Total Tayangan Halaman

Sabtu, 12 November 2016

LOVE MUSICAL Extraordinary (Musikal 97)




Musikal 97

Anjani melempar tatapan sinis pada Wenda yang datang berkunjung ke rumahnya. Ia masih dongkol dengan kata-kata Wenda tempo hari. Menghadapi hal itu, Wenda justru membalasnya dengan seulas senyum tipis.
“ Aku datang ke sini buat minta maaf ke kamu.”
Anjani membuang wajahnya.
“ Yaah, aku udah kena batunya. Sekarang aku udah sadar. Aku juga udah minta maaf ke Ririn,” Wenda mendesah panjang. “ Dan aku siap terima sindiran kamu.”
Perlahan Anjani tatapan Anjani beralih pada Wenda. Ia menatap gadis itu dengan tajam. Perlahan wajahnya melembut dan kemudian ia tersenyum.
“ Kupikir aku juga gak bisa lama-lama berantem sama kamu.”
Senyum Wenda melebar. Kemudian kedua sahabat ini saling berpelukan.
“ Hei, yah. Ada yang mau aku ceritakan padamu. Apa kita bisa ke kamarmu saja?” ujar Wenda.
Keduanya pun menuju kamar Anjani. Si empunya kamar cukup heran kenapa Wenda harus sampai mengunci pintu.
“ Kemarin Ben menciumku.”
Mata Anjani terbelalak, “ Hah, Ben? Kamu yakin itu bukan Kemal?”
“ Ben, Anjaniii. Aku memang syok waktu itu, tapi aku sadar siapa yang menciumku.”
“ Iya, tapi maksudku kita semua tahu’kan siapa yang bisa berbuat nekad seperti itu. Akan lebih masuk akal jika seandainya kamu bilang orang itu adalah Kemal.”
Wenda langsung merebahkan dirinya di kasur,  “ Terus aku harus bagaimana, Jane?”
“ Kamu maunya gimana?” ujar Anjani seraya duduk di samping Wenda.
“ Lho, kok kamu malah nanya balik aku?”
“ Gini loh, Wen. Maksud aku kamu maunya sama Ben itu gimana? Mau pacaran apa enggak? Kalau gak mau kamu tinggal bilang aja dan yaaah… walaupun susah, tapi kalian harus lupakan kejadian itu.”
Wenda mendesah berat, “ Aku juga sendiri bingung, Jane. Aku sih sebenarnya masih mau temenan aja kayak dulu, tapi setelah kejadian itu rasanya susah untuk anggap dia sebagai sahabat lagi. Rasanya aneh aja pas kami berdua tatap-tatapan gitu.”
“ Eh, tapi ngomong-ngomong apa kamu gak marah pas Ben nyosor gitu kemarin?”
“ Aku juga heran. Harusnya aku tabok aja dia kemarin ya, tapi….” Wenda menggigit bibirnya. “ Tapi gak tahu kenapa kok aku malah diam aja. Seolah-olah… terbius.”
Anjani spontan menertawai jawaban Wenda, “ Apaan tuh? Itu sih sama aja kamu menikmati, Wen.”
“ Ya, makanya itu… aku jadi geli sendiri sama diriku. Aku tuh udah kayak perempuan apaan aja deh.”
Anjani berdeham untuk meredakan tawanya, “ Gini aja, Wen. Aku bakal diskusiin ini sama Kemal. Mungkin kami berdua bisa menemukan solusi untuk kalian berdua.”
“ Memangnya Kemal tahu masalah ini?”
“ Pastilah. Kamu pikir siapa teman curhat Ben selama ini? Alexi?”
Wenda berdecak kesal, “ Gak usah sebut-sebut nama itu dulu!”
Anjani kembali terkekeh, “ Tapi… Ben juga bukan cowok yang buruk, Wen. Yaaah, itu kalau kamu memutuskan untuk merubah status kalian.”
Wenda langsung membenamkan wajahnya di kasur. Ia tutup telinganya dengan bantal. Malas rasanya mendengarkan Anjani yang terus-terusan menggodanya.
ooOoo
“ Parah, Ben. Benar-benar paraaah,” Kemal tertawa sakartis. “ Masa baru nembak langsung disosor?”
Ben meremas kepalanya, “ Awalnya aku juga gak maksud gitu, Mal. Tapi… tapi gak tahu kenapa itu semua terjadi begitu aja.”
Tawa Kemal berhenti. Ekspresinya kini beralih menjadi simpati.
“ Kamu beneran suka sama dia ya?”
Ben hanya mendesah panjang.
“ Sejak kapan sih?”
“ Aku juga gak begitu yakin, tapi aku gak pernah berani bilang. Bukannya takut ditolak, tapi aku takut kehilangan. Aku takut dia gak bisa bersama-sama dia lagi,” Ben tersenyum sinis. “ Aku memang pecundang, Mal.”
“ Yaah, itulah resiko suka sama sahabat. Terus menurutmu apa yang sudah terjadi kemarin tidak akan merusak persahabatan kalian?”
“ Itulah yang aku mau tanyakan padamu. Bisa kamu carikan solusi untuk masalah ini?”
“ Memangnya kamu mau bagaimana?”
Ben mengangkat bahunya, “ Mungkin terlalu tinggi harapanku untuk bisa bersama dia, tapi seenggaknya aku gak mau merusak persahabatan.”
“ Dasar maruk,” cibir Kemal.
“ Cinta itu egois, bro,” balas Ben tak mau kalah.
Kemal kembali tertawa, “ Oke deh, nanti aku diskusikan dulu sama Anjani. Mungkin dia punya pemikiran sendiri.”
“ Kenapa Anjani? Memangnya dia sudah tahu?”
“ Sudah pasti. Memangnya siapa selama ini teman curhat Wenda? Alexi?”
Ben merasa dongkol saat Kemal menyebut nama itu. Apalagi saat tawa laki-laki itu kian mengeras. Ingin rasanya Ben melempar si Arab itu dengan sepatunya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar