Musikal 94
Ririn mempercepat langkahnya saat turun dari tangga.
Sebenarnya ia bingung bercampur kesal saat mamanya memberitahu kalau ada
seorang teman perempuannya datang ke rumah. Ketika mamanya bilang gadis itu
membawa motor, entah kenapa pikiran Ririn langsung melayang pada Wenda. Meski
sebenarnya masih banyak kemungkinan temannya yang lain.
Dugaan Ririn tak
meleset. Wenda sedang menunggu di atas motornya. Gadis itu tersenyum tipis saat
menyadari kehadiran Ririn. Mau tak mau Ririn harus membalas senyuman itu.
“ Maaf ganggu kamu
malam-malam.”
“ Gak apa. By the way, ada apa ya?”
Wenda menundukkan
kepalanya. Sepertinya gadis itu sedang sibuk memikirkan kata-kata yang seperti
apa yang harus ia katakan pada gadis ini. Ririn pun dibuat gemas dengan
kelakuan Wenda yang sengaja mengulur-ulur waktu.
“ Aku cuma mau minta
maaf,” ujar Wenda seraya mengangkat wajahnya. “ Tentang kebohonganku.”
Ririn tak langsung
menjawab. Kalimat Wenda terdengar menggantung.
“ Ya, aku bohong soal
Alexi. Kami tidak berpacaran. Ini hanya rasa suka yang sepihak.”
Bibir Ririn masih
terkatup rapat.
“ Aku tahu, kamu
pasti bertanya-tanya kenapa aku melakukan itu. Aku yah… sebenarnya… aku hanya…
hanya tidak suka, lebih tepatnya iri denganmu. Iri akan kedekatanmu dengan
Alexi.”
Wenda menarik napas
panjang, “ Kamu adalah saingan terberatku. Tidak peduli secantik atau seberarti
apa sosok Nadia itu di mata Alexi. Bagiku kamu adalah orang pertama yang harus
aku singkirkan kalau aku mau mendapatkan Alexi.
“ Aku terbuai dengan
angan-anganku sendiri. Anjani aja sampai marah-marah dan bilang kalau ini semua
hanya obsesiku. Sampai apa yang dikatakan Anjani itu benar-benar terjadi. Alexi
mencampakkanku dan aku masih tidak menerimanya. Untuk menutupi rasa maluku, aku
nekat untuk berkata bohong padamu.
Tapi ternyata aku tak bisa membohongi siapa
pun. Yang aku lakukan justru membohongi diriku sendiri.”
Wenda tertawa getir.
Terdengar helaan
napas panjang dari Ririn, “ Ya sudahlah, Wen. Aku dan Alexi sudah sepakat untuk
melupakan ini. Anggap saja ini tidak pernah terjadi.”
Kening Wenda berkerut
heran, “ Semudah itu? Apa kamu ini seorang ibu peri?”
“ Bukan begitu. Kalau
mau jujur, aku juga kesal. Rasanya kebohongan kamu kemarin itu menambah
penyakitku saja. Makanya kupikir lebih baik aku menganggap semuanya tidak
pernah terjadi karena aku malas kalau harus mengingat-ingat hal yang
menyebalkan seperti itu.”
“ Ohh, begitu,” Wenda
kembali tertawa pahit.
“ Ngomong-ngomong,
apa kamu sudah berbaikan dengan Anjani? Sepertinya kalian terlibat perselisihan
juga.”
Wenda mengangguk, “
Ya, mungkin besok akan kulakukan.”
Ririn ikut-ikutan
mengangguk, “ Oh ya, Wen. Aku masih tidak mengerti kenapa kamu meanggap aku
sebagai saingan kamu? Bukannya aku sudah pernah bilang sama kamu gimana
hubunganku dengan Alexi yang sebenarnya.”
Tawa Wenda kali ini
terdengar patah-patah, “ Masa kamu gak pernah ngerasa, Rin? Maksudku dari cara
bicara, perhatian, dan senyumannya. Masa kamu gak pernah melihat tanda-tanda
itu semua?”
“ Aku gak ngerti,”
ujar Ririn sambil menggeleng. “ Aku tidak pernah merasa aneh atau berbeda dari
semua itu, ketika bersamaku atau orang lain. Mungkin memang itu adatnya.”
Giliran Wenda yang
gemas dengan kepolosan gadis ini. Harusnya Ririn tahu bagaimana usaha Wenda
yang mati-matian hanya untuk mendapatkan perhatian semu Alexi. Sementara ketika
gadis itu mendapatkan semuanya, gadis itu malah tidak merasakan apa-apa.
“ Jadi, kamu
benar-benar tidak tahu bagaimana perasaan Alexi terhadapmu?”
“ Tidak. Dia tidak
pernah bilang. Memangnya aku harus bagaimana pada Alexi?”
Hampir saja Wenda
menyerbu Ririn dengan rentetan kata yang sudah lama ia simpan. Namun, semuanya
tertahan ketika keduanya mendengar suara klakson mobil. Pembicaraan mereka
menjadi terlupa saat mereka melihat sosok di balik kemudi itu adalah Dave.
“ Hai, Rin. Udah
sehat kamu?” sapa Dave ketika Ririn mencium tangannya, lalu seorang gadis lain
ikut menyalaminya. “ Ini Wenda’kan?”
Wenda mengangguk, “
Iya, Pak.”
“ Tamu datang kok gak diajak masuk, Rin? Tega
amat,” tegur Dave.
Ririn hanya mendengus
kesal. Harusnya oom-nya tahu siapa yang mengajaknya dingin-dinginan di depan
pagar.
“ Gak apa, Pak. Saya
cuma sebentar doang. Ini udah mau pulang kok.”
“ Loh, gak masuk
dulu. Saya baru beli bakso tenis loh. Kita makan bareng-bareng aja di dalam.
Enak loh malam-malam gini, pas banget cuaca dingin.”
Wenda melambaikan
tangannya, “ Makasih, Pak. Udah malam, saya harus pulang. Lagi pula besok
latihan, saya harus istirahat biar gak capek.”
“ Ohh, ya udah kalau
gitu. Sampai jumpa besok.”
Wenda tersenyum
seraya menstarter motornya, “ Saya pamit, Pak. Bye, Rin.”
Ririn melambai pelan,
lalu Wenda pun segera menghilang dari balik deru motornya. Begitu sosok Wenda
tak lagi di sana, indra penciuman Ririn langsung bekerja ekstra. Ia merasa
plastik merah yang ditenteng oom-nya itu membuat perutnya bergejolak.
“ Tumben bawa bakso?”
“ Loh kamu bukannya
lagi sakit. Orang sakit harus makan yang enak-enak biar cepat sehat.”
“ Aku sudah sehat.
Kok baru bawa sekarang? Om kemana aja dari kemarin?”
“ Sibuk, Rin. Om’kan
gak cuma ngurusin Love Musical aja.
Ada perusahaan Om yang harus diurus. Kalau nggak artis-artis Om bisa kabur
semua. Mana Grandpa-mu itu susah
banget dilobinya. Masa Om minta cuti aja susah banget.”
“ Memangnya Om mau
cuti berapa lama?”
Dave terkekeh, “
Sampai Love Musical selesai pentas.”
Bahu Ririn langsung
melorot mendengar jawaban oom-nya, “ Yeeh, itu sih bukan cuti lagi namanya, Om.
Bisa-bisa Om dipecat sama ayah sendiri.”
“ Oh ya, Rin. Om
bakal nginep di sini sampai beberapa hari ke depan. Mama kamu yang minta Om,
supaya bisa antarjemput kamu.”
“ Aku’kan udah gede.
Masa masih diantar-jemput?”
“ Udaaah, turutin aja
apa kata mama kamu,” sahut Dave seraya mengacak-acak rambut keponakannya.” Yuk
masuk, nanti baksonya keburu dingin.”
ooOoo
Wenda membaringkan tubuhnya di kasur. Hari yang
panjang nan melelahkan. Pembicaraan yang berat dengan Alexi serta obrolan yang
membuatnya gemas bersama Ririn. Namun, dari semua itu ada hal yang membuat
energinya terserap lebih banyak.
Masih membekas dalam
ingatannya dengan apa yang terjadi siang itu. Pikirannya sangat kalut setelah
berdialog panjang dengan Alexi. Wenda mempercepat langkahnya ketika meninggalkan
kelas. Ia tak mau lebih lama lagi bersama laki-laki itu. Bisa-bisa ia
menumpahkan semua air matanya di sana. Namun, semakin cepat ia memacu langkah,
kantung matanya tak kuasa lagi menahan genangan cairan asin itu.
Tiba-tiba saja ada
menarik tangannya. Wenda tak sempat melihat siapa yang melakukannya karena si
pelaku langsung memeluk tubuhnya. Pikiran Wenda yang sedang kacau membuatnya
tak sigap untuk melepaskan diri, malah pelukan itu terasa sangat hangat. Terlalu
hangat sampai-sampai Wenda merasa nyaman dan melepaskan semua emosinya di sana.
Wenda menangis sekuat-kuatnya dalam pelukan orang yang tak dikenal itu.
Seperti sudah
diminta, orang tak dikenal itu tak hanya memeluk tapi juga mengusap lembut
kepalanya. Sentuhan lembut itu membuat perasaan Wenda tenang. Sedikit demi
sedikit tangis Wenda mereda.
Saat tangisnya
benar-benar reda, akal sehat Wenda mulai bekerja. Refleks gadis itu segera
melepaskan diri. Baru saja terpikirkan olehnya kalau orang yang sedang
memluknya tadi bisa saja adalah orang mesum. Ia sudah bersiap untuk melakukan
perlawanan. Ketika mata mereka saling bertemu, napas Wenda seketika tertahan.
Bukan orang mesum,
tapi hanya seorang Ben.
Wenda lebih kaget
kala menyadari kalau orang itu adalah Ben. Sepertinya ia lebih siap kalau yang
memeluknya tadi adalah benar-benar orang mesum.
“ Ka—kamu ngapain di
sini, Ben?”
“ Kupikir akan
terjadi sesuatu di sini,” Ben terlihat salah tingkah dengan menggaruk-garuk
tengkuknya. “ Aku lihat kamu belum pulang. Jadi, aku tunggu kamu di sini.
Ternyata benar, kamu tadi terlihat begitu kacau.”
Kening Wenda berkerut
curiga, “Apa kamu melihat apa yang terjadi di kelas tadi?”
Ben menggeleng, “
Tidak, tapi aku sudah memperkirakan saja.”
Suasana kembali
sunyi. Wenda berusaha memalingkan wajahnya. Ia tak mau kalau sampai Ben melihat
sisa-sisa air matanya.
“ Kamu baik-baik
saja?”
“ Sedikit,” Wenda
berdeham. “ Sedikit lebih baik.”
“ Mau pulang?” tawar
Ben.
Wenda menimang
penawaran itu. Bukan tawaran yang buruk, tapi juga bukan sesuatu yang baik.
Kalau dia langsung pulang, bisa-bisa dia galau sepanjangan di kamar. Pikirannya
akan kembali pada Alexi dan kisah cintanya yang layu sebelum berkembang.
“ Aku punya tempat
tujuan yang bagus kalau kamu belum mau pulang.”
Kalimat yang meluncur
dari bibir laki-laki seolah bisa membaca pikirannya saja. Wenda pun menyetujui
gagasan ini. Ia memang merasa sedikit lelah, tapi ia butuh angin segar.
Mereka pun segera
memacu kuda mesin mereka di jalanan. Wenda merasa hapal pada jalanan yang Ben
arahkan. Ia berpikir kalau Ben akan membawanya ke daerah pabrik pupuk terbesar
di Palembang. Ternyata benar, Ben memang mengarahkannya masuk ke kompleks
pabrik pupuk itu. Wenda sering ke sini dulu ketika ia belajar motor, tapi ia
belum pernah dibawa ke sudut perkompleksan.
Ben turun dari
motornya. Ia tersenyum ketika Wenda juga turun dari motor dan menyusulnya.
“ Pernah ke sini?”
Wenda menggeleng
pelan. Ben membawanya ke pinggir sungai yang ada di sudut kompleks itu.
Tempatnya memang tak seindah sungai Musi, tapi sangat menenangkan. Ben mengajaknya
duduk di salah satu bangku yang tersedia di sana. Mereka pun menikmati sore
yang cerah nan sejuk. Semilir angin menyentuh helaian rambut Wenda. Suasana
yang menyenangkan seperti ini berhaasil memadamkan semua emosinya yang
bergejolak.
“ Jujur aku marah
waktu aku dengar kamu menjalin hubungan palsu dengan Alexi.”
Mata Wenda melirik
Ben perlahan. Ia menunggu kata-kata yang selanjutnya keluar dari bibir
laki-laki itu.
“ Aku bisa saja
menghabisi si kacamat itu karena telah mempermainkanmu, tapi masalahnya di sini
kamulah yang menawarkan diri. Kamu juga kayaknya senang banget waktu jadi pacar
pura-pura Alexi. Kalau sudah begitu aku atau yang lainnya gak bisa berbuat
apa-apa. Aku, Kemal, dan Anjani sepakat agar tidak ikut campur dalam masalahmu,
tapi kami akan menolongmu jika ternyata Alexi memang tidak suka padamu.”
“ Makanya kamu ada di
sana, menungguku?” tanya Wenda.
Ben mengangguk pelan.
Wenda tersenyum
kecil, “ Terima kasih. Aku benar-benar beruntung punya teman seperti kalian.
Sayang, aku kemarin berantem sama Anjani.”
“ Kenapa memangnya?”
“ Yaaa, mungkin
karena keegoisanku. Kemarin aku datang ke rumah Ririn dan bilang sama dia kalau
aku dan Alexi sudah jadian,” Wenda tertawa pahit. “ Aku juga gak tahu kenapa
aku melakukan itu. Rasanya aku gak rela aja kalau dia tahu bahwa Alexi
sebenarnya sudah menolakku. Aku takut mereka berdua akan dekat lagi dan Alexi
akan melupakan aku.”
Ben mendesah panjang,
“ Kamu harus minta maaf sama Anjani, juga Ririn.”
“ Ya, aku akan
melakukannya,” Wenda mengangguk. “ Sekarang aku tahu bagaimana rasanya
kejujuran itu. Sangat menyakitkan, tapi juga bikin tenang karena gak ada hal
yang harus aku tutup-tutupi.”
“ Baguslah. Senang
kalau kamu sudah mengerti.”
Wenda kembali melirik
Ben. Kali ini laki-laki itu sedang tersenyum padanya.
“ Menurutmu apa aku
egois, Ben?”
“ Bukan egois, tapi
bodoh,” ujar Ben sambil menatap lurus pada matahari yang akan segera terbenam.
“ Bodoh karena cinta.”
“ Bodoh yaa,” Wenda
kembali tertawa getir. “ Ya, aku memang dibodohi cinta. Aku jadi egois, aku
jadi buta, dan aku hampir saja kehilangan segalanya.”
Ben tersenyum, “
Tidak apa. Kita semua awalnya bodoh dan melakukan kebodohan, tapi kemudian kita
belajar dari semua itu. Kupikir sudah saatnya kamu membuka lembaran baru.
Mencoba menerima kesalahan dan kekalahan.”
“ Wah, itu terdengar
filosofis sekali, Ben,” ujar Wenda seraya mendesah panjang.
Keduanya sama-sama
tertawa. Kemudian tawa mereka tersita kala cakrawala menampilkan pesona yang
indah. Mega-mega seolah mengiringi sang raja langit yang aka segera tertidur.
Wenda bersorak kegirangan. Baru kali ini ia melihat sunset terindah di Palembang.
“ Wen, aku pikir aku
juga seorang yang bodoh. Aku tidak tahu apakah ini momen yang tepat atau tidak,
tapi jujur aku bukan sengaja mengambil kesempatan ini.”
Kata-kata Ben yang
terdengar aneh memaksakan Wenda untuk menatap laki-laki itu. Ternayata Ben
sedang menatapanya dengan tatapan yang serius.
“ Aku suka kamu.”
Kaki langit semakin
kemerahan. Membiaskan udara hangat yang bahkan deru angin pun tak mampu
menandinginya. Kehangatan itu semakin terasa ketika bibir mereka saling
bersentuhan. Hanya kecupan singkat dan sepihak.
Keduanya sama-sama
terkejut. Entah karena pengaruh pernyataan itu atau memang suasana terasa
sangat romantis sehingga keduanya tak sadar sudah melakukan sesuatu yang di
luar zona mereka. Mereka salah tingkah. Rona merah pun menjalari raut wajah
mereka.
“ Wen, a—aku…”
“ Mmm, sudahlah. Gak
apa-apa. Ehem, aku mau ke rumah Ririn dulu. Aku harus buru-buru sebelum
semuanya jadi berantakan.”
“ Ta—tapi, ehem, maaf,
Wen.”
Wenda tersenyum
singkat pada laki-laki itu, “ Sampai jumpa, Ben.”
Setelah itu Wenda tak
tahu lagi. Untungnya ia masih bisa mengarahkan motornya sampai ke rumah Ririn.
Ia juga masih bersyukur karena masih bisa berkomunikasi dengan lancar.
Namun, sekarang
adalah saat dimana semuanya terpikir ulang olehnya. Bibirnya masih terasa panas
kalau ia mengingat-ingat hal itu. Padahal ia yakin, ciuman itu tak lebih dari
lima detik.
Wenda mendesah
panjang. Ben baru saja menciumnya. Ia dilema dengan kenyataan ini. Masih
bisakah mereka berteman esok hari?
Author's Note:
Enduuung.... aku udah nepatin hutang di musikal ini yaaah....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar