Musikal 96
Hari Jumat kelabu. Awan mendung menyelimuti langit
pagi ini. Jarum jam sudah menunjukkan pukul sepuluh, tapi suasana masih seperti
pukul enam abadi. Angin juga berhembus dingin hingga menambah kesuraman hari
ini.
Sama seperti apa yang
dirasakan Ririn.
Jumat lalu ia
didapatkan pingsan di kelas. Kemudian di minggu ini, di hari yang sama,
perasaannya masih sama seperti Jumat lalu. Setelah ditolak Adrian, ia masih
belum bisa bangkit dari rasa terpuruknya. Ia sudah tahu bahwa secepatnya Adrian
akan mengatakan hal itu, tapi ia tak menyangka kalau hatinya masih terasa
perih.
Ia tak bisa
berpura-pura dalam keadaan yang baik-baik saja. Bahkan ia tak sanggup untuk
bertukar pandang dengan Fi. Ia tahu, sekalinya mata mereka bertemu ia pasti
akan melihat senyum jumawa gadis itu. Gadis itu sudah mendapatkan segalanya.
Gadis itu sudah memenangkan segalanya. Tinggallah dia yang menjadi pecundang di
segala sisi.
Bel pulang berbunyi.
Saat ia sibuk merapikan buku, ponselnya berbunyi menandakan ada pesan yang
masuk. Ia pun menyempatkan diri untuk membaca pesan itu.
[ Kutunggu di gedung teater. Sekarang! ]
[ From: Alexi ]
Pesan yang penuh
pragmatik. Sangat ambigu, sampai-sampai Ririn bingung mau menafsirkannya
seperti apa. Laki-laki ini hanya menunggu di gedung teater atau menyuruhnya ke
gedung teater?
Pilihan kedua
akhirnya yang menjadi pilihan Ririn. Ia menolak halus tawaran baik Priyanka
untuk pulang bersama. Kemudian ia pun menuju tempat pertemuan.
Begitu ia membuka
pintu langsung terdengar alunan melodi yang indah. Ririn bisa memastikan melodi
itu berasal dari piano akustik, tapi ia tak yakin apakah suara itu langsung atau
hanya rekaman. Ketika matanya menjelajah seisi gedung, terlihat sosok Alexi di
balik sebuah piano. Ia tersenyum saat menyadar Ririn sudah datang. Namun, ia
tetap fokus pada lagu yang sedang ia bawakan.
Ririn mendekatinya.
Terlihat jemari lelaki itu menari lincah di atas tuts piano. Sesekali mereka
bertukar pandang, tapi itu tak mengganggu gerakan jari-jarinya. Alexi
benar-benar berhenti kala lagu yang ia bawakan telah selesai.
Ririn bertepuk kecil,
“ Itu bagus.”
“ Kamu suka?”
Kepala Ririn
terangguk.
“ Tadinya aku
membawakan lagu dari salah satu komposer terkenal, tapi aku bingung yang mana.
Jadi kuputuskan untuk membawakan laguku sendiri.”
“ Itu lagumu
sendiri?” Ririn terperanjant. “ Waah, kereeen. Judulnya apa?”
“ Desember.”
Kening Ririn
berkerut, “ Tapi’kan sekarang masih bulan Februari.”
Terdengar tawa renyah
dari Alexi, “ Aku tahu. Yaah, berhubung kamu suka berarti hutangku padamu sudah
lunas.”
“ Hutang?” kening
Ririn kembali berkerut. “ Hutang apa?”
“ Aku’kan pernah
janji kalau akan menghiburmu dengan sebuah lagu. Kupikir saat ini adalah saat
yang tepat untuk menghiburmu.”
Ririn menggaruk-garuk
belakang kepalanya, “ Apa aku terlihat se-menyedihkan itu?”
“ Tapi kamu
terhibur’kan?”
“ Hmm… yaah…
lumayan.”
Alexi menatap Ririn
sejenak, “ Kamu gak capek apa? Mau duduk di sini?”
Laki-laki itu
mengerlingkan matanya pada kursi yang ia duduki. Masih ada tempat kosong di
sana dan rasanya cukup untuk tubuh Ririn yang cukup mungil.
Gadis itu pun segera
mengerti maksud si kacamata. Ia menempatkan dirinya di sisi laki-laki itu. Ada
keheningan sejenak sampai Alexi kembali memainkan “Desember”nya
“ Jadi, dia sudah
mengatakannya?” ujar Alexi di sela-sela permainannya. “ Si pangeran.”
“ Ya,” jawab Ririn
pendek. Kemudian mendesah panjang. “ Sakit sekali ternyata. Mungkin kamu benar,
aku butuh hiburan.”
Alexi melirik sesaat,
lalu fokus pada pianonya lagi.
“ Mungkin kamu mau
bernyanyi supaya beban di hatimu bisa terlepas.”
Ririn tersenyum
kecut, “ Aku sedang tidak mood
bernyanyi.”
“ Oh ya,
ngomong-ngomong kamu juga punya hutang padaku. Kamu pernah janji kalau mau
bernyanyi dengan iringan pianoku.”
Otak Ririn berputar
untuk mencari-cari memori tentang janjinya itu. Rasanya ia pernah mengatakan
hal seperti itu ketika sedang pelatihan di Lampung.
“ Aku akan
menepatinya, tapi tidak sekarang. Aku sedang tidak ingin bernyanyi. Lagi pula
aku tidak tahu lagu apa yang harus kunyanyikan.”
Alexi mengangguk
kecil. Ia pun tak mengeluarkan sepatah kata lagi. Sampai ia mendengar senandung
pelan dari bibir gadis yang ada di sebelahnya.
Oh, but I’m scared to death
That there may not be another one like this
And I confess that I’m only holding
On by a thin thin thread
Jemari Alexi seketika
terhenti. Ia langsung menoleh pada gadis ini.
“ Aku tahu lagu itu. Bagaimana kalau kita mainkan sekarang.”
“ Eh, tidak, tidak,” Ririn terlihat gelagapan.
Sepertinya ia tidak sadar sudah menyanyikan sebait dari lagu Maroon 5.
“ Oh, ayolah.”
Melodi “Desember”
pun berubah jadi intro dari lagu “ Sad”.
Ketika Ririn seharusnya menyanyikan liriknya, ia masih bungkam. Jari-jari Alexi
kembali berhenti.
“ Hei, ayolah. Bernyanyilah denganku.”
Ririn menggigit bibir bawahnya. Ia terlihat masih
ragu. Lagi, Alexi pun membawakan intro pada lagu itu. Kali ini gayung pun
bersambut.
Man, it’s been
a long day
Stuck thinking about it driving on the freeway
Wondering if I really tried
Everything I could
Not knowing if I
should try a little harder
Oh, but I’m scared to death
That there may not be another one like this
And I confess that I’m only holding
On by a thin thin thread
I’m kicking the curb cause you never heard
The words that you needed so bad
And I’m kicking the dirt cause I never gave you
The things that you needed you have
I’m so sad, sad
Man, it’s been
a long night
Just sitting here, trying not to look back
Still looking at the road we never drove on
And wondering if the one I chose was the right one
Saat menyanyikan
bagian reff terakhir, Ririn merasa emosinya benar-benar memuncak. Makna ‘sad’ dalam lagu ini benar-benar
tertumpah dari lengkingan suaranya. Terdengar rapuh dan memilukan.
Lagu itu diakhiri
dengan helaan napas Ririn yang panjang dan berat. Tadinya ia hampir menangis,
tapi setelah ia mengeluarkan karbon dioksida, air matanya jadi tak jadi keluar.
Alexi benar, bebannya sedikit berkurang setelah ia menyanyikan sebuah lagu yang
mewakili semua perasaannya.
“ Sudah merasa lebih
baik?”
Tak ada jawaban ‘ya’
atau ‘tidak’. Hanya sebuah senyuman tulus yang Ririn berikan untuk laki-laki
yang selalu hadir di saat ia sedang rapuh.
“ Terima kasih.”
“ Tidak, tidak. Aku
yang terima kasih,” Alexi memainkan tuts piano secara acak. “Terima kasih sudah
menepati janjimu. Aku benar-benar menyukai suaramu.”
Ririn tersenyum sipu.
Keduanya sama-sama tertawa. Suasana terasa hangat. Ada setitik asa baru mulai
menyala di hati Ririn. Semua ini berkat hadirnya laki-laki berkacamata yang
menyapu air matanya di kala ia bersedih. Mungkin ia memang tak membutuhkan
seseorang yang selalu membawanya ke atas panggung, tapi ia sangat merindukan
seseorang yang menariknya kala ia terjatuh.
Dan semua itu ada
pada laki-laki ini. Ririn sendiri sampai heran, kenapa ia bisa melewatkan sosok
pendiam yang selalu tersenyum hangat padanya ini? Meski laki-laki itu seperti
menyimpan banyak rahasia, tapi untuk saat ini Ririn ingin mengabaikan semua
itu. Biarlah, apa pun yang menjadi masa lalu laki-laki maka akan ia jadikan
takdir pertemuan mereka.
Awan mendung perlahan
beranjak. Sang raja siang akhirnya menunjukkan jati dirinya. Langit kembali
cerah. Secerah senyum Ririn dengan separuh hati yang baru.
Author’s Note:
Awalnya dengerin Maroon 5 yang “Sad” dan
Author baik-baik saja, tapi pas playlist berubah jadi suara Afgan, tiba-tiba
Author nulis adegan ini sambil nangis. Gak tau deh, mungkin efek Afgan dan
Alexi yang sama-sama pake kacamata kali yah
T_T
Tidak ada komentar:
Posting Komentar