Musikal 100
Tak ada yang menyangka bahwa sesi wawancara yang akan
berlangsung ternyata mengundang tamu yang banyak. Tak hanya wartawan, tetapi
juga alumnus Love Musical dari
berbagai generasi. Pers conference
tak ubah ajang reuni untuk para alumnus LM. Setelah bertahun-tahun mati suri,
kini Love Musical bangkit kembali.
Hal inilah yang mengundang para alumni untuk datang menghadiri peresmian format
baru Love Musical.
Wartawan yang datang pun tak main-main. Beberapa di
antaranya adalah wartawan dari infotaiment TV nasional. Tentu saja,
menghadirkan Fi dan Adrian yang namanya sedang naik daun akan mengundang
perhatian penikmat gosip di luar sana. Selain mereka, sederet orang ternama
juga terlibat dalam pementasan ini. Sebut saja Dave si pemilik manajemen
artis-artis papan atas, serta si desainer terkenal, Tri Kurniati. Di sisi lain,
masih lekat di pikiran masyarakat akan sosok Anjani yang baru saja tampil di
ajang pencarian bakat. Dan jangan lupa siapa di balik ini semua, siapa lagi
kalau bukan Tifa sendiri. Oleh karena itu, banyak pertanyaan diarahkan pada para
bintang ini.
Lampu blitz berkedip tanpa henti. Tak ada sudut
pandang yang luput dari jepretan kamera. Ini baru setengahnya, setelah ini
mereka harus menjalani sesi pemotretan yang akan digunakan untuk promosi.
Sesi wawancara berakhir. Masih ada waktu sebelum
menjalani pemotretan. Di sela-sela waktu inilah yang digunakan untuk temu
kangen para alumni.
“ Harusnya kita benar-benar membuat acara reuni. Sudah
lama kita tidak reuni akbar,” ujar Satrio, ketua Love Musical dua tahun di atas angkatan Tifa.
“ Boleh aja, Kak,” ujar Tifa. “ Tapi kupikir setelah
pertunjukkan ini sukses.”
Tiba-tiba ada lengan yang melingkari pundak Tifa. Ia
mendapati laki-laki yang seumuran Satrio sedang tersenyum padanya.
“ Kalau si Tifa cantik ini yang buat pertunjukkannya,
pasti lebih dari sukses.”
Wajahnya, senyumnya, bahkan nada suara yang tak pernah
berubah. Tifa hanya tersenyum sinis pada sang Casanova veteran. Tifa yakin nama
panggilannya juga tidak akan berubah.
“ Kak Jeng-jeng bisa aja.”
Nama aslinya Agung, tapi karena hobinya bermain gitar
ia dipanggil Jeng-jeng. Namun, karena hobinya itulah ia pernah memimpin tim
musik sewaktu Satrio menjabat sebagai ketua Love
Musical. Kalau bertemu dengan orang ini, Tifa seperti melihat Kemal dari
masa depan.
Di sela-sela tawa mereka, muncul dua orang wanita yang
salah satunya sedang mendorong kereta bayi. Senyuman hangat langsung menyapa Tifa
lontarkan pada dua senior satu tingkat di atasnya.
“ Kak Wulan, Kak Ara!” lalu mata Tifa tertuju pada
bagian dalam kereta bayi. “Astaga, lucu bangeeet. Ini anak Kak Ara?”
“ Ya iyalah, kamu pikir siapa yang bisa menghasilkan
anak seimut itu?” ujar senior yang bernama Ara seraya mengibaskan rambutnya.
“ Anaknya iya, tapi ibunya?” Gloria menyahut dengan
nada sinis. “ Huhuhu, jangan mimpi.”
“ Hei, keriting! Belasan tahun gak ketemu mulutmu
masih penuh rawit seperti dulu ya!”
Bahkan sudah terpisahkan jarak dan waktu, Ara dan
Gloria masih saja jadi musuh bebuyutan seperti dulu. Acapkali bertemu mereka
selalu saja bertengkar.
“ Well,
seenggaknya aku punya kesibukkan ya. Memangnya kayak Kak Ara yang kerjaannya
produksi terus.”
Tifa tersentak, “ Eh, memangnya ini anak ke berapa,
Kak?”
Ara tersenyum malu-malu, “ Yaah, mau bagaimana lagi.
Aku dan suamiku sangat intim. Wajar saja kalau sudah produksi tiga anak.”
Semua orang yang mendengarnya terlihat takjub. Rasanya
Ara memang baru beberapa tahun lalu menikah dan sekarang anaknya sudah tiga
saja.
“ Kamu sendiri bagaimana, Tif?” sahut Wulan. “ Sudah
menikah?”
Seketika suasana hening. Pertanyaan Wulan cukup
sensitif untuk orang seperti Tifa. Wulan pun jadi salah tingkah. Padahal niat
awalnya hanya ingin basa-basi saja tak bermaksud menyinggung siapa pun.
“ Ah, aku sudah menikah dengan panggung. Dan sekarang
kami hidup bahagia.”
Mendengar lelucon Tifa disertai cengiran di wajahnya,
membuat semua orang, terutama Wulan mendesah lega. Tampaknya Tifa tak
terpengaruh dengan pertanyaan macam itu. Atau mungkin ia sudah sangat kebal.
“ Aduuh, aku kebelet ke toilet. Ada yang bersedia
menjaga anakku?” ujar Ara.
“ Ogaah,” sahut Astri seraya berlalu.
Tifa terkekeh, “ Biar aku aja Kak Ara. Kakak pasti mau
minta temenin Kak Wulan’kan? Ngomong-ngomong toilet gak berubah tempat kok.”
“ Haa, deduksi yang bagus, Tif. Makasih ya. Yuk, Lan.”
Setelah Ara dan Wulan berlalu, Satrio dan Agung pun
ikut berpisah. Mereka pamit lebih dulu karena ada urusan kantor yang tak bisa
ditinggalkan. Maklum, hari Senin adalah hari tersibuk untuk para pebisnis
sekaliber Satrio dan Agung.
“ Kamu segitunya suka sama anaknya Kak Ara, Tif.”
Tifa tersentak. Andai Dave tak menegurnya, mungkin ia
tak sadar kalau sedari tadi ia mengamati bayi mungil itu dengan amat seksama.
Bahkan mungkin ia tak sadar kalau sudah senyum-senyum sendiri.
Dave ikut-ikutan berjongkok di samping Tifa, “ Kalau
kamu memang segitunya pengen bayi, aku bisa buatkan satu untukmu.”
Tifa melirik sebal pada Dave, “ Gila, ya? Kamu pikir
bayi terbuat dari tepung dan telur apa?”
“ Hei, aku serius. Gampang banget buat bayi kayak
gini. Dengar, kamu tinggal menerima lamaranku, lalu kita menikah. Selanjutnya,
kamu tinggal request mau wajah
bayinya mirip siapa, tapi yang jelas dia harus bermata biru sepertiku. Dengan
begitu anak kita akan lebih imut dari anak siapa pun.”
“ Anak kita? Pernikahan? Lamaran?” Tifa tertawa
patah-patah. “ Baru kali ini aku mendengar gombalan dan langsung mau muntah.”
“ Tidakkah kamu dengar tadi? Aku serius!”
Nada suara yang pelan, tapi meyakinkan. Tifa tak kuasa
untuk tak menatap langsung iris safir itu. Dave memang tak sedang bercanda
seperti biasa. Keseriusan tersirat pada kedalaman pupil yang sedang mengembang
indah.
“ Oh, apa aku terlalu lama? Apa dia merengek?”
Kedatangan Ara dan Wulan benar-benar menyelamatkan
Tifa dari suasana canggung itu. Sungguh, mata biru itu selalu bisa
menghipnotisnya.
“ Tidak, dia baik-baik saja. Tidurnya sangat lelap.”
“ Syukurlah. Ah ya, mana Kak Satrio dan Kak
Jeng-jeng?”
“ Seperti biasa. Bisnis menunggu,” sahut Tifa.
“ Wah, kalau begitu kami juga pamit ya,” ujar Ara. “
Yaah, kamu tahu’kan ada dua anak lain yang jadi tanggung jawabku.”
“ Aku juga. Aku tidak bisa meninggalkan klinikku
terlalu lama,” sahut Wulan yang memang seorang dokter gigi.
“ Hmm, sayang sekali. Kupikir aku memang harus
mengatur reuni kita semua,” ujar Tifa. “ Baiklah, sampai nanti. Terima kasih
sudah mau mampir.”
“ Maaf soal tadi ya,” bisik Wulan ketika mereka saling
berpelukan.
Tifa menyengir lebar seraya menepuk dadanya, “ Aku
sangat kebal, Kak. Don’t worry.”
Wulan tersenyum, dan bersamaan dengan Ara mereka
melambaikan salam perpisahan.
Tifa memang baik-baik saja dengan pertanyaan seperti
yang dilontarkan Wulan, tapi ia merasa resah dengan kata-kata yang diucapkan
Dave barusan. Ia perlahan melirik ke belakang, memastikan apa sosok indah itu
masih memandanginya. Mungkin iya, tapi sebisa mungkin Tifa harus memasang poker face. Ia tak mau getaran di hatinya
terbaca oleh laki-laki itu. Tifa berbalik lalu berteriak lantang.
“ Baik, semuanya! Saatnya sesi pemotretan. Semuanya
bersiap!”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar