Total Tayangan Halaman

Jumat, 04 November 2016

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 94)




Musikal 94

Ririn mempercepat langkahnya saat turun dari tangga. Sebenarnya ia bingung bercampur kesal saat mamanya memberitahu kalau ada seorang teman perempuannya datang ke rumah. Ketika mamanya bilang gadis itu membawa motor, entah kenapa pikiran Ririn langsung melayang pada Wenda. Meski sebenarnya masih banyak kemungkinan temannya yang lain.
Dugaan Ririn tak meleset. Wenda sedang menunggu di atas motornya. Gadis itu tersenyum tipis saat menyadari kehadiran Ririn. Mau tak mau Ririn harus membalas senyuman itu.
“ Maaf ganggu kamu malam-malam.”
“ Gak apa. By the way, ada apa ya?”
Wenda menundukkan kepalanya. Sepertinya gadis itu sedang sibuk memikirkan kata-kata yang seperti apa yang harus ia katakan pada gadis ini. Ririn pun dibuat gemas dengan kelakuan Wenda yang sengaja mengulur-ulur waktu.
“ Aku cuma mau minta maaf,” ujar Wenda seraya mengangkat wajahnya. “ Tentang kebohonganku.”
Ririn tak langsung menjawab. Kalimat Wenda terdengar menggantung.
“ Ya, aku bohong soal Alexi. Kami tidak berpacaran. Ini hanya rasa suka yang sepihak.”
Bibir Ririn masih terkatup rapat.
“ Aku tahu, kamu pasti bertanya-tanya kenapa aku melakukan itu. Aku yah… sebenarnya… aku hanya… hanya tidak suka, lebih tepatnya iri denganmu. Iri akan kedekatanmu dengan Alexi.”
Wenda menarik napas panjang, “ Kamu adalah saingan terberatku. Tidak peduli secantik atau seberarti apa sosok Nadia itu di mata Alexi. Bagiku kamu adalah orang pertama yang harus aku singkirkan kalau aku mau mendapatkan Alexi.
“ Aku terbuai dengan angan-anganku sendiri. Anjani aja sampai marah-marah dan bilang kalau ini semua hanya obsesiku. Sampai apa yang dikatakan Anjani itu benar-benar terjadi. Alexi mencampakkanku dan aku masih tidak menerimanya. Untuk menutupi rasa maluku, aku nekat untuk berkata bohong padamu.
 Tapi ternyata aku tak bisa membohongi siapa pun. Yang aku lakukan justru membohongi diriku sendiri.”
Wenda tertawa getir.
Terdengar helaan napas panjang dari Ririn, “ Ya sudahlah, Wen. Aku dan Alexi sudah sepakat untuk melupakan ini. Anggap saja ini tidak pernah terjadi.”
Kening Wenda berkerut heran, “ Semudah itu? Apa kamu ini seorang ibu peri?”
“ Bukan begitu. Kalau mau jujur, aku juga kesal. Rasanya kebohongan kamu kemarin itu menambah penyakitku saja. Makanya kupikir lebih baik aku menganggap semuanya tidak pernah terjadi karena aku malas kalau harus mengingat-ingat hal yang menyebalkan seperti itu.”
“ Ohh, begitu,” Wenda kembali tertawa pahit.
“ Ngomong-ngomong, apa kamu sudah berbaikan dengan Anjani? Sepertinya kalian terlibat perselisihan juga.”
Wenda mengangguk, “ Ya, mungkin besok akan kulakukan.”
Ririn ikut-ikutan mengangguk, “ Oh ya, Wen. Aku masih tidak mengerti kenapa kamu meanggap aku sebagai saingan kamu? Bukannya aku sudah pernah bilang sama kamu gimana hubunganku dengan Alexi yang sebenarnya.”
Tawa Wenda kali ini terdengar patah-patah, “ Masa kamu gak pernah ngerasa, Rin? Maksudku dari cara bicara, perhatian, dan senyumannya. Masa kamu gak pernah melihat tanda-tanda itu semua?”
“ Aku gak ngerti,” ujar Ririn sambil menggeleng. “ Aku tidak pernah merasa aneh atau berbeda dari semua itu, ketika bersamaku atau orang lain. Mungkin memang itu adatnya.”
Giliran Wenda yang gemas dengan kepolosan gadis ini. Harusnya Ririn tahu bagaimana usaha Wenda yang mati-matian hanya untuk mendapatkan perhatian semu Alexi. Sementara ketika gadis itu mendapatkan semuanya, gadis itu malah tidak merasakan apa-apa.
“ Jadi, kamu benar-benar tidak tahu bagaimana perasaan Alexi terhadapmu?”
“ Tidak. Dia tidak pernah bilang. Memangnya aku harus bagaimana pada Alexi?”
Hampir saja Wenda menyerbu Ririn dengan rentetan kata yang sudah lama ia simpan. Namun, semuanya tertahan ketika keduanya mendengar suara klakson mobil. Pembicaraan mereka menjadi terlupa saat mereka melihat sosok di balik kemudi itu adalah Dave.
“ Hai, Rin. Udah sehat kamu?” sapa Dave ketika Ririn mencium tangannya, lalu seorang gadis lain ikut menyalaminya. “ Ini Wenda’kan?”
Wenda mengangguk, “ Iya, Pak.”
 “ Tamu datang kok gak diajak masuk, Rin? Tega amat,” tegur Dave.
Ririn hanya mendengus kesal. Harusnya oom-nya tahu siapa yang mengajaknya dingin-dinginan di depan pagar.
“ Gak apa, Pak. Saya cuma sebentar doang. Ini udah mau pulang kok.”
“ Loh, gak masuk dulu. Saya baru beli bakso tenis loh. Kita makan bareng-bareng aja di dalam. Enak loh malam-malam gini, pas banget cuaca dingin.”
Wenda melambaikan tangannya, “ Makasih, Pak. Udah malam, saya harus pulang. Lagi pula besok latihan, saya harus istirahat biar gak capek.”
“ Ohh, ya udah kalau gitu. Sampai jumpa besok.”
Wenda tersenyum seraya menstarter motornya, “ Saya pamit, Pak. Bye, Rin.”
Ririn melambai pelan, lalu Wenda pun segera menghilang dari balik deru motornya. Begitu sosok Wenda tak lagi di sana, indra penciuman Ririn langsung bekerja ekstra. Ia merasa plastik merah yang ditenteng oom-nya itu membuat perutnya bergejolak.
“ Tumben bawa bakso?”
“ Loh kamu bukannya lagi sakit. Orang sakit harus makan yang enak-enak biar cepat sehat.”
“ Aku sudah sehat. Kok baru bawa sekarang? Om kemana aja dari kemarin?”
“ Sibuk, Rin. Om’kan gak cuma ngurusin Love Musical aja. Ada perusahaan Om yang harus diurus. Kalau nggak artis-artis Om bisa kabur semua. Mana Grandpa-mu itu susah banget dilobinya. Masa Om minta cuti aja susah banget.”
“ Memangnya Om mau cuti berapa lama?”
Dave terkekeh, “ Sampai Love Musical selesai pentas.”
Bahu Ririn langsung melorot mendengar jawaban oom-nya, “ Yeeh, itu sih bukan cuti lagi namanya, Om. Bisa-bisa Om dipecat sama ayah sendiri.”
“ Oh ya, Rin. Om bakal nginep di sini sampai beberapa hari ke depan. Mama kamu yang minta Om, supaya bisa antarjemput kamu.”
“ Aku’kan udah gede. Masa masih diantar-jemput?”
“ Udaaah, turutin aja apa kata mama kamu,” sahut Dave seraya mengacak-acak rambut keponakannya.” Yuk masuk, nanti baksonya keburu dingin.”
ooOoo
Wenda membaringkan tubuhnya di kasur. Hari yang panjang nan melelahkan. Pembicaraan yang berat dengan Alexi serta obrolan yang membuatnya gemas bersama Ririn. Namun, dari semua itu ada hal yang membuat energinya terserap lebih banyak.
Masih membekas dalam ingatannya dengan apa yang terjadi siang itu. Pikirannya sangat kalut setelah berdialog panjang dengan Alexi. Wenda mempercepat langkahnya ketika meninggalkan kelas. Ia tak mau lebih lama lagi bersama laki-laki itu. Bisa-bisa ia menumpahkan semua air matanya di sana. Namun, semakin cepat ia memacu langkah, kantung matanya tak kuasa lagi menahan genangan cairan asin itu.
Tiba-tiba saja ada menarik tangannya. Wenda tak sempat melihat siapa yang melakukannya karena si pelaku langsung memeluk tubuhnya. Pikiran Wenda yang sedang kacau membuatnya tak sigap untuk melepaskan diri, malah pelukan itu terasa sangat hangat. Terlalu hangat sampai-sampai Wenda merasa nyaman dan melepaskan semua emosinya di sana. Wenda menangis sekuat-kuatnya dalam pelukan orang yang tak dikenal itu.
Seperti sudah diminta, orang tak dikenal itu tak hanya memeluk tapi juga mengusap lembut kepalanya. Sentuhan lembut itu membuat perasaan Wenda tenang. Sedikit demi sedikit tangis Wenda mereda.
Saat tangisnya benar-benar reda, akal sehat Wenda mulai bekerja. Refleks gadis itu segera melepaskan diri. Baru saja terpikirkan olehnya kalau orang yang sedang memluknya tadi bisa saja adalah orang mesum. Ia sudah bersiap untuk melakukan perlawanan. Ketika mata mereka saling bertemu, napas Wenda seketika tertahan.
Bukan orang mesum, tapi hanya seorang Ben.
Wenda lebih kaget kala menyadari kalau orang itu adalah Ben. Sepertinya ia lebih siap kalau yang memeluknya tadi adalah benar-benar orang mesum.
“ Ka—kamu ngapain di sini, Ben?”
“ Kupikir akan terjadi sesuatu di sini,” Ben terlihat salah tingkah dengan menggaruk-garuk tengkuknya. “ Aku lihat kamu belum pulang. Jadi, aku tunggu kamu di sini. Ternyata benar, kamu tadi terlihat begitu kacau.”
Kening Wenda berkerut curiga, “Apa kamu melihat apa yang terjadi di kelas tadi?”
Ben menggeleng, “ Tidak, tapi aku sudah memperkirakan saja.”
Suasana kembali sunyi. Wenda berusaha memalingkan wajahnya. Ia tak mau kalau sampai Ben melihat sisa-sisa air matanya.
“ Kamu baik-baik saja?”
“ Sedikit,” Wenda berdeham. “ Sedikit lebih baik.”
“ Mau pulang?” tawar Ben.
Wenda menimang penawaran itu. Bukan tawaran yang buruk, tapi juga bukan sesuatu yang baik. Kalau dia langsung pulang, bisa-bisa dia galau sepanjangan di kamar. Pikirannya akan kembali pada Alexi dan kisah cintanya yang layu sebelum berkembang.
“ Aku punya tempat tujuan yang bagus kalau kamu belum mau pulang.”
Kalimat yang meluncur dari bibir laki-laki seolah bisa membaca pikirannya saja. Wenda pun menyetujui gagasan ini. Ia memang merasa sedikit lelah, tapi ia butuh angin segar.
Mereka pun segera memacu kuda mesin mereka di jalanan. Wenda merasa hapal pada jalanan yang Ben arahkan. Ia berpikir kalau Ben akan membawanya ke daerah pabrik pupuk terbesar di Palembang. Ternyata benar, Ben memang mengarahkannya masuk ke kompleks pabrik pupuk itu. Wenda sering ke sini dulu ketika ia belajar motor, tapi ia belum pernah dibawa ke sudut perkompleksan.
Ben turun dari motornya. Ia tersenyum ketika Wenda juga turun dari motor dan menyusulnya.
“ Pernah ke sini?”
Wenda menggeleng pelan. Ben membawanya ke pinggir sungai yang ada di sudut kompleks itu. Tempatnya memang tak seindah sungai Musi, tapi sangat menenangkan. Ben mengajaknya duduk di salah satu bangku yang tersedia di sana. Mereka pun menikmati sore yang cerah nan sejuk. Semilir angin menyentuh helaian rambut Wenda. Suasana yang menyenangkan seperti ini berhaasil memadamkan semua emosinya yang bergejolak.
“ Jujur aku marah waktu aku dengar kamu menjalin hubungan palsu dengan Alexi.”
Mata Wenda melirik Ben perlahan. Ia menunggu kata-kata yang selanjutnya keluar dari bibir laki-laki itu.
“ Aku bisa saja menghabisi si kacamat itu karena telah mempermainkanmu, tapi masalahnya di sini kamulah yang menawarkan diri. Kamu juga kayaknya senang banget waktu jadi pacar pura-pura Alexi. Kalau sudah begitu aku atau yang lainnya gak bisa berbuat apa-apa. Aku, Kemal, dan Anjani sepakat agar tidak ikut campur dalam masalahmu, tapi kami akan menolongmu jika ternyata Alexi memang tidak suka padamu.”
“ Makanya kamu ada di sana, menungguku?” tanya Wenda.
Ben mengangguk pelan.
Wenda tersenyum kecil, “ Terima kasih. Aku benar-benar beruntung punya teman seperti kalian. Sayang, aku kemarin berantem sama Anjani.”
“ Kenapa memangnya?”
“ Yaaa, mungkin karena keegoisanku. Kemarin aku datang ke rumah Ririn dan bilang sama dia kalau aku dan Alexi sudah jadian,” Wenda tertawa pahit. “ Aku juga gak tahu kenapa aku melakukan itu. Rasanya aku gak rela aja kalau dia tahu bahwa Alexi sebenarnya sudah menolakku. Aku takut mereka berdua akan dekat lagi dan Alexi akan melupakan aku.”
Ben mendesah panjang, “ Kamu harus minta maaf sama Anjani, juga Ririn.”
“ Ya, aku akan melakukannya,” Wenda mengangguk. “ Sekarang aku tahu bagaimana rasanya kejujuran itu. Sangat menyakitkan, tapi juga bikin tenang karena gak ada hal yang harus aku tutup-tutupi.”
“ Baguslah. Senang kalau kamu sudah mengerti.”
Wenda kembali melirik Ben. Kali ini laki-laki itu sedang tersenyum padanya.
“ Menurutmu apa aku egois, Ben?”
“ Bukan egois, tapi bodoh,” ujar Ben sambil menatap lurus pada matahari yang akan segera terbenam. “ Bodoh karena cinta.”
“ Bodoh yaa,” Wenda kembali tertawa getir. “ Ya, aku memang dibodohi cinta. Aku jadi egois, aku jadi buta, dan aku hampir saja kehilangan segalanya.”
Ben tersenyum, “ Tidak apa. Kita semua awalnya bodoh dan melakukan kebodohan, tapi kemudian kita belajar dari semua itu. Kupikir sudah saatnya kamu membuka lembaran baru. Mencoba menerima kesalahan dan kekalahan.”
“ Wah, itu terdengar filosofis sekali, Ben,” ujar Wenda seraya mendesah panjang.
Keduanya sama-sama tertawa. Kemudian tawa mereka tersita kala cakrawala menampilkan pesona yang indah. Mega-mega seolah mengiringi sang raja langit yang aka segera tertidur. Wenda bersorak kegirangan. Baru kali ini ia melihat sunset terindah di Palembang.
“ Wen, aku pikir aku juga seorang yang bodoh. Aku tidak tahu apakah ini momen yang tepat atau tidak, tapi jujur aku bukan sengaja mengambil kesempatan ini.”
Kata-kata Ben yang terdengar aneh memaksakan Wenda untuk menatap laki-laki itu. Ternayata Ben sedang menatapanya dengan tatapan yang serius.
“ Aku suka kamu.”
Kaki langit semakin kemerahan. Membiaskan udara hangat yang bahkan deru angin pun tak mampu menandinginya. Kehangatan itu semakin terasa ketika bibir mereka saling bersentuhan. Hanya kecupan singkat dan sepihak.
Keduanya sama-sama terkejut. Entah karena pengaruh pernyataan itu atau memang suasana terasa sangat romantis sehingga keduanya tak sadar sudah melakukan sesuatu yang di luar zona mereka. Mereka salah tingkah. Rona merah pun menjalari raut wajah mereka.
“ Wen, a—aku…”
“ Mmm, sudahlah. Gak apa-apa. Ehem, aku mau ke rumah Ririn dulu. Aku harus buru-buru sebelum semuanya jadi berantakan.”
“ Ta—tapi, ehem, maaf, Wen.”
Wenda tersenyum singkat pada laki-laki itu, “ Sampai jumpa, Ben.”
Setelah itu Wenda tak tahu lagi. Untungnya ia masih bisa mengarahkan motornya sampai ke rumah Ririn. Ia juga masih bersyukur karena masih bisa berkomunikasi dengan lancar.
Namun, sekarang adalah saat dimana semuanya terpikir ulang olehnya. Bibirnya masih terasa panas kalau ia mengingat-ingat hal itu. Padahal ia yakin, ciuman itu tak lebih dari lima detik.
Wenda mendesah panjang. Ben baru saja menciumnya. Ia dilema dengan kenyataan ini. Masih bisakah mereka berteman esok hari?

Author's Note:
Enduuung.... aku udah nepatin hutang di musikal ini yaaah....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar