Total Tayangan Halaman

Sabtu, 19 November 2016

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 100)




Musikal 100

Tak ada yang menyangka bahwa sesi wawancara yang akan berlangsung ternyata mengundang tamu yang banyak. Tak hanya wartawan, tetapi juga alumnus Love Musical dari berbagai generasi. Pers conference tak ubah ajang reuni untuk para alumnus LM. Setelah bertahun-tahun mati suri, kini Love Musical bangkit kembali. Hal inilah yang mengundang para alumni untuk datang menghadiri peresmian format baru Love Musical.
Wartawan yang datang pun tak main-main. Beberapa di antaranya adalah wartawan dari infotaiment TV nasional. Tentu saja, menghadirkan Fi dan Adrian yang namanya sedang naik daun akan mengundang perhatian penikmat gosip di luar sana. Selain mereka, sederet orang ternama juga terlibat dalam pementasan ini. Sebut saja Dave si pemilik manajemen artis-artis papan atas, serta si desainer terkenal, Tri Kurniati. Di sisi lain, masih lekat di pikiran masyarakat akan sosok Anjani yang baru saja tampil di ajang pencarian bakat. Dan jangan lupa siapa di balik ini semua, siapa lagi kalau bukan Tifa sendiri. Oleh karena itu, banyak pertanyaan diarahkan pada para bintang ini.
Lampu blitz berkedip tanpa henti. Tak ada sudut pandang yang luput dari jepretan kamera. Ini baru setengahnya, setelah ini mereka harus menjalani sesi pemotretan yang akan digunakan untuk promosi.
Sesi wawancara berakhir. Masih ada waktu sebelum menjalani pemotretan. Di sela-sela waktu inilah yang digunakan untuk temu kangen para alumni.
“ Harusnya kita benar-benar membuat acara reuni. Sudah lama kita tidak reuni akbar,” ujar Satrio, ketua Love Musical dua tahun di atas angkatan Tifa.
“ Boleh aja, Kak,” ujar Tifa. “ Tapi kupikir setelah pertunjukkan ini sukses.”
Tiba-tiba ada lengan yang melingkari pundak Tifa. Ia mendapati laki-laki yang seumuran Satrio sedang tersenyum padanya.
“ Kalau si Tifa cantik ini yang buat pertunjukkannya, pasti lebih dari sukses.”
Wajahnya, senyumnya, bahkan nada suara yang tak pernah berubah. Tifa hanya tersenyum sinis pada sang Casanova veteran. Tifa yakin nama panggilannya juga tidak akan berubah.
“ Kak Jeng-jeng bisa aja.”
Nama aslinya Agung, tapi karena hobinya bermain gitar ia dipanggil Jeng-jeng. Namun, karena hobinya itulah ia pernah memimpin tim musik sewaktu Satrio menjabat sebagai ketua Love Musical. Kalau bertemu dengan orang ini, Tifa seperti melihat Kemal dari masa depan.
Di sela-sela tawa mereka, muncul dua orang wanita yang salah satunya sedang mendorong kereta bayi. Senyuman hangat langsung menyapa Tifa lontarkan pada dua senior satu tingkat di atasnya.
“ Kak Wulan, Kak Ara!” lalu mata Tifa tertuju pada bagian dalam kereta bayi. “Astaga, lucu bangeeet. Ini anak Kak Ara?”
“ Ya iyalah, kamu pikir siapa yang bisa menghasilkan anak seimut itu?” ujar senior yang bernama Ara seraya mengibaskan rambutnya.
“ Anaknya iya, tapi ibunya?” Gloria menyahut dengan nada sinis. “ Huhuhu, jangan mimpi.”
“ Hei, keriting! Belasan tahun gak ketemu mulutmu masih penuh rawit seperti dulu ya!”
Bahkan sudah terpisahkan jarak dan waktu, Ara dan Gloria masih saja jadi musuh bebuyutan seperti dulu. Acapkali bertemu mereka selalu saja bertengkar.
Well, seenggaknya aku punya kesibukkan ya. Memangnya kayak Kak Ara yang kerjaannya produksi terus.”
Tifa tersentak, “ Eh, memangnya ini anak ke berapa, Kak?”
Ara tersenyum malu-malu, “ Yaah, mau bagaimana lagi. Aku dan suamiku sangat intim. Wajar saja kalau sudah produksi tiga anak.”
Semua orang yang mendengarnya terlihat takjub. Rasanya Ara memang baru beberapa tahun lalu menikah dan sekarang anaknya sudah tiga saja.
“ Kamu sendiri bagaimana, Tif?” sahut Wulan. “ Sudah menikah?”
Seketika suasana hening. Pertanyaan Wulan cukup sensitif untuk orang seperti Tifa. Wulan pun jadi salah tingkah. Padahal niat awalnya hanya ingin basa-basi saja tak bermaksud menyinggung siapa pun.
“ Ah, aku sudah menikah dengan panggung. Dan sekarang kami hidup bahagia.”
Mendengar lelucon Tifa disertai cengiran di wajahnya, membuat semua orang, terutama Wulan mendesah lega. Tampaknya Tifa tak terpengaruh dengan pertanyaan macam itu. Atau mungkin ia sudah sangat kebal.
“ Aduuh, aku kebelet ke toilet. Ada yang bersedia menjaga anakku?” ujar Ara.
“ Ogaah,” sahut Astri seraya berlalu.
Tifa terkekeh, “ Biar aku aja Kak Ara. Kakak pasti mau minta temenin Kak Wulan’kan? Ngomong-ngomong toilet gak berubah tempat kok.”
“ Haa, deduksi yang bagus, Tif. Makasih ya. Yuk, Lan.”
Setelah Ara dan Wulan berlalu, Satrio dan Agung pun ikut berpisah. Mereka pamit lebih dulu karena ada urusan kantor yang tak bisa ditinggalkan. Maklum, hari Senin adalah hari tersibuk untuk para pebisnis sekaliber Satrio dan Agung.
“ Kamu segitunya suka sama anaknya Kak Ara, Tif.”
Tifa tersentak. Andai Dave tak menegurnya, mungkin ia tak sadar kalau sedari tadi ia mengamati bayi mungil itu dengan amat seksama. Bahkan mungkin ia tak sadar kalau sudah senyum-senyum sendiri.
Dave ikut-ikutan berjongkok di samping Tifa, “ Kalau kamu memang segitunya pengen bayi, aku bisa buatkan satu untukmu.”
Tifa melirik sebal pada Dave, “ Gila, ya? Kamu pikir bayi terbuat dari tepung dan telur apa?”
“ Hei, aku serius. Gampang banget buat bayi kayak gini. Dengar, kamu tinggal menerima lamaranku, lalu kita menikah. Selanjutnya, kamu tinggal request mau wajah bayinya mirip siapa, tapi yang jelas dia harus bermata biru sepertiku. Dengan begitu anak kita akan lebih imut dari anak siapa pun.”
“ Anak kita? Pernikahan? Lamaran?” Tifa tertawa patah-patah. “ Baru kali ini aku mendengar gombalan dan langsung mau muntah.”
“ Tidakkah kamu dengar tadi? Aku serius!”
Nada suara yang pelan, tapi meyakinkan. Tifa tak kuasa untuk tak menatap langsung iris safir itu. Dave memang tak sedang bercanda seperti biasa. Keseriusan tersirat pada kedalaman pupil yang sedang mengembang indah.
“ Oh, apa aku terlalu lama? Apa dia merengek?”
Kedatangan Ara dan Wulan benar-benar menyelamatkan Tifa dari suasana canggung itu. Sungguh, mata biru itu selalu bisa menghipnotisnya.
“ Tidak, dia baik-baik saja. Tidurnya sangat lelap.”
“ Syukurlah. Ah ya, mana Kak Satrio dan Kak Jeng-jeng?”
“ Seperti biasa. Bisnis menunggu,” sahut Tifa.
“ Wah, kalau begitu kami juga pamit ya,” ujar Ara. “ Yaah, kamu tahu’kan ada dua anak lain yang jadi tanggung jawabku.”
“ Aku juga. Aku tidak bisa meninggalkan klinikku terlalu lama,” sahut Wulan yang memang seorang dokter gigi.
“ Hmm, sayang sekali. Kupikir aku memang harus mengatur reuni kita semua,” ujar Tifa. “ Baiklah, sampai nanti. Terima kasih sudah mau mampir.”
“ Maaf soal tadi ya,” bisik Wulan ketika mereka saling berpelukan.
Tifa menyengir lebar seraya menepuk dadanya, “ Aku sangat kebal, Kak. Don’t worry.
Wulan tersenyum, dan bersamaan dengan Ara mereka melambaikan salam perpisahan.
Tifa memang baik-baik saja dengan pertanyaan seperti yang dilontarkan Wulan, tapi ia merasa resah dengan kata-kata yang diucapkan Dave barusan. Ia perlahan melirik ke belakang, memastikan apa sosok indah itu masih memandanginya. Mungkin iya, tapi sebisa mungkin Tifa harus memasang poker face. Ia tak mau getaran di hatinya terbaca oleh laki-laki itu. Tifa berbalik lalu berteriak lantang.
“ Baik, semuanya! Saatnya sesi pemotretan. Semuanya bersiap!”


Tidak ada komentar:

Posting Komentar