Total Tayangan Halaman

Sabtu, 12 November 2016

LOVE MUSICAL Extraodinary (Musikal 98)




Musikal 98

“ Aku tahu, pasti soal Wenda dan Ben’kan?”
Senyum Kemal mengembang lebar. Pagi ini ia sengaja datang pagi-pagi dan menunggu Anjani di parkiran. Begitu sahabatnya datang, ia langsung menghampiri. Seperti bisa membaca pikiran, Anjani langsung melontarkan pertanyaan sapaan pada Kemal.
“ Tapi gak di parkiran juga kali,” Anjani membetulkan letak ranselnya. “ Cari tempat gih.”
Kemal setuju dengan gagasan Anjani. Ia mengajak Anjani ke suatu tempat yang jarang dikunjungi orang di pagi hari. Dimana lagi kalau bukan gedung teater.
“ Sebenarnya aku bingung harus gimana,” ujar Anjani seraya duduk di tangga teras gedung teater. “ Tapi yang jelas aku gak pengen mereka berdua jadi jauh-jauhan.”
“ Sahabatan kayak kemarin?” Kemal tertawa sakartis, “ Gak segampang itu, Jane. Ini bukan masalah pertengkaran biasa. Ini sudah menyangkut perasaan di luar batas rasa persahabatan.”
Semua logika yang dikatakan Kemal terasa berputar-putar di benak Anjani. Semakin ia pikirkan, semakin tak ada kesimpulan. Begitu pusingnya, sampai-sampai ia hanya bisa menghela napas panjang.
“ Satu-satunya cara adalah kita harus paksa Ben untuk mengatakan perasaannya sekali lagi sama Wenda. Di sisi lain, kita harus membuka hati Wenda untuk Ben. Mereka sudah gak bisa jadi sahabat lagi, Jane.”
“ Harus, ya? Kalau gagal gimana?”
“ Belum dicoba’kan? Kenapa harus pesimis duluan?” Kemal tersenyum yakin. “Lagian gak ada salahnya’kan kalau mereka berdua jadian? Mereka berdua sama-sama baik dan sudah saling mengenal satu sama lain.”
Anjani kembali memikirkan kata-kata Kemal. Ia mengangguk perlahan. Kemal benar, mereka harus mencobanya karena itu satu-satunya solusi yang tersedia.
“ Kita cobanya pelan-pelan aja. Kalau grasak-grusuk, nanti malah ketahuan.”
Anjani kembali mengangguk, “ Oke, aku ikutin instruksi kamu aja.”
Kemal tersenyum seraya menarik napas dalam-dalam. Udara pagi terasa begitu segar kali ini. Ekor matanya melirik Anjani. Tiba-tiba muncul seringai usil di wajahnya.
“ Kalo Wenda sama Ben jadian, kita mau jadian juga gak?”
Anjani tertawa patah-patah, “ Oho, boleh aja, tapi aku jadi pacar ke berapa?”
“ Hmm, ke berapa ya?” Kemal menggaruk-garuk dagunya seolah-olah sedang berpikir. “ Kesembilan, mau?”
Anjani spontan berdiri, lalu menatap Kemal lekat-lekat seraya berbisik.
In-your-dream!”
Tanpa menoleh lagi, Anjani langsung meninggalkan Kemal. Permbicaraan sudah usai dan gombalan Kemal tak perlu didengarkan. Melihat temannya dongkol, Kemal justru tertawa terbahak-bahak. Tak ada yang lebih membahagiakan selain menggoda sahabatnya di pagi yang cerah.
ooOoo
“ Dari mana? Aku lihat tadi motor kalian udah ada, tapi kenapa baru datang?” sapa Ben ketika Anjani dan Kemal datang bersamaan.
“ Biasaaa,” Kemal menyeringai jahil. “ Abis pacaran.”
Anjani tak menyahut, tapi ia langsung, mengibaskan tasnya ke kepala Kemal. Dengan sigap Kemal menghindari serangan itu. Tawanya pun semakin membahana.
Tawa berhenti saat guru sejarah mereka masuk ke kelas. Semua murid pun langsung duduk rapi di bangku mereka.
“ Hari ini kalian kerja kelompok. Satu kelompok dua sampai tiga orang. Kemudian bahas soal uraian yang ada di halaman 74.”
Kemal langsung menyeret bangkunya ke dekat meja Anjani. Tak hanya Anjani, tapi Ben dan Wenda pun terlihat bingung.
“ Kenapa?” Kemal tersenyum sinis pada Ben. “ Terakhir kali kita sekelompok, kita dapat skor di bawah rata-rata. Sorry ya, Ben. Tapi aku mau memperbaiki diri.”
“ Pengkhianat,” omel Ben.
Anjani melirik Kemal. Di saat itulah ia mendapatkan Kemal mengedip nakal padanya. Ia pun segera paham kenapa Kemal bertindak aneh.
Ben mendesah berat. Matanya langsung tertuju pada Wenda. Namun, gadis itu terlihat tidak fokus. Ben mengikuti arah pandangan gadis itu. Tatapan gadis itu terpaku pada sosok Alexi yang sedang asyik berdiskusi bersama Ririn. Sepertinya gadis itu masih belum bisa melupakan perasaannya.
 “ Hei, Wen. Sepertinya kita akan berakhir berdua.”
Wenda tersentak, lalu ia tersenyum sinis, “ Jadi, aku pilihan terakhirmu?”
“ Yah, memangnya kamu akan memilihku andai Kemal tak mengambil Anjani-mu?” Ben terkekeh. “ Atau kamu mau sama Alexi?”
“ Gak usah bahas-bahas itu lagi deh,” ujar Wenda merajuk.
Ben terkekeh. Keduanya pun kemudian larut dalam diskusi tentang manusia-manusia purba. Sampai guru mereka keluar kelas karena ia harus menjawab panggilan ponselnya. Ben pun menggunakan kesempatan itu untuk mendiskusikan hal lain.
“ Wen, aku mau ngomong soal yang kemarin.”
Wenda menatapa Ben, tapi saat mata mereka bertemu, Wenda buru-buru menundukkan wajahnya.
“ Jangan sekarang, Ben.”
“ Aku gak bakal panjang-panjang kok. Wen, aku cuma mau bilang kalau… kalau sebenarnya kamu berhak marah sama aku. Kalau kamu memang gak suka, lebih baik kamu marah atau apalah, bahkan kamu boleh adukan ke polisi dengan tuduhan pelecehan seksual.”
Wenda berdeham. Ia hampir saja tertawa mendengar kata-kata terakhir Ben.
“ Tapi aku serius soal yang kemarin.”
Tawa Wenda seketika lenyap. Begitu pula dengan bahasan soal yang harus ia diskusikan tadi. Ia malah jadi gelisah saat mata Ben terus-terusan menatapnya.
“ A—aku gak bakal membahas lagi soal yang kemarin,” Wenda kembali berdeham. “ Ta—tapi aku akan memikirkan kata-katamu itu.”
Ben tersenyum tipis. Bersamaan dengan itu guru sejarah mereka kembali masuk. Mereka pun kembali pada soal-soal yang harus mereka diskusikan. Di sisi lain, Kemal yang dari tadi memperhatikan tingkah laku kedua sahabatnya ikut tersenyum. Saking gregetnya ia sampai-sampai menyenggol-nyenggol lengan Anjani.
“ Apa sih, Mal?” omel Anjani yang risih.
“ Tuh, lihat, lihat! Usaha kecil kita mulai memperlihatkan hasil.”
Perhatian Anjani pun ikut beralih pada Ben dan Wenda. Kemal memang tak salah, tapi ia tak mau terlalu senang sekarang. Masih terlalu dini untuk menyimpulkan kalau perasaan Ben bisa tersampaikan pada Wenda.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar