Musikal 97
Anjani melempar tatapan sinis pada Wenda yang datang
berkunjung ke rumahnya. Ia masih dongkol dengan kata-kata Wenda tempo hari.
Menghadapi hal itu, Wenda justru membalasnya dengan seulas senyum tipis.
“ Aku datang ke sini
buat minta maaf ke kamu.”
Anjani membuang
wajahnya.
“ Yaah, aku udah kena
batunya. Sekarang aku udah sadar. Aku juga udah minta maaf ke Ririn,” Wenda
mendesah panjang. “ Dan aku siap terima sindiran kamu.”
Perlahan Anjani
tatapan Anjani beralih pada Wenda. Ia menatap gadis itu dengan tajam. Perlahan
wajahnya melembut dan kemudian ia tersenyum.
“ Kupikir aku juga
gak bisa lama-lama berantem sama kamu.”
Senyum Wenda melebar.
Kemudian kedua sahabat ini saling berpelukan.
“ Hei, yah. Ada yang
mau aku ceritakan padamu. Apa kita bisa ke kamarmu saja?” ujar Wenda.
Keduanya pun menuju
kamar Anjani. Si empunya kamar cukup heran kenapa Wenda harus sampai mengunci
pintu.
“ Kemarin Ben
menciumku.”
Mata Anjani terbelalak,
“ Hah, Ben? Kamu yakin itu bukan Kemal?”
“ Ben, Anjaniii. Aku
memang syok waktu itu, tapi aku sadar siapa yang menciumku.”
“ Iya, tapi maksudku
kita semua tahu’kan siapa yang bisa berbuat nekad seperti itu. Akan lebih masuk
akal jika seandainya kamu bilang orang itu adalah Kemal.”
Wenda langsung
merebahkan dirinya di kasur, “ Terus aku
harus bagaimana, Jane?”
“ Kamu maunya
gimana?” ujar Anjani seraya duduk di samping Wenda.
“ Lho, kok kamu malah
nanya balik aku?”
“ Gini loh, Wen.
Maksud aku kamu maunya sama Ben itu gimana? Mau pacaran apa enggak? Kalau gak
mau kamu tinggal bilang aja dan yaaah… walaupun susah, tapi kalian harus
lupakan kejadian itu.”
Wenda mendesah berat,
“ Aku juga sendiri bingung, Jane. Aku sih sebenarnya masih mau temenan aja
kayak dulu, tapi setelah kejadian itu rasanya susah untuk anggap dia sebagai
sahabat lagi. Rasanya aneh aja pas kami berdua tatap-tatapan gitu.”
“ Eh, tapi
ngomong-ngomong apa kamu gak marah pas Ben nyosor gitu kemarin?”
“ Aku juga heran.
Harusnya aku tabok aja dia kemarin ya, tapi….” Wenda menggigit bibirnya. “ Tapi
gak tahu kenapa kok aku malah diam aja. Seolah-olah… terbius.”
Anjani spontan
menertawai jawaban Wenda, “ Apaan tuh? Itu sih sama aja kamu menikmati, Wen.”
“ Ya, makanya itu…
aku jadi geli sendiri sama diriku. Aku tuh udah kayak perempuan apaan aja deh.”
Anjani berdeham untuk
meredakan tawanya, “ Gini aja, Wen. Aku bakal diskusiin ini sama Kemal. Mungkin
kami berdua bisa menemukan solusi untuk kalian berdua.”
“ Memangnya Kemal
tahu masalah ini?”
“ Pastilah. Kamu
pikir siapa teman curhat Ben selama ini? Alexi?”
Wenda berdecak kesal,
“ Gak usah sebut-sebut nama itu dulu!”
Anjani kembali
terkekeh, “ Tapi… Ben juga bukan cowok yang buruk, Wen. Yaaah, itu kalau kamu
memutuskan untuk merubah status kalian.”
Wenda langsung
membenamkan wajahnya di kasur. Ia tutup telinganya dengan bantal. Malas rasanya
mendengarkan Anjani yang terus-terusan menggodanya.
ooOoo
“ Parah, Ben. Benar-benar paraaah,” Kemal tertawa
sakartis. “ Masa baru nembak langsung disosor?”
Ben meremas
kepalanya, “ Awalnya aku juga gak maksud gitu, Mal. Tapi… tapi gak tahu kenapa
itu semua terjadi begitu aja.”
Tawa Kemal berhenti.
Ekspresinya kini beralih menjadi simpati.
“ Kamu beneran suka
sama dia ya?”
Ben hanya mendesah
panjang.
“ Sejak kapan sih?”
“ Aku juga gak begitu
yakin, tapi aku gak pernah berani bilang. Bukannya takut ditolak, tapi aku
takut kehilangan. Aku takut dia gak bisa bersama-sama dia lagi,” Ben tersenyum
sinis. “ Aku memang pecundang, Mal.”
“ Yaah, itulah resiko
suka sama sahabat. Terus menurutmu apa yang sudah terjadi kemarin tidak akan
merusak persahabatan kalian?”
“ Itulah yang aku mau
tanyakan padamu. Bisa kamu carikan solusi untuk masalah ini?”
“ Memangnya kamu mau
bagaimana?”
Ben mengangkat
bahunya, “ Mungkin terlalu tinggi harapanku untuk bisa bersama dia, tapi
seenggaknya aku gak mau merusak persahabatan.”
“ Dasar maruk,” cibir
Kemal.
“ Cinta itu egois,
bro,” balas Ben tak mau kalah.
Kemal kembali
tertawa, “ Oke deh, nanti aku diskusikan dulu sama Anjani. Mungkin dia punya
pemikiran sendiri.”
“ Kenapa Anjani?
Memangnya dia sudah tahu?”
“ Sudah pasti.
Memangnya siapa selama ini teman curhat Wenda? Alexi?”
Ben merasa dongkol
saat Kemal menyebut nama itu. Apalagi saat tawa laki-laki itu kian mengeras.
Ingin rasanya Ben melempar si Arab itu dengan sepatunya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar