Musikal 103
Alarm ponsel Tifa
menjerit. Pertanda bahwa jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan. Tifa perlahan
menggeliat malas. Namun, pagi ini tubuhnya sulit digerakkan, seperti ada benda
yang sedang memeluknya erat.
Tifa
membuka matanya. Seketika matanya melebar dua kali lipat saat menyadari bukan
sebuah benda yang memeluknya, tapi seseorang. Tifa mencoba mengingat-ingat
siapa orang ini. Rasanya terakhir ia menghabiskan waktu bersama Dave.
Tifa
perlahan mendongak dan ia mendapati wajah Dave yang masih terlelap. Jantungnya
langsung berdegup keras. Jadi, semalaman ia bermimpi dalam dekapan lelaki itu
dan beralaskan dadanya yang bidang.
“
Sudah puas memandangi wajahku?”
Sontak,
Tifa melepaskan diri. Dave hanya terkejut sedikit, lalu ia merenggangkan
tubuhnya sambil menguap.
“
Kita tidak melakukan apa pun jika kamu butuh penjelasan.”
Tifa
tersenyum sinis, “ Wah, hebat juga kamu bisa tahan dari godaan iblis.”
“
Itu usaha yang berat tahu,” Dave terkekeh, lalu ia kembali mendekatkan wajahnya
pada wajah Tifa. “ Tapi aku lebih tergoda dengan wajahmu yang baru bangun tidur
ini.”
Tifa
memicingkan matanya. Sebisa mungkin ia tidak menatap mata biru itu. Kemudian ia
menarik wajahnya menjauh.
“
Aku duluan!” seru Tifa seraya melompati Dave dan langsung berlari ke arah kamar
mandi. “ Kamu cuci muka di bak cuci piring aja, Dave.”
Tawa
Dave pecah. Matanya mengawasi Tifa yang ada di balik pintu kamar mandi. Wanita
itu memang masih menghindarinya, tapi tidak lagi dengan rasa trauma seperti
semalam. Tidak apa, bagi Dave selama ia masih bisa di sisi wanita itu ia merasa
sudah cukup.
“
Loh, belum cuci muka, Dave?” ternyata tak butuh waktu lama bagi Tifa untuk
keluar dari kamar mandi. Wajahnya terlihat lebih segar dengan rambut yang
dicepol asal-asalan.
“
Mana ada orang cuci muka di bak cuci piring, Tif.”
Giliran
Tifa yang terkekeh, “ Ya udah, giliran kamu sana.”
Dave
pun beranjak menuju kamar mandi, sementara Tifa sibuk membersihkan sisa-sisa
makanan mereka semalam. Dave kaget karena Tifa sudah menyiapkan peralatan mandi
untuknya. Mulai dari sikat gigi, handuk, bahkan sampai pisau cukur. Semuanya
baru dan itulah yang membuatnya keheranan.
“
Mau kopi, Dave?” tanya Tifa ketika Dave sudah selesai membersihkan diri.
“ Boleh,”
ujar Dave seraya duduk di kursi mini bar.
“ Hei, Tif. Ada yang mau aku tanyakan.”
“
Hmm?” Tifa menyahut seraya menuangkan kopi ke dalam gelas.
“
Apa ada laki-laki yang pernah menginap di sini?”
Tawa
Tifa pecah, “ Ahh, pasti karena pisau cukur itu ya,” Tifa menyodorkan kopi pada
Dave. “ Untuk Adrian. Kupikir kalau dia sudah melihat suasana apartemenku yang
baru dia mau menginap. Waktu itu sudah pernah kuajak, tapi dia menolak.
Alasannya sih karena waktu itu aku cuma punya satu sofa.”
“
Hoo….” Dave tersenyum saat menyeruput kopinya. Senang rasanya kalau prasangka
buruknya tidak terbukti.
“
Lalu kita mau sarapan apa pagi ini?”
Alis
Dave terangkat, “ Kamu bisa masak?”
“ Waah,
kamu meragukanku,” raut wajah Tifa berubah sinis seraya bersedekap. “Aku punya
dua menu andalan. Kamu tinggal pilih. Roti dan selai, atau selai dan roti?”
Seketika
Dave tertawa sampai terbatuk-batuk. Bukannya tersinggung, Tifa justru ikut
tertawa.
“ Astaga,
menu macam apa itu?”
“
Baiklah, baiklah, aku memang tidak bisa membuat sesuatu selain kopi,” Tifa
mengangkat tangannya tanda menyerah. “ Tapi kupikir kita bisa mengolah sesuatu
dengan isi kulkasku.”
Tifa
membuka kulkasnya. Dave pun mengekorinya. Ia cukup takjub saat melihat kulkas
Tifa yang penuh dengan bahan makanan.
“
Hebat juga kamu bisa pilih bahan mentah sebanyak ini.”
“
Itu berarti kerja si Sarti sangat bagus.”
“
Sarti?”
“
Asisten rumah tanggaku. Dia yang masak serta beres-beres,” Tifa kembali
terkekeh. “ Kamu pikir aku punya waktu untuk itu semua?”
“
Cih, seharusnya sudah kuduga,” Dave menarik Tifa menjauhi kulkas, lalu
mendorong wanita itu agar duduk di kursi mini
bar. “ Kamu duduk saja, biar aku yang buat sarapan.”
“ Memangnya
bisa?”
“
Duduk dan lihat saja,” sahut Dave sambil sibuk membuka-buka laci kabinet.
Wajahnya terlihat cerah saat menemukan celemek yang tersimpan di salah satu
laci kabinet. Sambil memasang celemek, ia melontarkan pertanyaan, “ Biasanya
kamu sarapan apa?”
“
Hm, aku? Oh, kalau aku biasanya western
untuk sarapan. Perutku suka bermasalah kalau diisi makanan yang berat-berat
seperti nasi.”
“
Kalau begitu tidak sulit,” gumam Dave. Selanjutnya dengan cekatan ia
mengeluarkan satu persatu bahan makanan yang akan ia masak. Mulai dari roti,
fillet tuna, tomat, selada, dan bumbu-bumbu lainnya.
Tifa
tak sadar kalau bibirnya melengkungkan senyum saat melihat Dave yang cekatan
memasak. Lama tak bertemu, ternyata laki-laki ini justru lebih keren saat
berurusan dengan Teflon dan celemek.
“
Kayaknya enak tuh,” Tifa mengendus-endus aroma fillet tuna. “ Kamu jago masak
juga, Dave?”
“
Aku juga hidup sendiri, Tif. Tapi aku ini mandiri, bukannya sok praktis kayak
kamu.”
Tifa
terkekeh. Tak lama kemudian dua porsi sandwich
tuna tersaji untuknya. Sandwich itu
terlihat begitu menggiurkan. Tifa jadi tak sabar untuk mencicipinya.
“
Enak?” tanya Dave ketika Tifa sudah menghabiskan seperempat roti isi itu tanpa
bicara.
Tifa
mengacungkan jempolnya, “ Waah, kalau kamu ngelamar jadi pengganti Sarti, aku
pasti terima.”
“
Daripada jadi ART, mending jadi suami kamu aja,” Dave berkata dengan santai
seraya melahap sandwich.
Mendengar
itu Tifa langsung tersedak. Ia menghabiskan separuh kopinya, lalu mengisinya
kembali.
“
Lho, kenapa? Memangnya aku kurang apa? Aku tampan, mapan, dan jago masak. Kamu
benar-benar rugi kalau sampai menolakku.”
Tifa
tertawa sinis, “ Kamu pikir nikah segampang itu? Lagi pula kamu pikir ibuku
akan merestui?”
“ So pasti. Dia sudah lama mengenalku dan
aku yakin dia juga sangat ingin menikahkan anaknya yang sudah lama jomblo ini.
Apa lagi calonnya adalah laki-laki bermutu sepertiku.”
“
Sial,” gerutu Tifa. “ Lalu orang tuamu?”
“
Oh, ayolah. Mom and Dad adalah orang
tua dengan pikiran maju. Mereka tidak pernah mengatur-atur kehidupan asmaraku.
Asalkan aku tetap mengurusi perusahaan. Lagi pula calonnya juga bukan orang
sembarangan.”
Skamat.
Sepertinya tadi Tifa salah melontarkan pertanyaan.
“
Ngomong-ngomong soal pernikahan, apa kamu gak ngerasa kalau suasana yang kita
rasakan sekarang seperti pengantin baru?”
Benar
juga. Tifa baru sadar sekarang. Mereka baru saja tidur bersama, meski hanya
benar-benar tidur. Kemudian saling menyiapkan sarapan, lalu makan bersama. Tifa
juga baru ingat kalau tadi ia menawarkan kopi untuk Dave. Itu persis seperti
sikap seorang istri pada suaminya. Tidakkah semua itu terasa romantis?
Lamunan
Tifa buyar saat jemari Dave menyentuh sudut bibirnya. Sepertinya ada mayones
yang menempel di sana. Tak hanya itu, Dave membersihkan mayones yang berpindah
di jemarinya dengan mulutnya. Entah kenapa sikap Dave barusan terasa begitu
seksi di mata Tifa.
“ Kok melamun?”
Tifa
meletakkan sandwich di atas piring
seraya mendesah berat, “ Aku bisa kena serangan jantung kalau lama-lama dekat
kamu, Dave.”
“
Heee, jadi aku membuatmu berdebar-debar,” Dave terkekeh seraya memangku
wajahnya dengan sebelah tangannya. Matanya kini fokus menatap Tifa.
Kali
ini Tifa tak bisa menghindar. Laki-laki itu berhasil mendapati wajahnya yang
sedang merona. Tifa pikir laki-laki itu akan menertawainya, ternyata tidak.
Tifa justru mendapatkan laki-laki itu sedang menggodanya dengan sebuah
senyuman.
“
Aku bohong, Tif. Semalam aku memang melakukan sesuatu.”
Tifa
terkesiap, “ Melakukan apa?”
Tiba-tiba
saja Dave berdiri. Dari seberang meja mini
bar, ia kembali mendaratkan kecupan panjang di dahi wanita itu. Kali ini
Tifa tak sempat melawan, lebih tepatnya tak bisa. Gerakan Dave terlalu
mendadak, tapi sangat lembut. Benar-benar terasa romantis.
Tifa
bisa merasakan gerakan bibir Dave yang menuruni batang hidungnya. Tifa belum
siap jika harus mempertemukan bibirnya dengan bibir Dave, tapi ia juga tidak
bisa melawan hasratnya. Perlakuan Dave berhasil memantikkan gejolak rindu yang
ia pendam. Kali ini ia tak bisa memungkiri kalau dia memang merindukan sentuhan
laki-laki itu.
“
Oh, God!”
Suara
itu mengejutkan keduanya. Tifa cepat-cepat menarik diri. Ia lebih terkejut lagi
saat mendapati keponakannya berdiri kaku di sana.
“
Adrian, kamu― ah, ehem, kenapa kamu bisa masuk ke sini?”
“
Memangnya Tante pikir siapa lagi yang tahu kata sandi pintu masuk?” Adrian
tersenyum sinis, lalu dengan santainya duduk di sebelah Tifa. “ Pagi, Om.”
“
Hai, Adrian,” Dave ikut-ikutan salah tingkah. “ Sarapan?”
“
Ah, tadi udah di rumah. Hm, tapi kopi boleh juga.”
Dave
langsung menuangkan kopi untuk Adrian, “ Apa kabar? Bagaimana keadaan Tante
July? Sepertinya aku belum sempat mengunjunginya. Sampaikan salamku untuknya”
“
Aku baik. Nenek juga baik,” Adrian menerima kopi dari Dave. “ Akan aku
sampaikan. Dia pasti senang mendengar kabar kalau Om ada di sini.”
Tifa
mendengus sebal. Keponakannya telah berhasil menangkap basah dirinya. Lihat
saja dari tatapan matanya yang penuh dengan nada mengejek.
“
Kami memang tidur bersama, ah, maksud Tante, Dave nginep di sini,” Tifa
berdecak kesal karena salah memilih kata. “ Tapi kami tidak melakukan apa-apa.”
“
Ah, ya, ya, ya, apa pun itu sebenarnya aku tidak butuh konfirmasi,” Adrian
terkekeh. “ Tapi aku butuh penjelasan sejak kapan apartemen Tante jadi berubah
gini?”
“ Kamu
gak perlu tahu, tapi yang penting sesuai request
kamu’kan?”
Adrian
tersenyum usil, “ Ahh, senang masih menjadi nomor satu di hatimu.”
“ Ya
sudah, sekarang katakan apa tujuanmu kemari?”
Adrian
meletakkan cangkir kopinya. Raut wajahnya terlihat serius sekarang.
“
Ada yang mau kubicarakan. Soal Papa.”
Tubuh
Tifa langsung menegang. Matanya melirik Dave.
“
Rahasia?”
“
Hmm, kupikir tak masalah kalau Om Dave ikut mendengar.”
Dave
beradu pandang dengan Tifa, lalu dengan kembali duduk di kursinya. Sementara
Adrian sebisa mungkin menghidari tatapan serius Tifa. Ujung-ujung jarinya memainkan
pegangan cangkir kopi agar rasa gugupnya sedikit hilang.
“
Beberapa hari yang lalu, waktu Tante ke Jakarta, Papa datang ke rumah.”
Mata
Dave menangkap reaksi Tifa yang langsung menegang.
“
Hmm, yaah, dia mengajukan sebuah permintaan yang menurutku tidak masuk akal.”
“
Dia mengajakmu tinggal bersama?” potong Tifa.
“
Oh, bukan. Dia tidak mungkin seberani itu. Ini hanya permintaan yang tidak
masuk akal saja,” Adrian berdeham supaya Tantenya tidak semakin tegang. “ Dia
mengajakku makan siang.”
Alis Tifa terangkat sebelah, “ Hanya itu?”
“ Bersama
keluarganya.”
Ekspresi
Tifa berubah cepat. Namun, kali ini justru terlihat datar. Tidak terbaca apakah
ia akan menolak atau menerima.
“
Aku ke sini untuk minta pendapat Tante,” ujar Adrian takut-takut.
“
Kamu ke sini cuma mau tanya apa pendapat Tante? Kamu seperti tidak tahu
bagaimana Tantemu ini,” Tifa menghela napas panjang. “ Apa pun yang berhubungan
dengan si brengsek itu sudah pasti Tante akan blokir.”
“
Masalahnya ada sama Nenek, Tan. Dia… dia sudah berbeda pendapat dengan kita.”
“
Makanya Tante tidak pernah akur dengan Nenekmu,” Tifa kembali menarik napas
panjang, lalu ia menatap Adrian. “ Dan kamu jadi ragu karena itu?”
Adrian
mengangguk pelan.
“
Kamu sendiri maunya gimana?”
“
Sebenarnya aku gak mau, tapi apa yang diomongin sama Nenek ada benarnya juga.
Aku sudah memikirkannya beberapa hari ini dan….”
“
Dan kupikir aku akan menemuinya kali ini.”
Tifa
menatap Adrian beberapa saat, lalu kembali menyuapkan roti lapisnya, “Kalau itu
maumu, seharusnya kamu gak usah ke sini.”
“
Tapi aku ingin Tante menemaniku,” ujar Adrian cepat.
Spontan,
Tifa langsung tersedak saat mendengar kata-kata Adrian. Ia menegak separuh kopi
hangatnya agar irisan tuna itu masuk ke lambungnya dengan sempurna.
“
Astagaaa, kamu mau bikin perang dunia?”
Adrian
mendesah berat, “ Aku ngerti maksud, Tante, tapi aku juga punya perkiraan
sendiri. Kupikir Papa akan menggunakan segala rayuan mautnya supaya aku bisa
tinggal bersamanya. Tante tahu sendiri kalau ada kemungkinan Nenek akan
menyetujui permintaan Papa. Kalau sudah begitu akan selalu ada kemungkinan Papa
menemuiku lagi. Dengan hadirnya Tante di sana, mungkin akan dia tidak akan
berani.”
“
Iya, tapi Tante gak bisa tahan lama-lama dekat dia, apalagi sama keluarganya.
Bisa-bisa Tante menghabisi mereka dengan satu tendangan putar.”
“
Jangan lupa jambakan sampai botak,” sahut Adrian sambil terkekeh.
“
Naah, itu tahu,” Tifa ikut-ikutan terkekeh seraya menyesap pelan kopinya. “Makanya
jangan ajak Tante.”
“
Duuh, Tanteee. Kalau bukan sama Tante sama siapa lagi?”
“
Ehem, boleh aku ikut bicara?” Dave tiba-tiba menyela seraya mengangkat tangan.
“ Begini, bukan aku bermaksud ikut campur, tapi karena aku sudah ikut dengar,
kupikir aku punya sebuah ide.”
Perhatian
Adrian dan Tifa pun langsung fokus pada pria ini.
“
Bagaimana kalau aku ikut bersama kalian? Yaah, bisa dikatakan aku akan meredam
amukan Tantemu ini supaya tidak meledak di sana. Kita akan atur skenario supaya
seolah-olah kamu memang berencana datang sendiri. Aku dan Tantemu menyusul
kemudian. Kita pura-pura kebetulan bertemu dan kami bergabung dengan kalian.
Kami tidak akan lama, tapi kami akan segera menarikmu pergi. Dengan begitu,
Papa dan Tantemu tidak saling mengeluarkan jurus.”
Tifa
dan Adrian bertukar pandang. Mereka saling berdiskusi lewat tatapan.
“
Hmm, jalan cerita yang menarik dan mudah dilaksanakan,” Adrian bertepuk tangan.
“ Gak heran nama Om melegenda di Love
Musical.”
“
Adrian benar. Aku yang sutradara aja gak kepikiran sampai kesitu.”
“
Kalian berdua ini kalau sudah urusan sindir-menyindir pasti kompak,” keluhan
Dave disambut tawa Tifa dan Adrian. “ Hei, aku serius!”
“
Iya, iya, kami setuju dengan idemu,” Tifa mengakhiri tawanya. “ Trims, Dave.
Ngomong-ngomong, Keponakan. Bilang sama si brengsek itu kalau makan siangnya
diganti dengan pertemuan sore ini saja.”
Adrian
terperanjat, “ Eh, cepat banget? Apa gak keburu-buru tuh?”
“
Semakin cepat semakin baik. Lagi pula kebetulan kita tidak latihan hari ini.
Kalau ditunda-tunda akan semakin lama. Dan juga, mumpung Tante dan Om Dave ada
di sini,” Tifa menatap Dave. “ Bagaimana, Dave?”
Dave
mengangkat bahu, “ Terserah kalian saja.”
Adrian
menyesap kopinya lagi, “ Ya, baiklah kalau begitu.”
“
Bagus, sekarang segera hubungi si brengsek itu. Bawa saja mobil Tante lagi.
Biar Tante dijemput Om Dave lagi di sini,” Tifa melempar tatapan sinis pada
Dave. “Berpakaian yang rapi, Dave.
Anggap kita berkencan hari ini.”
Dave
balas tersenyum sinis.
“
Kenapa gak kencan beneran aja sih?” sahut Adrian jahil. “ Kalian tuh cocok,
tahu!”
Tifa
menatap Adrian sebal. Sebaliknya, Dave justru bersorak senang.
“
Jadi, kamu setuju, Adrian?”
“
Kupikir tidak ada yang lebih cocok dari Om Dave. Aku 100% untukmu, Om.”
“
Nah, nah, kamu dengar sendiri’kan, Tif? Keponakanmu sendiri sudah memberikan
restu. Kurang apa lagi coba?” Dave terkekeh. “ Hei, Adrian. Bantu bujukin
Tantemu ini dong. Susah banget terima lamaran Om.”
Adrian
tersentak, “ Eh, jadi sudah pernah dilamar?”
“
Berulang-ulang,” sahut Dave seraya memutar bola matanya. “ Tapi Tantemu ini keukeuh banget masih pengen melajang.”
Adrian
menggeleng-gelengkan kepala dengan mulut berdecak. Sementara Dave terlihat
seperti orang yang baru saja dianiaya. Kekesalan Tifa pun merambat sampai ke
ubun-ubun. Sepertinya kata ‘kencan’ itu berakibat fatal untuknya.
“
Kalian membicarakan aku seolah-olah aku ini sedang tidak ada saja. Hoo, bagus
yaa. Sekarang kalian sudah bersekongkol,” Tifa beranjak dari kursinya. “ Sudah,
jangan banyak bicara lagi! Cepat bersiap! Kita banyak kerjaan.”
Tifa
pun menghilang dari balik pintu kamar. Adrian kembali menatap Dave.
“
Om, yakin mau nikah sama nenek sihir?”
Dave
mengangkat bahu, “ Mau bagaimana lagi? Aku udah kena peletnya sih.”
Keduanya
pun kompak tertawa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar