Musikal 102
Sesi latihan hari ini telah usai. Setelah mengevaluasi
masing-masing anggota, Tifa pun membubarkan lingkaran. Kemudian ia menyapa
Adrian seraya melemparkan kunci mobilnya. Seperti sudah paham dengan maksud
tantenya, Adrian segera menuju mobil oranye tersebut.
Hari ini pasangan
tante-keponakan itu sengaja pergi dengan satu mobil. Tifa masih terlalu lelah
untuk menyetir sendiri. Oleh karena itu, ia menyuruh Adrian menunggu di parkiran
apartemennya, lalu menjadi supir pribadinya hari itu.
“ Apa ada yang
terjadi selama aku pergi?”
“ Banyak,” sahut
Adrian ketika mereka sedang dalam perjalanan. “ Tapi kalau kuceritakan Tante
bisa ketiduran.”
Tifa menguap lebar, “
Yang penting saja.”
“ Juga banyak,”
Adrian menyahut usil.
Mendengar jawaban
iseng itu, Tifa menjadi sewot, “ Baiklah, lalu apa dari semua kejadian penting
itu ada hubungannya dengan jawabanmu di konferensi pers kemarin?”
Adrian melirik Tifa,
“ Maksud Tante, tentang hubunganku dan Fi? Menurut Tante itu kejadian penting?”
“ Tante gak bakal
ikut campur urusanmu, tapi Tante berhak tahu,” ujar Tifa seraya menurunkan
sandaran kursinya. “ Biasanya kamu cerita-cerita.”
Adrian menghela napas
panjang, “ Ya, kami memang pacaran, dan kejadiannya sudah lama. Aku nembak dia
setelah audisi pemeran pertama.”
“ Wah, udah lama
juga. Kenapa gak cerita-cerita?”
“ Tante gak
nanya-nanya.”
Tifa mendengus pelan.
Jawaban iseng keponakannya membuat tekanan darahnya naik.
“ Memangnya apa sih
yang kamu suka dari dia? Masih bocah ingusan juga.”
Kali ini Adrian
melempar tatapan sebal pada tantenya. Buru-buru Tifa mengangkat tangannya
seraya menyeringai usil.
“ Tante berhak tahu toh. Tante cuma gak kepingin kamu
menyesal nantinya. Kalian’kan baru saling kenal.”
“ Mungkin banyak
orang yang gak suka dia. Entah karena popularitasnya, bakatnya, atau wajahnya.
Tapi di mataku Fi adalah gadis yang baik. Lagi pula kami bukan baru kenal, tapi
baru bertemu lagi.”
“ Hoo, ketemu
dimana?”
“ Jakarta. Waktu aku
ikut sanggar teater, dan dia sudah jadi anggota lama di sana. Kami berteman
cukup akrab, sampai akhirnya dia jadi artis dan aku sibuk pentas ke luar
negeri.”
Tifa
mengangguk-anggukan kepalanya. Kemudian ia tak berkomentar lagi. Matanya sudah
hampir terlelap.
“ Tante gak suka
dia?”
Pertanyaan Adrian
berhasil membuat Tifa terjaga, “ Hmm, masalah suka atau tidak, Tante yakin itu
tidak akan memengaruhimu. ‘kan sudah Tante bilang, Tante cuma mau tahu, tidak
berniat mencampuri urusan kalian. Tapi yah, kamu harus tahu suatu rahasia
tentang Love Musical.”
Adrian melirik Tifa
sekilas, “ Apa?”
“ Dari dulu sampai
sekarang, semua anggota Love Musical
tahu tentang kutukan cinta klub teater kita. Kutukan itu akan menimpa siapa
saja yang berpacaran dengan pemeran utama Love
Musical.”
“ Hah, maksud Tante
kalau jadi pemeran utama gak boleh pacaran gitu?”
“ Bukanya gak boleh,
tapi gak boleh pacaran dengan anggota Love
Musical lainnya. Jadi, kalau seseorang sedang ditunjuk sebagai pemeran
utama, maka dia gak boleh pacaran dengan sesama anggota. Dan kalau melanggar,
maka kisah cintanya akan berakhir dengan kesedihan.”
Tifa menatap Adrian,
“ Dan jangan lupa, kalau kamu dan Fi sama-sama pemeran utama.”
Tawa Adrian seketika
pecah, “ Apa-apaan tuh? Astaga, Tante. Bertahun-tahun tinggal di Amerika masih
aja percaya sama yang namanya kutukan. Paling-paling itu cuma rumor buatan anak
SMA terus dipercaya luas.”
“ Tante juga awalnya
gak percaya. Sampai Mamamu dan Tante sendiri yang mengalaminya.”
Tawa Adrian langsung
lenyap. Ia kembali melirik Tantenya.
“ Mungkin itu hanya
paranoid yang tercipta akibat sugesti. Aku tetap gak percaya. Lagi pula yang
menjalani hubungan saat ini adalah aku dan Fi, bukan Tante atau pun Mama,
apalagi kutukan aneh itu.”
Sanggahan Adrian membuat
kepala Tifa berdenyut. Dalam tiga hari ini ia hanya mendapatkan jatah tidur
selama dua jam. Kemudian ia harus mengurusi seabrek urusan Love Musical yang panjang, dan sekarang entah kenapa keponakannya
yang penurut itu tiba-tiba jadi bandel. Kepala Tifa seakan mau pecah.
Namun, ia juga ingin
menyangkal apa yang ia katakan tadi. Soal kutukan itu. Ia juga tak mau hal itu
terulang lagi. Terutama pada keponakan tersayangnya.
ooOoo
Hari-hari yang menyerap semua tenaganya. Baru saja
mendarat di Palembang, Tifa langsung memacu langkahnya ke gedung teater. Sudah
dipastikan, mana ada latihan yang hanya duduk-duduk saja. Paling tidak ia harus
turun-naik panggung.
Perhatiannya masih
tersita dengan kegiatan konferensi pers di keesokkan harinya. Mengatur
sana-sini, belum lagi ia harus benar-benar menjaga ucapannya supaya para
wartawan itu tidak ambigu dalam menulis berita. Ia harus melakukannya karena
salah-salah bicara ia bisa menghancurkan nama besar orang-orang yang terlibat
di dalamnya. Beberapa nama sudah sangat akrab di telinga orang awam, kalau
sampai ia salah bicara, bisa-bisa pertunjukkan itu batal selamanya.
Setelah konferensi
pers, kegiatan mereka dilanjutkan dengan sesi photoshoot. Walau hanya beberapa gambar yang akan digunakan, tapi
persiapannya memerlukan banyak waktu dan tenaga. Sampai sesi pemotretan selesai
Tifa belum mendapatkan jatah tidurnya sedetik pun.
Tifa baru bisa
meluruskan pinggangnya ketika sang fotografer sudah menyerahkan master
foto-foto itu ke bagian percetakan poster. Untuk urusan yang satu ini Tifa
masih memiliki waktu beberapa hari sampai poster-poster itu selesai. Dan Tifa
menggunakan dua jam sebelum latihan untuk menenangkan syaraf-syarafnya. Ia bahkan
tidak tidur di rumah, melainkan di gedung teater. Kemudian ia kembali terjaga
saat Riani membangunkannya. Ia pun harus segera kembali bersemangat melatih
para anggotanya.
Dan di sinilah ia
sekarang. Ia bersyukur Adrian mau mengantarkannya. Ia biarkan saja Adrian
membawa mobilnya ke rumah ibunya. Malam ini ia mau hibernasi.
Tubuhnya sudah
terbalut hot pants yang tenggelam
oleh kaus untuk laki-laki ukuran jumbo. Ia berencana untuk makan yang
manis-manis sebelum tidur. Baru saja mengeluarkan puding dari kulkas, tiba-tiba
bel pintunya berbunyi. Dengan malas Tifa menyeret langkahnya untuk menekan
interkom. Namun, kening Tifa mengkerut saat layar interkom itu menampilkan tamu
yang datang.
“ Pizza delivery!”
Tifa melengos, “ Saya
gak pesan pizza.” ‘ Lagi pula aku sukanya
martabak’.
“ Dengan martabak
cokelat-keju.”
Si pengantar pizza
itu mengangkat wajahnya. Terlihat jelas dari layar interkom bagaimana birunya
iris mata laki-laki itu. Tifa mendesah berat. Mau tak mau ia membukakan
pintunya. Ia menyambut si pengantar pizza
dengan senyuman sinis.
“ Kamu sudah dipecat
jadi presdir? Sejak kapan kamu banting setir jadi pengantar pizza, Dave?”
“ Hanya untukmu,”
Dave tersenyum seraya memamerkan sebuah kotak pembungkus DVD. “ Dengan esktra
Johnny Deep dan kentang goreng?”
“ Yah, kupikir aku
terpaksa harus membiarkanmu masuk.”
Senyum Dave mengembang. Dengan santainya, ia
menaruh kotak pizza dan martabak itu di tangan Tifa. Ia melenggang masuk sambil
membuka topi pengantar pizza.
“ Hei, sejak kapan
tuan rumah jadi pembantu, heh?”
Dave terkekeh. Ia tak
peduli. Ia malah langsung melompat ke atas sofa yang ada di dekat mini bar. Matanya terlihat menjelajah
isi apartemen Tifa.
“ Flat-mu bagus. Aku kira bakalan berakhir
dengan satu sofa dan meja.”
“ Memang begitu
awalnya,” sahut Tifa sambil menyusun makanan di atas meja mini bar. “ Tapi ada seorang pria yang selalu mengomeliku tentang
isi apartemen ini. Makanya waktu aku ke Jakarta kemarin, aku mengutus seorang
arsitek yang masih kenalanku untuk merubah tempat ini. Aku tidak suka yang
ribet-ribet, tapi yang penting orang itu berhenti mengomeliku.”
“ Pria?” kepala Dave
langsung berputar pada Tifa. “ Pria mana yang sanggup mengubah pendirianmu?”
“ Siapa lagi kalau
bukan keponakanku tersayang,” Tifa tertawa seraya menjilati jemarinya yang
terkena lelehan keju martabak. “ Kamu pikir ada berapa pria yang ada di dalam
kehidupanku?”
Dave berjalan
mendekati mini bar, lalu membantu
Tifa menyusun makanan, “Mana kutahu. Belasan tahun kita gak ketemu, siapa tahu
ada pria yang… yaah, kamu ngerti maksud aku’kan?”
Tifa menatap Dave.
Mata keduanya bertemu, lalu Tifa tersenyum.
“ Nggak,” Tifa
langsung ngoyor menuju mesin espresso. “ Kamu bawa ini ke meja. Biar aku yang
ambil minum. Kamu mau kopi, Dave?”
“ Sudah terlalu larut
untuk minum kopi, Tif. Air biasa saja.”
Setelah semua siap,
Dave pun menyetel film yang ia bawa. Fokus Tifa pun terbagi dua. Ketampanan
Johnny Deep dan martabak yang ia pegang. Ia sampai tidak sadar kalau dari tadi
ada sepasang mata yang memerhatikannya dengan intens. Hingga ia kepalanya
terasa panas, barulah ia menoleh.
“ Apa? Kenapa kamu
lihatin aku kayak gitu?”
Dave tersenyum sinis,
“ Coba lihat dirimu! Apa menurutmu tidak terlalu seksi menyambut pria dengan
pakaian seperti itu?”
“ Hoo, jadi pikiran
kotormu bangkit hanya karena melihat wanita mengenakan kaus laki-laki?”
“ Kalau bukan aku
bagaimana? Bisa saja ada tukang pizza asli yang tiba-tiba menyerangmu karena
melihat pakaianmu yang seperti ini.”
“ Kalau begitu si
tukang pizza itu salah sasaran,” Tifa terkekeh sambil menyuapkan kentang
goreng. “ Siapa suruh nyerang macan.”
Dave kembali
terkikik, tapi ia tersenyum menggoda, “ Tapi kamu lebih cantik kayak gini.”
Tifa hanya melirik
Dave sesaat. Kemudian ia kembali fokus pada filmnya.
“ Boleh aku tanya
satu hal, Tif?”
Tifa kembali
meliriknya.
“ Kenapa kamu belum
mengubah keputusanmu untuk tidak menikah?”
Tifa tak langsung
menjawab. Ya, Dave adalah orang kedua yang tahu alasannya melajang selain
ibunya. Harusnya Dave tak usah bertanya lagi karena ia pernah menjawab
pertanyaan itu.
“ Aku trauma dengan
apa yang terjadi dengan Kak Laksmi. Tidakkah kamu bosan menanyakan hal itu
terus?”
“ Ya, aku tahu. Aku
tahu apa yang terjadi dengan Kak Laksmi, tapi tidakkah kamu juga berpikir apa
yang dialami Kak Laksmi tidak akan terjadi pada setiap orang?”
“ Kak Laksmi
dikhianati lalu bunuh diri! Dan selama perjalanan hidupku, aku sudah bertemu
banyak pria. Mereka semua sama saja!”
Tifa mengginggit
kentang gorengnya dengan brutal. Entah kenapa ia selalu sewot kalau sudah
disinggung soal kakaknya.
“ Lalu apa Ayahmu
juga begitu?”
“ Ayahku
pengecualian.”
“ Lalu Adrian?”
“ Akan aku buat dia
tidak seperti itu.”
“ Dan aku?”
Refleks, aktivitas
Tifa mengunyah kentang terhenti. Ia tak bisa menjawab cepat seperti tadi. Ada
banyak poin yang harus dia pikirkan sebelum melontarkan jawaban.
Dave menyeringai, “
Kamu tidak bisa jawab’kan?”
“ Itu karena aku
tidak mengenalmu yang sekarang.”
“ Tidak ada yang
namanya Dave yang dulu atau Dave yang sekarang. Aku tetaplah David Mitchell
Blackwell, bocah kecil yang kamu kenal 20 tahun lalu, pemuda yang pernah
menjadi kekasihmu, dan pria tampan yang ada di sebelahmu sekarang.”
Tifa menoleh. Ia
sempat tersentak kaget. Sejak kapan wajah Dave sedekat ini. Sulit bagi Tifa
untuk mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Wajah Dave mendominasi jarak
pandangnya. Kalau sudah begini, Tifa terpaksa mengamati wajah laki-laki ini
dengan seksama.
Memang benar, tak ada
yang berubah. Sinar mata bocah laki-laki yang berkenalan dengannya dulu masih
ada. Senyuman hangat yang selalu mengatakan cinta padanya juga masih terhampar
di sana. Rahangnya yang keras, serta guratan-guratan kedewasaan hanya menambah
daya tarik laki-laki ini saja.
Semua masih sama.
Namun, apakah perasaannya juga masih sama? Pertanyaan itu bergelut di pikiran
Tifa.
“ Jika kamu
mempertanyakan bagaimana perasaanku padamu sekarang, maka jawabannya iya. Aku
masih mencintaimu sama seperti dulu.”
Dave kembali
memajukan wajahnya. Tifa pun terpaksa sedikit memalingkan wajah. Jika tidak,
iya yakin bibir menawan itu akan mendarat di bibirnya.
“ Kenapa kamu begitu
menginginkanku?”
“ Bukan hanya sampai
tahap ingin, tapi aku benar-benar butuh. Bukan membutuhkan seperti barang.
Hanya saja hidup tanpamu membuat semua hidupku hampa. Kamu tahu, saat kamu
menghilang dulu aku juga kehilangan sebagian diriku. Sekarang aku sudah
menemukanmu dan aku tidak mau melepaskamu lagi.”
Tifa kembali terhisap
dalam rayuan iris safir itu. Begitu kuat, sampai-sampai ia tak kuasa menolak
saat jemari Dave sudah membelai pipinya. Nyaris saja. Hanya beberapa detik
lagi, ia dan Dave dipastikan saling berciuman. Namun, Tifa tak mau menyerah. Ia
bangkit dari sofa, lalu menuju mini bar. Ia
mengambil jarak yang cukup supaya Dave tidak menyerangnya lagi.
“ Aku sudah berubah
Dave. Hidupku sudah berubah sejak aku kehilangan apa yang aku cintai. Aku bukan
Tifa yang kamu kenal lagi.”
“ Tapi kamu tidak
pernah kehilangan aku. Kamu mencintaiku’kan?”
Tifa berbalik.
Pipinya memanas dan ia tak mau kalau Dave menangkap wajahnya yang bersemu
merah. Di sisi lain, Dave yang tak kunjung melihat Tifa berbalik, akhirnya
memilih untuk kembali duduk santai di sofa.
“ Kembalilah. Duduk
sini!”
Tifa masih membatu.
“ Aku ke sini cuma
mau nonton denganmu, bukan punggung-punggungan seperti ini.”
Akhirnya, Tifa
menyerah. Ia kembali duduk di sebelah Dave. Namun, ia mengambil jarak yang
cukup jauh.
“ Aku tidak akan
melakukannya lagi, tapi aku akan tetap pada pendirianku.”
Ketika Tifa
meliriknya, mata mereka bertemu. Namun, Tifa tak berkomentar apa pun. Ia hanya
kembali menonton dengan posisi memeluk lutut.
Hingga perjalanan
film itu sampai di tengah acara, Tifa pun mengatakan sesuatu yang ingin ia
katakan dari dulu.
“ Aku takut, Dave.”
Dave menatap Tifa.
Wanita itu membenamkan kepalanya di kedua lutut.
“ Aku hanya takut.
Takut semuanya akan berubah dari apa yang aku rencanakan. Lebih dari itu, aku
takut kalau nantinya semua berubah menjadi akhir yang mengerikan.”
Dave menatapnya
beberapa saat. Melihat Tifa yang tidak ada reaksi, Dave pun berinisiatif untuk
mendekati. Tangannya terayun ragu ketika akan menyentuh pucuk kepala wanita
itu. Ia memastikan sekali lagi kalau wanita ini tidak akan berontak. Akhirnya,
sentuhan lembut itu ia sapukan di sana dan Tifa sama sekali tidak menolak.
Saat wanita itu
mengangkat wajahnya, tatapannya terlihat berkaca-kaca. Bibirnya bergetar
seperti orang yang akan menangis.
“ Maafkan aku, Dave.
Tapi… untuk sekarang aku tak bisa….”
Dave menghela napas
panjang. Ia pun memberanikan diri untuk merengkuh wanita itu dalam pelukannya. Kali
ini tak ada perlawanan sama sekali. Dave justru merasakan ada titik air yang
menembus kemejanya. Ia tahu gadis itu pasti sedang menangisi dirinya sendiri.
“ Sudah, tidak apa,”
ujar Dave seraya mengusap lembut kepala Tifa. “ Tapi kamu harus tahu kalau aku
benar-benar mengharapkanmu.”
Tifa hanya mengangguk
pelan. Kemudian tak terdengar apa-apa lagi. Hanya desahan napas teratur. Tifa
terlalu lelah dengan semua pekerjaannya yang menyita waktu, energi, serta
perasaannya. Ia sangat lelah dan sekarang ia menemukan tempat ternyaman untuk
melepas lelah. Tifa tak sadar kalau ia membuka pintu mimpinya dalam pelukan
Dave.
Bahkan Dave sendiri
tak percaya kalau Tifa tertidur dalam posisi seperti ini. Dave mengamati
lamat-lamat wajah Tifa. Tergambar jelas kelelahan yang melanda raga dan jiwa
wanita itu. Kemudian, ada setitik sisa air mata di pipi wanita itu dan Dave
segera menghapusnya. Ia berpikir untuk membawa wanita itu ke kamar tidur, tapi
hasrat terpendamnya lebih dulu menguasai batas moral. Mungkin tak ada salahnya
membiarkan Tifa terlelap dalam pelukannya. Biar saja ia mendapatkan jurus-jurus
aikido kalau wanita itu terbangun. Biar saja malaikat mencatat dosa besarnya,
karena rasa rindu telah mengalahkan segalanya.
Perlahan ia hirup
aroma rambut Tifa yang masih setengah basah. Aroma sampo yang wanita itu
gunakan bagai candu yang tak bisa Dave lepaskan. Iblis dalam diri Dave
menginginkan sesuatu yang lebih, tapi kali ini akal sehatnya berhasil pegang
kendali. Dave berjanji hanya memeluknya saja sampai wanita itu terbangun.
“ Semoga aku hadir
dalam mimpimu. Selamat malam.”
Dave mendaratkan
kecupan panjang di kening Tifa.
Author’s note:
Tidaaaak… Author juga ikutan bapeeer….
Oh ya, ada mau konfirmasi dikit. Dave sama
Tifa memang pisah selama 13 tahun, tapi 7 tahun sebelumnya mereka pernah
ketemu. Hmm, nanti akan dijelaskan di musikal-musikal selanjutnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar