Total Tayangan Halaman

Sabtu, 12 November 2016

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 96)




Musikal 96

Hari Jumat kelabu. Awan mendung menyelimuti langit pagi ini. Jarum jam sudah menunjukkan pukul sepuluh, tapi suasana masih seperti pukul enam abadi. Angin juga berhembus dingin hingga menambah kesuraman hari ini.
Sama seperti apa yang dirasakan Ririn.
Jumat lalu ia didapatkan pingsan di kelas. Kemudian di minggu ini, di hari yang sama, perasaannya masih sama seperti Jumat lalu. Setelah ditolak Adrian, ia masih belum bisa bangkit dari rasa terpuruknya. Ia sudah tahu bahwa secepatnya Adrian akan mengatakan hal itu, tapi ia tak menyangka kalau hatinya masih terasa perih.
Ia tak bisa berpura-pura dalam keadaan yang baik-baik saja. Bahkan ia tak sanggup untuk bertukar pandang dengan Fi. Ia tahu, sekalinya mata mereka bertemu ia pasti akan melihat senyum jumawa gadis itu. Gadis itu sudah mendapatkan segalanya. Gadis itu sudah memenangkan segalanya. Tinggallah dia yang menjadi pecundang di segala sisi.
Bel pulang berbunyi. Saat ia sibuk merapikan buku, ponselnya berbunyi menandakan ada pesan yang masuk. Ia pun menyempatkan diri untuk membaca pesan itu.
[ Kutunggu di gedung teater. Sekarang! ]
 [ From: Alexi ]
Pesan yang penuh pragmatik. Sangat ambigu, sampai-sampai Ririn bingung mau menafsirkannya seperti apa. Laki-laki ini hanya menunggu di gedung teater atau menyuruhnya ke gedung teater?
Pilihan kedua akhirnya yang menjadi pilihan Ririn. Ia menolak halus tawaran baik Priyanka untuk pulang bersama. Kemudian ia pun menuju tempat pertemuan.
Begitu ia membuka pintu langsung terdengar alunan melodi yang indah. Ririn bisa memastikan melodi itu berasal dari piano akustik, tapi ia tak yakin apakah suara itu langsung atau hanya rekaman. Ketika matanya menjelajah seisi gedung, terlihat sosok Alexi di balik sebuah piano. Ia tersenyum saat menyadar Ririn sudah datang. Namun, ia tetap fokus pada lagu yang sedang ia bawakan.
Ririn mendekatinya. Terlihat jemari lelaki itu menari lincah di atas tuts piano. Sesekali mereka bertukar pandang, tapi itu tak mengganggu gerakan jari-jarinya. Alexi benar-benar berhenti kala lagu yang ia bawakan telah selesai.
Ririn bertepuk kecil, “ Itu bagus.”
“ Kamu suka?”
Kepala Ririn terangguk.
“ Tadinya aku membawakan lagu dari salah satu komposer terkenal, tapi aku bingung yang mana. Jadi kuputuskan untuk membawakan laguku sendiri.”
“ Itu lagumu sendiri?” Ririn terperanjant. “ Waah, kereeen. Judulnya apa?”
“ Desember.”
Kening Ririn berkerut, “ Tapi’kan sekarang masih bulan Februari.”
Terdengar tawa renyah dari Alexi, “ Aku tahu. Yaah, berhubung kamu suka berarti hutangku padamu sudah lunas.”
“ Hutang?” kening Ririn kembali berkerut. “ Hutang apa?”
“ Aku’kan pernah janji kalau akan menghiburmu dengan sebuah lagu. Kupikir saat ini adalah saat yang tepat untuk menghiburmu.”
Ririn menggaruk-garuk belakang kepalanya, “ Apa aku terlihat se-menyedihkan itu?”
“ Tapi kamu terhibur’kan?”
“ Hmm… yaah… lumayan.”
Alexi menatap Ririn sejenak, “ Kamu gak capek apa? Mau duduk di sini?”
Laki-laki itu mengerlingkan matanya pada kursi yang ia duduki. Masih ada tempat kosong di sana dan rasanya cukup untuk tubuh Ririn yang cukup mungil.
Gadis itu pun segera mengerti maksud si kacamata. Ia menempatkan dirinya di sisi laki-laki itu. Ada keheningan sejenak sampai Alexi kembali memainkan “Desember”nya
“ Jadi, dia sudah mengatakannya?” ujar Alexi di sela-sela permainannya. “ Si pangeran.”
“ Ya,” jawab Ririn pendek. Kemudian mendesah panjang. “ Sakit sekali ternyata. Mungkin kamu benar, aku butuh hiburan.”
Alexi melirik sesaat, lalu fokus pada pianonya lagi.
“ Mungkin kamu mau bernyanyi supaya beban di hatimu bisa terlepas.”
Ririn tersenyum kecut, “ Aku sedang tidak mood bernyanyi.”
“ Oh ya, ngomong-ngomong kamu juga punya hutang padaku. Kamu pernah janji kalau mau bernyanyi dengan iringan pianoku.”
Otak Ririn berputar untuk mencari-cari memori tentang janjinya itu. Rasanya ia pernah mengatakan hal seperti itu ketika sedang pelatihan di Lampung.
“ Aku akan menepatinya, tapi tidak sekarang. Aku sedang tidak ingin bernyanyi. Lagi pula aku tidak tahu lagu apa yang harus kunyanyikan.”
Alexi mengangguk kecil. Ia pun tak mengeluarkan sepatah kata lagi. Sampai ia mendengar senandung pelan dari bibir gadis yang ada di sebelahnya.
Oh, but I’m scared to death
That there may not be another one like this
And I confess that I’m only holding
On by a thin thin thread
Jemari Alexi seketika terhenti. Ia langsung menoleh pada gadis ini.
“ Aku tahu lagu itu. Bagaimana kalau kita mainkan sekarang.”
“ Eh, tidak, tidak,” Ririn terlihat gelagapan. Sepertinya ia tidak sadar sudah menyanyikan sebait dari lagu Maroon 5.
“ Oh, ayolah.”
Melodi “Desember” pun berubah jadi intro dari lagu “ Sad”. Ketika Ririn seharusnya menyanyikan liriknya, ia masih bungkam. Jari-jari Alexi kembali berhenti.
“ Hei, ayolah. Bernyanyilah denganku.”
Ririn menggigit bibir bawahnya. Ia terlihat masih ragu. Lagi, Alexi pun membawakan intro pada lagu itu. Kali ini gayung pun bersambut.
Man, it’s  been a long day
Stuck thinking about it driving on the freeway
Wondering if I really tried
Everything I could
Not knowing if I should try a little harder            

Oh, but I’m scared to death
That there may not be another one like this
And I confess that I’m only holding
On by a thin thin thread

I’m kicking the curb cause you never heard
The words that you needed so bad
And I’m kicking the dirt cause I never gave you
The things that you needed you have
I’m so sad, sad

Man, it’s  been a long night
Just sitting here, trying not to look back
Still looking at the road we never drove on
And wondering if the one I chose was the right one
Saat menyanyikan bagian reff terakhir, Ririn merasa emosinya benar-benar memuncak. Makna ‘sad’ dalam lagu ini benar-benar tertumpah dari lengkingan suaranya. Terdengar rapuh dan memilukan.
Lagu itu diakhiri dengan helaan napas Ririn yang panjang dan berat. Tadinya ia hampir menangis, tapi setelah ia mengeluarkan karbon dioksida, air matanya jadi tak jadi keluar. Alexi benar, bebannya sedikit berkurang setelah ia menyanyikan sebuah lagu yang mewakili semua perasaannya.
“ Sudah merasa lebih baik?”
Tak ada jawaban ‘ya’ atau ‘tidak’. Hanya sebuah senyuman tulus yang Ririn berikan untuk laki-laki yang selalu hadir di saat ia sedang rapuh.
“ Terima kasih.”
“ Tidak, tidak. Aku yang terima kasih,” Alexi memainkan tuts piano secara acak. “Terima kasih sudah menepati janjimu. Aku benar-benar menyukai suaramu.”
Ririn tersenyum sipu. Keduanya sama-sama tertawa. Suasana terasa hangat. Ada setitik asa baru mulai menyala di hati Ririn. Semua ini berkat hadirnya laki-laki berkacamata yang menyapu air matanya di kala ia bersedih. Mungkin ia memang tak membutuhkan seseorang yang selalu membawanya ke atas panggung, tapi ia sangat merindukan seseorang yang menariknya kala ia terjatuh.
Dan semua itu ada pada laki-laki ini. Ririn sendiri sampai heran, kenapa ia bisa melewatkan sosok pendiam yang selalu tersenyum hangat padanya ini? Meski laki-laki itu seperti menyimpan banyak rahasia, tapi untuk saat ini Ririn ingin mengabaikan semua itu. Biarlah, apa pun yang menjadi masa lalu laki-laki maka akan ia jadikan takdir pertemuan mereka.
Awan mendung perlahan beranjak. Sang raja siang akhirnya menunjukkan jati dirinya. Langit kembali cerah. Secerah senyum Ririn dengan separuh hati yang baru.

Author’s Note:
Awalnya dengerin Maroon 5 yang “Sad” dan Author baik-baik saja, tapi pas playlist berubah jadi suara Afgan, tiba-tiba Author nulis adegan ini sambil nangis. Gak tau deh, mungkin efek Afgan dan Alexi yang sama-sama pake kacamata kali yah  T_T

Tidak ada komentar:

Posting Komentar