Musikal 98
“ Aku tahu, pasti soal Wenda dan Ben’kan?”
Senyum Kemal
mengembang lebar. Pagi ini ia sengaja datang pagi-pagi dan menunggu Anjani di
parkiran. Begitu sahabatnya datang, ia langsung menghampiri. Seperti bisa
membaca pikiran, Anjani langsung melontarkan pertanyaan sapaan pada Kemal.
“ Tapi gak di
parkiran juga kali,” Anjani membetulkan letak ranselnya. “ Cari tempat gih.”
Kemal setuju dengan
gagasan Anjani. Ia mengajak Anjani ke suatu tempat yang jarang dikunjungi orang
di pagi hari. Dimana lagi kalau bukan gedung teater.
“ Sebenarnya aku
bingung harus gimana,” ujar Anjani seraya duduk di tangga teras gedung teater.
“ Tapi yang jelas aku gak pengen mereka berdua jadi jauh-jauhan.”
“ Sahabatan kayak
kemarin?” Kemal tertawa sakartis, “ Gak segampang itu, Jane. Ini bukan masalah
pertengkaran biasa. Ini sudah menyangkut perasaan di luar batas rasa
persahabatan.”
Semua logika yang
dikatakan Kemal terasa berputar-putar di benak Anjani. Semakin ia pikirkan,
semakin tak ada kesimpulan. Begitu pusingnya, sampai-sampai ia hanya bisa
menghela napas panjang.
“ Satu-satunya cara
adalah kita harus paksa Ben untuk mengatakan perasaannya sekali lagi sama
Wenda. Di sisi lain, kita harus membuka hati Wenda untuk Ben. Mereka sudah gak
bisa jadi sahabat lagi, Jane.”
“ Harus, ya? Kalau
gagal gimana?”
“ Belum dicoba’kan?
Kenapa harus pesimis duluan?” Kemal tersenyum yakin. “Lagian gak ada
salahnya’kan kalau mereka berdua jadian? Mereka berdua sama-sama baik dan sudah
saling mengenal satu sama lain.”
Anjani kembali
memikirkan kata-kata Kemal. Ia mengangguk perlahan. Kemal benar, mereka harus
mencobanya karena itu satu-satunya solusi yang tersedia.
“ Kita cobanya
pelan-pelan aja. Kalau grasak-grusuk, nanti malah ketahuan.”
Anjani kembali
mengangguk, “ Oke, aku ikutin instruksi kamu aja.”
Kemal tersenyum
seraya menarik napas dalam-dalam. Udara pagi terasa begitu segar kali ini. Ekor
matanya melirik Anjani. Tiba-tiba muncul seringai usil di wajahnya.
“ Kalo Wenda sama Ben
jadian, kita mau jadian juga gak?”
Anjani tertawa
patah-patah, “ Oho, boleh aja, tapi aku jadi pacar ke berapa?”
“ Hmm, ke berapa ya?”
Kemal menggaruk-garuk dagunya seolah-olah sedang berpikir. “ Kesembilan, mau?”
Anjani spontan
berdiri, lalu menatap Kemal lekat-lekat seraya berbisik.
“ In-your-dream!”
Tanpa menoleh lagi,
Anjani langsung meninggalkan Kemal. Permbicaraan sudah usai dan gombalan Kemal
tak perlu didengarkan. Melihat temannya dongkol, Kemal justru tertawa
terbahak-bahak. Tak ada yang lebih membahagiakan selain menggoda sahabatnya di
pagi yang cerah.
ooOoo
“ Dari mana? Aku lihat tadi motor kalian udah ada,
tapi kenapa baru datang?” sapa Ben ketika Anjani dan Kemal datang bersamaan.
“ Biasaaa,” Kemal
menyeringai jahil. “ Abis pacaran.”
Anjani tak menyahut,
tapi ia langsung, mengibaskan tasnya ke kepala Kemal. Dengan sigap Kemal
menghindari serangan itu. Tawanya pun semakin membahana.
Tawa berhenti saat
guru sejarah mereka masuk ke kelas. Semua murid pun langsung duduk rapi di
bangku mereka.
“ Hari ini kalian
kerja kelompok. Satu kelompok dua sampai tiga orang. Kemudian bahas soal uraian
yang ada di halaman 74.”
Kemal langsung
menyeret bangkunya ke dekat meja Anjani. Tak hanya Anjani, tapi Ben dan Wenda
pun terlihat bingung.
“ Kenapa?” Kemal
tersenyum sinis pada Ben. “ Terakhir kali kita sekelompok, kita dapat skor di
bawah rata-rata. Sorry ya, Ben. Tapi
aku mau memperbaiki diri.”
“ Pengkhianat,” omel
Ben.
Anjani melirik Kemal.
Di saat itulah ia mendapatkan Kemal mengedip nakal padanya. Ia pun segera paham
kenapa Kemal bertindak aneh.
Ben mendesah berat.
Matanya langsung tertuju pada Wenda. Namun, gadis itu terlihat tidak fokus. Ben
mengikuti arah pandangan gadis itu. Tatapan gadis itu terpaku pada sosok Alexi
yang sedang asyik berdiskusi bersama Ririn. Sepertinya gadis itu masih belum
bisa melupakan perasaannya.
“ Hei, Wen. Sepertinya kita akan berakhir
berdua.”
Wenda tersentak, lalu
ia tersenyum sinis, “ Jadi, aku pilihan terakhirmu?”
“ Yah, memangnya kamu
akan memilihku andai Kemal tak mengambil Anjani-mu?” Ben terkekeh. “ Atau kamu
mau sama Alexi?”
“ Gak usah
bahas-bahas itu lagi deh,” ujar Wenda merajuk.
Ben terkekeh.
Keduanya pun kemudian larut dalam diskusi tentang manusia-manusia purba. Sampai
guru mereka keluar kelas karena ia harus menjawab panggilan ponselnya. Ben pun
menggunakan kesempatan itu untuk mendiskusikan hal lain.
“ Wen, aku mau
ngomong soal yang kemarin.”
Wenda menatapa Ben,
tapi saat mata mereka bertemu, Wenda buru-buru menundukkan wajahnya.
“ Jangan sekarang,
Ben.”
“ Aku gak bakal
panjang-panjang kok. Wen, aku cuma mau bilang kalau… kalau sebenarnya kamu
berhak marah sama aku. Kalau kamu memang gak suka, lebih baik kamu marah atau
apalah, bahkan kamu boleh adukan ke polisi dengan tuduhan pelecehan seksual.”
Wenda berdeham. Ia
hampir saja tertawa mendengar kata-kata terakhir Ben.
“ Tapi aku serius
soal yang kemarin.”
Tawa Wenda seketika
lenyap. Begitu pula dengan bahasan soal yang harus ia diskusikan tadi. Ia malah
jadi gelisah saat mata Ben terus-terusan menatapnya.
“ A—aku gak bakal
membahas lagi soal yang kemarin,” Wenda kembali berdeham. “ Ta—tapi aku akan
memikirkan kata-katamu itu.”
Ben tersenyum tipis.
Bersamaan dengan itu guru sejarah mereka kembali masuk. Mereka pun kembali pada
soal-soal yang harus mereka diskusikan. Di sisi lain, Kemal yang dari tadi
memperhatikan tingkah laku kedua sahabatnya ikut tersenyum. Saking gregetnya ia
sampai-sampai menyenggol-nyenggol lengan Anjani.
“ Apa sih, Mal?” omel
Anjani yang risih.
“ Tuh, lihat, lihat!
Usaha kecil kita mulai memperlihatkan hasil.”
Perhatian Anjani pun
ikut beralih pada Ben dan Wenda. Kemal memang tak salah, tapi ia tak mau terlalu
senang sekarang. Masih terlalu dini untuk menyimpulkan kalau perasaan Ben bisa
tersampaikan pada Wenda.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar