Total Tayangan Halaman

Jumat, 25 November 2016

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 103)




Musikal 103

Alarm ponsel Tifa menjerit. Pertanda bahwa jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan. Tifa perlahan menggeliat malas. Namun, pagi ini tubuhnya sulit digerakkan, seperti ada benda yang sedang memeluknya erat.
Tifa membuka matanya. Seketika matanya melebar dua kali lipat saat menyadari bukan sebuah benda yang memeluknya, tapi seseorang. Tifa mencoba mengingat-ingat siapa orang ini. Rasanya terakhir ia menghabiskan waktu bersama Dave.
Tifa perlahan mendongak dan ia mendapati wajah Dave yang masih terlelap. Jantungnya langsung berdegup keras. Jadi, semalaman ia bermimpi dalam dekapan lelaki itu dan beralaskan dadanya yang bidang.
“ Sudah puas memandangi wajahku?”
Sontak, Tifa melepaskan diri. Dave hanya terkejut sedikit, lalu ia merenggangkan tubuhnya sambil menguap.
“ Kita tidak melakukan apa pun jika kamu butuh penjelasan.”
Tifa tersenyum sinis, “ Wah, hebat juga kamu bisa tahan dari godaan iblis.”
“ Itu usaha yang berat tahu,” Dave terkekeh, lalu ia kembali mendekatkan wajahnya pada wajah Tifa. “ Tapi aku lebih tergoda dengan wajahmu yang baru bangun tidur ini.”
Tifa memicingkan matanya. Sebisa mungkin ia tidak menatap mata biru itu. Kemudian ia menarik wajahnya menjauh.
“ Aku duluan!” seru Tifa seraya melompati Dave dan langsung berlari ke arah kamar mandi. “ Kamu cuci muka di bak cuci piring aja, Dave.”
Tawa Dave pecah. Matanya mengawasi Tifa yang ada di balik pintu kamar mandi. Wanita itu memang masih menghindarinya, tapi tidak lagi dengan rasa trauma seperti semalam. Tidak apa, bagi Dave selama ia masih bisa di sisi wanita itu ia merasa sudah cukup.
“ Loh, belum cuci muka, Dave?” ternyata tak butuh waktu lama bagi Tifa untuk keluar dari kamar mandi. Wajahnya terlihat lebih segar dengan rambut yang dicepol asal-asalan.
“ Mana ada orang cuci muka di bak cuci piring, Tif.”
Giliran Tifa yang terkekeh, “ Ya udah, giliran kamu sana.”
Dave pun beranjak menuju kamar mandi, sementara Tifa sibuk membersihkan sisa-sisa makanan mereka semalam. Dave kaget karena Tifa sudah menyiapkan peralatan mandi untuknya. Mulai dari sikat gigi, handuk, bahkan sampai pisau cukur. Semuanya baru dan itulah yang membuatnya keheranan.
“ Mau kopi, Dave?” tanya Tifa ketika Dave sudah selesai membersihkan diri.
“ Boleh,” ujar Dave seraya duduk di kursi mini bar. “ Hei, Tif. Ada yang mau aku tanyakan.”
“ Hmm?” Tifa menyahut seraya menuangkan kopi ke dalam gelas.
“ Apa ada laki-laki yang pernah menginap di sini?”
Tawa Tifa pecah, “ Ahh, pasti karena pisau cukur itu ya,” Tifa menyodorkan kopi pada Dave. “ Untuk Adrian. Kupikir kalau dia sudah melihat suasana apartemenku yang baru dia mau menginap. Waktu itu sudah pernah kuajak, tapi dia menolak. Alasannya sih karena waktu itu aku cuma punya satu sofa.”
“ Hoo….” Dave tersenyum saat menyeruput kopinya. Senang rasanya kalau prasangka buruknya tidak terbukti.
“ Lalu kita mau sarapan apa pagi ini?”
Alis Dave terangkat, “ Kamu bisa masak?”
“ Waah, kamu meragukanku,” raut wajah Tifa berubah sinis seraya bersedekap. “Aku punya dua menu andalan. Kamu tinggal pilih. Roti dan selai, atau selai dan roti?”
Seketika Dave tertawa sampai terbatuk-batuk. Bukannya tersinggung, Tifa justru ikut tertawa.
“ Astaga, menu macam apa itu?”
“ Baiklah, baiklah, aku memang tidak bisa membuat sesuatu selain kopi,” Tifa mengangkat tangannya tanda menyerah. “ Tapi kupikir kita bisa mengolah sesuatu dengan isi kulkasku.”
Tifa membuka kulkasnya. Dave pun mengekorinya. Ia cukup takjub saat melihat kulkas Tifa yang penuh dengan bahan makanan.
“ Hebat juga kamu bisa pilih bahan mentah sebanyak ini.”
“ Itu berarti kerja si Sarti sangat bagus.”
“ Sarti?”
“ Asisten rumah tanggaku. Dia yang masak serta beres-beres,” Tifa kembali terkekeh. “ Kamu pikir aku punya waktu untuk itu semua?”
“ Cih, seharusnya sudah kuduga,” Dave menarik Tifa menjauhi kulkas, lalu mendorong wanita itu agar duduk di kursi mini bar. “ Kamu duduk saja, biar aku yang buat sarapan.”
“ Memangnya bisa?”
“ Duduk dan lihat saja,” sahut Dave sambil sibuk membuka-buka laci kabinet. Wajahnya terlihat cerah saat menemukan celemek yang tersimpan di salah satu laci kabinet. Sambil memasang celemek, ia melontarkan pertanyaan, “ Biasanya kamu sarapan apa?”
“ Hm, aku? Oh, kalau aku biasanya western untuk sarapan. Perutku suka bermasalah kalau diisi makanan yang berat-berat seperti nasi.”
“ Kalau begitu tidak sulit,” gumam Dave. Selanjutnya dengan cekatan ia mengeluarkan satu persatu bahan makanan yang akan ia masak. Mulai dari roti, fillet tuna, tomat, selada, dan bumbu-bumbu lainnya.
Tifa tak sadar kalau bibirnya melengkungkan senyum saat melihat Dave yang cekatan memasak. Lama tak bertemu, ternyata laki-laki ini justru lebih keren saat berurusan dengan Teflon dan celemek.
“ Kayaknya enak tuh,” Tifa mengendus-endus aroma fillet tuna. “ Kamu jago masak juga, Dave?”
“ Aku juga hidup sendiri, Tif. Tapi aku ini mandiri, bukannya sok praktis kayak kamu.”
Tifa terkekeh. Tak lama kemudian dua porsi sandwich tuna tersaji untuknya. Sandwich itu terlihat begitu menggiurkan. Tifa jadi tak sabar untuk mencicipinya.
“ Enak?” tanya Dave ketika Tifa sudah menghabiskan seperempat roti isi itu tanpa bicara.
Tifa mengacungkan jempolnya, “ Waah, kalau kamu ngelamar jadi pengganti Sarti, aku pasti terima.”
“ Daripada jadi ART, mending jadi suami kamu aja,” Dave berkata dengan santai seraya melahap sandwich.
Mendengar itu Tifa langsung tersedak. Ia menghabiskan separuh kopinya, lalu mengisinya kembali.
“ Lho, kenapa? Memangnya aku kurang apa? Aku tampan, mapan, dan jago masak. Kamu benar-benar rugi kalau sampai menolakku.”
Tifa tertawa sinis, “ Kamu pikir nikah segampang itu? Lagi pula kamu pikir ibuku akan merestui?”
So pasti. Dia sudah lama mengenalku dan aku yakin dia juga sangat ingin menikahkan anaknya yang sudah lama jomblo ini. Apa lagi calonnya adalah laki-laki bermutu sepertiku.”
“ Sial,” gerutu Tifa. “ Lalu orang tuamu?”
“ Oh, ayolah. Mom and Dad adalah orang tua dengan pikiran maju. Mereka tidak pernah mengatur-atur kehidupan asmaraku. Asalkan aku tetap mengurusi perusahaan. Lagi pula calonnya juga bukan orang sembarangan.”
Skamat. Sepertinya tadi Tifa salah melontarkan pertanyaan.
“ Ngomong-ngomong soal pernikahan, apa kamu gak ngerasa kalau suasana yang kita rasakan sekarang seperti pengantin baru?”
Benar juga. Tifa baru sadar sekarang. Mereka baru saja tidur bersama, meski hanya benar-benar tidur. Kemudian saling menyiapkan sarapan, lalu makan bersama. Tifa juga baru ingat kalau tadi ia menawarkan kopi untuk Dave. Itu persis seperti sikap seorang istri pada suaminya. Tidakkah semua itu terasa romantis?
Lamunan Tifa buyar saat jemari Dave menyentuh sudut bibirnya. Sepertinya ada mayones yang menempel di sana. Tak hanya itu, Dave membersihkan mayones yang berpindah di jemarinya dengan mulutnya. Entah kenapa sikap Dave barusan terasa begitu seksi di mata Tifa.
 “ Kok melamun?”
Tifa meletakkan sandwich di atas piring seraya mendesah berat, “ Aku bisa kena serangan jantung kalau lama-lama dekat kamu, Dave.”
“ Heee, jadi aku membuatmu berdebar-debar,” Dave terkekeh seraya memangku wajahnya dengan sebelah tangannya. Matanya kini fokus menatap Tifa.
Kali ini Tifa tak bisa menghindar. Laki-laki itu berhasil mendapati wajahnya yang sedang merona. Tifa pikir laki-laki itu akan menertawainya, ternyata tidak. Tifa justru mendapatkan laki-laki itu sedang menggodanya dengan sebuah senyuman.
“ Aku bohong, Tif. Semalam aku memang melakukan sesuatu.”
Tifa terkesiap, “ Melakukan apa?”
Tiba-tiba saja Dave berdiri. Dari seberang meja mini bar, ia kembali mendaratkan kecupan panjang di dahi wanita itu. Kali ini Tifa tak sempat melawan, lebih tepatnya tak bisa. Gerakan Dave terlalu mendadak, tapi sangat lembut. Benar-benar terasa romantis.
Tifa bisa merasakan gerakan bibir Dave yang menuruni batang hidungnya. Tifa belum siap jika harus mempertemukan bibirnya dengan bibir Dave, tapi ia juga tidak bisa melawan hasratnya. Perlakuan Dave berhasil memantikkan gejolak rindu yang ia pendam. Kali ini ia tak bisa memungkiri kalau dia memang merindukan sentuhan laki-laki itu.
“ Oh, God!”
Suara itu mengejutkan keduanya. Tifa cepat-cepat menarik diri. Ia lebih terkejut lagi saat mendapati keponakannya berdiri kaku di sana.
“ Adrian, kamu― ah, ehem, kenapa kamu bisa masuk ke sini?”
“ Memangnya Tante pikir siapa lagi yang tahu kata sandi pintu masuk?” Adrian tersenyum sinis, lalu dengan santainya duduk di sebelah Tifa. “ Pagi, Om.”
“ Hai, Adrian,” Dave ikut-ikutan salah tingkah. “ Sarapan?”
“ Ah, tadi udah di rumah. Hm, tapi kopi boleh juga.”
Dave langsung menuangkan kopi untuk Adrian, “ Apa kabar? Bagaimana keadaan Tante July? Sepertinya aku belum sempat mengunjunginya. Sampaikan salamku untuknya”
“ Aku baik. Nenek juga baik,” Adrian menerima kopi dari Dave. “ Akan aku sampaikan. Dia pasti senang mendengar kabar kalau Om ada di sini.”
Tifa mendengus sebal. Keponakannya telah berhasil menangkap basah dirinya. Lihat saja dari tatapan matanya yang penuh dengan nada mengejek.
“ Kami memang tidur bersama, ah, maksud Tante, Dave nginep di sini,” Tifa berdecak kesal karena salah memilih kata. “ Tapi kami tidak melakukan apa-apa.”
“ Ah, ya, ya, ya, apa pun itu sebenarnya aku tidak butuh konfirmasi,” Adrian terkekeh. “ Tapi aku butuh penjelasan sejak kapan apartemen Tante jadi berubah gini?”
“ Kamu gak perlu tahu, tapi yang penting sesuai request kamu’kan?”
Adrian tersenyum usil, “ Ahh, senang masih menjadi nomor satu di hatimu.”
“ Ya sudah, sekarang katakan apa tujuanmu kemari?”
Adrian meletakkan cangkir kopinya. Raut wajahnya terlihat serius sekarang.
“ Ada yang mau kubicarakan. Soal Papa.”
Tubuh Tifa langsung menegang. Matanya melirik Dave.
“ Rahasia?”
“ Hmm, kupikir tak masalah kalau Om Dave ikut mendengar.”
Dave beradu pandang dengan Tifa, lalu dengan kembali duduk di kursinya. Sementara Adrian sebisa mungkin menghidari tatapan serius Tifa. Ujung-ujung jarinya memainkan pegangan cangkir kopi agar rasa gugupnya sedikit hilang.
“ Beberapa hari yang lalu, waktu Tante ke Jakarta, Papa datang ke rumah.”
Mata Dave menangkap reaksi Tifa yang langsung menegang.
“ Hmm, yaah, dia mengajukan sebuah permintaan yang menurutku tidak masuk akal.”
“ Dia mengajakmu tinggal bersama?” potong Tifa.
“ Oh, bukan. Dia tidak mungkin seberani itu. Ini hanya permintaan yang tidak masuk akal saja,” Adrian berdeham supaya Tantenya tidak semakin tegang. “ Dia mengajakku makan siang.”
 Alis Tifa terangkat sebelah, “ Hanya itu?”
“ Bersama keluarganya.”
Ekspresi Tifa berubah cepat. Namun, kali ini justru terlihat datar. Tidak terbaca apakah ia akan menolak atau menerima.
“ Aku ke sini untuk minta pendapat Tante,” ujar Adrian takut-takut.
“ Kamu ke sini cuma mau tanya apa pendapat Tante? Kamu seperti tidak tahu bagaimana Tantemu ini,” Tifa menghela napas panjang. “ Apa pun yang berhubungan dengan si brengsek itu sudah pasti Tante akan blokir.”
“ Masalahnya ada sama Nenek, Tan. Dia… dia sudah berbeda pendapat dengan kita.”
“ Makanya Tante tidak pernah akur dengan Nenekmu,” Tifa kembali menarik napas panjang, lalu ia menatap Adrian. “ Dan kamu jadi ragu karena itu?”
Adrian mengangguk pelan.
“ Kamu sendiri maunya gimana?”
“ Sebenarnya aku gak mau, tapi apa yang diomongin sama Nenek ada benarnya juga. Aku sudah memikirkannya beberapa hari ini dan….”
“ Dan kupikir aku akan menemuinya kali ini.”
Tifa menatap Adrian beberapa saat, lalu kembali menyuapkan roti lapisnya, “Kalau itu maumu, seharusnya kamu gak usah ke sini.”
“ Tapi aku ingin Tante menemaniku,” ujar Adrian cepat.
Spontan, Tifa langsung tersedak saat mendengar kata-kata Adrian. Ia menegak separuh kopi hangatnya agar irisan tuna itu masuk ke lambungnya dengan sempurna.
“ Astagaaa, kamu mau bikin perang dunia?”
Adrian mendesah berat, “ Aku ngerti maksud, Tante, tapi aku juga punya perkiraan sendiri. Kupikir Papa akan menggunakan segala rayuan mautnya supaya aku bisa tinggal bersamanya. Tante tahu sendiri kalau ada kemungkinan Nenek akan menyetujui permintaan Papa. Kalau sudah begitu akan selalu ada kemungkinan Papa menemuiku lagi. Dengan hadirnya Tante di sana, mungkin akan dia tidak akan berani.”
“ Iya, tapi Tante gak bisa tahan lama-lama dekat dia, apalagi sama keluarganya. Bisa-bisa Tante menghabisi mereka dengan satu tendangan putar.”
“ Jangan lupa jambakan sampai botak,” sahut Adrian sambil terkekeh.
“ Naah, itu tahu,” Tifa ikut-ikutan terkekeh seraya menyesap pelan kopinya. “Makanya jangan ajak Tante.”
“ Duuh, Tanteee. Kalau bukan sama Tante sama siapa lagi?”
“ Ehem, boleh aku ikut bicara?” Dave tiba-tiba menyela seraya mengangkat tangan. “ Begini, bukan aku bermaksud ikut campur, tapi karena aku sudah ikut dengar, kupikir aku punya sebuah ide.”
Perhatian Adrian dan Tifa pun langsung fokus pada pria ini.
“ Bagaimana kalau aku ikut bersama kalian? Yaah, bisa dikatakan aku akan meredam amukan Tantemu ini supaya tidak meledak di sana. Kita akan atur skenario supaya seolah-olah kamu memang berencana datang sendiri. Aku dan Tantemu menyusul kemudian. Kita pura-pura kebetulan bertemu dan kami bergabung dengan kalian. Kami tidak akan lama, tapi kami akan segera menarikmu pergi. Dengan begitu, Papa dan Tantemu tidak saling mengeluarkan jurus.”
Tifa dan Adrian bertukar pandang. Mereka saling berdiskusi lewat tatapan.
“ Hmm, jalan cerita yang menarik dan mudah dilaksanakan,” Adrian bertepuk tangan. “ Gak heran nama Om melegenda di Love Musical.”
“ Adrian benar. Aku yang sutradara aja gak kepikiran sampai kesitu.”
“ Kalian berdua ini kalau sudah urusan sindir-menyindir pasti kompak,” keluhan Dave disambut tawa Tifa dan Adrian. “ Hei, aku serius!”
“ Iya, iya, kami setuju dengan idemu,” Tifa mengakhiri tawanya. “ Trims, Dave. Ngomong-ngomong, Keponakan. Bilang sama si brengsek itu kalau makan siangnya diganti dengan pertemuan sore ini saja.”
Adrian terperanjat, “ Eh, cepat banget? Apa gak keburu-buru tuh?”
“ Semakin cepat semakin baik. Lagi pula kebetulan kita tidak latihan hari ini. Kalau ditunda-tunda akan semakin lama. Dan juga, mumpung Tante dan Om Dave ada di sini,” Tifa menatap Dave. “ Bagaimana, Dave?”
Dave mengangkat bahu, “ Terserah kalian saja.”
Adrian menyesap kopinya lagi, “ Ya, baiklah kalau begitu.”
“ Bagus, sekarang segera hubungi si brengsek itu. Bawa saja mobil Tante lagi. Biar Tante dijemput Om Dave lagi di sini,” Tifa melempar tatapan sinis pada Dave. “Berpakaian yang rapi, Dave.  Anggap kita berkencan hari ini.”
Dave balas tersenyum sinis.
“ Kenapa gak kencan beneran aja sih?” sahut Adrian jahil. “ Kalian tuh cocok, tahu!”
Tifa menatap Adrian sebal. Sebaliknya, Dave justru bersorak senang.
“ Jadi, kamu setuju, Adrian?”
“ Kupikir tidak ada yang lebih cocok dari Om Dave. Aku 100% untukmu, Om.”
“ Nah, nah, kamu dengar sendiri’kan, Tif? Keponakanmu sendiri sudah memberikan restu. Kurang apa lagi coba?” Dave terkekeh. “ Hei, Adrian. Bantu bujukin Tantemu ini dong. Susah banget terima lamaran Om.”
Adrian tersentak, “ Eh, jadi sudah pernah dilamar?”
“ Berulang-ulang,” sahut Dave seraya memutar bola matanya. “ Tapi Tantemu ini keukeuh banget masih pengen melajang.”
Adrian menggeleng-gelengkan kepala dengan mulut berdecak. Sementara Dave terlihat seperti orang yang baru saja dianiaya. Kekesalan Tifa pun merambat sampai ke ubun-ubun. Sepertinya kata ‘kencan’ itu berakibat fatal untuknya.
“ Kalian membicarakan aku seolah-olah aku ini sedang tidak ada saja. Hoo, bagus yaa. Sekarang kalian sudah bersekongkol,” Tifa beranjak dari kursinya. “ Sudah, jangan banyak bicara lagi! Cepat bersiap! Kita banyak kerjaan.”
Tifa pun menghilang dari balik pintu kamar. Adrian kembali menatap Dave.
“ Om, yakin mau nikah sama nenek sihir?”
Dave mengangkat bahu, “ Mau bagaimana lagi? Aku udah kena peletnya sih.”
Keduanya pun kompak tertawa.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar