan kedewasaan hanya menambah daya tarik laki-laki ini saja.
Semua masih sama. Namun, apakah perasaannya juga masih sama? Pertanyaan itu bergelut di pikiran Tifa.
“ Jika kamu mempertanyakan bagaimana perasaanku padamu sekarang, maka jawabannya iya. Aku masih mencintaimu sama seperti dulu.”
Dave kembali memajukan wajahnya. Tifa pun terpaksa sedikit memalingkan wajah. Jika tidak, iya yakin bibir menawan itu akan mendarat di bibirnya.
“ Kenapa kamu begitu menginginkanku?”
“ Bukan hanya sampai tahap ingin, tapi aku benar-benar butuh. Bukan membutuhkan seperti barang. Hanya saja hidup tanpamu membuat semua hidupku hampa. Kamu tahu, saat kamu menghilang dulu aku juga kehilangan sebagian diriku. Sekarang aku sudah menemukanmu dan aku tidak mau melepaskamu lagi.”
Tifa kembali terhisap dalam rayuan iris safir itu. Begitu kuat, sampai-sampai ia tak kuasa menolak saat jemari Dave sudah membelai pipinya. Nyaris saja. Hanya beberapa detik lagi, ia dan Dave dipastikan saling berciuman. Namun, Tifa tak mau menyerah. Ia bangkit dari sofa, lalu menuju mini bar. Ia mengambil jarak yang cukup supaya Dave tidak menyerangnya lagi.
“ Aku sudah berubah Dave. Hidupku sudah berubah sejak aku kehilangan apa yang aku cintai. Aku bukan Tifa yang kamu kenal lagi.”
“ Tapi kamu tidak pernah kehilangan aku. Kamu mencintaiku’kan?”
Tifa berbalik. Pipinya memanas dan ia tak mau kalau Dave menangkap wajahnya yang bersemu merah. Di sisi lain, Dave yang tak kunjung melihat Tifa berbalik, akhirnya memilih untuk kembali duduk santai di sofa.
“ Kembalilah. Duduk sini!”
Tifa masih membatu.
“ Aku ke sini cuma mau nonton denganmu, bukan punggung-punggungan seperti ini.”
Akhirnya, Tifa menyerah. Ia kembali duduk di sebelah Dave. Namun, ia mengambil jarak yang cukup jauh.
“ Aku tidak akan melakukannya lagi, tapi aku akan tetap pada pendirianku.”
Ketika Tifa meliriknya, mata mereka bertemu. Namun, Tifa tak berkomentar apa pun. Ia hanya kembali menonton dengan posisi memeluk lutut.
Hingga perjalanan film itu sampai di tengah acara, Tifa pun mengatakan sesuatu yang ingin ia katakan dari dulu.
“ Aku takut, Dave.”
Dave menatap Tifa. Wanita itu membenamkan kepalanya di kedua lutut.
“ Aku hanya takut. Takut semuanya akan berubah dari apa yang aku rencanakan. Lebih dari itu, aku takut kalau nantinya semua berubah menjadi akhir yang mengerikan.”
Dave menatapnya beberapa saat. Melihat Tifa yang tidak ada reaksi, Dave pun berinisiatif untuk mendekati. Tangannya terayun ragu ketika akan menyentuh pucuk kepala wanita itu. Ia memastikan sekali lagi kalau wanita ini tidak akan berontak. Akhirnya, sentuhan lembut itu ia sapukan di sana dan Tifa sama sekali tidak menolak.
Saat wanita itu mengangkat wajahnya, tatapannya terlihat berkaca-kaca. Bibirnya bergetar seperti orang yang akan menangis.
“ Maafkan aku, Dave. Tapi… untuk sekarang aku tak bisa….”
Dave menghela napas panjang. Ia pun memberanikan diri untuk merengkuh wanita itu dalam pelukannya. Kali ini tak ada perlawanan sama sekali. Dave justru merasakan ada titik air yang menembus kemejanya. Ia tahu gadis itu pasti sedang menangisi dirinya sendiri.
“ Sudah, tidak apa,” ujar Dave seraya mengusap lembut kepala Tifa. “ Tapi kamu harus tahu kalau aku benar-benar mengharapkanmu.”
Tifa hanya mengangguk pelan. Kemudian tak terdengar apa-apa lagi. Hanya desahan napas teratur. Tifa terlalu lelah dengan semua pekerjaannya yang menyita waktu, energi, serta perasaannya. Ia sangat lelah dan sekarang ia menemukan tempat ternyaman untuk melepas lelah. Tifa tak sadar kalau ia membuka pintu mimpinya dalam pelukan Dave.
Bahkan Dave sendiri tak percaya kalau Tifa tertidur dalam posisi seperti ini. Dave mengamati lamat-lamat wajah Tifa. Tergambar jelas kelelahan yang melanda raga dan jiwa wanita itu. Kemudian, ada setitik sisa air mata di pipi wanita itu dan Dave segera menghapusnya. Ia berpikir untuk membawa wanita itu ke kamar tidur, tapi hasrat terpendamnya lebih dulu menguasai batas moral. Mungkin tak ada salahnya membiarkan Tifa terlelap dalam pelukannya. Biar saja ia mendapatkan jurus-jurus aikido kalau wanita itu terbangun. Biar saja malaikat mencatat dosa besarnya, karena rasa rindu telah mengalahkan segalanya.
Perlahan ia hirup aroma rambut Tifa yang masih setengah basah. Aroma sampo yang wanita itu gunakan bagai candu yang tak bisa Dave lepaskan. Iblis dalam diri Dave menginginkan sesuatu yang lebih, tapi kali ini akal sehatnya berhasil pegang kendali. Dave berjanji hanya memeluknya saja sampai wanita itu terbangun.
“ Semoga aku hadir dalam mimpimu. Selamat malam.”
Dave mendaratkan kecupan panjang di kening Tifa.

Author’s note:
Tidaaaak… Author juga ikutan bapeeer….
Oh ya, ada mau konfirmasi dikit. Dave sama Tifa memang pisah selama 13 tahun, tapi 7 tahun sebelumnya mereka pernah ketemu. Hmm, nanti akan dijelaskan di musikal-musikal selanjutnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar